Exhibition Reviews

Rendezvous di Bolak Balik

09:34


more photos : dokumentasi bolakbalik



“Wah, serunyami itu di’? Kayak jamannya kakek-nenekku,” Noni.

Berhentilah berpikiran bahwa fotografi adalah kamera dslr terbaru, lensa panjang, dan foto model. Lebih dari itu, jauh sebelum adanya kamera dslr, orang-orang mengabadikan momen menggunakan kamera analog, kamera yang menuntut sebuah proses panjang dan materi yang tidak sedikit untuk melihat hasilnya.

Bolak balik. Adalah sebuah pameran foto analog yang dilakukan oleh enam anak muda yang menyimpang dari update fotografi terkini. Mereka telah berhasil mengajak orang-orang yang singgah di pameran ini untuk kencan kenangan. Tepat seperti zaman kakek-nenek mereka masih muda, tepat seperti zaman ayah-ibu mereka saat mengabadikan momen indah pernikahannya.

Merupakan hal yang menarik dari pameran ini ketika saya dan kekasih mengambil bagian. Sebab, kami telah ber-analog tepat setahun. Puluhan roll telah dihabiskan, jutaan uang telah kami keluarkan untuk mengadopsi dan memperbaiki kamera-kamera besi dan plastik. Tak jarang kami harus kecewa melihat hasil po+scan yang fotonya kami buru dengan bersemangat. But, this a process, we love it and this is our first exhibition that makes us proud.

Kamera-kamera yang kami gunakan memang mungkin nyeleneh, tapi dengan begini kami dapat terus menunjukkan eksistensi kami. Dunia ini memang telah kami bolak balik, saat di era modern semua orang menggunakan kamera dslr untuk memotret, maka kami rela melihat dunia modern tetap berada dalam grain. Sebab terkadang cara lama adalah hal terbaik dan ini membuat kami lebih hidup.

Tutorial

the project has been completed

08:01

Photo & design by : Jumardan Muhammad

Abdi, seorang teman lama-tetangga lama. Meminta saya untuk membuatkannya menara eiffel untuk dihadiahkan kepada perempuan yang dia kagumi. Setelah berdiskusi, akhirnya dipilihlah kertas sebagai bahannya. Pengerjaannya dilakukan selama sebulan, itupun dengan jeda karena masing-masing kami pulang ke kota yang sama. Jika diestimasi, kami hanya butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Kini dia harus mengantar ibunya pulang ke kota kelahirannya kemudian kembali ke kota tempatnya beraktivitas untuk memberikan menara eiffel papercraft kepada perempuan yang dia maksud.

Photo Essay

Sengkang; ramadhan, banjir dan pilkada

06:26

















 Photo by : Jumardan Muhammad

Suatu waktu, mungkin kita perlu berkirim kabar, sayang. Tentang ramadhan yang kita nikmati di kota yang berbeda. Bagaimana rasanya be-ramadhan di kota kelahiranmu? Saya kemudian singgah, ingin mencicipinya.
Konon berita yang dikabarkan twitter, sembilan kecamatan tengah direndam air kiriman yang meluap di Danau Tempe di kota kelahiranmu, sayang. Puluhan keluarga terpaksa mengisi ramadhannya di emper-emper masjid, balai desa dan tenda-tenda pengungsian. Sementara di kontak bbm-ku siang tadi mengabarkan bahwa calon-calon bupati tengah mengundi nomor urut berebut tahta tertinggi di kota kelahiranmu, sayang.
Selanjutnya, saya kemudian mereka-reka bahwa kota kelahiranmu yang beberapa hari ini hujan tengah dihangatkan dengan tiga kata; ramadhan, banjir, dan pilkada.

Aku pergi sayangku. Mencari kota lain. Mungkin saja ada kota di negeri ini dimana manusia tidak saling berebut tahta, tidak menebang pohon yang berguna sebagai penahan banjir, dan manusia dapat menikmati buka puasa, sahur, serta tarawihnya dengan hikmat.

Kelak jika kutemukan, aku akan mengajakmu kesana dan di salah satu sudutnya, kita menyepi, dan aku akan berbisik, "Aku mencintaimu!"

Sengkang, 18 Juli 2013

Photo Essay

Takalar dan Kekasih; sebuah foto perjalanan

01:40

Lanskap pagi, perjalanan Makassar-Takalar

Lokasi 1 Posyandu Lansia : Lingkungan Kacci-Kacci

Suasana pemeriksaan di lokasi 1

Pengukuran tinggi badan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat
Para lansia yang ditemani oleh cucu mereka

Konseling oleh dokter puskesmas


Lokasi 2 Posyandu Lansia : Lingkungan Tala

Proses registrasi lansia

Pengukuran berat badan

Pemeriksaan tekanan darah oleh mahasiswi kedokteran gigi

Nah, Kekasih! Mahasiswa keperawatan

Lanskap pantai Puntondo

Bintang laut oh bintang laut!

