Jangan Terulang di Kamu! Ini Kisah Nina & Sepatu Bayinya

April 14, 2018


"Aaaakk!" pekik Nina.

Sontak semua berdiri, "Kenapa?! Ada apa?"

"Sepatu bayi. Sepatu bayi!" Nina berdiri, menjauh dari mejanya seolah tak percaya.

Seisi ruangan kantor tertawa gegara Nina yang salah beli sepatu. Perempuan berkulit sawo matang ini beberapa hari lalu berulangtahun. Nah, sebagai perayaan dia menghadiahi dirinya sepatu.

Namun, sayang seribu sayang, sepatu jenis sneakers yang dipesan itu salah ukuran. Pesanan yang datang adalah sneakers ukuran infant, ukuran bayi 😂

"Kok bisa?" Saya menghampirinya sambil cengengesan.

"Sepatu ini muncul di filter sale women kemarin. Mana harganya 300ribu lagi. Mehong banget yess. Sepatu bayi doang," Nina menjelaskan.

"Goblok! Hahaha.." Rian mengejek.


Nina, 25 tahun, seorang pegawai swasta di Jakarta—harus menerima nasibnya di Senin pagi. Sepatu yang dibelinya di salah satu situs perdagangan elektronik atau lebih akrab disebut e-commerce tidak bisa lagi ditukar.

Dia adalah salah satu konsumen aktif barang-barang yang diperdagangkan melalui internet atau online. Setiap bulan setidaknya ada 4 atau 5 barang yang dibelinya.

Berbelanja dengan model seperti ini memang sedang booming di Indonesia beberapa tahun belakangan.

"Di kantor, tiap hari selalu ada saja kurir yang mengantar barang-barang." ujar Sri, salah seorang teman saya di Makassar.


Jika kamu menilik data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang bekerjasama dengan Teknopreneur yang dirilis pada awal 2018, maka terlihat jelas pertumbuhan pengguna internet dari tahun ke tahun. Hingga 2017 kemarin, sudah ada 143,26 juta jiwa dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia yang menggunakan internet.

Saya dan kamu jelas termasuk di dalamnya. Namun, apa saja sih alasan oranng-orang mengakses internet?


Tahun sebelumnya, APJII juga membeberkan data mengenai alasan masyarakat Indonesia dengan 7 aktivitas utama dimana yang paling kecil adalah bisnis, berdagang, dan cari barang dengan jumlah orang yang melakukannya sebesar 10,4 juta jiwa.

Lantas, kenapa orang-orang harus belanja online bukankah hal ini sama saja dengan membeli kucing dalam karung? Secara garis besar, saya menarik dua alasan, yakni:

Menghemat Waktu dan Tenaga
Bayangkan kamu hanya golek-golek di kasur tanpa harus mandi dan berpakaian cantik, memainkan smartphone, memilih barang, dan voila! Barang pesananmu tiba di tempat tanpa harus ke sana ke mari mencari barang, menawar harga, dan berpeluh dengan kemacetan serta panas menyengat matahari.

Semua kemudahan ini memberikanmu kenyamanan berbelanja, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Tentu saja, berbelanja online bisa dengan mudah kamu lakukan sambil bekerja atau mengasuh anak mantan misalnya.

Menghindari Kerepotan
Sadar gak sih kalau belanja tuh merepotkan? Bayangkan ketika membeli sabun, bahan makanan, serta perlengkapan lainnya, semua barang-barang ini akan dimasukkan ke dalam kantongan yang berbeda.

Dan, jika kamu membawanya tentu akan sangat merepotkan, apalagi dengan jumlah banyak.


Meskipun mudah, jangan salah! Seperti yang saya katakan di awal, berbelanja di era digital ini tetap saja ada tantangannya. Apa saja sih? Hmm.. Berikut penjelasannya:

Rawan Penipuan
Karena aktivitas yang kita lakukan adalah online dimana antara pembeli dan penjual tidak terjadi tatap muka, maka kemungkinan seseorang menipu dan ditipu adalah besar sekali. Kamu masih ingat kan banyak yang jualan Blackberry di Facebook? Itu tahun berapa ya?

Barang Palsu
Era digital ini kadang memang ngehe. Foto profilnya Subhanallah, aslinya? Astaghfirullah 😶

Begitu pula dengan belanja online. Foto barang dan deskripsi produknya 100% asli, yang nyampe? Palsu dan tidak sesuai ekspektasi.

Barang Tidak Sampai
Ya, kedatangan barang palsu bisa saja sedikit menenangkan. Kalau barangnya tidak sampai-sampai ke kamu? Lah, aku kudu piye?

