5 Cara Saya & Pasangan Atur Keuangan dengan Jenius

jenius-btpn

“De, kalau sudah pulang kita duduk bareng ya,” Whatsapp saya ke istri sebelum jam kantor usai.

Blok M ke arah patung pemuda Senayan macet seperti biasanya. Puluhan kendaraan bermotor antre menunggu antrian melintas lampu merah.

Dari arah Senayan City kendaraan tampak berhenti. Beberapa Metro Mini saling salip dengan Kopaja.

Perlahan gerimis turun. Pengguna kendaraan roda dua berlomba menggunakan jas hujan. Beberapa melipir, sisanya berhenti di tempat.
Saya seperti biasa menumpang ojek daring dari Blok M ke Halte Senayan JCC. Hal ini untuk menghindari penuh sesak Halte Bundaran Senayan dan Halte GBK dan memperpendek waktu.
Jika harus ikut kerumunan di halte tersebut, maka saya akan menghabiskan minimal dua jam untuk perjalanan dari Blok M ke Slipi. Sementara jika saya menumpang Transjakarta di Halte Senayan JCC, maka hanya butuh kurang lebih sejam.

jenius-btpn

Sesampai di kosan saya menemukan Ade sedang menyendok nasi dari rice cooker dan meletakkannya di meja makan bersama sayur dan beberapa potong ikan.
“Gimana perjalanan?”
“Bagian mana sih dari Jakarta yang tidak macet di hari kerja?”

“Yuk, makan!”

“Jadi begini, saya kepikiran untuk membagi-bagi seluruh uang kita ke posnya masing-masing,” saya membuka percakapan.
“Hmm.. Terus?” tanyanya penasaran.
“Bagaimana kalau tabungan kamu yang sekarang digabung dengan punyaku? Trus, gaji kita dibagi ke tabungan, pembayaran kosan, uang makan, uang transportasi, dan uang hiburan,” papar saya.
“Iya sih, harus begitu. Kalau tidak, bisa habis begitu saja uangnya.”
“Jadi bagaimana?” tanyanya lagi.
Saya tidak langsung menjawab. Saya meraih mangkuk sayur, mencabik ikan, dan memindahkannya ke piring.
“Tadi di kantor saya sudah bikin beberapa rinciannya. Nanti saja sehabis makan.”
Ade dan saya baru saja menikah 6 bulan lalu di Makassar. Hari itu merupakan hari pertama kami masuk kerja setelah cuti selama dua minggu.

Menikah tidak hanya mengikat dua pribadi, tapi menyatukan keduanya.

Termasuk urusan keuangan, menurut kami.

Ade dan saya memiliki tabungan masing-masing. Dan malam itu menjadi waktu diskusi yang panjang tentang bagaimana cara kami mengelola keuangan sehari-hari dan tujuan apa yang ingin kami capai.

Sebagai pasangan muda, kami memang masih belajar.

kelebihan-jenius-btpn

Oiya, malam itu juga mengingatkan saya terhadap sebuah rekening bank yang setahun lalu dibuka tapi tidak pernah digunakan.

Rekening ini dulunya saya buka untuk tujuan iklan bisnis di media sosial, atas saran seorang teman.
“Tidak usah mengajukan kartu kredit, pakai Jenius saja. Tidak perlu ke bank, download aplikasinya, isi data, trus tinggal tunggu orangnya untuk verifikasi.”

jenius-btpn-adalah

Sekadar informasi, Jenius adalah produk perbankan dari Bank BTPN bukan pihak non-bank sehingga kamu tidak perlu ragu dengan keamanannya. Produk ini merupakan aplikasi digital perbankan di mana seluruh aktivitas keuangan yang dulunya dilakukan secara manual, kini bisa dikerjakan dari smartphone.

Kamu cukup download di Playstore atau Appstore.

jenius-btpn-adalah

Bayangkan, untuk membuka satu rekening bank kita harus ke bank dan mengantre terlebih dahulu. Pun dengan menabung, deposito berjangka, transfer uang, cetak buku, dan segala aktivitas yang terkait dengan bank.

Dengan Jenius, semuanya bisa kamu lakukan di genggamanmu.

Trus buku tabungannya? Jangan panik, buku tabungannya tidak lagi berbentuk fisik, tapi digital. Aplikasi yang kamu download itu.

Bagaimana dengan biaya-biaya admin dan bunga-bunganya? Tenang, Jenius paling rendah (bahkan tidak ada sama sekali) untuk biaya admin dan kasih bunga paling tinggi 😗

Seluruh bukti-bukti aktivitas keuangan kita terekam dengan baik dan tersedia dalam bentuk e-Statement. Jadi, untuk yang sering butuh rekening koran dan sebagainya, kamu tidak perlu lagi buang-buang waktu antre di bank.

kelebihan-jenius-btpn

Hal inilah yang menyebabkan saya punya Jenius. Namun ujung-ujungnya tidak terpakai juga karena bisnis tersebut harus batal.

Nah, setahun berlalu saya kembali mencari-cari kartu Jenius saya yang berada di halaman salah satu buku yang bertumpuk.

Dengan berbagai pertimbangan, kami sepakat untuk menggunakan Jenius sebagai rekening bank utama—hingga sekarang.

Saya merangkum 5 aktivitas keuangan yang saya lakukan setiap hari dan bulannya bersama Jenius. Dan kalau kamu belum menggunakannya, ini bisa jadi alasan kamu untuk mendatangi booth Jenius di mall-mall atau mendaftar langsung di aplikasinya melalui smartphonemu.

kelebihan-jenius-btpn
Setelah menghitung-hitung jumlah tabungan kami berdua, maka kami memutuskan untuk mendepositokan saja tabungan tersebut.

Toh, kami belum punya rencana untuk menggunakan uang dalam jumlah besar.

“Tapi kalau ada sesuatu yang tiba-tiba gimana?”
Ade tampak ragu. Sementara saya mantap. Begini, di Jenius terdapat 3 fitur untuk menabung yang setara dengan deposito, yakni Flexi Saver, Dream Saver, dan Maxi Saver.

flexi-saver-jenius-btpn

Kami memilih Flexi Saver karena bunga yang didapatkan akan tetap diberikan sementara  kamu tetap dapat menarik uang deposito tersebut. Lah?
Iya, setiap kami gajian, saldo bank yang digunakan untuk menerima gaji langsung kami transfer ke Jenius dan masukkan ke Flexi Saver.
Manfaatnya, kami mendapatkan bunga dalam jumlah besar dan ketika butuh uang lebih secara mendadak saya bisa memakai tabungan di Flexi Saver tanpa kena biaya denda.

kelebihan-jenius-btpn
“Mbak ditransfer ya,” WhatsApp bapak kos.
Setiap tanggal 10 pagi pesan seperti itu akan masuk di handphone Ade. Tidak butuh waktu lama untuk melihat pesan tersebut hilang dari handphonenya.
“Apa-apaan sih! Kita seperti punya utang,” ungkap Ade gusar.
Siapa pun boleh jengkel dengan keadaan ini.

Bapak kos kami tinggal jauh dari kosan yang kami tempati. Dia hanya datang sekali seminggu. Hal ini pun menjadi alasan kenapa dia menolak menerima pembayaran kosan secara tunai.

Beberapa orang barangkali akan berpikir jika akan melakukan transfer uang beda bank. Soalnya, ada biaya administrasi Rp 6.500 yang harus dibayarkan. Sebagai anak kos, angka tersebut jelas berarti.

Omong-omong, di samping kosan saya ada warkop yang menjual bubur kacang ijo seharga Rp 6.000 dan rasanya akan membuatmu minta tambah.

Menariknya, transfer ke bank lain menggunakan Jenius tidak dikenakan biaya. Memang sih dibatasi 25 kali, tapi apa iya kamu akan melakukan aktivitas kirim-kirim uang ke bank lain sebanyak 25 kali dalam sebulan?
Oh, satu lagi! Mengambil uang tunai di ATM bank lain juga tidak akan dikenakan biaya jika kamu memakai Jenius.

Jadi, tidak perlu repot-repot mencari ATM bank sejenis kan?

kelebihan-jenius-btpn

Kita semua tentu sepakat bahwa isi ulang Gopay atau Ovo akan lebih baik jika dilakukan langsung di driver; cara ini akan memberikan poin tambahan bagi sang driver.
Ya, hitung-hitung berbagi ☺

Lantas, bagaimana jika kita tidak sedang menumpang ojek daring sementara uang tunai tidak ada dan kita harus membayar belanjaan yang prosesnya bisa dilakukan dengan dompet digital?
Jenius, lagi-lagi jadi jawaban.

kelebihan-jenius-btpn

Aplikasi inilah yang menjadi andalan bagi kami karena di dalamnya sudah terdapat fitur e-Wallet. Kamu hanya perlu memilih e-Wallet apa yang akan diisi, sertakan nomor handphone yang terdaftar, dan masukkan nominal yang saldo yang dibutuhkan.

kelebihan-jenius-btpn

“Tidak usah transfer uang. Tabung saja, siapa tahu tiba-tiba butuh,” suara mama di balik telepon.
“Jangan transfer lagi, simpan saja uangnya,” WhatsApp ibu mertua.
Ade dan saya akhirnya bersepakat untuk tidak lagi mentransferkan orang tua kami uang setiap kali gajian.
Orang tua kami lebih fasih menelpon daripada Video Call dan lebih membutuhkan pulsa dibanding paket data.
Adanya fitur Send It di Jenius jelas merupakan langkah jenius.
Bayangkan, kami tidak perlu lagi repot-repot mencari penjual pulsa di tengah terik matahari Jakarta.  Sambil melakukan pekerjaan lain di tanggal 25, saya bisa langsung mengirimkan pulsa ke bapak, mama, dan ibu hanya dengan memijit layar handphone.

send-it-jenius-btpn

Tidak hanya itu, Send It juga kami manfaatkan untuk membeli token listrik.
Satu kali di tengah malam dengan hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar, Ade menekuri laptop yang sedang memutar serial The Last Empress. Di pertengahan film listrik padam!
Sontak Ade membangunkan saya.
Kamu tahu kan rasanya dibangunkan seperti itu?
Dengan terhuyung-huyung saya turun ke lantai 1 untuk mengecek meteran listrik karena posisi kamar kosan kami berada di lantai 2.
“Oh, nol,” ucap saya dalam hati dan kembali naik.
Sesampainya di kamar, saya meraih handphone, memainkan layarnya, dan lampu kembali bersinar.
Saya pun melanjutkan tidur.
Nah, kebayang jika saya tidak punya Jenius atau Jenis tidak punya fitur Send It malam itu.

kelebihan-jenius-btpn

November 2018 lalu Ade hendak mengambil tes TOEFL iBT sebagai persyaratan beasiswa.
Setelah proses registrasi yang panjang, tibalah dia pada proses pembayaran, “Bagaimana nih? Bayarnya dolar, pakai kartu kredit.”

Bak pahlawan pembasmi kejahatan, saya datang dan menyodorkan handphone yang telah terbuka aplikasi Jeniusnya serta kartu orange.

“Kamu lupa ini?”

Dia mengulum senyum.

Belum sempat pemanas air di kosan kami berbunyi, dia berbalik dan kembali menyorongkan handphone dan kartu tersebut.

Iya, Jenius memiliki fitur e-Card dengan nomor CVC. Hasilnya, aplikasi ini mampu menjadi pengganti kartu kredit. Jenius bukan?

kelebihan-jenius-btpn

Dalam beberapa waktu kami pun kerap menggunakan Jenius untuk berbelanja online mulai dari tas, sepatu, hingga french press coffee saat Hari Belanja Nasional (Harbolnas). Selain mudah, beberapa merchant tak jarang memberikan potongan harga hingga setengah dari biasanya.

kelebihan-jenius-btpn

Sebenarnya sudah ada 5 poin yang saya jabarkan tentang bagaimana kami mengelola keuangan secara jenius, tapi karena kamu sudah baca sampai di sini, maka saya beri 1 poin bonus 😍

Pengalaman ini sebenarnya terjadi tepat Maret lalu di mana waktu itu kantor saya sedang outing di Bangkok.

kelebihan-jenius-di-luar-negeri

Di hari terakhir, kami menghabiskan siang di Mall Platinum sebelum bertolak ke Jakarta.

Uang tunai saya sudah habis karena memang saya tidak berpikir lagi untuk belanja.

Apa daya, sesampainya di sana saya butuh dana tambahan. Barang pesanan mama terlupakan! Saya baru mengingatnya setelah melihat jejeran manekin menggunakan daster.

Jelas, ini tanda bahaya karena mama sudah mewanti-wanti agar tidak lupa.

Beberapa teman saya mintai pinjaman Baht yang tak terpakai; hasilnya nihil.

Saya lupa jika di tas pakaian terselip Jenius. Saya baru mengingatnya saat melihat sebuah ATM Center berlogo Visa berdiri gagah di pojokan seolah mengedip-ngedipkan mata dengan extension bulu mata. Bok!

Tanpa tedeng aling-aling saya berlari kecil ke bus, merogoh tas pakaian, dan mengambil kartu orange.

Setelahnya, saya berdiri mengantre di ATM. Baht di tangan, hidup saya terselamatkan.

kelebihan-jenius-btpn-di-luar-negeri

Iya, Jenius bukan hanya sekadar teman untuk menaklukkan keuangan harian di Indonesia, tapi juga teman jalan-jalan di luar negeri. Soalnya, produk Bank BTPN ini berlaku di ATM dan merchant negara mana saja—asal ada logo Visa.

Semuanya akan dikonversi ke rupiah.

Memang sih, ada Overseas ATM Fee sebesar Rp 25.000, tapi apa iya saya harus ke Mall Ambasador dulu untuk tukar uang dengan rate terendah? 😒

Tenang saja, Jenius masih terus berusaha meningkatkan kemampuan dan fasilitasnya. Buktinya, baru-baru ini Jenius merilis Jenius Keyboard untuk memudahkan beberapa aktivitas seperti mengecek saldo aktif serta mengakses Send It, Pay Me, dan In & Out tanpa harus pindah aplikasi.

Jadi, kapan kamu mulai mengatur keuanganmu secara jenius dengan Jenius?

***

5 Nasihat Content Creator Berpengalaman Kepada Mereka yang Baru Akan Mulai

“Mas, berikan saya saran sebagai bocah ingusan yang ingin mengarungi dunia ini!”

