5 Toko Buku Indie Jakarta Tempat Cari Inspirasi

toko-buku-indie-jakarta

Di tepi kiri Sungai Seine, Paris, Prancis terdapat sebuah perpustakaan kecil yang juga menjual buku-buku bernama Shakespeare and Co. Jika kamu pernah dengar nama-nama Ernest Hemingway, Jean Paul Sartre, atau Simone de Beauvoir, maka toko buku ini adalah bagian dari sejarah kepenulisan mereka.


Bagaimana ceritanya? 😕

toko-buku-indie-jakarta

Pada 1951 seorang veteran perang Amerika Serikat, George Whitman, pindah dari Negeri Paman Sam ke kota romantis, Paris. Untuk menghabiskan masa tuanya, dia membuat satu toko buku kecil bernama Le Mistral di Rue de la Bucherie.

Toko buku ini juga sebagai penghormatan terhadap Sylvia Beach, seorang Amerika di Paris yang sebelumnya juga memiliki toko buku dan terpaksa harus tutup karena pendudukan Jerman di Prancis yang menyebabkan depresi ekonomi.

toko-buku-indie-jakarta

Rue de la Bucherie berganti nama menjadi Shakespeare and Co pada 1964. George menjadikan toko bukunya juga sebagai tempat tinggal: makan dan tidur di situ. Beberapa orang pun bertamu ke tempat itu, termasuk para pemuda Amerika yang kabur dari wajib militer dan penulis-penulis yang saya sebutkan di atas.

Mereka menulis, membacakan puisi, dan menyanyi-nyanyi di tempat itu. Yang paling membuat anak George kesal adalah orang-orang juga menginap di Shakespeare and Co.

Toko Buku Indie di Jakarta

toko-buku-indie-jakarta

Berjarak 11.578 kilometer dari Paris, di daerah Jakarta Selatan dan Pusat tersebar beberapa toko-toko buku yang serupa. 5 di antaranya pernah saya kunjungi beberapa kali; baik untuk belanja buku, diskusi, nonton film, hingga sekadar mencari informasi.

Oiya, toko buku indie itu adalah yang dijalankan secara independen baik perorangan atau kelompok. Toko buku seperti ini sangat mudah ditemui di daerah Jakarta Selatan. Untuk memudahkan kamu, saya buat daftarnya mulai dari yang dulu terjauh hingga toko buku terdekat dari tempat saya tinggal di Slipi Kemanggisan, Jakarta Barat.

Baca juga: Jakarta Creative Hub

Kios Ojo Keos

toko-buku-indie-jakarta

Menarik ya namanya? Toko buku indie Kios Ojo Keos ini dikelola secara independen oleh keluarga Efek Rumah Kaca. Iya, band indie yang tersohor itu!

Jika dihitung-hitung saya sudah ke tempat ini 4-5 kali, hanya untuk menonton film dan mendengarkan orang main musik. Lokasinya yang berada di selatan Jakarta, tepatnya di daerah Lebak Bulus membuat kamu harus menumpang MRT kalau mau ke sini.

toko-buku-indie-jakarta

Kios Ojo Keos tidak hanya sebagai toko toko buku tapi juga kedai kopi dan toko kaset. Toko buku yang berada di deretan ruko ini mempunyai beberapa agenda kegiatan seru, mulai dari diskusi, nonton film, hingga open mic yang dilakukan setiap minggunya, jadi jika mau update segera follow Instagramnya.

Alamat: Bona Indah Plaza Blok A2 Nomor B11, Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 11240.

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 12 malam

Post Santa

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku ini bisa disebut sebagai tempat nongkrongnya para penulis. Setiap ada buku yang baru terbit, Post Santa akan mengadakan diskusi terkait buku tersebut dengan mengundang penulisnya.

Baca juga: Tips Menulis Haruki Murakami

Saya sudah tidak bisa lagi menghitung jumlah kunjungan saya ke Post Santa.

toko-buku-indie-jakarta

Soalnya, mereka menggelar toko buku indie ini di lantai 3 Pasar Santa di Jakarta Selatan dan ada banyak tempat yang bisa saya kunjungi di sana.

Semua buku yang dijual di Post Santa adalah buku-buku yang tidak ditemukan di toko buku besar. Pemilik Post Santa—Teddy dan Maesy—mengkurasi dengan baik buku-buku yang dijual sehingga beberapa orang sering mendapatkan rekomendasi buku dari si empunya toko 😊

toko-buku-indie-jakarta

Beberapa majalah, zine, serta buku-buku yang diterbitkan secara independen pun bisa kamu temukan di tempat ini. Oiya, perlu dicatat Post Santa hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 3 sore hingga jam 8 malam, ya!

Baca juga: Bukan Lagi Koran

Alamat: Lantai 3 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat, Sabtu, Minggu Pukul 3 sore – 8 malam

Gueari Galeri

toko-buku-indie-jakarta

Kalau Kios Ojo Keos dan Post Santa menjual buku-buku yang berisi teks, maka Gueari Galeri tampil beda dengan menjual buku-buku foto.

Di Indonesia, jumlah buku foto yang terbit setiap tahunnya sudah mulai banyak sehingga dibutuhkan ruang bagi para fotografer untuk menjual karya mereka agar keberlanjutan dokumentasi berupa buku bisa terus hidup.

toko-buku-indie-jakarta

Gueari Galeri sebagai toko buku indie yang bergerak di bidang visual juga sering menggelar diskusi-diskusi menarik tentang isu-isu yang dibahas di buku fotografer tersebut.

Oh, Gueari Galeri berada di bawah satu lantai dari Post Santa. Jadi bisa sekalian dong ya 😎

Alamat: Lantai 2 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat & Sabtu Pukul 6 sore – 10 malam

Aksara Kemang

toko-buku-indie-jakarta

Masih berada di kawasan Jakarta Selatan, ada satu toko buku indie yang tidak boleh kamu lewatkan: Aksara Kemang. Dinamai Aksara Kemang karena letaknya yang memang berada di Kemang, tempat hits di Jaksel itu loh.

Di awal, Aksara sendiri sebenarnya punya banyak toko buku yang tersebar di berbagai tempat di Jakarta, seperti Cilandak Town Square dan Pacific Place. Usai berjuang selama 17 tahun, toko-toko tersebut harus tutup pada April 2018.

Bahkan Aksara Kemang ini sempat terpaksa harus tutup sebelum buka lagi dengan tampilan baru.

toko-buku-indie-jakarta

Saya rasa menjalankan bisnis toko buku di Indonesia memang tidak pernah mudah. Masyarakat Indonesia yang tidak suka membaca membaca menjadi salah satu alasan. Belum lagi perkembangan teknologi dan kecepatan internet membuat buku fisik harus berebut tempat dengan buku digital.

Baca juga: Jokowi Sedang Tidak Bercanda

Aksara Kemang ini tidak hanya berjualan buku seperti dulu, tapi mereka berkolaborasi dengan Post Santa untuk mengkurasi buku-buku apa saja yang baik untuk dijual. Ada juga rak khusus untuk buku-buku anak 👶

Sama dengan Post Santa mereka juga menjual majalah dan zine. Oh, ada juga buku foto!

“Selamat toko buku masih ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” Tan Malaka, Madilog.

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku indie di Jaksel ini juga bisa menjadi one stop solution bagi kamu yang ingin baca-baca buku atau kerja atau duduk-duduk cantik sambil ngopi. Menarik kan? Tidak hanya itu, Aksara juga menyediakan ruang untuk komunitas sehingga kamu bisa berkegiatan atau berdiskusi di sana.

Alamat: Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Bangka, Jakarta Selatan 12730

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 9 malam

Toko Buku Jose Rizal Manua

toko-buku-indie-jakarta

Mari move on dari toko-toko buku indie di Jaksel. Yang paling dekat dari tempat tinggal saya adalah Toko Buku Jose Rizal Manua. Nama tokonya persis dengan nama pemiliknya. Doi adalah seorang pengarang dan pemain teater.

Lokasi toko buku indie yang satu ini berada di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Berbeda dengan toko buku yang lain, toko ini punya koleksi buku-buku lama, baik sastra, sejarah, budaya, hingga politik. Beberapa buku bisa kamu tawar.

Oiya, kalau main ke toko buku ini seperti membawa kamu ke masa lalu. Buku-bukunya dibiarkan bertumpuk, beberapa di makan rayap dan tikus sehingga bau buku akan sangat tercium saat masuk.

toko-buku-indie-jakarta

Para pengunjung bebas mencari sendiri toko buku yang diinginkannya. Kalau lagi buru-buru atau kesulitan menemukan buku yang kamu cari, jangan ragu untuk bertanya ke yang jaga. Mereka dengan senang hati akan membantumu 😆

Kalau beruntung, kamu akan dilayani oleh Jose Rizal Manua sendiri dan bisa berbincang dengan dia dan kucing-kucingnya.

Alamat: Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat 10330

Waktu Buka: Setiap Hari 9 pagi – 11 malam

Gimana? Menarik kan? Siapa bilang toko yang menjual buku-buku bagus hanya ada di mall-mall? Sama seperti Shakespeare and Co di Paris, toko-toko buku indie di Jakarta ini juga memungkinkan kita untuk menambah wawasan dan memperluas pertemanan secara gratis.

