Pram dan Kegagalan Indonesia Menjadi Besar

biografi pramoedya ananta toer
“Pa, bulan ini Iyan banyak mengadakan ulangan, mudah-mudahan Iyan mendapat nilai bagus. Iyan selalu berdoa agar papa cepat pulang, biar kita bisa berkumpul kembali. Iyan kalau melihat anak kecil dibawa jalan-jalan oleh ayahnya, Iyan sangat iri padanya.”
Begitu kira-kira potongan surat yang ditulis oleh Tantyana Ananta Toer circa Februari 1976.
Bersama dengan surat-surat saudaranya yang lain serta beragam barang pribadi peninggalan Pramoedya Ananta Toer, potongan surat ini dipamerkan di Dialogue Art Space yang bekerja sama dengan Titimangsa Foundation dari 17 April hingga 20 Mei 2018.

Pameran ini bertajuk Namaku Pram, semacam biografi Pramoedya Ananta Toer.

Saya tiba di ruang pamer sejam sebelum jarum jam menunjuk angka 12 siang. Matahari hampir tidak tampak.
Di depan bangunan tersebut ada dua mobil yang terparkir menyerong dengan tiga motor di sampingnya. Di pos satpam, dua orang berbicang sambil tertawa-tawa.
Mulus saja saya memasuki ruang pamer, ada seorang wanita dengan pakaian hitam berjilbab yang berdiri di samping meja registrasi.
Sesudah mengisi data diri di buku registrasi, saya mendapat perhatian untuk tidak memotret karya-karya yang dipamerkan—kecuali suasana pameran.
Di dinding sebelah kanan ruang pamer, ada lini masa seorang penulis Anak Semua Bangsa yang memanjang. Titiknya bermula dari kelahirannya pada 1925 di Blora dan berakhir pada kematiannya di 2006.
biografi pramoedya ananta toer
Jika mencoba mengingat-ingat, setidaknya ada enam pembabakan; masa kecil, masa remaja, titik puncak intelektual, masa di Pulau Buru, masa pembebasan semu, dan masa-masa di Jakarta.
Tiap-tiap tahun yang dituliskan juga memuat buku, artikel, dan tulisan-tulisan Pram. Saya tidak habis pikir, bagaimana seorang yang tidak aman dan serba keterbatasan di dalamnya hidupnya itu sangat produktif menulis.
“Dia memecah batu baterai dan mengambil serbuk hitamnya untuk dioles di pita mesin ketik yang kehabisan tinta,” Hilmar Farid membeberkan di sebuah video yang ditayangkan di salah satu sudut ruang pamer.
Pada tahun 1963, Pram mencapai titik intelektualitasnya dengan menghasilkan banyak sekali tulisan. Dua tahun berselang, tepatnya 1965, dia diasingkan. Pun dalam pengasingannya—dia tidak berhenti menulis.

Di sebelah kiri ruang pamer, ada berlembar-lembar surat dari orang-orang terkasih Pram selama diasingkan; sahabat, istri, dan anak-anaknya. Beberapa surat yang ditulis tangan serta di ketik tersebut sampai, banyak di antaranya yang disembunyikan dan baru bisa dia baca ketika bebas.

buku pramoedya ananta toer
Masih di sebelah kiri ruang pamer, ada ruangan yang berisi medali, sertifikat, plakat, serta lencana penghargaan-penghargaan yang diterima Pram dari seluruh dunia—pun tiket-tiket perjalanannya ke luar negeri.
Menyusur ruang-ruang di Dialogue, saya tiba di ruang kerja penulis Bumi Manusia yang juga dibuat menghadap ke barat dengan tiga mesin ketik di dalamnya. Satu di meja utama, dua di kirinya. Pada kursi kerja Pram, ada baju, celana, serta sarung miliknya.
Saya merinding. Membayangkan seorang Pram duduk di sana dengan rokoknya yang mengepul.
Tepat di depan meja kerjanya—di dalam kotak kaca, dipamerkan beragam buku Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan dalam beragam bahasa di seluruh dunia. Di sebelahnya, ada Sketsa Bakar Sampah sebagai respon atas kebiasaan membakar sampah setiap pagi dan sore yang dilakukan oleh Pram.

bumi manusia
Secara terpisah, di ruang belakang Dialogue Art Space, berlembar-lembar kain putih dengan potongan-potongan tulisan Pramoedya Ananta Toer terjuntai tertiup angin.
Bagian ini menjadi penutup Namaku Pram.
Saya mengitari kain-kain putih tersebut berkali-kali sambil mendongak dan membayangkan Indonesia di masa lalu. Ada suatu waktu dimana Indonesia nyaris menjadi raksasa dunia dan ada suatu hal yang menggagalkan kemampuan tersebut.

Visual yang Menyembuhkan

“My name’s Temple Grandin. I’m not like other people. I think in pictures and I connect them.”

Siapa yang menyangka bahwa wanita bertubuh tinggi ini adalah seorang autis?