“Ha? Apaan sih?” balas Dani datar.
“Saya mau jadi content creator sepertimu, punya karya dimana-mana,”  Randi meletakkan gelasnya seraya memperbaiki posisi duduknya.
“Untuk apa sih? sambil terus memijit layar hapenya.
“Tujuannya jelas, mas. Konten negatif di dunia maya semakin banyak berseliweran. Internet butuh konten positif yang disajikan dengan gaya anak muda. Tapi kalau gak tau caranya kan, jadi bingung sendiri.”

‘Trus content creator seperti apa? Soalnya content creator tuh banyak.”

“Bloger mas. Saya bisa nulis, motret, bikin video, desain grafis sedikit-sedikit. Satu-satunya tempat yang bisa menampung itu semua kan, ya blog. Bayangkan mas, dalam satu postingan saya bisa punya macam-macam bahan untuk menarik perhatian pembaca,” raut wajah Randi berubah serius.

jadi Content Creator dengan Asus X555

Tak ada balasan, suasana hening. Dani masih menatap layar hapenya sambil sesekali tersenyum. Hapenya riuh oleh notifikasi yang masuk, baik like dan comment dari Instagramnya. Setelahnya dua tiga kali notifikasi email menjeda. Ada komentar di blognya.

Yang Harus Dipunya Sebelum Menjadi Content Creator

jadi Content Creator dengan Asus X555

“Untuk jadi content creator setidaknya kamu butuh 5 cara untuk melakukan semua ini, Ran. Hal-hal inilah yang saya pegang secara terus menerus dalam ngeblog sehingga kemudian dikenal sebagai content creator. Ingat loh, yang ngasih gelar itu bukan saya, tapi orang lain,” Dani mematikan handphonenya dan menyambungkannya ke power bank.

“Apaan aja tuh, mas?

Pertama, kehadiran seseorang di media sosial dengan keahlian khusus sebenarnya bukan persoalan bakat, tapi usaha. Bakat itu cuma 1% dari total usaha yang kamu lakukan.

“Saya adalah orang yang selalu percaya sama istilah usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, Ran,” tegas Dani.

“Saya pernah baca data, Ran. Hari ini, dalam setiap satu menit ada 1.388 blog post yang diposting. Ada 2,5 juta konten yang disebarkan di Facebook. Trus, di Youtube setidaknya ada banyak sekali video baru yang diupload dan kalau di nonton akan menghabiskan 72 jam. Belum lagi twit di Twitter yang mencapai 300.000. Terakhir nih, ada lebih dari 220.000 foto yang diupload di Instagram. Ingat ya, semua itu per-menit!” jelasnya.

Nah, ini yang jadi masalah. Apa yang membedakanmu dari orang lain?

Sebuah konten akan bisa menarik perhatian orang karena pesan di dalamnya. Ada pula keunikan, cara penyajian yang tidak biasa, dan karena konten itu punya nyawa. Dia seolah berbicara kepada kita.

“Cara bikin seperti itu, mas?”

“Hmm.. Banyak orang, termasuk saya sih, mau melihat diri si pembuat di konten tersebut.”

Sebagai contoh nih, tahu Casey Neistat kan? Kita tuh suka dia bukan hanya karena videonya keren, tapi kita juga seolah mengenal Casey, personalitasnya, kehidupannya dia, caranya memang dunia, dan pendapatnya terhadap sesuatu. “Ya, semuanyalah.”

Ketiga, selalu berpikiran terbuka.

“Ingat Randi, selalu ada orang yang lebih keren, lebih hebat, dan lebih berpengalaman. Jangan pernah menutup diri dari hal-hal seperti ini, lihat apa yang belum kita punya?”

Ketika mulai melihat pencapaian orang lain. Kamu bisa jadi akan mengalami insecurity di mana kamu merasa tidak percaya diri dan tidak akan bisa menyamai prestasi orang lain yang telah sukses sebelumnya. Sebaliknya, kamu juga tidak boleh merasa berpuas diri terhadap sesuatu yang telah dicapai.

Berpuas diri adalah pangkal dari kejatuhan, begitu kira-kira yang ingin disampaikan oleh Dani namun harus disela oleh waitress yang mengantarkan segelas air putih.

Apabila kamu terus menerus membuka pikiran untuk belajar hal-hal baru, menggali potensi diri, maka akan ada sudut-sudut pandang lain yang terlihat sehingga banyak karya yang bisa diproduksi.

“Jadi begitu, mas? Dasar banget ya,” tanggap Randi.

Dani tak langsung menanggapi. Diraihnya kopi yang telah mulai dingin dan diseruputnya sedikit demi sedikit. “Iya, hal pertama yang harus dipunyai ya itu tadi.”

“Trus apa lagi?”

Konsistensi adalah kunci.

“Saya hampir lupa kapan tepatnya saya memulai semua ini. Jika dihitung-hitung barangkali sudah lebih dari sepuluh tahun. Apa yang membuat saya seperti sekarang? Ya, bikin karya secara terus menerus.”

Untuk bisa terus konsisten, kamu butuh dua hal, yakni percaya diri sendiri dan tahan banting.

Mungkin like di Instagram tidak sesuai harapan, jarang ada yang komentar, video yang dibuat viewnya sedikit, dan blog post yang kamu tulis tidak ada yang baca. Padahal kamu yakin kontenmu berkualitas. Tidak masalah, evaluasi diri, rajin-rajin melihat karya orang lain, dan tetaplah menghasilkan karya.

“Oiya, saya teringat kalimat Mark Manson, seorang bloger Amerika, yang pernah bilang begini;

jadi Content Creator dengan Asus X555

“Jadi yang gak enak-enak itu juga harus dihadapi?”

“Iyalah! Enak aja mau yang enak-enak doang,” tegas Dani yang disambut oleh tawa Randi.

“Eh, masih ada Ran! Ini yang tidak kalah penting.”

“Apaan, mas?” tanya Randi tiba-tiba mengernyitkan dahinya.

Notebook Sebagai Sebuah Dapur

“Jika mau bertempur, kamu harus punya senjata! Nah, karena kamu mau jadi content creator, kamu harus punya peralatan. Apa itu?” Dani berhenti. Pria ceking ini meraih gelas kopi dan meneguk isinya.

“Apa, mas?” Randi semakin penasaran.

“Nasihat terakhir nih. Bagi seorang content creator, modal utamanya adalah laptop,” Dani terbahak-bahak.

Untuk menghasilkan berbagai macam karya, semuanya bermula dari laptop. Sama seperti dapur yang merupakan tempat untuk mengolah beragam jenis masakan lezat, laptop pun menjadi tempat memasak konten-konten yang akan dihasilkan mulai dari berburu dan mengonsep ide, menuliskan konsep tersebut satu per satu, merancang konten, mengolah, mengedit, sampai dengan memostingnya di dunia maya. Satu lagi—merevisi 😂

“Kamu bisa mencoba ini,” Dani mengambil Zenfonennya dan memamerkan sebuah gambar. “Banyak teman merekomendasikannya.”

“Ha? Asus X555?” Randi keheranan.

Asus sebagai Brand Notebook Nomor 1 di Indonesia telah berhasil merebut perhatian para konsumen dengan berbagai terobosan dan produk terbarunya. Hingga Desember 2017, jumlah total konsumennya mencapai 39,8 persen.

Spesifikasi Notebook untuk Aktivitas Produktif

“Sebentar,” Dani meminum meneguk habis kopinya lalu mencuci tenggorokannya dengan sedikit air putih yang tersaji.

“Pola kerja sekarang telah berubah Randi. Kamu sering lihat kan orang-orang kini lebih nyaman bekerja di kafe?” bisiknya sambil melirik di sekeliling.

“Iya, mas.”

“Nah, di kafe-kafe itu jarang loh yang menyediakan colokan. Yang ini, baterainya jenis Li-Polimer yang tahan hingga 2,5 dibandingkan notebook biasa.”

“Hm.. Maksud, mas?

“Simpelnya begini, kamu kalau nongkrong di kafe, kamu tidak usah lagi capek-capek cari colokan listrik. Baterai Asus X555 tahan hingga seharian. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengisi daya baterai notebook ini hingga penuh sebelum berangkat. Setelah itu, kamu bebas deh seharian memakainya di luar rumah tanpa harus menenteng chargernya.”

Asus memang paling mengerti kalau notebook itu, lebih simpel daripada laptop.

Dibawa kemana-mana pun tidak akan membuat kamu kerepotan. Bayangkan saja, jika bateraimu habis Asus punya fitur Fast Charging. Kurang 49 menit, baterainya akan terisi sebanyak 60%.

Asus X555 memberikan optimalisasi daya yang bervariasi sehingga kamu dapat menikmati kualitas baterai yang maksimal. Bahkan notebook ini bisa tahan selama 2 minggu dalam mode standby. Asus X555 juga mempunyai kemampuan menyimpan data secara otomatis sehingga tidak perlu lagi khawati akan kehilangan data selama mode standby.

“Mesinnya kuat gak mas dipake ngeblog, dengerin musik, bikin desain grafis, edit video dalam satu waktu?” Randi penasaran.

“Eh bentar, kita lanjut dulu ke tampilannya. Nih, sambil kamu nongkrong di kafe, notebook ini bisa sambil bergaya. Secara umum, tampilannya memang Asus banget; desain slim, mewah, fantastis, dan selalu simpel. Alur yang melingkar di logonya ini bikin enak dan menarik dipandang. Kece deh!”

Mata Dani pun seolah bersinar. Sementara kening Randi masih mengernyit.

jadi Content Creator dengan Asus X555

Performa prosesornya Asus X555 ini memang dikhususkan untuk bekerja dan hiburan. Di dalamnya terdapat Processor AMD Quadcore A10 untuk performa yang halus dan responsif. Memorinya sendiri adalah 4GB hingga 8 GB DDR4.

“Masalah prosesor dan grafis, Asus X555 memang tidak usah dipertanyakan. Isinya sudah canggih, kamu bisa kok mengedit video, mendesain, menonton, dan lain-lain dalam waktu yang bersamaan tanpa takut Not Responding, masalah klasik,” ujar Dani.

Semua aktivitas tersebut dilakukan di layar berukuran 15,6 inci.

“Wah, bisa jadi produktif dong ya! Tapi, memangnya aman dan gak panas, mas?”

“Tenang saja, selain memang dirancang untuk tujuan itu. Notebook ini juga teknologi IceCool. Sebelum panas muncul, notebook ini sudah menjaga temperaturnya agar tetap berada di antara 28 derajat sampai 35 derajat.”

Panas yang dihasilkan Asus X555 lebih rendah jika dibandingkan dengan suhu tubuh manusia.

“Oh, yang ini nih! Karena nanti kamu akan bekerja dengan kamera dan memori yang membutuhkan banyak penghubung ke notebook, Asus X555 punya konektivitas yang lengkap. Mulai dari port USB 3.0, VGA Port, Port HDMI, Card Reader, hingga DVD-RW.”

“Sepertinya menarik, mas!” tanggap Randi tersenyum sambil menggosok-gosok dagunya.

Seluruh port USB 3.0 Asus X555 mengusung Ultra-Fast Data Transfer. Kecepatan transfer datanya telah mencapai 10 kali lipat kecepatan USB 2.0, sehingga memungkinkan kamu untuk menyimpan dan mengirim dokumen, foto, musik, video dengan ukuran besar dalam waktu yang singkat.

“Bayangkan saja, film kualitas Blu-Ray 25GB hanya membutuhkan waktu 70 detik untuk ditransfer,” tukas Dani.

“Drama Korea punya pacarku bisa dicopy dengan cepat dong, mas!” sambung Randi tiba-tiba yang disambut tawa oleh Dani 😁

“Kamu pun bisa nonton bareng di notebook ini dengan kualitas suara yang jernih.”

Untuk audio, Asus X555 hadir dalam perpaduan antara hardware, software, dan proses tuning bernama teknologi SonicMaster. Tujuannya jelas, untuk memberikan performa audio, amplifier yang dioptimalisasi untuk volume suara yang lebih besar.

“Pasalnya nih, speaker dan ruang resonansi yang lebih besar dari notebook ini memberikan output audio yang lebih kuat dan bass yang lebih dalam. Trus, tambahan proses pengiriman signal membantu proses tuning hardware, menyaring kebisingan, dan meningkatkan kejernihan audio sehingga kamu dan pacar pun bisa menikmat audio di X series yang gak ada duanya!” papar Dani.

Jika notebook lain hanya memiliki speaker kecil sehingga suaranya kadang berasal dari satu sumber saja, maka notebook Asus X Series ini memberikan kualitas audio dengan kecepatan tinggi.

I made it through the darkest part of the night. And now I see the sunrise. Now I feel glorious, glorious. I feel glorious, glorious.

Lagu Glorious dari Macklamore yang menghentak dari speaker kafe siang itu menjadi jeda di antara percakapan mereka.

“Asus ini Ran, hampir sama dengan smartphone.”

“Kok bisa mas?”

“Soalnya, Asus X Series memang memiliki 2 fitur-second Instant Resume. Jadi, saat pindah dari sleep mode, kamu bisa langsung mengakses internet atau bekerja dengan aplikasi yang tadi dibuka sebelumnya dalam sekejap.”

Sementara untuk touchpad, Asus X555 juga lebih intuitif. Notebook ini memanfaatkan teknologi ekslusif yang dipakai di layar sentuh smartphone untuk memberikan respon touchpad yang lebih sensitif serta akurasi yang lebih baik.

“Belum lagi Smart Gesture Multi Touch memungkinkanmu untuk mendukung berbagai sentuhan perintah mulai dari Right Edge Swipe, Left Edge Swipe, Up and Down, hingga Two-Finger Pinch untuk zoom in-zoom out.”

Seluruh fitur, teknologi, dan kemudahan Asus X555 dikemas di dalam sistem operasi Windows 10 yang 100% Original.

Notebook Murah dengan Kualitas Tertinggi di Kelasnya

“Mas, semuanya itu bisa mendukung cita-cita saya untuk jadi content creator?” raut wajah Randi berubah.

“Iya, asal kamu melakukan apa-apa yang saya katakan tadi.”

“Notebook ini beli di mana dong?”

Randi merapatkan badannya sambil terus memasang wajah penasaran. Pandangannya kembali ke layar Zenfone Dani.

“Selain di toko komputer, Asus X555 juga dijual di Tokopedia.”

“Oh, Asus punya Official Store juga di Tokopedia, mas? Wah, mantap nih! Gak perlu lagi capek-capek ke toko-toko komputer, nanya sana sini. Tinggal order aja berarti.”

jadi Content Creator dengan Asus X555

“Iya, nih! Ada 2 seri. Asus Notebook X555QA harga Rp. 5.599.000 dan Asus Notebook QG harga Rp. 7.099.000. Tinggal menyesuaikan dengan budgetmu. Eh, kamu harus tetap waspada! Asus bisa saja ngasih diskon tiba-tiba ke produknya.”