Kalau kamu punya toko indie andalan yang juga bisa dijadikan tempat cari inspirasi di dekat tempat tinggalmu, boleh dong berkabar di kolom komentar 😀

***

Melipir ke Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

“Jakarta merupakan ibu kota kuliner nusantara. Hanya di Jakarta orang bisa menikmati berbagai masakan enak dari penjuru nusantara,” @darihalte_kehalte.

Salah satu tempat dengan beragam kuliner nusantara adalah di Pasar Takjil Benhil.

Para penjual takjil yang ada beroperasi hanya saat bulan puasa. Ada berbagai macam makanan yang dijajakan, mulai dari kuliner khas Jogja hingga Padang.

Sejarah Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

“Pak, pasar ini berdiri sejak kapan sih?”

Saya iseng melempar pertanyaan ini kepada seorang laki-laki paruh baya dengan kaos loreng dan celana bahan. Dia tidak langsung menjawab.

Diaturnya motor-motor yang parkir terlebih dahulu lalu kembali menghampiri saya.

“Oh, sudah lama sekali, sejak tahun 80-an kali ya,” jawabnya sambil bertelakan di sadel motor.

pasar-takjil-benhil

Pasar Takjil Benhil ini memang berdampingan dengan Pasar Benhil.

Namun, keberadaannya hanya muncul saat bulan ramadan sehingga menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat Benhil dan sekitarnya untuk membeli makanan dan takjil.

Dahulu, pasar ini hanya diisi oleh beberapa pedagang yang bisa dihitung jari. Seiring tumbuhnya gedung-gedung di kitaran Pasar Takjil Benhil, tempat ini pun kini dipenuhi oleh penjaja makanan yang masing-masing menawarkan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia..

Cara Menuju Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Lantas, bagaimana cara menuju ke sana?

Saya dan seorang teman melipir ke Pasar Benhil pada Sabtu kemarin. Peningkatan transportasi di Jakarta membuat banyak cara untuk menuju ke pasar tumpah tersebut.

Dua di antaranya yakni dengan menggunakan MRT dan Transjakarta.

Halte terdekat dari Pasar Benhil adalah Halte Bendungan Hilir (Benhil). Saya menumpang Transjakarta (TJ) jurusan Poris Plawad dan transit di Halte Gelora Bung Karno (GBK) kemudian meneruskan perjalanan dengan TJ jurusan Blok M ke arah kota.

Di Halte Benhil saya turun dan jalan kaki sekira 300 meter ke pasar ini.

Baca juga: Go Food Festival, Go Cashless

pasar-takjil-benhil

Alternatif lain menuju Pasar Takjil Benhil adalah dengan menggunakan MRT.

Sejak bisa digunakan pertama kali oleh masyarakat umum pada April 2019 lalu, moda transportasi tercanggih satu ini telah memungkinkan orang untuk mencicipi beragam kuliner di tempat-tempat terjauh di selatan Jakarta.

Jika ingin menuju Pasar Takjil Benhil dengan menumpang MRT, kamu bisa turun di Stasiun MRT Benhil.

Selanjutnya, berjalan kaki ke arah pasar dengan jarak tempuh selama 20 menit jalan kaki.

Pilihan terakhir jika tidak ingin repot, kamu bisa pakai Gojek/Grab untuk sampai di tempat ini. Tinggal pesan, masukkan lokasi Pasar Bendungan Hilir, sisanya kamu cukup duduk manis di atas kendaraan.

Jajanan Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Saya pangling saat tiba di tempat ini. Posisinya yang berada tepat di pinggir jalan Bendungan Hilir membuat lalu lintas agak terhambat karena pengunjung yang ramai. Belum lagi banyaknya jajanan pasar yang tersedia.

“Tidak jadi lapar sampai di sini. Makanannya banyak sekali!” celetuk seorang teman.

Di pinggir jalan terdapat jejeran penjual gorengan mulai dari pastel, bakwan, lumpia, tahu isi, tempe mendoan, risoles, lumpia, sampai cakwe.

Baca juga: Kuliner di Pasar Lama Tangerang

Trus ada lontong beragam isi, kue-kue basah dan es buah segala rupa. Kalau yang ini khas nusantara lah, ya.

pasar-takjil-benhil

Di bagian samping ada penjaja bebek goreng, pecel, gudeg, serta berbagai makanan khas Jogja. Sementara di bagian tengahnya berhamburan penjual makanan khas Padang, mulai dari bubur kampiun, sate padang, lemang, rendang, serta lauk pauk Nasi Padang.

Nikmat manakah yang kau dustakan? 😎

Trus, di bagian kiri pasar ada penjual ikan bakar besar-besar dengan penjual empek-empek Palembang yang berdampingan.

Oh, ada juga siomay, batagor, dan otak-otak.

Nah, kalau berjalan lurus di tengah, di bagian samping sebelah barat, kamu akan menemukan penjual kolak berbagai macam isi, es blewah, dan ayam taliwang.

pasar-takjil-benhil

Berapa harga jajanan di Pasar Takjil Benhil?

Murah kok! Untuk gorengen yang besar-besar serta kue basah kamu bisa dapat harga mulai dari 10ribu isi 3 hingga isi 5. Saya sempat membeli 20rb macam-macam gorengan dan dapat 1 plastik kresek.

Kalau rupa-rupa sayur dan lauk juga murah, tergantung kamu mau seberapa banyak. Oiya, saya juga beli bubur kampiun, harganya 15ribu di gelas plastik. Beh, kekenyangan jadinya!

Ini kali pertama saya mencoba bubur kampiun, ternyata isinya macam-macam sampai ada ketannya. Kalau kamu suka durian, bubur ini juga bisa dicampur dengan durian.

Hmm.. Kalau dihitung-hitung, bawa uang 50rb sih, kamu sudah bisa dapat banyak jajanan di Pasar Takjil Benhil!

Tips Belanja di Pasar Takjil Benhil

pasar-takjil-benhil

Bagi kamu yang pertama kali datang ke sini dan masih bingung cara belanjanya, saya punya beberapa tips belanja yang bisa kamu coba. Apa saja?

  • Pakai kaos saja dan celana pendek biar nyaman
  • Gunakan pakaian seadanya, plis, jangan berpakaian ribet
  • Bawa uang tunai karena pedagang di sini belum pakai pembayaran elektronik
  • Jangan ragu untuk nawar karena dagangan di sini sangat bisa ditawar
  • Bawa tempat makan sehingga bisa mengurangi plastik dan menjaga bumi
  • Jaga selalu barang bawaan kamu
  • Jangan kalap! Yakali 😒

Tips terakhir barangkali adalah datanglah di akhir-akhir jam pasar. Pasar Takjil Benhil buka setiap hari selama bulan ramadan mulai dari pukul 12.00 WIB atau setelah salat dhuhur dan tutup sebelum salat tarawih dimulai.

Nah, biasanya nih sebelum pasar tutup pedagang sering kali banting harga. Yha, daripada jajanannya basi.

Begitulah kura-kura segala hal yang saya dapatkan dari hasil melipir beberapa kali di Pasar Takjil Benhil.

Oiya, jangan lupa mengobrol dengan para penjual yang ada. Kenapa? Iya ga papa. Kali aja dapat diskon.

Toh, makanan, konon—bisa jadi cara untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang. Iya ga? 😎

Kuliner di Pasar Lama Tangerang Ternyata Selezat Itu

kuliner pasar lama tangerang

Setuju gak sih kalau ternyata media sosial memungkinkan seseorang bisa mengunjungi tempat-tempat baru?
Bagi saya media sosial membuat saya akhirnya dapat menikmati lezatnya kuliner-kuliner di Pasar Lama Tangerang di akhir 2018.

Kalau dikilas balik, ini semua gara-gara Instastory seorang teman yang ingin ke nikahan temannya, tapi malah terdampar di Pasar Lama Tangerang 😅

Beberapa stories-nya berhasil membuat saya menelan liur di jam makan siang dengan menggunggah mie ayam lengkap beserta pemilik bisnis kuliner tersebut.
Sebagai seorang penggemar mie ayam, hal ini berarti perang. Saya harus balas dendam.

kuliner pasar lama tangerang

Cara ke Kuliner Pasar Lama Tangerang

Saya mengajak Ade, Herdi, dan Ammar untuk ke Pasar Lama Tangerang pada pagi menjelang siang.

Mereka mau dan kami berangkat.

Saya, Ade, dan Herdi menumpang Transjakarta dari Slipi ke Halte Busway Latumenten. Sementara Ammar menunggu di sana.

Untuk sampai ke halte ini, kami melewati Halte Grogol yang merupakan salah satu halte transit terbesar.
Sesampainya di Latumenten, kami mengambil arah kanan tangga turun, berjalan sekira 25 meter dari halte, dan tiba di Stasiun Grogol.

Untuk menuju ke pusat kuliner di Tangerang ini, kamu bisa menggunakan kereta dengan tujuan akhir Stasiun Tangerang.

Dari Stasiun Grogol, kami melewati lima stasiun dan hanya membayar 3500 rupiah.
Jadi, jika ditotal, perjalanan ke Tangerang dari Slipi hanya menghabiskan 7000 rupiah. Pulang balik jadi 14.000 rupiah. Mayan gak tuh?

kuliner pasar lama tangerang

kuliner pasar lama tangerang
Ketika tiba di stasiun terakhir, kamu tidak akan langsung melihat Pasar Lama Tangerang. Yang ada adalah Pasar Anyar.