Rumput laut sebagai salah satu mata pencarian masyarakat Puntondo

Perjalanan dimulai di hari minggu pagi terakhir di bulan Juni dengan mengantarkan kekasih pulang ke lokasi KKN-nya di nol kilometer kabupaten Takalar, empat puluh tiga kilometer dari nol kilometer Makassar.

Mengulang-ulang perjalanan pagi ke Takalar selama empat hari membuat saya melihat banyak hal, membuat perbandingan dengan kota-kota yang telah saya singgahi sebelumnya dan membuat saya kembali banyak belajar hal-hal baru. Tahun lalu, saya menghabiskan masa sebelum masuk ramadhan di kabupaten Soppeng dan tahun ini saya menghabiskannya di kabupaten Takalar.

Dugaan saya memang tak pernah salah bahwa kekasih saya adalah  orang yang benar-benar melakukan sesuatu dengan tidak abal-abal. Lihat saja, di kuliah-kerja-nyata-nya dia melakukan sesuatu yang belum pernah saya lihat di saluran televisi manapun. Pos Layanan Terpadu Lanjut Usia (Posyandu Lansia). Memanfaatkan teman-teman se-profesi kesehatan dan dokter puskesmas, posyandu lansia ini digelar selama dua hari di dua lingkungan berbeda. Programnya? Ya, pemeriksaan tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan tes asam urat, dan konseling yang dilakukan oleh dokter puskesmas sebagai tindakan akhir dan pemberian obat-obatan bagi para lansia. Underlined, pemberian obat-obatan bagi para lansia.

Pemberian obat-obatan bagi para lansia sebenarnya oleh saya dan kekasih adalah sesuatu yang tidak mutlak. Kenapa? Berdasarkan pantuan saya di lapangan (tsah), para lansia ini hanya butuh didengar curhatnya, kemudian diberikan masukan-masukan terkait keluhannya. Sugesti bertemu dengan para tenaga kesehatan bagi para lansia ini sebenarnya adalah obat paling mujarab. Dibandingkan dengan menyuapi mereka obat-obat kimia.

"Berhentilah berorientasi kepada obat!" kekasih. 
"Kehadiranmu di lingkungannya, wahai tenaga kesehatan, sudah cukup berarti," tambah saya dalam hati.

Bayangkan, betapa banyak dan semangatnya lansia yang datang pada posyandu lansia ini. Dan dengan senang mereka pulang ke rumah. Begitu yang saya lihat.

Dua hari menghabiskan waktu di posyandu lansia dan berkeliling di kota Takalar membuat saya dan kekasih mencari tempat lain. Iming-iming bertemu dengan temannya, saya dan kekasih menghabiskan siang di Puntondo, sebuah pantai, sebuah pusat pelestarian lingkungan hidup berjarak dua puluh dua kilometer dari nol kilometer Takalar. Terakhir kali saya mendatangi tempat ini adalah awal tahun 2011. Lokasinya masih sangat rapi dan bersih. Tapi sekarang, di tempat yang sama air laut sangat surut. Kemudian reklamasi pantai tampaknya sedang dilakukan di tempat ini.

Empat hari menyenangkan men-charge rindu sebelum rindu me-lowbatt. Sampai jumpa kekasih!

Event Reviews

Makassar International Writers Festival 2013

03:31
















Lima hari yang menyenangkan!

Bertemu dengan para penulis yang selama ini hanya saya baca melalui tulisan-tulisan mereka, dalam dan luar negeri. Mendengar cerita mereka, mendengar argumen-argumen mereka terhadap dunia kesusteraan. Hingga akhirnya, internet tidak akan pernah cukup sebelum kita bertemu langsung.
Terima kasih para punggawa MIWF 2013. Kalian luar biasa!

"Enjoy the most awaited literary event ini Eastern Indonesia! MIWF is a Makassar's cultural event, it is a festival for writers, readers and everyone!" Lily Yulianti Farid (Director MIWF).

Essay

ORANGEFEST nyampah visual?

18:15

Adalah sebuah keriangan ketika saya mendapati tugas mata kuliah tinjauan desain yang disuruh membuat tulisan dengan tema fenomena desain. Fenomena desain sebenarnya merupakan sebuah hal menarik dan mendasar dari dunia desain untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak dunia desain di era postmodern seperti saat ini berkembang begitu cepat dan dinamis. Baiklah, mari mengulasnya.

