ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Wednesday, 12 April 2017

Bulukumba, at second.



"..so, did you ever try to dive in the beach?"
"No, I didn't."
"Shit! You should try it. That's your hometown. Someday I'll go there and kick your ass."

Percakapan ini terjadi antara saya dan seorang bule Spanyol sekira lima bulan lalu di sebuah hostel di daerah Kota Tua Jakarta. Ketika itu dia memperkenalkan diri sebagai seorang diving coach di negaranya. Dan saya memperkenalkan diri berasal dari daerah yang punya banyak pulau dengan pantai cantik. Saya menceritakan Makassar dan beberapa kabupaten di sekitarnya yang punya banyak pantai yang bagus untuk menyelam namun, semua yang saya paparkan adalah hanya ingatan tentang cerita dan foto-foto berlibur orang di media sosial. Saya yang tinggal di daerah yang punya banyak pariwisata laut tapi, jarang ke sana. Tahun lalu saya cuma sekali mengunjungi lautdan itu cuma karena terpaksa.

Hal ini juga terjadi pada Bulukumba. Sependek ingatan saya, pertama dan terakhir kali saya mengunjunginya sekira dua belas tahun lalu. Saya menghabiskan tujuh tahun di Makassar tapi tidak pernah sekalipun kesana, bahkan ketika sebuah pantai baru lagi tren di instagram dimana semua orang-orang berbondong-bondong kesana. Dari Makassar saya menempuh lima jam perjalanan dengan mobil. Adalah teman saya yang meminta untuk foto prewedding di sana akhir Maret lalu. Dan setelah dua belas tahun berlalu saya akhirnya kembali. Kami tiba pukul sebelas malam di pantai Bira. Apa saya temui adalah jalan menuju lokasi wisata ini penuh sesak oleh penginapan. Kami berkeliling mencari penginapan termurah dan tiba pada sebuah rumah kayu yang kemudian saya ingat sebagai tempat dimana saya menginap dua belas tahun lalu. Rumah itu tepat menghadap ke laut, masih kokoh, dan yang mengejutkannya adalah kamar yang disewakannya sudah punya air conditioner. Saya tidak habis pikir. Kami berhadapan dengan laut, anginnya berhembus siang malam ke dalam kamar, rumah kayu itu pun punya banyak lubang yang memungkinkan angin untuk masuk, lantas kenapa masih harus ada ac? Saya kemudian mengira-ngira bahwa si empunya mungkin sedang bersaing dengan dua resort mewah di kanan kirinya. Tanjung Bira yang saya kunjungi ketika masih di sekolah dasar kini sudah jauh berubah. Jumlah wisatawan yang datang baik domestik maupun mancanegara membuatnya harus menyesuaikan diri, terutama pada wisatawan kelas menengah ke atas.






Dari hasil rembuk, kami memutuskan untuk mengambil lokasi foto di daerah Apparalang di pagi hari. Jarak dari penginapan kurang dari lima belas menit, tapi kami menghabiskan sejam berputar-putar karena tidak tahu arah. Papan penunjuk yang ada kecil dan tidak jelas arahnya karena harus melewati rumah dan kebun warga.

"Sedang ada acara ya?"
"Tidak, habis demo."
"Kenapa?"
"Demo ke pemerintah karena tidak diperhatikan."

Pemuda itu membantu saya menggeser bongkahan batu dan bambu yang menutupi jalan. Pasalnya, warga beberapa hari lalu menuntut perhatian pemerintah terhadap perbaikan jalan dengan menutup akses jalan ke Apparalang. Pantai dengan lanskap cantik ini memang masih satu laut dengan pantai Bira, yang membedakan hanya lingkungan di sekitarnya, namun tampaknya akses jalan tidak mendapat perhatian sementara wisatawan yang datang kesana cukup banyak. Jalan yang ditempuh masih belum permanen. Masih seperti jalan yang diterabas untuk memudahkan menuju Apparalang yang lokasinya memang agak terpencilpenemuan lokasi ini saya kira adalah hanya rasa penasaran manusia untuk mengeksplorasi alam sehingga mereka menemukan tempat ini.  

Saya menebak-nebak bahwa keindahan alam yang ada di kitaran Tanjung Bira memang tidak diperuntukkan untuk pariwisata. Atau memang belum siap untuk dipertontonkan?







do not blame me for this narcissistic photo, i am trying to show you how beautiful this beach not how cute i am.

Ketika kebingungan mencari jalan, saya yang singgah bertanya di kantor desa Ara ditunjukkan pantai lain selain Apparalang. Namanya pantai Mandala Ria. Seorang ibu memeringati saya untuk berhati-hati karena jalan menuju kesana berkelok dan curam. Infrastrukturnya lebih parah dibanding Apparalang, namun pantai ini juga tak kalah indahnya dibanding Apparalang dan Bira. Belum terjamah adalah kata yang pas untuk menggambarkan tempat ini. Ketika tiba di pantai ini, kami disambut oleh perahu pinisi yang tersohor itu. Ada enam perahu yang sedang dikerjakan tepat di bibir pantai Mandala Ria ketika tiba siang itu. Menurut seorang teman yang merupakan pegiat sastra dan budaya di Bulukumba, desa Ara memang adalah tempat para pembuat perahu pinisi. Jadi sebenarnya saya menang banyak bulan kemarin, di umur saya yang seperempat abad ini, selain melihat langsung pantai-pantai cantik di Bulukumbasaya juga dapat menyaksikan langsung pembuatan perahu pinisi untuk pertama kalinya. Sayangnya, saya tidak sempat memotret perahu-perahu itu karena terlalu asyik memerhatikan para pekerja sementara kami diburu oleh waktu yang terbatas.

Bira, Apparalang, dan Manda Ria adalah salah tiga dari pantai terbaik di Bulukumba. Jika diurut siapa yang paling dulu dieksplorasi, maka Bira adalah yang pertama, berlanjut Apparalang, dan terakhir Manda Ria. Namun, sebenarnya masih ada beberapa pantai di kitaran sana. Jika kamu berencana ke tempat-tempat ini, tolong, tolong jangan buang sampah sembarangan. Saya tidak sedang berusaha sok bijak, saya hanya takut kalau satu hari, di tahun yang kita tidak tahu, tempat-tempat ini tidak lagi cantik.

***

0 Comments:

Post a Comment