Lokasi pintu keluar Stasiun Tangerang berada satu lokasi dengan Pasar Anyar.

Kami mengambil arah kiri setelah keluar dari stasiun. Di sekeliling ada banyak toko-toko yang menjual peralatan elektronik dan pakaian.

Di depan masing-masing toko berderet aneka jajanan.

Tidak usah pedulikan mereka karena tujuan kita sesungguhnya adalah jajanan yang ada di Pasar Lama Tangerang. Tetap melangkah 😎
Setelah melewati gerbang Pasar Anyar, maka kamu akan dihadapkan pada pertigaan dengan masjid tepat di depan.

Ambillah arah kiri hingga menemukan gerbang kuliner Pasar Lama Tangerang.

kuliner pasar lama tangerang

Makan Siang di Kuliner Pasar Lama Tangerang

Menu Seafood Rame-rame yang kami santap ini adalah makan siang kami setibanya di Pasar Lama Tangerang.

Makanan ini terdiri dari beragam hasil laut seperti kerang hijau, lobster, kepiting, cumi, udang, dan jagung yang disiram dengan saos padang pedas.

Ah, di tenggorokan saya masih terasa gurihnya Seafood Rame-rame ketika menuliskan ini 😌
Oiya, kami menyantap makanan ini di tempat makan Djajan Seafood.

Untuk satu porsi Seafood Rame-rame, empat teh manis, dan tiga nasi putih dihargai 290 ribu.

Kalau kata Herdi yang pernah makan di Holy Crab, “Ini murah!”

Lokasinya sangat mudah ditemui. Dari gerbang, kamu cukup berjalan lurus hingga bertemu dengan pertigaan di Jalan Kisamaun. Di sebelah kiri jalan berdiri sebuah ruko yang menjorok keluar.
kuliner pasar lama tangerang
Eh tapi, jangan salah. Tempat makan ini crowded di siang hari.

Kamu bisa bayangkan dong ya, para pengunjung yang datang bawa teman 2 sampai 5 orang. Makan di atas meja yang makanannya dihambur di atas meja begitu saja.

Kepedasan, keringatan, ruang gerak yang sempit, anak kecil yang menangis, dan pramusaji yang mondar mandir mengantar makanan.

Duh, nikmatnya kulineran kian terasa 🤤

Tips di Djajan Seafood adalah bersabar. Yang mau makan banyak, meja makannya terbatas.

Baca juga: 10 Kuliner Makassar yang Enak-enak

kuliner pasar lama tangerang

kuliner pasar lama tangerang

Sejarah Pasar Lama Tangerang

Sesudah semua makanan di atas meja tandas, kami berkeliling di kitaran Pasar Lama Tangerang. Menyaksikan rumah-rumah beraksitektur Tionghoa dengan genteng tanah liat.

Tiap lorong yang kami susuri sepi. Bunga-bunga di pekarangan bergerak pelan tertiup angin. Matahari bergerak pelan ke barat.

Berada di tempat ini membuat saya terbayang sebuah peninggalan besar. Setiap bangunan seolah menjadi saksi bisu peradaban yang pernah jaya di masanya.

Di perjalanan kami dipertemukan sebuah sungai dengan air tenang yang mengalir.

kuliner pasar lama tangerang

Terlalu fokus pada kuliner-kuliner di Pasar Lama Tangerang, saya mengabaikan daerah sekitar.

Ternyata, di depan kami terentang Sungai Cisadane sebagai saksi bisu atas banyak peristiwa, termasuk sejarah Pasar Lama Tangerang dan keberadaan orang-orang di sekelilingnya.

Jika mengingat pelajaran sejarah di masa-masa sekolah, maka kita akan dengan mudah menemukan Sungai Cisadane sebagai salah satu daerah penting dari Kerajaan Banten dan VOC Belanda.

Pasalnya, sungai ini menjadi pembatas dari kedua kubu yang berselisih ini.

Saya juga kepikiran mengenai orang-orang Tionghoa yang menetap di kawasan ini. Mereka dikenal sebagai orang-orang Cina Benteng yang ternyata erat hubungannya dengan orang-orang Makassar.

kuliner pasar lama tangerang

Konon, di kitaran tahun 1407, orang-orang dari rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) terpaksa berlabuh di daerah muara Sungai Cisadane karena kehabisan perbekalan serta kapal yang mengalami kerusakan. Padahal tujuan mereka adalah Jayakarta.

Daerah tersebut dulunya dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran.

Para prajurit yang melihat adanya sembilan orang gadis cantik dari rombongan Halung kemudian menawari untuk mempersunting beberapa dari mereka yang dikompensasi dengan sebidang tanah.

kuliner pasar lama tangerang

Selanjutnya, pada 1683 daerah tersebut dikuasai oleh VOC dengan berdirinya sebuah benteng yang dijaga oleh orang-orang Bone (kemudian disebut sebagai orang Makassar).

Oleh VOC, rombongan Halung diberikan hak milik untuk membuka lahan di kawasan yang dulunya masih hutan belukar.

Baca juga: Visiting The Memories at Makkasan Bangkok

Singkat cerita, rombongan Halung pun beranakpinak dan berakulturasi dengan budaya-budaya yang ada di sekelilingnya.

Jadilah Pasar Lama Tangerang dihuni oleh masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Cina Benteng.

Eh, panjang juga ya? 😅

kuliner pasar lama tangerang

Ngopi di Pasar Lama Tangerang

Oiya, di seberang Sungai Cisadane terdapat sebuah kedai kopi yang berasal dari Tanjung Pandan, Belitung. Kami menyempatkan diri untuk mencoba kopinya.

Baca juga: Menyesap Kopi Kong Djie

Kong Djie Coffee sudah ada sejak 1943. Adanya cerek di depan kedai menjadi ciri khas tempat ngopi ini.

Menariknya, ketika memasuki teras kedai, saya seolah diajak bertamasya ke masa lalu dengan adanya beragam barang-barang jadul, mulai dari sempoa hingga lemari kayu.

kuliner pasar lama tangerang

Kami menghabiskan waktu hingga matahari hampir terbenam di tempat ini. Beberapa menu dipesan seperti kopi hitam, kopi susu, serta tape ketan. Diiringi lagu-lagu Westlife yang terputar dari radio tape di pojok ruangan.

Sesaat sebelum matahari terbenam, kami bergegas ke Stasiun Tangerang.

Untuk pulang ke Jakarta, kereta yang digunakan masih sama. Hanya dengan arah yang berlawanan dan turun lagi di Stasiun Grogol.

kuliner pasar lama tangerang

Kuliner di Pasar Lama Tangerang baru akan ramai jika malam menjelang. Hal inilah yang kami saksikan di perjalanan menuju stasiun. Tempat makan dibuka, lapak digelar.

Tips bagi kamu yang ingin kulineran di Pasar Lama Tangerang ini adalah datanglah setelah maghrib dan kamu akan merasakan nikmatnya makanan dan minuman yang berjejer dan sulit didustakan di sepanjang Jalan Kisamaun, Tangerang.

Duh, jadi lapar lagi 😐

***

Go Food Festival, Go Cashless

Go Food Festival GBK

“Kenapa kalau pemerintah bikin tempat makan seperti ini tidak pernah ramai?”

The question came up from my friend, Emi when we visited Go Food Festival (GFF) in Gelora Bung Karno a few weeks ago. We went there by busway and stopped at GBK bus stop. Walking straight away to the place we took about 300 meters. Lovely weather and friendly sidewalk are included.
This culinary festival is conducted from May 2018 to May 2019.

Go Food Festival GBK

Go Food Festival GBK

I actually have visited GFF at three different spots; surely at Blok M, the place I work, at Karebosi Link Makassar, and at Gelora Bung Karno. The last mentioned place became the best I ever visited. This as it is located literally in an outdoor area and there are more several reasons for it.
Go Food Festival at GBK is divided into 3 kinds of Instagramable area. Beanbag spot that always being crowded before and after sunset, under the umbrella spot (I do not what is the called), and hammock spot in which you can chill out all day (while inhaling Jakarta air pollution, oh my love).

Baca juga: Kopi Enak Indonesia, Ya di Bendungan Hilir

The most interesting thing to be noted is Go Pay. Fyi, this festival has no cash for payment. You just fill your Go Pay up a ton of bucks, scan QRcode of tenants, and will be able to taste their meals. We are going to be a cashless society, dude.
Go Food Festival GBK

Go Food Festival GBK
Well, this is the fact. Based on the Consumer Payment Attitudes conducted in July 2017 by Visa, Indonesians are more confident living without cash for 24 hours than Singaporeans. Singapore my lord, Singapore!
It included respondents other citizens of Southeast Asia countries such as Malaysia, Myanmar, Philippines, Thailand, and Vietnam aged 18 and over with an income of more than Rp 3 million per month. Indonesia was the highest at 76 percent and Myanmar was the lowest at only 45 percent. Whilst, Singapore was at 68 percent.
Go Food Festival GBK

Go Food Festival GBK

Imagine, you are going to Go Food Festival (do not put money in your pocket) by having a Go-Jek, eating Bakso Malang, snacking Pisang Goreng Nugget, and having a cup of cold brew coffee. All of the payments are using Go-Pay which is cashless. Not to mention, some discounts, coupons, and all those things are given making cheaper than manual.
You should not imagine it. This is happening on your smartphone 🔥
Go Food Festival GBK

Go Food Festival GBK

These remind me of one of my studies in university that a good brand should put an effort to be remembered. In today’s world, Go-Jek as one a unicorn startup in Indonesia as well as a brand does the extra mile.

