Bukan Lagi Koran, Ini yang Seharusnya Anak Muda Baca

“Anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Saya tidak pernah mengerti mengapa hal ini terjadi. Mereka tidak lagi punya budaya membaca, mereka lebih sering menonton televisi. Tidak punya keinginan menambah ilmu,” Pramoedya Ananta Toer.

Pagi baru saja tiba. Masih dengan mata yang enggan terbuka, Dita membalik tubuhnya ke kanan hendak meraih smartphone yang diletakkannya di sudut meja kecil samping tempat tidurnya. Entah telah berapa kali alarm telepon genggam itu berbunyi.
“Mengenal PAN, Partai Milenials yang Lahir dari Reformasi 98,” begitu notifikasi pertama yang masuk di handphonenya, Dita kembali berbaring. Belum sempat membuka notifikasi tersebut, pintu kamarnya diketuk.
“Lah, kok main hape? Mandi sana, trus sarapan. Mama tunggu di bawah. Katanya ada kuliah pagi,” tegur mamanya sambil menarik selimut yang dikenakan Dita.
“Ntar, ma. Aku balas Line temen dulu,” balasnya.
“Cepetan.. Ih! Mama tunggu di meja makan, papa juga udah siap”
Sesudah mandi dan mengoles riasan pada wajahnya, Dita mencabut hape dari kabel charger, melepasnya dari colokan listrik, dan menyambar ransel untuk menuju meja makan. Di meja makan dia memasukkan chargeran tadi, serta sebuah buku catatan ke dalam tasnya.
Telah ada mamanya yang menunggu sambil bolak-balik mengambil roti dari pembakaran dan meletakkannya di meja makan. Sementara di seberang, ada papanya yang sedang membaca koran dengan segelas teh yang seperempatnya telah diminum.

“Nih, makan dulu. Kamu mau berangkat bareng papa kan?” tegur mamanya sambil menyodorkan roti bakar.
Dita tidak menjawab. Dia hanya mengambil roti sambil memelototi hapenya—melanjutkan membaca berita tentang PAN tadi. “Oh, begitu…” gumamnya.
Papa Dita menghentikan bacaannya, memperbaiki duduknya, dan menyesap tehnya. “Eh, kenapa? Mamamu ngajak ngomong tuh.”
“Iya, eh ini, ternyata PAN partai milenials. Masih muda. Ya.. Seumuranlah sama aku.” jawabnya sambil tetap menatap layar smartphone.
“Tau dari mana?” mamanya menanggapi.

Dita tidak lagi langsung menjawab. Dia memijat layar hapenya ke atas dan mengambil beberapa jenak. “Ini dari IDN. Tempat aku baca macem-macem,” jawabnya sambil mengunyah roti.

“Lah, macem-macem apa maksudnya?” papanya penasaran.

“Ini website sih, pa. Papa bisa liat di www.idntimes.com di hape. Minggu lalu nemu beritanya jadi Top 10 News di Line Today. Jadi deh aku akhir-akhir ini aku sering baca di sini, soalnya semuanya lengkap. Apa-apa ada dan update,” Dita memaparkan.

Didirikan pada 8 Juni 2014 oleh dua anak muda, William dan Winston, IDN Times sebagai media daring memang dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan anak muda Indonesia yang mulai bosan dengan media konvensional yang ada.

“Oh, kamu masih baca? Kirain cuma chatting doang ama temen. Soalnya nih ya, kata majalah yang mama baca bulan lalu, minat baca Indonesia saat ini tuh rendah. Hanya peringkat 60 dari 61 negara loh. Bisa ditebak dong penyebabnya adalah hape dan internet. Ngabisin waktu aja!” tanggap mamanya.