“Menarik banget, mas. Ini sih notebook murah dengan kualitas tiada lawan,” Randi terkekeh-kekeh.

“Ya sudah, sudah cukup terinspirasi kan? Sekarang waktunya eksekusi!”

Randi tersenyum lalu berdiri dan menepuk pundak Dani. “Terima kasih mas, ini biar saya yang bayar!”

Dia berlalu. Siang kini beranjak sore dan obrolan tadi menjadi pelajaran berharga untuk Randi, seorang anak muda yang baru akan memulai perjalanan sebagai content creator dengan Asus X555.

***

Kenapa Ibu Jari Harus Menjaga Ibu Pertiwi?

“Siapa yang punya foto pasangannya di dompet? Jika ada yang punya boleh maju dan kamu berhak mendapatkan pulsa seratus ribu rupiah!” tanya pembawa acara kepada peserta reuni angkatan sebuah SMA.

Pertanyaan ini membangunkan saya pada sebuah kenyataan bahwa manusia saat ini tidak lagi menyimpan foto pasangan atau keluarganya di dompet—melainkan di gawai. Era digital dengan mudahnya memindahkan lembaran foto menjadi tumpukan file .jpg di gadget.
Jadi, jangan heran ketika selesai berfoto kita tidak lagi harap-harap cemas menunggu hasil cetakan, namun buru-buru mengunggahnya ke media-media sosial.

Laku buru-buru juga menyerempet ke trending topic media sosial. Trending topic ini dalam hitungan menit dapat dengan cepat berubah mengikuti hal yang ramai diperbincangkan. Di sebuah Minggu pagi yang tenang pada 13 Mei 2018 misalnya, lini masa tiba-tiba dibuat bising oleh ledakan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya.

Hmm.. Hasilnya, kata Surabaya menjadi worldwide trending topic di Twitter. Masih ingat kan?

Baik Buruk Media Sosial

Kita boleh berterimakasih kepada media sosial yang telah mempertemukan kita dengan jodoh banyak orang serta memberikan ruang bagi pertukaran informasi serta ilmu pengetahuan yang tak terbatas secara cepat dan akurat hanya dengan mengurutkan ibu jari ke layar smartphone.

Sayangnya, bak pisau bermata dua; platform ini pun memiliki sisi tajam yang dapat melukai.

Masih dalam kasus bom Surabaya kemarin, ada beragam hoax (hoaks) atau kabar bohong yang menyebar. Beberapa di antaranya menyebutkan bahwa lokasi pengeboman tidak hanya terjadi di gereja tapi juga di pusat-pusat perbelanjaan. Kota-kota lain seperti Semarang, Jakarta, dan Makassar juga mendapatkan isu palsu tentang ancaman pengeboman.

“Mulai sekarang kamu harus berhenti minum jus tomat. Tidak baik untuk kesehatan,” telpon mama tiba-tiba.

“Siapa bilang tomat tidak baik?” saya penasaran.
“Itu di internet. Bapakmu sudah baca. Pokoknya mulai sekarang kamu harus berhenti!”
Saya berusaha diam hingga mama menutup telepon. Situasi ini terjadi akhir tahun lalu ketika saya memutuskan untuk minum jus tomat dan wortel secara bergantian setiap pagi. Rupa-rupanya informasi yang bapak terima adalah pesan broadcast dari sebuah grup Whatsapp yang diikutinya.

Kamu pernah mendapati hal seperti ini kan? 😁

Berita atau informasi palsu ini menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial, situs media daring, email, serta yang paling mudah aplikasi chatting seperti Whatsapp dan Line. Lagi-lagi kita tidak perlu heran, tingkat kecepatan penyebaran hoaks berbanding lurus dengan jumlah pengguna internet di negeri ini.

Jumlah Pengguna Internet di Indonesia

Merunut data terakhir yang dikeluarkan oleh Internet World Stats pada 31 Desember 2017, Indonesia ditempatkan di urutan kelima negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di seluruh dunia setelah Brazil, Amerika Serikat, India, dan Cina di urutan pertama.

Sementara jika menilik data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada akhir 2017, total jumlah penduduk Indonesia mencapai 262 juta jiwa dimana 54,68%-nya telah menggunakan internet dalam kehidupannya sehari-hari. Presentasi ini setara dengan 143,26 juta jiwa.

Kemudahan penyebaran berita-berita palsu melalui internet ini dipermudah oleh keberadaan perangkat ponsel cerdas. Kini kamu tidak lagi butuh laptop untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi, yang dibutuhkan saat ini hanyalah smartphone dan jempol.

Iya, kamu sedang tidak salah baca. Jempol merupakan salah satu jari yang paling sering digunakan. Kebayang gak sih, paket data melimpah tapi jempol tak ada? 😶

Atas dasar kemudahan yang melimpah ini, 87,13% pengguna internet di Indonesia menggunakan gadgetnya untuk media sosial. Berdasarkan hasil penelitian oleh Dewan Pers Indonesia pada Januari 2017, media sosial kini memang telah menjadi alternatif. Pasalnya, media mainstream memiliki kemungkinan kecil untuk dipercayai.

Hasilnya, media sosial seperti Twitter dan Facebook yang awalnya dibuat untuk membuat update status serta menghubungkan kembali teman-teman lama yang berpisah berubah menjadi sarana dimana seseorang dapat menyampaikan pendapat atau mengomentari pendirian orang lain.

Sedangkan grup aplikasi chatting menjadi sarana yang sesuai untuk mendapatkan dan meneruskan informasi ke teman-teman yang lainnya secara cepat tanpa mempersoalkan dari mana asal info tersebut. Duh, sampai di sini saya puyeng, gaes!

Bahaya Hoaks

Eh, jika tidak diantisipasi, maka ada beragam bahaya hoaks yang ditimbulkan. Apa saja? Berikut beberapa listnya:

  1. Membuat fakta tak lagi dipercaya
  2. Hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu
  3. Merugikan reputasi sebuah pihak
  4. Memancing perpecahan
  5. Menyita banyak waktu
  6. Memicu pikiran negatif

Terkait yang terakhir, saya teringat mengenai sebuah riset yang dilakukan oleh Becca Levy, seorang psikolog di Universitas Yale. Dia mengambil sampel 660 orang relawan. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang berpikiran positif dapat memperpanjang umur mereka tujuh tahun lebih lama.

Seorang peneliti lainnya, Rosalind Wright di Harvard Medical School, menemukan bahwa mereka yang berpikiran positif dan optimis memeroleh manfaat berupa peningkatan fungsi jantung dan sistem kekebalan tubuh, sehingga mengurangi risiko gagal jantung.
Hmm.. Saya rasa kita semua tidak ingin mengalami gagal jantung hanya gara-gara terpancing oleh berita-berita palsu itu kan? Iya kan?

Hidup dalam kesendirian selama bertahun-tahun saja sudah berat, apalagi hidup dalam kepalsuan 😕

Mencegah Hoaks, Menyebarkan Berita Baik

Perkembangan teknologi membuat kita menjadikan internet seperti oksigen. Ada dimana-mana. Namun tentu saja, tidak semua oksigen baik untuk kesehatan paru-paru dan jantung kamu. Oksigen-oksigen yang sudah terkontasminasi polusi jelas tidak baik untuk dihirup.

Hal ini juga berlaku di jagat maya. Tidak semua berita harus kita telan mentah-mentah. Lantas, bagaimana cara mendeteksi dan mencegah keberadaan hoaks?

Sebelum mencegah, ada baiknya belajar mendeteksi berita palsu. Nah, di bawah ini ada 5 langkah yang bisa kamu lakukan:

  1. Jangan pernah langsung menyebar atau membagikan berita/tautan yang kamu dapatkan
  2. Pelajari situs pembuat beritanya dengan memerhatikan keterangan seperti susunan atau alamat redaksinya
  3. Periksa di berbagai media daring lainnya mengenai keberadaan berita tersebut
  4. Perhatikan gambar yang digunakan. Berita palsu sering memanfaatkan gambar sensasional yang tidak berhubungan dengan isi berita
  5. Perkuat diri dengan literasi digital dengan bergabung dan mengikuti forum/grup anti hoax

Setelah melakukan 5 langkah tersebut di atas, maka ada baiknya jika kamu memenuhi lini masa media sosial dengan berita-berita baik. Mengingat masifnya penyebaran berita-berita palsu di internet.

Salah satu berita-berita baik yang bisa kamu sebarkan adalah video yang satu ini 😘

Kepolisian Republik Indonesia melalui Polda Metro Jaya telah dengan aktif mengampanyekan gerakan #SebarkanBeritaBaik. Dan saya rasa, kita juga harus turut ambil bagian di dalamnya, apalagi menjelang pemilu 2019 yang oleh banyak orang pesimis diramalkan akan dipenuhi oleh hoaks. Huft!

Caranya? Mudah kok! Menjaga ibu pertiwi di era digital tidak lagi membutuhkan perlengkapan senjata atau bambu runcing. Yang kamu butuhkan saat ini hanyalah ibu jari dan keinginan untuk menyebarkan berita-berita baik di dunia maya untuk memukul mundur hoaks. Bagaimana? Siap?

Jangan Terulang di Kamu! Ini Kisah Nina & Sepatu Bayinya

“Aaaakk!” pekik Nina.

Sontak semua berdiri, “Kenapa?! Ada apa?”
“Sepatu bayi. Sepatu bayi!” Nina berdiri, menjauh dari mejanya seolah tak percaya.
Seisi ruangan kantor tertawa gegara Nina yang salah beli sepatu. Perempuan berkulit sawo matang ini beberapa hari lalu berulangtahun. Nah, sebagai perayaan dia menghadiahi dirinya sepatu.
Namun, sayang seribu sayang, sepatu jenis sneakers yang dipesan itu salah ukuran. Pesanan yang datang adalah sneakers ukuran infant, ukuran bayi 😂
“Kok bisa?” Saya menghampirinya sambil cengengesan.
“Sepatu ini muncul di filter sale women kemarin. Mana harganya 300ribu lagi. Mehong banget yess. Sepatu bayi doang,” Nina menjelaskan.
“Goblok! Hahaha..” Rian mengejek.

Nina, 25 tahun, seorang pegawai swasta di Jakarta—harus menerima nasibnya di Senin pagi. Sepatu yang dibelinya di salah satu situs perdagangan elektronik atau lebih akrab disebut e-commerce tidak bisa lagi ditukar.

Dia adalah salah satu konsumen aktif barang-barang yang diperdagangkan melalui internet atau online. Setiap bulan setidaknya ada 4 atau 5 barang yang dibelinya.
Berbelanja dengan model seperti ini memang sedang booming di Indonesia beberapa tahun belakangan.
“Di kantor, tiap hari selalu ada saja kurir yang mengantar barang-barang.” ujar Sri, salah seorang teman saya di Makassar.

Jika kamu menilik data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang bekerjasama dengan Teknopreneur yang dirilis pada awal 2018, maka terlihat jelas pertumbuhan pengguna internet dari tahun ke tahun. Hingga 2017 kemarin, sudah ada 143,26 juta jiwa dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia yang menggunakan internet.

Saya dan kamu jelas termasuk di dalamnya. Namun, apa saja sih alasan oranng-orang mengakses internet?

Tahun sebelumnya, APJII juga membeberkan data mengenai alasan masyarakat Indonesia dengan 7 aktivitas utama dimana yang paling kecil adalah bisnis, berdagang, dan cari barang dengan jumlah orang yang melakukannya sebesar 10,4 juta jiwa.

Lantas, kenapa orang-orang harus belanja online bukankah hal ini sama saja dengan membeli kucing dalam karung? Secara garis besar, saya menarik dua alasan, yakni:

Menghemat Waktu dan Tenaga
Bayangkan kamu hanya golek-golek di kasur tanpa harus mandi dan berpakaian cantik, memainkan smartphone, memilih barang, dan voila! Barang pesananmu tiba di tempat tanpa harus ke sana ke mari mencari barang, menawar harga, dan berpeluh dengan kemacetan serta panas menyengat matahari.

Semua kemudahan ini memberikanmu kenyamanan berbelanja, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Tentu saja, berbelanja online bisa dengan mudah kamu lakukan sambil bekerja atau mengasuh anak mantan misalnya.

Menghindari Kerepotan
Sadar gak sih kalau belanja tuh merepotkan? Bayangkan ketika membeli sabun, bahan makanan, serta perlengkapan lainnya, semua barang-barang ini akan dimasukkan ke dalam kantongan yang berbeda.

Dan, jika kamu membawanya tentu akan sangat merepotkan, apalagi dengan jumlah banyak.

Meskipun mudah, jangan salah! Seperti yang saya katakan di awal, berbelanja di era digital ini tetap saja ada tantangannya. Apa saja sih? Hmm.. Berikut penjelasannya:

Rawan Penipuan
Karena aktivitas yang kita lakukan adalah online dimana antara pembeli dan penjual tidak terjadi tatap muka, maka kemungkinan seseorang menipu dan ditipu adalah besar sekali. Kamu masih ingat kan banyak yang jualan Blackberry di Facebook? Itu tahun berapa ya?

Barang Palsu
Era digital ini kadang memang ngehe. Foto profilnya Subhanallah, aslinya? Astaghfirullah 😶

Begitu pula dengan belanja online. Foto barang dan deskripsi produknya 100% asli, yang nyampe? Palsu dan tidak sesuai ekspektasi.

Barang Tidak Sampai
Ya, kedatangan barang palsu bisa saja sedikit menenangkan. Kalau barangnya tidak sampai-sampai ke kamu? Lah, aku kudu piye?

Penjual Hilang Ditelan Bumi
Jika mantan barangkali masih bisa dihubungi, kalau penjual yang tiba-tiba hilang bak ditelan bumi ketika kamu ingin menanyakan barangmu yang tak kunjung sampai gimana?

Pasalnya, setelah kamu mengorder barang dan melakukan pembayaran si penjual bisa saja langsung mematikan handphonenya dan berangkat liburan dengan uang yang kamu transfer sebesar 2,3 T seperti yang dilakukan Papa. Oh, okeh, ini lebay.

Intinya, doi menghilang dan barangmu tidak ada kabar.

Pencurian Data Pribadi
Tahukah gak sih di era digital ini ada data-data pribadi sungguh sangat berharga? Meskipun bukan pesohor, ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan informasi sekecil apapun tentang dirimu. Nah, semua hal-hal tersebut nanti akan dimanfaatkan dengan beragam tujuan, baik baik maupun buruk.