They evolve to be a verb.

Go-Jek has many facilities to help you. For instance, Go Jek for ride, Go Food for food, Go Send for package, even GO Massage for relax.

That is why when you are craving for food, then you will come up with a sentence, “Gojekin aja!”
***

Ke Jakarta Creative Hub Kita Berangkat

Lokasi-Jakarta-Creative-Hub


Hai!


Sabtu kemarin saya main ke Jakarta Creative Hub. Mengunjungi tempat ini sudah saya rencanakan seminggu sebelumnya. Dari akun instagramnya, saya melihat Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) sedang memamerkan foto dan video dari Kepulauan Seribu, Banten, dan Karimun Jawa.
Dari selebaran yang saya ambil di Jakarta Creative Hub, saya kemudian tahu kalau Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau adalah perkumpulan relawan yang terdiri dari para profesional yang peduli terhadap pendidikan dasar anak-anak di kepulauan Indonesia dan telah bergerak sejak 2014. Pameran KJIP ini memamerkan 62 karya visual dari hasil pelayarannya di 13 pulau dan 21 sekolah dasar. Pameran ini berlangsung dari 20-27 Januari 2018 dengan mengusung tema “Nusantara adalah Kita”.

Cara-ke-Jakarta-Creative-Hub

Cara ke Jakarta Creative Hub

Eh, balik lagi!

Sesudah kopi saya tandas dan bacaan tuntas, saya mengecek Google Maps untuk tahu arah ke Jakarta Creative Hub. Karena hasil penelusuran menunjukkan hanya 45 menit dengan berjalan kaki, saya memutuskan berangkat jam 10 dari kosan agar tidak kepanasan di jalan.
Tidak jelas apakah langit Jakarta mendung waktu itu atau kabut polusi yang menghalangi matahari menyiram manusia di bawahnya. Yang jelas, langit ingar oleh rentetan kabel. Saya melihat pasar tumpah di Kota Bambu Raya dan mencium banyak aroma tak sedap. Di sepanjang jalan ada banyak warung tegal, toko mainan, toko grosir kebutuhan sehari-hari, toko obat, percetakan, penjual pulsa, serta satu dua Indomaret dan Alfamart.
Cara-ke-Jakarta-Creative-Hub
Selepas Kota Bambu Raya, saya mengambil arah kiri dan kanan setelah taman bunga yang di sudutnya ada anjing menggonggongi saya. Di sisi kiri, saya melintasi sisi kanal belakang pasar Tanah Abang. Ada empat mobil sendok yang parkir di samping kanal, hanya dua yang beroperasi.

Yang menarik perhatian adalah sisi kanan. Berjejer lapak penjual dan tukang jahit sepatu. Di antaranya ada lapak servis alat elektronik. Beberapa dari alat elektronik bekas juga dijual—mungkin hasil servis lupa diambil oleh si empunya.
Aroma tidak sedap kembali menusuk hidung saya tepat ketika melintasi pasar modern dengan banyak sampah di tiap sudutnya. Padahal di dalam dan di empernya, saya perhatikan, ada banyak penjaja nasi dan kudapan. Beberapa orang di sekelilingnya terlihat lahap menyantap makanannya sambil berbincang dengan orang di sampingnya.
Alamat-Jakarta-Creative-Hub
Kurang dari 500 meter aroma tak sedap menghilang dan digantikan oleh aroma parfum. Saya memasuki sebuah lorong dengan sisi kanan dan kiri terdapat banyak penjual parfum, juga bibitnya.
Sesudah saya melintasi jalan ‘harum’ tersebut saya tiba di jalan raya dengan sebuah bangunan tinggi bak raksasa dengan para tukang reparasi sadel, penjual masker dan kaos tangan, serta penjual helm sebagai prajuritnya. Di situ bising sekali oleh suara knalpot motor racing, mesin metro mini dengan asap knalpotnya, dan tentu saja suara klakson.
Keadaan ini membaik ketika saya memasuki jalan Kebon Melati V, lokasi Jakarta Creative Hub. Itu adalah sebuah jalan masuk menuju kompleks ruko dengan palang masuk yang dijaga oleh seseorang berseragam di dalam sebuah kotak besar dengan monitor komputer di depannya.
“Di lantai 1 gedung itu. Tanya dia saja, pak” seorang satpam menunjuki satpam lainnya di seberang jalan ketika saya bertanya lokasi Jakarta Creative Hub. Satpam yang ditunjuki tersebut mengarahkan saya ke lantai 1 dan saya kembali bertemu satpam yang memintai kartu identitas untuk ditukar dengan kartu pengunjung. Saya tiba di Jakarta Creative Hub.

Alamat-Jakarta-Creative-Hub

Adalah Ahok, Gubernur DKI Jakarta, yang meresmikan tempat ini pada Maret 2017 lalu. Lokasi Jakarta Creative Hub terletak di lantai 1 Gedung Graha Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dan memasuki tempat ini, pandangan saya tertuju pada panel yang memanjang dengan foto-foto yang terpajang di kedua sisinya.
Sebelah kanan pintu masuk ada tempat makan dengan meja dan kursi yang tertata rapi dengan grafiti ‘See Things Differently’ dan etalase berisi rupa-rupa kue. Di atas etalase, beragam penganan pun dijajakan. Selintas, dalam hati, saya mempertanyakan kehadiran 3 cup Thai Tea beda warna di sudut atas etalase tersebut tapi kemudian pertanyaan ini teralihkan oleh seorang perempuan yang menyapa dan meminta saya mengisi buku tamu.
Pelan-pelan saya memerhatikan satu per satu foto di panel yang disinari lampu kuning. Ada banyak ekspresi wajah manusia yang disorot kamera—terutama anak-anak berseragam merah putih. Saya teringat foto-foto Kelas Inspirasi Makassar yang pernah saya buat 4 tahun lalu. Nyaris tak ada beda.
Jakarta-Creative-Hub
Dari catatan kurator pameran ini, Didi Mugitriman dengan Dita Alangkara, mencatat bahwa ada 2304 foto yang dikurasi hingga terpilih 60 foto yang siap bercerita. Lokasi KIJP 2017 yang mengambil tiga pulau sebenarnya menarik untuk dieksplorasi karena tujuan KIJP adalah anak-anak di kepulauan. Artinya para profesional ini datang dari daratan dan menuju pulau dan hal inilah yang menjadi pembeda antara komunitas sejenis di dataran.
Sayangnya, seperti yang dituliskan Didi, sedikit gambar yang menjelaskan kedatangan itu. Hampir seluruh foto menjelaskan apa yang terjadi setelah kapal bersandar. Eh, foto-foto ini tak jadi soal! Pandangan saya kemudian mengedar di ruangan di sisi kiri panel karena terganggu visual yang bergerak di sebuah layar komputer.
“Hanya untuk member sih, kalau mau, lapor di bagian registrasi, nanti ditemani masuk supaya dapat penjelesan,” seorang bapak bermasker putih menanggapi saya minta izin untuk ikut masuk dengannya.
Saya malas untuk melapor di meja registrasi untuk ditemani masuk. Hasilnya, dari luar saya memelototi satu-satu karya beragam rupa. Semuanya berwarna putih, barangkali hasil printer 3 dimensi. Ada juga tote bag dan pelbagai kerajinan.
Ketika menghadap ke ruangan, di kanan saya ada gerbang yang di dalamnya terdapat mini hall dengan mural Lala Bohang di dindingnya. Lebih ke dalam, ada rak buku dengan sorotan lampu berwarna kuning. Tepat di seberangnya ada enam sekat meja yang diisi oleh seorang perempuan berbaju putih yang tengah mengetik di laptop.
Jakarta-Creative-Hub
Saya membacai satu-satu sampul buku yang disponsori oleh Kinokuniya dan Gramedia. Ada tulisan ‘Tanda Cinta Persembahan Gramedia’. Manis sekali. Oh, beberapa saya kenali: Ada Tidak Ada New York Hari ini,  Dari Timur: Tulisan Pilihan Makassar International Festival, dan beberapa buku Malcolm Gladwell versi bahasa Inggris. Saya memilih Cinta yang Marah karya M.Aan Mansyur. Buku yang sejak lama ingin saya beli tapi selalu batal—entah kenapa.
Lagi-lagi kekesalan saya kepada Aan bertambah setelah membaca buku puisi itu. Sialan! Kok bisa dia merangkai diksi seperti itu? Hanya rangkaian huruf, namun membawa imajinasi dan emosi saya kemana-mana hingga kemudian membenturkan saya pada pertanyaan-pertanyaan.
Emte pun hadir dengan kirana tata visual dari potongan koran Kompas tentang peristiwa-peristiwa terkait reformasi 98 yang diseleksi oleh Irfan Ramli dan Bhagavad Sambadha.
Lokasi-Jakarta-Creative-Hub
Sesudah mendaras bukunya Aan, saya ke toilet sebelum mengikuti bincang-bincang soal foto perjalanan yang digelar KIJP 2017 dengan Cristian Rahadiansyah, Editor in Chief DestinAsian Magazine. Cerita yang dibagikan Cristian akan saya bagikan lagi ke kamu kapan-kapan. Sekarang hari Minggu jam 12 siang dan saya mau main. 
Sampai jumpa!

