ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Friday, 17 March 2017

Visit Tidore – a whole world on a single island.

Membincang Tidore serupa mengenang kenangan perihal mantan. Tentu saja, hal ini berlaku bagi mereka yang punya kesan berbunga-bunga tentangnya. Dan mengenang kemudian menjadi pekerjaan paling menyenangkan. Semua bermula ketika guru saya di sekolah dasar menyebut angka 350 tahun—titimangsa dimana Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa asing. Konon, kedatangan mereka ke Indonesia pada awalnya hanya untuk mendapatkan rempah-rempah dengan harga lebih murah sebab selama ini mereka membelinya melalui perdagangan berantai dari pedagang India, Persia, dan Arab. Usai perang salib yang tersoroh itu, bangsa-bangsa dari Barat seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda memulai penjelajahan samudranya di abad ke-5 ke Timur—Indonesia. Daerah sumber utama penghasil rempah-rempah di Indonesia ada di bagian timur.

Terpetakanlah daerah Maluku sebagai tujuan mereka dimana dua pulau paling tersohor pada masa itu yakni Ternate dan Tidore. Pada mulanya kedatangan mereka hanya untuk berdagang rempah-rempah namun kemudian mereka berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia dengan melakukan praktik monopoli dagang. Bagi saya ini menarik, hanya karena rempah-rempah mereka sehingga terjadi penjajahan terhadap Indonesia. Tapi ah, itu dulu. Saya dan kamu tentu paham betul tentang cerita menarik ini. Bagi beberapa orang mungkin usaha untuk move on akan buyar ketika sesuatu Dan usaha untuk move on memang kadang agak sulit apalagi bila ada pemantik. Misalnya, saya, tagline Visit Tidore ini melayangkan ingatan saya ke Tidore di masa lalu tentang betapa cantik dan memesonanya ia dengan rempah-rempah. Lantas, apa kabar Tidore hari ini?

Kiri : Ilustrasi kedatangan Portugis di Ternate. Sumber : Indonesia Heritage Jilid 3.
Kanan : Lanskap Pulau Matiara dan Pulau Tidore. Sumber : panoramio.com
Mengemas Rempah

Tidore hari ini adalah bak putri tidur yang lelap dengan sejuta pesonanya. Tidak banyak referensi di internet mengenai Tidore hari ini, kebanyakan hanya diriwayatkan sebagai pusat rempah-rempah di masa lalu dan juga potretnya di uang kertas Rp 1.000,-. Saya kemudian membayangkan sebuah usaha membangunkan sang putri dengan kembali mengangkat rempah-rempahnya. Jika dahulu para penjajah hanya mengambilnya mentah-mentah, saya membayangkan mereka menggunakan karung goni untuk mengangkut, bagaimana jika kita mengemas rempah yang berupa cengkeh, pala, kayu manis, dan lain-lain itu untuk kemudian di jual ke mereka?

Dalam dunia pemasaraan hari ini, faktor tampilan sebuah produk adalah hal yang paling utama, saya rasa. Kita sadar betul bahwa tidak sedikit orang yang menilai sesuatu hanya dari tampilan luar. Mengemas rempah-rempah sedemikian rupa bukan untuk menutupi isi dalamnya yang buruk sebab tidak diragukan lagi rempah-rempah Indonesia berkualitas tinggi. Pengemasan dilakukan hanya untuk memeroleh harga berkali lipat. Selain itu, ia akan dengan percaya diri terpajang di rak-rak toko di seluruh dunia. Dan semua berawal dari Tidore, satu dari ribuan pulau yang ada di Indonesia.

Kemudian mengemas rempah bisa menjadi bisnis utama bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di negeri ini.

