ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Thursday, 21 January 2016

Menjelajah Di Tanah Lada


Apakah kamu pernah melihat kedua orang tuamu bertengkar? Atau kalian pernah menonton adegan pertengkaran antara ayah dan ibu di sinetron yang ditayangkan televisi? Pertengkaran berupa saling mengata-ngatai, kemudian berlanjut —ayah menampar ibu dan ibu kemudian menangis tersedu. Lalu kamu sebagai anak tidak tahu harus berbuat apa. Takut kepada ayah dan kasihan melihat ibu.

Itulah yang dialami Ava, anak perempuan 6 tahun. Nama lengkapnya Salva, mamanya yang menamai. Tapi ayahnya berkeras menamainya Saliva yang artinya liur karena katanya dia tidak berguna. Tokoh Ava hadir dalam sebuah novel karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie (semoga saya tidak salah menuliskan namanya) berjudul Di Tanah Lada. Ava punya kamus, pemberian kakeknya, Kakek Kia. Dia selalu membawanya ke mana-mana. Sebagai anak kecil yang belum paham banyak kata-kata, kamus bahasa Indonesia tersebut adalah penyelamatnya. Kakek Kia meninggal di awal novel dan ini merupakan pengantar untuk memasuki cerita. Ava, ayah, dan ibunya harus pindah rumah ke Rusun Nero. Ayahnya yang memaksa, agar bisa bermain judi dengan leluasa. Di sana Ava berkenalan dengan P, anak laki-laki yang ia cap sebagai anak pengamen karena selalu membawa gitar dengan pakaiannya yang lusuh, padahal P bukan anak pengamen, dia hanya selalu membawa gitar dan berjalan berkeliling sebab dia tidak boleh pulang sebelum jam 7 malam. P berumur 10 tahun, tinggal bersama ayahnya.

Buku dengan ilustrasi anak kecil di sampul depannya yang digambar sendiri oleh penulisnya adalah pemenang kedua sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Buku ini dipinjam teman kostan saya dari katakerja. Karena di a sedang keluar kota dan novel ini ditinggal di kamarnya, maka jadilah saya membacanya. Saya yang telah membaca Puya ke Puya penasaran saja kenapa bisa Di Tanah Lada keluar sebagai pemenang kedua.

Selama saya hidup, Di Tanah Lada adalah buku keempat yang habis saya baca dalam sekali duduk. Saya adalah tipe pembaca yang malas. Buku-buku tipis kadang saya baca hingga dua minggu. Sementara yang tebal-tebal bisa sampai dua bulanan. Apa yang membuat saya mampu ‘menjelajah’ Di Tanah Lada dalam separuh malam adalah karena dia bercerita dari sudut pandang anak kecil, perempuan pula. Menggunakan sudut pandang anak perempuan dalam bertutur memang selalu menarik. Imajinasinya liar, percakapan-percakapannya lucu, menggemaskan, tak jarang menohok, penarikan kesimpulannya membuat logika orang dewasa kadang terputarbalikkan. Seperti kesimpulan Ava tentang kopi, bahwa dia tidak pernah minum kopi, tapi takut dengan minuman itu. “Soalnya, warnanya hitam. Kalau warna hitam, biasanya jahat,” katanya. Ava membeberkan isi kepalanya secara rinci, termasuk pembacaannya terhadap kata-kata yang ia temukan di kamus. Ava dan P si anak pengamen yang bukan anak pengamen di pertengahan cerita mencoba melakukan perjalanan menuju rumah Nenek Isma. Rencana disusun rapi sekali, tidak ada ketakutan. Padahal perjalanannya yang akan ditempuh cukup jauh. Tanah lada adalah hasil imajinasi Ava tentang sebuah tempat dimana dia akan tumbuh bersama kebahagiaan.

Kalau aku membuat kamus, aku akan memasukkan ini di dalamnya :

Tanah [kb.] : (1) permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali (2) keadaan bumi di suatu tempat; (3) permukaan bumi yang diberi batas; (4) daratan; (5) permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara.

--Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

Dalam perjalanan menuju  rumah Nenek Isma, P yang sebelumnya diberi nama Pepper oleh Ava —karena Pepper berarti lada dan lada katanya menghangatkan, seperti Ava yang merasa hangat ketika bersama P berencana untuk ganti nama lagi, mereka mencari nama dan menemukan Patibrata Praharsa yang berarti sehidup semati dalam keadaan bahagia. Dan dalam perjalanan inilah si penulis dengan tega membunuh tokoh utama. Ava dan P menceburkan diri ke laut, dengan harapan menuju bintang di mana di sana katanya ada kebahagiaan dan kedamaian. Sebab laut kata Ava adalah akhir dari perjalanan semua bintang yang selama ini mendengarkan harapan P. Jika mereka telah berada di bintang, mereka juga berharap bereinkarnasi menjadi macam-macam, yang jelas berpasangan. Entah itu menjadi sepasang penguin, ayam betina dan ayam jantan, hingga lada dan garam.

*

Yang membuat Ava dan P akrab adalah permasalahan yang dihadapi Ava dan P memang pada dasarnya sama, mereka merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Kedekatan mereka terjalin dengan sangat alami, ala anak-anak. Penulis yang merupakan dara kelahiran Bandar Lampung 1993 mengangkat isu penting yang saya rasa akan laku sepanjang masa. Ava bosan melihat pertengkaran papa dan mamanya. Dia sering dipukul sisir oleh papanya, belum lagi lontaran kata-kata kasar.

“Itu anak didikanmu! Dari kecil sudah jadi jalang!” bentak papa Ava ke mamanya ketika melihat Ava dan P dalam kamar.

P pun mengalami kekerasan oleh papanya yang ternyata bukan papanya, berupa penyetrikaan di tangan kanannya. Dia juga tidak tahu mamanya siapa dan ada di mana. Jadilah mereka pesimistik dalam menjalani hidup di usia belia. Ada tekanan psikologis yang sangat berat menerpa mereka. Saya kemudian dibuat marah oleh papa dan mama Ava, juga orang tua P yang menjadikan keduanya korban. 

*

Ilustrasi oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jika kamu membaca ulasan-ulasan tentang buku ini di goodreads, banyak hal yang orang pertanyakan di sana, sampai kenapa Ava bisa sejenius itu, kenapa pemikirannya sampai segitu, hal-hal apa yang membuatnya seperti itu. Namun untuk kontra-kontra semacam itu, saya rasa Ziggy sudah punya jawaban di halaman 197.

“Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. —Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.”

Buku ini memang merupakan buku pinjaman. Sebentar lagi dikembalikan. Tapi setelah saya membuat tulisan ini saya akan ke toko buku untuk membelinya. Di Tanah Lada harus ada di rak buku saya, setidaknya kelak dapat menjadi pengingat bagi saya agar tidak menjadi papa yang jahat. Ala!



***


Judul : Di Tanah Lada  | Penulis : Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit : Agustus 2015 
Jumlah Halaman : 244 | ISBN : 978-602-03-1896-7


*** Tayang di revius 22 Januari 2016 http://revi.us/menjelajah-di-tanah-lada/

Saturday, 2 January 2016

Almanak 12 Perancang Grafis

Hai! Saya dan teman-teman di Desain Komunikasi Visual 2011 baru saja melaksanakan sebuah gelaran di luar kampus. Tepis anggapan bahwa kami terdiri dari banyak orang. Saat baru masuk di tahun 2011, ada sekira 41 orang, hingga di penghujung 2015 jumlah kami tidak lagi mencapai setengahnya. Ini seleksi alam (tugas) yang keras atau mungkin minat mereka bukan disini. Teman-teman yang tersisa ini kemudian berhimpun membuat membuat pameran. Bukannya apa, jenis kami di kampus kini terbagi tiga : masih terseok menyelesaikan kuliah, akan mengajukan judul tugas akhir, dan sedang dengan sangat keras menyelesaikan tugas akhir. Saya mencoba membuat pengantar untuk teman-teman dari gelaran tersebut, seperti ini :


Dua belas mahasiswa dengan gaya dan kecenderungan berbeda terhadap sebuah desain untuk dua belas almanak di sepanjang tahun mendatang adalah hasil kongsi dari kejenuhan yang sama. Briefing-brainstorming-asistensi-diberi nilai, atau, revisi-perbaikan-revisi-perbaikan, begitu seterusnya.

