Melancong ke 4 Negara

“Dan, jadi sudah berapa negara yang kamu datangi? Empat ya?” Syarif suatu waktu di obrolan ngidul.
Akhir 2016 saya harus pulang dari Kediri ke Makassar hanya untuk membuat paspor. Seleksi pertukaran pemuda yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dimulai di mana salah satu syarat utamanya adalah paspor.
Ketika pengumuman keluar, nama saya tidak tertera. Jadilah paspor pertama saya itu harus menganggur selama hampir 2 tahun sebelum digunakan. Saya beruntung karena dua dari empat negara yang saya kunjungi dalam kurun waktu dua tahun ini dibayarkan oleh kantor.
Iya, outing ke kantor membuat saya bisa jalan-jalan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Mari kita lihat negara-negara apa saja yang saya kunjungi.

Bangkok, Thailand

Perjalanan dimulai sesudah saya merayakan hari ulang tahun ke-26 tiga hari sebelumnya. Kami bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Dong Muang pada pagi-pagi sekali. Penerbangan pertama.
Saya tidak percaya untuk perjalanan ini karena seluruhnya ditanggung kantor. Jika kamu bekerja di biro periklanan, beberapa akan memberikanmu kesempatan untuk jalan-jalan setiap tahunnya. Ke luar negeri jika anggarannya mencukupi 😆
Seluruh perjalanan 4 malam 3 hari itu sudah diatur oleh biro perjalanan yang mengurusi kami sehingga kami hanya perlu mengikuti ke mana rombongan berjalan. Bagi saya yang baru pertama kali ke luar negeri, saya mengikut saja.
Bangkok, dalam perjalanan pertama saya menjejakkan kaki, adalah negara yang beda tipis dengan Indonesia. Semuanya masih berantakan, hanya saja tempat-tempat wisata yang kami kunjungi lebih teratur.
Di Bangkok banyak sekali turis Indonesia sampai-sampai di beberapa tempat wisata ada yang memajang harga dalam rupiah.

Hong Kong

Setahun berselang, masih dari kantor yang sama, saya berangkat ke Hong Kong. Saya tidak tahu harus menuliskan Hong Kong sebagai negara apa. Secara administrasi, negara ini termasuk ke dalam negara Republik Rakyat Cina (RRC).
Namun, keberadaan tempat ini dibatasi oleh batas-batas negara sehingga warga RRC yang mau masuk ke Hong Kong tetap memerlukan paspor dan kartu identitas lainnya.
Berbeda dari Bangkok, Hong Kok sangat teratur dan rapi. Tidak ada puntung rokok di jalan dan tidak ada orang yang merokok di sembarang tempat. Kota ini dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit berupa apartemen.
Mereka tidak tumbuh ke samping, tapi ke atas.
Satu hal yang membedakan outing ke Bangkok dengan ke Hong Kong adalah kami diberi satu hari bebas tanpa agenda dari biro perjalanan sehingga setiap karyawan yang berangkat bebas mengeksplor Hong Kong.
Beberapa dari kami ada yang ke Disneyland. Konon, tidak lengkap perjalanan ke Hong Kong jika tidak ke tempat wisata tersohor se antero Bumi ini. Sayangnya, saya tidak tertarik.
Saya memilih keluyuran naik MTR (mereka menyebutnya begitu, berbeda dengan di Jakarta di mana kita menyebutnya MRT) ke kawasan-kawasan apartemen yang tersohor. Hasilnya, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan melihat warga lokal hidup.

Johor Bahru-Kuala Lumpur, Malaysia

Sebelum jadwal libur lebaran dimulai, saya telah meninggalkan kantor terlebih dahulu. Saya mengambil cuti 2 hari sebelum libur. Saya telah mengantongi tiket ke Johor Bahru, Malaysia dua minggu sebelumnya.
Awalnya saya dan Ade berniat untuk pulang kampung ke Makassar, tapi harga tiket pesawat yang tidak masuk akal membuat kami memilih ke luar negeri. Iya, harga tiket pesawat pergi pulang Jakarta – Makassar seharga dengan biaya perjalanan kami selama seminggu di Malaysia.
Di Malaysia kami berkeliling di berbagai kota seperti Johor Bahru, Malaka, dan Kuala Lumpur. Menyenangkan sekali melihat kebudayaan baru dan benar-benar berbeda dengan kita, apalagi Malaysia tumbuh sedemikian pesat sehingga diprediksi mereka akan berganti status menjadi negara maju beberapa tahun lagi.
Oiya, karena perjalanan kali ini berbeda dari perjalanan sebelumnya yang diatur sepenuhnya oleh kantor, maka kami harus mengatur sendiri perjalanan ini—termasuk anggarannya.
Kami lebih banyak mengemper dan menggunakan transportasi termurah daripada bermahal-mahalan. Perjalanan ini dimulai pada 10 ramadan terakhir dan berakhir sehari sebelum lebaran tiba.

Singapura

Di sela-sela perjalanan selama di Malaysia, kami menyempatkan melipir ke Singapura sehari penuh dan berhasil.
Singapura adalah negara maju dan mereka sangat manusiawi dan teratur. Asri sekali karena banyak pepohonan dan menyenangkan sekali karena di setiap bangunan mereka punya tempat untuk nongkrong dan makan-makan.
Persoalan makanan inilah yang menjadi penggerak kami berkeliling di Singapura: dari jalan kaki, naik MRT, hingga menumpang bus-bus kecil. Oiya, kami tidak menginap di negara ini karena anggaran yang tidak mencukupi. Mungkin suatu saat.
Paspor saya akan kadaluarsa pada 2022. Saya berharap masih akan ada banyak negara yang akan saya lihat. Melancong ke negeri orang membuat saya belajar banyak hal; memberikan saya berbagai sudut pandang dan cerita-cerita menarik. Kamu?
***

5 Toko Buku Indie Jakarta Tempat Cari Inspirasi

toko-buku-indie-jakarta

Di tepi kiri Sungai Seine, Paris, Prancis terdapat sebuah perpustakaan kecil yang juga menjual buku-buku bernama Shakespeare and Co. Jika kamu pernah dengar nama-nama Ernest Hemingway, Jean Paul Sartre, atau Simone de Beauvoir, maka toko buku ini adalah bagian dari sejarah kepenulisan mereka.


Bagaimana ceritanya? 😕

toko-buku-indie-jakarta

Pada 1951 seorang veteran perang Amerika Serikat, George Whitman, pindah dari Negeri Paman Sam ke kota romantis, Paris. Untuk menghabiskan masa tuanya, dia membuat satu toko buku kecil bernama Le Mistral di Rue de la Bucherie.

Toko buku ini juga sebagai penghormatan terhadap Sylvia Beach, seorang Amerika di Paris yang sebelumnya juga memiliki toko buku dan terpaksa harus tutup karena pendudukan Jerman di Prancis yang menyebabkan depresi ekonomi.

toko-buku-indie-jakarta

Rue de la Bucherie berganti nama menjadi Shakespeare and Co pada 1964. George menjadikan toko bukunya juga sebagai tempat tinggal: makan dan tidur di situ. Beberapa orang pun bertamu ke tempat itu, termasuk para pemuda Amerika yang kabur dari wajib militer dan penulis-penulis yang saya sebutkan di atas.