Menyusur Jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe

Sengkang Kabupaten Wajo
Gerbang Kota Sengkang dari arah Pare-Pare. 
Tiga abad sebelum de Montesquieu di Prancis mengenalkan konsep trias politica dalam bukunya The Spirit of Laws (1784), salah satu kerajaan tertua di selatan Sulawesi telah lebih dulu membagi sistem pemeritahannya menjadi tiga kekuasaan terpisah.

Bugis Wajo

Adalah Arung Matoa sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dimana pemilihannya tidak didasarkan pada garis keturunan, melainkan dipilih secara diplomatis oleh rakyat. Arung Bettempola dan Arung Patappulo menjalankan fungsi kekuasaan legislatif, sedangkan Arung Mabbicara melaksanakan fungsi kekuasaan yudikatif.

Kabupaten Wajo yang beribukotakan Sengkang terletak di utara Makassar, ibu kota  Provinsi Sulawesi Selatan. Butuh sekisar 4 jam menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer untuk sampai ke tempat ini. Jika kamu mencari alternatif lain untuk berwisata di Sulawesi Selatan, maka kota yang didiami oleh suku Bugis dan sedari dulu terkenal sebagai kota para pedagang ulung ini memiliki dua potensi wisata yang tidak begitu terekspos untuk kamu eksplor.

Proto Sejarah Lipa’ Sabbe

Perjalanan menjadi turis di kota tempat saya besar ini dimulai awal 2015 ketika sedang mengerjakan tugas akhir. Kala itu saya mengajukan 3 judul yang mengeksplorasi Sutra Sengkang dan Danau Tempe untuk menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pendokumentasian dan promosinya sebagai situs pariwisata.

Terang saja, Sutra Sengkang yang sudah ada sejak beratus tahun lalu belum punya catatan lengkap yang komprehensif. Sutra Sengkang pada awalnya mewujud dalam sarung. Sedangkan sarung sendiri bak tubuh kedua bagi masyarakat Bugis, meminjam istilah Abdi Karyaseorang art performer yang kerap kali menggunakan sarung dalam penampilannya.

tenun sutra sengkang
Perempuan dengan tennung walida. Dokumentasi pribadi

“Sejak lama keterampilan bertenun merupakan salah satu sumber penghasilan utama orang Bugis,” tulis Christian Pelras di Manusia Bugis (2006; 289).

Sebelum Pelras, ada Thomas Forrest yang telah mencatat hal ini dalam A Voyage From Calcutta to The Mergui Archipelago […] (1729). Dia menyatakan bahwa penduduk di Sulawesi sangat terampil menenun kain, umumnya kain kapas bergaya kambai yang mereka eksplor ke seluruh Nusantara. Kain-kain itu bermotif kotak-kotak merah bercampur biru. Mereka juga membuat sabuk sutra indah, tempat menyelipkan kerisnya.

Keterikatan mereka dengan sarung bahkan dimulai saat bayi. Orang tua di masyarakat Bugis akan memberikan sarung kepada anaknya yang baru lahir, pun saat aqiqah mereka ditidurkan di atas berlembar-lembar sarung sutra untuk didoakan. Sarung juga menjadi ayunan bagi bayi.

tenun sutra sengkang
Penggunaan lipa’ sabbe di aqiqah masyarakat Bugis. Foto: Aziz Said

Saya teringat akhir pekan di masa kecil dimana saya menginap di rumah nenek. Tiap datang, saya diberikan sarung. Sarung sebagai pengganti selimut untuk tidur akan berbeda dengan sarung untuk mandi.  Tante atau sepupu saya yang ketika mandi di sumur dapat dengan lihai menjadikan sarung sebagai tempat mengganti pakaian mereka. Ketika bermain, saya juga menggunakan sarung, mengubahnya dan menjadikannya bahan dalam pelbagai permainan.

Sementara aktivitas menghasilkan sarung yakni tenun menenun bagi seorang perempuan Bugis merupakan penentu harkat mereka. Ana’ dara (gadis) yang telah terampil dalam menenun dianggap sebagai gadis yang matang dan ideal untuk dijadikan istri oleh para Kallolo (pemuda). Hingga muncul adagium, “Tannia ana’ dara Wajo narekko de’ nissengngi mattennungnge” yang berarti, bukan gadis Wajo jika ia tidak bisa menenun.

Perempuan zaman dulu tidak diperkenankan memandang langsung laki-laki yang disukai, maka mereka pun dengan senang hati memberikan sarung hasil tenunannya sebagai ungkapan suka tanpa melanggar nilai yang ada. Pun dengan laki-laki, ungkapan “satu sarung berdua” merupakan pernyataan cinta sekaligus lamaran kepada seorang perempuan. 

pengantin bugis sengkang
Penggunaan Lipa’ Sabbe di acara Mappacci. Foto repro

Di seluruh rangkaian proses pernikahan masyarakat Bugis juga menggunakan lipa’ sabbe. Mulai dari dari mappacci hingga busana yang dikenakan oleh si pengantin hingga seluruh keluarga yang hadir. Perempuan dan laki-laki mengenakan lipa’ sabbe untuk bawahan. Sementara atasan untuk perempuan menggunakan baju bodo dan jas tutup serta songko’ to bone untuk laki-laki.

bissu wajo
Haji Jannah, tetua bissu Kabupaten Wajo. Dokumentasi pribadi

Penggunaan warna dan corak lipa’ sabbe mampu menyimbolkan banyak hal, seperti status sosial seseorang dalam masyarakat—apakah dia bangsawan, masyarakat, atau budakapakah dia sudah menikah atau belum. Corak balo renni’, misalnya, yang terdiri garis vertikal dan horizontal tipis berjumlah puluhan membentuk kotak-kotak kecil dikenakan perempuan yang belum menikah.

“Dahulu jika pria Bugis ingin mencari pasangan hidup, mereka menghadiri hajatan demi hajatan, mencermati perempuan mana yang mengenakan lipa’ sabbe bercorak balo renni karena bisa dipastikan perempuan tersebut belum menikah,” papar Haji Jannah, angkuru bissu Wajo.

Lini Produksi 

Perempuan dengan aktivitas menenun ini dapat kamu temui hampir di semua kecamatanjumlah kecamatan di Wajo ada 14, namun khusus untuk pengembangan sutra berbasis rumah tangga dan produksi benang hanya berpusat di Kecamatan Sabbangparu dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Pammana, Tempe, Bola, Gilireng, dan Majauleng. Sementara pusat industri pertenunan sutra terdapat di Kecamatan Tanasitolo.

tenun sutra sengkang
Proses pembuatan benang sutra Sengkang. Dokumentasi pribadi

Seminggu sebelum menetas ulat sutra didatangkan dari Donri-Donri, Kabupaten Soppeng untuk kemudian diproses menjadi benang. Butuh 20 hingga 25 hari untuk merawatnya menjadi ulat dewasa hingga kepompong. Jika telah menjadi kepompong, mereka akan siap diolah menjadi benang sutra. Proses ini disebut mappali atau memintal benang.

Seluruh proses pembuatan perawatan ulat hingga menjadi benang sutra bisa kamu saksikan sendiri di salah satu desa di Kecamatan Sabbangparu, Desa Ugi. Mayoritas perempuan di sana memang menjadikan pekerjaan ini sebagai industri rumah tangga. Karena rumah-rumah di sana adalah rumah panggung, kolong rumah pun dimanfaatkan sebagai tempat untuk memeroses benang sutra dan menenun.

Jika telah menjadi benang, proses berikutnya adalah penenunan menjadi lipa’ sabbe. Namun sebelumnya, benang sutra akan diwarnai lebih dulu menggunakan pewarna alam untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Kunyit misalnya, digunakan untuk mendapatkan warna kuning atau oranye. Sayangnya, pewarna alami yang memang butuh proses lama mulai kehilangan popularitastergantikan oleh pewarna buatan. Hal yang kita tidak bisa tampik hari ini adalah kecenderungan orang-orang dalam menggunakan bahan-bahan instan untuk hasil yang cepat.

