Berkelana Bersama Kelana

buku kelana

“Pilih yang mana ya?” tanya saya ke Herdi.
Dia tidak menjawab. Diambilnya buku Arundhati Roy sambil membalik dan membaca tulisan-tulisan di belakangnya. Hingga saat ini saya masih mempertanyakan istilah untuk potongan tulisan di belakang buku. Mungkin kamu tahu?

Oiya, kami masih di kereta di perjalanan kembali ke Jakarta saat memutuskan untuk ke Gramedia Matraman. Sebelumnya, saya, Ade, dan Herdi menghabiskan pagi di pasar modern BSD dan mampir ke roti nogat yang terkenal itu.

Baca juga: Mie Ayam Kampung & Roti Nogat BSD

Karena harus shift siang,  Ade tidak ikut. Jadilah saya dan Herdi yang melanjutkan perjalanan dengan menumpang Transjakarta di stasiun Palmerah ke Matraman

Sesampainya di Gramedia Matraman, secara tidak disadari kami berpisah. Menyusur lorong-lorong rak buku sastra, saya secara acak mengambil sebuah buku berjudul The God Small Things karya Arundhati Roy, pemenang  Booker Prize 1997.

Buku ini memang telah lama menjadi incaran saya.

Sambil menentengnya saya terus menyusuri rak-rak buku dan kembali terhenti di deretan buku-buku perjalanan. Di akhir, saya memutuskan untuk membatalkan The God Small Things dan memilih Kelana.

Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika

Buku Kelana
Di bawah judul besar Kelana, terdapat 7 kata yang tampak click bait bagi saya—Perjalanan Darat dari Indonesia ke Afrika.

“Alah, paling juga buruk,” ucap saya dalam hati. Pasalnya, saya sudah sempat membeli beberapa buku perjalanan dan tidak saya selesaikan karena isinya mengecewakan.

Saya kepalang pasang standar untuk buku-buku perjalanan seperti Life Traveler-nya Windy Ariestanty dan triloginya Agustinus Wibowo.

Meskipun saya mengalihkan pandangan ke buku-buku lain, toh saya masih kepikiran Kelana. Ya sudah, saya dengan terpaksa mencari buku yang telah terbuka dan membacanya halaman per halaman.

Sesampainya di halaman 13, saya berhenti. “Sialan! Kok nagih?”

Apa yang memikat saya di pembacaan pertama adalalah si penulis mau mengakui bahwa dia adalah turis dan hanya melihat segala sesuatunya dari permukaan.

Buku ini hanyalah catatan perjalanan dan rekaman interaksi penulis dengan orang-orang yang dia temui sepanjang jalan. Tapi, ditulis secara serius dan terstruktur. Yang paling penting, pendek-pendek.

Iya, kebanyakan dari catatan perjalanan yang saya baca terlalu self centre tanpa substansi.

“Saya memutuskan untuk memulai perjalanan darat karena saya ingin menyusuri kilometer demi kilometer bumi… ingin melihat bagaimana orang-orang hidup dengan adat dan budayanya di sepanjang jalan.” (hal.1)

Buku Kelana
Perjalanan ini dimulai dari Riau ke Malaka, Malaysia dengan menaiki Kapal Feri. Selanjutnya, di negara-negara Indocina penulis menggunakan bus dan beberapa kali kereta hingga ke Cina dan Mongolia.

Menyaksikan peta perjalanannya di bagian awal, buku ini membuat saya terkagum-kagum.

Ketika tiba di Mongolia, penulis disambut oleh cerita-cerita Jenghis Khan. Secara tidak langsung, saya belajar banyak mengenai keberadaan seorang pemimpin dan sebuah bangsa nomaden yang menaklukkan banyak tempat di dunia ini.

Namun, kebesaran Jenghis Khan kini hanya tinggal cerita. Keberadaan istana megah atau kuil yang indah tidak tampak di Mongolia sebagai sisa-sisa dari kejayaannya. Yang ada hanyalah keberadaan keluarga nomadem yang tinggal di kompleks ger, rumah tenda di tengah padang.

“…lokasi ini adalah tenda musim panas Keluarga Dorjuren. Dalam setahun mereka berpindah rumah tiga sampai empat kali, sesuai musim.” (hal.78)

Buku Kelana
Dari Ulaanbaatar, Mongolia si penulis melangkah ke Rusia menggunakan kereta Trans Siberia yang tersohor itu sambil menyusuri danau tertua di dunia, yakni Danau Baikal. Ada banyak kisah-kisah heroik mengenai kebesaran sebuah negara adidaya di masa lalu pada bagian ini, apalagi perjalanannya memang melalui Moskwa—ibu kota Rusia.