Mereka menulis, membacakan puisi, dan menyanyi-nyanyi di tempat itu. Yang paling membuat anak George kesal adalah orang-orang juga menginap di Shakespeare and Co.

Toko Buku Indie di Jakarta

toko-buku-indie-jakarta

Berjarak 11.578 kilometer dari Paris, di daerah Jakarta Selatan dan Pusat tersebar beberapa toko-toko buku yang serupa. 5 di antaranya pernah saya kunjungi beberapa kali; baik untuk belanja buku, diskusi, nonton film, hingga sekadar mencari informasi.

Oiya, toko buku indie itu adalah yang dijalankan secara independen baik perorangan atau kelompok. Toko buku seperti ini sangat mudah ditemui di daerah Jakarta Selatan. Untuk memudahkan kamu, saya buat daftarnya mulai dari yang dulu terjauh hingga toko buku terdekat dari tempat saya tinggal di Slipi Kemanggisan, Jakarta Barat.

Baca juga: Jakarta Creative Hub

Kios Ojo Keos

toko-buku-indie-jakarta

Menarik ya namanya? Toko buku indie Kios Ojo Keos ini dikelola secara independen oleh keluarga Efek Rumah Kaca. Iya, band indie yang tersohor itu!

Jika dihitung-hitung saya sudah ke tempat ini 4-5 kali, hanya untuk menonton film dan mendengarkan orang main musik. Lokasinya yang berada di selatan Jakarta, tepatnya di daerah Lebak Bulus membuat kamu harus menumpang MRT kalau mau ke sini.

toko-buku-indie-jakarta

Kios Ojo Keos tidak hanya sebagai toko toko buku tapi juga kedai kopi dan toko kaset. Toko buku yang berada di deretan ruko ini mempunyai beberapa agenda kegiatan seru, mulai dari diskusi, nonton film, hingga open mic yang dilakukan setiap minggunya, jadi jika mau update segera follow Instagramnya.

Alamat: Bona Indah Plaza Blok A2 Nomor B11, Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 11240.

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 12 malam

Post Santa

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku ini bisa disebut sebagai tempat nongkrongnya para penulis. Setiap ada buku yang baru terbit, Post Santa akan mengadakan diskusi terkait buku tersebut dengan mengundang penulisnya.

Baca juga: Tips Menulis Haruki Murakami

Saya sudah tidak bisa lagi menghitung jumlah kunjungan saya ke Post Santa.

toko-buku-indie-jakarta

Soalnya, mereka menggelar toko buku indie ini di lantai 3 Pasar Santa di Jakarta Selatan dan ada banyak tempat yang bisa saya kunjungi di sana.

Semua buku yang dijual di Post Santa adalah buku-buku yang tidak ditemukan di toko buku besar. Pemilik Post Santa—Teddy dan Maesy—mengkurasi dengan baik buku-buku yang dijual sehingga beberapa orang sering mendapatkan rekomendasi buku dari si empunya toko 😊

toko-buku-indie-jakarta

Beberapa majalah, zine, serta buku-buku yang diterbitkan secara independen pun bisa kamu temukan di tempat ini. Oiya, perlu dicatat Post Santa hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 3 sore hingga jam 8 malam, ya!

Baca juga: Bukan Lagi Koran

Alamat: Lantai 3 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat, Sabtu, Minggu Pukul 3 sore – 8 malam

Gueari Galeri

toko-buku-indie-jakarta

Kalau Kios Ojo Keos dan Post Santa menjual buku-buku yang berisi teks, maka Gueari Galeri tampil beda dengan menjual buku-buku foto.

Di Indonesia, jumlah buku foto yang terbit setiap tahunnya sudah mulai banyak sehingga dibutuhkan ruang bagi para fotografer untuk menjual karya mereka agar keberlanjutan dokumentasi berupa buku bisa terus hidup.

toko-buku-indie-jakarta

Gueari Galeri sebagai toko buku indie yang bergerak di bidang visual juga sering menggelar diskusi-diskusi menarik tentang isu-isu yang dibahas di buku fotografer tersebut.

Oh, Gueari Galeri berada di bawah satu lantai dari Post Santa. Jadi bisa sekalian dong ya 😎

Alamat: Lantai 2 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat & Sabtu Pukul 6 sore – 10 malam

Aksara Kemang

toko-buku-indie-jakarta

Masih berada di kawasan Jakarta Selatan, ada satu toko buku indie yang tidak boleh kamu lewatkan: Aksara Kemang. Dinamai Aksara Kemang karena letaknya yang memang berada di Kemang, tempat hits di Jaksel itu loh.

Di awal, Aksara sendiri sebenarnya punya banyak toko buku yang tersebar di berbagai tempat di Jakarta, seperti Cilandak Town Square dan Pacific Place. Usai berjuang selama 17 tahun, toko-toko tersebut harus tutup pada April 2018.

Bahkan Aksara Kemang ini sempat terpaksa harus tutup sebelum buka lagi dengan tampilan baru.

toko-buku-indie-jakarta

Saya rasa menjalankan bisnis toko buku di Indonesia memang tidak pernah mudah. Masyarakat Indonesia yang tidak suka membaca membaca menjadi salah satu alasan. Belum lagi perkembangan teknologi dan kecepatan internet membuat buku fisik harus berebut tempat dengan buku digital.

Baca juga: Jokowi Sedang Tidak Bercanda

Aksara Kemang ini tidak hanya berjualan buku seperti dulu, tapi mereka berkolaborasi dengan Post Santa untuk mengkurasi buku-buku apa saja yang baik untuk dijual. Ada juga rak khusus untuk buku-buku anak 👶

Sama dengan Post Santa mereka juga menjual majalah dan zine. Oh, ada juga buku foto!

“Selamat toko buku masih ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” Tan Malaka, Madilog.

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku indie di Jaksel ini juga bisa menjadi one stop solution bagi kamu yang ingin baca-baca buku atau kerja atau duduk-duduk cantik sambil ngopi. Menarik kan? Tidak hanya itu, Aksara juga menyediakan ruang untuk komunitas sehingga kamu bisa berkegiatan atau berdiskusi di sana.

Alamat: Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Bangka, Jakarta Selatan 12730

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 9 malam

Toko Buku Jose Rizal Manua

toko-buku-indie-jakarta

Mari move on dari toko-toko buku indie di Jaksel. Yang paling dekat dari tempat tinggal saya adalah Toko Buku Jose Rizal Manua. Nama tokonya persis dengan nama pemiliknya. Doi adalah seorang pengarang dan pemain teater.

Lokasi toko buku indie yang satu ini berada di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Berbeda dengan toko buku yang lain, toko ini punya koleksi buku-buku lama, baik sastra, sejarah, budaya, hingga politik. Beberapa buku bisa kamu tawar.

Oiya, kalau main ke toko buku ini seperti membawa kamu ke masa lalu. Buku-bukunya dibiarkan bertumpuk, beberapa di makan rayap dan tikus sehingga bau buku akan sangat tercium saat masuk.

toko-buku-indie-jakarta

Para pengunjung bebas mencari sendiri toko buku yang diinginkannya. Kalau lagi buru-buru atau kesulitan menemukan buku yang kamu cari, jangan ragu untuk bertanya ke yang jaga. Mereka dengan senang hati akan membantumu 😆

Kalau beruntung, kamu akan dilayani oleh Jose Rizal Manua sendiri dan bisa berbincang dengan dia dan kucing-kucingnya.