Ketika seseorang berbelanja online, maka akan ada banyak pertanyaan yang diajukan. Mulai dari nomor telepon, alamat rumah, hingga nomor kartu tanda penduduk. Jadi, waspadalah!

Lah, memangnya tidak solusi untuk masalah-masalah ini? Kan, ini sudah eranya digital. Tidak bisa dong kita menghindarinya, iya kan?

Jika ingin sedikit berusaha, kamu bisa kok tetap berbelanja melalu internet dan mendapatkan beragam manfaatnya. Caranya?

Begini, berbelanja melalui internet itu kan secara umum terbagi dua, yakni melalui marketplace dan melalui media sosial atau toko online.

Ada orang yang memasarkan langsung barangnya melalui media sosial. Ini seperti kamu membuka tokomu sendiri. Sementara, ada juga yang menjual barangnya di tempat berkumpulnya para penjual, ya, menyerupai pasarlah intinya.

Mereka semua inilah yang disebut pelaku e-commerce. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mereka pada 2006 hingga 2016 meningkat pesat sebesar 17 persen dengan total usaha mencapai 26,2 juta.

Eh, kembali lagi. Jadi, gimana dong? Apa tidak solusi agar bisa tetap berbelanja online dengan aman?

Ada kok, tenang saja. Solusinya adalah jadi konsumen cerdas di era digital dong. Se-simpel itu!

Nih, pemerintah, karena ingin mengayomi kita semua para penyembah belanja online, pun akhirnya membuat maskot. Sesuatu yang dapat selalu mengingatkan kita agar tetap cerdas berbelanja di dunia maya.

Nama maskotnya adalah Si Koncer. Singkatan dari konsumen cerdas.

Jadi, untuk menjadi konsumen cerdas ada beberapa hal yang secara umum harus kamu lakukan ketika berbelanja online, yakni:

Periksa Standar Barang
Sama dengan belanja secara konvensional, ada hal-hal mendasar yang harus kamu perhatikan. Yang pertama adalah dengan memeriksa standar barangnya. Standar ini berupa label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Jadi, pemerintah tuh sudah menetapkan standar untuk barang atau produk yang akan beredar di masyarakat. Yang tidak sesuai standar yang tidak boleh beredar. Ini sama saja dengan orang yang mencari jodoh. Sebelum mencari, dia sudah menetapkan kriteria dan standar jodoh seperti apa yang dia inginkan. Jika tidak memenuhi standar, kamu pun diskip 😫

Periksa Tanggal Kadaluarsa
Semua barang atau produk ada masa berlakunya. Pun dengan barang yang dibeli melalui internet. Periksa terlebih dahulu tanggal kadaluarsanya. Biasanya ada kok di deskripsi produk. Jika tidak gimana dong? Tanyakan ke penjualnya.

Kamu tentu tidak mau kan, barang yang kamu konsumsi itu membahayakan kesehatanmu sendiri?

Beli Produk Dalam Negeri
Nah, sebagai masyarakat Indonesia yang baik, maka kita pun sebaiknya hanya membeli produk dalam negeri. Ini juga demi menguatkan perekonomian negara. Toh, produk-produk dalam negeri juga tidak kalah dengan produk luar. Tentu saja, produk dari dalam negeri biasanya lebih murah dan jelas proses produksinya.

Cek dan Ricek Harga Pasaran
Terakhir nih. Jika semua hal tadi sudah kamu selidiki, cek dan ricek lagi semua harga yang tertera di tempat lain sebelum memutuskan untuk membeli.

Biasanya, jika ada yang menjual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan yang ada di pasaran, maka kamu patut curiga. Ya iyalah, masa’ ada yang menjual di bawah harga rata-rata. Kan gak logis, untungnya dari mana coba? Intinya, teliti 😎

Trus, kalau berbelanja di toko online atau media sosial dan marketplace? Gimana dong?

Belanja di Toko Online/Media Sosial
Menggunakan tempat ini sebagai tempat belanja sebenarnya agar riskan, menurut saya. Pasalnya, komunikasi yang terjadi lebih personal, sehingga kemungkinan untuk terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan lebih besar.

Kalau kamu tetap ingin belanja, kamu harus mengecek secara acak testimoni-testimoni di kolom komentarnya. Perhatikan apa kata orang-orang yang berbelanja. Atau, kalau mau lebih aman lagi, gunakan toko online yang direkomendasikan oleh temanmu. Saya sih seringnya begini ya hehe.

Belanja di Marketplace
Saya dan barangkali juga kamu adalah konsumen garis keras marketplace and I am ready to die for it 😈

Bukannya apa, tak ada tempat seaman dan senyaman pelukan kasih marketplace. Cara kerjanya begini, di sini ada banyak penjual. Jika kamu membeli barang mereka, maka marketplace akan menghitung total belanjaanmu dan kamu membayar ke marketplace.

Kemudian si penjual akan memproses dan mengirim barangmu. Nanti setelah barang tersebut tiba di kamu, barulah si penjual menerima pembayaran dari marketplace. Kalau kamu ada komplain terhadap barang atau barang tidak sampai-sampai, maka marketplace akan mengurusnya dengan sigap.

Sebenarnya sih, semua marketplace di Indonesia sudah menerapkan sistem tracking barang. Jadi, posisi barang kita bisa dengan mudah dilacak, apakah masih sementara dikemas oleh penjual, sudah diantarkan, atau sudah tiba di alamat pengiriman.

Selain kemudahan tersebut, ada beragam barang yang tersedia di sana dengan harga yang bervariasi. Belum lagi diskon dan ongkos kirim gratis yang sering diberikan. Saya pernah malah, Februari kemarin, belanja makanan dan perlengkapan mandi barang dengan total Rp. 0,- 👏

Yakin gak bakalan ada pembodohan di marketplace? Hehe. Tetap kok. Lah?

Iya, kan solusinya jadi konsumen cerdas. Jadi, kamu perlu melakukan beberapa hal ketika berbelanja di marketplace, antara lain mengecek rating si penjual, membaca komentar-komentar pembeli lain, membandingkan harganya di penjual lain, dan yang tidak kalah penting adalah jangan pernah melakukan pembayaran di luar dari marketplace.

Bagaimana kalau sudah terlanjur tertipu? Nah, untuk masalah yang satu ini, baiknya kamu melakukan tiga langkah mudah berikut ini:

Hubungi Penjual
Apabila dalam beberapa hari yang telah ditentukan barangmu tidak sampai, segera hubungi penjual. Telepon dia! Kalau di marketplace sih, cukup ke Customer Servicenya. Kalau tidak berbelanja di marketplace, maka kamu butuh usaha lebih untuk menghubungi si penjual.

Blokir Rekening Penipu
Kamu sudah meneleponnya, namun tidak ada balasan dan nomornya tidak aktif? Segera blokir rekeningnya ke bank tempat kamu melakukan transaksi dan minta uang yang kamu balik lagi.

Syaratnya? Bawa bukti transaksi dan screen capture percakapanmu saat bertransaksi. Tapi sebelum itu kamu harus melaporkan hal ini ke kepolisian terdekat dengan laporan tindakan penipuan. Nah, surat keterangan yang didapatkan dari kepolisian akan semakin memperkuat kamu di bank.

Lapor ke Lapor
Namun, jika kamu tidak sempat untuk mendatangi kantor polisi dan bank, jangan putus asa! Kamu dengan mudah bisa melapor di lapor.go.id. Lah?

Iya, Lapor merupakan singkatan dari Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Masyarakat yang diinisiasi oleh pemerintah sebagai sebuah sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial. Trus, caranya?

Nih!

Sekilas, begitulah cara kerja Lapor. Yang pasti, sebelum membuat laporan, kamu terlebih dahulu perlu melakukan pendaftaran yang tentunya sangat mudah. Setelah itu, baru kemudian kamu bisa melaporkan kasus penipuanmu ketika berbelanja di dunia maya.

Tenang saja, ada beragam pilihan kategori untuk beragam masalah, termasuk kasusmu.

Meskipun berbelanja dan bertransaksi di era digital sangat mudah dan memudahkan, kamu tetap perlu menjadi konsumen cerdas. Ibarat kata nih, indomie saja yang katanya instan, tetap butuh proses kok untuk menyantapnya, apalagi kalau mau dibuat seenak mungkin.

Masih ingat kisah Nina tadi kan? 😜

Bukan Lagi Koran, Ini yang Seharusnya Anak Muda Baca

“Anak dan cucu saya tidak mau membaca surat kabar. Saya tidak pernah mengerti mengapa hal ini terjadi. Mereka tidak lagi punya budaya membaca, mereka lebih sering menonton televisi. Tidak punya keinginan menambah ilmu,” Pramoedya Ananta Toer.

Pagi baru saja tiba. Masih dengan mata yang enggan terbuka, Dita membalik tubuhnya ke kanan hendak meraih smartphone yang diletakkannya di sudut meja kecil samping tempat tidurnya. Entah telah berapa kali alarm telepon genggam itu berbunyi.
“Mengenal PAN, Partai Milenials yang Lahir dari Reformasi 98,” begitu notifikasi pertama yang masuk di handphonenya, Dita kembali berbaring. Belum sempat membuka notifikasi tersebut, pintu kamarnya diketuk.
“Lah, kok main hape? Mandi sana, trus sarapan. Mama tunggu di bawah. Katanya ada kuliah pagi,” tegur mamanya sambil menarik selimut yang dikenakan Dita.
“Ntar, ma. Aku balas Line temen dulu,” balasnya.
“Cepetan.. Ih! Mama tunggu di meja makan, papa juga udah siap”
Sesudah mandi dan mengoles riasan pada wajahnya, Dita mencabut hape dari kabel charger, melepasnya dari colokan listrik, dan menyambar ransel untuk menuju meja makan. Di meja makan dia memasukkan chargeran tadi, serta sebuah buku catatan ke dalam tasnya.
Telah ada mamanya yang menunggu sambil bolak-balik mengambil roti dari pembakaran dan meletakkannya di meja makan. Sementara di seberang, ada papanya yang sedang membaca koran dengan segelas teh yang seperempatnya telah diminum.

“Nih, makan dulu. Kamu mau berangkat bareng papa kan?” tegur mamanya sambil menyodorkan roti bakar.
Dita tidak menjawab. Dia hanya mengambil roti sambil memelototi hapenya—melanjutkan membaca berita tentang PAN tadi. “Oh, begitu…” gumamnya.
Papa Dita menghentikan bacaannya, memperbaiki duduknya, dan menyesap tehnya. “Eh, kenapa? Mamamu ngajak ngomong tuh.”
“Iya, eh ini, ternyata PAN partai milenials. Masih muda. Ya.. Seumuranlah sama aku.” jawabnya sambil tetap menatap layar smartphone.
“Tau dari mana?” mamanya menanggapi.

Dita tidak lagi langsung menjawab. Dia memijat layar hapenya ke atas dan mengambil beberapa jenak. “Ini dari IDN. Tempat aku baca macem-macem,” jawabnya sambil mengunyah roti.

“Lah, macem-macem apa maksudnya?” papanya penasaran.

“Ini website sih, pa. Papa bisa liat di www.idntimes.com di hape. Minggu lalu nemu beritanya jadi Top 10 News di Line Today. Jadi deh aku akhir-akhir ini aku sering baca di sini, soalnya semuanya lengkap. Apa-apa ada dan update,” Dita memaparkan.

Didirikan pada 8 Juni 2014 oleh dua anak muda, William dan Winston, IDN Times sebagai media daring memang dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan anak muda Indonesia yang mulai bosan dengan media konvensional yang ada.

“Oh, kamu masih baca? Kirain cuma chatting doang ama temen. Soalnya nih ya, kata majalah yang mama baca bulan lalu, minat baca Indonesia saat ini tuh rendah. Hanya peringkat 60 dari 61 negara loh. Bisa ditebak dong penyebabnya adalah hape dan internet. Ngabisin waktu aja!” tanggap mamanya.

Adalah Central Connecticut State University yang merilis penelitian tentang The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016 dengan mengambil sampel awal di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipillih 61 negara.
Negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia menempati 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Nah, untuk 5 terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostawana di urutan 61.
“Emang di dalamnya ada bacaan apa aja?” tanya papa Dita sambil membetulkan letak kacatamanya.
“Bentar,” dia merogoh tasnya hendak mengambil laptop. Dihubungkannya laptop tersebut dengan internet dan segera mengakses IDN Times. “Nah, ini dia, ma, pa!”
Ketika kamu membuka website IDN Times, maka akan muncul tampilan seperti ini.

IDN Times punya semua berita dan bacaan yang kamu butuhkan. Oleh karena itu, ada pilihan More di pojok kanan yang bisa kamu pilih. Dan juga tentu saja Top Channels yang terhubung dengan IDN.

“Trus pa, bukan hanya semua hal tentang kehidupan anak muda yang IDN punya. Mereka juga punya ini #MillenialsMemilih. Kan tahun ini udah masuk tahun Pilkada nih, makanya mereka juga memberikan berita-berita politik yang dikemas dengan gaya anak muda,” Dita menjelaskan.

“Oh iya ya, jadinya nanti 2019 kamu tidak bakal asal coblos,” tanggap papanya.

“Penting juga sih emang ngajarin anak muda politik. Kan biar mereka bisa ambil bagian, biar gak buta, dan dibodoh-bodohi. Tahun depan kan kamu ikut pesta demokrasi untuk pertama kalinya kan, Dit?” mama Dita menimpali.

“Iya, ma. Duh!”

“Tapi bukannya yang beginian bisa dibaca di website koran-koran biasa?”

“Berat, pa! Dita gak bakal kuat, biar papa saja. Hahaha..”

“Eh, trus yang nulis semua berita itu emang orang pers makanya kamu mau percaya-percaya aja? Kan berita bohong lagi marak tuh?” tanya papanya masih keheranan.

“Oh gini, pa,” Dita menegakkan punggungnya, meminum teh, dan mendorong layar laptopnya sedikit ke belakang. “Jadi di sini tuh, ada bagian Community yang dirilisnya Februari 2017 lalu,” dia mengarahkan kursor ke pojok kanan, tepat samping kiri More. Mama dan papa Dita memusatkan pandangan mereka ke layar dengan mengapit Dita di tengah-tengah.

“Di sini setiap anak muda bisa menulis apa saja. Setiap tulisan itu nanti akan mendapatkan poin tergantung dari berapa orang yang liat tulisan kita. Nah, dari poin itu nanti, bisa ditukarkan dengan uang.”

