ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Monday, 17 December 2012

Hari jumat, hari yang mulia bagi mereka yang berpulang.

Al-Fatihah untuk istri Muhary Wahyu Nurba.


Terima kasih untuk sambutan senyum hangat pada perjumpaan pertama kita di rumahmu, bu. Terima kasih untuk menu indomie goreng dan telur mata sapi yang kau sajikan tepat ketika aku lapar, bu.

Dua hari belakangan ini saya memang selalu berhubungan lewat telepon genggam dengan suamimu, bu. Bukan untuk berbicara mengenai kesehatan ibu tapi, pembuatan foto prewedding satu geng kami. Senja kemarin, dua pucuk pesan singkat dari teman tentang ibu yang katanya harus dilarikan ke rumah sakit, di ICU pula. Kekasihku yang sementara belajar di dunia medis mengatakan bahwa orang yang dirawat di ICU itu adalah orang yang memang betul-betul kritis.

Kita memang tidak begitu akrab, pembicaraan kita hanya dua atau tiga patah kata saja. Tapi entah kenapa, sejak saya menerima pesan singkat itu, saya tak henti mengingat raut wajah sumringah ibu ketika kita bertemu.

Saya kemudian teringat Inna dan adik-adiknya. Empat orang anak perempuan dari buah pernikahan ibu. Mereka masih kecil menurut saya. Pikiran terburuk saya muncul. Bagaimana seandainya ibu benar-benar meninggal? Cara membesarkan anak oleh seorang ibu, berbeda dengan cara membesarkan anak oleh seorang ayah.

Kekasihku membangunkan sekitar pukul setengah delapan. Setelah mengirim pesan selamat pagi ke kekasihku, saya kemudian membuka twitter hanya untuk sekedar mondar-mandir mencari tahu tentang kejadian apa pagi ini. Melalui akun seorang penulis, saya menemukan pikiran burukku telah menjadi kenyataan.
Hari jumat, hari yang mulia bagi mereka yang berpulang. Begitu kira-kira dalam agama, saya tak tahu pasti. Maaf bu, kurasa pemahaman agamu tentu lebih dalam dariku.

"Nak, sampaikan ke ibumu kalau ayah sangat mencintainya."

Kalimat terakhir di ujung percakapan telepon antara suami dan anakmu yang selalu membuat saya cemburu ketika mengingatnya, bu. Dari situ, saya akhirnya tahu  bahwa betapa suamimu sangat mencintaimu. Dan betapa kehilangannya dia hari ini! Tapi ah, sudahlah. Orang hebat seperti suamimu itu tak kan berduka dalam waktu yang lama, yakinlah. Saya melihat semangatnya yang luar biasa dan itu menular.

Kuakhiri tulisanku ya bu, selamat beristirahat!



Parangtambung, 7 Desember 2012

0 Comments:

Post a Comment