Alamat: Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat 10330

Waktu Buka: Setiap Hari 9 pagi – 11 malam

Gimana? Menarik kan? Siapa bilang toko yang menjual buku-buku bagus hanya ada di mall-mall? Sama seperti Shakespeare and Co di Paris, toko-toko buku indie di Jakarta ini juga memungkinkan kita untuk menambah wawasan dan memperluas pertemanan secara gratis.

Kalau kamu punya toko indie andalan yang juga bisa dijadikan tempat cari inspirasi di dekat tempat tinggalmu, boleh dong berkabar di kolom komentar 😀

***

Setahun Lebih Jadi Content Writer

cara-menjadi-content-writer


“But I know you’re getting older, growing, changing. I guess, if I’m being really honest that is what scares me. I don’t want things to change,” Jim Hopper, Stranger Things.


Tepat pukul 00.00 semalam saya menghabiskan episode 8 terakhir Stranger Things 3. Episode tersebut diakhiri dengan pembacaan surat Hopper yang dilakukan oleh El.

Hopper benci perubahan.

Sialnya, hidup berubah dan kamu tidak bisa menghentikannya, termasuk saya.

Baca juga: Stranger Things yang Membangunkan Ingatan

Sesudah 20 Maret 2019 saya menghabiskan banyak waktu untuk merenung tentang hidup. Apa-apa saja yang sudah lewat dan mengira-ngira apa yang bakal terjadi.

Waktu berjalan dengan cepat.

Saya menemukan diri saya menghabiskan 1 tahun 7 bulan bekerja di sebuah agensi. Hal ini memang berapa kali saya bayangkan semasa kuliah; bekerja di industri periklanan.

Oiya, banyak orang yang bilang kalau untuk mendapatkan sesuatu kamu cukup membayangkannya terlebih dahulu? 😉

Belakangan saya menghabiskan 5 hari dalam seminggu untuk menulis, mengedit, serta mengajukan konsep-konsep bahasan di bulan berikutnya.


Jika menulis saja jelas tidak jadi soal. Hanya saja saya perlu menggabungkan kemampuan menulis serta keahlian memunculkan tulisan tersebut di halaman pertama mesin pencari: Google.

Hal inilah yang disebut sebagai Search Engine Optimization (SEO) Content Writing. Ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk melakoni bidang ini. Saya membuat daftarnya dan bisa kamu bookmark, kalau-kalau suatu saat kamu butuh.

cara-mudah-menjadi-content-writer

Menjawab Pertanyaan

Dalam banyak hal menulis sering kali dijadikan cara untuk menjawab pertanyaan, terlebih khusus Content Writing. Panduan membuat konten yang baik hanya dua: menghibur atau informatif.

Mengajukan sebuah pertanyaan di awal lalu menjawab di bagian tengah dan akhir tulisanmu akan menarik pembaca. Jalinan-jalinan informasi yang dibuat ini akan menjadikan kontenmu berkualitas.

Baca juga: Amunisi Kreasi dari Narasi

Mengenal Pembaca

cara-mudah-menjadi-content-writer

Saya tertolong dengan beberapa klien yang memberikan product knowledge serta do’s & dont’s sehingga tidak perlu lagi membayangkan siapa pembaca tulisan saya. Sialnya, tidak semua klien paham betul tentang apa produk yang dijual dan siapa target pasarnya.

Jika sudah begini, saya harus melalukan riset kecil-kecilan sendiri terhadap siapa pembaca seperti apa yang akan saya hadapi. Beginilah seharunya content writer bekerja, bukankah menulis adalah cara berkomunikasi? 😒

Mampu dan Mau Meneliti

tips-menjadi-content-writer


Salah seorang guru saya pernah bilang begini, “Jangan pernah menganggap kata ‘meneliti’ sebagai sesuatu yang ribet dan hanya  dilakukan oleh akademisi!”

Meneliti di KBBI diartikan sebagai memeriksa. Untuk sebuah tema tulisan yang akan kamu buat, jangan malas untuk meneliti. Beberapa hal yang perlu kamu ketahui yakni kata kunci apa yang akan digunakan, sudut pandang mana yang akan dipilih, serta seberapa dalam tulisan tersebut akan dihasilkan.

Dan saya rasa—tulisan yang baik tidak hanya yang mampu menjawab pertanyaantapi juga mampu memberikan informasi mendalam bagi pembaca yang tidak ditemukan di tulisan-tulisan lainnya.

Kalau tulisan kita biasa saja, apa yang membedakan kita dari yang lain? 😕

Memainkan Peran

Melakoni pekerjaan sebagai content writer selama 1 tahun 7 bulan ternyata memberikan saya banyak sudut pandang baru. Soalnya, saya telah menghasilkan banyak konten dari berbagai bidang, mulai dari asuransi, kesehatan, FMCG (makanan dan minuman), ibu dan anak, otomotif, properti, alat berat, hingga kecantikan.

Baca juga: Kenapa Saya Lolos Danone Blogger Academy?

Seluruh bidang tersebut mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam bertutur dan menyampaikan sesuatu sehingga setiap kali menuliskan satu bidang tertentu maka setiap itu pula saya wajib berganti peran.

Beruntungnya, semua ini ternyata memperkaya saya sebagai seorang pribadi sehingga tidak lagi menilai sesuatu (apapun itu) hanya dari satu sudut pandang.

Merayu Pembaca

cara-mudah-menjadi-content-writer

Konon, sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggerakkan pembaca. Hal ini pun saya amini sebagai content writer dan juga blogger.

Setiap penulis konten harus mampu merayu dan menggerakkan pembaca untuk melalukan sesuatu, entah itu untuk membeli produk khusus atau mengunjungi sebuah halaman situs tertentu. Hal inilah yang dikenal sebagai Call to Action (CTA).

Semakin jago kamu menggerakkan pembaca, semakin bagus kualitasmu sebagai content writer. Sialnya, tren CTO ini berubah-ubah seiring perkembangan waktu sehingga kamu perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilanmu.

Baca juga: Infografis untuk Blogger

Oiya, dua hal lagi yang perlu kamu kuasai yaitu membuat video dan infografis. Soalnya, para pembaca yang kita hadapi hari ini semakin menyukai hal-hal yang berbau visual sehingga setiap konten tulisan yang dibuat patut memasukkan video dan infografis.

Sebagai seorang pembaca, saya pun akan terkesan dengan hadirnya dua hal ini di dalam tulisan. Kamu gimana? 😏

***

Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 2)

jalan-jalan-ke-malaysia

“Butuh 15 tahun untuk mengelilingi dunia. Saya butuh satu setengah tahun lagi,” ujar Christianus kepada kami semua.

Di ruang makan dan berkumpul Double K Hostel pagi itu ada 5 lima orang: saya, Ade, seorang perempuan paruh baya turis Jepang, seorang laki-laki gondrong turis Korea, dan Christianus, seorang Belanda yang menikah dengan perempuan asal Bogor.

Kami menghabiskan sarapan sambil ngalor ngidul. Kebanyakan percakapan didominasi oleh Christianus yang berkisah mengenai perjalanannya keliling dunia.
Si turis Jepang baru saja memulai perjalanannya. Malaysia negara pertama yang dia kunjungi, sedangkan si turis Korea sedang dalam perjalanan. Dia akan ke Kalimantan setelah dari Johor Bahru. Sementara Ade dan saya meneruskan rencana untuk ke Singapura.

