Biarkan Mereka Terbang

“Tapi mohon diingat, di tengah-tengah anak yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu belajar Matematika secara tuntas. Ada calon musisi yang nilai Biologinya tidak terlalu akan berarti. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentu ilmunya bisa jadi bukan dari sekolah ini,” Darno Yusuf Mulyono, S.PdI.
Saya secara tidak sengaja menemukan surat ini di Twitter saat usia kehamilan Ade sudah 12 minggu. Pikiran saya pun melayang ke hal-hal menyenangkan tentang membesarkan dan menghidupi seorang anak.
Surat tersebut ditulis oleh seorang kepala sekolah SD Islam Al Bina Masohi di Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku kepada para orang tua peserta didik Kelas 6 yang anaknya telah selesai melaksanakan ujian sekolah.
Lebih lanjut, Pak Darno menulis seperti ini, “Sekiranya anak bapak/ibu lulus menjadi yang terbaik, maka hebatlah dia. Tapi jika tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.”

Mungkin hal terlalu klise, tapi saya hampir saja menitikkan air mata membaca surat ini. Soalnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah selama 9 tahun, saya merasakan betul apa yang dirasakan anak-anak setelah melihat nilai mereka.
Barangkali kamu. Iya kan? 😒
Kurasa kita hidup di negara dengan sistem pendidikan yang tidak baik di mana pintar atau tidaknya seorang anak diukur dari nilai-nilai ujian mereka di sekolah. Ketika seorang anak gagal, orang tua dengan sangat sadar akan memperlakukan mereka dengan tidak semestinya.
Pun dengan masyarakat sekitar. Anggap saja teman orang tua kita yang dengan seenaknya bertanya, “Ardan ranking berapa?”
Oh, saya merasakan ini berkali-kali setiap ujian selesai. Betapa tidak mengenakkannya karena beberapa kali saya tidak masuk 10 besar rangking kelas. Saya selalu kewalahan dengan mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia kalau boleh jujur.
Tapi untuk pelajaran Bahasa Indonesia saya bisa bertepuk dada. Pencapaian tertinggi saya adalah didaulat sebagai perwakilan Kabupaten Wajo untuk lomba mengarang di tingkat Provinsi se-Sulawesi-Selatan sewaktu duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Hal itu juga barangkali yang menjadi alasan kamu bisa membaca blog ini.

Hari ini saya masih selalu bertanya-tanya kepada beberapa teman sekolah saya, “Kamu menggunakan semua pelajaran-pelajaran di sekolah dulu untuk apa di kehidupanmu yang sekarang?”
Kebanyakan menjawab tidak ada. Lihat? Barangkali kita hanya menghabiskan waktu selama 9 tahun untuk berangkat ke sekolah dengan seragam, menghafal pelajaran-pelajaran, dan mempelajari sesuatu yang tidak kita ada artinya.

Betapa waktu tersebut sia-sia. Apalagi di usia-usia sekolah menjadi waktu terbaik bagi orang tua untuk merajutkan anak-anak mereka sebuah sayap dan mengajarkan mereka untuk terbang.

Sistem pendidikan kita hanya mengajarkan semua hal tanpa membuat kita tahu apa yang sebaiknya kita lakukan dan menjadi apa kita di masa depan. Buktinya, seberapa banyak lulusan universitas yang bekerja tidak sesuai bidangnya? Kurasa ini juga yang memicu munculnya Life Quarter Crisis.

Life Quarter Crisis: perasaaan sedih, bingung, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan, tak termotivasi, kebingungan, serta ketakutan terhadap kegagalan.

Sementara jikalau saja kita dipersiapkan untuk menghadapi dunia dengan berbagai kompleksitasnya, maka Life Quarter Crisis tidak akan terjadi. Saya mengingat Rhenald Kasali yang pernah bilang, “Tugas orang tua adalah untuk mengajarkan anak-anaknya untuk hidup.”
Bukan menuntut anak-anak berada di peringkat pertama di kelasnya selama 9 tahun. Toh, semua pelajaran-pelajaran tersebut akan menjadi tidak berarti saat mereka dewasa.
Seteah 9 tahun lulus dari SMA saya juga sering bertanya-tanya ke teman sekolah saya, “Di mana si A sekarang? Dia mengerjakan apa saat ini?”

Sialnya, beberapa kali saya mendapatkan jawaban tidak mengenakkan bahwa hingga saat ini mereka belum lulus dari universitas.

“Lah? Bukannya mereka dulu mereka selalu masuk rangking 3 besar di sekolah? Bukannya mereka selalu menjadi yang terbaik saat pelajaran Matematika?”

