Tips Menulis Haruki Murakami

tips menulis

Apa tips menulis ala Haruki Murakami?

Dasar-dasar bagaimana cara menulis yang baik akan dengan mudah kamu temukan di What I Talk About When I Talk About Running. Tips ini juga berlaku bagi kamu yang bingung bagaimana cara menulis novel.


Di dalam buku ini, kita akan seolah face to face dengan penulis best-seller Jepang, Haruki Murakami.

Baca juga: Apa yang Haruki Murakami Tidak Ceritakan di Bukunya yang Lain, Diceriakan di Buku Ini.

Secara blak-blakan, dia akan memberi beberapa nasihat yang akan memacumu untuk menulis. Nah, di bawah ini ada tiga tips yang Haruki Murakami bagikan ke kamu:

Seorang penulis harus memiliki bakat.
Iya, hal ini merupakan penekanan pertama dari seorang penulis 1Q84 tentang bagaimana menjadi penulis yang baik. Tidak penting seberapa kuat usaha yang kamu lakukan serta seberapa besar semangat yang kamu punya.
Sebab ibarat kata; semewah apapun sebuah mobil jika tidak terisi bensin, maka tidak akan jalan. Bakat itu, katanya, akan bekerja dengan caranya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan istilah seberapa banyak kita menanam dan yang akan kita tuai.
Jadilah seorang yang fokus.

Setiap pagi, penulis yang telah menerbitkan lebih dari selusin novel ini berkonsentrasi menulis selama tiga hingga empat jam. Dia akan duduk di depan meja kemudian fokus terhadap apa yang ditulisnya.

Di buku ini, Haruki Murakami mengumpamakan bahwa seorang novelis berbakat dengan ide-ide hebat sekalipun kemungkinan besar tidak akan bisa menulis jika ia mengalami sakit gigi. Rasa sakit inilah yang menghalanginya untuk berkonsentrasi.

tips menulis novel

Fokus butuh daya tahan.
Untuk mengimbangi fokus yang dimiliki, kamu juga sebaiknya memiliki daya tahan. Sebagai seorang penulis yang memimpikan untuk punya buku, daya tahan dibutuhkan untuk bisa berkonsentrasi menulis selama misalnya, 3 bulan setiap hari atau malah 1 tahun.
Perumpaan lain yang digunakan Murakami adalah pernapasan.
“Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni untuk mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus sambil mengisi udara ke dalam paru-paru.” (hal.88)
Nah, di usia mudalah saat yang tepat untuk mulai mengerjakan ini semua. Sebab pekerjaan menulis bukan pekerjaan yang mudah yang seperti orang-orang pikirkan.

Seluruh proses menulis mulai dari duduk di depan meja,berkonsentrasi, membangun imajinasi dari kekosongan, mengarang cerita, memilih kata yang tepat, serta mempertahankan aktivitas ini untuk tetap sesuai jalur membutuhkan energi yang besar.
Orang-orang mungkin hanya melihatmu duduk dan tidak menggerakkan badan, namun sesungguhnya—papar Murakami “di dalam dirimu terdapat proses kerja yang dinamis dan sangat melelahkan.”

Bagaimana dengan orang yang tidak berbakat namun ingin menjadi penulis?

Kamu dan aku tentu tahu bahwa hanya ada sedikit orang yang benar-benar berbakat di dunia ini. Jika tetap ingin menjadi penulis dengan bakat seadanya bahkan tidak ada, jawaban satu-satunya yang Haruki Murakami punya adalah bangun kekuatan dengan menggunakan usaha yang berlebih. Berlatih secara rutin tanpa henti mampu menggantikan bakat.
Jadi, bagaimana? Kamu masih akan tetap menulis kan?

