#TibaTibaSuddenly Bersama Efek Rumah Kaca Tiba-tiba Nostalgia

Konser Efek Rumah Kaca
Pukul 1 dini hari. Jalanan benar-benar senyap, lampu jalan mengerjap-ngerjap.

Butuh waktu lama untuk melihat kendaraan melintas, itupun hanya sepeda motor RX King dengan kecepatan tinggi seolah berburu dengan pagi.
Seekor anjing dengan gagah menggonggong. Yang lain bermalas-malasan sesekali menguap.
Saya dan tiga orang teman kebingungan di malam yang mendingin. Kami berempat hanya menggunakan selembar baju kaos dengan bawahan celana pendek.
Konser Efek Rumah Kaca

Kami baru saja pulang dari menonton festival band di terminal. Sebuah kota yang luasnya hanya kurang lebih 38 km2 belum punya infrastruktur memadai untuk menampung pagelaran musik.
Jadilah terminal kota disulap menjadi gelanggang pentas.
Di trotoar tepat di depan sebuah rumah tua kami duduk menunggu teman yang hendak datang menjemput.
Pukul 1 dini hari, di sebuah kota kecil; mustahil untuk menemukan kendaraan umum.

Konser Efek Rumah Kaca

Konser Efek Rumah Kaca

Kejadian tersebut sebenarnya adalah ingatan saat masih berusia sembilan atau sepuluh tahun. Saya lupa persisnya.
Yang jelas, saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saya tumbuh dan besar di sebuah kota bernama Sengkang. Di lorong kompleks perumahan tempat tinggal saya terdapat salah satu studio musik terbesar di masa itu. Hanya terpisah dua rumah.
Dari studio musik tersebut lahirlah sebuah band beranggotakan lima orang yang aktif mengikuti festival.
Di masa-masa itu festival musik tengah jadi tren. Kota-kota kecil lainnya segera secara bergantian mengadakan festival serupa.
Konser Efek Rumah Kaca

Tidak ketinggalan, perusahaan rokok mengambil celah dengan mengadakan festival musik se-Sulawesi Selatan di mana para terbaik dari berbagai daerah diadu di Makassar; ibu kota provinsi.
Begitulah kira-kira ingatan saya tentang pagelaran musik yang pertama kali saya datangi.

Konser

#TibaTibaSuddenlyRekaman

Delapan belas tahun kemudian, berjarak 1.781 kilometer dari Sengkang saya kembali mengunjungi acara musik tepatnya di Ballroom Kuningan City, Jakarta Selatan.

Dalam rentan delapan belas tahun ini kedatangan saya ke kegiatan serupa boleh dihitung dengan jari. Kenapa?

Saya sebenarnya tidak paham musik. Saya mendengarkan musik hanya ketika dia mempunyai lirik-lirik bagus dan Efek Rumah Kaca (ERK) menawarkan hal ini.

Keadaan inilah yang kemudian memicu saya untuk membeli tiket dan mendatangi ERK bertajuk #TibaTibaSuddenlyRekaman.