JB Sentral ke Woodland

Ade dan saya pamit kepada mereka sesaat jarum jam menunjukkan angka 9. Kami akan menyeberang dari JB Sentral ke Woodland dan menghabiskan satu hari di Negeri Singa.

Kamu harus tahu ini!

Kami membeli tiket kereta api di JB Sentral seharga 17 ribu rupiah dan menyeberang ke Singapura. Perjalanan melintas batas negara ini cuma 5 menit, tepat 5 menit. Yang lama justru mengantri di imigrasi Singapura; sejam kurang lebih.

Tujuan pertama kami adalah Bugis Street, tapi sebelumnya kami harus membeli dulu tiket Tourist Pass agar perjalanan naik MRT dan busnya lebih gampang dan murah.

Singapura itu negara yang manuasiawi, menurut saya. Akses ke transportasi umum sangat mudah, kota di tata sedemikian rupa. Negara maju ini meski punya banyak bangunan mewah tapi juga punya banyak taman dan tanah.

Iya, di Jakarta saya kesulitan menemukan taman dan jarang melihat tanah. Seluruhnya ditutupi oleh aspal dan paving block.

Kuliner di Singapura

kuliner-enak-di-singapura

Kami menandaskan Tom Yam dan  Nasi Ayam Mongolia di Bugis Street, berkeliling di kitaran Haji Lane dan Arab Street, lalu singgah di Ramadan Sultan Bazaar di kawasan Masjid Sultan. Kata Ade, “Ini makanan yang paling sesuai di lidah selama jalan.”

Oiya, beberapa hari sebelum berangkat kami maraton Street Food di Netflix. Yang menarik perhatian adalah Putu Piring. Jadilah kami melipir ke Haig Road untuk mencari makanan yang kalau di Makassar namanya Putu Cangkir.

kuliner-enak-di-malaysia

Baca juga: Kuliner Bugis Makassar

Rasanya gimana? Tekstur Putu Piring jauh lebih lembut dibanding Putu Cangkir, tapi saya lebih suka Putu Cangkir, barangkali karena saya adalah orang yang kasar? Ga ding, saya cuma suka sesuatu yang bisa dikunyah.

kuliner-enak-di-singapura

Diam-diam Ade menyimpan daftar kuliner lainnya sehingga perburuan kuliner pun berlanjut ke Teh Tarik. Lokasinya agak jauh dari Haigh Road dan sialnya saya lupa nama tempat tersebut. Yang jelas, kami dipermudah dengan bus yang kalau di Jakarta namanya Transjakarta.

Satu hal lagi yang membuat negara ini manusiawi adalah adanya Hawker Centre di setiap apartemen dan kompleks tempat tinggal. Menyenangkan sekali melihat orang-orang berkumpul, makan-makan, dan tertawa lebar-lebar.

kuliner-enak-di-singapura

Di Indonesia, Hawker Centre sering disebut pusat kuliner. Tempat seperti ini memang banyak ditemui di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Urbanisasi yang bermula di awal tahun 1950-an menjadi pemicu munculnya spot-spot seperti ini.

Dari Johor Bahru ke Malaka

malaysia-singapura-lewat-woodland

Supaya tiket Tourist Pass kami bisa direfund, kami harus kembali ke Woodland Central sebelum loket tiket tutup jam 9 malam.

Tepat pukul 11.30 malam kami tiba lagi di JB Sentral, kereta Singapura-Malaysia ini tepat waktu sekali.

Malam itu menjadi malam kedua kami mengemper karena sudah tidak lagi memesan penginapan. Sayang, tiket bus kami akan berangkat pukul 10 pagi dari Larkin Sentral ke Malaka. Drama mengemper dimulai saat petugas JB Sentral mengusir semua orang yang duduk di kursi ruang tunggu.

Di JB Sentral tidak ada tempat untuk mengemper.

cara-ke-larkin

Lewat tengah malam kami berjalan ke sebuah minimarket tak jauh dari JB Sentral. Tujuannya untuk mencari tempat yang aman untuk tidur. Hasilnya nihil karena kami hanya malah menyantap popmie.

Setelah popmie tandas, kami berpindah ke laundry 24 jam yang berada di lantai bawah Double K Hostel. Sayangnya, di tempat tersebut ada tulisan besar-besar dilarang tidur.

Akhirnya, kami memutuskan menyeberang ke terminal Larkin yang memang posisinya tidak jauh. Lewat pukul 3 pagi barulah kami saya bisa tidur nyenyak.

Ade mengigil karena AC ruang tunggu terminal memang dingin sekali dan dia mengganggu saya: mengeluh kedinginan.

Pukul 10 pagi menjadi waktu yang paling kami tunggu. Perjalanan ke Malaka akan dimulai! Sialnya, tiket yang kami terima salah tanggal. Tiket tersebut harusnya berlaku sehari sebelumnya. Setelah komplain sana sini, jadilah kami harus membeli tiket baru.

Dua Hari di Malaka

destinasi-wisata-di-malaka

Jleb! Orang-orang sedang salat jumat ketika kami tiba di Malaka. Saya lupa hari.

Sesudah menyelesaikan urusan check-in, kami langsung tidur dan bangun sebelum maghrib.

Saya jatuh cinta dengan kota ini sesaat menyaksikan langitnya berubah jadi gelap. Kami melintas di jembatan yang dibangun puluhan tahun silam dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Di sekeliling kami bangunan-bangunan tua berdiri kokoh dengan anggunnya.

destinasi-wisata-di-malaka

Kami menuju Jonker Street atas petunjuk resepsionis. Di sana memanjang pasar malam dengan rupa-rupa makanan. Sayup-sayup lagu Mandarin mengalun berebut ruang dengan sorak sorai penjual, tukang becak, dan perbincangan para turis dengan berbagai bahasa berbeda.

Jonker Street ini ternyata punya dua wajah, siang dan malam hari. Di siang hari bangunan-bangunan tua yang ada membuka diri menjual berbagai macam jualan dan malam hari bangunan tersebut akan tutup dan digantikan dengan lapak-lapak di depannya.

Butuh sekira 3 jam untuk menyusuri jalan ini.

destinasi-wisata-di-malaka

Keesokan harinya kami menjelajah bagian lagi dari Malaka. Bangunan-bangunan peninggalan Portugis, Belanda, dan para ‘tamu’ dari negara lain yang sempat tinggal di kota yang masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO.

Sejak kecil saya punya satu ingatan paling membekas tentang Malaka yakni nama seorang pelaut Portugis, Alfonso de Albuquerque.  Ingatan ini masuk melalui pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah.

Malaka selama lebih dari 500 tahun menjadi kota pertukaran budaya dan perdagangan antara orang-orang dari Timur dan Barat. Tempat lain yang punya hubungan erat dengan Malaka adalah Banda Naira di Indonesia.

oleh-oleh-kuala-lumpur

Di satu toko di Jonker Street saya menemukan tumpukan biji kopi, kayu manis, dan berbagai rempah lainnya yang dibungkus kecil-kecil sebagai suvenir. Dahulu barang-barang ini menjadi rebutan berbagai bangsa, sekarang dijajakan sebagai buah tangan.

Baca juga: Makan dan Belanja di Thailand

Di kota kecil ini pula akulturasi budaya terjadi: daya tarik yang membuat saya untuk memutuskan menghabiskan dua hari di Malaka.

