ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Wednesday, 28 December 2016

Hal-hal ini terjadi di 2016 (2)

     
Masjid Raya Kabupaten Wajo di shalat Idul Fitri 1437 H/2016 M.
       3. Tengah Tahun II (Agustus-Oktober)

Saya beridul fitri di Sengkang. Di malam lebaran saya duduk di teras bersama bapak. Dia semakin fasih menggunakan Facebook, mengomentari postingan orang-orang di berandanya. Lima hari sebelum lebaran saya tiba di Makassar dan Ade menjemput saya di bandara. Kami tidak bertemu setelah hampir 4 bulan. Dia menghabiskan separuh 2016nya di Jakarta dan kini sudah menetap di sana. Pertemuan kami kemudian diisi dengan percakapan-percakapan panjang tentang banyak hal yang terjadi, tentang orang-orang baru yang kami temui. Dia memang pacar yang baik sekaligus teman diskusi yang cerdas. Salah satu percakapan yang paling membekas adalah pendapatnya tentang bagaimana kami orang introver harus beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan baru. Sebab jika tidak, tidak akan ada hal yang bisa dilakukan dan kita hanya akan terjebak dengan pikiran-pikiran kita sendiri.

“Saya tahu kalau kamu adalah introver, tapi tolong, kamu harus menyesuaikan pada dunia yang terus berubah. Bukan dunia yang harus menyesuaikan denganmu,” sergahnya pada perbincangan tentang seorang pribadi tertutup lainnya.

Friday, 16 December 2016

Hikayat Jean Calas dan Mereka yang Gagal Jantung

Pernah suatu sore di Kampung Buku, usai menyelesaikan bacaan di rubrik literasi Tempo Makassar saya melempar koran itu ke atas meja sambil menghela napas panjang. Kak Jimpe yang duduk di depan saya bertanya, "Kenapa?"
"Tidakji kak, begituji pale' literasi. Kumpulan beberapa tulisan, data, yang dikaitkan dengan kejadian sekarang, trus ditutup dengan pendapat pribadi."
"Begituji memang. Rajin membaca saja."
Adalah reading IELTS yang kemudian menjadi perangsang hadirnya tulisan di bawah ini. Reading berjudul Optimism and Healthy itu kemudian menggiring saya mengingat bacaan Voltaire tentang toleransi sekira akhir tahun lalu.  Ditambah lagi dengan tagar #BandungIntoleransi yang saya baca di linimasa twitter beberapa hari lalu. Tulisan ini tayang di http://kareba.dutadamai.id/ 10 Desember 2016.
------------------
Bahwa ada yang lebih luas dari alam semesta yang kita huni saat ini, yaitu alam pikiran. Pikiran bisa jadi penentu tindak tanduk manusia di alam semesta. Dua hal signifikan dari pikiran yang baik adalah optimisme dan kesehatan. Pikiran adalah segalanya, sehat sakitnya jasmani tergantung dari baik buruknya rohani. Jika ada yang menggadang-gadang slogan sehat berawal dari pikiran, maka pernyataan tersebut tidak mengada-ada.

Friday, 2 December 2016

Hal-hal ini terjadi di 2016 (1)

Exit signage di Teduh Hostel, Jakarta.
Gubrak! Ini sudah Desember dan siap atau tidak siap menghitung hari lagi kita akan keluar dari 2016 dan masuk ke 2017. Betapa waktu berlalu dengan sangat cepat. Selamat memasuki Desember, bulan terakhir di kalender masehi. Tahun ini adalah tahun tercepat dan tahun paling dinamis bagi saya dalam 5 tahun terakhir. Meskipun tidak banyak hal yang saya lakukan, secara garis besar hanya ada empat fase di tahun ini. Selanjutnya saya akan menuliskannya ke dalam empat bagian hal-hal yang terjadi di 2016. Tak ada maksud untuk narsis dan curhat colongan, ini hanyalah cara untuk memperpanjang ingatan yang kian hari kian memendek dan juga bahan refleksi ke depannya.

1. Awal Tahun (Januari-April)

Masih dengan membawa tugas akhir (TA) yang belum kelar saya memasuki 2016. Menghabiskan waktu dengan merampungkan TA di Daun Coffee, warung kopi paling hits yang letaknya tak jauh dari kampus Parangtambung, berdiskusi dengan dosen dan teman-teman sesama pekerja TA. Hingga disela-sela kerja tersebut, teman sekelas saya yang belum sampai pada tahap penyelesaian kuliah mengalihkan isu TA ini ke ‘bikin karya sama-sama sebagai perpisahan’, maka tercetuslah ‘Almanak’ pameran kalender 2016 hasil karya berupa fotografi dan desain grafis oleh dua belas orang teman sekelas saya. Kelar di Almanak, saya kemudian kembali menghabiskan waktu dengan “Buku Foto Lipa Sa’be”, tugas akhir yang saya angkat, di percetakan sepanjang jalan Sungai Saddang dan distributor kertas di jalan Gunung Bawakaraeng. Di akhir Februari, saya berserta 9 orang pekerja TA mengadakan “Artefak”, pameran tugas akhir sebagai prasyarat untuk ujian akhir. Barulah kemudian di minggu pertama Maret pengerjaan tugas akhir ini benar-benar berakhir. Sebagai tanda telah menyelesaikannya disematilah kami gelar Sarjana Desain! Hasil kuliah selama 4,5 tahun. Betapa Maret tahun ini sangat berharga sebab hari yudisium saya, hari Jumat, bertepatan dengan hari lahir saya.