Pada 2013 dan 2014 di Indonesia adalah tahun-tahun politik, terlebih khusus di Makassar. Bulan Februari lalu pesta pemilihan kepala daerah di Sulawesi Selatan usai dilaksanakan. Selepas itu, pemilihan walikota Makassar pun siap dilaksanakan. Lantas, apa kaitannya dengan dunia desain? Begini, para perebut tahta kekuasaan ini dalam kampanyenya menggunakan semua media yang ada, termasuk publikasi dengan memanfaatkan ruang publik. Dalam hal ini, atribut kampanye berupa spanduk, baliho, stiker, umbul-umbul, dan sebagainya. Pemasangannya pun memanfaatkan semua yang tersedia di ruang publik, mulai dari tiang listrik, tembok bangunan, hingga batang pohon. Dengan memamerkan wajah yang tersenyum dan merunut janji-janji politik, mereka secara tidak sadar melakukan sebuah dosa besar dengan menyakiti orang lain dan pepohonan.  Dalam hal ini, seorang dosen ISI Yogyakarta bapak Sumbo Tinarbuko menyebutnya sebagai sampah visual. Menurutnya, sampah visual adalah iklan-iklan luar ruang yang secara ilegal terpasang. Beliau juga mengaturnya dalam lima sila sampah visual. Yakni, dilarang dipasang di taman kota dan ruang terbuka hijau, dilarang dipasang di trotoar, dilarang dipasang di dinding dan bangunan heritage, dilarang dipasang di jembatan, tiang listrik, tiang telepon, tiang rambu lalu lintas, dan lampu penerangan jalan, serta dilarang dipasang dan dipakukan di batang pohon. Berarti jika seperti itu, bukan hanya atribut kampanye yang jadi soal dalam pembahasan kita, tapi hal paling kecil seperti publikasi ‘sedot WC’ juga?

Ah, mungkin jika membahas semua ini, akan memakan waktu lama dan membuat alis kita berkerut membaca tulisan ini. Biarlah pak Sumbo yang menyusunnya ke dalam teori sampah visual. Saya, kamu, dan kita cukup melaksanakan praktik menentang sampah visual, dimulai dari hal kecil.

Masih segar ingatan kita tentang ORANGEFEST yang dihelat dari tanggal 11 hingga 13 Juni 2013. Kegiatan yang telah memasuki tahun keduanya ini dikerjakan oleh empat angkatan mahasiswa Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar yakni 2008, 2009, 2011 dan 2012 menghadirkan beberapa komunitas kreatif, clothing indie dan band indie se antero Makassar. Betapa kegiatan ini membuat crowded seluruh civitas Universitas Negeri Makassar dan pelaku industri kreatif se Makassar. Bahkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia pun turut andil dengan mendatangkan founder Desain Grafis Indonesia yang juga berprofesi sebagai dosen DKV di Universitas Bina Nusantara, Hastjarjo Boedi Wibowo, sebuah pencapaian luar biasa bagi satu-satunya DKV di Indonesia Timur. Nah, mari menjadi antagonis!

Dalam pengerjaan publikasi sharing party ini, panitia menggunakan semua publikasi, mulai dari publikasi gratis yakni sosial media hingga publikasi seperti yang dilakukan oleh para politisi dalam mencitrakan dirinya di jalanan yakni spanduk dan baliho atau publikasi ‘sedot wc’. Kemudian muncul pertanyaan, apakah ORANGEFEST yang notabene kegiatan mahasiswa DKV ini juga telah menebarkan teror sampah visual dalam publikasinya? Pertanyaan ini silakan anda jawab sendiri dari foto-foto berikut:









Hal-hal semacam ini adalah fenomena desain yang tidak bisa kita tampik mengingat efektivitas dari penggunaannya, target masyarakat di ruang publik. Memang betul kata pak Sumbo bahwa publikasi yang telah didesain dengan layout sempurna kemudian akan gagal dengan penyajiannya yang salah. Bayangkan, desain grafis yang dihadirkan OF#2 adalah kolaborasi dari WPAP Chapter Sulsel dan mahasiswa DKV FSD UNM yang kemudian disajikan dalam bentuk foto-foto tadi. Hipokrit ketika kegiatan yang saya ketua-panitiai tahun lalu ini kemudian saya kritik, padahal tahun lalu juga memanfaatkan trotoar, tiang listrik, ruang hijau dan bahkan pohon dalam publikasinya. Sebagai program studi baru di Indonesia Timur, apalagi dengan umur lima tahun sudah selayaknya kami mahasiswa DKV FSD UNM berpikir kreatif mengenai alat peraga publikasi kegiatan. Mengutip apa yang dikemukakan pak Hast, butuh puluhan tahun untuk sebuah DKV dalam belajar dan menemukan jati dirinya. Menghadirkan publikasi-publikasi yang out of the box memang sudah harga mati. Jangan mengikut kepada ke-mainstream-an yang dilakukan pada pencitraan diri para politikus. Hingga akhirnya, mari kembali menyontek alat peraga publikasi yang digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa DKV di Jawa dan Bali dalam berkegiatan, sebab jika kita masih menggunakan sampah visual tersebut di ORANGEFEST-ORANGEFEST berikutnya, maka sia-sialah ke-DKV-an kita apalagi dengan jenjang pendidikan strata satu yang notabene adalah jenjang pemikir. Bukankah proses desain itu adalah adopsi, tiru dan manipulasi?

Abdesir, 20 Juni 2013

Total Pageviews

Lisensi Creative Commons
This blog is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional License For commercial purposes, Let me know.