Monday, 7 September 2015

Catatan Pertemuan II : Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa Makassar Biennale 2015


Nostalgia tentang kain hitam yang menjuntai di pinggir mulut ember yang diletakkan di atas meja di tengah-tengah lingkaran para siswa kembali hadir, hal ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas dua bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sengkang, Wajo. Dalam seminggu kami mempelajari teknik menggambar selama dua jam pelajaran (2x45menit) pada mata pelajaran Kesenian. Kadang kami harus keluar kelas untuk menggambar objek apa saja. Pada 3 bulan pertama kami akan dijejali dengan teknik arsir menggunakan pensil 2B, setelah ujian tengah semester, kami akan  diwajibkan menggunakan pastel dan cat air.

Menggambar menggunakan pensil 2B sungguh membosankan bagi saya, betapa tidak, berlembar-lembar kertas habis hanya dengan warna hitam putih dan gelap terang, dikerjakan di sekolah, jika tidak selesai boleh dibawa pulang dengan syarat minggu depan sudah harus selesa dan dikumpul. Ingatan-ingatan 9 tahun lalu ini kemudian terputus ketika dua perempuan mondar-mandir dihadapan saya sambil meletakkan piring kecil berisi dua potong kue di atas meja dan segelas air bening dingin yang kutebak sprite.

Suasana pertemuan II workshop penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015. Foto : @jumardanm
 
Adalah Prof. Sofyan Salam yang menghadirkan kenangan ini, bertindak selaku narasumber pertama dalam kelas menulis kritik seni rupa (6/9) yang digelar dalam rangka Makassar Biennale 2015 bekerjasama dengan Tanah Indie. Dipilihnya Pembantu Rektor 1 Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai narasumber pertama dalam kelas tak lain karena dia merupakan satu-satunya pendokumentasi perjalanan seni rupa di Sulawesi Selatan hingga tahun 2000. Semua dicatat dalam bukunya berjudul Seni Rupa Mimesis dan Modern Kontemporer di Sulawesi Selatan yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan.

Hanya ada dua pilihan bagi kami para peserta penulisan kritik seni rupa menurut professor yang angkat jempol terhadap seniman-seniman yang hidup dari karya : pertama, penulis yang bertindak selaku kritikus, memprovokatori hal-hal yang ada dan bertentangan dengan pemikirannya. Kedua,  penulis yang menjadi pengamat, berprilaku sebagai orang biasa namun mendokumentasikan hal-hal yang terjadi. Kepemilikian ideologi pun menjadi syarat mutlak dalam dua golongan penulis ini.

“Tanpa membaca, saya sudah tahu akan lari kemana tulisannya, karena saya sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kritis,” ungkap Prof. Sofyan mengambil contoh Muh. Faisal, dosen Universitas Muhammadiyah. Prof. Sofyan pun menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia termasuk penulis golongan kedua.

Menurut professor yang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika Serikat ini, untuk menuliskan seni rupa, tampaknya kita hanya perlu melakukan empat hal : 

1. Kumpulkan katalog dan dokumentasi pameran.

Katalog dan foto-foto selama pameran merupakan bukti otentik sebuah pagelaran karya. Hal ini menjadi poin penting pertama bagi kita yang akan menulis tentang seni rupa.

2. Identifikasi sosial media.
Munculnya media daring membuka peluang bagi siapa saja untuk memiliki sosial media, pun dengan seniman. Sosial media kemudian menjadi ruang hadirnya diskusi karya dan gagasan yang tidak bisa dinafikan. 

3. Kehadiran seniman-seniman muda setelah tahun 2000.
Prof. Sofyan menjadi kikuk ketika diminta menjadi narasumber oleh panitia Makassar Biennale 2015, pasalnya sejak menjadi pejabat di UNM, pria berambut putih ini mengaku tak lagi mengikuti perkembangan seni rupa di Makassar selama 15 tahun terakhir. Otomatis dia pun tidak mengikuti kehadiran sosial media yang telah menjadi ruang pamer bagi seniman-seniman muda. Hal inilah yang menurutnya perlu kami perhatikan dengan saksama.

4. Seni Rupa Baru.
“Bahwasanya dunia saat ini telah dijejali oleh visual. Manusia tak lagi terpisahkan oleh visual, mulai bangun hingga mereka tidur kembali. Pendidikan seni di Amerika Serikat dan Australia saat ini sudah mengakui visual culture art education sebagai seni rupa baru,” jelas Prof. Sofyan. Hanya saja, lanjutnya, kekurangan visual culture art education adalah adanya muatan politik di dalamnya yang didominasi oleh para pejuang-pejuang gender, hak asasi manusia, korporasi, dll.
***

Pembicaraan mengenai seni rupa baru ini berlanjut, bahwa perbedaannya dengan seni rupa tradisiona adalah estetika dan ideologi. Seni rupa baru melulu berlandaskan pada ideologi, membicarakan media-media yang digunakan dalam berkarya, namun tidak lagi mempermasalahkan teknik dan estetika. “Ketika orang-orang beralih ke seni rupa baru maka siapa lagi yang akan menggarap teknik dan estetika?” Prof. Sofyan mengakhiri penjelasannya mengenai seni rupa tradisional dan seni rupa baru. Pada bagian inilah memori mengenai mata pelajaran Kesenian di SMP saya menyeruak. Guru saya saat itu tampaknya belum bisa mengidentifikasi dan tidak mau mengintervensi para siswanya apakah ada di antara mereka yang akan menjadi perupa atau tidak, yang jelas dia hanya mengajarkan keterampilan dasar, yang menurut Prof. Sofyan adalah hal yang terpenting dimiliki oleh seorang seniman rupa. “Itulah makanya, seleksi masuk pendidikan seni rupa di Indonesia menyelenggarakan tes keterampilan berupa menggambar bagi para calon mahasiswa baru. Tes bakat untuk kesenimanan, tes akademik untuk kesarjanaan.”

Saya akan merasa berdosa jika mengakhiri tulisan ini tanpa memberitahu suatu hal menarik (menurut saya) mengenai kepelukisan di Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Sofyan, Sulawesi Selatan tidak memiliki kebudayaan melukis. Orang-orang dahulu hanya mengenal mappatta (bugis) diserap dari bahasa Indonesia, yakni menyajikan fakta, dalam aliran lukis dikenal dengan istilah naturalis, mereka hanya menggambar apa yang mereka lihat. Yang ada di Sulawesi Selatan hanya menganyam, mengukir, menenun, dan mematung. Melukis katanya, adalah kebudayaan orang-orang Eropa. Usahlah kita mendalami ajaran-ajaran Vincent Van Gogh, Leonardo da Vinci, Pablo Picasso, dll, fokuslah pada apa yang ada saat ini yakni, kebudayaan visual.

Perbincangan bersama Prof. Sofyan dengan teman-teman peserta kelas menulis, fasilitator dari Tanah Indie, dan panitia Makassar Biennale 2015 berakhir menjelang maghrib, kepala saya memberat, sisa sprite yang tak lagi dingin saya tenguk sampai habis sementara piring di sebelahnya sedari tadi telah kosong. Sampai jumpa di kelas selanjutnya!


0 Comments:

Post a Comment