Begitulah kura-kura. Oh, saya mengingat bagian akhir surat dari sebuah sekolah di Maluku tersebut yang bunyinya begini;

“Lihatlah anak bapak/ibu akan menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai yang rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon berhentilah berpikir bahwa hanya dokter, insinyur, pegawai negeri, atau polisi dan tentara yang bahagia di dunia ini.”

***

Panjang Umur, Mama!

Foto ini diambil di perwakilan mobil ketika kami akan berangkat ke Makassar.

“Tuhan sedang membersihkan saya dari dosa-dosa. Ini adalah cobaan yang memberi banyak saya pelajaran,” mama.

Sambil berbaring, berkali-kali mama mengulangi kalimat di atas. Mama sedang sakit. Desember kemarin, mama berulangkali keluar masuk rumah sakit. Dokter hanya bilang, asam lambungnya meningkat sehingga dia tidak bisa tidur. Karena tidak bisa tidur, mama menjadi lemas. Bahkan untuk menyapu dalam kamarnya saja, dia tidak bisa.
Liburan semester kali ini, saya berencana ke Sengkang. Ekspektasi saya adalah saya akan membakar lemak dengan berlari di siang hari selama dua minggu. Dengan begitu, berat badan akan menurun. Tapi, proses penurunan berat badan yang saya alami berbeda dengan ekspektasi. Nafsu makan saya menurun drastis melihat mama yang sedang sakit. Pikiran saya hanya fokus ke mama. Berat badan saya agak menurun.
Dua minggu di Sengkang, saya habiskan dengan menemani mama. Mengantar jemputnya ke sekolah, menyiapkan makanannya, memanaskannya air ketika akan mandi, menggantikannya mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Karena untuk melakukan itu semua, mama sedang tak berdaya akibat penyakit yang dideritanya.
Dua kali malam jumat, mama menangis sejadi-jadinya seolah dia sedang berhadapan dengan sakratul maut. Hingga akhirnya, dia memaksa untuk meninggalkan rumah tepat tengah malam karena tak bisa tidur. Di rumahnya sendiri, mama selalu gelisah.
Saat sedang menuliskan ini, mama sedang dalam perjalanan dari Makassar ke Sengkang, naik mobil sewa sendirian. Dia sudah membaik sekarang, setelah dua bulan menderita. Selamat sampai Sengkang, mama! Panjang umur!

Hari ke-5: Masih tentang petandang pagi

Ketika anak perempuanku satu-satunya meminta ini dan itu, maka sebisaku akan kupenuhi. Bahkan tanpa meminta pun akan kuberikan. Namun, suatu waktu, Kenangan yang telah lama tak kutemui datang menyapa di hari-hariku.


Sekadar menelpon dan mengirim pesan-pesan singkat yang bertanya tentang kabar yang telah lama ia tak ketahui. Aku dan Kenangan telah dipisahkan oleh sebuah jarak dan waktu. Hingga akhirnya, saya memiliki satu-satunya anak perempuan yang kian hari tumbuh menjadi perempuan dewasa.

Jutaan hari telah kulewati berdua dengan anak perempuanku. Kadang, Sepi menyelisik. Ia bicara denganku dalam keadaan yang kosong melompong, tanpa suara tanpa wujud, hanya kami berdua. Dan ini tak pernah diketahui oleh anak perempuanku. Hingga akhirnya, jadilah kami bertiga, aku, anak perempuanku dan Sepi.
Beberapa bulan belakangan ini, Kenangan datang meneror anak perempuanku dan anak perempuanku tidak menyukainya betapapun manisnya janji-janji kebahagiaan.
“Bu, bukankah dari dulu kita cuma berdua? Dan masa-masa itu, kita telah lalui dengan sangat bahagia. Aku bisa membahagiakanmu, bu” ucap anak perempuanku dengan tiga empat bulir air di sudut matanya ketika ia merasakan ketakutan akan kedatangan Kenangan.

Aku hanya bisa diam.

