Citra dan Pemantapan Jiwa di Jakarta Biennale 2017

Salah satu lokasi Jakarta Biennale 2017, Gudang Sarinah Ekosistem

Hari meremang, halte disesaki para pekerja dari berbagai kelas yang berlari kecil menuju antrian yang mengular dimana bus akan mengantar mereka pulang ke rumah. Derap langkah, bunyi klakson, dan suara mesin kendaraan bermotor bersahut-sahutan. Peluh di dahi diusap dengan punggung tangan. Beberapa dari mereka bermasker, mengenakan earphone, dan tentu saja barang bawaan yang membuat pergerakan mereka menjadi tak mudah.

“Ini sungguh melelahkan!” ujar Citra, perempuan kantoran di kawasan Sarinah.

“Kenapa?” Andi, seorang pekerja lepas keheranan.

“Bayangkan saja, tiap hari berangkat kerja ketika matahari belum terbit dan pulang ketika sudah terbenam. Belum lagi ketika ada kerjaan yang mendesak untuk diselesaikan dan menuntut lembur.”
Mereka, teman lama yang baru bertemu, menghabiskan jam makan siang di sebuah kedai kopi tak jauh dari tempat Citra bekerja.
“Bagaimana kalau weekend ini kita ke Gudang Sarinah?”

“Hah? Gudang? Sarinah? Perasaan di sini gak ada gudang deh?”
“Duh, bukan. Ini Gudang Sarinah, dekat tugu pancoran.”
“Ngapain?”
“Lagi ada pameran seni, Jakarta Biennale 2017. Lumayan buat kamu untuk refreshing. Daripada ke mall terus.”

“Oh, boleh deh.”
Penelitian yang diadakan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) 2012 memang mengungkapkan bahwa setiap pekerja di Jabodetabek membutuhkan sejam untuk tiba di tempat kerja. Sementara dalam perjalanannya, mereka harus menghadapi kondisi yang tidak mendukung seperti berdesakan di transportasi umum. Hal ini tentu saja berdampak pada kinerja mereka sementara stres terhadap pekerjaan akan mengganggu kesehatan biologis dan mental.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika GrabCar menurunkan Citra tepat di gerbang Gudang Sarinah.
“Dimana?”

“Oh, masuk aja. Ntar pintu pertama sebelah kiri ya,” balas Andi yang tengah mengerjakan jahitan tas berbahan dasar baliho bekas pameran.
Citra terperangah melihat penampakan dalam tempat yang disebut gudang tersebut. Dia tidak mengira akan ada ruang yang terlihat seperti window display toko-toko dalam mall. Tokopedia memang berkolaborasi dengan Jakarta Biennale (JB) 2017 dengan menyediakan ruang untuk workshop. Di sana kemudian digelar aktivitas menjahit yang dilakukan oleh para seniman dan kurator. Selain itu, ada pula workshop mewarnai topeng untuk anak-anak.
“Hei! Selamat di Gudang Sarinah,” sambut Andi.

“Oh, ini,” Citra menyapukan pandangannya ke seluruh ruang.

“Iya, jadi ini Jakarta Biennale 2017 yang merupakan biennale ke 17. Diadainnya tiap dua tahun sekali. Pameran seni ini udah ada sejak 1974 loh. Udah lama banget. Di Indonesia, dia yang pertama. Isinya seni macem-macem gitu,” terang Andi.

Infografis sejarah Jakarta Biennale
Jakarta Biennale tahun ini memiliki waktu yang hampir bersamaan dengan Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Mereka memang sepakat untuk menggelarnya dalam waktu yang berdekatan agar, menurut Ricky Josep Persik wakil kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), efektif dalam menarik tamu-tamu internasional untuk datang ke Indonesia.
Tahun ini  JB melalui 5 kurator  mengurasi 51 seniman baik individu maupun kelompok baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menampilkan karya mereka dengan tema JIWA. Perhelatan dua candra ini digelar di tiga tempat berbeda yakni, Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlangsung dari 5 November hingga 10 Desember 2017.
Menyeberang ke gedung sebelah, Citra yang dituntun Andi mendapati karya Chiharu Shiota di sebuah layar LCD yang menyiram tubuhnya dengan lumpur di dalam bak mandi yang sempit. Karya itu merupakan performans yang dibuat di tahun 1999 berjudul Bathroom. Menurut informasi yang terpampang, seniman Jepang yang kini menetap di Jerman ini, ingin menyatu dengan bumi—tempat dimana dia dan kita berpijak. Tak lama setelah menyaksikan penampilan Chiharu, mata Citra langsung terantuk pada foto batang pohon yang panjang yang ditampilkan dengan warna hitam putih. Senada dengan karya sebelumnya, Citra merasa bahwa karya ini masih berkisar tentang alam dan manusia.