Hingga saat ini, jarak dari Indonesia telah mencapai 10.141 kilometer.

Dalam banyak hal penulis memang diuntungkan oleh platform bernama Couchsurfing. Sang penulis dipertemukan oleh banyak orang-orang asyik di setiap daerah yang disinggahinya. Tak jarang menimbulkan percakapan-percakapan yang juga menohok saya.

“Di Jakarta kamu tidak pernah jalan kaki, ya?” Oh, jelas tidak, Pak. Kami berada di ranking satu dalam daftar kota yang warganya tidak suka berjalan kaki. (hal.115)

Ada beberapa orang yang disebut-sebut oleh penulis dan menarik perhatian pembaca, misalnya Arthur pada perjalanan pulang ke Yekaterinburg, Illia yang menjadi host-nya di Tatarstan yang juga sempat keliling Indonesia, serta Ibby yang ditemui di Latvia yang menolak untuk dikotak-kotakkan ke dalam sebuah kebangsaan.

Syukur, penulis berhasil sampai di Benua Afrika, tepatnya di Kota Rabat. Total jarak dari Indonesia yaitu lebih dari 23.181 kilometer. Jika kamu mengambil peta, bisa dilihat bahwa dia telah mengeliling setengah dari lingkar bumi.

Btw, it means bumi itu datar, gaes 😂

Penulis, Famega Syavira Putri

Buku Kelana
Menariknya, perjalanan ini dialami dan dituliskan oleh seorang perempuan bernama Famega Syavira Putri. Di bagian belakang Kelana, Famega dituliskan pernah bekerja di berbagai media, seperti Detik, Tempo, Yahoo Indonesia, dan Rappler. Saat ini dia bekerja di BBC Indonesia.

Keberaniannya untuk berjalan sendiri melintasi tempat-tempat yang asing membuat saya malu karena hingga saat ini paspor saya cuma punya satu stempel 😁

Namun, ini tak jadi soal. Yang patut dipertanyakan adalah kenapa di berbagai tempat di belahan dunia lain, isu pelecehan seksual masih saja terjadi?

Pasalnya, Famega beberapa kali hampir mengalaminya di dalam perjalanan daratnya dari Indonesia hingga Afrika. Buku ini hadir tidak untuk memberikan jawaban, tapi untuk membuat kita berjalan-jalan.

Yeay or Neay

Sama seperti ulasan-ulasan sebelumnya, saya tidak akan memberikan rating berupa angka pada buku yang telah saya baca. Tapi, pertanyaan apakah saya merekomendasikannya atau tidak.

Kelana adalah sebuah buku dengan total 264 halaman yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) 2018. Ukurannya terbilang kecil dan tidak terlalu tebal sehingga bisa saya bawa berkelana kemana-mana dan baca di Transjakarta, di halte, di lift, dan di sela-sela pekerjaan kantor.

Baca juga: The Deepest Stories of Asean

Jika kamu penyuka cerita-cerita perjalanan, Kelana pun saya rekomendasikan untuk kamu baca.

Buku ini akhirnya membuat saya lega karena ada buku perjalanan yang sebagus Windy dan Agustinus tulis. Ya, walaupun seperti kata Famega, yang menyadur Chairil Anwar, bahwa perjalanan adalah kesunyian masing-masing.

***

Tiba Sebelum Berangkat, Pesan Bapak Sebelum Berangkat

tiba sebelum berangkat faisal oddang

Ketika pertama kali mendengar Faisal Oddang akan merilis buku terbarunya Tiba Sebelum Berangkat (TBS), saya sudah menduga jika ceritanya pasti berlatarbelakang kebudayaan Bugis.

Judul tersebut, seperti dugaan saya, adalah pesan bapak sebelum anak-anaknya melangkahkan kaki keluar rumah tiap kali akan bepergian jauh.

