Bukan Lagi Koran, Ini yang Seharusnya Anak Muda Baca

23:05


"Anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Saya tidak pernah mengerti mengapa hal ini terjadi. Mereka tidak lagi punya budaya membaca, mereka lebih sering menonton televisi. Tidak punya keinginan menambah ilmu," Pramoedya Ananta Toer.

Pagi baru saja tiba. Masih dengan mata yang enggan terbuka, Dita membalik tubuhnya ke kanan hendak meraih smartphone yang diletakkannya di sudut meja kecil samping tempat tidurnya. Entah telah berapa kali alarm telepon genggam itu berbunyi.

"Mengenal PAN, Partai Milenials yang Lahir dari Reformasi 98," begitu notifikasi pertama yang masuk di handphonenya, Dita kembali berbaring. Belum sempat membuka notifikasi tersebut, pintu kamarnya diketuk.

"Lah, kok main hape? Mandi sana, trus sarapan. Mama tunggu di bawah. Katanya ada kuliah pagi," tegur mamanya sambil menarik selimut yang dikenakan Dita.

"Ntar, ma. Aku balas Line temen dulu," balasnya.

"Cepetan.. Ih! Mama tunggu di meja makan, papa juga udah siap"

Sesudah mandi dan mengoles riasan pada wajahnya, Dita mencabut hape dari kabel charger, melepasnya dari colokan listrik, dan menyambar ransel untuk menuju meja makan. Di meja makan dia memasukkan chargeran tadi, serta sebuah buku catatan ke dalam tasnya.

Telah ada mamanya yang menunggu sambil bolak-balik mengambil roti dari pembakaran dan meletakkannya di meja makan. Sementara di seberang, ada papanya yang sedang membaca koran dengan segelas teh yang seperempatnya telah diminum.


"Nih, makan dulu. Kamu mau berangkat bareng papa kan?" tegur mamanya sambil menyodorkan roti bakar.

Dita tidak menjawab. Dia hanya mengambil roti sambil memelototi hapenya—melanjutkan membaca berita tentang PAN tadi. "Oh, begitu..." gumamnya.

Papa Dita menghentikan bacaannya, memperbaiki duduknya, dan menyesap tehnya. "Eh, kenapa? Mamamu ngajak ngomong tuh."

"Iya, eh ini, ternyata PAN partai milenials. Masih muda. Ya.. Seumuranlah sama aku." jawabnya sambil tetap menatap layar smartphone.

"Tau dari mana?" mamanya menanggapi.

Dita tidak lagi langsung menjawab. Dia memijat layar hapenya ke atas dan mengambil beberapa jenak. "Ini dari IDN. Tempat aku baca macem-macem," jawabnya sambil mengunyah roti.

"Lah, macem-macem apa maksudnya?" papanya penasaran.

"Ini website sih, pa. Papa bisa liat di www.idntimes.com di hape. Minggu lalu nemu beritanya jadi Top 10 News di Line Today. Jadi deh aku akhir-akhir ini aku sering baca di sini, soalnya semuanya lengkap. Apa-apa ada dan update," Dita memaparkan.

Didirikan pada 8 Juni 2014 oleh dua anak muda, William dan Winston, IDN Times sebagai media daring memang dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan anak muda Indonesia yang mulai bosan dengan media konvensional yang ada.

"Oh, kamu masih baca? Kirain cuma chatting doang ama temen. Soalnya nih ya, kata majalah yang mama baca bulan lalu, minat baca Indonesia saat ini tuh rendah. Hanya peringkat 60 dari 61 negara loh. Bisa ditebak dong penyebabnya adalah hape dan internet. Ngabisin waktu aja!" tanggap mamanya.


Adalah Central Connecticut State University yang merilis penelitian tentang The World's Most Literate Nations (WMLN) 2016 dengan mengambil sampel awal di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipillih 61 negara.

Negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia menempati 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Nah, untuk 5 terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostawana di urutan 61.

"Emang di dalamnya ada bacaan apa aja?" tanya papa Dita sambil membetulkan letak kacatamanya.

"Bentar," dia merogoh tasnya hendak mengambil laptop. Dihubungkannya laptop tersebut dengan internet dan segera mengakses IDN Times. "Nah, ini dia, ma, pa!"

Ketika kamu membuka website IDN Times, maka akan muncul tampilan seperti ini.


IDN Times punya semua berita dan bacaan yang kamu butuhkan. Oleh karena itu, ada pilihan More di pojok kanan yang bisa kamu pilih. Dan juga tentu saja Top Channels yang terhubung dengan IDN.


"Trus pa, bukan hanya semua hal tentang kehidupan anak muda yang IDN punya. Mereka juga punya ini #MillenialsMemilih. Kan tahun ini udah masuk tahun Pilkada nih, makanya mereka juga memberikan berita-berita politik yang dikemas dengan gaya anak muda," Dita menjelaskan.


"Oh iya ya, jadinya nanti 2019 kamu tidak bakal asal coblos," tanggap papanya.

"Penting juga sih emang ngajarin anak muda politik. Kan biar mereka bisa ambil bagian, biar gak buta, dan dibodoh-bodohi. Tahun depan kan kamu ikut pesta demokrasi untuk pertama kalinya kan, Dit?" mama Dita menimpali.

"Iya, ma. Duh!"

"Tapi bukannya yang beginian bisa dibaca di website koran-koran biasa?"