Penjual Hilang Ditelan Bumi
Jika mantan barangkali masih bisa dihubungi, kalau penjual yang tiba-tiba hilang bak ditelan bumi ketika kamu ingin menanyakan barangmu yang tak kunjung sampai gimana?

Pasalnya, setelah kamu mengorder barang dan melakukan pembayaran si penjual bisa saja langsung mematikan handphonenya dan berangkat liburan dengan uang yang kamu transfer sebesar 2,3 T seperti yang dilakukan Papa. Oh, okeh, ini lebay.

Intinya, doi menghilang dan barangmu tidak ada kabar.

Pencurian Data Pribadi
Tahukah gak sih di era digital ini ada data-data pribadi sungguh sangat berharga? Meskipun bukan pesohor, ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan informasi sekecil apapun tentang dirimu. Nah, semua hal-hal tersebut nanti akan dimanfaatkan dengan beragam tujuan, baik baik maupun buruk.

Ketika seseorang berbelanja online, maka akan ada banyak pertanyaan yang diajukan. Mulai dari nomor telepon, alamat rumah, hingga nomor kartu tanda penduduk. Jadi, waspadalah!


Lah, memangnya tidak solusi untuk masalah-masalah ini? Kan, ini sudah eranya digital. Tidak bisa dong kita menghindarinya, iya kan?

Jika ingin sedikit berusaha, kamu bisa kok tetap berbelanja melalu internet dan mendapatkan beragam manfaatnya. Caranya?

Begini, berbelanja melalui internet itu kan secara umum terbagi dua, yakni melalui marketplace dan melalui media sosial atau toko online.

Ada orang yang memasarkan langsung barangnya melalui media sosial. Ini seperti kamu membuka tokomu sendiri. Sementara, ada juga yang menjual barangnya di tempat berkumpulnya para penjual, ya, menyerupai pasarlah intinya.

Mereka semua inilah yang disebut pelaku e-commerce. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mereka pada 2006 hingga 2016 meningkat pesat sebesar 17 persen dengan total usaha mencapai 26,2 juta.


Eh, kembali lagi. Jadi, gimana dong? Apa tidak solusi agar bisa tetap berbelanja online dengan aman?

Ada kok, tenang saja. Solusinya adalah jadi konsumen cerdas di era digital dong. Se-simpel itu!

Nih, pemerintah, karena ingin mengayomi kita semua para penyembah belanja online, pun akhirnya membuat maskot. Sesuatu yang dapat selalu mengingatkan kita agar tetap cerdas berbelanja di dunia maya.

Nama maskotnya adalah Si Koncer. Singkatan dari konsumen cerdas.


Jadi, untuk menjadi konsumen cerdas ada beberapa hal yang secara umum harus kamu lakukan ketika berbelanja online, yakni:

Periksa Standar Barang
Sama dengan belanja secara konvensional, ada hal-hal mendasar yang harus kamu perhatikan. Yang pertama adalah dengan memeriksa standar barangnya. Standar ini berupa label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Jadi, pemerintah tuh sudah menetapkan standar untuk barang atau produk yang akan beredar di masyarakat. Yang tidak sesuai standar yang tidak boleh beredar. Ini sama saja dengan orang yang mencari jodoh. Sebelum mencari, dia sudah menetapkan kriteria dan standar jodoh seperti apa yang dia inginkan. Jika tidak memenuhi standar, kamu pun diskip 😫

Periksa Tanggal Kadaluarsa
Semua barang atau produk ada masa berlakunya. Pun dengan barang yang dibeli melalui internet. Periksa terlebih dahulu tanggal kadaluarsanya. Biasanya ada kok di deskripsi produk. Jika tidak gimana dong? Tanyakan ke penjualnya.

Kamu tentu tidak mau kan, barang yang kamu konsumsi itu membahayakan kesehatanmu sendiri?

Beli Produk Dalam Negeri
Nah, sebagai masyarakat Indonesia yang baik, maka kita pun sebaiknya hanya membeli produk dalam negeri. Ini juga demi menguatkan perekonomian negara. Toh, produk-produk dalam negeri juga tidak kalah dengan produk luar. Tentu saja, produk dari dalam negeri biasanya lebih murah dan jelas proses produksinya.

Cek dan Ricek Harga Pasaran
Terakhir nih. Jika semua hal tadi sudah kamu selidiki, cek dan ricek lagi semua harga yang tertera di tempat lain sebelum memutuskan untuk membeli.

Biasanya, jika ada yang menjual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan yang ada di pasaran, maka kamu patut curiga. Ya iyalah, masa' ada yang menjual di bawah harga rata-rata. Kan gak logis, untungnya dari mana coba? Intinya, teliti 😎


Trus, kalau berbelanja di toko online atau media sosial dan marketplace? Gimana dong?