Film biografi yang mengambil judul yang sama dengan namanya ini saya nonton sekira dua tahun lalu. Temple Grandin adalah seorang profesor wanita di bidang ilmu hewan di Colorado State University dan dia adalah seorang autis.
Kali pertama memiliki ketertarikan pada dunia hewan adalah ketika Grandin diajak tantenya yang memiliki peternakan sapi untuk berlibur di rumahnya. Wanita yang pada 2010 lalu masuk The 100 Most Influential People in The World versi Time ini kemudian menemukan Hug Machine untuk mengurangi rasa sakit pada sapi-sapi yang akan disembelih.

Tahu gak?

Autisme yang dialami oleh Grandin bak senjata yang digunakan untuk menciptakan alat ini. Prosesnya lahir dengan menghubung-hubungkan gambar. Berpikir secara visual.

Secara medis, autis adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, bersosialisasi, serta berprilaku. Dan anak-anak yang mengidap hal ini digolongkan ke dalam Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Seorang lain yang menjadikan visual sebagai senjatanya adalah Vincent Van Gogh.


Pelukis impresionis asal Belanda yang hidup dari tahun 1853-1890 ini merupakan sosok yang tak terpisahkan dari sejarah seni manusia pada abad ke 19 dan 20. Meskipun hanya aktif berkarya selama 10 tahun, Van Gogh membuat sekira seribu lukisan.

Ketajaman intuisinya dalam seni ini beriringan dengan statusnya yang mengidap skizofrenia dan gangguan bipolar. Peringatan World Bipolar Day yang diadakan setiap tahun pun bertepatan dengan hari ulang tahunnya di 30 Maret.

Mengingat kisah Temple Grandin dan Van Gogh yang produktif menghasilkan karya dengan gangguannya tersebut selalu membuat saya merasa ditampar 😔

Selamat Datang di Duniaku!

Istilah di atas merupakan tajuk sebuah pameran fotografi yang diadakan di Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta (GFJA) oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Percaya atau tidak, mereka menghasilkan karya visual dengan pendekatan berbeda dan hasil yang tidak kalah menariknya.
“Orang-orang seperti kita tuh luar biasa jaimnya ketika disuruh memotret. Misalnya, disuruh untuk memotret Monas yang dilihat setiap hari. Kita menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan malah bingung sendiri dengan apa yang akan dipotret,” Oscar Motuloh selaku kurator pada pameran ini.

Adalah Spectrum, sebuah sekolah khusus bagi ABK, yang memamerkan karya fotografi murid-muridnya di GFJA dari 12-20 April 2018. Spectrum memang memiliki misi bahwa dengan menggali potensi siswa dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran, latihan, serta penanganan yang tepat akan mengaktualisasikan potensi siswa berkebutuhan khusus secara optimal—salah satunya melalui fotografi.

Di sesi diskusi yang diadakan, beberapa orang tua siswa secara bergiliran mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Spectrum. Betapa tidak, kebanyakan anak-anak tersebut seolah tidak memiliki harapan pada mulanya.

Keterbukaan masyarakat terhadap kehadiran mereka pun masih sangat rendah. Ini mengingatkan saya tentang masa kecil sekira 18 tahun lalu. Saya rasa kamu pun pernah mengalaminya.

Tetangga saya yang juga teman sepermainan menjadi terkucilkan ketika dia tidak diterima di lingkungan bermain, hanya karena dia termasuk ABK. Jadilah dia semakin menyendiri di rumah dan tidak mengalami perkembangan.

Hingga bertahun-tahun kemudian, dia masih tetap di rumah dan tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana anak seumuran saya waktu itu yang mulai memasuki masa sekolah dasar. Bahkan orang tuanya pun malu malu dengan keberadaan anaknya.

Namun, anak-anak di Spectrum berbeda, ketika mereka dikenalkan kepada beragam media seni, misalnya musik, gambar, dan fotografi—mereka mengalami perkembangan yang sangat signifikan.

“You did it (untuk para guru), We did it (kita semua melakukannya), and I did it!” seru Opa, kakek dari seorang murid Spectrum.

Visual-visual yang dihadirkan di ruang pamer ini saya rasa menyembuhkan mereka, memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dan kemungkinan untuk menjadi Temple Grandin atau Van Gogh yang lain.
Saya terngiang-ngiang Grandin, “I am different, not less.”

Citra dan Pemantapan Jiwa di Jakarta Biennale 2017

Salah satu lokasi Jakarta Biennale 2017, Gudang Sarinah Ekosistem

Hari meremang, halte disesaki para pekerja dari berbagai kelas yang berlari kecil menuju antrian yang mengular dimana bus akan mengantar mereka pulang ke rumah. Derap langkah, bunyi klakson, dan suara mesin kendaraan bermotor bersahut-sahutan. Peluh di dahi diusap dengan punggung tangan. Beberapa dari mereka bermasker, mengenakan earphone, dan tentu saja barang bawaan yang membuat pergerakan mereka menjadi tak mudah.

“Ini sungguh melelahkan!” ujar Citra, perempuan kantoran di kawasan Sarinah.

“Kenapa?” Andi, seorang pekerja lepas keheranan.