Bayangan saya tentang rempah-rempah yang dikemas secara modern dan dikerjakan oleh UMKM
akan meningkatkan nilai jualnya. Sumber : savingeveryday.net & es.steepwalls.com
Menikmati Alam dan Menyantap Kuliner

Walaupun pesona utama Tidore adalah rempah-rempah, namun alam dan kulinernya tidak bisa diabaikan. Walaupun pulau ini pulau kecil, namun tiap jengkalnya adalah tempat untuk berwisata, dari puncak gunung hingga kedalaman laut. Sebut saja  ketinggian Gurabunga, Kalaodi, Pulau Failonga, air terjun Ake Cleng, air panas Ake Sahu, dan masih banyak lagi wisata alam. Jika masih tidak percaya betapa Tidore adalah sejarah besar bagi Indonesia, kamu bisa mendatangi Benteng Tore dan Benteng Tahula yang merupakan saksi bisu pergulatan Portugis dan Spanyol di tanah para sultan.

Usai mendatangi tempat-tempat tersebut hal yang tidak bisa dilewatkan adalah makanan khas Tidore. Ebbie Vebri Adrian, fotografer buku Indonesia a World Treasures, mengatakan bahwa jika makanan tradisional Indonesia disajikan dalam satu meja, maka akan membutuhkan sekira 2 kilometer panjang meja untuk menampung semua makanan tersebut. Dan saya rasa, Tidore mengambil banyak bagian di dalamnya. Sebab dari hasil peramban saya ada banyak makanan khas Tidore seperti : papeda, uge aku, sagu tore, nasi jaha, dengan lauk berupa ikan cakalang yang diolah ke dalam berbagai macam rupa. Sementara kuenya : kue lapis, kue bilolo, kue asidah, apang coe, dan saya yakin masih banyak lagi.

Keseluruhan makanan tradisional tersebut tentu dengan mudah dapat ditemui di pasar tradisional. Salah satu pasar tradisional Tidore adalah Pasar Goto.


Tiap jengkal Tidore adalah pariwisata—dari puncak pegunungan hingga ke kedalaman laut.
Sumber foto :  indonesia-tourism.com

Rupa-rupa kuliner khas Tidore. Sumber foto : sejarahkotatidore.blogspot.co.id & awaluddintahir.wordpress.com
Merayakan Kebudayaan

Jika kamu menonton video perayaan Hari Musik Nasional di Istana Kepresiden Republik Indonesia 9 Maret lalu, Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, 2/3 adalah air, laut, dan samudra, 516 kabupaten dan kota, penduduknya 225 juta jiwa, terdiri dari 34 propinsi, 714 suku, serta 1.100-an bahasa lokal. Tiap-tiap dari mereka memiliki kebudayaan masing-masing. Pun dengan Tidore yang memiliki luas 13.862,86 km2 yang terdiri dari luas lautan 4.746 km2 dan luas daratan 9.116,36 km2. Pada tiap-tiap kesempatan Tidore akan menampilkan tarian khas daerahnya berupa Tari Soya-Soya yang ditarikan oleh para pria dan Tari Barakati oleh para wanita. Selain itu masih ada Tari Salai Jin, atraksi budaya yaitu Ratib Taji Besi, Paji Nyili-Nyili, dan yang paling tersohor adalah Baramasuwen atau Bambu Gila.

Dan ada pula Ritual Lufu Kei, yang menurut National Geographic Indonesia, adalah prosesi adat berupa perjalanan laut oleh sultan, perangkat kesultanan, perangkat adat, serta masyarakat untuk menziarahi makam-makam yang dianggap keramat di sekeliling Pulau Tidore. Ritual ini juga untuk mengenang armada perang yang sukses mengusir VOC dari Tidore yang dicetuskan oleh Sultan Tidore Yang Maha Mulia Sri Paduka Tuan Sultan Syaifuddin "Jou Kota".

Tidore dan pelbagai kebudayaannya. Sumber foto : Yudi KudaLiar & indonesiakaya.com
Let us show you to the world, once again!