Adalah Central Connecticut State University yang merilis penelitian tentang The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016 dengan mengambil sampel awal di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipillih 61 negara.
Negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia menempati 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Nah, untuk 5 terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostawana di urutan 61.
“Emang di dalamnya ada bacaan apa aja?” tanya papa Dita sambil membetulkan letak kacatamanya.
“Bentar,” dia merogoh tasnya hendak mengambil laptop. Dihubungkannya laptop tersebut dengan internet dan segera mengakses IDN Times. “Nah, ini dia, ma, pa!”
Ketika kamu membuka website IDN Times, maka akan muncul tampilan seperti ini.

IDN Times punya semua berita dan bacaan yang kamu butuhkan. Oleh karena itu, ada pilihan More di pojok kanan yang bisa kamu pilih. Dan juga tentu saja Top Channels yang terhubung dengan IDN.

“Trus pa, bukan hanya semua hal tentang kehidupan anak muda yang IDN punya. Mereka juga punya ini #MillenialsMemilih. Kan tahun ini udah masuk tahun Pilkada nih, makanya mereka juga memberikan berita-berita politik yang dikemas dengan gaya anak muda,” Dita menjelaskan.

“Oh iya ya, jadinya nanti 2019 kamu tidak bakal asal coblos,” tanggap papanya.

“Penting juga sih emang ngajarin anak muda politik. Kan biar mereka bisa ambil bagian, biar gak buta, dan dibodoh-bodohi. Tahun depan kan kamu ikut pesta demokrasi untuk pertama kalinya kan, Dit?” mama Dita menimpali.

“Iya, ma. Duh!”

“Tapi bukannya yang beginian bisa dibaca di website koran-koran biasa?”

“Berat, pa! Dita gak bakal kuat, biar papa saja. Hahaha..”

“Eh, trus yang nulis semua berita itu emang orang pers makanya kamu mau percaya-percaya aja? Kan berita bohong lagi marak tuh?” tanya papanya masih keheranan.

“Oh gini, pa,” Dita menegakkan punggungnya, meminum teh, dan mendorong layar laptopnya sedikit ke belakang. “Jadi di sini tuh, ada bagian Community yang dirilisnya Februari 2017 lalu,” dia mengarahkan kursor ke pojok kanan, tepat samping kiri More. Mama dan papa Dita memusatkan pandangan mereka ke layar dengan mengapit Dita di tengah-tengah.

“Di sini setiap anak muda bisa menulis apa saja. Setiap tulisan itu nanti akan mendapatkan poin tergantung dari berapa orang yang liat tulisan kita. Nah, dari poin itu nanti, bisa ditukarkan dengan uang.”

“Tuh kan, siapapun bebas menulis, yang penting nulis, dapat uang. Tidak masalah dong bikin berita bohong biar menarik perhatian semua orang.” sergah mamanya.

“Tenang saja, ma. IDN Times itu mengacu ke Pedoman Media Siber yang mengacu ke Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Setiap orang yang nulis gak bakalan langsung terpublish kok, akan ada review dulu dari Editor. Kalau lolos, tulisan akan terbit. Kalau gak, ya revisi dulu atau langsung ditolak tidak layak terbit kalau tulisannya ngawur,” Dita menerangkan.

“Nah Pedoman Siber ini sudah resmi dan ditandatangani oleh Dewan Pers dan Komunitas Pers di Jakarta pada 3 Februari 2012 loh,” sambung Dita.

“Lah, berarti, tiap orang yang nulis butuh usaha lebih dong ya. Soalnya kan, setau Papa nih, tulisan bagus itu harus ada riset dan butuh dicek ulang lagi baru bisa dipublish.”

“Iyalah pa, unsur-unsur penulisan dasar seperti 5W+1H pokoknya harus sudah khatam dulu. Trus gak bakalan mungkin dong ada tulisan yang berulang di website, makanya harus riset.”

“Wah, ini sih sudah benar bukan berita bohong ya! Apasih pa? Hoks.. Hoks.. Gitu,” mamanya menambahkan sambil menunjuk layar laptop.

“Hoaks ma! Hoaks..” Dita menyambar.

“Di sini No Hoax kok!”