“Sekarang susah mencari orang yang maccello (bugis: mewarnai) dengan pewarna alami. Proses pengerjaannya lama dan pemesan selalu ingin cepat jadi,” tutur Hj. Mintang (68 tahun) dalam bahasa Bugis.

pewarna sutra sengkang
Bahan pewarna sutra Sengkang. Dokumentasi pribadi

Untuk proses pembuatannya, lipa’ sabbe ditenun dengan dua cara. Pertama adalah tenun gedongan atau tennung walida yang telah digunakan sejak abad ke 16. Tenun tradisional yang keseluruhan peralatannya digerakkan oleh tenaga manusia. Disebut sebagai tennung walida karena perangkat terpenting dari tenun ini adalah walida. Kayu kayu sonokeling dengan panjang kurang lebih satu meter yang menyerupai sebilah pedangperlambang senjata bagi perempuan Bugis dan berfungsi untuk merapatkan benang.

tenun sutra sengkang
Tennung walida dan tennung bola-bola (ATBM). Dokumentasi pribadi

Baru kemudian pada 1922, Tekstiel Instituut Bandung atau sekarang Balai Besar Tekstil Bandung mengembangkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk mempermudah proses produksi sutra. Di Wajo, ATBM dikenal sebagai tennung bola-bola. Alat ini merupakan tenun semi tradisional karena hanya membutuhkan tangan untuk mengoperasikannya. Hasil produksi pun tidak terbatas pada sarung, melainkan juga puluhan meter kain sutra yang digunakan sebagai bahan pakaian. Nah, untuk menyaksikan proses ini, kamu bisa mengunjungi Kampung Sutra di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo.

sengkang wajo
Kampung Sutra Sengkang, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Dokumentasi pribadi

Mengedar Pandang di Danau Tempe

Petitih gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak ternyata bukan isapan jempol belaka. Tak sedikit dari teman saya yang juga besar dan menetap di Sengkang membuat saya tercenung ketika membicarakan Danau Tempe, salah satu lokasi wisata populer di Sulawesi Selatan. “Seumur-umur belumpa’ pernah ke sana.”

Padahal kami mengunjungi banyak tempat wisata di luar sana ketika liburan tiba.

Untuk ke tempat ini kamu bisa naik perahu yang ada di kitaran Jembatan Paduppa atau di Jembatan 45, dermaga tempat pelelangan ikan di Sengkang. Perjalanan akan menghabiskan waktu 30 hingga 45 menit perjalanan melalui Sungai Walennae untuk sampai di tengah danau, di rumah terapung.

Terakhir kali ke sana ada sekisar empat belas-lima belas rumah yang membentuk seperti perkampungan nelayan. Rumah-rumah ini pada bulan-bulan tertentu akan berpindah mengikuti angin. Setibanya di sana, kita akan ditawari kopi atau teh dengan penganan pisang goreng atau ubi gorengyang harganya terserah kita karena mereka memang tidak mematok harga.

Dari rumah terapung, kamu bisa menyaksikan matahari terbit atau terbenam di balik gunung yang mengelilingi Danau Tempe sambil menyantap kudapan yang tersedia.

danau tempe sengkang

danau tempe sengkang
Rumah terapung, nelayan, dan lanskap Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

Danau Tempe membentang di tiga kabupaten, yakni Soppeng, Sidrap, dan di Wajo yang luasnya mencapai 70 persen terhadap luas Danau Tempe. Letaknya pun berada di Kecamatan Tempe, Sabbangparu, Tanasitolo, Maniangpajo, dan Belawa. Kebanyakan laki-laki yang tingga di pesisir Danau Tempe berprofesi sebagai nelayan. Sementara menunggui suaminya, para istri mengerjakan tenunan. Dua profesi ini dahulu adalah mata pencaharian kebanyakan orang di Kabupaten Wajo.

“Danau Tempe adalah mangkuk raksasanya ikan tawar di Indonesia,” ujar Ir. Soekarno ketika ke Sengkang pada 1950 dalam rangka peletakan batu pertama Mesjid Raya Sengkang.

Di titimangsa tersebut Danau Tempe memang merupakan pemasok ikan tawar ke hampir seluruh Indonesia. Danau yang luasnya mencapai 13.0000 hektar ini merupakan danau purba yang terbentuk bersamaan dengan daratan di Sulawesi Selatan sekisar 10.000 tahun SM. Ada banyak ikan endemik juga burung yang terbang di langit Danau Tempe.

danau tempe sengkang
Burung di Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

danau tempe sengkang
Ikan hasil tangkapan nelayan di Danau Tempe. Dokumentasi pribadi

Pada bulan Maret atau Agustus, masyarakat setempat sering menggelar upacara adat maccera’ tappareng (menyucikan danau) yang ditandai dengan peyembelihan sapi, inilah waktu terbaik untuk mengunjungi Danau Tempe. Akan ada banyak atraksi wisata yang ditawarkan seperti mappadendang yang dilakukan oleh para bissu dan lomba balap perahu.

Epilog

Setelah menyusur jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe yang kaya akan cerita-cerita setempat, maka singgahlah menikmati kopi dan bolu paranggi di warung kopi temangnge. Kopi yang tersedia di sini adalah kopi toraja yang airnya direbus menggunakan kayu bakar. Nikmat kopi yang tidak akan kamu temukan di tempat lain serta suasana kota yang berpendar di sekelilingnya membuat kamu akan merasa nyaman di sini. Letaknya di Jalan Masjid Raya Sengkang, tepat di tengah kota, tak jauh dari Pasar Mini Sengkang. Lokasi ini pula yang digunakan Riri Riza dan Mira Lesmana dalam membuat film Athirah (2016).

Untuk masalah kuliner, kamu tidak usah khawatir karena ada banyak makanan khas Bugis yang bisa kamu nikmati, seperti nasu palekko, songkolo, atau putu.

Jika informasi yang ada di internet masih kamu rasa kurang, tenang saja. Kamu bisa download aplikasi gratis Hi Wajo di handphonemu. Linknya di sini. Semua petunjuk yang kamu butuhkan tersedia.

Sengkang yang berasal dari bahasa Bugis, siengkang yang berarti berdatangan, akan terus memanggil kamu di tengah popularitas destinasi-destinasi pariwisata yang ada di daerah sekelilingnya. Jika sedang berada di Sulawesi Selatan, sempatkanlah bermalam di sana barang satu atau dua malam untuk menyusur jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe.

***

Cara ke Sengkang:

Dari Jakarta, kamu bisa naik pesawat ke Makassar dan tiba di Bandara Sultan Hasanuddin. Sampai di sana, kamu hanya perlu keluar dan menunggu depan Indomaret seberang bandara. Di sana akan ada mobil tujuan Sengkang yang akan singgah mencari atau menunggu penumpang. Perjalanan akan menghabiskan 4 hingga 5 jam dengan ongkos Rp. 90.000,-.
Berkeliling kota, ada banyak Bentor (Becak dan Motor) yang siap mengantarmu kemana-mana.

Teman Jalan di Sengkang:

Untuk pemandu, silakan menghubungi teman saya Epi di Instagramnya https://www.instagram.com/ephy_djufri/ atau Whatsappnya +62823-3037-7839. Epi akan dengan senang hati akan menemanimu!

*Tulisan ini diikutkan dalam Gramedia Blog Competition yang berlangsung dari 1 November 2017 hingga 7 Januari 2018. Info selengkapnya di fanspage Facebook Gramedia Store. 

Jokowi tidak sedang bercanda dalam meningkatkan budaya baca

Ini serius! Saya telah membuktikannya. Seminggu kemarin saya gatal. Lini masa media sosial beberapa kali memunculkan foto perpustakaan dengan menyebutnya sebagai yang terbesar di Indonesia, sementara di channel Youtube Paguyuban Pamitnya Meeting menyebut kalau Jokowi telah membangun perpustakaan 24 lantai tanpa lift—orang terpaksa harus menggunakan tangga! Karena gatal akan nikmat jika digaruk, maka berangkatlah saya ke perpustakaan tersebut pada hari Sabtu.

Tunggu dulu, jika mengetik lokasi Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas), Google akan merujuk ke perpustakaan yang di Salemba. Saya beritahu, perpustakaan yang saya maksudkan bukan yang di situ, tapi yang di Jalan Merdeka Selatan. Selemparan kerikil sebelah selatan dari Monumen Nasional, seberangnya IRTI dengan halte terdekat adalah halte Balaikota.

Maret 2016, dunia literasi Indonesia dikejutkan dengan rilisnya laporan tingkat minat baca masyakaratnya yang berada di urutan 60 dari 61 negara. Adalah Central Connecticut State University yang mengadakan penelitian tentang The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016. Penelitian ini sebenarnya mengambil sampel di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipilih 61 negara. Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia yang menduduki 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Sedangkan, 5 negara terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostwana.

Data ini bisa jadi membuat geram banyak orang, termasuk (barangkali) Jokowi.

 

Melintasi gerbang perpusnas, satpam mengarahkan saya masuk ke gedung kecil depan perpusnas. Di sana terpampang rupa-rupa tulisan masyarakat nusantara yang ditulis di daun lontar, bambu, serabut batang pohon, dan lain-lainnya dari tiap-tiap daerah, jauh sebelum berdirinya Indonesia.

Tak satupun dari mereka yang bisa saya baca karena huruf yang digunakan adalah aksara daerah. Salah satu yang tersohor adalah Lagaligo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia yang ditulis antara abad 13 hingga 15 sayangnya tak bisa saya baca dan artikan dengan baik. Kemampuan membaca bahasa daerah saya buruk. Oiya, selain itu ada Babad Diponegoro, Kakawin Sutasoma dan Nagarakertagama, Shanghyang Siksakanda Ng Karesian, Pustaha Laklak, Primbon, dan Surek Baweng.

Itu hanya sebagian kecil saja, di dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, sependek ingatan saya, masih banyak lagi naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh Indonesia yang tidak dipajang di tempat ini. Di sudut kiri gedung kecil ini ada pula tampilan 11 aksara nusantara yang dipajang dengan grafis minimalis. Di sebelah kanannya ada lini masa peristiwa membaca dari zaman baheula hingga zaman now yang ditampilkan dengan sangat menarikgambar sketsa 2D yang bergerak dengan audio yang bercerita tentang sejarah membaca masyarakat nusantara.

