Thursday, 9 March 2017

Avontur



Hai!
Euforia perjalanan Pare, Surabaya, Jakarta, dan Makassar belum berakhir dan saya kembali berjalan. Saya menghabiskan seminggu di Sengkang menunggui mama dan bapak pulang umrah, saya tidak bertemu mereka selama kurang lebih tujuh bulan. Menunggui mereka, saya menghabiskan waktu untuk tidur, membersihkan rumah, eh, saya menemukan dua buku harian mama dengan titimangsa 1986 hingga akhir 1989.
Isinya bermula saat dia berangkat kuliah kerja nyata di Wonomulyo, Sulawesi Barat, hingga dia menikah. Ada juga beberapa resep kue dan masakan di dalamnya, tampaknya dia sedang berusaha jadi istri yang pintar masak. Selain itu, saya juga sering duduk di warung kopi seharianmenonton orang-orang kantoran nongkrong, serta makan makanan Bugis : nasu bale ulaweng, tello' bale, tunu bale, gamming ladang, kaju dau'-daung, kambu paria, dan rupa-rupa kue. Kau tahu? Berada di Pulau Jawa membuat berat badan saya turun hingga 15 kilogram, lidah saya rasis, makanan yang bisa memanjakannya hanya makanan Bugis. Oke, ini tidak penting.

Ketika di Jogja.
Kemarin siang saya tiba di Makassar dan seperti biasa, adik saya Nunu, menyambut saya dengan rumah yang berdebu dan piring-piring yang tidak dicuci. Satu-satunya yang membuat saya senang adalah isi kulkas yang menyerupai isi Indomaret, penuh cemilan manis. Saya berkeliaran di Jogja dan Jakarta selama seminggu. Adalah BNPT RI yang memberangkatkan saya ke Jogja mewakili Kareba Damai untuk sarasehan bersama para penggiat dunia maya se-Indonesia, ada 200 orang yang hadir di kegiatan tersebut. Saya tidak bisa bercerita banyak tentang hal ini sebab selama acara saya menderita demam tinggi dan batuk hebat sehingga tidak bisa berkonsentrasi, rekan saya sudah berjanji akan melaporkannya dalam bentuk tulisan di laman Kareba.

Lepas kegiatan saya menuju Libstudtoko, studio, dan kafenya Farid Stevy Asta. Beberapa hari sebelumnya, postingan dagangannya yang baru mondar mandir di beranda instagram. Saya yang memang pengagum karya-karyanya dari jauh hari berniat ke sana untuk membeli beberapa barang. Dari daerah Sleman saya menuju jalan Malioboro, hendak mengubah rute penerbangan di kantor Garuda yang awalnya dari Jogja-Makassar menjadi Jakarta-Makassar. Namun batal karena total biaya yang harus saya keluarkan hampir mencapai satu tiket penerbangan Jakarta-Makassar. Tiket yang dikirimkan oleh panitia kegiatan memang Makassar-Jogja dan Jogja-Makassar, usai kegiatan saya memang hendak ke Jakarta, jadi agar tidak pulang balik maka saya berencana mengubah rute penerbangan. Tapi apa dayakemahalan. Saya makan siang nasi kucing, telur puyuh, dan gorengan di Malioboro sambil menunggu Barak, teman lama yang akan menjemput untuk tidur siang di asrama putra mahasiswa Wajo. Kereta saya ke Jakarta akan berangkat maghrib dan tubuh saya tidak sanggup untuk berkeliling Jogja menghabiskan waktu, sebab demam dan batuk belum ada tanda-tanda akan berhenti.



 





Ketika di Jakarta.
Berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 18.10 dan tiba pukul 03.00 subuh di Stasiun Pasar Senen, saya disambut gerimis dan gerombolan tukang ojek dan taksi yang menawari siap untuk mengantar kemana saja. Merasakan hal ini, saya seolah seperti selebritas yang disambut di pintu kedatangan. Dua minggu sebelumnya saya juga tiba tempat ini dari Stasiun Surabaya Gubeng. Kereta malam kelas ekonomi adalah cara terbaik untuk menekan biaya perjalanan. Seratus ribu rupiah saya sudah bisa berpindah ke tempat yang jauh. Berbeda dengan sebelumnya dimana saya harus tidur di serambi toko di stasiun sampai pagi, kali ini saya langsung memesan gojek untuk diantar ke kosan Marsul, seorang teman lama lainnya. Bukannya apa, demam dan batuk masih menghantui sementara perjalanan saya masih lama. Dan ini untuk pertama kalinya saya berjalan di Jakarta tanpa kena macet, hanya ada dua-tiga kendaraan yang melintas beberapa jam menjelang salat subuh.

Saya bangun kesiangan dan kebingungan akan ke Jakarta bagian mana hari itu. Di Jakarta, saya memang tidak punya rencana apa-apa. Setelah menghabiskan setengah jam di instagram, saya dan Marsul akhirnya memutuskan untuk ke Kwitang14. Eh bukan, Marsul tidak memutuskan, saya yang mengajaknya. Dia tidak tertarik, nyatanya dia keluar dan minum kopi di kafe depan ruang baca yang baru saja beberapa hari buka dengan fokus buku pada film dan budaya visual itusaya memang penggemar dua hal tersebut. Saya harus berterimakasih kepada mereka yang menitipkan buku-buku bergizinya di Kwitang14 untuk dibaca oleh siapa saja. Oh iya, saya juga menyukai kalimat terakhir di laman perpustakaan kecil ini :

Percayalah, kemalasan bukan satu-satunya penyebab kemiskinan. Kapitalisme adalah musuh kita bersama. Setelah asyik-masyuk di ruang baca ini, jangan abai pada perjuangan kelas. Ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Ancaman terbesar umat manusia, selain kebodohan, adalah orang-orang pintar yang gemar masturbasi intelektual. Tolong. Jangan jadi salah satu dari mereka. Di KWITANG14, kita harus bisa pintar bersama.