***

Apa yang Haruki Murakami tidak Ceritakan di Bukunya yang Lain, Diceritakan di Buku Ini

what i talk about when i talk about running
Di kitaran 2015 Ade membeli tiga buku sekaligus dari karya seorang Haruki Murakami. Pasalnya jelas,  semua orang membaca dan membincangkan penulis Jepang ini. Salah satu dari buku tersebut adalah 1Q84 Jilid 1.
Di suatu siang, saya iseng membaca 1Q84. Novel berbahasa Indonesia dengan tebal 622 halaman tersebut membuat saya ketiduran bahkan sebelum sampai pada halaman 10.
Jika tidak salah mengingat, bagian awal buku itu mengambil latar waktu siang hari di kemacetan sebuah kota pada tahun 1Q84. Ada seseorang bernama Aomame yang menumpang taksi dan mengobrolkan sesuatu, yang sialnya, saya lupa.
Intinya, halaman awal buku tersebut muram, lambat, dan surealis—barangkali. Hal inilah yang tampaknya membuat saya ketiduran.
Entahlah, saya lupa. Itu sudah lama sekali.
***

What I Talk About When I Talk About Running

Dua bulan lalu saya meminjam buku lain Haruki Murakami yang cenderung tipis berjudul What I Talk About When I Talk About Running dari seorang kawan di kantor. Dia adalah pembaca Murakami. Ketika saya menanyainya perihal kenapa dia membaca buku-buku tersebut, dia menjawab, “Suka karena isinya mirip dengan pribadi saya.”
Empat hari yang lalu saya baru saja menyelesaikannya.

Saya harus mengakui bahwa saya adalah pembaca yang buruk. Untuk membaca, saya selalu punya banyak alasan untuk menunda bacaan.

Bagaimana Murakami memulai karirnya sebagai penulis?

“Pukulan itu menghasilkan bunyi retakan saat bola beradu tepat di bagian tengah tongkat pemukul yang menggaung ke seluruh lapangan. Hilton kemudian langsung mencuri base I dan meluncur ke base II dengan mudah. Saat itulah momentum, “Ya! Aku harus coba menulis novel!” melintas di kepalaku.” (hal. 33)

Itulah kejadian di mana seorang Haruki Murakami bertekad untuk menulis. Segampang itu? Iya.

Kala itu, usianya 29 Dia sedang menonton pertandingan baseball tim kesayangannya Yakult Swallows di Stadion Jingu sambil minum bir.

Pekerjaannya sehari-harinya adalah menjalankan sebuah bar. Setelah sebelumnya, seusai menyelesaikan kuliahnya—dia mengelola kelab jazz di dekat Stasiun Setagaya.

Keluarganya berasal dari pekerja kantoran, pilihannya untuk berwirausaha konon karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Meskipun istrinya berasal dari keluarga pedagang, hal ini tetap saja tidak berpengaruh terhadap kemampuannya mengelola bar. Dia bekerja pagi hingga tengah malam, mengalami banyak kerugian, serta kekecewaan. Tak banyak untung.

Tak lama setelah momentum di Stadion Jingu, Murakami berhasil menyelesaikan novel pertamanya yang segera dikirimkannya ke lomba majalah sastra untuk pemula. Sayangnya, naskah novel tersebut tidak lolos seleksi.

Novel tersebut belakangan terbit dengan judul Kaze no Utao Kike (Hear the Wind Song) pada 1973.

Masih di tahun yang sama, tepat di umurnya yang ke 30 tahun penulis Jepang ini berhasil menerbitkan lagi novelnya berjudul Nen no Pinburo (Pinball). Berkat dua novel ini, Murakami pun masuk nominasi Akutagawa Prize.

Apakah penulis kelahiran 12 Januari 1949 ini lantas menutup barnya dan beralih menjadi penulis? Tidak.

Dia selama bertahun-tahun menjadikan dua kegiatan ini berjalan berdampingan. Siang hari mengurusi bar, malamnya menulis. Walaupun kedua hal ini berbeda, Murakami tampknya menyerap aktivitas di bar yang didatangi oleh orang dengan latar belakang berbeda silih berganti sebagai stimulannya untuk membuat tulisan.

Membaiknya bisnis bar dan menanjaknya karir kepenulisannya membuat Haruki Murakami harus memilih.

