ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Saturday, 26 September 2015

Makassar Mencakar Langit

Salah dua jalanan Makassar yang saya lalui ke kampus yang menurut saya tidak cukup memanusiakan manusia adalah Jalan Rappocini Raya dan Jalan Manuruki Raya, selain Jalan Pettarani (karena di ujung menuju Jalan Alauddin bertebaran penjual es kelapa, bikin adem). Penandanya begini :

1. Jalan Rappocini Raya
DI jalan ini terdapat sebuah kampus. Karenanya, kadang saya kasihan kepada sepasang mudamudi yang pergi pulang berjalan kaki dari kampus. Bagaimana mereka harus nyelip-nyelip berjinjit menyebrang di kerumunan kendaraan. Bagaimana mereka tidak kebagian bahu jalan sebab telah dikuasai oleh para pengendara motor dan mobil. Kampus ini punya lahan parkir untuk para mahasiswanya. Hanya saja, jumlah kendaraan bermotor yang parkir tidak sebanding dengan luas parkiran. Maka tentu saja, mobil pun tidak akan kebagian parkiran. Jadi, mobil yang jumlahnya tidak hanya satu ini akan memarkir ban kirinya di bahu jalan dan ban kanannya di jalan raya. Suasana ini kamu akan dapati dari pagi hingga menjelang sore hari. Tak jauh dari kampus ini, berjejeran toko-toko  penjual telepon genggam. Saking padatnya, mereka pun berlomba membuat pengguna jalan untuk singgah. Dan kamu tahu bagaimana bentuk promosi penjualannya? Mereka menggunakan pengeras suara. Bayangkan, ketika, ada dua saja, toko yang menyetel pengeras suara yang diisi oleh rekaman suara manusia dengan suara latar house music. Toa masjid pun dibuat tak berkutik.

2. Jalan Manuruki Raya
Lokasi ini merupakan pemukiman strategis dengan tiga kampus berdekatan, yakni Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dan Universitas Muhammadiyah. Jalan ini pun berubah menjadi jalan ‘dollar’ dengan beragam usaha di dalamnya, seperti; kos-kosan, warung makan, toko campuran, hingga tempat penjualan jilbab dan kaos kaki, minimarket waralaba pun tak mau kalah. Demi menarik perhatian mahasiswa untuk membeli, memakai, memakan, meminum, para pengusaha ini pun menggunakan papan reklame di depan usahanya. Papan reklame yang digunakan pun beragam. Mulai dari neon box, spanduk berbahan vinyl, hingga tripleks yang ditulistangani. Muatan papan reklame ini kemudian berbaur dengan coret-coretan dinding, baik mural, graffiti, atau sekedar coret-coretan non estetis. Dampaknya, kekacauan visual pun tak bisa dielakkan lagi.


Membangun bersama masa depan dengan bangunan bertingkat hanya akan membuat para manusia lanjut usia kota ini tertutupi dari sinar matahari pagi. Sementara, akan kemanakah manusia-manusia penikmat matahari terbenam akan pergi? Naik ke skylounge hotel dan membayar mahal?

Memasuki jalan Manuruki Raya, kita akan disambut oleh gerbang selamat datang yang dibangun oleh sebuah perusahaan semen. Bagi pemerintah kota, ini sangat membantu tagline “Makassar Tidak Rantasa’ dan Makassar Sombere”. Di sampingnya terdapat tembok memanjang yang sebelumnya dihuni oleh sebuah iklan produk operator telekomunikasi seluler. Tembok itu bertuliskan “Together We Build A Better Future” dengan siluet bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Dalam perjalanannya, mural dimulai dari lukisan di dinding goa yang dikerjakan oleh manusia zaman prasejarah. Jauh setelah itu, mural kemudian difungsikan sebagai propaganda politik negara-negara konflik di Eropa, dan berlanjut menjadi media bagi para seniman  untuk berkarya. Namun cerdiknya korporasi, mereka melihat mural sebagai salah satu media untuk mengiklankan dagangannya. Tak ayal, mereka menggunakan jasa para seniman untuk membuat mural.

Melintasi mural ini hampir setiap hari kemudian membuat saya jengah dengan penggunaan kata ‘future’ dan siluet bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Menerjemahkan future ke dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai masa depan, yang akan datang. Di pikiran saya kemudian terngiang film-film fiksi ilmiah dengan gedung-gedung berlomba menggapai langit sebagai lanskapnya.

Future, barangkali, tidak melulu mengenai bangunan yang berlomba mencakar langit.
Future, barangkali, adalah gelaran karpet di ruang-ruang terbuka hijau bagi para keluarga
menghabiskan akhir pekan.

“Masyarakat kelas atas digiring untuk tinggal menjulang ke atas, menjauhi bumi yang harusnya dipijaki. Mereka tinggal dalam lingkungan yang bersih (steril) dan aman (terisolasi). Seolah dengan menjauhnya mereka dari bumi, mereka akan semakin terhindar dari segala macam persoalan sosial kota seperti, ancaman kemiskinan, penyakit, kotoran, polusi, kejahatan, dan lainnya,” Yuka Dian Narendra.