Robert Zhao Renhui. The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree (III). 2017
Adalah Robert Zhao Renhui, seniman Singapura, yang memajang foto tersebut—yang ukurannya menyerupai ukuran batang pohon aslinya. Ini merupakan buah kegelisahannya atas pohon-pohon di Singapura yang ditebang untuk kemudian dipotong-potong dan dipindahkan ke tempat lain untuk diolah. Hal ini, menurut Robert, butuh cara-cara lain untuk “mengelola” alam. Lepas menatapi satu per satu potongan batang pohon tersebut ia meneruskan langkah dan kembali terantuk pada dua karya yang cukup mengambil ruang yang lebar yakni tumpukan-tumpukan tanah, debu, dan kerikil bak gunung dengan tampilan video yang diproyeksikan di tembok putih serta rangkaian batu-batu apung yang tampak menyerupai sebuah wajah. Karya pertama adalah karya seorang perempuan pelaku performans yang lahir di Jerman dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Marintan Sirait. Dalam praktiknya berkesenian, Marintan memang  menganggap bahwa tubuh seseorang  merupakan rumah sekaligus tempat berlindung paling rentan dalam interaksi sesama manusia serta yang paling penting adalah tubuh juga memiliki hak atas kebebasan.
Sedangkan untuk karya kedua adalah hasil bermain seorang Bali bernama I Made Djirna dengan benda-benda di alam. Seperti yang diamininya bahwa benda tersebut juga laiknya manusia yang melalui berbagai tahapan seperti, ada, berproses di dalam waktu, hingga akhirnya tiada. Untuk JB sendiri, Made Djirna menghabiskan berbulan-bulan lamanya untuk memunguti, mengamati batu apung yang ditemukannya di Pantai Beraban, Jumpai, dan Purnama, hingga menggambarinya dengan intuisi akan wajah arkais-universal atau antik sebab dia menyakini bahwa kita, manusia, sebenarnya mampu berkomunikasi dengan benda-benda di alam.
I Made Djirna. Unsuang Heroes. 2017


“Makin halus rasa kita, makin luas pula komunikasi kita di alam semesta,” ujar Djirna.

Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Citra dan Andi selama proses berkeliling ke dalam ruang pameran. Citra, yang walaupun tidak memiliki latar belakang seni pun merasa seolah berbincang dengan karya-karya yang tersaji. Hingga akhirnya mereka memasuki ruang lain yang tampaknya berpendingin ruangan.
“Gimana Cit?”

“Menarik. Dari beberapa karya tadi terlihat jelas hubungan manusia dengan alam. Kita emang gak bisa terpisah ya?”

“Iya. Yuk lanjut!”
Melintas, mereka mendapati dua bangku merah panjang dengan layar yang menampilkan seorang pria beraut Chinese berbicara. Tampak seperti TEDx menurut Citra. Di atasnya ada tirai putih membentang dengan boneka yang menyerupai ratu Inggris. Kesemuanya adalah karya Ho Rui An, seniman muda Singapura yang telah berkeliling Berlin, Manila, London, dan Hongkong untuk mempresentasikan karya-karyanya. Meskipun Citra tak memahami karya tersebut dia tetap mengaguminya karena menampilkan banyak hal dalam satu tempat, mulai dari video, film, patung, dan performans.

Ho Rui An. Solar: A Meltdown 2. 2014

Di ruang pamer ini Citra tidak lagi berjalan melambat memelototi karya. Mungkin karena ketidakmampuan dia untuk mencerna apa yang diterpajang. Namun, satu-satunya yang membuat dia betah adalah di bagian karya Semsar Siahaan. Meskipun telah wafat, tim artistik JB kembali memamerkan karya Semsar dengan tajuk “Menimbang Kembali Sejarah.” Terlihat banyak dari rupa-rupa karyanya yang ditampilkan mulai dari foto keluarga yang dilengkapi dengan deskripsi foto yang ditulistangan sendiri oleh Semsar. Mata Citra juga lama menatap grafis perempuan mengepal lengan dengan tulisan “Marsinah” di bawahnya.
“Siapa Marsinah?” Citra penasaran.

“Baca aja di bawah, tuh berita-berita tentang dia,” timpal Andi.

“Mengerikan ih,” ringis Citra kemudian.

Semsar Siahaan adalah seorang keturunan Batak dan India. Bapaknya merupakan seorang tentara dan memiliki empat saudara. Dalam dunia seni rupa, ia dikenal sebagai seorang seniman aktivisme. Pemberontakan-pemberontakan tampak jelas dalam karyanya. Salah satu kejadian yang paling diingat adalah dia membakar patung dosennya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang baru saja pulang dari pameran patung internasional di Fukuoka, Jepang.
“Saya lapar. Makan yuk!” ujar Citra tiba-tiba.

“Boleh. Di samping ada kantin kok.”
Setelah keluar ruangan, mata Citra disilaukan oleh kumpulan tumbuhan eceng gondok berbunga emas milik Siti Adiyati. Menilik sejarah panjang JB, seniman ini merupakan salah satu dari sedikit mahasiswi yang menolak sistem seleksi karya yang ditampilkan di biennale. Penolakan ini memunculkan sebuah peristiwa bernama Desember Hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru. Eceng gondok berbunga emas ini sebenarnya telah pernah ditampilkan dalam pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1979 namun kembali dihadirkan dengan memperbesar kolamnya dengan ukuran 20m x 8m dengan kedalaman air 30cm. Karya ini merupakan protes terhadap negara yang kian hari melebarkan jarak antara si miskin dan si kaya.
 