Hampir seluruh buku-buku di tempat ini berbahasa inggris, apalagi seni dan desain. Saya selalu bersyukur sudah bisa membaca buku dan menonton video dalam bahasa inggris dan sampai di sini saya hendak mengatakan bahwa cara berpikir orang barat memang sangat mendalam : banyak hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita yang kemudian mereka bahas mati-matian. Hal ini kemudian menjadi pemicu menderasnya ide-ide di kepala saya yang belum terealisasikan. Maklum, perhatian saya muda teralihkan oleh hal-hal menyenangkan lainnya. Tapi tenang saja, saya juga sedang berusaha menjadi pencatat yang handal.


 

 









 

Saya ke Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta setelah lebih dari tiga jam di Kwitang14. Ini sebenarnya perjalanan tidak terencana, hanya memerhatikan faktor jarak. Apa yang bagus dan dekat. Dan di sana ternyata masih berlangsung pameran foto Kilas Balik 2016 oleh para pewarta foto Antara, dan juga sedang berlangsung diskusi tentang hoax. Ini masalah serius yang sedang terjadi di Indonesia, dan ternyata menurut data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia ini adalah fenomena global yang juga dialami oleh Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan yang paling parah adalah Suriah. Omong-omong, nama perkumpulannya lucu.

Menjelang maghrib saya di Taman Ismail Marzuki : berkeliling, membaca dan membaui buku tua di tempatnya Jose Rizal Manua. Serta, menonton anak-anak kecil latihan dance, ini salah satu yang menyenangkan untuk dipotret, sayangnya, telepon genggam saya mati total dan saya tidak bisa memotret. Sebenarnya saya membawa kamera dlsr dengan baterai penuh, tapi sayangnya lagi, gairah saya memotret menggunakan kamera ini sudah menurun. Saya merasa jauh lebih praktis memotret menggunakan telepon genggam. Eh, makan malam tiba, perut saya sedari siang belum diisi, teman saya mengusulkan makan coto di Senen dan saya langsung mengiyakan soalnya saya sudah tahu tempat ini, cuma belum pernah kesana, dan sekaranglah waktunya. Coto Makassar di daerah Senen ini diasuh oleh Samsul Daeng Awing, dia sudah berjualan di sana sejak 2013. Sebelumnya, dia berjualan di daerah Kalijodo. Jika dibandingkan rasanya dengan tempat makan coto lainnya, Coto Makassar Senen ini hampir sama dengan Coto Nusantara di Makassar. Di tempatnya, Daeng Awing juga menjual jalangkote dan barongko. Jika kamu di Jakarta dan sedang sakau makanan Makassar ke sanalah, letaknya di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Sisa hari di Jakarta, saya menghabiskan waktu dengan Ade. Nongkrong dan bercerita panjang lebar di Jalan Jaksa, menonton Split, eh, sampai sekarang saya masih bingung dengan film ini, serta makan ayam goreng pedasnya Richeese Factory. Percayalah, makan ayam ini adalah bagian paling enak. Ini pertama kalinya saya makan ayam goreng pedas dicocol keju dan minum sari air kelapa bercampur susu.  

Pulang.
Malam tanggal 7 Maret saya naik kereta dari Jakarta untuk kembali ke Jogja, gerimis kembali mengantar. Iya, kata tiket pesawat saya, check-in terakhir pukul 08.45 dan kata tiket kereta api saya, tiba di Jogja pukul 05.45. Pukul 06.30 di Jogja, mama menelpon bertanya keberadaan saya dan dia mengomel karena saya masih leyeh-leyeh di Malioboro. Mama khawatir saya akan ketinggalan pesawat jika tidak ke bandara sesegara mungkin. Iya, orang tua memang selalu seperti itu, penuh kekhawatiran tehadap anak-anaknya.

Di rumah, di Makassar, saya bangun tanggal 9 Maret pukul 09.00 setelah hampir 20 jam tidur. Bagaimana tidak, saya harus berkereta selama 8 jam dari Jakarta ke Jogja, kemudian terbang dari Jogja ke Makassar hampir 2 jam, dan itu tanpa mandi. Padahal saya adalah orang yang rajin mandi pagi-sore. Saya tidak menemukan kamar mandi di stasiun dan di bandara, jadilah saya harus memendam perasaan mandi selama sehari semalam. Saat bangun, saya dihantui pertanyaan :
Apa selanjutnya? Apa kabar masa depan?

Iya, setahun lalu saya diwisuda dan kata orang-orang saya tidak melakukan apa-apa, tidak bekerja dan tidak menikah seperti yang teman-teman seangkatan saya lakukan. Padahal saya menghabiskan waktu dengan belajar inggris, membaca, mencatat, memotret, menonton film, mengkhayal, dan jalan-jalan. Eh, tapi, memangnya hal-hal tersebut bukan apa-apa?

*** 

2 comments:

  1. Untuk bagian paragraf terakhir, "tidak bekerja", saya percaya pada pekerjaannya Jumardan. Tetapi untuk "tidak menikah" sangat sayang sekali dilewatkan buat orang yang sudah punya pasangan.

    ReplyDelete
  2. Setelah berjalan sebagai pelantjong, ulangi lagi, lagi, terus, hingga menemukan perjalanan dan tujuan seringkali bertukar posisi.
    (Petikan catatan perjalanan seorang pejalan, sebut saja Aspal, laki-laki 40an.)

    ReplyDelete