Konser Efek Rumah Kaca

Konser Efek Rumah Kaca

ERK yang telah aktif bermusik sejak 2001 ini memang kerap kali manggung. Namun untuk konser tunggal, mereka baru mengadakannya dua kali dengan tema #TibaTibaSuddenlyKonser.
Seperti namanya, konsepnya memang dibuat tiba-tiba. Tiket dijual dalam jumlah dan waktu terbatas. Terakhir kali mereka mengadakan hajatan ini pada pertengahan 2017.
Butuh waktu dua tahun bagi ERK untuk kembali tiba-tiba konser.
Di awal 2019, tepatnya di minggu ketiga Januari, saya menemukan kabar di Instagram tentang konser tunggal ERK berikutnya. Berbeda dari sebelumnya, konser tiba-tiba berikutnya ini adalah #TibaTibaSuddenlyRekaman. Nah loh?
Konser Efek Rumah Kaca
Iya, #TibaTibaSuddenlyRekaman memang mengusung konsep rekaman di mana para penonton yang hadir akan diajak untuk karaokean lalu suara-suara itu kemudian direkam. Dari data yang diumumkan oleh Cholil malam itu bahwa kurang lebih 3500 orang memenuhi ruangan Kuningan City.
Tiket yang dijual di Kios Ojo Keos dan Ruru Shop mungkin tidak seberapa, tapi yang membeli tiket di lokasi konser berkali lipat jumlah. Seorang teman menghabiskan dua jam untuk mengantri, saya sendiri lebih dari sejam.
Penggemar ERK luar biasa banyaknya; perempuan laki-laki, tua muda lebur di Ballroom Kuningan City malam itu.
Orang-orang yang diajak untuk memandu #TibaTibaSuddenlyRekaman pun membuat suasana jadi meluap-luap. Ada lebih dari 15 pemandu; mulai dari Najwa Shihab hingga Fluxcup, dari Kunto Aji ke Mondo Gascaro, serta Vicent dan Desta dengan pembawa acara Adjis Doa Ibu dan Gombloh. 
Konser Efek Rumah Kaca
Kami memasuki ruangan pada pukul 7 malam dan keluar pada pukul 12 dini hari. Lebih dari 5 jam penonton berdiri dan bernyanyi lagu-lagu ERK dari berbagai album.
Ketika para pemandu telah tampil, barulah ERK yang mengambil alih panggung. Penonton meminta duduk, Cholil tampak ragu karena ruangan yang sesak.
“Setelah tadi bernyanyi 13 lagu, izinkan kami yang selanjutnya menghibur teman-teman,” Cholil menembang.
Sukses membawakan tiga lagu. Cholil menutup #TibaTibaSuddenlyRekaman.
Di luar hujan baru saja turun. Saya dan tiga orang teman lainnya memilih melewati jalanan samping Kuningan City untuk mencari penjual minum. Di ruangan kami kehausan.
Pukul 1 dini hari, di Kuningan hujan turun. Kami melipir ke warteg menikmati makan malam yang terlambat. Setelahnya, menggunakan angkutan daring, masing-masing dari kami pamit.
Jikalau ada konser yang wajib untuk diingat, maka #TibaTibaSuddenlyRekaman inilah salah satunya.

***

Catatan Najwa di #TibaTibaSuddenlyRekaman

Untuk Indonesiaku hari-hari ini. Betapa perbedaan-perbedaan kita sedang diuji. Merasakan mendahului yang nyata. Agama ditumpah, difitnah, dan pemecah belah. Benarkah sedemikan susut alasan untuk kita merayakan makna keragaman?
Padahal kitorang basudara Kita sudah sama-sama melewati badai sejarah. Sejak kapan agama menjadi alasan mengoyak-ngoyak persatuan dan kemanusiaan? Jangan cerai berai karena berbeda sebab perbedaan justru kekayaan kita.
Kenanglah Chairil Anwar berkata, kami sudah beri kami punya jiwa,  tapi kerja belum usai belum lagi apa-apa. Tulang belulang pejuang berserakan, tak lagi berkata kini kita yang berkata.
Dengarlah Bung Hatta berbicara. Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena satu perbuatan, dan itu perbuatanku.
***

Rupa-Rupa Rumah Impian di Indonesia Properti Expo

Indonesia Properti Expo

Sebagai seorang milenial dan perantau di Jakarta, saya selalu dibayang-bayangi dengan istilah tempat tinggal atau rumah.

Rumah bisa di mana saja, tapi kemampuan untuk membeli rumah ini yang tidak membiarkan kita untuk memilih di mana saja.