Teror yang Kenangan berikan ke anakku semakin menjadi. Suatu malam yang hujan, ia datang dengan membawa rupa-rupa makanan dari tempat tinggalnya. Ia menyalami anakku, memegang bahunya, seakan Kenangan dan anak perempuanku telah lama kenal. Seakan Kenangan menaruh kasih sayang mendalam ke anakku.
Anak perempuanku sangat keras kepala, turunan dariku. Ia teguh terhadap pendiriannya untuk tidak menerima Kenangan. Padahal, Kenangan bagiku adalah sesuatu yang menyimpan masa-masa paling indah dan selalu memintaku untuk menggantikan Sepi. Ia mau bertiga denganku, aku, anak perempuanku, dan ia, Kenangan. Ia menjanjikan kebahagiaan yang lebih hal ini juga dijanjikan kepada anak perempuanku.
Ketika diminta berkata dengan jujur, maka aku akan bilang bahwa aku mau Kenangan menggantikan Sepi. Dan aku mau kebahagiaan yang lebih. Lantas, pertanyaan terbesar adalah apakah aku harus membiarkan ketakutan anak perempuanku itu menjadi nyata dengan menerima Kenangan? Atau aku harus menghapuskan segala ingatan tentang Kenangan lengkap dengan deretan nomor-nomor teleponnya di ponselku?
“Kau tidak berhak terhadap kehidupanku! Menerima atau menolak kehadiran Kenangan itu adalah hakku. Kau tidak bisa melarangku karena aku yang melahirkanmu!” kalimat yang mungkin suatu waktu akan keluar dari mulutku terhadap kekeraskepalaan anakku dengan tidak mau menerima Kenangan.

Hari ke-4: Petandang Pagi

Atas nama apa kamu bertandang sepagi ini?
Memecah ruang-ruang yang telah lama ditinggal dan sepi, kita tidak lagi berjarak lewat pesan-pesan singkat. Di ruang, tamu kamu menghambur percakapan. Sekedar menikmati sarapan dengan tawa yang melengking, kamu adalah pengusik pagiku. Kamu membuatku mendekap di kamar, menjadi penakut di rumah sendiri. Kedatanganmu cukup lama karena aku yang menunggu kepergianmu. Bagi orang-orang yang dibuat menunggu, waktu akan terasa lama lebih lama. Aku tidak menyukaimu dan tidak ingin bersamamu walau kamu membawa kenangan dan cinta yang katanya kamu rengkuh berpuluh tahun.
Beberapa kutulis puisi, kurapal doa terbaik yang kupunya, semoga ini menjadi dekade paling akhir dan kamu pergi bersama hujan-hujan dan aku akan tetap bahagia bersama ibuku. Gerimis pagi ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang mendatangiku dan menjadi kenyataan. Hingga akhirnya, ini adalah mimpi terburuk.
Pelita Raya, 4 Januari 2013.

Hari ke-1 : Saya pilih menyepi!

Photo by: Jumardan Muhammad

Ketika semua orang membincangharukan mengenai pergantian tahun, maka saya memilih menepi, menyepi. Entah kenapa, saya selalu tidak tertarik segala hal tentang pesta, segala hal tentang keramaian dan hiruk pikuk. Entah kenapa. Semua orang memiliki pengharapan untuk tahun yang baru. Semua orang memiliki resolusi. Tapi, entah kenapa saya tidak punya hal-hal tersebut. Bukannya saya orang yang pesimis tentang hidup dan tahun yang baru. Namun, saya lebih senang menaruh pengharapan, resolusi, rencana di tiap malam sebelum tidur. Saya lebih senang menikmati apa yang ada di depan, apa yang akan dijalani hari esok.


Bukankah, kita manusia hanya bertugas menciptakan kenangan? Ada yang baik dan buruk, sementara itu, kehidupan terus berlanjut. Seperti sebuah keyakinan, tidak ada yang sia-sia. Selamat berjuang kawan! (Budiman Sukma)

Pelita Raya, 1 Januari 2013. 23:45

#30HariBercerita ajakan dari Terlalu Rizky. Sebelumnya saya sudah pernah melihatnya di blog Theoresia Rumthe. Dan ternyata dia adalah asalmuasal kegiatan ini.  #30HariBercerita sebagai perwujudan ide-ide yang biasanya cuma dibiarkan mampir numpang duduk di pikiran (Rizki Ramadan).

Setelah menyeruput kopi susu, mulailah diskusi itu

Diana Mini, #ttymkdsc, #pelukan, Mata Badik Mata Puisi

Semalam saya mengikuti bincang-baca buku @hurufkecil di kafe ininnawa (11/06/12). Dari awal hingga akhir diskusi saya hanya tertarik dengan konsep ruang dan waktu di bugis dan makassar yang mereka paparkan.

“Selalu berpikir tentang masa lalu, seolah-olah yang ideal itu hanyalah masa lalu. Bagaimana dengan masa depan? Apakah kita tidak pernah berpikir tentang masa depan?” Setidaknya begitu sebuah pertanyaan yang tak terjawab (bagi saya) yang muncul malam itu.
Sementara kemarin malam di Graha Pena (10/06/12), Nunding Ram ditestimoninya dalam rangka memperingati 10 tahun yayasan esensi dan launching buku Mata Badik Mata Puisi milik Kiai D. Zawawi Imron mengemukakan bahwa sudah sebuta itukah mata kita akan budaya bugis makasssar? Sehingga tidak bangga akan budaya dan masa lalu kita?