Kuala Lumpur ke Jakarta

cara-ke-bandara-dari-kl-sentral

Harga tiket menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pulang ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Kota pertama yang kami singgahi sebelum benar-benar sampai di Kuala Lumpur adalah Putrajaya.

Kota yang berdiri pada 1995 ini membuat saya terkagum-kagum. Bayangkan, di siang hari sewaktu kami menumpang bus dari terminal Putrajaya ke pusat kota, jalanan benar-benar sepi.

ke-putrajaya

Hanya ada satu dua orang berjalan di daerah yang penuh bangunan besar dengan desain artistik, futuristik, sekaligus menawan. Angin berembus pelan dengan daun-daun kering berguguran di tanah.

Seperti menonton film-film Sci-fi.

Malaysia tidak main-main dalam membangun pusat administrasi negaranya.

Sesudah salat ashar di Masjid Putra kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan tiba di Jalan Alor untuk makan malam.

kuliner-di-jalan-alor

Ini kali pertama saya ke Kuala Lumpur, sedangkan Ade menjadikan perjalanan ini sebagai kali kedua kedatangannya. Sambil menikmati makan malam di tengah kerumunan turis dan di bawah gerimis di pusat street food Malaysia, kami kebingungan mencari penginapan.

penginapan-murah-di-kuala-lumpur

Pagi-pagi sesudah check-out di hotel—yang menjadi penginapan terburuk sepanjang perjalanan kami—hujan turun dengan derasnya. Kami menunggu beberapa jenak sebelum Grab yang akan mengantar kami ke KL Sentral datang.

Pengemudinya seorang pria paruh baya dengan perawakan tambun. Dia berbicara dengan semangat sekali, menjawab, dan menjelaskan secara panjang lebar.

Kami diturunkan tepat di depan pintu masuk KL Sentral dan bergegas mencari loket tiket ke Genting—yang sayangnya harus batal karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk ke lokasi wisata tersebut.

The-Zhongshan-Building

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Hasilnya, kami keliling-keliling di dalam kota saja, terutama di The Zhongshan Building dan di kawasan Pasar Seni Kuala Lumpur. Baru pada pukul 10 malam kami menumpang bus Aerobus (alternatif termurah dari Kuala Lumpur ke Bandara KLIA 2).

Kami mengemper lagi di bandara KLIA 2 sebelum menuju Jakarta pukul 8 pagi. Kami tiba di Jakarta pukul 11 siang tanggal 4 Juni 2019. Perjalanan ini pun tepat seminggu.

***

Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 1)


“Ini sudah mau mudik ya?”

Belum sempat saya menjawab, pria berlogat Sunda yang mengantarkan saya dan Ade ke terminal 2 Bandara Soekarno Hatta lalu menimpali pertanyaannya, “Wah, enak sekali! Anak online mah belum bisa mudik secepat ini.”
Naik Grab adalah alternatif kedua yang kami pilih setelah mempertimbangkan macet dari Blok M ke bandara. Padahal awalnya kami sudah duduk manis di Damri karena sudah dijanji oleh petugas yang berjaga bahwa busnya akan tepat waktu.

Sayang, busnya baru akan jalan jam 6 sore sementara pesawat kami ke Johro Bahru boarding terakhir jam 7.15 WIB.

“Takutnya tidak kekejar. Macet di pintu tol Semanggi,” ujar sopirnya.

Jadilah kami terpaksa menumpang Grab dengan harga yang kelewat mahal karena memang jam pulang kantor.

Drama selanjutnya yang terjadi sebelum kami boarding adalah Tea Tree The Body Shop berukuran 250ml yang sudah jelas-jelas tidak akan dibiarkan masuk kabin. Kami memutar arah ke loket penyimpanan bagasi.
Sialnya, saya lupa kalau tiket pesawat Air Asia yang saya beli dua minggu sebelumnya ternyata tidak dengan bagasi. Cairan pencuci muka tersebut akhir saya pindahkan setengahnya ke botol plastik untuk Ade simpan di dalam tasnya.
Sampai di sini aman. Perjalanan dari Jakarta ke Johor Bahru menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam pun kami tempuh.

Menginap di Musala Bandara Senai

“Ada mak di sana,” tunjuk resepsionis yang Ade tanyai sesampainya di Bandara Internasional Senai jelang pukul 12 malam. Kami kelaparan dan semua toko yang ada di dalam bandara sudah tutup.

Aroma rumput basah menyeruak di halaman bandara. Terasa embun turun satu per satu. Ada tiga mobil sedan yang mengantre di depan pintu. Kami menyeberang dan menuju lampu merah kuning berbentuk huruf M yang menyala.
Mak yang dimaksud ternyata McDonalds. Logat Melayu campur Inggris ini kemudian membuat kami pusing selama 6 hari 7 malam di Negeri Jiran.
Oiya, malam pertama kami tidur di musala bandara. Orang sana menyebutnya surau. Sayangnya, kami tidak tahu jika musala di Malaysia selalu punya ruangan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Pantas saja semua mata tertuju pada kami saat tidur di musala yang baru pada pagi harinya kami tahu kalau itu musala khusus laki-laki.

Jalan Kaki di Johor Bahru

Baru setelah toko-toko sudah buka, tempat makan melayani para pelanggan, dan jarum jam menunjuk pukul 8 pagi kami menuju ke konter bus untuk membeli tiket menuju kota Johor Bahru. Jarak bandara dan pusat kota tepatnya JB Sentral (ini terminal bus dan kereta api) sekisar 40 menit.

Saya sebenarnya tidak punya itinerari selama di Malaysia. Barulah saat tiba di JB Sentral saya dan Ade menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama di kota ini dan ke mana kita setelahnya.
Toh, tiket pulang juga belum dibeli.

Jadilah saya memanfaatkan Google Maps dalam versi offline untuk mengunjungi rekomendasi places to visit in Johor Bahru. Apa saja? Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Salahuddin Bakery

Dari JB Sentral kami jalan kaki ke Salahuddin Bakery: toko roti yang awalnya saya kira merupakan toko roti tertua di Johor Bahru. Jaraknya sekira 1,5 kilometer.

Selama perjalanan kami menyinggahi beberapa konter hape untuk membandingkan harga sim card. Saya menyerah tidak punya paket data internet.
Oiya, ini tips buat kamu yang akan berkunjung ke Malaysia lewat Johor Bahru. Belilah kartu di bandara dengan logo Digi, letaknya di belakang booth informasi beberapa langkah dari konter bus.
Harganya 20RM untuk 9GB. Kalau beli di kota harganya 10RM untuk 1,5GB. Tidak masuk akal kan? Tapi itulah kenyataannya. Awalnya kami pikir 20RM dengan paket 9GB itu mahal dan harga bandara biasanya memang mahal kan?

Kali ini sebaliknya.

Daerah di sekitar Salahuddin Bakery itu membuat ingatan saya melayang ke berbagai film-film holywood dengan setting 80-90an. Bangunan-bangunan pendek dengan jalanan yang sedikit mendaki. Tempat makan yang riuh oleh orang-orang yang mengobrol.
Salahuddin Bakery berada di sebelah kanan pertigaan Jalan Dhoby, Bandar Johor Bahru. Papan namanya sudah usang dan cat yang mulai pudar sehingga hampir saja kami melewatkannya.
Selain roti-roti handmade yang fresh from the oven membentang di hadapan, di kiri kanan dindingnya juga berjejer foto-foto dan berbagai macam publikasi surat kabar tentang toko roti yang dibangun oleh seorang berperawakan India.