“Aku ingin bebas selama dua tahun ke depan untuk menulis. Kalau nanti gagal, kita masih bisa membuka toko kecil di suatu tempat. Aku masih muda dan kalau gagal, kita selalu dapat berusaha lagi,” tandasnya ke istri pada tahun 1981.

Dia memilih jalan hidup sebagai penulis. Meskipun, penghasilannya sebagai penulis kalah jauh dibanding penghasilannya di bar.

What I Talk About When I Talk About Running

Ketika menjalani kehidupan sebagai penulis profesional, Haruki Murakami kemudian berhadapan dengan masalah baru.

“Pekerjaan mengelola bar membutuhkan kekuatan fisik setiap hari sehingga berat badanku terus stabil di angka ideal. Namun, sejak menjalani kehidupan dari pagi hingga malam hanya duduk menulisi kertas genkoyoshi, energiku perlahan menurun dan berat badanku bertambah.” (hal. 40)

Dia menghabiskan setidaknya enam puluh batang rokok per hari untuk dapat terus berkonsentrasi ketika menulis. Karena akhirnya merasa tidak nyaman, setelah menyelesaikan Hitsuji O Meguru Boken—Murakami pun memilih lari sebagai solusi.

Kenapa Haruki Murakami memilih berlari?

Tidak dibutuhkannya kawan atau lawan membuat lari dapat dilakukan sendiri. Tidak diperlukannya alat khusus membuat Murakami menjadikan ini alasan kedua untuk berlari. Terakhir,  tidak diwajibkannya tempat khusus membuat lari bisa dilakukan di mana saja.

Jadilah dia hanya berfokus pada lari dan menulis setiap harinya. Tak heran kemudian, sembari menelurkan kaya-karya raksasa, dia juga aktif mengikuti ajang lari maraton di Jepang, Hawai, New York, Inggris, serta Yunani yang merupakan ‘rumah’ untuk lari maraton.

what i talk about when i talk about running haruki murakami
Seluruh proses menulis yang dilakukan oleh penulis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di dunia ini sebenarnya juga persis dengan olahraga lari. Selain sebagai penulis, Haruki Murakami memang juga adalah seorang pelari maraton atau bisa jadi malah sebaliknya.
“Sebagian besar pengetahuanku tentang menulis kupelajari melalui berlari setiap hari.” (hal.92)
Otot-ototnya yang lambat memanas ternyata menentukan jenis lari yang lebih cocok dengannya yakni lari maraton. Mengejutkannya, hal ini ternyata juga berhubungan dengan tulisannya yang lambat memanas dan terkesan membosankan. Pun dengan tema tulisan yang dia pilih yakni surealis.

Barangali ini jawaban kenapa saya tertidur tak tertarik membaca halaman awal 1Q84 tadi.

Yay or Nay

Hm.. Karena saya tidak tahu bagaimana mengukur sebuah karya menggunakan angka, misalnya rentan 1 sampai 10 atau 1 sampai 5, maka saya lebih memilih untuk menggunakan istilah Yay or Nay.
Nah, untuk buku ini apakah Yay or Nay? Jawaban saya adalah Yay. Kenapa? Karena apa yang Haruki Murakami tidak ceritakan di buku yang lain, diceritakan di buku ini.