“Tuh kan, siapapun bebas menulis, yang penting nulis, dapat uang. Tidak masalah dong bikin berita bohong biar menarik perhatian semua orang.” sergah mamanya.

“Tenang saja, ma. IDN Times itu mengacu ke Pedoman Media Siber yang mengacu ke Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Setiap orang yang nulis gak bakalan langsung terpublish kok, akan ada review dulu dari Editor. Kalau lolos, tulisan akan terbit. Kalau gak, ya revisi dulu atau langsung ditolak tidak layak terbit kalau tulisannya ngawur,” Dita menerangkan.

“Nah Pedoman Siber ini sudah resmi dan ditandatangani oleh Dewan Pers dan Komunitas Pers di Jakarta pada 3 Februari 2012 loh,” sambung Dita.

“Lah, berarti, tiap orang yang nulis butuh usaha lebih dong ya. Soalnya kan, setau Papa nih, tulisan bagus itu harus ada riset dan butuh dicek ulang lagi baru bisa dipublish.”

“Iyalah pa, unsur-unsur penulisan dasar seperti 5W+1H pokoknya harus sudah khatam dulu. Trus gak bakalan mungkin dong ada tulisan yang berulang di website, makanya harus riset.”

“Wah, ini sih sudah benar bukan berita bohong ya! Apasih pa? Hoks.. Hoks.. Gitu,” mamanya menambahkan sambil menunjuk layar laptop.

“Hoaks ma! Hoaks..” Dita menyambar.

“Di sini No Hoax kok!”

Tawa pun pecah. Mama Dita bergeser mengambil kursi, duduk, sambil mengolesi selai nanas ke roti. Papanya melipat koran lalu meneguk teh.

Perbedaan umur antara orang tua dan anak ini memang jauh. Menurut teori generasi, Dita merupakan generasi Z karena lahir direntang waktu tahun 1995 hingga pertengahan tahun 2000-an. Sementara orang tuanya adalah generasi baby boomers yang lahir dikitaran tahun 1960 sampai 1980-an.

“Sayangnya nih, ma. Yang waktu banjir kemarin, aku nemu artikel yang gambarnya gak banget deh. Maksa banget untuk dijadiin viral, padahal gambar-gambar yang dipake IDN untuk artikelnya selama ini udah bagus banget.”

“Yang mana emang?” mama penasaran.

“Oh.. Iya sih, sayang banget,” tanggap mama.

“Trus, kan ada tuh IDN TV. Sayangnya lagi, itu gak dimaksimalin, padahal aku juga suka nontonin video. Kan lebih menarik kalau tulisan, gambar, dan video udah di satu tempat.”

“Gak papa, mungkin mereka lagi tahap perbaikan. Kan berproses,” kata papanya bijak.

“Eh, ini pa,” Dita mematikan laptonya, memasukkannya di tas, dan meraih smartphone di samping rotinya.

“Supaya tidak ketinggalan berita, trus biar membuka IDN Times 25 kali lebih cepat, makanya aku download di hape,” Dita menerangkan.

“Wah, asyik dong. Papa mau download juga ah!”

“Eh, gak usah! Ini buat anak-anak seumuran aku. Papa baca koran aja. Hahaha..” sergah Dita dengan tawa renyah diikuti mamanya.

“Hm.. Bisa jadi tutupnya banyak media cetak beberapa tahun belakangan ini adalah sebuah bukti bahwa untuk tetap eksis mereka harus mampu menawarkan solusi dan menjadi relevan dengan teknologi yang ada sekarang,” terang papanya.

“Dan bukan lagi koran atau majalah, IDN Times inilah yang harusnya dibaca oleh anak muda. Yang dikemas ala mereka. Lumayan tuh ningkatin minat baca,” tambah mamanya.

“Udah yuk pa, berangkat!”

“Iya, hati-hati kalian,” tegur mamanya.

Jarum jam hendak menunjuk angka delapan ketika mereka mengakhiri perbincangan pagi yang cukup panjang. Tak lama setelahnya, suara mobil pun berlalu.

***

Begini 5 Cara DokterBabe Menjadikan Internet & Hidup Sehat Itu Mudah

“Mulai sekarang kamu harus berhenti minum jus tomat. Tidak baik untuk kesehatan,” telpon mama tiba-tiba.

“Siapa bilang tomat tidak baik?” saya penasaran.
“Itu di internet. Bapakmu sudah baca. Pokoknya mulai sekarang kamu harus berhenti!”
Saya berusaha diam hingga mama menutup telepon.
Sejak tiga bulan terakhir saya memang setiap pagi mengonsumsi jus tomat atau wortel dan roti untuk sarapan. Dari situ, banyak perubahan yang terjadi terhadap tubuh saya. Dua diantaranya adalah tubuh yang meringan dan konsentrasi yang meningkat.
Iya, hanya berbekal sarapan tersebut, saya merasa bahwa oh, ternyata, hidup sehat itu mudah. Karena tidak perlu lagi repot memasak makanan berat. Sayangnya, pagi itu saya dibangunkan oleh mama yang menelpon seolah ada sesuatu yang sangat penting.
Oh, man, bagaimana mungkin tomat tidak baik untuk kesehatan? Justru malah internet yang kadang tidak baik untuk kesehatan, saya rasa. Tapi wajar saja ketika mama memercayai internet. Kami merupakan generasi yang berbeda, dia baby boomers dan saya millenials. Mama masih merasa bahwa semua informasi dari internet adalah kebenaran yang hakiki karena apa-apa tersedia di sana.
Beberapa hari setelahnya, bapak mengirimi saya pesan broadcast di Whatsapp dengan judul “Sebarkan! Berikut bahaya mengonsumsi air putih” yang mengarah ke sebuah domain blogspot.id. Nah, loh? 😔
***

Hasil survei yang dilakukan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak Februari 2016 hingga Februari 2017 menunjukkan bahwa hoaks atau berita bohong tertinggi di Indonesia adalah kesehatan.

Tentu saja, tingginya tingkat penyebaran hoaks ini juga disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah pengguna internet. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016, setidaknya ada 132,7 juta pengguna internet dari total penduduk 263,5 juta orang. Hal ini kemudian menempatkan Indonesia di peringkat kelima negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak.

Trus, apa sih alasan utama orang Indonesia mengakses internet?

Pendataan yang dilakukan oleh APJII pada 2016 menemukan bahwa ada 25,3% atau 31,3 juta orang mengakses internet dengan alasan untuk update informasi. Kedua adalah terkait pekerjaan yang presentasinya 20,8% atau 27,6 juta. Dan 13,5% atau 17,9 juta orang Indonesia mengakses internet untuk mengisi waktu luang.

Jadi bisa dibayangkan, saat orang tua saya berkabar tentang dua info kesehatan tadi, barangkali karena mereka memang ingin mendapatkan informasi tentang kesehatan, yang sayangnya—bersumber dari blog atau web yang abal-abal.

Sampai di sini, sebagai anak yang paham internet, saya merasa bersalah belum mengajari mereka menyaring informasi dengan benar 😑

Nah, sejak 2017 kemarin saya merasa lega. Kenapa? Karena urusan pekerjaan saya harus berpindah dari Makassar ke Jakarta. Otomatis, jarak antara saya dan orang tua pun semakin jauh dan kesempatan saya untuk mengajari mereka mencari informasi yang valid di internet pun mengecil.

Namun, hal ini kemudian diatasi oleh DokterBabe. Caranya saya hanya perlu mengirimi orang tua saya link website DokterBabe karena di dalamnya sudah memuat semua hal terkait kesehatan yang mereka butuhkan. Ada banyak sekali layanan yang situs kesehatan terdepan ini berikan, di antaranya sebagai berikut:

Kamus Lengkap 1001 Penyakit dan Obat

Di sudut kiri atas berjejer menu website dimulai dari glosarium penyakit dan glosarium obat. Keduanya menu seperti kamus kesehatan yang lengkap dimana jika kamu mengkliknya akan muncul beragam istilah yang diurut sesuai abjad mulai A sampai Z. Atau jika buru-buru mencari sebuah istilah, ada kotak pencarian yang bisa kamu ketikkan langsung dan dapatkan hasilnya.

Sehingga ketika menemukan sebuah istilah medis yang asing, kamu bisa lebih cerdas dengan mencari tahu dulu artinya. Di era keterbukaan informasi di internet saat ini, kemampuan untuk menyaring informasi pun harus sering dilakukan.

Artikel Kesehatan oleh Dokter

Inilah fitur andalan saya yang linknya saya berikan ke orang tua. Bukannya apa, di dalamnya telah memuat informasi yang sangat beragam dan tentu saja—terverifikasi oleh dokter. Saya rasa apa yang dibutuhkan Indonesia di tengah tingginya berita bohong tentang kesehatan adalah Artikel Kesehatan terbaru yang disediakan oleh DokterBabe—yang tidak hanya memberikan jawaban terkait persoalan kesehatan tapi juga mengedukasi masyarakat.

Ada banyak sekali pilihan artikel yang tersedia dengan beragam kategori di antaranya gaya hidup sehat, kecantikan, ibu dan bayi, keluarga, kesehatan, serta hubungan intim. Kebayang gak sih ketika kamu punya bayi yang mengalami demam dan tidak tahu harus berbuat apa? Hati-hati! Ketika orang tua mengalami kepanikan saat menghadapi bayinya yang sakit, maka hal ini juga akan berdampak negatif ke bayi.

Cara pertama yang akan kamu lakukan di era dimana anak di gendong di tangan kanan dan gawai di tangan kiri adalah mencari informasi di internet dengan kata kunci: cara mengatasi demam pada bayi. Dan voila! Lihat hasil pencarian kamu di Google.

Tidak sedikit dari hasil pencarianmu yang akan mengarahkan ke informasi yang tidak benar serta tidak kredibel dan kamu tahu sendiri dong akibatnya.

Konsultasi Dokter yang Gratis

Saat ini jika kamu masih berpikiran bahwa ketika konsultasi ke dokter membutuhkan biaya yang yang tidak sedikit, maka kamu salah besar. Di DokterBabe.com kamu bisa melakukan Konsultasi Dokter atau tanya dokter mengenai gejala penyakit yang kamu alami dan semuanya secara gratis.

Yang kamu butuhkan adalah klik layanan Konsultasi dan di sebelah kanan akan muncul kotak yang berisi Judul Pertanyaan dan Isi Pertanyaan yang bisa kamu isi sendiri dan langsung kirim ke dokternya, tunggu beberapa saat maka kamu akan mendapat balasan dari dokter yang berpengalaman.

Iya, semudah itu! Dan saya merasa memiliki dokter pribadi yang bisa ditanyai kapan saja 😎

Rumah Sakit, Apotek, dan Klinik dalam Sekali Klik

Bayangkan jika suatu waktu kamu traveling dengan mendatangi sebuah kota baru dan tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan dan butuh pengobatan. Sementara kamu tidak tahu apapun tentang tempat berobat dan tidak punya kenalan siapapun di tempat barumu, maka hanya uuuuudengan mengakses DokterBabe.com kamu pun bisa segera menemukan petunjuk arah menuju tempat berobat lengkap dengan detail informasi berupa alamat, nomor telepon, bahkan jam buka.

Melalui salah satu layanannya bernama Cari Rumah Sakit, DokterBabe.com akan mengarahkanmu ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat dari posisimu. Setelah itu, jika kamu membutuhkan obat, maka akan ada lagi petunjuk mengenai lokasi apotek terdekat.

Tampilan Visual yang Ciamik

Seluruh layanan kesehatan cuma-cuma yang diberikan oleh DokterBabe.com kemudian disajikan dengan visual yang tidak biasa. Bagaimana tidak? Penerapan flat design yang digunakan adalah sebuah usaha yang sangat baik untuk mengikuti tren kekinian agar membuat internet users nyaman dan tentu saja merupakan bukti kredibilitas dan profesionalitas yang DokterBabe.com pegang.

Tingginya hoaks kesehatan yang beredar di internet sudah sangat buruk, apalagi dengan penyajian grafis yang bikin mata sakit akibat tampilannya yang buruk, menurut saya sebagai salah satu seorang millenials—yang apa-apa harus punya visual yang ciamik, apalagi di feed instagram.

Iya dong, saya tentu saja tidak ingin menghabiskan waktu saya membaca berita kesehatan palsu dengan dengan gambar-gambar yang buruk. Bukan hanya saya, penggunaan visual juga akan memengaruhi psikologi banyak orang untuk betah berlama-lama di sebuah situs.

Oiya, bukan hanya di laptop dan aplikasi browsermu, DokterBabe.com juga sedang mengembangkan dirinya di Google Play Store sehingga kamu tidak lagi harus repot-repot mencarinya di jendela browser yang tabnya menumpuk.

Nah, kehadiran DokterBabe.com sebagai sebuah situs kesehatan paling terdepan di Indonesia adalah bukti bahwa untuk hidup sehat itu mudah, apalagi internet sehat. Iya kan?

***

Menyusur Jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe

Sengkang Kabupaten Wajo
Gerbang Kota Sengkang dari arah Pare-Pare. 
Tiga abad sebelum de Montesquieu di Prancis mengenalkan konsep trias politica dalam bukunya The Spirit of Laws (1784), salah satu kerajaan tertua di selatan Sulawesi telah lebih dulu membagi sistem pemeritahannya menjadi tiga kekuasaan terpisah.

Bugis Wajo

Adalah Arung Matoa sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dimana pemilihannya tidak didasarkan pada garis keturunan, melainkan dipilih secara diplomatis oleh rakyat. Arung Bettempola dan Arung Patappulo menjalankan fungsi kekuasaan legislatif, sedangkan Arung Mabbicara melaksanakan fungsi kekuasaan yudikatif.

Kabupaten Wajo yang beribukotakan Sengkang terletak di utara Makassar, ibu kota  Provinsi Sulawesi Selatan. Butuh sekisar 4 jam menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer untuk sampai ke tempat ini. Jika kamu mencari alternatif lain untuk berwisata di Sulawesi Selatan, maka kota yang didiami oleh suku Bugis dan sedari dulu terkenal sebagai kota para pedagang ulung ini memiliki dua potensi wisata yang tidak begitu terekspos untuk kamu eksplor.

Proto Sejarah Lipa’ Sabbe

Perjalanan menjadi turis di kota tempat saya besar ini dimulai awal 2015 ketika sedang mengerjakan tugas akhir. Kala itu saya mengajukan 3 judul yang mengeksplorasi Sutra Sengkang dan Danau Tempe untuk menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pendokumentasian dan promosinya sebagai situs pariwisata.