Pertengahan tahun lalu saya baru saja menikah. Ade dan saya menikah di Makassar, tapi kami harus kembali ke Jakarta sesudah akad dan resepsi.
Iya, kami berdua menjadikan Jakarta sebagai tempat berlabuh dan meninggali sebuah kamar kos sebagai tempat beradu. Ashiapp!
Setelah merasakan nikmatnya berbulan madu di Jakarta dan Bali, menyongsong tahun baru kami menyatukan tekad, memadukan harapan agar #2019PunyaProperti.
Logikanya begini, jika kami menghabiskan 2 juta rupiah setiap bulannya selama 12 bulan untuk ngekos, bukankah total jumlahnya ini hanya akan memperkaya si empunya kos yang tiap tanggal 10 selalu berkirim pesan Whatsapp, “Jangan lupa ditransfer, ya mbak.”
Toh, ngekos juga tidak akan membantu kami kaya raya. Jadi, ya sudah, kami memilih untuk punya properti berupa rumah di tahun ini. Maka dari itu, kami menyusun daftar tentang hal-hal apa saja yang harus diperhatikan sebelum membeli rumah.

Nah, berikut beberapa di antaranya:

Lokasi yang Tepat

Jarak antara tempat tinggal kami dan kantor merupakan hal utama untuk dipertimbangkan. Selain menghemat ongkos, kedekatan jarak tempat tinggal dengan kantor akan menghemat waktu.

Hasilnya, kami akan punya banyak waktu untuk ehm..

Eh, kamu tahu sendiri kan macetnya Jakarta kian tak terduga?
Oiya, saya mengingat seorang kawan yang memilih tempat tinggal berdasarkan argo ojek daring. “Pokoknya maksimal sepuluh ribu aja.”
Fasilitas-fasilitas umum lainnya seperti akses transportasi umum (halte atau stasiun), rumah sakit atau klinik kesehatan, kantor pemerintahan, sekolah, serta pasar juga patut diperhatikan.

Semua itu kalau bisa, harus dekat dari rumah untuk menghindari kerepotan suatu saat nanti.

Fasilitas yang Ditawarkan

Bukan hanya lokasi, pilihan fasilitas perlu kami perhatikan. Pasalnya, setiap developer menawarkan fasilitas yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, developer ABC menawarkan rumah dengan kolam renang umum dan tempat gym, sedangkan developer XYZ memberikan supermarket, ATM Center, dan jogging track.
Nah, kalau ada yang menawarkan semuanya, kenapa tidak? Iya gak?

Intinya, jangan lelah riset ๐Ÿค”

Perbandingan Harga

Kalau sudah ada yang klop dua hal sebelumnya, maka kami baru bisa bicara harga.

Membandingkan harga rumah yang satu dengan rumah yang lainnya juga sangat penting. Ya iyalah, kita bayarnya pakai uang ๐Ÿ’ธ

Trus, kami tidak mau jika suatu saat nanti ada teman yang juga milenial bilang, “Eh, rumahku lebih murah dan punya beragam fasilitas dong.”
Oiya, satu lagi! Biaya-biaya lainnya yang harus dibayarkan.

Misalnya nih, iuran bulanan, uang keamanan, serta tambahan biaya administrasi saat pembayaran. Maka dari itu, jangan malu bertanya adalah kunci.

Rumah yang Instagramable

Hm.. kalau yang ini sudah tidak perlu dijabarkan lagi. Sebagai milenial, impian rumah kami adalah yang jika di foto setiap sudutnya, akan tampak artsy di beranda Instagram dan bikin betah untuk tinggal.

Salah satu gaya yang kami idam-idamkan adalah rumah berdesain dan berdekorasi minimalis. Gaya yang satu ini memang tengah digandrungi oleh banyak orang.

Beberapa kelebihan desain rumah minimalis antara lain tampak elegan dan modern, jumlah barang lebih sedikit, serta pencahayaan alami yang melimpah.

Mbokya, selama ini saya tinggal dan dibesarkan di rumah orang tua yang sebenarnya luas, tapi karena terlalu banyak lemari, kursi, meja dan kamar-kamar yang tidak terpakai, makanya tampak sempit dan minim pencahayaan.
Eh tapi, seorang teman juga pernah nyeletuk kayak gini, “Kamu cari rumah minimalis atau memang anggarannya yang terbatas?”
Duh, mulut-mulut ini memang paling mengerti ya ๐Ÿ˜…
Nah, setelah daftar-daftar tersebut telah terpenuhi, maka sebulan terakhir ini kami menghabiskan lebih banyak waktu dengan mencari-cari rumah yang cocok.