Sama dengan namanya, toko roti ini didirikan oleh Salahuddin yang merantau dari New Delhi ke Malaysia pada tahun 1925. Soal rasa, roti-roti Salahuddin bukan kaleng-kaleng. Iyalah, roti kan beda dengan kaleng. Maksud saya, bahan-bahan yang digunakan tidak membuat kita merasa seolah makan tepung.

Arulmigu Raja Mariamman Devasthanam

Dari Salahuddin Bakery kami kembali menyusuri jalanan yang sama; balik badan menuju Arulmigu Rajamariamman Devasthanam.

Agak ribet menyebut namanya, intinya ini adalah kuil Hindu tertua di Johor. Jika tadi orang-orang di sepanjang jalan Dhoby mayoritas dipenuhi oleh orang-orang Tionghoa, maka orang-orang di sekeliliing kuil tersebut kebanyakan orang India.

Matahari tepat di ubun-ubun saat kami tiba. Bau dupa menyeruak di udara. Sebelah kami, tepatnya depan kuil berjejer penjual bunga dan di seberangnya warung makan dan penjual dupa memenuhi jalan.

“Masuk buka kasut!” seorang satpam menegur kami yang terlihat kebingungan mondar mandir di depan kuil.

Kami melepas sepatu. Saya memakai sarung dan Ade bergegas mencuci kaki. Syarat untuk masuk ke Arulmigu Rajamariamman Devasthanam ini memang mewajibkan pengunjung untuk mencuci kaki.

Oh, tips berkunjung di kuil ini yakni pastikan juga kamu tidak bercelana pendek seperti saya. Kalau iya, ada sarung yang disediakan.

Kuil ini bagus sekali. Sekeliling dindingnya dipenuhi oleh gambar dewa-dewa agama Hindu yang berwarna-warni. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun karena sudah ada sejak 1911. Di salah satu sudut, kuil ini punya sederet nama yang telah berpartisipasi untuk menyumbangkan uang demi kelangsungan kuil ini.

Sewaktu kami berkunjung, kuil ini sedang dalam tahap renovasi. Tepat jam 12 siang sebuah terompet ditiup sebagai pertanda bahwa sebuah acara akan dimulai. Jika tidak salah, mereka sedang sembahyang. Ada 7 pria dewasa yang berperan pada acara tersebut.

Masjid India & Tan Hiok Nee

Dari kuil, kami ke masjid dengan menempuh jalan yang searah dengan Salahuddin Bakery. Barangkali begini rasanya jalan tanpa menentukan destinasi terlebih dahulu. Buolak balik!

JB Sentral dan tempat-tempat yang kami kunjungi ini berada di tengah kota Johor Bahru sehingga masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Setelah jalan sekira 500 meter kami tiba di Masjid India.

Omong-omong, masjid ini sebenarnya bukan tujuan kami karena yang kami tuju adalah istana raja. Rasa penasaran dengan tulisan raksasa “Masjid India” membuat kami singgah. Kok ya namanya Masjid India?

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Banyaknya orang-orang muslim di daerah Johor Bahru membuat masjid ini berdiri pada awal 1950. Lokasinya benar-benar strategis karena berada di kawasan pertokoan, bangunan kerajaan, hotel, bank, hingga kantor pos.

Di sampingnya memanjang Jalan Tan Hiok Nee. Kawasan bersejarah di mana peradaban Johor Bahru dimulai. Jalan ini pun tidak sengaja kami temukan saat mengarah ke istana raja. Jika kamu menyukai bangunan-bangunan tua, maka jangan pernah melewatkan jalan ini saat berkunjung ke Johor. Di malam hari dia berubah wajah menjadi pasar malam.

Oiya, sejarah Johor Bahru ini bermula ketika Sultan Johor waktu itu mengundang orang-orang dari Cina untuk berjualan dan bertani lada hitam dan gambir di daerah ini pada 1870-an. Hal ini juga dipicu oleh banjir dahsyat yang terjadi di Cina waktu itu.

Yang wajib kamu tahu, Johor Bahru dulunya bernama Tanjung Puteri dan berganti nama pada 1855. Kerajaan Melayu ini tidak punya apa-apa selain hanya sebagai kampung nelayan dan berada dalam jajahan Inggris untuk waktu yang lama.

Di mesum warisan Tionghoa Johor Bahru yang kami singgahi di Jalan Tan Hiok Nee menceritakan sejarah ini dengan sangat lengkap. Di satu dinding mereka memajang lini masa perjalanan Johor Bahru sebagai sebuah kota.

Di Jalan Tan Hiok Nee berjejer toko-toko tua yang menjual kain, barang-barang sembako, serta yang paling penting makanan. Iya, di jalan ini ada banyak warung makan yang bisa kamu singgahi. Di jalan ini juga ada sebuah toko roti yang lebih tua dari Salahuddin Bakery.

Baca juga: Kopi Kong Djie

Namanya Hiap Joo Bakery. Saya tidak singah di toko roti ini karena alasan malas mengantri. Saya lebih tertarik untuk mencicipi kopi di warung makan yang ada di depannya.

Double K Hostel

“Ada 4 istana raja di Johor Bahru. Yang itu tutup untuk umum,” sopir Grab menjelaskan kemalangan kami yang hanya bisa memandangi istana raja dari pinggir jalan.

Kami menuju Double K Hostel. Panas terik dan jalanan yang sepi membuat kami memutuskan ke penginapan. Double K Hostel ini terletak di daerah Larkin, agak jauh dari JB Sentral. Kalau naik Grab akan menghabiskan 11RM.

Oiya, hostel ini merupakan salah satu penginapan murah di Johor Bahru yang kami pesan beberapa jam sebelum check in. Kalau dirupiahkan, harganya cuma 152 ribu per malam dengan fasilitas Wifi dan sarapan. Untuk kamar mandinya pakai sistem sharing alias kamar mandi luar.

Tapi tenang saja, bersih kok. Yang menarik, kami bertemu dengan 3 orang turis yang berasal dari Belanda, Jepang, dan Korea. Kamu tau apa tujuan mereka? Keliling dunia di usianya yang tidak lagi muda.

(bersambung ke bagian 2)

***

Circular Economy dan #BijakBerplastik, Langkah Danone-AQUA Kurangi Plastik

pengertian-circular-economy
Meningkatnya pertumbuhan penduduk di banyak negara termasuk di Indonesia dengan beragam pola hidup masyarakat memicu tingginya timbunan sampah. Data dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) mencatat bahwa ada sekitar 65 juta ton sampah yang diproduksi di Indonesia setiap hari.

Ada 24% sampah di Indonesia yang belum dikelola dengan baik sehingga ada sekitar 15 ton juta sampah yang mengotori ekosistem dan lingkungan kita. Sementara itu, hanya 69% yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan 7% sisanya didaur ulang.
Masih dari laporan SWI, jenis sampah yang paling banyak dihasilkan yakni sampah organik 60%, plastik 14%, kertas 9%, metal 4,3%, kayu dan bahan lainnya 2,7%. Khusus untuk sampah plastik, setidaknya ada 1,3 juta sampah plastik per tahun yang tidak dikelola dengan baik.
circular-economy-adalah
Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik ini? Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep ekonomi Circular Economy dan Linear Economy. Di Indonesia, istilah Linear Economy atau ekonomi linear telah digunakan selama bertahun-tahun oleh banyak industri.