Belanja di Toko Online/Media Sosial
Menggunakan tempat ini sebagai tempat belanja sebenarnya agar riskan, menurut saya. Pasalnya, komunikasi yang terjadi lebih personal, sehingga kemungkinan untuk terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan lebih besar.

Kalau kamu tetap ingin belanja, kamu harus mengecek secara acak testimoni-testimoni di kolom komentarnya. Perhatikan apa kata orang-orang yang berbelanja. Atau, kalau mau lebih aman lagi, gunakan toko online yang direkomendasikan oleh temanmu. Saya sih seringnya begini ya hehe.

Belanja di Marketplace
Saya dan barangkali juga kamu adalah konsumen garis keras marketplace and I am ready to die for it 😈

Bukannya apa, tak ada tempat seaman dan senyaman pelukan kasih marketplace. Cara kerjanya begini, di sini ada banyak penjual. Jika kamu membeli barang mereka, maka marketplace akan menghitung total belanjaanmu dan kamu membayar ke marketplace.

Kemudian si penjual akan memproses dan mengirim barangmu. Nanti setelah barang tersebut tiba di kamu, barulah si penjual menerima pembayaran dari marketplace. Kalau kamu ada komplain terhadap barang atau barang tidak sampai-sampai, maka marketplace akan mengurusnya dengan sigap.

Sebenarnya sih, semua marketplace di Indonesia sudah menerapkan sistem tracking barang. Jadi, posisi barang kita bisa dengan mudah dilacak, apakah masih sementara dikemas oleh penjual, sudah diantarkan, atau sudah tiba di alamat pengiriman.

Selain kemudahan tersebut, ada beragam barang yang tersedia di sana dengan harga yang bervariasi. Belum lagi diskon dan ongkos kirim gratis yang sering diberikan. Saya pernah malah, Februari kemarin, belanja makanan dan perlengkapan mandi barang dengan total Rp. 0,- 👏


Yakin gak bakalan ada pembodohan di marketplace? Hehe. Tetap kok. Lah?

Iya, kan solusinya jadi konsumen cerdas. Jadi, kamu perlu melakukan beberapa hal ketika berbelanja di marketplace, antara lain mengecek rating si penjual, membaca komentar-komentar pembeli lain, membandingkan harganya di penjual lain, dan yang tidak kalah penting adalah jangan pernah melakukan pembayaran di luar dari marketplace.

Bagaimana kalau sudah terlanjur tertipu? Nah, untuk masalah yang satu ini, baiknya kamu melakukan tiga langkah mudah berikut ini:

Hubungi Penjual
Apabila dalam beberapa hari yang telah ditentukan barangmu tidak sampai, segera hubungi penjual. Telepon dia! Kalau di marketplace sih, cukup ke Customer Servicenya. Kalau tidak berbelanja di marketplace, maka kamu butuh usaha lebih untuk menghubungi si penjual.

Blokir Rekening Penipu
Kamu sudah meneleponnya, namun tidak ada balasan dan nomornya tidak aktif? Segera blokir rekeningnya ke bank tempat kamu melakukan transaksi dan minta uang yang kamu balik lagi.

Syaratnya? Bawa bukti transaksi dan screen capture percakapanmu saat bertransaksi. Tapi sebelum itu kamu harus melaporkan hal ini ke kepolisian terdekat dengan laporan tindakan penipuan. Nah, surat keterangan yang didapatkan dari kepolisian akan semakin memperkuat kamu di bank.

Lapor ke Lapor
Namun, jika kamu tidak sempat untuk mendatangi kantor polisi dan bank, jangan putus asa! Kamu dengan mudah bisa melapor di lapor.go.id. Lah?

Iya, Lapor merupakan singkatan dari Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Masyarakat yang diinisiasi oleh pemerintah sebagai sebuah sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial. Trus, caranya?

Nih!



Sekilas, begitulah cara kerja Lapor. Yang pasti, sebelum membuat laporan, kamu terlebih dahulu perlu melakukan pendaftaran yang tentunya sangat mudah. Setelah itu, baru kemudian kamu bisa melaporkan kasus penipuanmu ketika berbelanja di dunia maya.

Tenang saja, ada beragam pilihan kategori untuk beragam masalah, termasuk kasusmu.


Meskipun berbelanja dan bertransaksi di era digital sangat mudah dan memudahkan, kamu tetap perlu menjadi konsumen cerdas. Ibarat kata nih, indomie saja yang katanya instan, tetap butuh proses kok untuk menyantapnya, apalagi kalau mau dibuat seenak mungkin.

Masih ingat kisah Nina tadi kan? 😜


You Might Also Like

0 komentar

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