Di dunia bagian ini, saya seolah tidak melihat bahwa ini dibuat pemerintah oleh karena gaya grafis yang diterapkan. Kamu tahu kan kalau kebanyakan gaya grafis yang dihadirkan pemerintah lebih sering bikin sakit mata?

Sekeluarnya dari gedung kecil tadi, pertanyaan besar mengganggu saya, “Bagaimana mungkin negara berpenduduk 263.991.379 jiwa, yang notabene peringkat ke empat jumlah penduduk terbanyak di dunia menempati urutan paling bontot dalam hal baca membaca, sementara kebudayaan literasinya telah hidup sebelum negara ini berdiri? Sepertinya ada yang salah dengan laporan WMLN.”

Beruntung pertanyaan itu menguap tepat ketika saya berdiri di depan gedung berlantai 24. Memandanginya pelan-pelan dari bawah ke atas menimbulkan pertanyaan baru sekaligus kekaguman, “Ini perpustakaan? Isinya buku semua?” Tak sabar menemukan jawaban, saya bergegas masuk.

Ada pintu otomatis tanpa satpam yang saya lalui sebelum di sambut tujuh potret sketsa hitam putih presiden Indonesia dengan ukuran sangat besar. Tiap-tiap dari potret itu ada buku-buku yang dituliskan mengenai mereka di sampingnya. Saya berjalan ke kanan memerhatikan papan informasi gedung ini, setelahnya saya menaiki tangga berjalan, menyusuri tiap lantai.

Di lantai dua saya menjumpai banyak orang menunggu antrian foto. Lantai itu memang dikhususkan sebagai tempat untuk mengurus pembuatan kartu anggota, juga bagi mereka yang mencari informasi tentang buku. Canggihnya, semua terintegrasi oleh komputer. Jadi kamu hanya perlu mengisi biodata yang di sediakan di banyak komputer di ruangan itu, mencetak nomor antrian, kemudian menunggu giliran foto.

Di lantai berikutnya, tak ada apa-apa. Padahal dikhususkan sebagai zona promosi gemar membaca. Di salah satu sudutnya ada banner Najwa Shihab yang terpampang sebagai Duta Baca Indonesia. Mungkin karena baru diresmikan maka gedung ini belum sepenuhnya beroperasi. Menaiki tangga berjalan ke lantai empat, hidung saya membau aroma makanan prasmanan. Selamat datang di area kantin dan pameran. Meski perut saya seketika lapar, ternyata rasa penasaran saya akan isi keseluruhan perpusnas ini jauh lebih kuat.

Saya yang hendak melanjutkan berjalan di tangga harus terhenti. Tangga berjalan itu hanya sampai di lantai 4. Masih ada 20 lantai lagi yang kita bisa akses menggunakan lift. Nah, selanjutnya silakan kamu datang dan cari tau sendiri!

“Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar,” Zen RS.

Yang pasti, di ruang-ruang baca perpustakaan ini tersedia banyak sofa yang bisa diduduki sambil leyeh-leyeh membaca. Jika kamu mau lebih privat, ada ruang-ruang khusus yang disediakan. Bahkan di lantai 24 ada executive lounge. Sofa empuk, pendingin ruangan, senyap ruangan, dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Jika pemerintah sudah menyiapkan segitunya, kenapa kita tidak memanfaatkan semau-maunya untuk membaca lebih banyak buku?

Jam Layanan:

Senin-Kamis: 08.30 – 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 – 13.00 WIB

Jumat: 08.30 – 16.00 WIB
Istirahat: 11.30 – 13.00 WIB

Sabtu: 09.00 – 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 – 13.00 WIB

Lokasi Perpustakaan Nasional

A Modern Market, Santa

Last week was my second visit with Ade to Santa Modern Market after the end of 2016. We did not have much time at once, so we were straight on the upper floor in which many hippie shops were selling.


Having a bus Transjakarta from RSAB Harapan Kita we stopped at Blok M and ordered a GoCar to Santa Modern Market because there was no bus stop over there and Blok M was the nearest bus stop. Other than that, it was the cheapest way to go to Santa, IDR3500 for bus and IDR8000 for GoCar.
Visiting the market at weekend at afternoon made me able to catch the whole market. At the ground, we can easily notice some grocery shops and everything you need for your household was provided there. The next floor was selling some kind of stuff along with its repair services. After taking a stroll in the market we stopped at a small coffee shop with a nice iced green tea called Namulah.
Our destination, of course, Post Santa, an independent bookshop on the upper floor with many curated books.  At once, they turned 3 years old and conducted a little celebration.
Although Jakarta offers a huge amount of Mall to spend time or look for something, Santa Modern Market comes up for your needs, surely, with a chance to bargain goods you are looking for. Why do not you try them?

Santa Modern Market Location: Jalan Cisanggiri 2, Petogogan, Kebayoran Baru, RT.5/RW.4, Petogogan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 15810.

Ada Car Free Day di Kampung Inggris

alamat kampung inggris



















Sayup-sayup musik berdentum tak jauh dari Stadion Canda Bhirawa. Memasuki perempatan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa dari Jalan Anggrek, saya mendapati tiga orang polisi lalu lintas sedang berdiri di depan plang pemalang jalan. 
Di sekeliling mereka ada sales girls Oppo yang membagikan brosur ditemani maskot raksasanya yang bergoyang-goyang menyapa orang-orang. Karena penasaran, saya yang mengayuh sepeda mendekati kerumunan ini. Jalanan tidak seperti hari-hari Minggu biasanya.

Tak terhitung jumlah orang berpakaian olahraga yang berjalan santai. Selamat datang di Car Free Day (CFD) Pare!


Tepat tanggal 7 Agustus 2016 Wakil Bupati Kediri bersama unsur muspida meresmikan hari bebas kendaraan bermotor di Kecamatan Pare tepatnya sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Saya merasa agak aneh sekaligus senang, kota kecil ini punya CFD.

Sejarah Car Free Day

Awalnya, kegiatan seperti ini hanya ada di Eropa. Adalah Belanda yang pertama kali menggelarnya pada 1956. Selanjutnya di Prancis pada 1995 diadakan kegiatan “En ville sans ma voiture”. Di Inggris, 1997, melalui British Environmental Transport Association (ETA) digelar pula National Car Free Days.

Selang setahun, tepatnya 21 Juni 1998, Jerman mengadakan Car Free Mobility Day diikuti oleh Italia dan Belgia. Dan pada Oktober 2000 di Chengdu, Cina pun digelar Car Free Day.


Menariknya adalah tidak lama setelah Cina, pada 2001 di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat kegiatan hari bebas kendaraan bermotor ini pun digelar untuk pertama kalinya. Menyusul kemudian kota-kota di seluruh Indonesia.

CFD sebenarnya merupakan kampanye untuk mengurangi tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di seluruh dunia yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Sejarah panjang perjalanan CFD membawanya tiba di Pare, sebuah kota kecil berjarak kurang lebih 103 kilometer dari kota Surabayakota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.

Car Free Day di Kampung Inggris

Kehadiran CFD di Pare kemudian menawarkan hiburan baru dari aktivitas belajar di Kampung Inggris. Saya dan kamu tentu paham betul bagaimana rasanya menikmati hiburan setelah seminggu belajar.

Pun dengan masyarakat Pare yang memiliki latar pekerjaan yang berbeda-beda. Tiap Minggu pagi dari pukul 6 hingga 10 pagi Jalan Jendral Sudirman akan hiruk pikuk oleh aktivitas hari bebas kendaraan bermotor.


Hampir di depan tiap-tiap toko besar di sepanjang jalan tersebut akan digelar senam yang bisa diikuti oleh siapapun. Ini adalah hal pertama yang bisa kamu lakukan jika sedang di CFD Pare—senam. Menghambur dan berbaur mengikuti gerakan pemandu.

Sayangnya, saya tidak suka senam. Saya memilih berjalan dan menyinggahi apapun yang menarik bagi saya, terlebih makanan. Akan ada banyak makanan yang dijajakan CFD Pare dengan harga murah dan enak.

Olehnya itu, berburu kuliner adalah alternatif lain selain senam. Teman saya  pernah berseru, “Gagal diet lagi!” Sedangkan seorang lagi pernah menceritakan dengan bangganya bahwa dia telah menyicipi makanan-makanan di sana. Oke, ini lucu. Saya tidak bisa membayangkan dia memakan semua makanan yang ada di jalan sepanjang lebih dari dua kilometer itu.

Selesai makan, kamu juga tidak akan kesulitan menemukan rupa-rupa minuman, cocktail yang populer itu salah satunya. Selain itu, ada juga kakak-kakak gemes dan ibu-ibu muda berjualan jilbab, busana muslimah, bahkan daster. Sambil menunggui ibunya berjualan atau berbelanja, anak-anak juga punya hiburannya sendiri berupa odong-odong dan aneka permainan.

Baca juga: Banyak Cara Menuju Kampung Inggris

Foto: Jumardan Muhammad

Jika kamu tidak ingin mencoba senam atau mencoba makanan yang dijual, CFD Pare menawarkan kamu pilihan untuk bermain dan berswafoto dengan musang, sugar glider, atau ular. Mereka milik komunitas reptil Pare yang nongkrong saban Minggu pagi.