***
Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 198 halaman
Tahun Terbit: April 2016
ISBN: 978-602-291-086-2

Kacamata Kuda & Gerak #sebarkanBeritaBaik

sebarkan berita baik

Alkisah,

Di sebuah hutan hiduplah seekor kuda bernama Horas. Perawakannya yang kekar dengan badan yang hitam mengilap membuatnya terlihat sangat jantan. Pun dengan reputasinya yang termashyur seantero hutan.
Masih di hutan yang sama, seekor kuda lain bernama Bidak pun hidup dan tinggal bersama penghuni hutan lainnya. Berbeda dengan Horas, Bidak tak setersohor itu. Posturnya cenderung gemuk dengan warna cokelat.
“Kutantang kau berlomba mengitari bukit itu, Bidak,” Horas dengan sombongnya.
“Buat apa? Kamu jelas adalah kuda tercepat di hutan ini. Ketangguhan dan kecepatanmu tak terkalahkan,” tangkas Bidak.
“Aku tidak mau tahu, kutunggu kau besok pagi!”
Sambil membayangkan kemenangannya yang diarak oleh para penghuni hutan, Horas menyambangi sebuah toko untuk membeli kacamata sebagai persiapan agar tampil lebih percaya diri.
Keesokan harinya, seluruh penghuni hutan berkumpul untuk menyaksikan adu cepat antara Bidak dan Horas.

Padahal semua sudah tahu siapa yang akan keluar sebagai yang tercepat.

Di garis start telah ada Horas dengan kacamata hitamnya, sementara Bidak tidak memakai apa-apa.
Sesaat setelah perlombaan dimulai, Horas langsung melesat ke depan.

Semakin berlari, semakin kecepatannya bertambah dan Bidak pun tertinggal jauh dengan larinya yang lamban namun teratur.
Mendekati garis finish, tanpa disangka kaki kiri Horas terperosot ke lubang yang tepat di sampingnya—tulang keringnya patah menembus kulit mengucurkan darah. Dia terpelanting ke sisi bukit, kacamatanya entah terlempar kemana.
Alhasil, Bidak yang tak berkacamata pun memenangkan adu cepat ini.
Seisi hutan bersorak sorai untuk kemenangan Bidak. Horas yang angkuh lagi sombong harus mengakui kekalahannya.
***

Foto oleh @jumardanm. Boleh kak, IG-nya difollow. Fotonya bagus-bagus loh 💖

Rabu (9/5/18) pagi kemarin ingatan saya dilempar ke kisah Horas dan kacamatanya ini, tepat di Gedung Promoter, Polda Metro Jaya—Jakarta.

Adalah Irjen Pol. Drs. Idham Aziz, M.Si selaku Kapolda Metro Jaya yang menginginkan acara Morning Coffee antara dirinya dengan Netizen yang dalam bahasa Indonesia disebut warganet digelar.

Kegiatan ini juga menjadi corong untuk lomba dengan hadiah yang tidak main-main. Saya akan menceritakan bagian ini nanti.

Jadi begini, pertanyaan pertama adalah kamu tahu kan berapa jumlah pengguna internet di Indonesia?

Trus, untuk keperluan apa mereka mengakses internet? Berapa jumlah pengguna internet yang juga aktif di media sosial?
Jika kamu adalah seorang warganet, kamu tentu paham betul betapa panasnya dunia maya saat ini. Banyaknya berita bohong yang berseliweran, berita palsu yang menyebar, berita tentang ujaran kebencian, serta beragam berita-berita negatif lainnya membuat semua orang gerah.

Pasalnya, dunia maya kini sudah dianggap sama dengan dunia nyata. Ada beberapa orang yang tidak bertanggungjawab menyebar semua berita-berita tadi. Parahnya, tidak sedikit orang yang terhasut dan hal ini tentu saja membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Well, am I sound so patriotic? 😛

Man, I tell you the truth! The internet sounds horrible.

Maka dari itu, Polda Metro Jaya mengajak pengguna internet aktif untuk minum kopi bersama sambil membincangkan hal ini. Omong-omong, bukan hanya kopi sih, ada juga nasi daging, kue-kue, serta singkong yang sialnya saya kehabisan.

Membicangkan dampak internet hari ini memang sungguh melelahkan, kita butuh lebih dari sekadar kopi. Hehe

Oiya, hadir pada hari itu yang memberi sambutan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, Kapolda Metro Jaya yang diwakili oleh Inspektorat Pengawasan Daerah (Irwasda) Kombes Pol. Drs. Komarul Zaman, serta Ndorokakung yang mewakili teman-teman Blogger, Vlogger, serta Content Creator.