Terang saja, Sutra Sengkang yang sudah ada sejak beratus tahun lalu belum punya catatan lengkap yang komprehensif. Sutra Sengkang pada awalnya mewujud dalam sarung. Sedangkan sarung sendiri bak tubuh kedua bagi masyarakat Bugis, meminjam istilah Abdi Karyaseorang art performer yang kerap kali menggunakan sarung dalam penampilannya.

tenun sutra sengkang
Perempuan dengan tennung walida. Dokumentasi pribadi

“Sejak lama keterampilan bertenun merupakan salah satu sumber penghasilan utama orang Bugis,” tulis Christian Pelras di Manusia Bugis (2006; 289).

Sebelum Pelras, ada Thomas Forrest yang telah mencatat hal ini dalam A Voyage From Calcutta to The Mergui Archipelago […] (1729). Dia menyatakan bahwa penduduk di Sulawesi sangat terampil menenun kain, umumnya kain kapas bergaya kambai yang mereka eksplor ke seluruh Nusantara. Kain-kain itu bermotif kotak-kotak merah bercampur biru. Mereka juga membuat sabuk sutra indah, tempat menyelipkan kerisnya.

Keterikatan mereka dengan sarung bahkan dimulai saat bayi. Orang tua di masyarakat Bugis akan memberikan sarung kepada anaknya yang baru lahir, pun saat aqiqah mereka ditidurkan di atas berlembar-lembar sarung sutra untuk didoakan. Sarung juga menjadi ayunan bagi bayi.

tenun sutra sengkang
Penggunaan lipa’ sabbe di aqiqah masyarakat Bugis. Foto: Aziz Said

Saya teringat akhir pekan di masa kecil dimana saya menginap di rumah nenek. Tiap datang, saya diberikan sarung. Sarung sebagai pengganti selimut untuk tidur akan berbeda dengan sarung untuk mandi.  Tante atau sepupu saya yang ketika mandi di sumur dapat dengan lihai menjadikan sarung sebagai tempat mengganti pakaian mereka. Ketika bermain, saya juga menggunakan sarung, mengubahnya dan menjadikannya bahan dalam pelbagai permainan.

Sementara aktivitas menghasilkan sarung yakni tenun menenun bagi seorang perempuan Bugis merupakan penentu harkat mereka. Ana’ dara (gadis) yang telah terampil dalam menenun dianggap sebagai gadis yang matang dan ideal untuk dijadikan istri oleh para Kallolo (pemuda). Hingga muncul adagium, “Tannia ana’ dara Wajo narekko de’ nissengngi mattennungnge” yang berarti, bukan gadis Wajo jika ia tidak bisa menenun.

Perempuan zaman dulu tidak diperkenankan memandang langsung laki-laki yang disukai, maka mereka pun dengan senang hati memberikan sarung hasil tenunannya sebagai ungkapan suka tanpa melanggar nilai yang ada. Pun dengan laki-laki, ungkapan “satu sarung berdua” merupakan pernyataan cinta sekaligus lamaran kepada seorang perempuan. 

pengantin bugis sengkang
Penggunaan Lipa’ Sabbe di acara Mappacci. Foto repro

Di seluruh rangkaian proses pernikahan masyarakat Bugis juga menggunakan lipa’ sabbe. Mulai dari dari mappacci hingga busana yang dikenakan oleh si pengantin hingga seluruh keluarga yang hadir. Perempuan dan laki-laki mengenakan lipa’ sabbe untuk bawahan. Sementara atasan untuk perempuan menggunakan baju bodo dan jas tutup serta songko’ to bone untuk laki-laki.

bissu wajo
Haji Jannah, tetua bissu Kabupaten Wajo. Dokumentasi pribadi

Penggunaan warna dan corak lipa’ sabbe mampu menyimbolkan banyak hal, seperti status sosial seseorang dalam masyarakat—apakah dia bangsawan, masyarakat, atau budakapakah dia sudah menikah atau belum. Corak balo renni’, misalnya, yang terdiri garis vertikal dan horizontal tipis berjumlah puluhan membentuk kotak-kotak kecil dikenakan perempuan yang belum menikah.

“Dahulu jika pria Bugis ingin mencari pasangan hidup, mereka menghadiri hajatan demi hajatan, mencermati perempuan mana yang mengenakan lipa’ sabbe bercorak balo renni karena bisa dipastikan perempuan tersebut belum menikah,” papar Haji Jannah, angkuru bissu Wajo.

Lini Produksi 

Perempuan dengan aktivitas menenun ini dapat kamu temui hampir di semua kecamatanjumlah kecamatan di Wajo ada 14, namun khusus untuk pengembangan sutra berbasis rumah tangga dan produksi benang hanya berpusat di Kecamatan Sabbangparu dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Pammana, Tempe, Bola, Gilireng, dan Majauleng. Sementara pusat industri pertenunan sutra terdapat di Kecamatan Tanasitolo.

tenun sutra sengkang
Proses pembuatan benang sutra Sengkang. Dokumentasi pribadi

Seminggu sebelum menetas ulat sutra didatangkan dari Donri-Donri, Kabupaten Soppeng untuk kemudian diproses menjadi benang. Butuh 20 hingga 25 hari untuk merawatnya menjadi ulat dewasa hingga kepompong. Jika telah menjadi kepompong, mereka akan siap diolah menjadi benang sutra. Proses ini disebut mappali atau memintal benang.

Seluruh proses pembuatan perawatan ulat hingga menjadi benang sutra bisa kamu saksikan sendiri di salah satu desa di Kecamatan Sabbangparu, Desa Ugi. Mayoritas perempuan di sana memang menjadikan pekerjaan ini sebagai industri rumah tangga. Karena rumah-rumah di sana adalah rumah panggung, kolong rumah pun dimanfaatkan sebagai tempat untuk memeroses benang sutra dan menenun.

Jika telah menjadi benang, proses berikutnya adalah penenunan menjadi lipa’ sabbe. Namun sebelumnya, benang sutra akan diwarnai lebih dulu menggunakan pewarna alam untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Kunyit misalnya, digunakan untuk mendapatkan warna kuning atau oranye. Sayangnya, pewarna alami yang memang butuh proses lama mulai kehilangan popularitastergantikan oleh pewarna buatan. Hal yang kita tidak bisa tampik hari ini adalah kecenderungan orang-orang dalam menggunakan bahan-bahan instan untuk hasil yang cepat.

“Sekarang susah mencari orang yang maccello (bugis: mewarnai) dengan pewarna alami. Proses pengerjaannya lama dan pemesan selalu ingin cepat jadi,” tutur Hj. Mintang (68 tahun) dalam bahasa Bugis.

pewarna sutra sengkang
Bahan pewarna sutra Sengkang. Dokumentasi pribadi

Untuk proses pembuatannya, lipa’ sabbe ditenun dengan dua cara. Pertama adalah tenun gedongan atau tennung walida yang telah digunakan sejak abad ke 16. Tenun tradisional yang keseluruhan peralatannya digerakkan oleh tenaga manusia. Disebut sebagai tennung walida karena perangkat terpenting dari tenun ini adalah walida. Kayu kayu sonokeling dengan panjang kurang lebih satu meter yang menyerupai sebilah pedangperlambang senjata bagi perempuan Bugis dan berfungsi untuk merapatkan benang.

tenun sutra sengkang
Tennung walida dan tennung bola-bola (ATBM). Dokumentasi pribadi

Baru kemudian pada 1922, Tekstiel Instituut Bandung atau sekarang Balai Besar Tekstil Bandung mengembangkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk mempermudah proses produksi sutra. Di Wajo, ATBM dikenal sebagai tennung bola-bola. Alat ini merupakan tenun semi tradisional karena hanya membutuhkan tangan untuk mengoperasikannya. Hasil produksi pun tidak terbatas pada sarung, melainkan juga puluhan meter kain sutra yang digunakan sebagai bahan pakaian. Nah, untuk menyaksikan proses ini, kamu bisa mengunjungi Kampung Sutra di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo.

sengkang wajo
Kampung Sutra Sengkang, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Dokumentasi pribadi

Mengedar Pandang di Danau Tempe

Petitih gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak ternyata bukan isapan jempol belaka. Tak sedikit dari teman saya yang juga besar dan menetap di Sengkang membuat saya tercenung ketika membicarakan Danau Tempe, salah satu lokasi wisata populer di Sulawesi Selatan. “Seumur-umur belumpa’ pernah ke sana.”

Padahal kami mengunjungi banyak tempat wisata di luar sana ketika liburan tiba.

Untuk ke tempat ini kamu bisa naik perahu yang ada di kitaran Jembatan Paduppa atau di Jembatan 45, dermaga tempat pelelangan ikan di Sengkang. Perjalanan akan menghabiskan waktu 30 hingga 45 menit perjalanan melalui Sungai Walennae untuk sampai di tengah danau, di rumah terapung.

Terakhir kali ke sana ada sekisar empat belas-lima belas rumah yang membentuk seperti perkampungan nelayan. Rumah-rumah ini pada bulan-bulan tertentu akan berpindah mengikuti angin. Setibanya di sana, kita akan ditawari kopi atau teh dengan penganan pisang goreng atau ubi gorengyang harganya terserah kita karena mereka memang tidak mematok harga.

Dari rumah terapung, kamu bisa menyaksikan matahari terbit atau terbenam di balik gunung yang mengelilingi Danau Tempe sambil menyantap kudapan yang tersedia.

danau tempe sengkang

danau tempe sengkang
Rumah terapung, nelayan, dan lanskap Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

Danau Tempe membentang di tiga kabupaten, yakni Soppeng, Sidrap, dan di Wajo yang luasnya mencapai 70 persen terhadap luas Danau Tempe. Letaknya pun berada di Kecamatan Tempe, Sabbangparu, Tanasitolo, Maniangpajo, dan Belawa. Kebanyakan laki-laki yang tingga di pesisir Danau Tempe berprofesi sebagai nelayan. Sementara menunggui suaminya, para istri mengerjakan tenunan. Dua profesi ini dahulu adalah mata pencaharian kebanyakan orang di Kabupaten Wajo.

“Danau Tempe adalah mangkuk raksasanya ikan tawar di Indonesia,” ujar Ir. Soekarno ketika ke Sengkang pada 1950 dalam rangka peletakan batu pertama Mesjid Raya Sengkang.

Di titimangsa tersebut Danau Tempe memang merupakan pemasok ikan tawar ke hampir seluruh Indonesia. Danau yang luasnya mencapai 13.0000 hektar ini merupakan danau purba yang terbentuk bersamaan dengan daratan di Sulawesi Selatan sekisar 10.000 tahun SM. Ada banyak ikan endemik juga burung yang terbang di langit Danau Tempe.

danau tempe sengkang
Burung di Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

danau tempe sengkang
Ikan hasil tangkapan nelayan di Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

Pada bulan Maret atau Agustus, masyarakat setempat sering menggelar upacara adat maccera’ tappareng (menyucikan danau) yang ditandai dengan peyembelihan sapi, inilah waktu terbaik untuk mengunjungi Danau Tempe. Akan ada banyak atraksi wisata yang ditawarkan seperti mappadendang yang dilakukan oleh para bissu dan lomba balap perahu.

Epilog

Setelah menyusur jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe yang kaya akan cerita-cerita setempat, maka singgahlah menikmati kopi dan bolu paranggi di warung kopi temangnge. Kopi yang tersedia di sini adalah kopi toraja yang airnya direbus menggunakan kayu bakar. Nikmat kopi yang tidak akan kamu temukan di tempat lain serta suasana kota yang berpendar di sekelilingnya membuat kamu akan merasa nyaman di sini. Letaknya di Jalan Masjid Raya Sengkang, tepat di tengah kota, tak jauh dari Pasar Mini Sengkang. Lokasi ini pula yang digunakan Riri Riza dan Mira Lesmana dalam membuat film Athirah (2016).

Untuk masalah kuliner, kamu tidak usah khawatir karena ada banyak makanan khas Bugis yang bisa kamu nikmati, seperti nasu palekko, songkolo, atau putu.

Jika informasi yang ada di internet masih kamu rasa kurang, tenang saja. Kamu bisa download aplikasi gratis Hi Wajo di handphonemu. Linknya di sini. Semua petunjuk yang kamu butuhkan tersedia.

Sengkang yang berasal dari bahasa Bugis, siengkang yang berarti berdatangan, akan terus memanggil kamu di tengah popularitas destinasi-destinasi pariwisata yang ada di daerah sekelilingnya. Jika sedang berada di Sulawesi Selatan, sempatkanlah bermalam di sana barang satu atau dua malam untuk menyusur jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe.

***

Cara ke Sengkang:

Dari Jakarta, kamu bisa naik pesawat ke Makassar dan tiba di Bandara Sultan Hasanuddin. Sampai di sana, kamu hanya perlu keluar dan menunggu depan Indomaret seberang bandara. Di sana akan ada mobil tujuan Sengkang yang akan singgah mencari atau menunggu penumpang. Perjalanan akan menghabiskan 4 hingga 5 jam dengan ongkos Rp. 90.000,-.
Berkeliling kota, ada banyak Bentor (Becak dan Motor) yang siap mengantarmu kemana-mana.

Teman Jalan di Sengkang:

Untuk pemandu, silakan menghubungi teman saya Epi di Instagramnya https://www.instagram.com/ephy_djufri/ atau Whatsappnya +62823-3037-7839. Epi akan dengan senang hati akan menemanimu!

*Tulisan ini diikutkan dalam Gramedia Blog Competition yang berlangsung dari 1 November 2017 hingga 7 Januari 2018. Info selengkapnya di fanspage Facebook Gramedia Store. 

Citra dan Pemantapan Jiwa di Jakarta Biennale 2017

Salah satu lokasi Jakarta Biennale 2017, Gudang Sarinah Ekosistem

Hari meremang, halte disesaki para pekerja dari berbagai kelas yang berlari kecil menuju antrian yang mengular dimana bus akan mengantar mereka pulang ke rumah. Derap langkah, bunyi klakson, dan suara mesin kendaraan bermotor bersahut-sahutan. Peluh di dahi diusap dengan punggung tangan. Beberapa dari mereka bermasker, mengenakan earphone, dan tentu saja barang bawaan yang membuat pergerakan mereka menjadi tak mudah.

“Ini sungguh melelahkan!” ujar Citra, perempuan kantoran di kawasan Sarinah.

“Kenapa?” Andi, seorang pekerja lepas keheranan.

“Bayangkan saja, tiap hari berangkat kerja ketika matahari belum terbit dan pulang ketika sudah terbenam. Belum lagi ketika ada kerjaan yang mendesak untuk diselesaikan dan menuntut lembur.”
Mereka, teman lama yang baru bertemu, menghabiskan jam makan siang di sebuah kedai kopi tak jauh dari tempat Citra bekerja.
“Bagaimana kalau weekend ini kita ke Gudang Sarinah?”