Siti Adiyanti. Eceng Gondok Berbunga Emas. 1979

“Keren yah karya-karyanya. Ada aja orang berpikir sejauh itu. Hubungan manusia dengan ini dan itu. Dan juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri,” Citra sambil menyuap mie bakso.
“Iyalah, seniman gitu loh. Eh, masih ada banyak performance art loh beberapa hari ke depan. Mau nonton gak?” timpal Andi.
Pengantar kuratorial Jakarta Biennale 2017


Citra tak menjawab. Ia menguyah sambil menatap jauh bak berbincang dengan jiwanya sendiri. Laiknya diam, jiwa pun tak bisa diterjemahkan.
***

ArtJog 9, semesta kehidupan

Foto: Jumardan Muhammad
Saya tidak pernah berniat mengunjungi Jogja hanya dalam satu dua hari sebab kota ini, bagi saya masuk dalam kota ter-artsy garis keras. Tidak akan puas saya merasakan ke-artsy-an Jogja dalam sehari. Namun, kemarin (5/6) aforisme tersebut sirna seketika.

Setelah dikirimi upah yearbook akhir bulan kemarin, saya kemudian memutuskan untuk ke Pare, Kediri, hingga akhir tahun. Kebetulan saja akhir bulan kemarin Jogja resmi menggelar ArtJog 9. Karena pembelajaran di Pare belum dimulai, saya tergoda untuk mengunjungi ajang pameran seni rupa kontemporer ini. Dari hasil penelusuran di Google, jarak tempuh dari Pare ke Jogja menghabiskan waktu sekira 5-6 jam. Hitung-hitungannya sama seperti Sengkang ke Makassar. Bersama seorang kawan, saya kemudian berangkat.
Karya Ugo Untoro ini terkesan sangat sederhana.
Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk melanjutkan ke karya berikutnya.
Di konsep karya, hanya tertera :
Keindahan adalah yang pertama, yang sendiri,
yang tunggal, yang ganjil, yang selamanya.
Pengantar karya Eko Nugroho
Display karya Eko Nugroho
Artjog 9 digelar di Jogja National Museum (JNM) selama sebulan, dari 27 Juni hingga 27 Juli 2016. Ada 72 orang seniman yang berpartisipasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Tema yang diangkat adalah Universal Influence. Saya menerjemahbebaskannya sebagai sesuatu yang terjadi di dunia saat ini, hari ini, yang lahir dari dalam diri maupun masyarakat. Tema ini melintasi waktu digelarnya pameran, baik dari masa lalu, sekarang, dan masa mendatang.
Apa yang membuat saya tertarik datang adalah banyak seniman yang saya kagumi dan telah lama saya untit kehidupan serta karya-karyanya di dunia maya, berpameran dalam satu waktu dan satu tempat. Saya tidak mau terus menerus hanya melihat karya mereka di dunia maya. Lokasi saya sudah sedekat ini dengan tempat mereka menggelar pameran, kenapa tidak menemui karya-karya mereka di dunia nyata?
Gambar pemandangan yang sejak kecil kita kenal berupa
dua gunung, satu matahari, dan jalan memanjang di tengah dua gunung
ternyata tak habis dieksplorasi, bahkan oleh para seniman.
Aditya Nofali pun melakukannya. Merekonstruksi dan
mendekonstruksi tema sederhana tersebut.
Kata-kata kotor se-Indonesia dipajang dalam satu ruang pamer.
Setidaknya itu yang saya perhatikan. Deskripsi karya ini bisa dibaca disini.

“Putuskanlah rantai-rantai yang menganggu kemerdekaan darahmu untuk memberi tempat, memelihara benih menjadi garuda yang besar dan bersayap kuat bisa membawamu ke langit yang biru melayang-layang melihat dan menghisap kebagusan dunia, bulan, bintang-bintang dan matahari, alam ciptaan Tuhan,” S. Sudjojono.

Saya salah satu penggemar Agan Harahap. Teknik photoshop yang digunakan
dalam berkarya selalu saja lucu dan tidak jarang menohok.
Foto-foto yang dipamer adalah foto feature dari rangkaian foto esai
yang kelanjutannya bisa disaksikan di gawai sebelah kanan display karya.
Mengumpulkan kenangan dalam bentuk foto dan memajangnya
seperti ini adalah cerdas. Sumbu kosmik memori karya Angki Purbandono ini
terinspirasi dari bentuk Candi Borobudur. 
Entah di media mana saya telah membaca konsep karya
Davy Linggar ini. Menyaksikan dokumentasi 17 orang seniman
yang dipajang, secara langsung adalah keberuntungan!
Hampir bersamaan dengan pembukaan ArtJog 9,
Farid Stevy Asta juga menggelar pameran tunggalnya di Kedai Kebun.
Sialnya, saya gagal menyaksikan hajatan pribadinya tersebut. Duh.
Namun bersuyukur masih bisa menyaksikan display dari potongan
lagu Hal-Hal Ini Terjadi.
Saya telah menyaksikan secara langsung penampilan
Tisna Sanjaya di Pasar Seni ITB 2014. Seniman asal Bandung ini
memang merupakan perupa sekaligus penampil.
Dan kali ini saya menonton karya hasil dari penampilannya.
Keseluruhan karya di ArtJog 9 disebar di tiga lantai 3 JNM. Karya penutup terletak di bagian belakang dengan kapasitas besar. Karya tersebut merupakan hasil Commisioned Artist yang konon mengajak audience untuk membayangkan berbagai tingkat spekulasi dan hipotesa tentang kemungkinan adanya bentuk koloni makhluk cerdas di luar planet bumi. Dari hasil pendengaran saya melalui headset yang tersedia seolah membawa kita ke luar angkasa dengan suara berupa pancaran gelombang radio. 
Karya penutup dari Universal Influence adalah karya ini dengan menara
setinggi 36 meter disertai lampu suar di atasnya berdaya jangkau 10km.
Karya ini dibuat oleh Venzha Christiawan & ISSS
(Indonesian Space Science Society)
Jika di sebelah kiri kita menyaksikan karya Venzha dan ISSS,
maka di sebelah kanannya kita bisa menemukan booth merchandise ArtJog 9.
Puluhan karya yang terpajang ini membuat saya kembali seolah membaca ulang dan belajar mengenai semesta kehidupan. Masa kecil, perbincangan terhadap diri sendiri, agama dan ketuhanan, sosial masyarakat, budaya, politik, perkembangan teknologi, hingga pengidentifikasian makhluk luar angkasa.