“Bayangkan saja, tiap hari berangkat kerja ketika matahari belum terbit dan pulang ketika sudah terbenam. Belum lagi ketika ada kerjaan yang mendesak untuk diselesaikan dan menuntut lembur.”
Mereka, teman lama yang baru bertemu, menghabiskan jam makan siang di sebuah kedai kopi tak jauh dari tempat Citra bekerja.
“Bagaimana kalau weekend ini kita ke Gudang Sarinah?”

“Hah? Gudang? Sarinah? Perasaan di sini gak ada gudang deh?”
“Duh, bukan. Ini Gudang Sarinah, dekat tugu pancoran.”
“Ngapain?”
“Lagi ada pameran seni, Jakarta Biennale 2017. Lumayan buat kamu untuk refreshing. Daripada ke mall terus.”

“Oh, boleh deh.”
Penelitian yang diadakan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) 2012 memang mengungkapkan bahwa setiap pekerja di Jabodetabek membutuhkan sejam untuk tiba di tempat kerja. Sementara dalam perjalanannya, mereka harus menghadapi kondisi yang tidak mendukung seperti berdesakan di transportasi umum. Hal ini tentu saja berdampak pada kinerja mereka sementara stres terhadap pekerjaan akan mengganggu kesehatan biologis dan mental.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika GrabCar menurunkan Citra tepat di gerbang Gudang Sarinah.
“Dimana?”

“Oh, masuk aja. Ntar pintu pertama sebelah kiri ya,” balas Andi yang tengah mengerjakan jahitan tas berbahan dasar baliho bekas pameran.
Citra terperangah melihat penampakan dalam tempat yang disebut gudang tersebut. Dia tidak mengira akan ada ruang yang terlihat seperti window display toko-toko dalam mall. Tokopedia memang berkolaborasi dengan Jakarta Biennale (JB) 2017 dengan menyediakan ruang untuk workshop. Di sana kemudian digelar aktivitas menjahit yang dilakukan oleh para seniman dan kurator. Selain itu, ada pula workshop mewarnai topeng untuk anak-anak.
“Hei! Selamat di Gudang Sarinah,” sambut Andi.

“Oh, ini,” Citra menyapukan pandangannya ke seluruh ruang.

“Iya, jadi ini Jakarta Biennale 2017 yang merupakan biennale ke 17. Diadainnya tiap dua tahun sekali. Pameran seni ini udah ada sejak 1974 loh. Udah lama banget. Di Indonesia, dia yang pertama. Isinya seni macem-macem gitu,” terang Andi.

Infografis sejarah Jakarta Biennale
Jakarta Biennale tahun ini memiliki waktu yang hampir bersamaan dengan Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Mereka memang sepakat untuk menggelarnya dalam waktu yang berdekatan agar, menurut Ricky Josep Persik wakil kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), efektif dalam menarik tamu-tamu internasional untuk datang ke Indonesia.
Tahun ini  JB melalui 5 kurator  mengurasi 51 seniman baik individu maupun kelompok baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menampilkan karya mereka dengan tema JIWA. Perhelatan dua candra ini digelar di tiga tempat berbeda yakni, Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlangsung dari 5 November hingga 10 Desember 2017.
Menyeberang ke gedung sebelah, Citra yang dituntun Andi mendapati karya Chiharu Shiota di sebuah layar LCD yang menyiram tubuhnya dengan lumpur di dalam bak mandi yang sempit. Karya itu merupakan performans yang dibuat di tahun 1999 berjudul Bathroom. Menurut informasi yang terpampang, seniman Jepang yang kini menetap di Jerman ini, ingin menyatu dengan bumi—tempat dimana dia dan kita berpijak. Tak lama setelah menyaksikan penampilan Chiharu, mata Citra langsung terantuk pada foto batang pohon yang panjang yang ditampilkan dengan warna hitam putih. Senada dengan karya sebelumnya, Citra merasa bahwa karya ini masih berkisar tentang alam dan manusia.

Robert Zhao Renhui. The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree (III). 2017
Adalah Robert Zhao Renhui, seniman Singapura, yang memajang foto tersebut—yang ukurannya menyerupai ukuran batang pohon aslinya. Ini merupakan buah kegelisahannya atas pohon-pohon di Singapura yang ditebang untuk kemudian dipotong-potong dan dipindahkan ke tempat lain untuk diolah. Hal ini, menurut Robert, butuh cara-cara lain untuk “mengelola” alam. Lepas menatapi satu per satu potongan batang pohon tersebut ia meneruskan langkah dan kembali terantuk pada dua karya yang cukup mengambil ruang yang lebar yakni tumpukan-tumpukan tanah, debu, dan kerikil bak gunung dengan tampilan video yang diproyeksikan di tembok putih serta rangkaian batu-batu apung yang tampak menyerupai sebuah wajah. Karya pertama adalah karya seorang perempuan pelaku performans yang lahir di Jerman dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Marintan Sirait. Dalam praktiknya berkesenian, Marintan memang  menganggap bahwa tubuh seseorang  merupakan rumah sekaligus tempat berlindung paling rentan dalam interaksi sesama manusia serta yang paling penting adalah tubuh juga memiliki hak atas kebebasan.
Sedangkan untuk karya kedua adalah hasil bermain seorang Bali bernama I Made Djirna dengan benda-benda di alam. Seperti yang diamininya bahwa benda tersebut juga laiknya manusia yang melalui berbagai tahapan seperti, ada, berproses di dalam waktu, hingga akhirnya tiada. Untuk JB sendiri, Made Djirna menghabiskan berbulan-bulan lamanya untuk memunguti, mengamati batu apung yang ditemukannya di Pantai Beraban, Jumpai, dan Purnama, hingga menggambarinya dengan intuisi akan wajah arkais-universal atau antik sebab dia menyakini bahwa kita, manusia, sebenarnya mampu berkomunikasi dengan benda-benda di alam.
I Made Djirna. Unsuang Heroes. 2017


