ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Tuesday, 30 December 2014

RANDOM CONVERSATION



RANDOM CONVERSATION 1

Teman : Sekarang kamu jadi seniman?

Saya : Hahaha.. Tidak. Saya cuma kuliah di Fakultas Seni dan Desain yang sebagian dosen-dosennya adalah seniman. Mahasiswanya pun, beberapa adalah seniman.

Teman : Saya seniman, tapi kenapa lari ke laut.

Saya : Hahaha.. Kan kamu yang memilih.

Teman : Biarlah, yang penting masa depan cerah.

---------------------------------------------------------------------------

RANDOM CONVERSATION 2

Teman 1 : Kamu sudah berlayar? Berlayar dimana? Kapal saya sekarang sedang bersandar.

Teman 3 : Dia jadi pedagang.

Teman 2 : Tidak. Awalnya memang hampir berlayar, tapi saya tidak bisa. Tidak niat. 

Saya : Sekarang, dia jadi seniman di ibukota negara.

Teman 2 : Ah, kamu berlebihan. Saya hanya buruh seni disini.

---------------------------------------------------------------------------

Percakapan-percakapan ini baru saja terjadi di BBM sebab kami memang telah baru saja bertemu di secara tidak nyata dan langsung saya tuliskan. Bagaimana tidak, ketiga teman saya ini adalah mereka yang saya akrabi selama 6 tahun, 15 tahun yang lalu! Jika sejak itu, kami sudah punya maka anak, maka 2 tahun lagi dia sweet seventeen.

15 tahun yang lalu, mereka bertiga adalah musisi dan pelukis handal tingkat sekolah dasar se ibukota kabupaten. Dan saya, mungkin satu-satunya anak yang selalu iri ketika mereka diutus mengikuti perlombaan dan beberapa kali juara.

15 tahun kemudian, kami telah dipisahkan oleh jarak dan pilihan hidup. Yang pertama adalah pelaut yang saat ini tengah berlayar, yang kedua adalah musisi di ibukota negara yang 17 Januari mendatang akan tampil di stasiun tv nasional, yang ketiga adalah sarjana administrasi yang kemudian memilih pulang kampung, sedangkan saya adalah mahasiswa tahun ketiga yang minggu depan akan menempuh final semester.

Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat anda menghakimi saya. Tidak. Saya hanya sedang merenung bahwa waktu bergerak sangat cepat dan waktu telah mengubah kita semua, juga teman-teman saya ini yang 15 tahun lalu sangat aktif berkesenian.

Besok, tahun akan berganti lagi dan kita lagi-lagi tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Kita cuma bisa menyiasati waktu dan melakukan perencanaan-perencanaan. Selamat tahun baru 2015!

Tuesday, 16 December 2014

Produksi Fotografi Iklan

Tugas mata kuliah Periklanan II (semester 7).

Briefing klien :
JHEM sebagai biro periklanan (kelompok kerja mata kuliah periklanan II) mendapatkan jurusan Seni Tari Fakultas Seni & Desain (FSD) UNM sebagai klien yang akan dibuatkan iklan. Media yang diinginkan klien adalah media fotografi yang kemudian dicetak dan dimix dengan media lain.

Berikut produksi fotografi iklan yang mengangkat tema tari kreasi sebagai salah satu mata kuliah yang diajarkan di jurusan seni tari FSD UNM :










JHEM mengucapkan terima kasih kepada :

Model : Ghyna Sonya
Asisten Model : Ida Toeweweng

Makeup & Wardrobe : Anita Dwi Parenrengi
Location : Andis Baranta, Studio Fokus Fotografi Makassar.

Maka berdosalah JHEM ketika hanya mengambil foto si model
tanpa mengembalikannya.

Monday, 1 December 2014

Spontaneity

"Ardan, bukumu yang tebal itu sudah selesai kamu baca?"

Saya sedang asyik mengamati foto-foto di koran saat seorang teman lama menanyai saya perihal membaca. Spontan saya jawab, "Oh, yang Titik Nol? Iya, sudah."

"Kuatmu membaca buku setebal itu, di'?"

"Ya mau diapa, kalau tidak membaca, saya tidak akan tahu apa-apa."

-------------------------------------------------------------------------------------

Saat terbangun pagi hari, kamu perlu melakukan hal spontan.

Keluar kamar, saya menemukan buku dan majalah berserakan. Belum lagi brosur-brosur yang berhamburan. Melirik lemari buku, tidak mungkin lagi mendesak buku-buku baru itu bergabung dengan penghuni pendahulunya.