Catatan singkat untuk HMDKV yang menuju tujuh tahun. Selamat!


Usia tujuh tahun bagi seorang manusia adalah memasuki jenjang sekolah dasar kelas satu atau kelas dua. Menurut psikolog, pada fase ini terdapat hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah. Keinginan untuk belajar hal-hal baru bertambah kuat, ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Jika dia anak perempuan, maka dia akan lebih banyak berbicara dibanding anak laki-laki. Keahlian dan kemampuan membaca, menulis, dan menghitungnya berkembang pesat. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar sangat berperan penting terhadap pembentukan karakter dan moralnya. Perilaku-perilaku negatif kemudian menjadi sangat rentan pada usia seperti ini.


Februari 2016 ini Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HMDKV) Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggenapkan usianya menjadi tujuh tahun. Lembaga kemahasiswaan termuda di FSD ini tidak lagi harus belajar berjalan. Jika dipersonifikasikan, perilakunya tepat seperti deskripsi anak usia tujuh tahun di atas.

Himpunan kemahasiswaan di tingkat universitas selalu menarik untuk ditilik. Betapa saya cemburu pada tipe lembaga kemahasiswaan yang program kerja tahunannya berbeda dari program kerja tahun sebelumnya, inovatif dan merespon permasalahan sekitar serta program-program kerjanya tidak bergantung pada pendanaan birokrasi yang sungguh, betapa rumitnya dan banyak makan hati. Bukankah sebagai himpunan yang diisi oleh anak-anak muda kita tidak harus stagnan pada hal-hal demikian?
ilustrasi : algiivar

Setelah empat tahun lebih bergumul di HMDKV saya nampaknya masih bisa menyimpan kecemburuan itu. Bukannya apa, kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan adalah dinamis. Mereka tidak akan menghabiskan malam dengan membahas program kerja yang itu-itu saja, maksud saya sama dengan program kerja tahun lalu. Mereka akrab dengan istilah ‘kandang paksa’. Jika mendapati ide, mereka akan langsung mengeksekusi ide tersebut. Tapi tidak dengan abal-abal, beruntung HMDKV didampingi pengajar yang loyal dan siap diketuk pintu rumahnya kapan saja untuk dimintai pertimbangan. Mempelajari ilmu Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat mereka harus mejadi pembelajar yang cepat dan pengeksekusi yang tangkas. Ini karena rutinitas tugas-tugas perkuliahan yang menuntut tenggat waktu yang juga cepat namun dengan karya yang berkualitas dan terukur. HMDKV kemudian menjelma sebagai wadah pengimplementasian dari teori-teori perkuliahan. Berkarya dengan tidak berdasar pada brief tugas mata kuliah. Paragraf ini bukan paragraf poji riale, sekali lagi bukan. I’m just telling the truth.


grafis : chimankorus

Kemungkinan terbesar seorang mahasiswa desain komunikasi visual setelah lulus dari bangku perkuliahan adalah terjun bebas di industri kreatif yang sedemikian luasnya. Industri ini tidak statis, namun bergerak sesuai perkembangan zaman. Dia yang memengaruhi zaman atau zaman yang memengaruhinya, saya masih kabur. Yang jelas, karena ini industri dan ada yang harus dipenuhi maka mau tidak mau kembali lagi harus berhadapan dengan tenggat waktu. Bekerja cepat dengan hasil yang tepat. Maka sekali lagi, beruntunglah mahasiswa yang berhimpun di HMDKV. Berada di industri kreatif tidak akan membuat kewalahan, pola kerjanya sama, ritmenya saja yang barangkali harus menyesuaikan. Terlepas dari kebanggaan itu semua bahwa HMDKV berbeda dengan himpunan lain hanya karena berada pada lingkup DKV lantas tidak boleh membuat kita congkak. Percayalah, ada banyak orang di luar sana yang jauh lebih ber-desain-komunikasi-visual dibanding desain komunikasi visual yang dikuliahi selama bertahun-tahun. 


HMDKV bukan hanya sebuah himpunan, namun lebih dari itu kita adalah bagian dari masyarakat luas. Umur baru saja menginjak usia sekolah dasar, masa puber belum dilalui, berada pada fase dewasa masih panjang. Kita masih harus terus belajar membaca, menulis, dan menghitung. Merespon permasalahan yang ada serta belajar dan berkolaborasi untuk menyelesaikannya. 




