ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Thursday, 24 January 2013

Hari ke-20: HIPOGLOSUS

Design by : Jumardan Muhammad
Design by : Jumardan Muhammad

Design by : Jumardan Muhammad
HumanIty and ResPOnsibility Grow and Lay on Our SUStainability
HIPOGLOSUS berarti nervus ke-12. Nervus berarti saraf kranial.
Fungsi HIPOGLOSUS adalah untuk berbicara, mengunyah, pegerakan lidah, dan sebagai sistem motorik.

Hari ke-19: CELLULOID. Get Infected!

Dan wow! Jadilah CELLULOID. Sebuah nama yang terinspirasi dari bagian terpenting sebuah kamera analog, sebab mengangkat tema fotografi analog untuk tugas majalah mata kuliah GRAFIKA II. Get Infected! Tagline untuk majalah ini. Sebenarnya sudah pernah ada untuk tagline majalah desain grafis VERSUS yang telah menghilang jejak sejak tahun 2010. Get Infected! Kembali saya hadirkan dengan substansi yang berbeda, berharap, semoga CELLULOID ini dapat menginfeksi kamu. Dan semangat untuk ber-analog tidak pernah pudar. Yang belum ber-analog, lihat foto-fotonya, perhatikan vintage-nya! Seberapapun bagusnya foto-foto di instagram tetap tidak akan mampu mendapatkan warna asli dari hasil-hasil kamera analog.


Celluloid by : Jumardan Muhammad

Celluloid by : Jumardan Muhammad
Celluloid by : Jumardan Muhammad



Celluloid by : Jumardan Muhammad

Celluloid by : Jumardan Muhammad

Celluloid by : Jumardan Muhammad

Celluloid by : Jumardan Muhammad


Isinya? Ya tentu dengan nuansa kamera analog, mulai dari mengenali bagian kamera analog, berita kamera terbaru, tulisan "bermain" dengan analog, lapak kamera dan peralatannya, hingga galeri spesial yang diisi oleh orang-orang hebat di bidang ini. Walaupun masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, semangat untuk menghadirkan majalah fotografi analog tetap terjaga. Terima kasih untuk dosen pengampuh mata kuliah ini bapak Irfan Arifin. Terima kasih pula untuk kanda Irsan Jafar untuk tulisan "bermain" dengan analog-nya.


Dan terima kasih tak terhingga untuk pengisi galeri spesial;
     1. Ade Irma Rahayu
     2. Destian M Arrozak
     3. Eigner
     4. Galih Abi
     5. Irsan Jafar
     7. Rony Dwi Rayman

Oh iya, juga juragan Om Ucit yang telah menitip barang dagangannya. Tanpa mereka-mereka ini, majalah ini tak akan ada. Sekali lagi, terima kasih. Jika ingin membacanya, silakan ke issuuJ




Sunday, 20 January 2013

Hari ke-18: Bauhaus, De Stijl, Constructivism


BAUHAUS
BAUHAUS

DE STIJL

DE STIJL

CONSTRUCTIVISM
CONSTRUCTIVISM
Desain di atas merupakan tiga dari tujuh jenis aliran desain.
Bauhaus, De Stijl, dan Constructivism adalah jenis aliran desain
yang merupakan tugas dari mata kuliah Tinjauan Desain.

Hari ke-17: Menggambar oh Menggambar!

Mata Tampak Samping
Mata Tampak Depan

Olahraga

Petani
Tangkai Daun (Blok Tinta Cinta)

Paramedis
Arsiran Diagonal Horizontal
Perempuan & Laki-Laki (Pensil Warna)


Rangkaian Pohon (Blok Tinta Cina)


Rangkaian Daun
Keseluruhan tugas menggambar


MENGGAMBAR
Akhirnya, mata kuliah menggambar selesai. Di DKV (kampus saya) total mata kuliah menggambar ada tiga.
Totalnya sih ada 16 tugas, tapi jaringan internet membuatnya tidak kuat untuk diupload. Karena saya tidak berbakat menggambar dan saya tidak bercita-cita menjadi ilustrator, maka hasilnya begini. Yang jelas, tugas saya masuk semua da yang jelas gambar-gambar itu merupakan gambar-gambar yang saya kerjakan sendiri, hasil usaha sendiri.