Spontan, saya mengeluarkan isi lemari bagian majalah untuk menyusunnya dengan rapi, agar buku dan majalah yang sudah empat hari berserakan tersebut dapat tertata rapi.

Mengeluarkannya satu persatu, saya menemukan banyak majalah yang sampai saat ini belum tuntas saya baca.


Setahun lebih muda dibanding bapak dan setahun lebih tua dibanding mama.
National Geographic edisi ini sudah berusia 53 tahun.
Dioleh-olehkan kekasih sepulangnya dari Filipina.

Edisi-edisi yang berjejer ini sejak 1961 hingga 2012.
Lagi-lagi dioleh-olehkan kekasih ketika selama dua kali keluar negeri.

Yang sebelah kiri saya beli karena penasaran dengan cara pandang orang lain melihat Tanjung Bira.
Yang sebelah kanan saya beli karena di dalamnya 9 orang traveler menceritakan kisah perjalanannya,
termasuk penulis favorit saya, Windy Ariestanty.

Majalah dan buku ini tidak akan lekang oleh zaman,
selama kita ingin menelaahnya, membacanya dalam-dalam.

Salah satu majalah terbaik Tempo (menurut saya) adalah edisi tentang Wiji Thukul,
di edisi ini pula puisi-puisinya disertakan dalam bentuk buku.
Majalah More di edisi itu, memuat tulisan Windy Ariestanty tentang perjalanannya di Maroko,
salah satu tulisan perjalanan terbaik (menurut saya) selain Agustinus Wibowo. 

Merapikan buku dan majalah, memakan waktu yang agak lama. Terlebih ketika saya kembali membaca secara acak majalah-majalah lama.

Ternyata, spontanitas ini memberikan saya banyak pelajaran. Salah satunya adalah menepis kemalasan saya dalam merapikan barang-barang. Bahwa saya adalah orang yang selalu berpikir ketika harus membersihkan - merapikan.

Thursday, 27 November 2014

Menyapa Hellofest Hingga Berpasar Seni

Kring.. Kring.. Kring..
(Nada telepon genggam Samsong)

Bapaknya Herman : Halo, Herman!
Herman : Iye' pak.
Bapaknya Herman : Kamu dimana?
Herman : Di pasar seni, pak.
Bapaknya Herman : Oh, kamu di pasar.. 
Herman : x0hn%*asf!#khv...
Sambungan terputus.

Percakapan ini diceritakan ulang oleh Herman ke saya. Di pasar seni ITB 2014, Herman ditelepon oleh bapaknya. Mendengar percakapannya, saya melongo.








Perjalanan menikmati desain dan kesenian terbesar sepanjang 22 tahun terakhir, Hellofest (perayaan pop culture di Jakarta) serta Pasar Seni ITB 2014 (perayaan seni sejak 1972 di Bandung). 2012 pertama kali mendengar kata Pasar Seni, selama 3 kali ORANGEFEST, kata ini selalu muncul dalam proposal. Hingga tibalah saya dan kawan-kawan dari Universitas Negeri Makassar di perayaan ini, menyaksikannya secara langsung, larut dalam hinggar bingar manusia dan hujan.

Menjelang closing ceremony Pasar Seni, saya ditanyai oleh Kya (fotografer analog, teman dari Malang asal Makassar), "Apa yang kamu dapatkan di Pasar Seni?"

Saya kemudian kembali melongo, sebab di Pasar Seni saya hanya menemukan lautan manusia.

"Perjalanan tanpa makna bagaikan rumah tanpa roh," Agustinus Wibowo - Titik Nol.

Friday, 3 October 2014

JHEM, agensi periklanan profesional. Percayalah!



Saat ini saya sudah berada pada semester tujuh. Salah satu mata kuliah dari lima mata kuliah yang saya programkan di semester ini adalah Periklanan II. Hingga menjelang semester akhir, saya, di DKV FSD UNM telah belajar tiga mata kuliah tentang tetek bengek iklan. Sebutlah Naskah Iklan, Periklanan I, dan Visual Merchandising.  



Hal menarik dari Periklanan II ini adalah membentuk kelompok yang kemudian berperan sebagai agensi periklanan profesional. Yang terdiri dari Creative Director, Art Director, Copywriter, dan Team Player. Kelompok saya kemudian menamai diri JHEM Creative Workgroup. Nama yang kami sepakati hanyalah inisal dari kami berempat, Jumardan, Handi, Emmy, dan Mayang. Nantinya, kami akan menangani klien (dosen) dengan masalah berbeda. Foto-foto yang tampil dalam postingan ini adalah Company Profile. Harapan dosen dan teman-teman, kelak setelah perkuliahan ini berkahir, tiap-tiap kelompok yang ada akan menjadi agensi periklanan profesional yang akan menangani klien profesional.