Nah, sambutan dari Pak Irwasda inilah yang meningatkan saya tentang cerita Horas tadi. Kamu masih ingat kan?

Tips ketika mendapatkan sebuah berita di internet atau di grup-grup Whatsapp dari Pak Komarul ini, “Cek dulu beritanya, lakukan klarifikasi, dan jangan langsung sebar!”

irwasda polda metro jaya
Grafis oleh @jumardanm. Boleh kak, IG-nya difollow (teteup). Fotonya bagus-bagus loh 💖

Dua hal menarik dari Morning Coffee Polda Metro Jaya ini, yaitu:

Lawan Hoax dengan #SebarkanBeritabaik

Polda Metro Jaya merilis tagar #SebarkanBeritaBaik yang sempat menjadi Trending Topic di Twitter hingga menjelang sore hari.

Tagar ini sebagai perwujudan keamanan dan ketertiban dunia maya dan dunia nyata yang memanas hari ini. Pihak kepolisian sadar betul akan perannya mengenai hal ini dan berupaya sekeras mungkin untuk bisa menangkal segala bentuk berita negatif, ujaran kebencian, dan tentu saja hoaks.

Epik, Dan! ✌

Lomba Blog, Lomba Vlog, Lomba Konten Media Sosial Mei Juni 2018

Upaya lain yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya untuk menyejukkan dunia maya adalah menggelar lomba konten kreatif. Lomba konten ini terdiri dari lomba blog, lomba vlog, serta lomba konten di Instagram dan Facebook yang dapat berupa foto, video, meme.

Seluruh lomba ini mengambil tema besar Bersatu Dalam Menjaga NKRI. Sementara periode lombanya berlangsung dari 9 Mei hingga 22 Juni 2018.

Trus, hadiahnya apa?

Nah, ini dia yang tadi saya bilang tidak main-main.

Lomba konten kreatif ini berhadiah smartphone, laptop, kamera, trofi, serta hadiah utama berupa motor dan undangan untuk meliput Kapolda patroli di udara menggunakan helikopter. Kemana? Keliling Jakarta, cyn.

Pengumumannya kapan? Tenang, pengumumannya tanggal 1 Juli 2018. Kamu tahu kan itu hari apa?

Yap, hari Minggu!

Eh, bukan ding, Hari Bhayangkara 😂

Yasudahlah ya, saya mau siap-siap untuk bikin materi lomba kontennya. Doakan saya menang! Supaya kita bisa Morning Coffee bareng 😙

Jika lomba tadi kurang jelas. Nih.. Nonton nih!

Masih kurang jelas? Astagah 😒

Cek media sosial Humas Polda Metro Jaya di Facebook, Twitter, dan Instagram. Kirimkan pertanyaanmu melalui DM. Ingat, jangan jualan obat peninggi badan dan pemutih wajah di kolom komentarnya!

***

Makan & Belanja di Bangkok. Kemana Saja? (Bag.2)

jalan-jalan di bangkok

“Di Bangkok, pengendara motor dan mobil jauh lebih sabar. Anda tidak akan mendengarkan suara klakson di sini,” tutur Om Som ketika kami melintasi kemacetan.

Tepat saja, meskipun kendaraan memanjang dan melambat, tak sekalipun saya mendengar suara klakson—apalagi telolet. Hal ini jelas berbeda dengan Jakarta yang suara klakson kendaraannya bersahut-sahutan.
Suatu kali, saya mencobanya.
Tanpa tedeng aling-aling saya menyebrang jalan tidak di zebra cross. Hasilnya? Tak satu pun pengemudi yang menglaksoni saya 😁
“Wah mantap nih,” batin saya.

Mereka hanya berhenti dan membiarkan saya lewat—tanpa diklaksoni. Catat!

Eh, ini cerita bersambung, ya.

Kamu sudah baca cerita sebelumnya? Yuk, di sini: Makan & Belanja di Bangkok (Bag.1)

Belanja di Thailand? Belanja di Asiatque The Riverfront

Asiatque The Riverfront Bangkok

Asiatque The Riverfront Bangkok

Oiya, lanjut lagi!