Tawa pun pecah. Mama Dita bergeser mengambil kursi, duduk, sambil mengolesi selai nanas ke roti. Papanya melipat koran lalu meneguk teh.

Perbedaan umur antara orang tua dan anak ini memang jauh. Menurut teori generasi, Dita merupakan generasi Z karena lahir direntang waktu tahun 1995 hingga pertengahan tahun 2000-an. Sementara orang tuanya adalah generasi baby boomers yang lahir dikitaran tahun 1960 sampai 1980-an.

“Sayangnya nih, ma. Yang waktu banjir kemarin, aku nemu artikel yang gambarnya gak banget deh. Maksa banget untuk dijadiin viral, padahal gambar-gambar yang dipake IDN untuk artikelnya selama ini udah bagus banget.”

“Yang mana emang?” mama penasaran.

“Oh.. Iya sih, sayang banget,” tanggap mama.

“Trus, kan ada tuh IDN TV. Sayangnya lagi, itu gak dimaksimalin, padahal aku juga suka nontonin video. Kan lebih menarik kalau tulisan, gambar, dan video udah di satu tempat.”

“Gak papa, mungkin mereka lagi tahap perbaikan. Kan berproses,” kata papanya bijak.

“Eh, ini pa,” Dita mematikan laptonya, memasukkannya di tas, dan meraih smartphone di samping rotinya.

“Supaya tidak ketinggalan berita, trus biar membuka IDN Times 25 kali lebih cepat, makanya aku download di hape,” Dita menerangkan.

“Wah, asyik dong. Papa mau download juga ah!”

“Eh, gak usah! Ini buat anak-anak seumuran aku. Papa baca koran aja. Hahaha..” sergah Dita dengan tawa renyah diikuti mamanya.

“Hm.. Bisa jadi tutupnya banyak media cetak beberapa tahun belakangan ini adalah sebuah bukti bahwa untuk tetap eksis mereka harus mampu menawarkan solusi dan menjadi relevan dengan teknologi yang ada sekarang,” terang papanya.

“Dan bukan lagi koran atau majalah, IDN Times inilah yang harusnya dibaca oleh anak muda. Yang dikemas ala mereka. Lumayan tuh ningkatin minat baca,” tambah mamanya.

“Udah yuk pa, berangkat!”

“Iya, hati-hati kalian,” tegur mamanya.

Jarum jam hendak menunjuk angka delapan ketika mereka mengakhiri perbincangan pagi yang cukup panjang. Tak lama setelahnya, suara mobil pun berlalu.

***

Begini 5 Cara DokterBabe Menjadikan Internet & Hidup Sehat Itu Mudah

“Mulai sekarang kamu harus berhenti minum jus tomat. Tidak baik untuk kesehatan,” telpon mama tiba-tiba.

“Siapa bilang tomat tidak baik?” saya penasaran.
“Itu di internet. Bapakmu sudah baca. Pokoknya mulai sekarang kamu harus berhenti!”
Saya berusaha diam hingga mama menutup telepon.
Sejak tiga bulan terakhir saya memang setiap pagi mengonsumsi jus tomat atau wortel dan roti untuk sarapan. Dari situ, banyak perubahan yang terjadi terhadap tubuh saya. Dua diantaranya adalah tubuh yang meringan dan konsentrasi yang meningkat.
Iya, hanya berbekal sarapan tersebut, saya merasa bahwa oh, ternyata, hidup sehat itu mudah. Karena tidak perlu lagi repot memasak makanan berat. Sayangnya, pagi itu saya dibangunkan oleh mama yang menelpon seolah ada sesuatu yang sangat penting.
Oh, man, bagaimana mungkin tomat tidak baik untuk kesehatan? Justru malah internet yang kadang tidak baik untuk kesehatan, saya rasa. Tapi wajar saja ketika mama memercayai internet. Kami merupakan generasi yang berbeda, dia baby boomers dan saya millenials. Mama masih merasa bahwa semua informasi dari internet adalah kebenaran yang hakiki karena apa-apa tersedia di sana.
Beberapa hari setelahnya, bapak mengirimi saya pesan broadcast di Whatsapp dengan judul “Sebarkan! Berikut bahaya mengonsumsi air putih” yang mengarah ke sebuah domain blogspot.id. Nah, loh? 😔
***

Hasil survei yang dilakukan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak Februari 2016 hingga Februari 2017 menunjukkan bahwa hoaks atau berita bohong tertinggi di Indonesia adalah kesehatan.