Saya tidak ingin berangkat sebagai perempuan. Dia mundur kemudian memperbaiki posisi duduk dan ingatannya. Dia konsentrasi. (hlm. 131)

Pernah membayangkan penis kamu ditindih kursi? Atau pernah terpikir untuk memakan tai sendiri yang telah mengering?
Begitu setidaknya Faisal menggambarkan dengan detail adegan menyakitkan dan menjijikkan bahkan di kalimat pertama buku yang saat saya beli telah memasuki cetakan kedua.
Di bagian lain, penulis Puya ke Puya ini menceritakan dengan detail adegan persetubuhan laki-laki dan laki-laki serta laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Menyusur Jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe

Buku ini dibagi ke dalam 20 bagian di mana tokoh utamanya adalah Mapata dengan latar waktu di tahun 1950 hingga 1960-an di Sulawesi Selatan, tepatnya di Sengkang dan Makassar.
Saya tidak dapat menghafal dengan jelas tahun-tahunnya. Kenapa?
Adat-adat dan kebiasaan orang-orang Bugis di dalam cerita ini jauh lebih menarik perhatian saya. Sebagai seorang yang lahir dan besar di keluarga Bugis, buku ini menegaskan cerita-cerita dan hal-hal yang sering dilakukan oleh keluarga kakek dan nenek; baca-baca (mantra), susunan rumah panggung, juga penamaan anggota tubuh dalam bahasa Bugis.
Iya, konon sebelum sebuah tubuh ditiupkan roh, Dewata telah membuat dan menamai satu per satu anggota tubuh manusia dalam bahasa Bugis.
Masih segar di ingatan saya mengenai masa kecil di mana nenek sering memanjati rumah rakkeang atau plafon rumah panggung Bugis untuk mengambil beras. Dia akan mengambil tangga, menaikinya, dan menurunkan beras untuk konsumsi sehari-hari. 
Kabarnya, beras adalah makanan sakral pemberian Dewata yang harus ditempatkan di bagian teratas rumah dan diperlakukan dengan baik. Jika tidak, bisa saja di lain waktu beras tidak akan ada lagi di rumah.

tiba sebelum berangkat faisal oddang

Di suatu malam di bilangan Jakarta Selatan saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari keluarga Bugis. Saya iseng menanyakan tentang Gurilla.
“Kakek saya Gurilla,” ujar seorang di antaranya yang kemudian ditimpali oleh yang lainnya.
Kami larut mengenai kisah heroik terkait misi Gurilla untuk mendirikan negara DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar di kurun 1960-an. Di buku-buku sejarah di sekolah, gerakan ini memang tercatat dengan jelas.
Istilah Gurilla ini sebenarnya berasal dari bahasa Indonesia, yakni gerilya. Lidah orang Bugis yang yang melafalkannya sebagai Gurilla.
Oleh pemerintah, mereka disebut sebagai pemberontak yang menolak untuk bergabung dengan Republik Indonesia di awal-awal kemerdekaan. Selain untuk melawan pemerintah, mereka juga menolak keberadaan kepercayaan lokal di Sulawesi Selatan.

kepercayaan-kepercayaan lokal di Sulawesi Selatan, seperti Tolotang di Sidrap, Aluk Todolo di Toraja, Patuntung di Bulukumba—dan tentu Komunitas Bissu yang tersebar di Bone, Soppeng, Sidrap, Pangkep, dan tentu Wajo. (hlm.47)

Hal ini menuntun saya ke pemikiran bahwa apakah Tiba Sebelum Berangkat benar-benar adalah fiksi atau malah kisah nyata yang hanya diganti nama pelakunya?

Di buku setebal 215 halaman ini dikutip setidaknya 5 buku non fiksi, yaitu Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/TT dan Tradition, Islam, and Rebellion: South Sulawesi 1950-1965 karma Barbara Sillars Harvey, Bissu: Pergulatan dan Perannya di Masyarakat Bugis karya Halilintar Latief, Peristiwa Sulawesi Selatan 1950 karya Mayor Bardosono, Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang, dan Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar oleh Yerry Wirawan.
Keberadaan para Bissu sangat ditentang oleh Gurilla.  Mereka, dalam TBS terlibat pertempuran sengit di Arajang—rumah tempat menyimpan pusaka-pusaka suci pada masa itu. Terlihat jelas bentrok antara senjata dan baca-baca.

bissu diburu seperti musuh atau dianggap kafir dan bisa dibunuh serta darahnya halal dan tidak akan dibela oleh siapa pun begitu pula hukum yang hanya akan tutup mata terhadap pembantaian bissu (hlm. 21)

Perihal baca-baca ini juga melarutkan saya ke ingatan masa-masa SMP. Tidak sedikit dari kami yang menghabiskan masa sekolah dengan berburu mantra Bugis. Dalam banyak situasi, baca-baca memang bisa diandalkan, termasuk menaklukkan lawan jenis.

