Essay

Spontaneity

03:12

"Ardan, bukumu yang tebal itu sudah selesai kamu baca?"

Saya sedang asyik mengamati foto-foto di koran saat seorang teman lama menanyai saya perihal membaca. Spontan saya jawab, "Oh, yang Titik Nol? Iya, sudah."

"Kuatmu membaca buku setebal itu, di'?"

"Ya mau diapa, kalau tidak membaca, saya tidak akan tahu apa-apa."

-------------------------------------------------------------------------------------

Saat terbangun pagi hari, kamu perlu melakukan hal spontan.

Keluar kamar, saya menemukan buku dan majalah berserakan. Belum lagi brosur-brosur yang berhamburan. Melirik lemari buku, tidak mungkin lagi mendesak buku-buku baru itu bergabung dengan penghuni pendahulunya.

Spontan, saya mengeluarkan isi lemari bagian majalah untuk menyusunnya dengan rapi, agar buku dan majalah yang sudah empat hari berserakan tersebut dapat tertata rapi.

Mengeluarkannya satu persatu, saya menemukan banyak majalah yang sampai saat ini belum tuntas saya baca.

Setahun lebih muda dibanding bapak dan setahun lebih tua dibanding mama.
National Geographic edisi ini sudah berusia 53 tahun.
Dioleh-olehkan kekasih sepulangnya dari Filipina.

Edisi-edisi yang berjejer ini sejak 1961 hingga 2012.
Lagi-lagi dioleh-olehkan kekasih ketika selama dua kali keluar negeri.

Yang sebelah kiri saya beli karena penasaran dengan cara pandang orang lain melihat Tanjung Bira.
Yang sebelah kanan saya beli karena di dalamnya 9 orang traveler menceritakan kisah perjalanannya,
termasuk penulis favorit saya, Windy Ariestanty.

Majalah dan buku ini tidak akan lekang oleh zaman,
selama kita ingin menelaahnya, membacanya dalam-dalam.

Salah satu majalah terbaik Tempo (menurut saya) adalah edisi tentang Wiji Thukul,
di edisi ini pula puisi-puisinya disertakan dalam bentuk buku.
Majalah More di edisi itu, memuat tulisan Windy Ariestanty tentang perjalanannya di Maroko,
salah satu tulisan perjalanan terbaik (menurut saya) selain Agustinus Wibowo. 

Merapikan buku dan majalah, memakan waktu yang agak lama. Terlebih ketika saya kembali membaca secara acak majalah-majalah lama.

Ternyata, spontanitas ini memberikan saya banyak pelajaran. Salah satunya adalah menepis kemalasan saya dalam merapikan barang-barang. Bahwa saya adalah orang yang selalu berpikir ketika harus membersihkan - merapikan.

Art and Design

Menyapa Hellofest Hingga Berpasar Seni

00:01








Kring.. Kring.. Kring..
(Nada telepon genggam Samsong)

Bapaknya Herman : Halo, Herman!
Herman : Iye' pak.
Bapaknya Herman : Kamu dimana?
Herman : Di pasar seni, pak.
Bapaknya Herman : Oh, kamu di pasar.. 
Herman : x0hn%*asf!#khv...
Sambungan terputus.

Essay

Saya dan Sepuluh Adegan Politik yang Membunuh

09:25


Dua bulan setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, orang-orang tak henti-hentinya bicara politik. Wajar saja, sebab 2014 adalah tahun politik. Pembicaraan mengenai politik pun kemudian 'naik panggung' dan diperbincangkan oleh seniman untuk dinikmati oleh masyarakat Makassar.

Photo Essay

Nilai KKN-mu dapat A?

06:26



"Bermalammi, tidak papaji, sekali seumur hidupji itu orang KKN nah, kalau S2, tidak adami lagi KKN," ajak Fiqar, pengurus Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Desa Sampulungan.

Art and Design

Semester 6, usai

21:58

tugas mata kuliah digital desain, desain produk
"Hahaha.. sama semua jaki' pale'. Itupi dikerjai tugas kalau mau dikumpul," Sunny Puspita.
"Iyo, kukira sayaji saja deh, ternyata" balas saya.