Tentu saja, tingginya tingkat penyebaran hoaks ini juga disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah pengguna internet. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016, setidaknya ada 132,7 juta pengguna internet dari total penduduk 263,5 juta orang. Hal ini kemudian menempatkan Indonesia di peringkat kelima negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak.

Trus, apa sih alasan utama orang Indonesia mengakses internet?

Pendataan yang dilakukan oleh APJII pada 2016 menemukan bahwa ada 25,3% atau 31,3 juta orang mengakses internet dengan alasan untuk update informasi. Kedua adalah terkait pekerjaan yang presentasinya 20,8% atau 27,6 juta. Dan 13,5% atau 17,9 juta orang Indonesia mengakses internet untuk mengisi waktu luang.

Jadi bisa dibayangkan, saat orang tua saya berkabar tentang dua info kesehatan tadi, barangkali karena mereka memang ingin mendapatkan informasi tentang kesehatan, yang sayangnya—bersumber dari blog atau web yang abal-abal.

Sampai di sini, sebagai anak yang paham internet, saya merasa bersalah belum mengajari mereka menyaring informasi dengan benar 😑

Nah, sejak 2017 kemarin saya merasa lega. Kenapa? Karena urusan pekerjaan saya harus berpindah dari Makassar ke Jakarta. Otomatis, jarak antara saya dan orang tua pun semakin jauh dan kesempatan saya untuk mengajari mereka mencari informasi yang valid di internet pun mengecil.

Namun, hal ini kemudian diatasi oleh DokterBabe. Caranya saya hanya perlu mengirimi orang tua saya link website DokterBabe karena di dalamnya sudah memuat semua hal terkait kesehatan yang mereka butuhkan. Ada banyak sekali layanan yang situs kesehatan terdepan ini berikan, di antaranya sebagai berikut:

Kamus Lengkap 1001 Penyakit dan Obat

Di sudut kiri atas berjejer menu website dimulai dari glosarium penyakit dan glosarium obat. Keduanya menu seperti kamus kesehatan yang lengkap dimana jika kamu mengkliknya akan muncul beragam istilah yang diurut sesuai abjad mulai A sampai Z. Atau jika buru-buru mencari sebuah istilah, ada kotak pencarian yang bisa kamu ketikkan langsung dan dapatkan hasilnya.

Sehingga ketika menemukan sebuah istilah medis yang asing, kamu bisa lebih cerdas dengan mencari tahu dulu artinya. Di era keterbukaan informasi di internet saat ini, kemampuan untuk menyaring informasi pun harus sering dilakukan.

Artikel Kesehatan oleh Dokter

Inilah fitur andalan saya yang linknya saya berikan ke orang tua. Bukannya apa, di dalamnya telah memuat informasi yang sangat beragam dan tentu saja—terverifikasi oleh dokter. Saya rasa apa yang dibutuhkan Indonesia di tengah tingginya berita bohong tentang kesehatan adalah Artikel Kesehatan terbaru yang disediakan oleh DokterBabe—yang tidak hanya memberikan jawaban terkait persoalan kesehatan tapi juga mengedukasi masyarakat.