"Berat, pa! Dita gak bakal kuat, biar papa saja. Hahaha.."

"Eh, trus yang nulis semua berita itu emang orang pers makanya kamu mau percaya-percaya aja? Kan berita bohong lagi marak tuh?" tanya papanya masih keheranan.

"Oh gini, pa," Dita menegakkan punggungnya, meminum teh, dan mendorong layar laptopnya sedikit ke belakang. "Jadi di sini tuh, ada bagian Community yang dirilisnya Februari 2017 lalu," dia mengarahkan kursor ke pojok kanan, tepat samping kiri More. Mama dan papa Dita memusatkan pandangan mereka ke layar dengan mengapit Dita di tengah-tengah.

"Di sini setiap anak muda bisa menulis apa saja. Setiap tulisan itu nanti akan mendapatkan poin tergantung dari berapa orang yang liat tulisan kita. Nah, dari poin itu nanti, bisa ditukarkan dengan uang."

"Tuh kan, siapapun bebas menulis, yang penting nulis, dapat uang. Tidak masalah dong bikin berita bohong biar menarik perhatian semua orang." sergah mamanya.

"Tenang saja, ma. IDN Times itu mengacu ke Pedoman Media Siber yang mengacu ke Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Setiap orang yang nulis gak bakalan langsung terpublish kok, akan ada review dulu dari Editor. Kalau lolos, tulisan akan terbit. Kalau gak, ya revisi dulu atau langsung ditolak tidak layak terbit kalau tulisannya ngawur," Dita menerangkan.

"Nah Pedoman Siber ini sudah resmi dan ditandatangani oleh Dewan Pers dan Komunitas Pers di Jakarta pada 3 Februari 2012 loh," sambung Dita.

"Lah, berarti, tiap orang yang nulis butuh usaha lebih dong ya. Soalnya kan, setau Papa nih, tulisan bagus itu harus ada riset dan butuh dicek ulang lagi baru bisa dipublish."

"Iyalah pa, unsur-unsur penulisan dasar seperti 5W+1H pokoknya harus sudah khatam dulu. Trus gak bakalan mungkin dong ada tulisan yang berulang di website, makanya harus riset."

"Wah, ini sih sudah benar bukan berita bohong ya! Apasih pa? Hoks.. Hoks.. Gitu," mamanya menambahkan sambil menunjuk layar laptop.

"Hoaks ma! Hoaks.." Dita menyambar.

"Di sini No Hoax kok!"

Tawa pun pecah. Mama Dita bergeser mengambil kursi, duduk, sambil mengolesi selai nanas ke roti. Papanya melipat koran lalu meneguk teh.

Perbedaan umur antara orang tua dan anak ini memang jauh. Menurut teori generasi, Dita merupakan generasi Z karena lahir direntang waktu tahun 1995 hingga pertengahan tahun 2000-an. Sementara orang tuanya adalah generasi baby boomers yang lahir dikitaran tahun 1960 sampai 1980-an.

"Sayangnya nih, ma. Yang waktu banjir kemarin, aku nemu artikel yang gambarnya gak banget deh. Maksa banget untuk dijadiin viral, padahal gambar-gambar yang dipake IDN untuk artikelnya selama ini udah bagus banget."

"Yang mana emang?" mama penasaran.


"Oh.. Iya sih, sayang banget," tanggap mama.

"Trus, kan ada tuh IDN TV. Sayangnya lagi, itu gak dimaksimalin, padahal aku juga suka nontonin video. Kan lebih menarik kalau tulisan, gambar, dan video udah di satu tempat."

"Gak papa, mungkin mereka lagi tahap perbaikan. Kan berproses," kata papanya bijak.

"Eh, ini pa," Dita mematikan laptonya, memasukkannya di tas, dan meraih smartphone di samping rotinya.

"Supaya tidak ketinggalan berita, trus biar membuka IDN Times 25 kali lebih cepat, makanya aku download di hape," Dita menerangkan.


"Wah, asyik dong. Papa mau download juga ah!"

"Eh, gak usah! Ini buat anak-anak seumuran aku. Papa baca koran aja. Hahaha.." sergah Dita dengan tawa renyah diikuti mamanya.

"Hm.. Bisa jadi tutupnya banyak media cetak beberapa tahun belakangan ini adalah sebuah bukti bahwa untuk tetap eksis mereka harus mampu menawarkan solusi dan menjadi relevan dengan teknologi yang ada sekarang," terang papanya.

"Dan bukan lagi koran atau majalah, IDN Times inilah yang harusnya dibaca oleh anak muda. Yang dikemas ala mereka. Lumayan tuh ningkatin minat baca," tambah mamanya.

"Udah yuk pa, berangkat!"

"Iya, hati-hati kalian," tegur mamanya.

Jarum jam hendak menunjuk angka delapan ketika mereka mengakhiri perbincangan pagi yang cukup panjang. Tak lama setelahnya, suara mobil pun berlalu.

You Might Also Like

2 comments

  1. aku jarang baca idn times, nanti coba aku donlot aplikasinya.

    ReplyDelete
  2. Teknologi di Indonesia semakin hari semakin maju, jadi kalo menurut saya wajar kalo zaman sekarang maunya serba elektronik. :)

    ReplyDelete

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊

Don't want to miss a post? Drop your email to subscribe. It's okay, we hate spam too 😏

Total Pageviews

Lisensi Creative Commons
This blog is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional License For commercial purposes, Let me know 😉