“Hah? Gudang? Sarinah? Perasaan di sini gak ada gudang deh?”
“Duh, bukan. Ini Gudang Sarinah, dekat tugu pancoran.”
“Ngapain?”
“Lagi ada pameran seni, Jakarta Biennale 2017. Lumayan buat kamu untuk refreshing. Daripada ke mall terus.”

“Oh, boleh deh.”
Penelitian yang diadakan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) 2012 memang mengungkapkan bahwa setiap pekerja di Jabodetabek membutuhkan sejam untuk tiba di tempat kerja. Sementara dalam perjalanannya, mereka harus menghadapi kondisi yang tidak mendukung seperti berdesakan di transportasi umum. Hal ini tentu saja berdampak pada kinerja mereka sementara stres terhadap pekerjaan akan mengganggu kesehatan biologis dan mental.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika GrabCar menurunkan Citra tepat di gerbang Gudang Sarinah.
“Dimana?”

“Oh, masuk aja. Ntar pintu pertama sebelah kiri ya,” balas Andi yang tengah mengerjakan jahitan tas berbahan dasar baliho bekas pameran.
Citra terperangah melihat penampakan dalam tempat yang disebut gudang tersebut. Dia tidak mengira akan ada ruang yang terlihat seperti window display toko-toko dalam mall. Tokopedia memang berkolaborasi dengan Jakarta Biennale (JB) 2017 dengan menyediakan ruang untuk workshop. Di sana kemudian digelar aktivitas menjahit yang dilakukan oleh para seniman dan kurator. Selain itu, ada pula workshop mewarnai topeng untuk anak-anak.
“Hei! Selamat di Gudang Sarinah,” sambut Andi.

“Oh, ini,” Citra menyapukan pandangannya ke seluruh ruang.

“Iya, jadi ini Jakarta Biennale 2017 yang merupakan biennale ke 17. Diadainnya tiap dua tahun sekali. Pameran seni ini udah ada sejak 1974 loh. Udah lama banget. Di Indonesia, dia yang pertama. Isinya seni macem-macem gitu,” terang Andi.

Infografis sejarah Jakarta Biennale
Jakarta Biennale tahun ini memiliki waktu yang hampir bersamaan dengan Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Mereka memang sepakat untuk menggelarnya dalam waktu yang berdekatan agar, menurut Ricky Josep Persik wakil kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), efektif dalam menarik tamu-tamu internasional untuk datang ke Indonesia.
Tahun ini  JB melalui 5 kurator  mengurasi 51 seniman baik individu maupun kelompok baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menampilkan karya mereka dengan tema JIWA. Perhelatan dua candra ini digelar di tiga tempat berbeda yakni, Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlangsung dari 5 November hingga 10 Desember 2017.
Menyeberang ke gedung sebelah, Citra yang dituntun Andi mendapati karya Chiharu Shiota di sebuah layar LCD yang menyiram tubuhnya dengan lumpur di dalam bak mandi yang sempit. Karya itu merupakan performans yang dibuat di tahun 1999 berjudul Bathroom. Menurut informasi yang terpampang, seniman Jepang yang kini menetap di Jerman ini, ingin menyatu dengan bumi—tempat dimana dia dan kita berpijak. Tak lama setelah menyaksikan penampilan Chiharu, mata Citra langsung terantuk pada foto batang pohon yang panjang yang ditampilkan dengan warna hitam putih. Senada dengan karya sebelumnya, Citra merasa bahwa karya ini masih berkisar tentang alam dan manusia.

Robert Zhao Renhui. The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree (III). 2017
Adalah Robert Zhao Renhui, seniman Singapura, yang memajang foto tersebut—yang ukurannya menyerupai ukuran batang pohon aslinya. Ini merupakan buah kegelisahannya atas pohon-pohon di Singapura yang ditebang untuk kemudian dipotong-potong dan dipindahkan ke tempat lain untuk diolah. Hal ini, menurut Robert, butuh cara-cara lain untuk “mengelola” alam. Lepas menatapi satu per satu potongan batang pohon tersebut ia meneruskan langkah dan kembali terantuk pada dua karya yang cukup mengambil ruang yang lebar yakni tumpukan-tumpukan tanah, debu, dan kerikil bak gunung dengan tampilan video yang diproyeksikan di tembok putih serta rangkaian batu-batu apung yang tampak menyerupai sebuah wajah. Karya pertama adalah karya seorang perempuan pelaku performans yang lahir di Jerman dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Marintan Sirait. Dalam praktiknya berkesenian, Marintan memang  menganggap bahwa tubuh seseorang  merupakan rumah sekaligus tempat berlindung paling rentan dalam interaksi sesama manusia serta yang paling penting adalah tubuh juga memiliki hak atas kebebasan.
Sedangkan untuk karya kedua adalah hasil bermain seorang Bali bernama I Made Djirna dengan benda-benda di alam. Seperti yang diamininya bahwa benda tersebut juga laiknya manusia yang melalui berbagai tahapan seperti, ada, berproses di dalam waktu, hingga akhirnya tiada. Untuk JB sendiri, Made Djirna menghabiskan berbulan-bulan lamanya untuk memunguti, mengamati batu apung yang ditemukannya di Pantai Beraban, Jumpai, dan Purnama, hingga menggambarinya dengan intuisi akan wajah arkais-universal atau antik sebab dia menyakini bahwa kita, manusia, sebenarnya mampu berkomunikasi dengan benda-benda di alam.
I Made Djirna. Unsuang Heroes. 2017


“Makin halus rasa kita, makin luas pula komunikasi kita di alam semesta,” ujar Djirna.

Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Citra dan Andi selama proses berkeliling ke dalam ruang pameran. Citra, yang walaupun tidak memiliki latar belakang seni pun merasa seolah berbincang dengan karya-karya yang tersaji. Hingga akhirnya mereka memasuki ruang lain yang tampaknya berpendingin ruangan.
“Gimana Cit?”

“Menarik. Dari beberapa karya tadi terlihat jelas hubungan manusia dengan alam. Kita emang gak bisa terpisah ya?”

“Iya. Yuk lanjut!”
Melintas, mereka mendapati dua bangku merah panjang dengan layar yang menampilkan seorang pria beraut Chinese berbicara. Tampak seperti TEDx menurut Citra. Di atasnya ada tirai putih membentang dengan boneka yang menyerupai ratu Inggris. Kesemuanya adalah karya Ho Rui An, seniman muda Singapura yang telah berkeliling Berlin, Manila, London, dan Hongkong untuk mempresentasikan karya-karyanya. Meskipun Citra tak memahami karya tersebut dia tetap mengaguminya karena menampilkan banyak hal dalam satu tempat, mulai dari video, film, patung, dan performans.

Ho Rui An. Solar: A Meltdown 2. 2014

Di ruang pamer ini Citra tidak lagi berjalan melambat memelototi karya. Mungkin karena ketidakmampuan dia untuk mencerna apa yang diterpajang. Namun, satu-satunya yang membuat dia betah adalah di bagian karya Semsar Siahaan. Meskipun telah wafat, tim artistik JB kembali memamerkan karya Semsar dengan tajuk “Menimbang Kembali Sejarah.” Terlihat banyak dari rupa-rupa karyanya yang ditampilkan mulai dari foto keluarga yang dilengkapi dengan deskripsi foto yang ditulistangan sendiri oleh Semsar. Mata Citra juga lama menatap grafis perempuan mengepal lengan dengan tulisan “Marsinah” di bawahnya.
“Siapa Marsinah?” Citra penasaran.

“Baca aja di bawah, tuh berita-berita tentang dia,” timpal Andi.

“Mengerikan ih,” ringis Citra kemudian.

Semsar Siahaan adalah seorang keturunan Batak dan India. Bapaknya merupakan seorang tentara dan memiliki empat saudara. Dalam dunia seni rupa, ia dikenal sebagai seorang seniman aktivisme. Pemberontakan-pemberontakan tampak jelas dalam karyanya. Salah satu kejadian yang paling diingat adalah dia membakar patung dosennya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang baru saja pulang dari pameran patung internasional di Fukuoka, Jepang.
“Saya lapar. Makan yuk!” ujar Citra tiba-tiba.

“Boleh. Di samping ada kantin kok.”
Setelah keluar ruangan, mata Citra disilaukan oleh kumpulan tumbuhan eceng gondok berbunga emas milik Siti Adiyati. Menilik sejarah panjang JB, seniman ini merupakan salah satu dari sedikit mahasiswi yang menolak sistem seleksi karya yang ditampilkan di biennale. Penolakan ini memunculkan sebuah peristiwa bernama Desember Hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru. Eceng gondok berbunga emas ini sebenarnya telah pernah ditampilkan dalam pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1979 namun kembali dihadirkan dengan memperbesar kolamnya dengan ukuran 20m x 8m dengan kedalaman air 30cm. Karya ini merupakan protes terhadap negara yang kian hari melebarkan jarak antara si miskin dan si kaya.
 

Siti Adiyanti. Eceng Gondok Berbunga Emas. 1979

“Keren yah karya-karyanya. Ada aja orang berpikir sejauh itu. Hubungan manusia dengan ini dan itu. Dan juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri,” Citra sambil menyuap mie bakso.
“Iyalah, seniman gitu loh. Eh, masih ada banyak performance art loh beberapa hari ke depan. Mau nonton gak?” timpal Andi.
Pengantar kuratorial Jakarta Biennale 2017


Citra tak menjawab. Ia menguyah sambil menatap jauh bak berbincang dengan jiwanya sendiri. Laiknya diam, jiwa pun tak bisa diterjemahkan.
***

Makanan dan Masa Depan Kita

Gambar: The Daily Dot
Terlepas dari jaring laba-laba di sudut kamar, dia terbang perlahan naik turun membawa tubuhnya yang berat. Bisa dibayangkan betapa besar usaha yang dikerahkan sehingga bisa keluar dari perangkap laba-laba dengan tubuh seberat itu. Sebaliknya, tidak butuh tenaga lebih untuk mematikannya. Plak! 

Sekali tepukan darah segar berceceran di telapak tangan saya. Keadaan susah bergerak ini akan dialami oleh sebagian besar makhluk hidup ketika tubuhnya berat. Salah satu faktor meningkatnya berat tubuh adalah tidak dikonsumsinya makanan sehat serta kurangnya aktivitas fisik.

Dari nyamuk yang saya tepuk semalam itu, saya mengingat orang tua Chihiro di film Spirited Away (2001) saat mencari rute terdekat ke rumah baru mereka namun kesasar di sebuah desa kecil yang penuh dengan restoran. Walaupun restoran tersebut tidak berpenghunimakanan terhidang dengan bebas dan lezatnya.

Tanpa pikir panjang, orang tua Chihiro langsung menyantap makanan-makanan tersebut. Namun tidak dengan Chihiro, dia menolak makan dan memilih berkeliling karena takut terhadap pemilik restoran akan marah jika langsung menyantap makanan mereka begitu saja. Sepulangnya, Chihiro mendapati ayah dan ibunya melahap semua makanan yang ada di restoran dan berubah menjadi babi raksasa. Makanan-makanan itulah yang menjadi sumber malapetaka bagi Chihiro dan keluarganya.

Budaya Hidup Sehat

Bagian awal animasi fiksi ini menjadi bahan refleksi akan petaka akibat mengonsumsi makanan yang tidak sehat dalam jumlah berlebihan. Tidak sulit mencari referensi mengenai penyakit yang ditimbulkan dari makanan-makanan tersebut. Salah satu penyakit yang paling populer adalah diabetes. Jared Diamond, ilmuwan Amerika Serikat peraih Pulitzer Prize pada 1998, mencatat hasil penelitiannya tentang kesehatan masyarakat modern saat ini di bukunya The World Until Yesterday (2012). Bahwa yang menjadi pembeda antara masyarakat saat ini dengan masyarakat yang hidup di kisaran tahun 1936 adalah tubuh mereka kelebihan berat badan, ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya. Jared mencatat bahwa mayoritas masyarakat hari ini mengidap Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang satu generasi silam tidak dikenal.

Sedangkan di Indonesia sendiri—menurut data WHO pada 2016, dari 1980 ke 2014 jumlah penderita penyakit diabetes terus meningkat dengan pengidap tertinggi adalah wanita dan pada 2030 diprediksikan untuk menduduki posisi lima besar dunia—negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi.

Jika ditilik lebih lanjut, diabetes dibedakan menjadi dua tipe. Tipe 1 atau insulin dependent diabetes dimana hanya sekira 10% orang yang mengidap penyakit ini dan rata-rata menyerang orang-orang berusia muda. Salah satu cirinya adalah tubuh yang mengurus. Sedangkan tipe 2 atau non-insulin dependent diabetes adalah yang diderita oleh 85% orang saat ini. Diabetes tipe 2 ini berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang dan menyerang orang dewasa dan orang tua. Sebagian besar penyakit ini tidak terdeteksi sampai muncul komplikasi dengan penyakit lain seperti kerusakan mata, ginjal, jantung, dan berakhir pada kematian dini.

Sumber: WHO Diabetes Global Report

Bagaimana Cara Menurunkan Berat Badan?

“Kamu terlihat kurus!”

“Eh, kamu kelihatan beda. Hampir saya tidak mengenalimu.”

“Ckck.. Kamu turun berapa kilo?”

“Seperti ini lebih baik, lebih sehat.”

Dengan tidak berada di Makassar selama kurang lebih tujuh bulan, saya ditodong pernyataan-pertanyaan di atas oleh teman-teman yang intinya, “Bagaimana cara menurunkan berat badan?”

Dan tanggapan yang selalu saya ulang, “Iya, turun 15 kilo dalam 6 bulan.” Iya, saya kehilangan berat badan 15 kilo. Awalnya dari 80 kg menjadi 65 kg—hingga saya menuliskan postingan ini jarum timbangan menunjuk angka 63. Pernyataan-pertanyaan dari teman-teman saya itu kemudian akan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain tentang bagaimana menurunkan berat badan.

Hari ini, proses menurunkan berat badan adalah hal yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit diejawantahkan.

Diet Sehat

Saya berulang kali membuat penegasan bahwa saya tidak sedang dalam program diet sehat. Dalam kurun waktu 6 bulan itu saya hanya memperbaiki pola makan. Pencapaian berat badan 80 kg itu sebenarnya diakibatkan oleh pola makan yang tidak teratur serta gaya hidup yang tidak sehat. Bayangkan saja, dulu saya melahap sarapan sepiring nasi kuning di pagi hari, setelahnya menikmati banyak kue yang dijual di kitaran rumah mulai dari lopis, kue lapis, jalangkote, panada, atau roti pawa.