Ada banyak sekali pilihan artikel yang tersedia dengan beragam kategori di antaranya gaya hidup sehat, kecantikan, ibu dan bayi, keluarga, kesehatan, serta hubungan intim. Kebayang gak sih ketika kamu punya bayi yang mengalami demam dan tidak tahu harus berbuat apa? Hati-hati! Ketika orang tua mengalami kepanikan saat menghadapi bayinya yang sakit, maka hal ini juga akan berdampak negatif ke bayi.

Cara pertama yang akan kamu lakukan di era dimana anak di gendong di tangan kanan dan gawai di tangan kiri adalah mencari informasi di internet dengan kata kunci: cara mengatasi demam pada bayi. Dan voila! Lihat hasil pencarian kamu di Google.

Tidak sedikit dari hasil pencarianmu yang akan mengarahkan ke informasi yang tidak benar serta tidak kredibel dan kamu tahu sendiri dong akibatnya.

Konsultasi Dokter yang Gratis

Saat ini jika kamu masih berpikiran bahwa ketika konsultasi ke dokter membutuhkan biaya yang yang tidak sedikit, maka kamu salah besar. Di DokterBabe.com kamu bisa melakukan Konsultasi Dokter atau tanya dokter mengenai gejala penyakit yang kamu alami dan semuanya secara gratis.

Yang kamu butuhkan adalah klik layanan Konsultasi dan di sebelah kanan akan muncul kotak yang berisi Judul Pertanyaan dan Isi Pertanyaan yang bisa kamu isi sendiri dan langsung kirim ke dokternya, tunggu beberapa saat maka kamu akan mendapat balasan dari dokter yang berpengalaman.

Iya, semudah itu! Dan saya merasa memiliki dokter pribadi yang bisa ditanyai kapan saja 😎

Rumah Sakit, Apotek, dan Klinik dalam Sekali Klik

Bayangkan jika suatu waktu kamu traveling dengan mendatangi sebuah kota baru dan tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan dan butuh pengobatan. Sementara kamu tidak tahu apapun tentang tempat berobat dan tidak punya kenalan siapapun di tempat barumu, maka hanya uuuuudengan mengakses DokterBabe.com kamu pun bisa segera menemukan petunjuk arah menuju tempat berobat lengkap dengan detail informasi berupa alamat, nomor telepon, bahkan jam buka.

Melalui salah satu layanannya bernama Cari Rumah Sakit, DokterBabe.com akan mengarahkanmu ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat dari posisimu. Setelah itu, jika kamu membutuhkan obat, maka akan ada lagi petunjuk mengenai lokasi apotek terdekat.

Tampilan Visual yang Ciamik

Seluruh layanan kesehatan cuma-cuma yang diberikan oleh DokterBabe.com kemudian disajikan dengan visual yang tidak biasa. Bagaimana tidak? Penerapan flat design yang digunakan adalah sebuah usaha yang sangat baik untuk mengikuti tren kekinian agar membuat internet users nyaman dan tentu saja merupakan bukti kredibilitas dan profesionalitas yang DokterBabe.com pegang.

Tingginya hoaks kesehatan yang beredar di internet sudah sangat buruk, apalagi dengan penyajian grafis yang bikin mata sakit akibat tampilannya yang buruk, menurut saya sebagai salah satu seorang millenials—yang apa-apa harus punya visual yang ciamik, apalagi di feed instagram.

Iya dong, saya tentu saja tidak ingin menghabiskan waktu saya membaca berita kesehatan palsu dengan dengan gambar-gambar yang buruk. Bukan hanya saya, penggunaan visual juga akan memengaruhi psikologi banyak orang untuk betah berlama-lama di sebuah situs.

Oiya, bukan hanya di laptop dan aplikasi browsermu, DokterBabe.com juga sedang mengembangkan dirinya di Google Play Store sehingga kamu tidak lagi harus repot-repot mencarinya di jendela browser yang tabnya menumpuk.

Nah, kehadiran DokterBabe.com sebagai sebuah situs kesehatan paling terdepan di Indonesia adalah bukti bahwa untuk hidup sehat itu mudah, apalagi internet sehat. Iya kan?

***