Orang-orang yang menikmati perkuliahannya di DKV dan menganggap tugas kuliah bukan sebagai beban melainkan permainan, mungkin akan berkata seperti ini, "Beginilah kiranya, kuliah di Desain Komunikasi Visual memang menyenangkan, tiada tara."

Sunday, 14 September 2014

Saya dan Sepuluh Adegan Politik yang Membunuh


Dua bulan setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, orang-orang tak henti-hentinya bicara politik. Wajar saja, sebab 2014 adalah tahun politik. Pembicaraan mengenai politik pun kemudian 'naik panggung' dan diperbincangkan oleh seniman untuk dinikmati oleh masyarakat Makassar.

Adalah Shinta Febriany dan Aslan Abidin yang 'menaikpanggungkan' politik dalam pementasan teater "Sepuluh Adegan Dari Politik yang Membunuh" di Teater Tertutup Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, minggu malam (14/9).

Pementasan yang diproduksi oleh Kala Teater ini melibatkan empat orang aktor, yakni Dwi Lestari Johan, Awaluddin Arsyad, Muammar Hamid, dan Nurhidayah. Dengan durasi sekira satu jam.







"Deh, Yaya', tampilmi," bisik saya ke kak Mey sesaat sebelum pementasan dimulai. Yaya' yang saya maksud disini adalah Nurhidayah. Mahasiswa psikologi UNM yang pernah saya kandang paksa untuk ikut di produksi dokumenter tugas kuliah. Videonya bisa dilihat disini.

"Iya, pentas pertamanya ini."

"Kenapa are' langsung bisa main di'? Baru Kala Teater lagi."

Kak Mey tidak menjawab saya. Bergantian empat orang pemain pun mondar mandir di panggung. Setelah itu, suara-suara latar belakang perempuan diperdengarkan. Kalimat-kalimat yang mereka lontarkan adalah jawaban dari pertanyaan perihal politik. Menurut Shinta, jumlah mereka 100 orang perempuan dari berbagai latar belakang.  





Kedatangan saya malam itu, hanya karena dua hal :
1. Melunasi janji saya ke Yaya' untuk membeli tiket pementasannya.
2. Memasangkan roll ke kamera kak Mey, yang karena malam sebelumnya tidak sempat saya bantu.

Kedua hal tersebut membuat saya duduk di barisan paling belakang penonton. Hingga kemudian saya harus mengiyakan kesepuluh adegan politik tersebut bahwa itulah realita konkret perihal politik, serta mengamini dialog yang mengatakan, "Negeri ini adalah negeri tragedi."

Friday, 12 September 2014

Nilai KKN-mu dapat A?





"Bermalammi, tidak papaji, sekali seumur hidupji itu orang KKN nah, kalau S2, tidak adami lagi KKN," ajak Fiqar, pengurus Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Desa Sampulungan.

Malam itu sesuai shalat tarwih kami bersebelas menghadiri rapat PHBI yang terbentuk dua hari sebelumnya. Struktur kepengurusan dan logonya adalah usulan dari kami mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Negeri Makassar (UNM) Angkatan XXXI 2014 yang ber-KKN di desa ini. Fiqar mengajak kami untuk menginap di masjid malam itu.

Sampulungan adalah salah satu dari sebelas desa yang ada di kecamatan Galesong Utara, Takalar. Desa termuda di Galesong Utara yang terbentuk dua tahun lalu ini merupakan pemekaran dari desa Tamalate, terdiri empat dusun, yakni, Sampulungan, Sampulungan Caddi, Sampulungan Lompo, dan Sampulungan Beru. Berbatasan langsung dengan Jalan Poros Galesong dan Selat Makassar.

"Desa ini bisa dibilang semimetropolis, karena hanya tiga kilometer dari Barombong, Kota Makassar. 30 menit ji naik motor, 5 menit naik ambulans," kelakar Syamsu Rijal Lengu, Sekretaris Desa, saat perkenalan.



Berangkat dari halaman Auditorium Amanagappa 11 Juli 2014 menuju Kantor Bupati Takalar untuk penerimaan di tingkat kabupaten, kami tiba di kantor kecamatan tepat ketika jam menunjukkan pukul 11.30 WITA. Seusai shalat jumat, barulah kami menuju posko, dijemput langsung oleh sekretaris desa.