Almanak 12 Perancang Grafis


Hai! Saya dan teman-teman di Desain Komunikasi Visual 2011 baru saja melaksanakan sebuah gelaran di luar kampus. Tepis anggapan bahwa kami terdiri dari banyak orang. Saat baru masuk di tahun 2011, ada sekira 41 orang, hingga di penghujung 2015 jumlah kami tidak lagi mencapai setengahnya. Ini seleksi alam (tugas) yang keras atau mungkin minat mereka bukan disini. Teman-teman yang tersisa ini kemudian berhimpun membuat membuat pameran. Bukannya apa, jenis kami di kampus kini terbagi tiga : masih terseok menyelesaikan kuliah, akan mengajukan judul tugas akhir, dan sedang dengan sangat keras menyelesaikan tugas akhir. Saya mencoba membuat pengantar untuk teman-teman dari gelaran tersebut, seperti ini :


Dua belas mahasiswa dengan gaya dan kecenderungan berbeda terhadap sebuah desain untuk dua belas almanak di sepanjang tahun mendatang adalah hasil kongsi dari kejenuhan yang sama. Briefing-brainstorming-asistensi-diberi nilai, atau, revisi-perbaikan-revisi-perbaikan, begitu seterusnya.

Dua perulangan itu merupakan dua tipe dari dua belas mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas kuliah dan tugas akhir yang entah kapan berakhir, di sebuah sekolah desain di Parangtambung sana. Pajang karya menjadi ajang rehat dari kemelut perulangan akademik yang menjemukan, tanpa tendensi teori-teori perancangan.


Usaha keluar kandang dan membiarkan karya bertemu, dikritik, dinikmati, dan dimiliki oleh orang dengan latar belakang berbeda adalah usaha rendah hati untuk tidak congkak terhadap latar belakang pendidikan desain komunikasi visual yang dimiliki. Sebab ketakutan terbesar kami adalah jangan sampai latar belakang pendidikan tersebut hanya mendidik untuk keluar dari kreativitas, tidak tumbuh dalam kreativitas, seperti kata Ken Robinson.
Oleh karena (karya) tugas kuliah itu dipamerkan di koridor-koridor institusi yang toh ditonton oleh orang yang itu-itu lagi. Akhirnya, Andi Sultan Alauddin, Herman Pawellangi, Jumardan Muhammad, ChandraJuliatma, Andi Ashar, Handi Nurdiawan, Andi Filsaf Amor, Reza Abdillah, NurAfandi, Nur Syahida Arsy, Puspita Sunny, dan Aswan Syam memutuskan untuk eksibisi di Peeple Coffee – Working Space 27-31 Desember 2015. Dan, jika ingin kami menemani kamu disepanjang 2016 mendatang, miliki kalender yang bakal dijual di tempat pameran dan biarkan kami menemanimu di meja sudut ruang tamumu, meja kerjamu, atau meja di samping tempat tidurmu. 

Inilah mereka!

Kami memberikan file high resolutionnya untuk kalian miliki dan perbanyak secara gratis.
Silakan download disini!

Catatan Pertemuan II : Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa Makassar Biennale 2015

Suasana pertemuan II workshop penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015. Foto : @jumardanm

Nostalgia tentang kain hitam yang menjuntai di pinggir mulut ember yang diletakkan di atas meja di tengah-tengah lingkaran para siswa kembali hadir, hal ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas dua bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sengkang, Wajo. Dalam seminggu kami mempelajari teknik menggambar selama dua jam pelajaran (2x45menit) pada mata pelajaran Kesenian. Kadang kami harus keluar kelas untuk menggambar objek apa saja. Pada 3 bulan pertama kami akan dijejali dengan teknik arsir menggunakan pensil 2B, setelah ujian tengah semester, kami akan  diwajibkan menggunakan pastel dan cat air.

Menggambar menggunakan pensil 2B sungguh membosankan bagi saya, betapa tidak, berlembar-lembar kertas habis hanya dengan warna hitam putih dan gelap terang, dikerjakan di sekolah, jika tidak selesai boleh dibawa pulang dengan syarat minggu depan sudah harus selesa dan dikumpul. Ingatan-ingatan 9 tahun lalu ini kemudian terputus ketika dua perempuan mondar-mandir dihadapan saya sambil meletakkan piring kecil berisi dua potong kue di atas meja dan segelas air bening dingin yang kutebak sprite.
 
Adalah Prof. Sofyan Salam yang menghadirkan kenangan ini, bertindak selaku narasumber pertama dalam kelas menulis kritik seni rupa (6/9) yang digelar dalam rangka Makassar Biennale 2015 bekerjasama dengan Tanah Indie. Dipilihnya Pembantu Rektor 1 Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai narasumber pertama dalam kelas tak lain karena dia merupakan satu-satunya pendokumentasi perjalanan seni rupa di Sulawesi Selatan hingga tahun 2000. Semua dicatat dalam bukunya berjudul Seni Rupa Mimesis dan Modern Kontemporer di Sulawesi Selatan yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan.

Hanya ada dua pilihan bagi kami para peserta penulisan kritik seni rupa menurut professor yang angkat jempol terhadap seniman-seniman yang hidup dari karya : pertama, penulis yang bertindak selaku kritikus, memprovokatori hal-hal yang ada dan bertentangan dengan pemikirannya. Kedua,  penulis yang menjadi pengamat, berprilaku sebagai orang biasa namun mendokumentasikan hal-hal yang terjadi. Kepemilikian ideologi pun menjadi syarat mutlak dalam dua golongan penulis ini.