“Makin halus rasa kita, makin luas pula komunikasi kita di alam semesta,” ujar Djirna.

Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Citra dan Andi selama proses berkeliling ke dalam ruang pameran. Citra, yang walaupun tidak memiliki latar belakang seni pun merasa seolah berbincang dengan karya-karya yang tersaji. Hingga akhirnya mereka memasuki ruang lain yang tampaknya berpendingin ruangan.
“Gimana Cit?”

“Menarik. Dari beberapa karya tadi terlihat jelas hubungan manusia dengan alam. Kita emang gak bisa terpisah ya?”

“Iya. Yuk lanjut!”
Melintas, mereka mendapati dua bangku merah panjang dengan layar yang menampilkan seorang pria beraut Chinese berbicara. Tampak seperti TEDx menurut Citra. Di atasnya ada tirai putih membentang dengan boneka yang menyerupai ratu Inggris. Kesemuanya adalah karya Ho Rui An, seniman muda Singapura yang telah berkeliling Berlin, Manila, London, dan Hongkong untuk mempresentasikan karya-karyanya. Meskipun Citra tak memahami karya tersebut dia tetap mengaguminya karena menampilkan banyak hal dalam satu tempat, mulai dari video, film, patung, dan performans.

Ho Rui An. Solar: A Meltdown 2. 2014

Di ruang pamer ini Citra tidak lagi berjalan melambat memelototi karya. Mungkin karena ketidakmampuan dia untuk mencerna apa yang diterpajang. Namun, satu-satunya yang membuat dia betah adalah di bagian karya Semsar Siahaan. Meskipun telah wafat, tim artistik JB kembali memamerkan karya Semsar dengan tajuk “Menimbang Kembali Sejarah.” Terlihat banyak dari rupa-rupa karyanya yang ditampilkan mulai dari foto keluarga yang dilengkapi dengan deskripsi foto yang ditulistangan sendiri oleh Semsar. Mata Citra juga lama menatap grafis perempuan mengepal lengan dengan tulisan “Marsinah” di bawahnya.
“Siapa Marsinah?” Citra penasaran.

“Baca aja di bawah, tuh berita-berita tentang dia,” timpal Andi.

“Mengerikan ih,” ringis Citra kemudian.

Semsar Siahaan adalah seorang keturunan Batak dan India. Bapaknya merupakan seorang tentara dan memiliki empat saudara. Dalam dunia seni rupa, ia dikenal sebagai seorang seniman aktivisme. Pemberontakan-pemberontakan tampak jelas dalam karyanya. Salah satu kejadian yang paling diingat adalah dia membakar patung dosennya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang baru saja pulang dari pameran patung internasional di Fukuoka, Jepang.
“Saya lapar. Makan yuk!” ujar Citra tiba-tiba.

“Boleh. Di samping ada kantin kok.”
Setelah keluar ruangan, mata Citra disilaukan oleh kumpulan tumbuhan eceng gondok berbunga emas milik Siti Adiyati. Menilik sejarah panjang JB, seniman ini merupakan salah satu dari sedikit mahasiswi yang menolak sistem seleksi karya yang ditampilkan di biennale. Penolakan ini memunculkan sebuah peristiwa bernama Desember Hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru. Eceng gondok berbunga emas ini sebenarnya telah pernah ditampilkan dalam pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1979 namun kembali dihadirkan dengan memperbesar kolamnya dengan ukuran 20m x 8m dengan kedalaman air 30cm. Karya ini merupakan protes terhadap negara yang kian hari melebarkan jarak antara si miskin dan si kaya.
 

Siti Adiyanti. Eceng Gondok Berbunga Emas. 1979

“Keren yah karya-karyanya. Ada aja orang berpikir sejauh itu. Hubungan manusia dengan ini dan itu. Dan juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri,” Citra sambil menyuap mie bakso.
“Iyalah, seniman gitu loh. Eh, masih ada banyak performance art loh beberapa hari ke depan. Mau nonton gak?” timpal Andi.
Pengantar kuratorial Jakarta Biennale 2017


Citra tak menjawab. Ia menguyah sambil menatap jauh bak berbincang dengan jiwanya sendiri. Laiknya diam, jiwa pun tak bisa diterjemahkan.
***

ArtJog 9, semesta kehidupan

Foto: Jumardan Muhammad
Saya tidak pernah berniat mengunjungi Jogja hanya dalam satu dua hari sebab kota ini, bagi saya masuk dalam kota ter-artsy garis keras. Tidak akan puas saya merasakan ke-artsy-an Jogja dalam sehari. Namun, kemarin (5/6) aforisme tersebut sirna seketika.