Sejam berada di posko, saya baru tahu, bahwa kami yang harusnya berjumlah dua belas orang, harus berkurang satu, sebab kepindahan salah seorang teman ke posko lain. Adalah Ahmad (PGSD/FIP) sebagai koordinator desa, Haikal (Penjaskesrek) sebagai sekretaris koordinator desa, dan Husni (Pendidikan Antropologi/FIS) sebagai bendahara koordinator desa. Sisanya, adalah Afdal (Pendidikan Bahasa Inggris/FBS), Yusrin (PGSD Dikjas/FIK), Lia (Pendidikan Antropologi/FIS), Lina (Pendidikan Antropologi/FIS), Mila (Pendidikan Bahasa Jerman/FBS), Egi (Penjaskesrek/FIK), Ida (PGSD Dikjas/FIK), dan saya (DKV/FSD) sebagai anggota dari posko ini. Seminar desa yang berlangsung tanggal 17 Juli 2014 menetapkan 11 program kerja untuk Desa Sampulungan, yang akan dilaksanakan dalam dua bulan, termasuk perayaan 17 Agustus.     







"Oo.. Kak!" seru Rida ketika saya melintas depan rumahnya. Dia adalah siswa kelas 1 SMP di desa ini.

Apa yang diserukan Rida juga diserukan oleh anak-anak lain ketika bertemu dengan teman-teman mahasiswa KKN. Mereka selalu bersemangat menyapa kami dan bertanya apa saja menggunakan bahasa Makassar. Kadang, teman-teman yang tidak paham bahasa Makassar menegur mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia. Anak-anak ini, bukannya tidak bisa berbahasa Indonesia, melainkan, mereka hanya terbiasa menggunakan bahasa ibunya.

Hal ini mengingatkan saya akan tulisan M Aan Mansyur di buku Esai Tanpa Pagar. Di dalamnya, Aan menuliskan bahwa George Orwell dalam novelnya berjudul 1984 dengan jelas menunjukkan kekuatan bahasa dan imajinasi.

"Jika ingin menghancurkan satu kebudayaan, hancurkan bahasa dan imajinasi anak-anaknya," Orwell.







"Bersyukurka' karena ada anak kota yang mau KKN di desaku kodong. Itumi juga, malu-maluki' bergaul sama anak kota, ka anak desaki' kita' kodong."

Dalam beberapa kali perbincangan, sekretaris desa, yang akrab kami sapa Kak Rijal selalu mengulang-ulang kalimatnya itu. Bahkan di pesan kesan seminar evaluasi kecamatan.

Serentak, kami pun mendelik bahwa kami semua juga adalah anak desa yang datang ke kota untuk menuntut ilmu. Malah, lokasi KKN kami inilah yang sebenarnya 'kota' karena letak geografis yang dekat dengan ibukota provinsi.

Tawa pun pecah seketika.

Bukankah sebuah kota dibangun oleh kehidupan di desa?





11 orang teman sekelas saya juga sedang ber-KKN dan kami menyebar di tiap desa, kecamatan, dan kabupaten yang berbeda. Melihat personal status blackberry messsanger mereka, membuat saya berpikir bahwa apa yang mereka alami selama dua bulan di lokasi KKN juga sama dengan yang saya alami. Maksud saya, atmosfer ber-KKN kami pada dasarnya sama. Suka dan duka.





"Weh, siapami itu dua orang se-poskota' yang ada namanya di pembimbing di'? tanya Husni dengan wajah cemas, seminggu sebelum penarikan.

Ha? Kenapaikah?

"Iyo. Ada dua orang bede' temanta' yang dilapor sama pembimbing gara-gara selalu pulang Makassar. Deh, bisa-bisaki' tidak dapat A itu kaue. Atau takkala erorki',"  jelasnya lagi.

Oh, hahaha..

Saya menjawabnya datar dan tidak terlalu menyoalkan dapat nilai A atau tidak. Di motor, di perjalanan menuju seminar evaluasi kecamatan, Afdal tiba-tiba bilang, "Beranika' saya adui kualitasnya program kerjata' dengan desa lain nah. Bukanji masalah nilai A sebenarnya ini, masalah bagaimana kualitasnya KKN-mu, apa yang kau kasi' sama orang dan apa yang masyarakat rasakan selama dua bulanko di desamu."

Benar saja, menurut catatan Mata Najwa di episode Belajar Dari Habibie, "Anak muda lekaslah menyiapkan diri, menyongsong hidup sebagai karya, bukan perlombaan ego diri."
***

Video dokumenternya dapat dilihat di http://youtu.be/3h9aeulYo38