Untuk membuat sebuah produk perusahaan akan memesan bahan-bahan mentah serta material pendukung untuk diolah. Setelah itu, produk yang telah jadi akan dikemas dan dikirim ke konsumen. Ketika tidak lagi digunakan, maka produk tersebut akan dibuang sehingga hanya berakhir sebagai sampah.

Sebaliknya, Circular Economy tidak membuang produk yang telah digunakan, tapi mendaur ulangnya untuk digunakan kembali. Jika dibandingkan, Circular Economy jauh lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan masalah apapun.

Konsep Dasar Circular Economy

konsep-circular-economy
Bagi kamu yang belum tahu, Circular Economy atau ekonomi sirkular adalah sebuah sistem ekonomi yang membangun dengan memanfaatkan kembali apa yang telah digunakan di awal. Hasilnya, tidak ada bagian yang terputus dalam manajemen rantai pasokan.
Adapun tujuan dari ekonomi sirkular yakni mempertahankan nilai sebuah produk agar bisa digunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah. Pasalnya, permasalahan sampah memang sangat kompleks.

Hal ini akan sulit jika hanya diselesaikan dengan satu solusi. Konsep ekonomi sirkular pun bisa menjadi salah satu alternatif pendekatan yang baik dalam mengatasi permasalahan sampah plastik yang ada.

Setidaknya ada tiga bagian penting yang terlibat pada ekonomi sirkular, yakni produsen sebagai penghasil produk, konsumen yang menggunakan produk-produk, serta pengelola sampah dalam hal ini individu, pemerintah, dan industri.
Di dalam ekonomi sirkular ketiganya wajib untuk berkolaborasi antara satu dengan yang lainnya sehingga proses konsumsi produk yang terjadi tidak menghasilkan sampah yang terbuang begitu saja di lingkungan. Selain itu, proses bisnis dapat bersifat jangka panjang bahkan membuka banyak lapangan kerja.

Circular Economy Danone-AQUA

langkah-circular-economy
Di Indonesia, salah satu perusahaan terkemuka yang menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam proses bisnisnya adalah Danone-AQUA. Sebagai pelopor air minum dalam kemasan (AMDK) pertama di Indonesa, Danone-AQUA telah berdiri sejak 1973 dengan mengerjakan bisnis yang lebih ramah lingkungan.
Setidaknya ada 3 proses penting yang dilakukan oleh Danone-AQUA dalam menjalankan konsep ekonomi sirkular. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

1. Komitmen #BijakBerplastik

Pada pertengahan 2018 lalu, bertepatan dengan perayaan Hari Lingkungan Hidup, Danone-AQUA meluncurkan sebuah gerakan bernama #BijakBerplastik. Langkah ini digagas atas dasar komitmen untuk mengatasi masalah sampah plastik yang ada di Indonesia.

Gerakan #BijakBerplastik sendiri mengusung tiga pilar untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia, yakni pengembangan infrastruktur pengumpulan sampah, edukasi konsumen, serta inovasi produk.

Pasalnya, kemasan plastik telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat saat ini. Plastik-plastik yang digunakan dan dihasilkan setiap harinya akan membawa dampak negatif jika setiap orang tidak memperlakukan plastik tersebut dengan benar.

2. Botol Plastik 100% Daur Ulang Pertama di Indonesia

Salah satu pilar penting #BijakBerplastik yaitu inovasi produk. Jika selama ini air mineral Aqua tersedia dalam botol plastik 50% daur ulang dan galon 70% daur ulang, maka baru-baru ini Danone-AQUA menelurkan botol plastik 100% daur ulang pertama yang ada di Indonesia.

Botol ini dihasilkan dari botol plastik bekas AQUA yang telah dipilah, dibersihkan, dan dicacah untuk kemudian diproses dengan memanfaatkan teknologi tinggi menjadi material pellet atau recycle PET. Olahan inilah yang menjadi bahan baku botol plastik 100% daur ulang.

Hadirnya botol ini pun sebagai upaya pengejawantahan konsep 3R, termasuk gaya hidup minim sampah atau Zero Waste. Botol plastik yang digunakan tidak terbuang percuma di lingkungan karena setiap botol tersebut bisa diubah menjadi sumber daya berharga untuk digunakan kembali.

Sejak 2010, Danone-AQUA memang telah membangun infrastruktur pengumpulan sampah dan bekerja sama dengan pengumpul serta bank-bank sampah yang ada. Setiap tahunnya Danone-AQUA mengumpulkan 12.000 ton sampah plastik untuk didaur ulang menjadi botol melalui enam pusat pengumpul sampah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pada bank sampah inilah botol plastik 100% daur ulang dihasilkan. Selain sebagai upaya konkret dari ekonomi sirkular, botol plastik 100% daur ulang ini akan membantu pemerintah dalam upaya mengurangi sampah plastik di lautan sebesar 70% pada 2025.

3. Smart Drop Box Danone-AQUA
Untuk mendukung gerakan #BijakBerplastik dibutuhkan kolaborasi lintas sektoral sehingga akan menghasilkan solusi berupa penyelesaian sampah di Indonesia. Dalam mewujudkan langkah ini, Danone-AQUA pun berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH), Alfamart, Telkomsel, serta Smash.

Adapun bentuk kolaborasi yang dihasilkan yakni Smart Drop Box yang diluncurkan sejak Mei 2018 lalu. Smart Drop Box sendiri merupakan tempat sampah pintar yang dilengkapi oleh sistem pemindai (barcode) botol plastik.

Tempat sampah pintar ini dihubungkan dengan aplikasi untuk mencatat sampah botol yang dikumpulkan bernama mySmash. Melalui aplikasi ini pula, kamu akan mendapatkan imbalan dalam bentuk poin T-Cash yang dapat digunakan untuk berbelanja di berbagai retail dan gerai di seluruh Indonesia.

Hadirnya Smart Drop Box ini akan melibatkan peran aktif konsumen mulai dari proses awal daur ulang dan mengedukasi konsep ekonomi sirkular sehingga botol plastik yang selesai digunakan tidak lagi terbuang ke lingkungan.

Pasalnya, botol plastik yang terkumpul di Smart Drop Box akan diolah kembali menjadi botol plastik baru. Selain membantu mengurangi sampah, Smart Drop Box pun mampu mendukung aktivitas perekonomian di masyarakat. Smart Drop Box ini sendiri telah tersebar di sekitaran Jakarta dan Bekasi.

Sementara untuk mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah plastik, Danone-AQUA juga telah menempatkan Drop Box ini di beberapa titik di CocoMart Bali, seperti di daerah Ubud, Gianyar, serta Jimbaran.

cara-kerja-circular-economy

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung gerakan #BijakBerplastik? Beberapa langkah kecil yang sebaiknya kita mulai dari diri sendiri yakni dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, serta memberikan sampah ke bank sampah terdekat.

Langkah ini akan membuat sampah plastik jadi lebih bernilai dan bermanfaat bagi orang lain untuk didaur ulang kembali sehingga kita pun dapat terlibat dalam membantu mewujudkan konsep ekonomi sirkular.

