ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Thursday, 21 November 2013

Rendezvous di Bolak Balik

“Wah, serunyami itu di’? Kayak jamannya kakek-nenekku,” Noni.

Berhentilah berpikiran bahwa fotografi adalah kamera dslr terbaru, lensa panjang, dan foto model. Lebih dari itu, jauh sebelum adanya kamera dslr, orang-orang mengabadikan momen menggunakan kamera analog, kamera yang menuntut sebuah proses panjang dan materi yang tidak sedikit untuk melihat hasilnya.

Bolak balik. Adalah sebuah pameran foto analog yang dilakukan oleh enam anak muda yang menyimpang dari update fotografi terkini. Mereka telah berhasil mengajak orang-orang yang singgah di pameran ini untuk kencan kenangan. Tepat seperti zaman kakek-nenek mereka masih muda, tepat seperti zaman ayah-ibu mereka saat mengabadikan momen indah pernikahannya.

Merupakan hal yang menarik dari pameran ini ketika saya dan kekasih mengambil bagian. Sebab, kami telah ber-analog tepat setahun. Puluhan roll telah dihabiskan, jutaan uang telah kami keluarkan untuk mengadopsi dan memperbaiki kamera-kamera besi dan plastik. Tak jarang kami harus kecewa melihat hasil po+scan yang fotonya kami buru dengan bersemangat. But, this a process, we love it and this is our first exhibition that makes us proud.

Kamera-kamera yang kami gunakan memang mungkin nyeleneh, tapi dengan begini kami dapat terus menunjukkan eksistensi kami. Dunia ini memang telah kami bolak balik, saat di era modern semua orang menggunakan kamera dslr untuk memotret, maka kami rela melihat dunia modern tetap berada dalam grain. Sebab terkadang cara lama adalah hal terbaik dan ini membuat kami lebih hidup.

more photos : dokumentasi bolakbalik

Sunday, 28 July 2013

the project has been completed

Photo & design by : Jumardan Muhammad

Abdi, seorang teman lama-tetangga lama. Meminta saya untuk membuatkannya menara eiffel untuk dihadiahkan kepada perempuan yang dia kagumi. Setelah berdiskusi, akhirnya dipilihlah kertas sebagai bahannya. Pengerjaannya dilakukan selama sebulan, itupun dengan jeda karena masing-masing kami pulang ke kota yang sama. Jika diestimasi, kami hanya butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Kini dia harus mengantar ibunya pulang ke kota kelahirannya kemudian kembali ke kota tempatnya beraktivitas untuk memberikan menara eiffel papercraft kepada perempuan yang dia maksud.

Besok senin, sudah memasuki hari kedua puluh satu ramadhan. Besok, saya akan bertemu dengan kekasihku. Kami berniat menghabiskan waktu seharian, setelah itu mengantarnya pulang kembali ke lokasi kuliah-kerja-nyatanya. Kalau tidak ada halangan, empat hari lagi dia akan selesai ber-KKN, kembali ke rumahnya, kembali ke ibunya dan kembali kakek-neneknya. Dan saya juga akan kembali ke kota dimana saya dibesarkan.

Saya dan kekasihku telah menghabiskan waktu dan jarak yang terpisah selama kurang lebih tiga minggu. Selama itu kami telah diajarkan untuk saling membenci, saling memarahi dan saling merindukan. Wajarlah, sebab selama ini kami telah berada dalam zona nyaman dalam waktu yang lama, menghabiskan tiap hari dengan bersama hanya untuk sekedar mengobrol tak tentu arah (saya takkan menggunakan kata ngalor-ngidul) dan bermimpi dengan sejuta keinginan. Ada baiknya ketika kami merasakan cinta dari perspektif ini agar hubungan ini semakin tertanak. Ah!

Thursday, 18 July 2013

Sengkang; ramadhan, banjir dan pilkada

















 Photo by : Jumardan Muhammad

Suatu waktu, mungkin kita perlu berkirim kabar, sayang. Tentang ramadhan yang kita nikmati di kota yang berbeda. Bagaimana rasanya be-ramadhan di kota kelahiranmu? Saya kemudian singgah, ingin mencicipinya.
Konon berita yang dikabarkan twitter, sembilan kecamatan tengah direndam air kiriman yang meluap di Danau Tempe di kota kelahiranmu, sayang. Puluhan keluarga terpaksa mengisi ramadhannya di emper-emper masjid, balai desa dan tenda-tenda pengungsian. Sementara di kontak bbm-ku siang tadi mengabarkan bahwa calon-calon bupati tengah mengundi nomor urut berebut tahta tertinggi di kota kelahiranmu, sayang.
Selanjutnya, saya kemudian mereka-reka bahwa kota kelahiranmu yang beberapa hari ini hujan tengah dihangatkan dengan tiga kata; ramadhan, banjir, dan pilkada.

Aku pergi sayangku. Mencari kota lain. Mungkin saja ada kota di negeri ini dimana manusia tidak saling berebut tahta, tidak menebang pohon yang berguna sebagai penahan banjir, dan manusia dapat menikmati buka puasa, sahur, serta tarawihnya dengan hikmat.