Sejarah panjang Tidore adalah sejarah Indonesia. Jika dahulu kita adalah jajahan bangsa-bangsa asing, maka bukan tidak mungkin hari ini kita balik menguasai mereka dengan rempah-rempah yang telah dikemas menarik, pameran dan atraksi kebudayaan, serta melimpahnya situs pariwisata negeri ini. Sebab selain tambang dan migas, hal lain yang bisa kita gunakan untuk mendulang pundi-pundi rupiah adalah pariwisata, penyumbang terbesar devisa negara. Dan semua akan dimulai dari Tidoredunia di sebuah pulau.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Tidore Untuk Indonesia. Kamu pun bisa mengikuti lomba ini disini. Siapa sangka kelak kita akan bersama mengunjungi, mencatat, dan mengabarkan kepada dunia (sekali lagi) tentang Tidore yang indah di hari jadinya yang ke-909 pada April 2017 mendatang.   

  

Referensi :
1.http://annienugraha.com/
2.https://tidorekota.go.id/
3.https://nationalgeographic.co.id/foto-lepas/2012/04/prosesi-lufu-kie
4.http://travel.kompas.com/read/2013/04/18/17241983/Hari.Jadi.Kota.Tidore.Haru.dan.Sarat.Makna
5.https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-salai-jin-yang-mistis-dan-keberadaannya-kini

Thursday, 9 March 2017

Avontur



Hai!

Euforia perjalanan Pare, Surabaya, Jakarta, dan Makassar belum berakhir dan saya kembali berjalan. Saya menghabiskan seminggu di Sengkang menunggui mama dan bapak pulang umrah, saya tidak bertemu mereka selama kurang lebih tujuh bulan. Menunggui mereka, saya menghabiskan waktu untuk tidur, membersihkan rumah, eh, saya menemukan dua buku harian mama dengan titimangsa 1986 hingga akhir 1989. Isinya bermula saat dia berangkat kuliah kerja nyata di Wonomulyo, Sulawesi Barat, hingga dia menikah. Ada juga beberapa resep kue dan masakan di dalamnya, tampaknya dia sedang berusaha jadi istri yang pintar masak. Selain itu, saya juga sering duduk di warung kopi seharianmenonton orang-orang kantoran nongkrong, serta makan makanan Bugis : nasu bale ulaweng, tello' bale, tunu bale, gamming ladang, kaju dau'-daung, kambu paria, dan rupa-rupa kue. Kau tahu? Berada di Pulau Jawa membuat berat badan saya turun hingga 15 kilogram, lidah saya rasis, makanan yang bisa memanjakannya hanya makanan Bugis. Oke, ini tidak penting.

Ketika di Jogja.
Kemarin siang saya tiba di Makassar dan seperti biasa, adik saya Nunu, menyambut saya dengan rumah yang berdebu dan piring-piring yang tidak dicuci. Satu-satunya yang membuat saya senang adalah isi kulkas yang menyerupai isi Indomaret, penuh cemilan manis. Saya berkeliaran di Jogja dan Jakarta selama seminggu. Adalah BNPT RI yang memberangkatkan saya ke Jogja mewakili Kareba Damai untuk sarasehan bersama para penggiat dunia maya se-Indonesia, ada 200 orang yang hadir di kegiatan tersebut. Saya tidak bisa bercerita banyak tentang hal ini sebab selama acara saya menderita demam tinggi dan batuk hebat sehingga tidak bisa berkonsentrasi, rekan saya sudah berjanji akan melaporkannya dalam bentuk tulisan di laman Kareba.

Lepas kegiatan saya menuju Libstudtoko, studio, dan kafenya Farid Stevy Asta. Beberapa hari sebelumnya, postingan dagangannya yang baru mondar mandir di beranda instagram. Saya yang memang pengagum karya-karyanya dari jauh hari berniat ke sana untuk membeli beberapa barang. Dari daerah Sleman saya menuju jalan Malioboro, hendak mengubah rute penerbangan di kantor Garuda yang awalnya dari Jogja-Makassar menjadi Jakarta-Makassar. Namun batal karena total biaya yang harus saya keluarkan hampir mencapai satu tiket penerbangan Jakarta-Makassar. Tiket yang dikirimkan oleh panitia kegiatan memang Makassar-Jogja dan Jogja-Makassar, usai kegiatan saya memang hendak ke Jakarta, jadi agar tidak pulang balik maka saya berencana mengubah rute penerbangan. Tapi apa dayakemahalan. Saya makan siang nasi kucing, telur puyuh, dan gorengan di Malioboro sambil menunggu Barak, teman lama yang akan menjemput untuk tidur siang di asrama putra mahasiswa Wajo. Kereta saya ke Jakarta akan berangkat maghrib dan tubuh saya tidak sanggup untuk berkeliling Jogja menghabiskan waktu, sebab demam dan batuk belum ada tanda-tanda akan berhenti.