Karena waktu kami yang terbatas dan apa-apa sekarang sudah digital, pencarian melalui internet pun kami lakukan.

Trus hasilnya gimana?
Hingga sekarang masih nihil ๐Ÿ˜•
Indonesia Properti Expo

Jalan Keluar Itu Bernama Indonesia Properti Expo

Kepada siapa pun yang punya ide Indonesia Properti Expo (IPEX), Ade dan saya berterima kasih.

Begini, jika sedang mencari rumah atau apartemen atau rumah toko (ruko), maka ada baiknya kamu mengunjungi pameran properti terbesar dan terlengkap di Indonesia ini.

Indonesia Properti Expo

Kenapa?

Seperti namanya, ajang ini merupakan pameran properti terbesar di Indonesia.

Tidak sekadar ajang pamer, kamu bisa memilih, melelang, dan membeli properti sesuai dengan kebutuhanmu.

Kamu tahu sendiri kan kalau harga properti kian merangkak dari waktu ke waktu. Membeli perumahan di awal tahun ini tentu merupakan langkah tepat.

Saya pun selalu percaya dengan kalimat Feni Rose, “Senin harga naik!”

Bukankah itu merupakan sebuah kata kunci agar kita tidak lagi menunda?

Indonesia Properti Expo

IPEX melibatkan 150 developer dengan menampilkan 600 proyek properti yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mulai dari Bali, Balikpapan, Bandung, Serang, Banten, Bekasi, Bogor, Garut, Depok, Karawang, Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Kendari, Manado, Makassar, Medan, hingga Samarinda.
Alternatif harga yang beragam juga menjadi alasan kenapa IPEX wajib untuk kamu kunjungi.

Pilihan harga ini dimulai dari Rp 130 juta dengan jangka waktu kredit hingga 30 tahun.

Indonesia Properti Expo

Eh, harga tersebut pun ternyata masih mendapatkan promo khusus selama pameran berlangsung seperti suku bunga KPR mulai 6,69% serta uang muka 1%.

Belum lagi, kamu akan terbebas dari biaya provisi, biaya administrasi, serta bebas pengendapan dana.

Bagi kamu yang belum punya asuransi jiwa, maka kamu akan mendapatkan diskon asuransi jiwa sebesar 20%.

Nah, loh? Kurang apa coba? Daripada kamu membeli langsung ke developer tanpa mendapatkan potongan harga apa-apa, iya kan?

Karena salah satu tuan rumah Indonesia Properti Expo adalah PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Persero Tbk, maka pameran ini pun dibuat dengan tajuk Pesta KPR BTN.

indonesia properti expo

Bagi para milenial seperti Ade dan saya, kita berkesempatan untuk mendapatkan program KPR Gaeess yang menjanjikan kemudahan cicilan dan uang muka serta pelayanan KPR yang bisa dilakukan via online melalui situs www.btnproperti.co.id yang terus menerus diperbarui fitur-fiturnya sehingga lebih memudahkan kita dalam bertransaksi.

Indonesia Properti Expo

Indonesia Properti Expo

Masuk ke sini bayar gak sih?
Gratis! Setiap pengunjung tidak dikenakan biaya masuk apapun. Kamu hanya perlu mengisi form yang tersedia di sebuah LCD yang tersedia di depan ruang pamer.

Setelah itu, cetak dan masukkan tiketmu ke dalam sebuah kotak kaca.

Nah, di akhir pameran nanti tiket tersebut akan diundi sehingga kamu berhak untuk mengikuti undian berhadiah satu unit Daihatsu Ayla.
Beh, masuk-masuk gratis. Pulang-pulang bawa mobil ๐Ÿ˜
Indonesia Properti Expo

Acaranya di mana dan sampai kapan?


Hehe.. Hampir lupa kasih tahu kalau pagelaran ini diadakan di Hall A dan B Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta dan berlangsung mulai dari 2 – 10 Februari 2019.

Sebenarnya, IPEX akan digelar sebanyak tiga kali selama 2019 ini, yakni di bulan Februari, Juli, dan November.