Nah, itu tadi beberapa informasi mengenai ekonomi sirkular dan beberapa cara yang bisa kamu lakukan dalam mendukung gerakan #BijakBerplastik untuk Indonesia yang lebih bersih serta bumi yang lebih baik 😊

Yuk, ajak yang lain untuk terlibat!

Melipir ke Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

“Jakarta merupakan ibu kota kuliner nusantara. Hanya di Jakarta orang bisa menikmati berbagai masakan enak dari penjuru nusantara,” @darihalte_kehalte.

Salah satu tempat dengan beragam kuliner nusantara adalah di Pasar Takjil Benhil.

Para penjual takjil yang ada beroperasi hanya saat bulan puasa. Ada berbagai macam makanan yang dijajakan, mulai dari kuliner khas Jogja hingga Padang.

Sejarah Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

“Pak, pasar ini berdiri sejak kapan sih?”

Saya iseng melempar pertanyaan ini kepada seorang laki-laki paruh baya dengan kaos loreng dan celana bahan. Dia tidak langsung menjawab.

Diaturnya motor-motor yang parkir terlebih dahulu lalu kembali menghampiri saya.

“Oh, sudah lama sekali, sejak tahun 80-an kali ya,” jawabnya sambil bertelakan di sadel motor.

pasar-takjil-benhil

Pasar Takjil Benhil ini memang berdampingan dengan Pasar Benhil.

Namun, keberadaannya hanya muncul saat bulan ramadan sehingga menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat Benhil dan sekitarnya untuk membeli makanan dan takjil.

Dahulu, pasar ini hanya diisi oleh beberapa pedagang yang bisa dihitung jari. Seiring tumbuhnya gedung-gedung di kitaran Pasar Takjil Benhil, tempat ini pun kini dipenuhi oleh penjaja makanan yang masing-masing menawarkan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia..

Cara Menuju Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Lantas, bagaimana cara menuju ke sana?

Saya dan seorang teman melipir ke Pasar Benhil pada Sabtu kemarin. Peningkatan transportasi di Jakarta membuat banyak cara untuk menuju ke pasar tumpah tersebut.

Dua di antaranya yakni dengan menggunakan MRT dan Transjakarta.

Halte terdekat dari Pasar Benhil adalah Halte Bendungan Hilir (Benhil). Saya menumpang Transjakarta (TJ) jurusan Poris Plawad dan transit di Halte Gelora Bung Karno (GBK) kemudian meneruskan perjalanan dengan TJ jurusan Blok M ke arah kota.

Di Halte Benhil saya turun dan jalan kaki sekira 300 meter ke pasar ini.

Baca juga: Go Food Festival, Go Cashless

pasar-takjil-benhil

Alternatif lain menuju Pasar Takjil Benhil adalah dengan menggunakan MRT.

Sejak bisa digunakan pertama kali oleh masyarakat umum pada April 2019 lalu, moda transportasi tercanggih satu ini telah memungkinkan orang untuk mencicipi beragam kuliner di tempat-tempat terjauh di selatan Jakarta.

Jika ingin menuju Pasar Takjil Benhil dengan menumpang MRT, kamu bisa turun di Stasiun MRT Benhil.

Selanjutnya, berjalan kaki ke arah pasar dengan jarak tempuh selama 20 menit jalan kaki.

Pilihan terakhir jika tidak ingin repot, kamu bisa pakai Gojek/Grab untuk sampai di tempat ini. Tinggal pesan, masukkan lokasi Pasar Bendungan Hilir, sisanya kamu cukup duduk manis di atas kendaraan.

Jajanan Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Saya pangling saat tiba di tempat ini. Posisinya yang berada tepat di pinggir jalan Bendungan Hilir membuat lalu lintas agak terhambat karena pengunjung yang ramai. Belum lagi banyaknya jajanan pasar yang tersedia.

“Tidak jadi lapar sampai di sini. Makanannya banyak sekali!” celetuk seorang teman.

Di pinggir jalan terdapat jejeran penjual gorengan mulai dari pastel, bakwan, lumpia, tahu isi, tempe mendoan, risoles, lumpia, sampai cakwe.

Baca juga: Kuliner di Pasar Lama Tangerang

Trus ada lontong beragam isi, kue-kue basah dan es buah segala rupa. Kalau yang ini khas nusantara lah, ya.

pasar-takjil-benhil

Di bagian samping ada penjaja bebek goreng, pecel, gudeg, serta berbagai makanan khas Jogja. Sementara di bagian tengahnya berhamburan penjual makanan khas Padang, mulai dari bubur kampiun, sate padang, lemang, rendang, serta lauk pauk Nasi Padang.

Nikmat manakah yang kau dustakan? 😎

Trus, di bagian kiri pasar ada penjual ikan bakar besar-besar dengan penjual empek-empek Palembang yang berdampingan.

Oh, ada juga siomay, batagor, dan otak-otak.

Nah, kalau berjalan lurus di tengah, di bagian samping sebelah barat, kamu akan menemukan penjual kolak berbagai macam isi, es blewah, dan ayam taliwang.

pasar-takjil-benhil

Berapa harga jajanan di Pasar Takjil Benhil?

Murah kok! Untuk gorengen yang besar-besar serta kue basah kamu bisa dapat harga mulai dari 10ribu isi 3 hingga isi 5. Saya sempat membeli 20rb macam-macam gorengan dan dapat 1 plastik kresek.

Kalau rupa-rupa sayur dan lauk juga murah, tergantung kamu mau seberapa banyak. Oiya, saya juga beli bubur kampiun, harganya 15ribu di gelas plastik. Beh, kekenyangan jadinya!

Ini kali pertama saya mencoba bubur kampiun, ternyata isinya macam-macam sampai ada ketannya. Kalau kamu suka durian, bubur ini juga bisa dicampur dengan durian.

Hmm.. Kalau dihitung-hitung, bawa uang 50rb sih, kamu sudah bisa dapat banyak jajanan di Pasar Takjil Benhil!

Tips Belanja di Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Bagi kamu yang pertama kali datang ke sini dan masih bingung cara belanjanya, saya punya beberapa tips belanja yang bisa kamu coba. Apa saja?

  • Pakai kaos saja dan celana pendek biar nyaman
  • Gunakan pakaian seadanya, plis, jangan berpakaian ribet
  • Bawa uang tunai karena pedagang di sini belum pakai pembayaran elektronik
  • Jangan ragu untuk nawar karena dagangan di sini sangat bisa ditawar
  • Bawa tempat makan sehingga bisa mengurangi plastik dan menjaga bumi
  • Jaga selalu barang bawaan kamu
  • Jangan kalap! Yakali 😒

Tips terakhir barangkali adalah datanglah di akhir-akhir jam pasar. Pasar Takjil Benhil buka setiap hari selama bulan ramadan mulai dari pukul 12.00 WIB atau setelah salat dhuhur dan tutup sebelum salat tarawih dimulai.

Nah, biasanya nih sebelum pasar tutup pedagang sering kali banting harga. Yha, daripada jajanannya basi.

Begitulah kura-kura segala hal yang saya dapatkan dari hasil melipir beberapa kali di Pasar Takjil Benhil.

Oiya, jangan lupa mengobrol dengan para penjual yang ada. Kenapa? Iya ga papa. Kali aja dapat diskon.

Toh, makanan, konon—bisa jadi cara untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang. Iya ga? 😎