Kelak jika kutemukan, aku akan mengajakmu kesana dan di salah satu sudutnya, kita menyepi, dan aku akan berbisik, "Aku mencintaimu!"

Sengkang, 18 Juli 2013

Friday, 5 July 2013

Takalar dan Kekasih; sebuah foto perjalanan

Lanskap pagi, perjalanan Makassar-Takalar

Lokasi 1 Posyandu Lansia : Lingkungan Kacci-Kacci

Suasana pemeriksaan di lokasi 1

Pengukuran tinggi badan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat
Para lansia yang ditemani oleh cucu mereka

Konseling oleh dokter puskesmas


Lokasi 2 Posyandu Lansia : Lingkungan Tala

Proses registrasi lansia

Pengukuran berat badan

Pemeriksaan tekanan darah oleh mahasiswi kedokteran gigi

Nah, Kekasih! Mahasiswa keperawatan

Lanskap pantai Puntondo

Bintang laut oh bintang laut!

Rumput laut sebagai salah satu mata pencarian masyarakat Puntondo

Perjalanan dimulai di hari minggu pagi terakhir di bulan Juni dengan mengantarkan kekasih pulang ke lokasi KKN-nya di nol kilometer kabupaten Takalar, empat puluh tiga kilometer dari nol kilometer Makassar.

Mengulang-ulang perjalanan pagi ke Takalar selama empat hari membuat saya melihat banyak hal, membuat perbandingan dengan kota-kota yang telah saya singgahi sebelumnya dan membuat saya kembali banyak belajar hal-hal baru. Tahun lalu, saya menghabiskan masa sebelum masuk ramadhan di kabupaten Soppeng dan tahun ini saya menghabiskannya di kabupaten Takalar.

Dugaan saya memang tak pernah salah bahwa kekasih saya adalah  orang yang benar-benar melakukan sesuatu dengan tidak abal-abal. Lihat saja, di kuliah-kerja-nyata-nya dia melakukan sesuatu yang belum pernah saya lihat di saluran televisi manapun. Pos Layanan Terpadu Lanjut Usia (Posyandu Lansia). Memanfaatkan teman-teman se-profesi kesehatan dan dokter puskesmas, posyandu lansia ini digelar selama dua hari di dua lingkungan berbeda. Programnya? Ya, pemeriksaan tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan tes asam urat, dan konseling yang dilakukan oleh dokter puskesmas sebagai tindakan akhir dan pemberian obat-obatan bagi para lansia. Underlined, pemberian obat-obatan bagi para lansia.

Pemberian obat-obatan bagi para lansia sebenarnya oleh saya dan kekasih adalah sesuatu yang tidak mutlak. Kenapa? Berdasarkan pantuan saya di lapangan (tsah), para lansia ini hanya butuh didengar curhatnya, kemudian diberikan masukan-masukan terkait keluhannya. Sugesti bertemu dengan para tenaga kesehatan bagi para lansia ini sebenarnya adalah obat paling mujarab. Dibandingkan dengan menyuapi mereka obat-obat kimia.

"Berhentilah berorientasi kepada obat!" kekasih. 
"Kehadiranmu di lingkungannya, wahai tenaga kesehatan, sudah cukup berarti," tambah saya dalam hati.

Bayangkan, betapa banyak dan semangatnya lansia yang datang pada posyandu lansia ini. Dan dengan senang mereka pulang ke rumah. Begitu yang saya lihat.

Dua hari menghabiskan waktu di posyandu lansia dan berkeliling di kota Takalar membuat saya dan kekasih mencari tempat lain. Iming-iming bertemu dengan temannya, saya dan kekasih menghabiskan siang di Puntondo, sebuah pantai, sebuah pusat pelestarian lingkungan hidup berjarak dua puluh dua kilometer dari nol kilometer Takalar. Terakhir kali saya mendatangi tempat ini adalah awal tahun 2011. Lokasinya masih sangat rapi dan bersih. Tapi sekarang, di tempat yang sama air laut sangat surut. Kemudian reklamasi pantai tampaknya sedang dilakukan di tempat ini.

Empat hari menyenangkan men-charge rindu sebelum rindu me-lowbatt. Sampai jumpa kekasih!

Sunday, 30 June 2013

Makassar International Writers Festival 2013
















Lima hari yang menyenangkan!
Bertemu dengan para penulis yang selama ini hanya saya baca melalui tulisan-tulisan mereka, dalam dan luar negeri. Mendengar cerita mereka, mendengar argumen-argumen mereka terhadap dunia kesusteraan. Hingga akhirnya, internet tidak akan pernah cukup sebelum kita bertemu langsung.
Terima kasih para punggawa MIWF 2013. Kalian luar biasa!

"Enjoy the most awaited literary event ini Eastern Indonesia! MIWF is a Makassar's cultural event, it is a festival for writers, readers and everyone!"
Lily Yulianti Farid (Director MIWF)

Saturday, 22 June 2013

Galeri Sampah Visual Kota Makassar Bagian 1




























Foto-foto diambil dalam rentang waktu 16 Juni hingga 20 Juni 2013