Namun saran saya, ada baiknya jika kamu datang dulu yang di Februari ini. Mumpung masih berlangsung ye kan?

Indonesia Properti Expo

Nanti kalau belum ada yang sreg, boleh datang lagi di dua waktu berikutnya. Tapi masa’ iya dari 600 proyek properti itu tidak ada yang nyangkut?
Untuk mendukung Indonesia Properti Expo 2019, ada berbagai acara lain yang digelar, seperti seminar yang berkaitan dengan milenial, properti, dan perencanaan keuangan, talkshow Fengshui, atraksi barongsai, lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak, opera anak, lomba foto Instagram, beberapa live music, hingga bincang-bincang dekorasi rumah ala Instagram.

Indonesia Properti Expo

Agar Rumah Lebih Instagramable

Nah, yang terakhir ini tidak kalah menarik nih! Pasalnya, para pembicaranya yakni Adelya Vivin Kumidaninggar dan Irma Alaydrus  memang merupakan seorang praktisi.

Hal ini bisa kamu selidiki dari feed Instagram mereka. Sungguh sangat menyerupai foto-foto rumah ala Pinterest.
Indonesia Properti Expo

Lah, kok bisa sih? Bukannya yang ginian hanya ada di negara Jepang dan Skandinavia sana?

Bisa dong! Adel dan Irma membagikan beberapa tips yang bisa kamu lakukan agar rumahmu dapat tampil lebih Instagramable. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan dulu tema rumah. Tema-tema tersebut antara lain minimalis, Japanese, bohemian, serta industrial.
  2. Pakai warna-warna netral atau lembut untuk cat rumah dan warna perabotan.
  3. Manfaatkan pencahayaan alami
  4. Jangan malas untuk mengubah tata letak barang-barang yang ada di dalam ruangan
  5. Letakkan tanaman hidup seperti rubber tree, fiddle leaf, palm tree, atau monstera

Oiya, yang paling penting selalu sesuaikan budget yang ada ketika akan membeli perabotan atau dekorasi rumah, ya!

Dengan rumah yang nyaman, saya tidak perlu lagi menghabiskan banyak uang untuk nongkrong cantik di kafe.

Bayangkan, tiap Sabtu Minggu, Ade dan saya selalu menjadikan kafe sebagai tempat kerja dan ngumpul dengan teman-teman.
Padahal, jika punya rumah yang nyaman dengan pengaturan sedemikian rupa, bukan tidak mungkin kami justru bisa mengajak teman-teman untuk nongkrong di rumah. Iya gak?

Indonesia Properti Expo

Indonesia Properti Expo

Atau jika tidak ingin repot-repot, ada banyak kok rupa-rupa rumah impian yang sudah ditata sedemikian rumah sehingga tampak Instagramable yang tersedia di Indonesia Properti Expo 2019.

Tinggal pilih!

***

Amunisi Kreasi dari Narasi

narasi tv

Saya sebenarnya kecewa. Sesudah Narasi mengunggah pengumuman peserta yang lolos Narasi Content Workshop 2019, saya langsung mengecek email, namun tidak mendapatkan apa-apa.

Padahal di postingan Instagram tersebut terdapat pemberitahuan agar segera mengecek email untuk konfirmasi kedatangan.

Terima kasih juga untuk para peserta yang belum terpilih, tetap terus berkarya.

Jam kantor masih enam jam lagi, tapi saya sudah tidak lagi bersemangat untuk kerja.
Keesokan siangnya, saya dibuat girang dengan pesan Whatsapp yang menyatakan bahwa saya lulus Narasi Content Workshop 2019.
Malamnya, saya pun mendapat email resmi perihal kelulusan ini lengkap dengan jadwal acara.

Saya mengumpulkan amunisi-amunisi yang dihamburkan selama acara berlangsung untuk menjadi pengingat dan pembeda konten-konten yang barangkali kelak akan kamu produksi di tengah tsunami konten.

Baca juga: 5 Nasihat Content Creator

Kenapa Konten Butuh Jurnalistik?

narasi tv

Pertanyaan ini disodorkan oleh Imam Wahyudi, salah seorang anggota Dewan Pers Indonesia dalam kelas pembuka pelatihan yang berlangsung dari 26 -27 Januari ini.