 





Ketika di Jakarta.
Berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 18.10 dan tiba pukul 03.00 subuh di Stasiun Pasar Senen, saya disambut gerimis dan gerombolan tukang ojek dan taksi yang menawari siap untuk mengantar kemana saja. Merasakan hal ini, saya seolah seperti selebritas yang disambut di pintu kedatangan. Dua minggu sebelumnya saya juga tiba tempat ini dari Stasiun Surabaya Gubeng. Kereta malam kelas ekonomi adalah cara terbaik untuk menekan biaya perjalanan. Seratus ribu rupiah saya sudah bisa berpindah ke tempat yang jauh. Berbeda dengan sebelumnya dimana saya harus tidur di serambi toko di stasiun sampai pagi, kali ini saya langsung memesan gojek untuk diantar ke kosan Marsul, seorang teman lama lainnya. Bukannya apa, demam dan batuk masih menghantui sementara perjalanan saya masih lama. Dan ini untuk pertama kalinya saya berjalan di Jakarta tanpa kena macet, hanya ada dua-tiga kendaraan yang melintas beberapa jam menjelang salat subuh.

Saya bangun kesiangan dan kebingungan akan ke Jakarta bagian mana hari itu. Di Jakarta, saya memang tidak punya rencana apa-apa. Setelah menghabiskan setengah jam di instagram, saya dan Marsul akhirnya memutuskan untuk ke Kwitang14. Eh bukan, Marsul tidak memutuskan, saya yang mengajaknya. Dia tidak tertarik, nyatanya dia keluar dan minum kopi di kafe depan ruang baca yang baru saja beberapa hari buka dengan fokus buku pada film dan budaya visual itusaya memang penggemar dua hal tersebut. Saya harus berterimakasih kepada mereka yang menitipkan buku-buku bergizinya di Kwitang14 untuk dibaca oleh siapa saja. Oh iya, saya juga menyukai kalimat terakhir di laman perpustakaan kecil ini :

Percayalah, kemalasan bukan satu-satunya penyebab kemiskinan. Kapitalisme adalah musuh kita bersama. Setelah asyik-masyuk di ruang baca ini, jangan abai pada perjuangan kelas. Ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Ancaman terbesar umat manusia, selain kebodohan, adalah orang-orang pintar yang gemar masturbasi intelektual. Tolong. Jangan jadi salah satu dari mereka. Di KWITANG14, kita harus bisa pintar bersama.

Hampir seluruh buku-buku di tempat ini berbahasa inggris, apalagi seni dan desain. Saya selalu bersyukur sudah bisa membaca buku dan menonton video dalam bahasa inggris dan sampai di sini saya hendak mengatakan bahwa cara berpikir orang barat memang sangat mendalam : banyak hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita yang kemudian mereka bahas mati-matian. Hal ini kemudian menjadi pemicu menderasnya ide-ide di kepala saya yang belum terealisasikan. Maklum, perhatian saya muda teralihkan oleh hal-hal menyenangkan lainnya. Tapi tenang saja, saya juga sedang berusaha menjadi pencatat yang handal.