Mapata dalam TBS yang disekap dan dipotong lidahnya oleh penculiknya sebenarnya mampu melawan hanya dengan memusatkan pikirannya.

ada tiga tingkatan dalam penguasaan ilmu kebatinan, dan saba’-saba’ atau baca-baca atau mantra, gau-gaukeng atau lakuan…dan paling sering ia gunakan adalah paringngerang atau ingatan. (hlm 57)

Yeay or Nay?

tiba sebelum berangkat faisal oddang

Buku ini membawa saya jalan-jalan dan belajar banyak ke berbagai hal perihal kebudayaan masyarakat Bugis di masa sebelum saya lahir.  Tidak hanya itu, membaca Tiba Sebelum Berangkat seperti melihat rentetan kisah perih yang tidak diceritakan oleh buku sejarah.

Bagian belakang buku ini ternyata benar bahwa kisah TBS adalah tentang pengkhianatan, air mata, penyiksaan, dendam, kematian, amarah, dan cerita cinta yang muram.

Baca juga: The Vegetarian Bukan Untuk Vegan

Mapata, dalam hal ini, adalah orang yang disekap kemudian menunggu satu per satu anggota tubuhnya ditanggalkan sebelum dijual. Dia, oleh Faisal Oddang, membuat saya gemas di akhir cerita.
Jika kamu menggemari kisah-kisah berlatarbelakang sejarah dan cinta, maka saya merekomendasikan buku yang menjadi finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2017-2018 ini. 
***

The Deepest Stories of Asean

buku perjalanan

“Tujuan tulisan perjalanan bukan semata untuk membuat pembaca ingin pergi ke tempat yang ditulis. Tulisan perjalanan meminjamkan mata kepada pembaca, sehingga pembaca dapat turut serta merasakan apa yang dirasakan penulis.”

Saya secara tidak sengaja menemukan kalimat Windy Ariestanty ini di tulisan panjang Teddy & Maesy di arsip pindai.org yang terbit 28 Desember 2015. Saya menahan napas. Kalimat ini kemudian mengingatkan tentang draft ulasan buku perjalanan The DestinASEAN yang bertengger selama beberapa minggu terakhir. 
Pada 2015 Windy telah menyebut kata “riuh” untuk menggambarkan situasi skena penulisan perjalanan kala itu dan hal ini tampaknya masih berlaku. Kalau boleh saya menambahkan satu kata di depan, maka akan menjadi “semakin riuh”.
Jangan heran, saat ini tidak hanya tulisan perjalanan, foto, dan video yang kemudian saya sebut sebagai konten perjalanan berkembang sebagai dampak dari teknologi. Di media sosial hari ini, seperti yang dikemukakan oleh Zen Rachmat Sugito dalam esainya “Keluyuran di Tengah Kota”—amat mudah menemukan foto-foto indah dari berbagai tempat dan kebudayaan Indonesia karya para traveler.
Tidak terhitung jumlah fotografer, blogger, serta vlogger dengan minta khusus traveling. Aktivitas ini pun kemudian memengaruhi kehidupan khalayak sehingga menjelma jadi sebuah gaya hidup masyarakat modern.

Bertemu The DestinASEAN

Eh, balik lagi ke buku yang tadi!
Sekira bulan lalu, menjelang tengah hari di Minggu yang tenang, saya menyelesaikan The DestinASEAN, Menjelajah Kisah di 10 Negara. Rasanya campur aduk. Kadang mengantuk, tiba-tiba tercekat, otot wajah mengendur tertawa, dan perasaan datar.
Saya menyempatkan diri dua kali mengelilingi Big Bad Wolf Books, bazar buku 24 jam, di ICE-BSD Tangerang Selatan pada awal tahun kemarin. Di kali kedua, saya berjongkok dan menguruti satu persatu tumpukan buku traveling dan mendapati sebuah buku yang memuat nama Adis Takdos berdampingan dengan Adam & Susan Poskitt.
Harganya murah sekali, Rp 15.000. Tanpa berpikir, saya masukkan saja ke keranjang belanja 😆

Diterbitkan oleh B First sebagai bagian dari Bentang Pustaka pada Juli 2013, buku ini telah berumur 5 tahun. Selain Adis, Adam & Susan, ada juga nama Marischka Prudence, Puti Karina, Eka Situmorang, Ariev Rahman, Dendi Riandi, Roy Saputra, Oryza Irwanto, serta yang Venus yang membagikan kisah-kisah perjalannya. Kenal beberapa dari mereka kan?