Dua perulangan itu merupakan dua tipe dari dua belas mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas kuliah dan tugas akhir yang entah kapan berakhir, di sebuah sekolah desain di Parangtambung sana. Pajang karya menjadi ajang rehat dari kemelut perulangan akademik yang menjemukan, tanpa tendensi teori-teori perancangan.













Usaha keluar kandang dan membiarkan karya bertemu, dikritik, dinikmati, dan dimiliki oleh orang dengan latar belakang berbeda adalah usaha rendah hati untuk tidak congkak terhadap latar belakang pendidikan desain komunikasi visual yang dimiliki. Sebab ketakutan terbesar kami adalah jangan sampai latar belakang pendidikan tersebut hanya mendidik untuk keluar dari kreativitas, tidak tumbuh dalam kreativitas, seperti kata Ken Robinson.

Oleh karena (karya) tugas kuliah itu dipamerkan di koridor-koridor institusi yang toh ditonton oleh orang yang itu-itu lagi. Akhirnya, Andi Sultan Alauddin, Herman Pawellangi, Jumardan Muhammad, ChandraJuliatma, Andi Ashar, Handi Nurdiawan, Andi Filsaf Amor, Reza Abdillah, NurAfandi, Nur Syahida Arsy, Puspita Sunny, dan Aswan Syam memutuskan untuk eksibisi di Peeple Coffee – Working Space 27-31 Desember 2015. Dan, jika ingin kami menemani kamu disepanjang 2016 mendatang, miliki kalender yang bakal dijual di tempat pameran dan biarkan kami menemanimu di meja sudut ruang tamumu, meja kerjamu, atau meja di samping tempat tidurmu. 

Inilah mereka!
Kami memberikan file high resolutionnya untuk kalian miliki dan perbanyak secara gratis.
Silakan download disini!

video

Friday, 1 January 2016

3 Hal di 2015

Saya merasa gagal ketika melewatkan 2015 tanpa menceritakan hal-hal berkesan. Sebab seperti yang dikatakan Suwarno Wisetrotomo di kelas penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015 bahwa ingatan kian terbatas sementara banyak hal yang ingin diingat. Tenang, saya tidak akan curhat tentang tugas akhir saya yang belum berakhir di 2015. Saya akan memberitahu kamu tentang buku, film, dan musik yang paling berkesan saya baca, nonton, dan dengarkan di 2015.

Kenapa buku, film, dan musik? Sebab ketiga hal ini adalah yang paling membekas sejak setahun lalu. Adalah bang Moses, kepala sekolah Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta yang menanyakan hal ini ketika saya sedang tes masuk untuk sekolah fotojurnalistik di Galeri Foto Jurnalistik Antara Makassar. Selain itu, ketiga hal ini pun ditanyakan ketika melamar kerja di industri kreatif, menurut blog seorang reporter majalah anak muda tersohor di Jakarta yang saya ikuti. Beberapa media daring antimainstream menjadikan pertanyaan ini sebagai pertanyaan wajib ketika mewawancarai pekerja di industri kreatif. Lagian, saya sedang berada pada zona nyaman tahun ini, cap kekasih saya. Kerjaan saya hanya, tidur, membaca, menonton, sesekali menulis, memotret, kerja tugas akhir, bimbingan, revisi, bimbingan, revisi, menurut kekasih saya.

Jadi, buku, fim, dan musik terbaik itu adalah ini :