Selesai makan malam di Bung Terrace, liburan ke Bangkok diteruskan ke Asiatque The Riverfront. Lokasinya di Charoen Krung Road, Krung Thep Maha Nakhon, Bangkok. Saya sebenarnya juga tak tahu ini di mana 😛
Yang jelas, ada permainan aneh yang dimainkan oleh rombongan sebelum setiap orang diizinkan menjelajah tempat ini.
Nah, jika Chatuchak terlihat seperti pasar tradisional, maka Asiatque tampak menyerupai pasar modern. Jualan di Chatuchak dan Asiatque pun sama. Harganya? Asal kuat nawar saja, bosque.

Places to Visit in Bangkok: Platinum Fashion Mall & Makkasan

liburan di bangkok

Di hari ketiga sekaligus hari terakhir, bangun tidur kuterus mandi. Sudah! Jangan dilanjutkan.
Niatnya sederhana saja, pagi-pagi saya harus berkeliling di kitaran hotel.
Sebelum jarum jam menunjuk angka 7, saya sudah keluar. Tidak ada apa-apa. Hanya jalan layang yang dilintasi mobil sesekali. Maklum, ini hari Minggu.
Saya mengambil arah kanan dan memasuki gang-gang. Bertemu dengan kucing-kucing yang beberapa kali menatap saya keheranan. Beberapa di antaranya sambil menjilati tubuhnya.
I wish I could feed them Wishkas.
belanja di bangkok

belanja di bangkok

Platinum Fashion Mall Bangkok
Kamu bisa baca tulisan di foto di atas ini kan?
Iya, ini Platinum Fashion Mall, Thailand’s Largest Wholesale and Retail Shopping Destination. Kalau di Makassar, ini Pasar Butung. Kalau di Jakarta, ini bisa jadi Tanah Abang.
Saya mengelilingi mall ini, naik turun dari lantai ke lantai. Sekadar menanyakan harga barang, menawar, dan tidak membeli 😁
Thai Tea

Liburan di Bangkok

Lelah dengan semua ini, saya melipir ke luar Platinum Fashion Mall. Tak jauh dari mall tersebut, saya memasuki jalan yang dipenuhi oleh penjual makanan. Saya yang kebingungan harus membeli makanan apa hanya membeli Thai Tea seharga 25 baht, kalau dirupiahkan 10ribuan.
Sumpah! Thai Teanya enak sekali. Iyalah, setengah dari gelas adalah air gula dan susu carnation.
Oiya, saya juga membeli Mango Sticky Rice. Rasanya? Kalah enak dengan yang saya beli di Chatuchak Market.
Liburan di Bangkok

Liburan di Bangkok
Makan siang di daerah Makkasan, tepatnya di Makkasan Coffe Shop, Bangkok Palace Hotel menjadi makan siang terakhir di Thailand sebelum bertolak ke Jakarta sore harinya.
Jika kamu merasa kata Makkasan mirip dengan kata Makassar, maka kamu benar.
Menurut cerita om Som, orang-orang yang pertama kali menduduki daerah ini adalah orang-orang dari Makassar yang berpindah karena tidak mau dijajah oleh Belanda. Saya mengitari daerah ini bersama seorang teman.
Baca cerita lengkapnya di sini: Visiting the Memories at Makkasan Bangkok.
mata uang bangkok
Baht terakhir yang saya belanjakan di bandara Don Mueang sembari menunggu pesawat ke Jakarta. Totalnya 105 baht dan cukup untuk segelas Americano yang kemudian kami minum berlima.
Saya tiba di kosan menjelang pukul 2 dini hari dan waktu itu sudah hari Senin, 26 Maret 2018. Sebelum benar-benar lelap, saya dihinggapi pertanyaan,”Bagaimana lagi cara jalan-jalan gratis ke luar negeri ya?”
***

Makan & Belanja di Bangkok. Kemana Saja? (Bag.1)

Liburan ke Thailand

“Eh, laptop kamu bagaimana? Balik lagi gak?”