Hari ke-16: Nirmana oh, Nirmana!


NIRMANA KINGSTRUK
NIRMANA KINGSTRUK

NIRMANA KOREK API

NIRMANA KOREK API


NIRMANA SEDOTAN
NIRMANA SEDOTAN

NIRMANA MIX MEDIA


NIRMANA.
Bagi saya, ini adalah sebuah mata kuliah yang merupakan "matematika-nya" DKV.
Perhitungan yang rinci, detail yang nyaris sempurna, dan kreativitas yang out of the box.
Ketika kamu tidak memenuhi ketiga indikator tadi, maka berhentilah berharap
untuk nilai yang tinggi.
Kingstruk, Korek Api, Sedotan, dan Mix Media adalah rentetan tugas-tugasnya
(itu di kampus saya).

Parangtambung, 16 Januari 2013

Tuesday, 15 January 2013

Hari ke-15: (Desain) Seni dan Ilmu Pengetahuan

Ketika teman-teman membuat makalah berlembar-lembar mengenai segala hal terkait Filsafat Seni, maka saya hanya menyajikan sehalaman, oh, dua halaman ditambah sampul. Materi yang saya dapatkan terkait seni dan ilmu pengetahuan. Dan yang saya tampilkan hanya seperti ini, namun di kelas, betapa panjang diskusi mengenai hal ini.


Karena kami berada di lingkup desain komunikasi visual, maka ditariklah sebuah benang merah antara desain, seni, dan ilmu pengetahuan. Bahwa dengan hadirnya desain, maka antara seni dan ilmu pengetahuan dapat dijembatani, desain berada ditengah-tengah. Ambillah contoh sebuah pisau. Bedakan antara pisau pemotong roti, pemotong daging, pisau dapur, pisau bedah, pisau cukur, dan berbagai jenis pisau. Betapa pisau dibuat berbeda-beda berdasarkan nilai estetika (kenyamanan saat menggenggam) dan nilai fungsi. Dari sinilah terlihat peran desain.

Monday, 14 January 2013

Hari ke-14: Film Pendek Berkisah Panjang?

Sedari bangun pagi, saya hanya menikmati air putih dan potongan-potongan coki-coki sambil menunaikan tugas-tugas sekolah yang belum kelar. Tak ada kelas hari ini (bagi saya). Menjelang siang, saya menerima pesan singkat dari teman yang mengajak saya membuat film pendek, namun sebelumnya, saya harus menamatkan beberapa film-film pendek yang ia rekomendasikan. Ada beberapa judul seperti, Hallo, Selamat Tinggal, Promise, (Jangan) Katakan Cinta!, Gadis di Ruang Tunggu, Sepeda, dan Boy Crush. Kesemuanya adalah jawara-jawara di LA Lights Indie Movies.

Dari beberapa film yang direkomendasikan, saya paling tertarik dengan kisah Gadis di Ruang Tunggu. Tokoh utama di film ini adalah Fedi Nuril dan Laudya Chyntia Bella. Sakit kepala yang luar biasa dirasakan Fedi Nuril membuatnya harus ke praktik dokter, sambil menunggu antrian ia tidak henti-hentinya mengeluh. Tentang kehidupannya dan proyeknya yang selalu gagal tender. Semuanya ia kisahkan kepada Laudya Chyntia Bella.

Perilaku Fedi Nuril di film ini mengingatkan saya sebuah sajak dari W.S Rendra berjudul Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya yang ia tulis di tahun 1972-an.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia.