1. Bukan Pasar Malam.


Ini karya pertama Pramoedya Ananta Toer yang saya baca, buku lama, tapi diterbitkan lagi di Agustus 2015. Sebenarnya ada banyak buku yang berkesan tahun ini, diantaranya Dilan 2 yang ditunggu-tunggu terbitnya, namun akhirnya mengecewakan. Dua karya Remy Silado, Menunggu Matahari Melbourne dan Malaikat Lereng Tidar yang saya ulas di Revius. Namun ternayata yang paling menohok adalah Bukan Pasar Malam. Buku ini pinjaman dari seorang teman, padahal saya pernah punya Bumi Manusia, tidak sempat dibaca kemudian hilang. Karya Pram ini sederhana, bercerita tentang seorang anak yang terpaksa pulang kampung karena ayahnya jatuh sakit. Latar tempat penulisan roman ini adalah di Blora, Jawa Tengah, sedangkan latar waktunya sesaat setelah Indonesia merdeka. Roman ini adalah cerita realis, idealis, dan nasionalis. Seorang bapak yang ikut memperjuangkan kemerdekaan negaranya, lantas setelah merdeka, ia memilih mengundurkan diri dari partai dan menjadi guru sekolah. Ditawari menjadi anggota legislatif, ia tidak mau. Hingga akhirnya, dia dan keluarganya harus terlunta miskin. Negara melupakannya, rumah sakit merawatnya di bangsal gratis yang artinya dirawat bersama dengan para miskin lainnya. Dokter di rumah sakit itu pun hanya satu. Rumahnya reyot, tak layak tinggal. Diakhir cerita si bapak meningggal dunia bersama sakitnya. Ada banyak pelajaran hidup yang realistis di dalamnya, yang saya rasa tak menggurui. Novel tipis ini terbit pertama kali tahun 1951. Apa yang terjadi di dalamnya, toh, masih terjadi saat ini, setidaknya hingga akhir 2015. Bagaimana orang-orang saling sikut berebut harta, tahta, dan jabatan, menghalalkan segala cara. Sementara di tempat lain, orang-orang miskin pontang panting bertahan hidup.


2. Little Prince.


Saya menemukan cerita ini dalam bentuk buku di instagram, dari seorang keren yang saya ikuti. Belakangan saya tahu Dian Sastro pun ternyata membacanya dan dia amat terkesan. Tapi ini bukan masalah Dian Sastro membacanya atau tidak. Secara kebetulan judul ini juga pernah saya dapati di komputer jinjing seorang teman. Makanya, dengan penasaran saya meminta salinan filmnya. Saya menonton tanpa ekspektasi dan penggambaran sebelumnya. Film animasi dengan dua teknik ini mengisahkan perihal pertemuan anak perempuan kecil dengan seorang kakek yang merupakan tetangganya. Si kakeklah yang kemudian menuturkan tentang Little Prince yang pernah ditemuinya, yang hidup seorang diri di sebuah planet yang hanya sebesar dirinya. Beberapa tokoh dalam film ini nyata ada di dunia yang kita tinggali. Hanya saja dalam bentuk sifat dan karakter : sok bijaksana, sok dewasa, dan senang dipuji adalah beberapa diantaranya. Pada sisi lain kenyataan bahwa kita tumbuh menjadi dewasa dan melupakan jiwa kanak-kanak kita, adalah pelajaran lain film ini. Saya rasa kamu perlu menonton film ini, jika tak sempat membaca bukunya. Saya tercengang sehabis menontonnya dan membuat berpikir beberapa jenak. Oh iya, film ini awalnya buku. Judul aslinya Le Petit Prince, ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, salah satu film Perancis yang saya tonton tahun ini selain Amelie Poulain. 


3. Silampukau - Dosa, Kota, dan Kenangan.


Menurut waktunya, saya sebenarnya salah urut. Silampukau adalah hal pertama yang saya dapati, kemudian Little Prince, terakhir Bukan Pasar Malam. Setelah membaca Bukan Pasar Malam, saya berpikir, ternyata beberapa hal yang saya dapati tahun ini adalah pelajaran besar tentang kehidupan. Mama sepanjang tahun sakit, saya harus bolak balik Sengkang menemaninya sambil merampungkan penelitian dan pemotretan saya untuk tugas akhir. Kekesalan saya terhadap perubahan yang terjadi pada Makassar, tempat saya menetap beberapa tahun belakangan membuatnya semakin lengkap. Hingga di November kemarin, saya menghabiskan banyak waktu dengan Herman, teman sekelas saya. Dia merekomendasikan dua album, FSTVLST dan Silampukau. Album FSTVLST yang diperdengarkan rilis tahun lalu, sedangkan Silampukau adalah album 2015, keduanya menarik. Dua album ini tidak bisa dibandingkan, masing-masing hebat dalam pemilihan kata untuk lirik-liriknya, menurut saya. Maaf, saya tak tahu apa-apa tentang musik. Saya hanya dicandu kata-kata, saya mencintai kata-kata. Kata Aan Mansyur, kata-kata adalah semeseta. Dosa, Kota, dan Kenangan berisi 10 lagu, semua berlatar Surabaya, kota asal band ini. Dan saya rasa, apa yang terjadi di lagu-lagu itu, juga terjadi disini, Makassar. Dan hidup yang saya lalui setahun ini.

Selamat tahun baru 2016!

***