Siangnya saya makan nasi, ikan bakar dan sop saudara, pallumara atau coto makassar. Bakso dan mie pangsit di sore hari atau kalau lagi seret, indomie goreng bertabur potongan cabai jadi alternatif. Malam harinya saya melahap nasi goreng, ayam lalapan atau songkolo. Terima kasih Makassar untuk pilihan makanan yang tiada batas!

Makan di malam hari bisa jadi dua kali karena saya makan di awal malam dan makan di tengah malam. Percayalah, begadang membuat orang lapar. Jika kamu menilai saya sebagai orang kaya, maka kamu salah besar. Saya hanya punya banyak pilihan tempat makan yang murah dengan rasa tidak murahan. Rupa-rupa makanan tersebut dengan sadar saya masukkan ke dalam perut dalam porsi yang berlebihan, kebodohan terbesar yang pernah saya perbuat.

Buah untuk Diet

Hari ini saya mengurangi dan membatasi semuanya. Di pagi hari tidak ada lagi nasi. Yang ada hanya jus tomat, jus wortel, atau pisang rebus yang saya beli di pasar tradisional dengan harga murah. Untuk stok sarapan empat hari, saya hanya butuh Rp 15.000,-.

Agar tidak bosan, saya sering menambahnya dengan bassang, makanan khas Makassar bubur yang terbuat dari jagung pulut, tepung terigu, air, tanpa gula. Di siang harinya saya menikmati makan siang dengan sedikit nasi, sayur hijau, ikan, telur, tahu atau tempe yang kesemuanya saya masak sendiri. Lumayan, bahan makan siang dua-tiga hari hanya sekisar Rp. 15.000 hingga Rp. 25.000,-. Dan untuk pengganti makan malam, saya makan sore. Menunya berupa apa saja—tanpa daging atau nasi.

Foto: Jumardan Muhammad
Selain berhemat, saya merasa jauh lebih sehat. Menariknya, celana dan baju yang sudah saya tidak gunakan sejak tiga tahun lalu karena kesempitan dapat kembali saya kenakan. Hal-hal inilah yang saya ceritakan ke orang-orang ketika menanggapi perubahan bentuk tubuh saya.

Oiya, karena saya senang memotret, maka sejak beberapa bulan lalu, saya pun mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Tempat-tempat yang dapat saya jangkau, saya tempuh dengan jalan kaki atau jika kejauhan saya menggunakan sepeda. Mengecilnya perut buncit dan tersalurkannya hobi fotografi saya adalah salah dua manfaat dari hal-hal ini.

Kebiasaan begadang pun saya hilangkan. Di malam hari saya tidur paling lambat pukul 10 dan bangun pada pukul 4 pagi. Pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan saya kerjakan di awal hari dan membuat perencanaan-perencanaan tentang apa-apa saja hal yang harus saya kerjakan dalam satu hari. Kebiasaan baru ini membuat saya jauh lebih terorganisir.

Cara Alami Menurunkan Berat Badan

Jika kamu tinggal di Jakarta dengan aktivitas padat sehingga tidak sempat melakukan apa yang saya lakukan, Gorry Gourmet di websitenya https://gorrygourmet.com/ dan aplikasi smartphonemu https://goo.gl/vWENMp siap menjadi asisten kesehatan pribadimu dalam melakukan program hidup sehat, baik itu menurunkan berat badan, menangani kasus kebutuhan khusus bagi mereka yang mengidap penyakit tertentu, menaikkan massa otot, bahkan memenuhi cemilan harianmu.

Catering Makanan

Dengan membuka website atau aplikasinya, kamu dengan akan dengan sangat mudah menemukan berbagai varian paket sesuai kebutuhanmu. Saya tidak akan menjelaskan di sini karena mereka punya semuanya di sana.

Tentu saja, makanan sehat di Gorry Gourmet semuanya ditangani oleh para profesional, baik chef, ahli gizi hingga kurir yang mengantarkan makananmu, sehingga semua yang kamu makan sudah terukur gizinya. Selain itu, masalah harga kamu tidak usah khawatir karena ada banyak promosi yang mereka sediakan untukmu. Kesemua promosi itu malah disampaikan melalui layanan chat di websitenya.

Oiya, kedepannya tentu saja kita berharap Gorry Gourmet tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga di seluruh kota di Indonesia agar prediksi WHO tentang jumlah penderita diabetes di Indonesia di masa mendatang dapat meleset.

Sumber: https://gorrygourmet.com/

Badan Ideal

Percayalah, melakoni hidup sehat sungguh sangat menyenangkan, hanya dengan berat badan ideal. Umur memang masih 25 tahun, tapi sejak dini saya berusaha untuk menghindari penyakit-penyakit yang diidap oleh kebanyakan orang tua hanya gara-gara hidup tidak sehat dengan pola makan tidak teratur di masa mudanya.

Pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang mengancam sungguh sangat tidak murah, sedangkan untuk  hidup sehat itu murah. Karena kita tentu tidak mau seperti nyamuk yang tadi saya tepuk, barangkali kita harus bersepakat dengan adagium; makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan karena kita adalah apa yang kita makan.

***
Referensi:
1. The World Until Yesterday – Jared Diamond: https://www.goodreads.com/book/show/15766601-the-world-until-yesterday 
2. Voa Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/kasus-diabetes-di-dunia-capai-rekor-tertinggi-tahun-ini/1789917.html
3. WHO: http://www.who.int/diabetes/global-report/en/

*Tulisan ini diikutkan dalam Wellness Blog Competition GorryGourmet yang berlangsung dari 10 Agustus hingga 30 September 2017, klik di sini jika ingin berpartisipasi https://goo.gl/1gZfm3

Visit Tidore – a whole world on a single island.

Membincang Tidore serupa mengenang kenangan perihal mantan. Tentu saja, hal ini berlaku bagi mereka yang punya kesan berbunga-bunga tentangnya. Dan mengenang kemudian menjadi pekerjaan paling menyenangkan. Semua bermula ketika guru saya di sekolah dasar menyebut angka 350 tahun—titimangsa dimana Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa asing. Konon, kedatangan mereka ke Indonesia pada awalnya hanya untuk mendapatkan rempah-rempah dengan harga lebih murah sebab selama ini mereka membelinya melalui perdagangan berantai dari pedagang India, Persia, dan Arab. Usai perang salib yang tersoroh itu, bangsa-bangsa dari Barat seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda memulai penjelajahan samudranya di abad ke-5 ke Timur—Indonesia. Daerah sumber utama penghasil rempah-rempah di Indonesia ada di bagian timur.

Terpetakanlah daerah Maluku sebagai tujuan mereka dimana dua pulau paling tersohor pada masa itu yakni Ternate dan Tidore. Pada mulanya kedatangan mereka hanya untuk berdagang rempah-rempah namun kemudian mereka berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia dengan melakukan praktik monopoli dagang. Bagi saya ini menarik, hanya karena rempah-rempah mereka sehingga terjadi penjajahan terhadap Indonesia. Tapi ah, itu dulu. Saya dan kamu tentu paham betul tentang cerita menarik ini. Bagi beberapa orang mungkin usaha untuk move on akan buyar ketika sesuatu Dan usaha untuk move on memang kadang agak sulit apalagi bila ada pemantik. Misalnya, saya, tagline Visit Tidore ini melayangkan ingatan saya ke Tidore di masa lalu tentang betapa cantik dan memesonanya ia dengan rempah-rempah. Lantas, apa kabar Tidore hari ini?

Kiri : Ilustrasi kedatangan Portugis di Ternate. Sumber : Indonesia Heritage Jilid 3.
Kanan : Lanskap Pulau Matiara dan Pulau Tidore. Sumber : panoramio.com
Mengemas Rempah

Tidore hari ini adalah bak putri tidur yang lelap dengan sejuta pesonanya. Tidak banyak referensi di internet mengenai Tidore hari ini, kebanyakan hanya diriwayatkan sebagai pusat rempah-rempah di masa lalu dan juga potretnya di uang kertas Rp 1.000,-. Saya kemudian membayangkan sebuah usaha membangunkan sang putri dengan kembali mengangkat rempah-rempahnya. Jika dahulu para penjajah hanya mengambilnya mentah-mentah, saya membayangkan mereka menggunakan karung goni untuk mengangkut, bagaimana jika kita mengemas rempah yang berupa cengkeh, pala, kayu manis, dan lain-lain itu untuk kemudian di jual ke mereka?

Dalam dunia pemasaraan hari ini, faktor tampilan sebuah produk adalah hal yang paling utama, saya rasa. Kita sadar betul bahwa tidak sedikit orang yang menilai sesuatu hanya dari tampilan luar. Mengemas rempah-rempah sedemikian rupa bukan untuk menutupi isi dalamnya yang buruk sebab tidak diragukan lagi rempah-rempah Indonesia berkualitas tinggi. Pengemasan dilakukan hanya untuk memeroleh harga berkali lipat. Selain itu, ia akan dengan percaya diri terpajang di rak-rak toko di seluruh dunia. Dan semua berawal dari Tidore, satu dari ribuan pulau yang ada di Indonesia.

Kemudian mengemas rempah bisa menjadi bisnis utama bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di negeri ini.

Bayangan saya tentang rempah-rempah yang dikemas secara modern dan dikerjakan oleh UMKM
akan meningkatkan nilai jualnya. Sumber : savingeveryday.net & es.steepwalls.com
Menikmati Alam dan Menyantap Kuliner

Walaupun pesona utama Tidore adalah rempah-rempah, namun alam dan kulinernya tidak bisa diabaikan. Walaupun pulau ini pulau kecil, namun tiap jengkalnya adalah tempat untuk berwisata, dari puncak gunung hingga kedalaman laut. Sebut saja  ketinggian Gurabunga, Kalaodi, Pulau Failonga, air terjun Ake Cleng, air panas Ake Sahu, dan masih banyak lagi wisata alam. Jika masih tidak percaya betapa Tidore adalah sejarah besar bagi Indonesia, kamu bisa mendatangi Benteng Tore dan Benteng Tahula yang merupakan saksi bisu pergulatan Portugis dan Spanyol di tanah para sultan.

Usai mendatangi tempat-tempat tersebut hal yang tidak bisa dilewatkan adalah makanan khas Tidore. Ebbie Vebri Adrian, fotografer buku Indonesia a World Treasures, mengatakan bahwa jika makanan tradisional Indonesia disajikan dalam satu meja, maka akan membutuhkan sekira 2 kilometer panjang meja untuk menampung semua makanan tersebut. Dan saya rasa, Tidore mengambil banyak bagian di dalamnya. Sebab dari hasil peramban saya ada banyak makanan khas Tidore seperti : papeda, uge aku, sagu tore, nasi jaha, dengan lauk berupa ikan cakalang yang diolah ke dalam berbagai macam rupa. Sementara kuenya : kue lapis, kue bilolo, kue asidah, apang coe, dan saya yakin masih banyak lagi.

Keseluruhan makanan tradisional tersebut tentu dengan mudah dapat ditemui di pasar tradisional. Salah satu pasar tradisional Tidore adalah Pasar Goto.


Tiap jengkal Tidore adalah pariwisata—dari puncak pegunungan hingga ke kedalaman laut.
Sumber foto :  indonesia-tourism.com

Rupa-rupa kuliner khas Tidore. Sumber foto : sejarahkotatidore.blogspot.co.id & awaluddintahir.wordpress.com
Merayakan Kebudayaan

Jika kamu menonton video perayaan Hari Musik Nasional di Istana Kepresiden Republik Indonesia 9 Maret lalu, Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, 2/3 adalah air, laut, dan samudra, 516 kabupaten dan kota, penduduknya 225 juta jiwa, terdiri dari 34 propinsi, 714 suku, serta 1.100-an bahasa lokal. Tiap-tiap dari mereka memiliki kebudayaan masing-masing. Pun dengan Tidore yang memiliki luas 13.862,86 km2 yang terdiri dari luas lautan 4.746 km2 dan luas daratan 9.116,36 km2. Pada tiap-tiap kesempatan Tidore akan menampilkan tarian khas daerahnya berupa Tari Soya-Soya yang ditarikan oleh para pria dan Tari Barakati oleh para wanita. Selain itu masih ada Tari Salai Jin, atraksi budaya yaitu Ratib Taji Besi, Paji Nyili-Nyili, dan yang paling tersohor adalah Baramasuwen atau Bambu Gila.

Dan ada pula Ritual Lufu Kei, yang menurut National Geographic Indonesia, adalah prosesi adat berupa perjalanan laut oleh sultan, perangkat kesultanan, perangkat adat, serta masyarakat untuk menziarahi makam-makam yang dianggap keramat di sekeliling Pulau Tidore. Ritual ini juga untuk mengenang armada perang yang sukses mengusir VOC dari Tidore yang dicetuskan oleh Sultan Tidore Yang Maha Mulia Sri Paduka Tuan Sultan Syaifuddin “Jou Kota”.

Tidore dan pelbagai kebudayaannya. Sumber foto : Yudi KudaLiar & indonesiakaya.com
Let us show you to the world, once again!

Sejarah panjang Tidore adalah sejarah Indonesia. Jika dahulu kita adalah jajahan bangsa-bangsa asing, maka bukan tidak mungkin hari ini kita balik menguasai mereka dengan rempah-rempah yang telah dikemas menarik, pameran dan atraksi kebudayaan, serta melimpahnya situs pariwisata negeri ini. Sebab selain tambang dan migas, hal lain yang bisa kita gunakan untuk mendulang pundi-pundi rupiah adalah pariwisata, penyumbang terbesar devisa negara. Dan semua akan dimulai dari Tidoredunia di sebuah pulau.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Tidore Untuk Indonesia. Kamu pun bisa mengikuti lomba ini disini. Siapa sangka kelak kita akan bersama mengunjungi, mencatat, dan mengabarkan kepada dunia (sekali lagi) tentang Tidore yang indah di hari jadinya yang ke-909 pada April 2017 mendatang.   
  

Referensi :
1.http://annienugraha.com/
2.https://tidorekota.go.id/
3.https://nationalgeographic.co.id/foto-lepas/2012/04/prosesi-lufu-kie
4.http://travel.kompas.com/read/2013/04/18/17241983/Hari.Jadi.Kota.Tidore.Haru.dan.Sarat.Makna
5.https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-salai-jin-yang-mistis-dan-keberadaannya-kini