Lantas, apa hubungannya kisah Fedi Nuril dengan judul Gadis di Ruang Tunggu? Ada baiknya kalau kamu sendiri yang menjadi saksi betapa film pendek ini ternyata punya kekuatan untuk berkisah lebih panjang dan membuat kita merenungi hidup-hidup indah yang diberikan oleh Tuhan. Semoga kita sependapat, selamat menonton! J


Saturday, 12 January 2013

Hari ke-12 : Hujan bagi Nunu Sang Jingga





Photo by : Jumardan Muhammad


"Hujan bagi sebagian orang adalah berkah. Bagi mereka yang pecinta, hujan adalah suasana syahdu terbaik mengungkapkan rindu. Tapi tidak bagiku."

Saturday, 5 January 2013

Hari ke-6: Pada masa yang kusebut kanak-kanak

Kita pernah jatuh cinta,
pada masa yang kusebut kanak-kanak.


Suatu waktu,
kita berpisah untuk waktu yang sangat panjang.

Saya tak habis pikir,
kalau saja kita tidak dipertemukan saat ini,
tapi dipertemukan pada masa ketika kita telah tua renta.
Akankah kita akan saling menyapa?

Photo by : Jumardan Muhammad

Pelita Raya, 6 Januari 2013.

Hari ke-5: Masih tentang petandang pagi


Ketika anak perempuanku satu-satunya meminta ini dan itu, maka sebisaku akan kupenuhi. Bahkan tanpa meminta pun akan kuberikan. Namun, suatu waktu, Kenangan yang telah lama tak kutemui datang menyapa di hari-hariku. Sekedar menelpon dan mengirim pesan-pesan singkat yang bertanya tentang kabar yang telah lama ia tak ketahui. Aku dan Kenangan telah dipisahkan oleh sebuah jarak dan waktu. Hingga akhirnya, saya memiliki satu-satunya anak perempuan yang kian hari tumbuh menjadi perempuan dewasa.

Jutaan hari telah kulewati berdua dengan anak perempuanku. Kadang, Sepi menyelisik. Ia bicara denganku dalam keadaan yang kosong melompong, tanpa suara tanpa wujud, hanya kami berdua. Dan ini tak pernah diketahui oleh anak perempuanku. Hingga akhirnya, jadilah kami bertiga, aku, anak perempuanku dan Sepi.

Beberapa bulan belakangan ini, Kenangan datang meneror anak perempuanku dan anak perempuanku tidak menyukainya betapapun manisnya janji-janji kebahagiaan.

"Bu, bukankah dari dulu kita cuma berdua? Dan masa-masa itu, kita telah lalui dengan sangat bahagia. Aku bisa membahagiakanmu, bu" ucap anak perempuanku dengan tiga empat bulir air di sudut matanya ketika ia merasakan ketakutan akan kedatangan Kenangan.

Aku hanya bisa diam.

Teror yang Kenangan berikan ke anakku semakin menjadi. Suatu malam yang hujan, ia datang dengan membawa rupa-rupa makanan dari tempat tinggalnya. Ia menyalami anakku, memegang bahunya, seakan Kenangan dan anak perempuanku telah lama kenal. Seakan Kenangan menaruh kasih sayang mendalam ke anakku.

Anak perempuanku sangat keras kepala, turunan dariku. Ia teguh terhadap pendiriannya untuk tidak menerima Kenangan. Padahal, Kenangan bagiku adalah sesuatu yang menyimpan masa-masa paling indah dan selalu memintaku untuk menggantikan Sepi. Ia mau bertiga denganku, aku, anak perempuanku, dan ia, Kenangan. Ia menjanjikan kebahagiaan yang lebih hal ini juga dijanjikan kepada anak perempuanku.