Ada 4 pembagian di dalamnya, yakni People-Culture (Mengenal Manusia, Menyelami Budaya), City (Menghirup Atmosfer Kota), History (Menguak Sejarah, Belajar dari Kekalahan), dan Nature (Menyapa Alam).

Melirik bab-babnya saja, saya rasa buku ini tidak hanya sekadar buku dengan pola yang disebut  Windy “lihat betapa indah tempat ini, maka kau harus segera ke sini.”

People-Culture

Di bagian ini Roy Saputra dengan “Menemukan Rumah di Makati” bercerita menggunakan alur mundur. Selama 5 hari melancong di Filipina, dia memilih untuk tidak bermewah-mewahan. Terbukti dari hampir seluruh percakapan yang ada, melulu hanya mengenai angka-angka; konversi peso ke rupiah. Juga siasat mendapatkan penginapan dan makanan termurah.

Baca juga: The Vegetarian Bukan untuk Vegan

Satu lagi, yang menarik buat saya di bab ini adalah “Contemplation in a Harsh Land” dari Adam Poskitt. Cerita panjangnya ini bertutur tentang perjalanan di Burma dengan bertemu masyarakat tradisional. Bukannya melihat eksotisme masyarakat tersebut dari kacamata turis bule, yang hadir malah renungan-renungan seorang anak manusia di kolong langit.

“We were merely insignificant guests of something much bigger. This was emblematic of the entire experience in Burma. Who are we in this massive universe and what is our purpose here?” (hal. 49)

City

Jika kebanyakan cerita perjalanan di dalam kota selalu berkisah tentang tempat-tempat populer yang dikunjungi turis dan bagaimana cara mencapai tempat tersebut, maka di bab ini kamu tidak akan menemukannya.

Saya kepincut dengan “Go International dengan Rasa (Tetap) Lokal” yang diceritakan oleh Oryza Irwanto mengenai perjalananya ke Brunei. Di awal, saya tidak ada bayangan mengenai Brunei Darussalam, pun dengan akan seperti apa negara tetangga ini dikisahkan.

Beruntung, si penulis punya cara bercerita dengan baik sehingga tidak terkesan seperti saya-datang-ke-sini-lalu-ke-sana and the readers got nothing. Tulisannya dilengkapi fakta-fakta negara tersebut. Salah satunya keberadaan Masjid Omar Ali Saifuddien sebagai salah satu masjid dengan arsitektur terindah di dunia.

Menariknya, cerita tersebut ditutup dengan percakapannya dengan seorang Indonesia. Di Brunei, juga seperti di Malaysia—ada banyak orang Indonesia yang merantau karena tingginya pendapatan di negara tersebut. Mereka rata-rata bekerja di sektor informal sehingga ketika berada di sana jangan heran ketika kamu ditanya, “Dari Indon, dek?”

Lain lagi dengan kisah Ariev Rahman tentang Mamacation-nya. Saya baru tahu atau mungkin baru baca kalau cerita traveling dengan seorang mama juga bisa dituliskan. Traveling ternyata juga tidak harus selalu bersama sahabat atau pasangan. Bayangkan saja, seorang pria dengan mamanya melancong dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, bagian selatan Thailand melalui perjalanan darat.

Di perjalanan, kamu bisa saja akan mendapatkan beragam nasihat bijak sehingga jiwa petualangmu yang menggebu-gebu itu bisa sejenak dijeda. Seperti Ariev yang motornya mogok dan handphonenya kehabisan baterai.

“Kenapa handphonenya, nak? Mama memperhatikan saya yang kelihatan kesal. “Udah, minum ini dulu.” Beliau menyodorkan segelas iced cappucino yang baru saja dibelinya. (hal.71)

buku perjalanan

History

Jika menarik benang merah dari 6 tulisan yang ada, maka peperangan akan menjadi latar cerita bab ini. Puty membukanya dengan gaya bercerita yang tidak biasa mengenai perjalanannya di Ayutthaya Bangkok. Tulisan tersebut secara penampakan dibuat menyerupai puisi, perjalanannya dengan seorang kawan barunya mengeliling sisa-sisa kerajaan bangsa Siam.