Setelah dikirimi upah yearbook akhir bulan kemarin, saya kemudian memutuskan untuk ke Pare, Kediri, hingga akhir tahun. Kebetulan saja akhir bulan kemarin Jogja resmi menggelar ArtJog 9. Karena pembelajaran di Pare belum dimulai, saya tergoda untuk mengunjungi ajang pameran seni rupa kontemporer ini. Dari hasil penelusuran di Google, jarak tempuh dari Pare ke Jogja menghabiskan waktu sekira 5-6 jam. Hitung-hitungannya sama seperti Sengkang ke Makassar. Bersama seorang kawan, saya kemudian berangkat.
Karya Ugo Untoro ini terkesan sangat sederhana.
Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk melanjutkan ke karya berikutnya.
Di konsep karya, hanya tertera :
Keindahan adalah yang pertama, yang sendiri,
yang tunggal, yang ganjil, yang selamanya.
Pengantar karya Eko Nugroho
Display karya Eko Nugroho
Artjog 9 digelar di Jogja National Museum (JNM) selama sebulan, dari 27 Juni hingga 27 Juli 2016. Ada 72 orang seniman yang berpartisipasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Tema yang diangkat adalah Universal Influence. Saya menerjemahbebaskannya sebagai sesuatu yang terjadi di dunia saat ini, hari ini, yang lahir dari dalam diri maupun masyarakat. Tema ini melintasi waktu digelarnya pameran, baik dari masa lalu, sekarang, dan masa mendatang.
Apa yang membuat saya tertarik datang adalah banyak seniman yang saya kagumi dan telah lama saya untit kehidupan serta karya-karyanya di dunia maya, berpameran dalam satu waktu dan satu tempat. Saya tidak mau terus menerus hanya melihat karya mereka di dunia maya. Lokasi saya sudah sedekat ini dengan tempat mereka menggelar pameran, kenapa tidak menemui karya-karya mereka di dunia nyata?
Gambar pemandangan yang sejak kecil kita kenal berupa
dua gunung, satu matahari, dan jalan memanjang di tengah dua gunung
ternyata tak habis dieksplorasi, bahkan oleh para seniman.
Aditya Nofali pun melakukannya. Merekonstruksi dan
mendekonstruksi tema sederhana tersebut.
Kata-kata kotor se-Indonesia dipajang dalam satu ruang pamer.
Setidaknya itu yang saya perhatikan. Deskripsi karya ini bisa dibaca disini.

“Putuskanlah rantai-rantai yang menganggu kemerdekaan darahmu untuk memberi tempat, memelihara benih menjadi garuda yang besar dan bersayap kuat bisa membawamu ke langit yang biru melayang-layang melihat dan menghisap kebagusan dunia, bulan, bintang-bintang dan matahari, alam ciptaan Tuhan,” S. Sudjojono.

Saya salah satu penggemar Agan Harahap. Teknik photoshop yang digunakan
dalam berkarya selalu saja lucu dan tidak jarang menohok.
Foto-foto yang dipamer adalah foto feature dari rangkaian foto esai
yang kelanjutannya bisa disaksikan di gawai sebelah kanan display karya.
Mengumpulkan kenangan dalam bentuk foto dan memajangnya
seperti ini adalah cerdas. Sumbu kosmik memori karya Angki Purbandono ini
terinspirasi dari bentuk Candi Borobudur. 
Entah di media mana saya telah membaca konsep karya
Davy Linggar ini. Menyaksikan dokumentasi 17 orang seniman
yang dipajang, secara langsung adalah keberuntungan!
Hampir bersamaan dengan pembukaan ArtJog 9,
Farid Stevy Asta juga menggelar pameran tunggalnya di Kedai Kebun.
Sialnya, saya gagal menyaksikan hajatan pribadinya tersebut. Duh.
Namun bersuyukur masih bisa menyaksikan display dari potongan
lagu Hal-Hal Ini Terjadi.
Saya telah menyaksikan secara langsung penampilan
Tisna Sanjaya di Pasar Seni ITB 2014. Seniman asal Bandung ini
memang merupakan perupa sekaligus penampil.
Dan kali ini saya menonton karya hasil dari penampilannya.
Keseluruhan karya di ArtJog 9 disebar di tiga lantai 3 JNM. Karya penutup terletak di bagian belakang dengan kapasitas besar. Karya tersebut merupakan hasil Commisioned Artist yang konon mengajak audience untuk membayangkan berbagai tingkat spekulasi dan hipotesa tentang kemungkinan adanya bentuk koloni makhluk cerdas di luar planet bumi. Dari hasil pendengaran saya melalui headset yang tersedia seolah membawa kita ke luar angkasa dengan suara berupa pancaran gelombang radio. 
Karya penutup dari Universal Influence adalah karya ini dengan menara
setinggi 36 meter disertai lampu suar di atasnya berdaya jangkau 10km.
Karya ini dibuat oleh Venzha Christiawan & ISSS
(Indonesian Space Science Society)
Jika di sebelah kiri kita menyaksikan karya Venzha dan ISSS,
maka di sebelah kanannya kita bisa menemukan booth merchandise ArtJog 9.
Puluhan karya yang terpajang ini membuat saya kembali seolah membaca ulang dan belajar mengenai semesta kehidupan. Masa kecil, perbincangan terhadap diri sendiri, agama dan ketuhanan, sosial masyarakat, budaya, politik, perkembangan teknologi, hingga pengidentifikasian makhluk luar angkasa.