Benarlah bahwa iklan-iklan di ruang kota dapat bercerita banyak mengenai kota itu sendiri. Iklan-iklan di ruang kota menjelaskan apakah warganya hidup dengan layak atau hidup dalam balutan kapitalisme global. Usahlah terlalu jauh mengaitkan pembangunan Centre Point of Indonesia  dengan mural di gerbang jalan Manuruki Raya karena jaraknya memang jauh. Lihat saja kawasan Panakukang, disana berdiri bangunan menjulang dan terlihat sangat tinggi dibanding bangunan lainnya. Tak jauh dari Mall Panakkukang, sebuah lokasi yang tertutup yang jika kamu mengintip, kamu akan mendapati galian yang sangat dalam. Galiannya yang dalam tidak jadi soal, masalahnya adalah galian ini berada di pusat bisnis kawasan Panakkukang. Menurut kawan saya, itu untuk pondasi sebuah bangunan bertingkat-tingkat.

Dua tahun lalu ketika saya mengunjungi Rammang-Rammang, Daeng Beta yang menjadi pemandu di tempat ini menunjukkan gunung-gunung karst di sebelah timur yang katanya tidak lama lagi akan dibom untuk pembuatan semen. Gunung-gunung itu memang telah menjadi milik korporasi. Kalimat motivasi ‘semakin besar sesuatu yang dituju, maka semakin besar pula pengorbanan yang dibutuhkan’ pun semakin berlaku dan sahih dalam urusan pendirian bangunan. 

Pemerintah kota ini, selain senang memajang foto portrait diri mereka di baliho, mereka juga senang memamerkan tumpukan foto-foto gedung.
Seolah  foto-foto tersebut merupakan indikator keberhasilan mereka dalam memimpin.

Tampaknya kota ini memang serius mewujudkan ‘future’ dari segi pembangunan fisik, sebab jika tidak, pengambil kebijakan tentu tidak akan memberi izin mendirikan bangunan. Mereka tidak akan dengan sering menumpuk foto-foto bangunan tinggi untuk dipasang di baliho-baliho. Dikiranya perekonomian sebuah kota dapat diukur dari seberapa banyaknya bangunan tinggi. Padahal, penilaian indeks kota cerdas Indonesia 2015 tidak memasukkan jumlah bangunan tinggi dalam penilaiannya. Daripada sibuk mengurusi ‘future’ di tembok di jalan Manuruki Raya bagaimana jika kita (aku dan kamu) membicarakan baik-baik ‘future’ secara bersama dan serius? Eh?

*Tulisan ini tayang di revi.us pada 21 September 2015 

Monday, 7 September 2015

Catatan Pertemuan II : Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa Makassar Biennale 2015


Nostalgia tentang kain hitam yang menjuntai di pinggir mulut ember yang diletakkan di atas meja di tengah-tengah lingkaran para siswa kembali hadir, hal ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas dua bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sengkang, Wajo. Dalam seminggu kami mempelajari teknik menggambar selama dua jam pelajaran (2x45menit) pada mata pelajaran Kesenian. Kadang kami harus keluar kelas untuk menggambar objek apa saja. Pada 3 bulan pertama kami akan dijejali dengan teknik arsir menggunakan pensil 2B, setelah ujian tengah semester, kami akan  diwajibkan menggunakan pastel dan cat air.

Menggambar menggunakan pensil 2B sungguh membosankan bagi saya, betapa tidak, berlembar-lembar kertas habis hanya dengan warna hitam putih dan gelap terang, dikerjakan di sekolah, jika tidak selesai boleh dibawa pulang dengan syarat minggu depan sudah harus selesa dan dikumpul. Ingatan-ingatan 9 tahun lalu ini kemudian terputus ketika dua perempuan mondar-mandir dihadapan saya sambil meletakkan piring kecil berisi dua potong kue di atas meja dan segelas air bening dingin yang kutebak sprite.

Suasana pertemuan II workshop penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015. Foto : @jumardanm
 
Adalah Prof. Sofyan Salam yang menghadirkan kenangan ini, bertindak selaku narasumber pertama dalam kelas menulis kritik seni rupa (6/9) yang digelar dalam rangka Makassar Biennale 2015 bekerjasama dengan Tanah Indie. Dipilihnya Pembantu Rektor 1 Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai narasumber pertama dalam kelas tak lain karena dia merupakan satu-satunya pendokumentasi perjalanan seni rupa di Sulawesi Selatan hingga tahun 2000. Semua dicatat dalam bukunya berjudul Seni Rupa Mimesis dan Modern Kontemporer di Sulawesi Selatan yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan.