Di Cu Chi Tunnels, Vietnam ada Venus yang sengaja “Merinding Sebadan-Badan” akibat menyaksikan kisah gelap dan pedih yang terjadi semasa perang Vietnam. Ketika tiba di Ho Chi Minh City, maka dosa terbesar yang bisa terjadi adalah dengan tidak mengunjungi Cu Chi Tunnels, katanya.

Saya menghela napas panjang membayangkan peperangan yang keji itu usai membaca catatan perjalanan Venus.

Belum lagi kisah Susan Poskitt tentang “Menguak Sejarah Laos” yang juga berlatarbelakang perang. “Kadang saya suka malu sendiri kalau membicarakan sejarah karena saya miskin pengetahuan sejarah. Rupanya, pengetahuan sejarah berpengaruh terhadap makna sebuah perjalanan.”

Tahu mengenai partai komunis yang berkembang di negara-negara Asia Tenggara? Juga keterlibatan Amerika Serikat? Melalui catatan perjalanannya yang panjang ini, Susan begitu mengesankan saya akan bab ini.

Yang juga tak kalah menariknya adalah gaya bertutur Adis Takdos di “Shutter Love”. Sebagai penulis termuda di The DestinASEAN, Adis menggunakan sudut pandang kamera Canon G12-nya untuk bercerita mengenai jalan-jalannya di Ho Chi Minh City. Hmm..

Nature

Adalah Marischka Prudence yang tampil beda dengan berkisah tentang perjalanannya di timur Indonesia. Pada bab History, Marischka membuat “Morotai, History in The Deep” berupa misi penyelamannya untuk melihat secara langsung sisa-sisa Perang Dunia II.

“Jumlah bangkai peninggalan Perang Dunia II di dasar Laut Morotai sudah kurang dari 10 persennya, kebanyakan diambil untuk dijual sebagai besi tua.” (hal. 186)

Meski membuat miris, cerita-ceritanya membuat saya paham bahwa semasa Perang Dunia II, daerah timur khususnya Maluku, Ternate, dan Tidore menjadi lokasi strategis bagi bangsa-bangsa dari barat untuk menjadikan Indonesia sebagai gudang persenjataan.

Selain posisinya yang strategis, kawasan timur Indonesia juga menyimpan kekayaan sumber daya alam dengan bentang pemandangan yang tidak ada duanya. Jailolo salah satunya. Marischka menyebutnya sebagai “Hidden Gems in the East”.

Sebagai penggambaran “Jika Anda tahu Ternate, Jailolo hanya sekitar satu jam menyeberang dengan perahu dari Ternate.” Lebih lanjut, “Maluku yang kaya rempah-rempah merupakan alasan utama kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia, termasuk Jailolo yang memiliki alam kombinasi perbukitan, laut, dan sumber rempah-rempah sehingga sering dijuluki sebagai The Spice Island.”

***
buku perjalanan

Yay or Nay?

Menurut saya, terdapat dua macam buku perjalanan. Pertama, ketika selesai dibaca maka timbul keinginan untuk resign dari pekerjaan kantoranmu, mengepak ransel, dan memulai perjalanan ke antah berantah. Kedua, buku yang ketika selesai dibaca, pengetahuanmu bertambah dan pandanganmu terhadap hidup jauh lebih bijak. Tentu saja, kamu tidak harus resign.

The DestinASEAN, saya rasa, masuk ke buku jenis kedua.

Ya, walaupun beberapa tulisan perjalanannya membuat saya mengantuk karena terkesan menye-menye, namun niat untuk menuliskan cerita-cerita tersebut patut diapresiasi. Tulisan-tulisan tersebut, bagaimanapun, dibuat jauh sebelum dunia perjalanan seriuh ini.

“Saya rasa kita tak perlu terjebak dalam kasta-kasta. Mana tulisan yang serius, mana yang kacangan. Semua disambut saja,” menurut Farid Gaban, seorang wartawan Tempo—di tulisan Teddy dan Maesy.

“Nanti bersama bertambah bertambahnya pengalaman bepergian, tambah bacaan dan pengetahuan, seharusnya tulisannya berkembang.”

Jadi bisa dibayangkan, rentang waktu cerita-cerita perjalanan di The DestinaASEAN ini dibuat berkisar pada 2010 hingga 2013 dan sekarang sudah 2018.