Almanak 12 Perancang Grafis


Hai! Saya dan teman-teman di Desain Komunikasi Visual 2011 baru saja melaksanakan sebuah gelaran di luar kampus. Tepis anggapan bahwa kami terdiri dari banyak orang. Saat baru masuk di tahun 2011, ada sekira 41 orang, hingga di penghujung 2015 jumlah kami tidak lagi mencapai setengahnya. Ini seleksi alam (tugas) yang keras atau mungkin minat mereka bukan disini. Teman-teman yang tersisa ini kemudian berhimpun membuat membuat pameran. Bukannya apa, jenis kami di kampus kini terbagi tiga : masih terseok menyelesaikan kuliah, akan mengajukan judul tugas akhir, dan sedang dengan sangat keras menyelesaikan tugas akhir. Saya mencoba membuat pengantar untuk teman-teman dari gelaran tersebut, seperti ini :


Dua belas mahasiswa dengan gaya dan kecenderungan berbeda terhadap sebuah desain untuk dua belas almanak di sepanjang tahun mendatang adalah hasil kongsi dari kejenuhan yang sama. Briefing-brainstorming-asistensi-diberi nilai, atau, revisi-perbaikan-revisi-perbaikan, begitu seterusnya.

Dua perulangan itu merupakan dua tipe dari dua belas mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas kuliah dan tugas akhir yang entah kapan berakhir, di sebuah sekolah desain di Parangtambung sana. Pajang karya menjadi ajang rehat dari kemelut perulangan akademik yang menjemukan, tanpa tendensi teori-teori perancangan.


Usaha keluar kandang dan membiarkan karya bertemu, dikritik, dinikmati, dan dimiliki oleh orang dengan latar belakang berbeda adalah usaha rendah hati untuk tidak congkak terhadap latar belakang pendidikan desain komunikasi visual yang dimiliki. Sebab ketakutan terbesar kami adalah jangan sampai latar belakang pendidikan tersebut hanya mendidik untuk keluar dari kreativitas, tidak tumbuh dalam kreativitas, seperti kata Ken Robinson.
Oleh karena (karya) tugas kuliah itu dipamerkan di koridor-koridor institusi yang toh ditonton oleh orang yang itu-itu lagi. Akhirnya, Andi Sultan Alauddin, Herman Pawellangi, Jumardan Muhammad, ChandraJuliatma, Andi Ashar, Handi Nurdiawan, Andi Filsaf Amor, Reza Abdillah, NurAfandi, Nur Syahida Arsy, Puspita Sunny, dan Aswan Syam memutuskan untuk eksibisi di Peeple Coffee – Working Space 27-31 Desember 2015. Dan, jika ingin kami menemani kamu disepanjang 2016 mendatang, miliki kalender yang bakal dijual di tempat pameran dan biarkan kami menemanimu di meja sudut ruang tamumu, meja kerjamu, atau meja di samping tempat tidurmu. 

Inilah mereka!

Kami memberikan file high resolutionnya untuk kalian miliki dan perbanyak secara gratis.
Silakan download disini!

Belajar, Bermain Bersama Benang Baja

Foto: Jumardan Muhammad

“Dang, sini dulu, liat ini!”

“Apa? Mana?”
“Perhatikan hidungnya, berhidung babi, badannya bersayap. Yang ini lagi, tungkai bawah manusia yang tengah berlutut, muncul pucuk daun. Lucu-lucu.”



Yang diperhatikan teman saya adalah 1 dari 114 panel papan kayu berukuran 25cmx17cm milik Adi Gunawan. 114 panel yang diberi judul Dialog Diri ini merupakan  1 dari 9 karya yang dipamerkan. Lelaki yang tengah menempuh pendidikan seni rupa di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menggelar pamerannya mulai tanggal 25 Juli hingga 8 Agustus 2015 lalu di Rumata’ Art Space. Dia terpilih sebagai emerging artist Rumata’ Art Space dalam program Rumata’ Capslock-HIVOS.


Dialog Diri merupakan kumpulan gambar-gambar absurd yang dihadirkan dengan cat berwarna hitam. Ia hadir untuk mengolok-olok kita, manusia. Misalnya salah satu gambar karakter yang tengah asyik menggunakan telepon genggam, tepat di atas kepalanya tampak ikon wifi mengarah keluar, di sampingnya ikon wifi mengarah masuk. Keberadaan telepon genggam utamanya smartphone saat ini telah merupakan hal yang sangat substansial. Telepon genggam cerdas yang terhubung dengan internet kini bak oksigen yang kita hirup tiap saat. Arus informasi melalui internet berlangsung dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan bumi lain dapat dengan segera kita ketahui, hanya dengan mengurut telepon yang kita genggam, tentu saja dengan terhubung internet.