“Tanpa membaca, saya sudah tahu akan lari kemana tulisannya, karena saya sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kritis,” ungkap Prof. Sofyan mengambil contoh Muh. Faisal, dosen Universitas Muhammadiyah. Prof. Sofyan pun menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia termasuk penulis golongan kedua.

Menurut professor yang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika Serikat ini, untuk menuliskan seni rupa, tampaknya kita hanya perlu melakukan empat hal : 

1. Kumpulkan katalog dan dokumentasi pameran.

Katalog dan foto-foto selama pameran merupakan bukti otentik sebuah pagelaran karya. Hal ini menjadi poin penting pertama bagi kita yang akan menulis tentang seni rupa.


2. Identifikasi sosial media.

Munculnya media daring membuka peluang bagi siapa saja untuk memiliki sosial media, pun dengan seniman. Sosial media kemudian menjadi ruang hadirnya diskusi karya dan gagasan yang tidak bisa dinafikan. 


3. Kehadiran seniman-seniman muda setelah tahun 2000.

Prof. Sofyan menjadi kikuk ketika diminta menjadi narasumber oleh panitia Makassar Biennale 2015, pasalnya sejak menjadi pejabat di UNM, pria berambut putih ini mengaku tak lagi mengikuti perkembangan seni rupa di Makassar selama 15 tahun terakhir. Otomatis dia pun tidak mengikuti kehadiran sosial media yang telah menjadi ruang pamer bagi seniman-seniman muda. Hal inilah yang menurutnya perlu kami perhatikan dengan saksama.

4. Seni Rupa Baru.

“Bahwasanya dunia saat ini telah dijejali oleh visual. Manusia tak lagi terpisahkan oleh visual, mulai bangun hingga mereka tidur kembali. Pendidikan seni di Amerika Serikat dan Australia saat ini sudah mengakui visual culture art education sebagai seni rupa baru,” jelas Prof. Sofyan. Hanya saja, lanjutnya, kekurangan visual culture art education adalah adanya muatan politik di dalamnya yang didominasi oleh para pejuang-pejuang gender, hak asasi manusia, korporasi, dll.
***

Pembicaraan mengenai seni rupa baru ini berlanjut, bahwa perbedaannya dengan seni rupa tradisiona adalah estetika dan ideologi. Seni rupa baru melulu berlandaskan pada ideologi, membicarakan media-media yang digunakan dalam berkarya, namun tidak lagi mempermasalahkan teknik dan estetika. “Ketika orang-orang beralih ke seni rupa baru maka siapa lagi yang akan menggarap teknik dan estetika?” Prof. Sofyan mengakhiri penjelasannya mengenai seni rupa tradisional dan seni rupa baru. Pada bagian inilah memori mengenai mata pelajaran Kesenian di SMP saya menyeruak. Guru saya saat itu tampaknya belum bisa mengidentifikasi dan tidak mau mengintervensi para siswanya apakah ada di antara mereka yang akan menjadi perupa atau tidak, yang jelas dia hanya mengajarkan keterampilan dasar, yang menurut Prof. Sofyan adalah hal yang terpenting dimiliki oleh seorang seniman rupa. “Itulah makanya, seleksi masuk pendidikan seni rupa di Indonesia menyelenggarakan tes keterampilan berupa menggambar bagi para calon mahasiswa baru. Tes bakat untuk kesenimanan, tes akademik untuk kesarjanaan.”

Saya akan merasa berdosa jika mengakhiri tulisan ini tanpa memberitahu suatu hal menarik (menurut saya) mengenai kepelukisan di Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Sofyan, Sulawesi Selatan tidak memiliki kebudayaan melukis. Orang-orang dahulu hanya mengenal mappatta (bugis) diserap dari bahasa Indonesia, yakni menyajikan fakta, dalam aliran lukis dikenal dengan istilah naturalis, mereka hanya menggambar apa yang mereka lihat. Yang ada di Sulawesi Selatan hanya menganyam, mengukir, menenun, dan mematung. Melukis katanya, adalah kebudayaan orang-orang Eropa. Usahlah kita mendalami ajaran-ajaran Vincent Van Gogh, Leonardo da Vinci, Pablo Picasso, dll, fokuslah pada apa yang ada saat ini yakni, kebudayaan visual.

Perbincangan bersama Prof. Sofyan dengan teman-teman peserta kelas menulis, fasilitator dari Tanah Indie, dan panitia Makassar Biennale 2015 berakhir menjelang maghrib, kepala saya memberat, sisa sprite yang tak lagi dingin saya tenguk sampai habis sementara piring di sebelahnya sedari tadi telah kosong. Sampai jumpa di kelas selanjutnya!