Event Reviews

Berminggu Tenang di Rumata'

15:58

Photo : Jumardan Muhammad
Tanggal 6 April 2014 ditetapkan sebagai minggu tenang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga hari pencoblosan pemilihan umum calon legislatif (pilcaleg) mendatang. Beberapa hari sebelumnya, ruang-ruang di kota Makassar dijejali dengan baliho, stiker, bendera partai, dan pelbagai alat peraga kampanye yang dipasang secara serampangan. Masyarakat kota Makassar juga sebelumnya telah dibuat kesal oleh arak-arakan kampanye partai yang memacetkan ruas-ruas jalan. Belum lagi ruang dengar masyarakat yang direnggut oleh knalpot motor peserta arak-arakan kampanye.
Rumata’ sebagai rumah budaya di Makassar yang berlokasi di Jalan Bontonompo 12 juga memperingati Minggu Tenang pada 6 April. Ruang dengan halaman belakang yang cukup luas ini kemudian dikemas menjadi lokasi minggu tenang dengan sajian musik, puisi, dan pidato.
Minggu tenang bagi siswa kelas 3 SMA saat ini merupakan hari-hari untuk menentramkan pikiran untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) yang akan berlangsung 14 April mendatang. Bagi para calon caleg, minggu tenang mungkin adalah hari-hari dumba’-dumba’ (Makassar: berdebar-debar), sebab pilcaleg akan berlangsung 9 April mendatang. Hari penentuan, apakah uang kampanye yang digelontorkan tidak sia-sia. Namun, bagi masyarakat Indonesia, menurut Muhammad Hasymi Ibrahim, minggu tenang adalah hari-hari menjernihkan pikiran untuk menentukan pilihan di pilcaleg.
Muhammad Hasymi Ibrahim, sastrawan kota Makassar di Minggu Tenang membawakan pidato “Mengalami Indonesia”. Pidato ini dibawakannya sekira 20 menit. Di bagian awal, Ami sapaan akrabnya memaparkan konsep-konsep mengenai ke-Indonesia-an. Menurutnya, Indonesia saat ini bukanlah proyek final. Kita masih harus terus bekerja dan bergerak untuk Indonesia. Di tengah pidato, barulah dia menyinggung mengenai sistem demokrasi di Indonesia yang menurutnya hanyalah sebuah platform laiknya Android dan iOS. Kita tidak dapat menolak prosedur mutlak demokrasi, tapi kita masih dapat menempuh jalur lain melalui jalur kemanusiaan yang paling asasi yakni, keindahan. Sastrawan yang memulai karirnya di kampus Universitas Hasanuddin ini menjelaskan jalur keindahan dengan cara memandangi baliho-baliho caleg, membaca slogan-slogan mereka, melihat iklan-iklan mereka di televisi, hingga kemudian kita akan tiba pada titik tertinggi tragedi, yakni komedi. Sebuah perbandingan tragis antara tragedi dan komedi. Di akhir, Ami menutup pidato dengan puisi yang dituliskannya di tahun 1994 berjudul Postscriptum Ibu Pertiwi.
Muhammad Hasymi Ibrahim membacakan pidatonya. Photo : Jumardan Muhammad
Dari poster yang tersebar di sosial media mengenai acara ini, ada Aslan Abidin dan Aan Mansyur yang seyogianya hadir membawakan puisi, keduanya adalah penyair yang tumbuh di kota Makassar. Namun, informasi dari Lily Yulianti Farid mengatakan bahwa Aslan sedang berada di Pare-Pare dan ia tampaknya sedang menikmati minggu tenangnya. Syukurlah, Aan malam itu yang sedang berada di Balikpapan, berminat di telepon untuk kemudian membacakan sebuah puisi berjudul Bermain Petak Umpet.
Muhary Wahyu Nurba membacakan puisinya. Photo : Jumardan Muhammad
Minggu Tenang di Rumata’ tampaknya menyedot perhatian beberapa sastrawan dan penulis untuk hadir di tempat ini. Adalah Muhary Wahyu Nurba yang kemudian diminta untuk berada di depan penonton. Sebelumnya membacakan sajaknya yang berjudul Aceh, Kujenguk Hatimu, Muhary memberikan pujian terhadap halaman belakang Rumata’. Menurutnya, banyak hal yang bisa dilakukan selain menata kota ini dengan beton. Salah satunya, dengan menghidupkan halaman rumah. Dan Rumata’ telah memiliki tempat mewah di kota ini, yakni halaman belakang. Ingatan saya kemudian terbawa pada tulisan Anwar Jimpe Rachman berjudul Perihal yang Tumbuh di Halaman.
Dalam tulisan itu, dikutipnya hasil penelitian psikolog Ulrich: “Pasien dengan pemandangan jendela alam menginap di rumah sakit lebih singkat pasca operasi, mempunyai lebih sedikit komentar negatif dalam catatan perawat. Selanjutnya, pasien yang ditempatkan di ruangan yang menghadap dinding bata memerlukan lebih banyak suntikan penghilang rasa sakit.”
Roger Ulrich, psikolog yang mempelajari pasien yang sedang dalam masa penyembuhan di rumah sakit Pennsylvania tahun 1984. Yang mana beberapa pasien tadi ditempatkan di kamar yang menghadap pepohonan kecil pantai di musim gugur. Beberapa pasien lainnya ditempatkan di kamar yang menghadap dinding bata. Dari penelitian itu, kita dapat membaca bahwa bentangan alam, yang dalam skala terkecil, yakni pekaranagan/halaman, memiliki efek penyembuhan kuat terhadap pikiran-pikiran para penghuninya, dibanding bangunan-bangunan berdinding tebal yang merenggut lanskap hidup manusia.
Lily Yulianti Farid, direktur festival Makassar International Writers Festival (MIWF) hadir membuka acara. Menurutnya, Minggu Tenang dapat dijadikan ajang untuk mempertanyakan keberadaan negara. Sebab di tahun ini adalah tahun politik, tahun penuh janji-janji. Selain itu, Lily menginformasikan bahwa di Rumata’ mulai minggu depan akan diadakan beberapa kelas, seperti kelas kerajinan tangan, menulis dan melukis. Penampilan Fandi dari Just Be Good membawakan beberapa lagu-lagu nasional membuat penonton semakin larut dalam Minggu Tenang.
Lily Yulianti Farid, direktur MIWF Rumata'. Photo : Jumardan Muhammad
Keberadaan Minggu Tenang di Rumata’ bagi saya, setidaknya menjadi ruang pengobatan dan istirahat terhadap hiruk pikuk pilcaleg. Sebab selepas pilcaleg ini, kita akan berlanjut ke pemilihan umum Presiden.[]