Parade karya seni rupa tunggal yang digelarnya diberi judul So Sial, tema yang diangkat pun adalah seputar kehidupan sosial. Mengaitkan seni rupa dan sosial hingga membawanya ke ruang pameran adalah hal baru di Makassar. Sebab seni rupa yang tersaji di galeri-galeri kota ini adalah melulu tentang keindahan (pemandangan) dan budaya. Padahal gerakan sosial di berbagai tempat selalu menempatkan seni sebagai salah satu seni sebagai bagian dari sebuah perjuangan. Pun dengan seni, ia lahir dan tumbuh di tengah masyarakat. Di halaman Rumata’, Gunawan memanfaatkan tembok-tembok kosong sebagai media mengkritisi hal-hal berbau sosial dengan gambar. Kehadiran gambar-gambar ditembok awalnya identik dengan sesuatu yang melawan. Beberapa kalangan, menyematkan istilah vandalism terhadap kegiatan ini. Padahal jika ditilik dari sejarah, gambar-gambar di tembok seperti sekarang juga pernah muncul pada zaman perang kemerdekaan. Tulisan-tulisan, yang pada saat itu belum dikenal istilah graffity bertema perjuangan seperti ‘Boeng Ajo Boeng’ dan ‘Merdeka ataoe Mati’ pernah bertebaran di kota-kota dan menjadi pemicu semangat perlawanan.

Mural berjudul Over Population yang menampilkan perempuan-perempuan saling tindih dengan mata tertutup seolah berada dalam ruangan yang sesak mengkritisi jumlah kelebihan penduduk. Ini merupakan ultimatum bagi kita, khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang memiliki jumlah penduduk terbesar setelah China, India, Amerika Serikat. Berlebihnya jumlah penduduk tidak boleh dianggap sepele sebab akan menimbulkan masalah-masalah baru yang jauh lebih berbahaya dan pemerintah mungkin saja lupa akan masalah ini. Ingatan saya kemudian melayang ke film-film bergenre sci-fi yang melakukan penghancurkan terhadap manusia sebagai solusi dari over population.

Foto: Jumardan Muhammad


Menurut catatan para psikolog, digunakannya dinding memang karena lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depan ketimbang di bawah. Posisi menggambar di dinding pun memberikan posisi yang nyaman karena memungkinkan mengontrol tangan dan mata yang lebih baik. Anak-anak merasa ikut terlibat  di dalam kisah yang mereka gambarkan melalui bidang yang lebih luas. Teknik mural, doodling dan drawing yang dipamer perupa muda ini nampak tak ada yang ‘serius’. Benang Baja (nama samaran Adi Gunawan di dunia maya) seolah mengajak kita belajar (merenung) dengan cara bermain-main, menggambar di tembok dengan menghadirkan karakter-karakter absurd. Secara tidak sadar kita diseret kembali ke masa kanak-kanak yang pada umumnya suka menggambar dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna adalah dinding rumah. Yang dikatakan Pablo Picasso bahwa setiap anak adalah seorang seniman tampaknya dipegang teguh oleh Gunawan, masalahnya adalah bagaimana membuatnya tetap sebagai seniman ketika dia tumbuh besar, pun dijaga dengan konsisten berkarya.

Nur Abi Abdiansyah, kurator pameran So Sial di dalam sambutannya menyatakan bahwa Gunawan memiliki kemampuan berjejaring dan mengorganisir diri dalam menyelenggarakan pameran dan mempublikasikan karya. Gunawan pun menyatakan bahwa apa yang tersedia di ruang pamer Rumata’ adalah berkat kerja teman-temannya. Begitulah yang tampak di kalangan seniman, persahabatan merupakan hal penting, sebagai bentuk dukungan intelektual dan emosional.

Hal menarik lainnya adalah saya mengenal Gunawan di kampus sebagai salah satu mahasiswa seni rupa yang produktif berkarya dan rajin mengikuti pameran. Salah satu bukti aktifnya Gunawan berpameran adalah melalui lukisannya berjudul Butuh Bingung yang dipamerkan di So Sial. Dibuat di kanvas berukuran 154cm x 110cm, karya ini telah lolos akurasi dan mengikuti pameran di Galeri Nasional bersama karya-karya mahasiswa seni rupa se-Indonesia tahun 2013. Gunawan, menurut Riri Riza, Direktur Rumata’ Art Space, memilih jalan “keterlibatan” dalam ekspresinya keseniannya. Gunawan adalah salah satu dari sekian bakat muda yang ingin melibatkan diri dalam percakapan kecil maupun perdebatan besar tentang kondisi kota ini. Dia tak seperti mahasiswa seni rupa kebanyakan yang saya lihat, menggelar pameran tunggal hanya sebagai prasyarat kelulusannya dari perguruan tinggi. Lelaki kelahiran 8 Januari 1994 ini tampaknya sadar, dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya, dia ingin melibatkan kehidupan-kehidupan sosial dalam karyanya. Benarlah apa yang disampaikan WS. Rendra dalam puisinya Sajak Sebatang Lisong : Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.