Ketika diminta berkata dengan jujur, maka aku akan bilang bahwa aku mau Kenangan menggantikan Sepi. Dan aku mau kebahagiaan yang lebih. Lantas, pertanyaan terbesar adalah apakah aku harus membiarkan ketakutan anak perempuanku itu menjadi nyata dengan menerima Kenangan? Atau aku harus menghapuskan segala ingatan tentang Kenangan lengkap dengan deretan nomor-nomor teleponnya di ponselku?

"Kau tidak berhak terhadap kehidupanku! Menerima atau menolak kehadiran Kenangan itu adalah hakku. Kau tidak bisa melarangku karena aku yang melahirkanmu!" kalimat yang mungkin suatu waktu akan keluar dari mulutku terhadap kekeraskepalaan anakku dengan tidak mau menerima Kenangan.

Thursday, 3 January 2013

Hari ke-4: Petandang Pagi

Atas nama apa kamu bertandang sepagi ini?

Memecah ruang-ruang yang telah lama ditinggal dan sepi, kita tidak lagi berjarak lewat pesan-pesan singkat. Di ruang, tamu kamu menghambur percakapan. Sekedar menikmati sarapan dengan tawa yang melengking, kamu adalah pengusik pagiku. Kamu membuatku mendekap di kamar, menjadi penakut di rumah sendiri. Kedatanganmu cukup lama karena aku yang menunggu kepergianmu. Bagi orang-orang yang dibuat menunggu, waktu akan terasa lama lebih lama. Aku tidak menyukaimu dan tidak ingin bersamamu walau kamu membawa kenangan dan cinta yang katanya kamu rengkuh berpuluh tahun.

Beberapa kutulis puisi, kurapal doa terbaik yang kupunya, semoga ini menjadi dekade paling akhir dan kamu pergi bersama hujan-hujan dan aku akan tetap bahagia bersama ibuku. Gerimis pagi ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang mendatangiku dan menjadi kenyataan. Hingga akhirnya, ini adalah mimpi terburuk.


Pelita Raya, 4 Januari 2013.

Wednesday, 2 January 2013

Hari ke-3: Bersyukurlah!


Buat kamu yang merayakan nikmatnya malam tahun baru, bersyukurlah! Bersyukurlah bahwa hujan dan angin tidak datang pada saat kalian larut dalam hiruk pikuk pergantian tahun.
Terima kasih.


Makassar, 3 Januari.
Saat hujan dan angin datang bersamaan.

Hari ke-2: Benar-banar tak sempat bercerita.

ditulis hari ke-3.

Tuesday, 1 January 2013

Hari ke-1 : Saya pilih menyepi!

Photo by: Jumardan Muhammad

Ketika semua orang membincangharukan mengenai pergantian tahun, maka saya memilih menepi, menyepi. Entah kenapa, saya selalu tidak tertarik segala hal tentang pesta, segala hal tentang keramaian dan hiruk pikuk. Entah kenapa. Semua orang memiliki pengharapan untuk tahun yang baru. Semua orang memiliki resolusi. Tapi, entah kenapa saya tidak punya hal-hal tersebut. Bukannya saya orang yang pesimis tentang hidup dan tahun yang baru. Namun, saya lebih senang menaruh pengharapan, resolusi, rencana di tiap malam sebelum tidur. Saya lebih senang menikmati apa yang ada di depan, apa yang akan dijalani hari esok.

Bukankah, kita manusia hanya bertugas menciptakan kenangan? Ada yang baik dan buruk, sementara itu, kehidupan terus berlanjut. Seperti sebuah keyakinan, tidak ada yang sia-sia. Selamat berjuang kawan! (Budiman Sukma)


Pelita Raya, 1 Januari 2013. 23:45
#30HariBercerita ajakan dari Terlalu Rizky. Sebelumnya saya sudah pernah melihatnya di blog 
Theoresia Rumthe. Dan ternyata dia adalah asalmuasal kegiatan ini.  #30HariBercerita sebagai perwujudan ide-ide yang biasanya cuma dibiarkan mampir numpang duduk di pikiran (Rizki Ramadan).