 

 









 

Saya ke Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta setelah lebih dari tiga jam di Kwitang14. Ini sebenarnya perjalanan tidak terencana, hanya memerhatikan faktor jarak. Apa yang bagus dan dekat. Dan di sana ternyata masih berlangsung pameran foto Kilas Balik 2016 oleh para pewarta foto Antara, dan juga sedang berlangsung diskusi tentang hoax. Ini masalah serius yang sedang terjadi di Indonesia, dan ternyata menurut data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia ini adalah fenomena global yang juga dialami oleh Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan yang paling parah adalah Suriah. Omong-omong, nama perkumpulannya lucu.

Menjelang maghrib saya di Taman Ismail Marzuki : berkeliling, membaca dan membaui buku tua di tempatnya Jose Rizal Manua. Serta, menonton anak-anak kecil latihan dance, ini salah satu yang menyenangkan untuk dipotret, sayangnya, telepon genggam saya mati total dan saya tidak bisa memotret. Sebenarnya saya membawa kamera dlsr dengan baterai penuh, tapi sayangnya lagi, gairah saya memotret menggunakan kamera ini sudah menurun. Saya merasa jauh lebih praktis memotret menggunakan telepon genggam. Eh, makan malam tiba, perut saya sedari siang belum diisi, teman saya mengusulkan makan coto di Senen dan saya langsung mengiyakan soalnya saya sudah tahu tempat ini, cuma belum pernah kesana, dan sekaranglah waktunya. Coto Makassar di daerah Senen ini diasuh oleh Samsul Daeng Awing, dia sudah berjualan di sana sejak 2013. Sebelumnya, dia berjualan di daerah Kalijodo. Jika dibandingkan rasanya dengan tempat makan coto lainnya, Coto Makassar Senen ini hampir sama dengan Coto Nusantara di Makassar. Di tempatnya, Daeng Awing juga menjual jalangkote dan barongko. Jika kamu di Jakarta dan sedang sakau makanan Makassar ke sanalah, letaknya di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Sisa hari di Jakarta, saya menghabiskan waktu dengan Ade. Nongkrong dan bercerita panjang lebar di Jalan Jaksa, menonton Split, eh, sampai sekarang saya masih bingung dengan film ini, serta makan ayam goreng pedasnya Richeese Factory. Percayalah, makan ayam ini adalah bagian paling enak. Ini pertama kalinya saya makan ayam goreng pedas dicocol keju dan minum sari air kelapa bercampur susu.  

Pulang.
Malam tanggal 7 Maret saya naik kereta dari Jakarta untuk kembali ke Jogja, gerimis kembali mengantar. Iya, kata tiket pesawat saya, check-in terakhir pukul 08.45 dan kata tiket kereta api saya, tiba di Jogja pukul 05.45. Pukul 06.30 di Jogja, mama menelpon bertanya keberadaan saya dan dia mengomel karena saya masih leyeh-leyeh di Malioboro. Mama khawatir saya akan ketinggalan pesawat jika tidak ke bandara sesegara mungkin. Iya, orang tua memang selalu seperti itu, penuh kekhawatiran tehadap anak-anaknya.

Di rumah, di Makassar, saya bangun tanggal 9 Maret pukul 09.00 setelah hampir 20 jam tidur. Bagaimana tidak, saya harus berkereta selama 8 jam dari Jakarta ke Jogja, kemudian terbang dari Jogja ke Makassar hampir 2 jam, dan itu tanpa mandi. Padahal saya adalah orang yang rajin mandi pagi-sore. Saya tidak menemukan kamar mandi di stasiun dan di bandara, jadilah saya harus memendam perasaan mandi selama sehari semalam. Saat bangun, saya dihantui pertanyaan :
Apa selanjutnya? Apa kabar masa depan?

Iya, setahun lalu saya diwisuda dan kata orang-orang saya tidak melakukan apa-apa, tidak bekerja dan tidak menikah seperti yang teman-teman seangkatan saya lakukan. Padahal saya menghabiskan waktu dengan belajar inggris, membaca, mencatat, memotret, menonton film, mengkhayal, dan jalan-jalan. Eh, tapi, memangnya hal-hal tersebut bukan apa-apa?

***