Sebenarnya masih banyak hewan aneh yang tidak saya tahu namanya, saya pun malas untuk bertanya, mungkin kamu mau kesana dan memberi tahu saya nama-nama mereka? Berkabar ya.

CFD Menguras Biaya Kampung Inggris

Eh tapi, omong-omong, satu-satunya yang menguras biaya hidup saya di CFD Pare adalah seorang ibu yang melapak buku bekas—asli, dan langka. Konon, dia dan suaminya memang pembaca buku garis keras sekaligus kolektor buku-buku tua.

Saya sempat membeli Macbeth-nya Shakespeare dan Scene of London Life-nya Charles Dickens bersampul beludru. Saya rasa kita sepakat bahwa buku langka memang kadang tidak murah.


Sampai di sini, saya merasa bahwa CFD di Pare tidak hanya menjadi kampanye untuk mengurangi polusi udara tapi juga menjadi pemicu perputaran roda ekonomi serta ruang rekreasi bagi semua orang. Enam bulan sejak meninggalkan Pare, saya masih bisa membayangkan senyum dan tawa bahagia orang-orang di tiap Minggu pagi yang berjalan kaki dengan teman atau keluarga mereka tanpa harus diklasoni motor atau mobil.

***

Banyak Cara Menuju Kampung Inggris

kampung kediri

“Ada sebuah desa dimana seluruh orang-orang yang ada di dalamnya berbahasa Inggris. Bahkan penjual bakso atau penjaga warung. Jika kamu ingin memesan makanan dan tidak dalam bahasa Inggris, maka kamu tidak akan dilayani. No English, No Service!”

Belajar Bahasa Inggris

Adagium ini telah mendengung di telinga saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kamu tahu? Hal membanggakan di dunia ini pada masa-masa itu adalah kamu bisa berbahasa Inggris.
Pencapaian tertinggi selanjutnya adalah bisa berpidato dalam bahasa Inggris. Mulai dari wali kelas hingga para orang tua menuntut kami untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional tersebut.
Saat duduk di bangku kuliah, sekira akhir semester lima—Mayang, teman sekelas saya mengajak ke kampung Inggris. “Sebelum lulus kuliah kita harus bisa berbahasa Inggris, Ayomi!” katanya. Saya bergeming, tidak tertarik.

Di April 2016 saya akhirnya di wisuda. Seminggu setelahnya saya mengambil kelas TOEFL Preparation di Pusat Bahasa Universitas Hasanuddin. Saya menghabiskan sebulan belajar di sana, namun hasilnya mengecewakan. Skor saya hanya berkutat di 450.

Akhirnya, saya tiba pada pada kesimpulan, “Saya salah langkah!” Jadi begini, sebelum memasuki kelas persiapan TOEFL ada baiknya kamu mengambil kelas Grammar mulai dari nol, iya, mulai dari nol seperti mas-mas pom bensin bilang.

Karena seperti yang saya alami, jika tidak dimulai dari dasar kita akan kebingungan. Ibaratnya, kamu akan kewalahan berlari jika tidak bisa berjalan. Iya gak sih?

Nah, bagaimana cara ke Kampung Inggris?

Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai kursusan bahasa Inggris di Makassar, saya memantapkan jiwa untuk ke Kampung Inggris. Bukannya apa, rata-rata harga kursusan di Makassar mencapai 3 juta dalam 16 kali pertemuan, pertemuan hanya tiga kali seminggu. Artinya tidak intens.

Saya sebagai orang yang tidak bisa fokus pada satu hal dan memiliki ketertarikan besar pada hal-hal lain yakin bahwa uang sebanyak itu akan terbuang percuma jika saya tidak fokus dan intens belajar. “Dibandingkan dengan belajar Kampung Inggris, kamu bisa menang banyak,” rayu Ammar, seorang teman yang saat itu sedang belajar di sana.

Baca juga: Ada Car Free Day di Kampung Inggris

Nah, awal Juni 2016, untuk pertama kalinya saya tiba di Kampung Inggris. Menjelang pukul 4 sore saya tiba di Bandara Juanda Surabaya. Saya mendapat nomor telepon mobil jemputan untuk ke Kampung Inggris dari Ammar. Sudah saya pesan sehari sebelum keberangkatan.

Namun sialnya si mas sopir itu mengoper saya ke sopir lain yang sedang mangkal di parkiran bandara. Jadilah saya lama menghabiskan waktu di bandara Surabaya. Dibandingkan dengan Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Juanda ini boleh dibilang jauh tidak rapi.

Bagaimana mungkin sebagian parkiran bandara dipenuhi oleh mobil penumpang berplat hitam? Jatuh-jatuhnya terlihat seperti terminal gelap. Saya harus menunggu hingga pukul 8 untuk berangkat ke Kampung Inggris karena si sopir harus menunggu mobilnya penuh oleh penumpang. Dan di awal, hanya ada saya berdua dengan mas-mas yang katanya tinggal tidak jauh dari Kampung Inggris.

Oke, cukup curhatnya. 
belajar bahasa inggris
Menumpangi mobil yang ada di parkiran Bandara Juanda Surabaya merupakan salah satu cara menuju Kampung Inggris jika kamu tidak menelpon mobil jemputan.

Saat keluar dari pintu kedatangan, yang perlu kamu lakukan adalah berjalan ke arah jam sepuluhmu, menuju parkiran sebelah barat. Di sana kamu akan menjumpai mobil yang mangkal. Tanyakan saja kepada orang-orang yang berada di situ, mana mobil yang lewat Pare Kampung Inggris.  Biayanya Rp. 90.000,-

Alamat Kampung Inggris

Oiya, Pare itu adalah sebuah nama kecamatan di Kabupaten Kediri. Sedangkan Kampung Inggris berada di Kecamatan Pare—tepatnya Desa Tulungrejo. Waktu tempuh dari Bandara Juanda Surabaya ke Kampung Inggris 4-5 jam jika tidak macet.

Di akhir November 2016 saya sempat main ke Jakarta dan kembali ke Kampung Inggris dengan menempuh cara kedua—menelpon mobil jemputan. Eh, mobil jemputan akan terdengar aneh karena orang-orang menyebutnya travel. Saya masih menyimpan nomor travel yang saya gunakan saat itu, ini Doping Travel 081333109300 dan Nassai Travel 082337700079.

Saya merekomendasikan dua travel ini karena kamu tidak akan ditelantarkan seperti yang saya alami saat menggunakan travel lain. Ongkosnya Rp. 100.000,-. Jika kamu rempong gara-gara barang bawaan dan tidak mau repot, ada baiknya menggunakan cara ini.

Kamu cukup menelpon nomor tersebut dan kemudian akan disuruh mengirim sms berupa nama, asal, dan jam kedatangan kamu. Pastikan kamu mengirimnya sehari sebelum kamu tiba di bandara Juanda agar mereka mereka bisa mengatur penjemputanmu.

Nah, cara ketiga yang pernah saya tempuh adalah memperpanjang perjalanan. Jika sedang tidak buru-buru dan ingin jalan-jalan, kamu bisa menggunakan Patas Rukun Jaya. Caranya, keluar dari pintu kedatangan bandara, berjalanlah ke depan hingga menemukan shuttle bus Damri. Naik dan duduk manislah di Damri hingga busnya singgah di Terminal Bungurasih.

Biaya naik Damri adalah Rp. 30.000,- Butuh sekira 20 menitan untuk sampai di terminal tersebut, jika tidak macet. Sampai di sana, yang kamu perlu lakukan adalah berjalan mengikuti orang-orang untuk masuk ke ruang tunggu terminal. Dari situ kamu akan bisa melihat bus Patas Rukun Jaya.

Jika kamu bingung, bertanya saja dengan petugas terminal yang berseragam dinas perhubungan. Oiya, saat turun dari Damri berhati-hatilah dan jadilah cuek karena kamu akan menemui banyak mas-mas yang menyambut kedatanganmu bak selebriti yang ditodong oleh para penggemarnya. Abaikan saja mereka karena tujuanmu adalah menemukan Patas Rukun Jaya.

Di bus kamu akan didatangi kondektur, bilang saja mau turun di Tulungrejo Kampung Inggris dan kamu akan dimintai bayaran Rp. 15.000,-. Jika sudah sampai kondektur bus akan teriak-teriak Kampung Inggris, kok.

Jangan khawatir, kamu akan diturunkan di perempatan yang ada pos polisinya. Di sana akan ada banyak becak motor yang berjejer menunggumu dan siap mengantarmu ke tempat tujuan. Ongkosnya bisa Rp. 10.000,- jika pandai menawar.

Biaya ke Kampung Inggris

Banyak cara menuju Kampung Inggris dari Bandara Juanda Surabaya,  namun jika dihitung dari segi pengeluaran, tampaknya cara terakhir adaalah cara paling murah. Bonusnya, kamu akan melihat banyak tempat dan bertemu banyak orang. Ada lagi, kamu bisa singgah makan soto ayam di terminal Bungurasih atau apapun yang kamu mau.

Di sana, makanannya murah dan enak. Aduh, membayangkannya saya jadi lapar. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

***