Hanya ada dua pilihan bagi kami para peserta penulisan kritik seni rupa menurut professor yang angkat jempol terhadap seniman-seniman yang hidup dari karya : pertama, penulis yang bertindak selaku kritikus, memprovokatori hal-hal yang ada dan bertentangan dengan pemikirannya. Kedua,  penulis yang menjadi pengamat, berprilaku sebagai orang biasa namun mendokumentasikan hal-hal yang terjadi. Kepemilikian ideologi pun menjadi syarat mutlak dalam dua golongan penulis ini.

“Tanpa membaca, saya sudah tahu akan lari kemana tulisannya, karena saya sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kritis,” ungkap Prof. Sofyan mengambil contoh Muh. Faisal, dosen Universitas Muhammadiyah. Prof. Sofyan pun menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia termasuk penulis golongan kedua.

Menurut professor yang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika Serikat ini, untuk menuliskan seni rupa, tampaknya kita hanya perlu melakukan empat hal : 

1. Kumpulkan katalog dan dokumentasi pameran.

Katalog dan foto-foto selama pameran merupakan bukti otentik sebuah pagelaran karya. Hal ini menjadi poin penting pertama bagi kita yang akan menulis tentang seni rupa.

2. Identifikasi sosial media.
Munculnya media daring membuka peluang bagi siapa saja untuk memiliki sosial media, pun dengan seniman. Sosial media kemudian menjadi ruang hadirnya diskusi karya dan gagasan yang tidak bisa dinafikan. 

3. Kehadiran seniman-seniman muda setelah tahun 2000.
Prof. Sofyan menjadi kikuk ketika diminta menjadi narasumber oleh panitia Makassar Biennale 2015, pasalnya sejak menjadi pejabat di UNM, pria berambut putih ini mengaku tak lagi mengikuti perkembangan seni rupa di Makassar selama 15 tahun terakhir. Otomatis dia pun tidak mengikuti kehadiran sosial media yang telah menjadi ruang pamer bagi seniman-seniman muda. Hal inilah yang menurutnya perlu kami perhatikan dengan saksama.

4. Seni Rupa Baru.
“Bahwasanya dunia saat ini telah dijejali oleh visual. Manusia tak lagi terpisahkan oleh visual, mulai bangun hingga mereka tidur kembali. Pendidikan seni di Amerika Serikat dan Australia saat ini sudah mengakui visual culture art education sebagai seni rupa baru,” jelas Prof. Sofyan. Hanya saja, lanjutnya, kekurangan visual culture art education adalah adanya muatan politik di dalamnya yang didominasi oleh para pejuang-pejuang gender, hak asasi manusia, korporasi, dll.
***

Pembicaraan mengenai seni rupa baru ini berlanjut, bahwa perbedaannya dengan seni rupa tradisiona adalah estetika dan ideologi. Seni rupa baru melulu berlandaskan pada ideologi, membicarakan media-media yang digunakan dalam berkarya, namun tidak lagi mempermasalahkan teknik dan estetika. “Ketika orang-orang beralih ke seni rupa baru maka siapa lagi yang akan menggarap teknik dan estetika?” Prof. Sofyan mengakhiri penjelasannya mengenai seni rupa tradisional dan seni rupa baru. Pada bagian inilah memori mengenai mata pelajaran Kesenian di SMP saya menyeruak. Guru saya saat itu tampaknya belum bisa mengidentifikasi dan tidak mau mengintervensi para siswanya apakah ada di antara mereka yang akan menjadi perupa atau tidak, yang jelas dia hanya mengajarkan keterampilan dasar, yang menurut Prof. Sofyan adalah hal yang terpenting dimiliki oleh seorang seniman rupa. “Itulah makanya, seleksi masuk pendidikan seni rupa di Indonesia menyelenggarakan tes keterampilan berupa menggambar bagi para calon mahasiswa baru. Tes bakat untuk kesenimanan, tes akademik untuk kesarjanaan.”

Saya akan merasa berdosa jika mengakhiri tulisan ini tanpa memberitahu suatu hal menarik (menurut saya) mengenai kepelukisan di Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Sofyan, Sulawesi Selatan tidak memiliki kebudayaan melukis. Orang-orang dahulu hanya mengenal mappatta (bugis) diserap dari bahasa Indonesia, yakni menyajikan fakta, dalam aliran lukis dikenal dengan istilah naturalis, mereka hanya menggambar apa yang mereka lihat. Yang ada di Sulawesi Selatan hanya menganyam, mengukir, menenun, dan mematung. Melukis katanya, adalah kebudayaan orang-orang Eropa. Usahlah kita mendalami ajaran-ajaran Vincent Van Gogh, Leonardo da Vinci, Pablo Picasso, dll, fokuslah pada apa yang ada saat ini yakni, kebudayaan visual.

Perbincangan bersama Prof. Sofyan dengan teman-teman peserta kelas menulis, fasilitator dari Tanah Indie, dan panitia Makassar Biennale 2015 berakhir menjelang maghrib, kepala saya memberat, sisa sprite yang tak lagi dingin saya tenguk sampai habis sementara piring di sebelahnya sedari tadi telah kosong. Sampai jumpa di kelas selanjutnya!