Branding Bolu Cukke

Hai!
Kemarin (25/6/2015) saya pameran di koridor Fakultas Seni & Desain UNM.
Ini adalah pameran mata kuliah Desain Komunikasi Visual 2 yang telah saya programkan sebanyak 3 kali, selama 3 tahun. Kenapa tidak lulus?
Program 1 : ikut pameran, tapi jarang masuk kelas & tidak pernah asistensi tugas.
Program 2 : rajin masuk kelas, ikut presentasi & asistensi tugas, tapi tidak ikut pameran.
Nah, program 3 kemarin adalah yang paling lengkap. Rajin masuk kelas & asistensi tugas serta ikut pameran. Yes!
Briefing tugasnya :
1. Kue tradisional Sulawesi Selatan yang mampu bertahan lama serta masa kadaluarsanya lama.
2. Perancangan logo.
3. Pembuatan packaging.
4. Pembuatan stationery.
5. Pembuatan merchandise.

Jangan Buang Screen Sablonmu!

“Saya adalah tipe manusia yang tidak bisa fokus. Mengerjakan sesuatu suka setengah-setengah; kadang terhenti di tengah jalan (tanpa ada niat melanjutkannya karna menemukan pekerjaan lain yang nampaknya jauh lebih asyik), kadang terhenti beberapa waktu dan lanjut lagi, namun ada juga yang terselesaikan tanpa menunggu waktu yang lama.”

Sekira awal tahun lalu, saya dan kekasih iseng memproduksi totebag sendiri. Proyek senang-senang yang mandek. Blognya di sini. Haha! Kainnya kami hunting di pasar sentral, kemudian saya sablon, dan dijahit oleh kekasih. Kegiatan ini hanya berlangsung beberapa bulan.

Awal tahun ini, tepat ketika liburan semester dimulai, saya kemudian membersihkan rumah. Berniat membuang semua barang-barang tak terpakai. Namun di sebuah sudut, saya menemukan perlengkapan alat sablon yang tertutupi oleh kertas-kertas, termasuk screen sablon. Jika tinta-tinta sablon yang telah mengeras rela saya buang, lain halnya dengan screen sablon, terlalu sayang jika dibuang.
Mengingat tembok-tembok di dalam rumah kosong melompong, kenapa tidak screen sablon yang menumpuk itu saya jadikan wall decoration? Toh, sudah berbentuk bingkai?

Mengubah screen sablon menjadi bingkai membutuhkan hanya membutuhkan sedikit kesabaran. Sebab, setelah mencabuti kain screen dari baloknya, hal membosankan selanjutnya adalah mencabuti satu per satu anak hekter dari balok. Ini sebenarnya bagian penting, agar tak terlihat seperti jerawat di wajahmu yang putih.

Oiya, akan ada banyak  serabut kayu yang muncul akibat mencabuti anak hekter tadi, tapi tenang, kita hanya butuh dua tiga lembar amplas untuk menghaluskannya. Setelah diamplas, barulah kita bisa mengecatnya dengan warna sesuka hati. 

Cetak foto terbaik yang akan dipajang, bisa juga cetak quote dari film-film inspiratif yang pernah dinonton atau quote dari buku-buku kesukaanmu, terserah. Oiya, untuk tali penggantungnya saya menggunakan benang rajut yang ditempel menggunakan lem lilin. Sementara penjepitnya saya gunakan wooden clip. Alternatif dari penjepit kayu adalah penjepit kertas. Tapi eh, terserah mau dijepit pakai apa.

Sekali lagi, mengubah screen sablon menjadi dekorasi dinding ini hanya butuh kesebaran dan konsistensi. Jika diseriusi, mungkin dapat selesai dalam dua atau tiga hari, namun saya menghabiskan hampir dua puluh delapan hari untuk melihat barang yang hampir dibuang ini menjadi barang yang memanjakan mata.

Semester Tujuh, Semester Penghabisan

Kerja-kerja akademik enam bulan terakhir ini saya habiskan dengan tiga orang teman, kami tergabung dalam agensi periklanan (baca: kelompok kerja) yang diberi nama JHEM. Dibentuk akhir November 2014, berempat, kami harus menyelesaikan dua dari empat mata kuliah yang diprogramkan di semester tujuh. Berikut hasilnya :
1.Periklanan II
Mata kuliah Periklanan I yang diprogramkan di semester lalu telah menempa kami menjadi pribadi yang kuat, kuat brainstorming sendiri, kuat mengongkosi tugas sendiri. Haha. Di Periklanan II kami dibentuk menjadi agensi periklanan, yang terdiri dari creative director, art director, copywriter, & team player. Sebuah proses belajar yang sangat menantang! Big applause untuk dosennya, Irfan Arifin. Berikut uraian tugasnya :
Seorang klien dari sebuah fakultas di perguruan tinggi yang sedang berkembang ingin dibuatkan iklan menarik mengenai tiap jurusan yang ada di fakultasnya. Jenis media yang diinginkan adalah media cetak (teknik fotografi yang diejawantahkan melalui ruang tak terpakai yang tersedia di fakultas) dan media videografi. Klien membuka kesempatan kepada biro iklan yang ada untuk mengadakan audiensi untuk membicarakan project iklan tersebut. 
JHEM kemudian mendapati tugas untuk mengiklankan jurusan seni tari di Fakultas Seni & Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar. Ide yang kami tawarkan sederhana, konsep fotografi  pemotretan indoor dengan objek seorang penari yang mengenakan kostum tari kreasi. Prosesnya telah saya post di produksi fotografi iklan. Hasil foto kemudian diejawantahkan di tembok fakultas yang tidak dimanfaatkan dan untuk pemasangannya kami tetap menghindari untuk merusak tembok yang ada. Di samping tembok kami menyediakan bangku. Konsep bangku dibuat menyerupai tungkai bawah penari kontemporer.