Chat dari teman kantor tersebut saya hapus di penerbangan Jakarta – Bangkok. Kebiasaan menghapusi percakapan di aplikasi Private Messenger memang saya pelihara. Pasalnya sederhana saja, saya tidak suka melihat banyak pesan yang menumpuk.
Hari itu Kamis 22 Maret 2018. Saya meninggalkan kantor dua jam sebelum jam kerja berakhir. Tujuan saya mencari makan sekaligus menukar segepok rupiah ke baht. Besoknya, tepat Jumat pagi—kantor membawa semua karyawannya terbang ke Thailand.

Places to Visit in Bangkok: Show DC, Art in Paradise, Chocolate Ville

Show DC Bangkok
Beberapa teman kecewa melihat rak buku di Show DC ini. Kamu tahu sebabnya? Semuanya palsu.
Rupa-rupanya hanya dekorasi.
Art in Paradise Bangkok
Art in Paradise yang terletak di lantai empat Esplanade Shopping Mall, Bangkok ini mengukuhkan pendapat bahwa tujuan seseorang menciptakan sebuah karya seni itu beragam, untuk hiburannya salah satunya. Seluruh lukisan dengan detail yang tinggi di tempat ini sangat interaktif dan diperuntukkan bagi pengunjung yang senang berfoto.

Art in Paradise Bangkok

Sesaat setelah duduk di kursi pesawat, memasang sabuk pengaman, dan mengorek-ngorek tempat majalah—saya tidur. Adegan pesawat lepas landas harus terlewatkan oleh kantuk yang tak tertahankan.

Kamu harus tahu, semalaman saya tidak tidur. Niat hati balik ke kantor sebelum jam kerja usai, apa daya terjebak macet di belantara Kuningan. Jadilah saya pulang ke kosan dan tiba menjelang pukul 10 malam. Menyelesaikan beragam urusan, berkemas, dan tepat pukul 1 dini hari saya ke kantor.

Pukul 2-nya, bersama beberapa teman, saya ke bandara Soekarno Hatta.

Chocolate Ville

Chocolate Ville

Pengumuman berbahasa Thailand dengan pelantang suara di dalam pesawat membangunkan saya. Sesaat lagi pesawat mendarat di bandara Dong Mueang. Perjalanan udara ini menghabiskan waktu sekira 4 jam.

Saya meraih handphone, mengecek jam. Sesaat lagi jam 11 siang. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Setelah beragam urusan di bandara selesai, kami menuju Show DC untuk makan siang. Dan mall ini menjadi mall perdana yang menjadi lokasi kunjungan pertama.

Dari Show DC perjalanan berlanjut ke Art in Paradise di Esplanade Shopping Mall. Kamu tidak usah heran, perjalanan kali ini berpindah dari mall ke mall. Kata om Som, pemandu kami, Bangkok memang merupakan destinasi wisata belanja favorit orang Indonesia.

Sorenya, Chocolate Ville menjadi tujuan berikut. Tempatnya berada di luar kota Bangkok.

Chocolate Ville

Chocolate Ville

Kamu pasti berpikiran bahwa ini adalah kampung coklat dimana orang-orang bisa makan coklat sepuasnya. Oh, tidak ya?

Oke, itu pikiran saya ketika mendengar nama tempat ini.

Areanya tidak terlalu luas tapi dikonsep sedemikian rupa untuk memanjakan orang-orang. Chocolate Ville buka dari jam 4 sore hingga tengah malam. Di sini, kamu bisa menikmati outdoor dinner ala-ala. Ada beberapa angsa yang berenang di kolam-kolam. Setiap sudutnya manis sekali.

Kamu tahu apa yang paling saya sukai dari tempat ini? Yap, toiletnya 😅

Karena keburu pipis, saya mencari toilet. Sesampainya di sana, saya harus keluar masuk untuk memastikan bahwa tempat yang saya masuki adalah toilet. Pasalnya, toilet Chocolate Ville ini serasa kamar hotel berbintang lima.