Nenek moyang kita telah melahirkan sebuah karya luar biasa dan terpanjang di dunia, Sureq Lagaligo, bahkan mengalahkan kisah Ramayana dan Mahabrata. Selain itu, jauh sebelum ditemukannya teori demokrasi, orang bugis sudah jauh lebih dulu menerapkannya.
Hingga akhirnya, nampak jelas perbedaan dua generasi yang saling mempertentangkan interpretasi tentang masa lalu dan masa depan. Setidaknya kebanggaan akan masa lalu dapat dijadikan pelejit untuk masa depan yang akan lebih jauh membanggakan, itu saya. Lantas, bagaimana dengan anda?
Selamat datang, Juni!
Saya hanya ingin menuliskan beberapa kalimat dari pekerjaan mendengarkan saya belakangan ini (agar dapat menjadi penyemangat).
Dari pentas Festival Kala Monolog IV 28-30 Mei 2012 di Gedung Societeit De Harmonie :
“Kita bahkan lupa cara menangis yang baik!” Pidato-Putu Fajar Arcana.
Dari pendokumentasian kegiatan Vierra selama di Makassar tanggal 1 Juni 2012, saya sempat menguping kesimpulan percakapan event organizernya tentang cara berhenti merokok, m-e-r-o-k-o-k.
“Gue udah enam bulan berhenti merokok bro, insyaf deh gue!. Caranya gampang, pertama,  ubah mindset lo tentang rokok. Bahwa betapa rokok itu emang beracun, mematikan. Kedua, pelan-pelan aja berhenti, kurangin-kurangin, lama-lama akan berhenti sendiri kok. Kalo berhenti langsung sih, emang gak bakalan bisa tapi kalo pelan-pelan dan emang sudah niat, bakalan bisa kok.”
Dari KELASPAGI HASBULLAH MATHAR tanggal 3 Juni 2012.
“Selamat datang di kelas pagi. Kelas yang tak punya kelas, kelas yang tak punya tempat. Dimana semua tempat adalah kelas.” -BANG IBUL-
“Kesendirian dalam jendela bidik memang, tapi mampu merekam keramaian.” -BANG IBUL-
Dari kegiatan HEALTHY WITH GREEN CAMPUS oleh KompasKampus dan Tupperware tanggal 4-5 Juni 2012 di UIN ALAUDDIN MAKASSAR.
“Jangan takut setan! Bersahabatlah dengan setan tapi jangan tiru kelakuannya.” -DIK DOANK-
“Dinding auditorium ini sangat bersih, mana karya mahasiswanya?!” (menggelitik bagi saya) -DIK DOANK-
“Muda, kita yang jaga kesehatan. Tua, kesehatan yang jaga kita.” -SHAHNAZ HAQUE-
Terima kasih, selamat malam! Project final DKV saya menumpuk. Deadline? Minggu depan mungkin. Ya Rahman!

-Sesuatu Tentang Kertasnya-

Untitled

Duduk menikmati senja dengan sisa jalan yang basah, nikmat bukan?
Sambil menikmati aroma tanah yang tersiram hujan.
Menyeruput moca sambil bicara mimpi.
Kita yang dipertuan mimpi,
Kita berbuat,
dan Tuhan melihat!

Setelah mimpi ini tuntas,
Kita lanjut ke mimpi selanjutnya!

Circle K Losari, 23 April 2012.

Senin

Senin minggu lalu harus kecewa, persiapan sudah matang tapi rencana gagal. Senin ini, rencana juga sudah matang tapi lagi-lagi, harus gagal. Nampaknya, saya tidak berjodoh dengan senin! Oh, maaf. Saya tidak boleh men-judge begitu saja (ada hikmah dibalik gagalnya rencana-rencana senin).
Saat tulisan ini saya ketik, hari masih sore tapi udara panas bikin berkeringat. Kurasa, saya tidak akan menemukan apa-apa hari ini, tapi duduk sambil minum kopi susu kesukaanku membuat saya menemukan tulisan ini dan penulisnya, hebat! Lagi-lagi saya kalah dalam menuliskan sesuatu yang benar.

“Belajarlah pada sudut-sudut pasar tradisional, pada lengangnya tengah malam, pada teduhnya cahaya rembulan atau pada goyangan dedaunan ketika ditiup angin. Bukalah hatimu, kau akan banyak belajar dari itu semua. Orang-orang sukses banyak menemukan kesuksesannya dari sejumput hal-hal kecil yang mampu ia rangkaikan menjadi hal-hal besar.”
(saya menyukai angle ini)