***

*Tulisan ini dibuat untuk diikutkan dalam seleksi beasiswa workshop penulisan kritik seni rupa yang diadakan oleh Makassar Biennale 2015 dan Tanah Indie.

Rendezvous di Bolak Balik

more photos : dokumentasi bolakbalik




“Wah, serunyami itu di’? Kayak jamannya kakek-nenekku,” Noni.

Berhentilah berpikiran bahwa fotografi adalah kamera dslr terbaru, lensa panjang, dan foto model. Lebih dari itu, jauh sebelum adanya kamera dslr, orang-orang mengabadikan momen menggunakan kamera analog, kamera yang menuntut sebuah proses panjang dan materi yang tidak sedikit untuk melihat hasilnya.

Bolak balik. Adalah sebuah pameran foto analog yang dilakukan oleh enam anak muda yang menyimpang dari update fotografi terkini. Mereka telah berhasil mengajak orang-orang yang singgah di pameran ini untuk kencan kenangan. Tepat seperti zaman kakek-nenek mereka masih muda, tepat seperti zaman ayah-ibu mereka saat mengabadikan momen indah pernikahannya.

Merupakan hal yang menarik dari pameran ini ketika saya dan kekasih mengambil bagian. Sebab, kami telah ber-analog tepat setahun. Puluhan roll telah dihabiskan, jutaan uang telah kami keluarkan untuk mengadopsi dan memperbaiki kamera-kamera besi dan plastik. Tak jarang kami harus kecewa melihat hasil po+scan yang fotonya kami buru dengan bersemangat. But, this a process, we love it and this is our first exhibition that makes us proud.

Kamera-kamera yang kami gunakan memang mungkin nyeleneh, tapi dengan begini kami dapat terus menunjukkan eksistensi kami. Dunia ini memang telah kami bolak balik, saat di era modern semua orang menggunakan kamera dslr untuk memotret, maka kami rela melihat dunia modern tetap berada dalam grain. Sebab terkadang cara lama adalah hal terbaik dan ini membuat kami lebih hidup.

Catatan dari pameran tugas akhir perdana DKV

Dosen DKV FSD UNM (Dok.Pribadi)

Adalah lima orang mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang kembali membuat terobosan baru untuk dunia DKV di Indonesia Timur dengan menggelar pameran tugas akhir.

Kelima pameris ini mengangkat tema Makassar di Mata Kami dengan menyuguhkan karya tentang Makassar dengan genre yang berbeda. Sebut saja Kardi mahasiswa angkatan 2008 ini melihat Makassar dari sudut pandang fotografi. Ilmu melukis dengan cahaya yang dihadirkan pun bukan fotografi konvensional. Dia menggabungkan teknik fotografi dan digital imaging untuk menghadirkan fotografi panoshpere. Sedangkan Dian dan Tira mahasiswi angkatan 2009 berkolaborasi dengan Vivid mahasiswi angkatan 2008 dalam mengerjakan video dokumenter tentang Sokola Pesisir. Sokola Pesisir  merupakan rintisan dari seorang Butet Manurung yang berada di kawasan rumah susun Mariso. Lain halnya Erni, mahasiswa angkatan 2008 ini mencoba menyuguhkan sebuah majalah kecantikan dengan produk yang diproduksi di Makassar. Terakhir adalah Ratih, mahasiswa 2009 yang mencoba membuat sebuah biografi seniman Sulawesi Selatan, Zainal Beta. Zainal Beta seperti yang penulis kenal adalah pelukis tanah liat yang bermarkaskan di Benteng Fort Rotterdam dan telah menggeluti tanah liat selama 30 tahun dalam menghasilkan sebuah lukisan. Biografi seorang seniman, sebuah catatan perjalanan hidup, adalah apresiasi terhadap sumbangsih kehidupan seorang Zainal Beta. Keempat karya ini didisplay sedemikian rupa di Woodsy Gab, lokasi yang pas untuk melakukan pelbagai kegiatan dengan lokasi strategis dan nyaman.


Tugas akhir dari mahasiswa DKV yang notabene baru terdiri dari empat angkatan ini adalah merupakan TA kedua yang dikerjakan sebagai prasyarat untuk menyelesaikan studi dan TA pertama yang mencoba berpameran dengan display yang tidak main-main. Dengan hadirnya keempat karya ini maka adalah sebuah tantangan untuk mahasiswa DKV-DKV berikutnya dengan menyuguhkan karya yang berbeda, termasuk penulis.

Tugas akhir adalah masterpiece kita selama menempuh bangku perkuliahan, kebanggaan seumur hidup sebab tidak akan terulang. Olehnya itu, sajikanlah yang terbaik. Akhirnya, selamat untuk kelima pameris!
Sambutan perwakilan Kaprodi DKV FSD UNM bersama pameris
(Dok. Pribadi)

Zainal Beta pada prosesi pembukaan biografi
(Dok. Pribadi)

Biografi Zainal Beta (Dok.Pribadi)

Venue pameran (Dok. Pribadi)

Venue pameran (Dok. Pribadi)


Pelita, 3 Juni 2013.