Menenangkan sekali dengan pengharum ruangan yang membuat saya lupa bahwa kandung kemih saya sudah menggembung.

Makan Malam di Royal Dragon Resto Bangkok

Royal Dragon Resto Bangkok

Royal Dragon Resto Bangkok

Kami tiba di Royal Dragon Resto Bangkok untuk makan malam. Kamu harus tahu, tempat ini meraih Guiness Book of Records sebagai World’s Largest with A Seating Capacity of 5000 and A Staff of 1200 in An Area of 8.35 Acres. Sampai-sampai, para waitress menggunakan sepatu roda untuk mengantarkan makanan.

Saya deg-degan melihat mereka mengantarkan semangkuk sup dengan bersepatu roda.

Saya juga kepikiran, apa iya jika ingin bekerja di sini kita harus mahir bersepatu roda?

Hotel in Bangkok, The Patra Rama 9

Gedung-gedung menjulang dengan jalan layang di sekelilingnya menjadi lanskap yang saya lihat ketika bangun di The Patra Rama 9 Hotel Bangkok.

Tak ada lagi pemandangan dua gunung dengan matahari di atasnya, sawah yang menghijau di sebelah kanannya, serta rumah pak tani di kirinya. Halah!

Places to Visit in Bangkok; Wat Arun & Chatuchak

Sesudah sarapan dan berfoto rombongan, perjalanan ditujukan ke Chao Phraya River.

Tempat ini mengingatkan saya kepada Danau Tempe di Sengkang. Jalur sungai yang ditempuh menggunakan perahu sama saja.

Yang membedakan Chao Phraya dengan Danau Tempe adalah pemandangan di sekelilingnya. Chao Phraya dikelilingi oleh bangunan-bangunan menjulang, sementara Danau Tempe dijejeri rumah panggung.

Baca juga: Menyusur Jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe

Wat Arun

Jika di Magelang ada Candi Borobudur, maka di Bangkok ada Wat Arun, sebuah kawasan candi Buddha. Detail-detail tempelan keramik di bangunan ini cantik sekali.

Karena kami berada di lokasi wisata ini tepat siang hari, saya melihat Wat Arun seperti raksasa yang memicingkan mata mengawasi para wisatawan di bawahnya.

Makan siang di Bangkok hari kedua diadakan di Nouvo City Hotel. Seperti makanan-makanan sebelumnya, lidah saya menjawab tidak tiap kali ditanya, “Bagaimana makanannya? Enak tidak?”

places to visit in bangkok

places to visit in bangkok
“Asyik, dapat snack lagi nih,” ujar saya dalam hati ketika menaiki perahu. Pasalnya, di bagian belakang perahu ada jejeran roti-roti segar. Namun, dugaan saya salah! Roti tersebut dijual seharga 20 baht untuk dikasih makan ke ikan-ikan di sungai. Berharap rejeki selalu lancar.

places to visit in bangkok

places to visit in bangkok

Sekira pukul 3 sore, bus menurunkan kami di Chatuchak. Siapa yang tidak tahu tempat ini?

Awalnya, Chatuchak hanya buka hari Sabtu Minggu. Persis namanya, Chatuchak Weekend Market. Namun kini, pasar dengan area yang sangat luas dengan barang dagangan yang beragam juga buka pada hari Jumat.

Istilah nyasar di pasar tak terelakkan bagi saya yang pertama kali ke tempat ini. Sesaat sebelum meninggalkan Chatuchak saya meniatkan untuk kembali lagi ke tempat ini suatu hari, agar bisa berlama-lama. Amin gak? Amin 💆

mango sticky rice

Chatuchak Weekend Market

Chatuchak Weekend Market

Eh, habis?

Gak! Ceritanya bersambung, gaes! 😃

Yuk, baca lanjutannya di sini: Makan dan Belanja di Bangkok (Bag.2)