Proyek (baca: tugas) ini dikerjakan selama enam bulan, menghabiskan biaya kurang lebih 4jt dan melibat beberapa orang profesional dengan latar belakang keahlian berbeda untuk eksekusinya. Dari sini, mahasiswa yang memrogramkan mata kuliah ini makin fasih mengatakan bahwa kuliah di DKV mahal. Mahal ide, mahal ongkos eksekusi tugas. Haha. Oiya, berikut video iklan yang kami buat :

“Kerjakan tugas kuliahmu semaksimal mungkin untuk dijadikan portofolio yang akan diajukan ke klien!” M. Arief Budiman. 

2. DKV V
Melanjutkan kelompok kerja JHEM kami kemudian ditugasi untuk mengerjakan website FSD UNM secara penuh di mata kuliah DKV V. Dan ini memaksa kami untuk belajar bahasa pemrograman. Haha.

Teman saya Handi, melontarkan ide penerapan teori golden ratio dalam pembuatan website. Setidaknya, ini menjadi pembeda dari kelompok lain yang ditugasi website yang sama. Warna merah yang kami pilih setidaknya mampu membangkitkan emosi positif dan menimbulkan kegembiraan, merunut dari psikologi warna merah.
Ketika mengerjakan tugas yang sama, bukankah kita harus berbeda agar mampu terlihat?

Beberapa comtoh tampilan grafis laman web FSD UNM.

Kedua mata kuliah ini telah menyita pikiran dan uang lebih dari mata kuliah yang lain. Namun, semuanya impas ketika laporan telah dijilid rapi dan diserahkan ke dosen pengampuh mata kuliah. Semester ini tidak hanya melulu melontarkan sebuah ide, tapi juga mengeksekusi hingga mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, yang kemudian dipertanggungjawabkan. Semester ini, semeter tujuh, memang menjadi semester penghabisan, penghabisan materi, penghabisan belajar dalam kelas. Sebab, separuh dari teman se-angkatan saya yang jumlahnya hanya 30-an orang akan menghabiskan semester delapan mereka dengan tugas akhir.

Menyapa Hellofest Hingga Berpasar Seni

Kring.. Kring.. Kring..
(Nada telepon genggam Samsong)
Bapaknya Herman : Halo, Herman!
Herman : Iye’ pak.
Bapaknya Herman : Kamu dimana?
Herman : Di pasar seni, pak.
Bapaknya Herman : Oh, kamu di pasar.. 
Herman : x0hn%*asf!#khv…
Sambungan terputus.

Percakapan ini diceritakan ulang oleh Herman ke saya. Di pasar seni ITB 2014, Herman ditelepon oleh bapaknya. Mendengar percakapannya, saya melongo.

Perjalanan menikmati desain dan kesenian terbesar sepanjang 22 tahun terakhir, Hellofest (perayaan pop culture di Jakarta) serta Pasar Seni ITB 2014 (perayaan seni sejak 1972 di Bandung). 2012 pertama kali mendengar kata Pasar Seni, selama 3 kali ORANGEFEST, kata ini selalu muncul dalam proposal. Hingga tibalah saya dan kawan-kawan dari Universitas Negeri Makassar di perayaan ini, menyaksikannya secara langsung, larut dalam hinggar bingar manusia dan hujan.

Menjelang closing ceremony Pasar Seni, saya ditanyai oleh Kya (fotografer analog, teman dari Malang asal Makassar), “Apa yang kamu dapatkan di Pasar Seni?”

Saya kemudian kembali melongo, sebab di Pasar Seni saya hanya menemukan lautan manusia.
“Perjalanan tanpa makna bagaikan rumah tanpa roh,” Agustinus Wibowo – Titik Nol.

JHEM, agensi periklanan profesional

Saat ini saya sudah berada pada semester tujuh. Salah satu mata kuliah dari lima mata kuliah yang saya programkan di semester ini adalah Periklanan II. Hingga menjelang semester akhir, saya, di DKV FSD UNM telah belajar tiga mata kuliah tentang tetek bengek iklan. Sebutlah Naskah Iklan, Periklanan I, dan Visual Merchandising.  

Hal menarik dari Periklanan II ini adalah membentuk kelompok yang kemudian berperan sebagai agensi periklanan profesional. Yang terdiri dari Creative Director, Art Director, Copywriter, dan Team Player. Kelompok saya kemudian menamai diri JHEM Creative Workgroup. Nama yang kami sepakati hanyalah inisal dari kami berempat, Jumardan, Handi, Emmy, dan Mayang. Nantinya, kami akan menangani klien (dosen) dengan masalah berbeda. Foto-foto yang tampil dalam postingan ini adalah Company Profile. Harapan dosen dan teman-teman, kelak setelah perkuliahan ini berkahir, tiap-tiap kelompok yang ada akan menjadi agensi periklanan profesional yang akan menangani klien profesional.

Orang-orang yang menikmati perkuliahannya di DKV dan menganggap tugas kuliah bukan sebagai beban melainkan permainan, mungkin akan berkata seperti ini, “Beginilah kiranya, kuliah di Desain Komunikasi Visual memang menyenangkan, tiada tara.”