Laki-laki paruh baya ini tampil enerjik selama berbagi materi. Menurutnya, media internet merupakan media paling berpengaruh dibandingkan dengan media-media lainnya.

Internet bak mukjizat yang mampu membuat siapa saja menjadi siapa pun. Sementara jurnalistik hadir sebagai pembeli nilai.

Langkah pertama untuk menjadi konten kreator adalah dengan mengusung nilai-nilai jurnalistik di dalamnya.

Pasalnya, ada delapan nilai yang dianut oleh ilmu jurnalistik yang mampu membuat sebuah konten lebih berfaedah.

narasi tv

Saya kepikiran.

Ketika semua hal-hal di atas telah dianut dan dilakukan secara konsisten untuk semua konten sementara konten tersebut tidak menjangkau dan berpengaruh kepada masyarakat, apa yang harus dilakukan sebagai konten kreator?

Untuk pertanyaan ini, ilmu jurnalistik juga punya jawabannya. Hal ini pula yang barangkali dianut oleh semua media cetak dan elektronik selama ini.
Ada baiknya jika membuat konten-konten yang menyentuh hal-hal dasar seperti keamanan, keuangan, kenyamanan, untuk membantu audiens menentukan sebuah pilihan, serta konten yang luar biasa.
Hal terakhir bisa saja menjadi sulit. Butuh kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri sehingga mampu menjadi atas rata-rata.

Perbedaan Manusia dan Monyet

narasi tv

Trivet membuka sesinya dengan menanyakan perbedaan manusia dan monyet.

Beruntung, saya telah menghabiskan separuh dari Sapiens, salah satu karya terpenting dari Yuval Noah Harari.

Di buku tersebut, Yuval memaparkan secara logis sebuah alasan kenapa manusia Homo Sapiens menjadi spesies manusia yang paling bertahan hingga hari ini.

Karena kemampuannya bercerita. Begitu jawaban saya terhadap Trivet yang sebenarnya saya kutip dari Sapiens.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan ini. Yang menjadi pembeda adalah keahlian kita dalam melakukannya.

Bagi banyak brand, khususnya Apple dan Samsung, mereka menggunakan salah satu cara bercerita yakni Golden Cyrcle.

Jika Apple menerapkan Why-How-What untuk mengenalkan produknya, maka Samsung memulai proses berceritanya dengan What-How-Why.

Selanjutnya, kenapa sebuah cerita membekas?

Menurut Founder Proud Project ini, kuncinya adalah Concrete, Unexpected, Emotional, and Simple (CUES).

Sebuah cerita akan menarik jika kita menggunakan penggambaran atau simbolisme ke dalamnya, misalnya bahagia itu seperti berak.

Adanya cerita-cerita yang tidak diekspektasikan sebelumnya juga mampu membuat sebuah cerita membekas.

Kamu tentu tahu kalau memasukkan unsur emosi dalam sebuah cerita akan menarik perhatian banyak orang. Jelas, emosi tersebut bisa menjadikan cerita gampang diingat.

Terakhir, cerita-cerita yang sederhana akan menjadikannya manis dan mudah dikenang. Masih ingat saat kamu pertama kali jatuh cinta?

Sederhana dan membekas bukan? ๐Ÿ˜

Fotografi adalah Pengetahuan

narasi tv

Pada jadwal acara yang terlampir di email, sesi pertama hari kedua akan dibawakan oleh Rara Sekar dan Ben Laksana dengan judul Shifting Mind-Sets for a Digital Future.

Sepasang suami istri ini melakukannya dengan lebih, hanya menggunakan medium fotografi.

Di era revolusi industri 4.0, masyarakat Indonesia, kononโ€”adalah salah satu masyarakat paling visual di dunia. Pendapat ini ditunjang oleh keberadaan Instagram sebagai aplikasi fotografi.

Hari ini siapa sih yang tidak punya akun Instagram?

narasi tv

Fotografi sebagai medium ibarat sebuah senjata. Pasalnya, satu foto mampu membentuk opini terhadap sesuatu. Itulah kenapa sebuah foto tidak sempurna.