Essay

Pernak-pernik yang menyerbu Makassar

19:09

Photo : Jumardan Muhammad
Indonesia di tahun 2014 ini memasuki tahun politik. Ini adalah tahun ketika digelar pemilihan calon legislatif di DPRD Kabupaten/Kota hingga DPR RI Pusat. Hajatan lima tahun sekali ini akan berlangsung 9 April 2014 mendatang. Selain itu, Pemilihan Presiden akan dilaksanakan 9 Juli 2014. Jika menghitung sisa hari pemilihan anggota legislatif dari hari ketika tulisan ini dibuat tanggal 9 Maret 2014, maka tepat tinggal sebulan lagi. Ketika calon presiden yang akan berlaga di Pilpres mendatang telah menebar atribut-atributnya jauh sebelum masa kampanye dibuka, lalu bagaimana dengan para calon legislatif? Apakah mereka bersih dari pemasangan baliho, bendera partai, dan rontek?

Bandung

Perjalanan berhadiah!

01:57

View Bandara Sultan Hasanuddin - Bandara Soekarno Hatta
Perjalanan ini adalah perjalanan tak terencana dan tak terduga sebelumnya. Bulan lalu, mama memang sempat bercerita akan mengikuti jalan-jalan ke Jakarta dan Bandung bersama mahasiswa dan dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan Puangrimaggalatung Sengkang selama seminggu, tempat beliau kerja sampingan sebagai dosen.

Photo Essay

Berbagi Kenangan Lama

03:45


Foto karnaval tahun 2003.
Saat itu, saya sedang bermimpi jadi pemain bola profesional.

Foto Jambore Nasional 2006.
Perjalanan pertama ke pulau Jawa, perjalanan pertama tanpa keluarga.
Pengalaman pertama mengikuti kegiatan nasional.

Graphic Design

Kalender 2014

08:19














Postingan terakhir adalah di bulan November 2013 dan sekarang sudah bulan Januari 2014. Oh, betapa berdosanya saya ketika tidak lagi menulis dan mencatatkan perjalanan-perjalanan ini. Sebagai penebus kesalahan maka saya akan membagikan kalender 2014 kepada kamu.

Kalender 2014 ini hanyalah tugas mata kuliah semata. Mata kuliahnya adalah fotografi desain dan ini adalah pelajaran fotografi ketiga sekaligus terakhir di bangku kuliah. Kita semua sudah berada di hari ke 20 dari 365 hari di tahun 2014. Semoga kamu belum punya kalender dan mau menggunakan kalender ini.

Karya ini bisa kamu download dan sebarluaskan. Yuk!

Total Pageviews

Lisensi Creative Commons
This blog is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional License For commercial purposes, Let me know.