Butuh pemahaman lebih untuk mengetahuinya.

Di lain sisi, fotografi adalah pengetahuan. Untuk memahami satu foto, ada baiknya jika seseorang melihat berbagai perspektif yang ada di sekeliling foto tersebut, seperti ras, gender, hak asasi manusia, kelas masyarakat, dan lain sebagainya.

narasi tv

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa setiap konten kreator wajib bertanya, berdiskusi, dan mengonfirmasi serta membandingkan sumber-sumber yang ada.

Seorang konten kreator juga sebaiknya memperluas wawasan dengan teks, narasi foto, film, arsip, observasi, dan partisipasi.

Sesi ini dibawakan dengan sangat menarik.

Ada berbagai foto dan iklan yang dibedah melalui masing-masing sudut pandang peserta Narasi Content Creator Workshop.

Hikayat Pria Pembuat Konten

narasi tv

Adalah TB Putera yang membuat saya melongo dan ketawa-ketawa kecil dalam hati tiada henti selama presentasi.

Mengaku tidak suka yang ribet-ribet, pria yang mengusung potongan-potongan video di dalam karyanya santai saja duduk di kursi.

Sayangnya, tak ada yang benar-benar saya tangkap dari penjelasannya.

Hal ini disebabkan oleh apa yang dipaparkan adalah karya-karyanya yang selama ini dibuat.

Beruntung, di sesi tanya jawab ada beberapa pertanyaan yang menggelitik tentang menggabungkan karakter dan pasar.

TB lebih memilih karakter dan menjadi diri sendiri dalam berkarya. Hal ini terbukti dari karya-karya kolaborasi dengan berbagai brand yang dikerjakannya.

Selain sebagai kreator konten, pria ini juga berprofesi sebagai Creative Group Head di Gojek. Tau Gojek kan?

Baca juga: Go Food Festival, Go Cashless

Pecut Najwa Shihab

narasi tv

Oiya, mengakhiri workshop ini, secara bergantian kami tampil mempresentasikan karya kelompok sebagai hasil workshop.

Kebayang gak sih para pembuat konten dengan berbagai latar belakang medium kekaryaan ini berkolaborasi dalam satu karya?

Biar saya jabarkan satu per satu, Narasi Content Creator Workshop terdiri dari 25 orang. Beberapa di antaranya adalah fotografer, videografer, ilustrator, desainer grafis, youtuber, scripwriter, hingga penulis buku anak.

Tiap-tiap keahlian itu mempunyai spesifikasinya masing-masing, misalnya fotografer dokumenter dan street photographer.

Saya sendiri mendaftarkan diri sebagai Lifestyle Blogger.

Sewaktu kreator konten ini bergantian menjelaskan karya kelompoknya, salah seorang founder Narasi TV tiba-tiba masuk dan melipir ke tempat duduk di pinggir ruangan.

Saya terpana! Ya ampun, mbak Nana ๐Ÿ˜ฑ

narasi tv

Najwa Shihab menghabiskan sekira 30 menit bercerita tentang awal mula dia menjadi jurnalis dan kali pertama dia diturunkan untuk meliput, salah satu bencana terdahsyat abad iniโ€”gempa bumi dan tsunami Aceh 2004.

Kejadian inilah yang membuat dia berkomitmen untuk menghasilkan karya-karya terbaik dengan menggunakan seluruh inderanya; jurnalisme empati katanya.

Menghasilkan konten terbaik itu mengasah empati, mengolah rasa, menggerakkan orang, dan membawa dampak.

Saya menganga, cerita mbak Nana luar biasa. Perempuan ini nyata adanya.

Iya, selama bertahun-tahun saya menontonnya di layar kaca, memandangnya dari antara.

narasi tv

narasi tv

Terima kasih, Narasi TV untuk amunisinya! Workshop ini menjadi pembuka tahun yang menyenangkan untuk berlayar di badai digital. Terima kasih manteman peserta dan panitia yang sungguh menginspirasi!

***