***

Apa yang Haruki Murakami tidak Ceritakan di Bukunya yang Lain, Diceritakan di Buku Ini

what i talk about when i talk about running
Di kitaran 2015 Ade membeli tiga buku sekaligus dari karya seorang Haruki Murakami. Pasalnya jelas,  semua orang membaca dan membincangkan penulis Jepang ini. Salah satu dari buku tersebut adalah 1Q84 Jilid 1.
Di suatu siang, saya iseng membaca 1Q84. Novel berbahasa Indonesia dengan tebal 622 halaman tersebut membuat saya ketiduran bahkan sebelum sampai pada halaman 10.
Jika tidak salah mengingat, bagian awal buku itu mengambil latar waktu siang hari di kemacetan sebuah kota pada tahun 1Q84. Ada seseorang bernama Aomame yang menumpang taksi dan mengobrolkan sesuatu, yang sialnya, saya lupa.
Intinya, halaman awal buku tersebut muram, lambat, dan surealis—barangkali. Hal inilah yang tampaknya membuat saya ketiduran.
Entahlah, saya lupa. Itu sudah lama sekali.
***

What I Talk About When I Talk About Running

Dua bulan lalu saya meminjam buku lain Haruki Murakami yang cenderung tipis berjudul What I Talk About When I Talk About Running dari seorang kawan di kantor. Dia adalah pembaca Murakami. Ketika saya menanyainya perihal kenapa dia membaca buku-buku tersebut, dia menjawab, “Suka karena isinya mirip dengan pribadi saya.”
Empat hari yang lalu saya baru saja menyelesaikannya.

Saya harus mengakui bahwa saya adalah pembaca yang buruk. Untuk membaca, saya selalu punya banyak alasan untuk menunda bacaan.

Bagaimana Murakami memulai karirnya sebagai penulis?

“Pukulan itu menghasilkan bunyi retakan saat bola beradu tepat di bagian tengah tongkat pemukul yang menggaung ke seluruh lapangan. Hilton kemudian langsung mencuri base I dan meluncur ke base II dengan mudah. Saat itulah momentum, “Ya! Aku harus coba menulis novel!” melintas di kepalaku.” (hal. 33)

Itulah kejadian di mana seorang Haruki Murakami bertekad untuk menulis. Segampang itu? Iya.

Kala itu, usianya 29 Dia sedang menonton pertandingan baseball tim kesayangannya Yakult Swallows di Stadion Jingu sambil minum bir.

Pekerjaannya sehari-harinya adalah menjalankan sebuah bar. Setelah sebelumnya, seusai menyelesaikan kuliahnya—dia mengelola kelab jazz di dekat Stasiun Setagaya.

Keluarganya berasal dari pekerja kantoran, pilihannya untuk berwirausaha konon karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Meskipun istrinya berasal dari keluarga pedagang, hal ini tetap saja tidak berpengaruh terhadap kemampuannya mengelola bar. Dia bekerja pagi hingga tengah malam, mengalami banyak kerugian, serta kekecewaan. Tak banyak untung.

Tak lama setelah momentum di Stadion Jingu, Murakami berhasil menyelesaikan novel pertamanya yang segera dikirimkannya ke lomba majalah sastra untuk pemula. Sayangnya, naskah novel tersebut tidak lolos seleksi.

Novel tersebut belakangan terbit dengan judul Kaze no Utao Kike (Hear the Wind Song) pada 1973.

Masih di tahun yang sama, tepat di umurnya yang ke 30 tahun penulis Jepang ini berhasil menerbitkan lagi novelnya berjudul Nen no Pinburo (Pinball). Berkat dua novel ini, Murakami pun masuk nominasi Akutagawa Prize.

Apakah penulis kelahiran 12 Januari 1949 ini lantas menutup barnya dan beralih menjadi penulis? Tidak.

Dia selama bertahun-tahun menjadikan dua kegiatan ini berjalan berdampingan. Siang hari mengurusi bar, malamnya menulis. Walaupun kedua hal ini berbeda, Murakami tampknya menyerap aktivitas di bar yang didatangi oleh orang dengan latar belakang berbeda silih berganti sebagai stimulannya untuk membuat tulisan.

Membaiknya bisnis bar dan menanjaknya karir kepenulisannya membuat Haruki Murakami harus memilih.

“Aku ingin bebas selama dua tahun ke depan untuk menulis. Kalau nanti gagal, kita masih bisa membuka toko kecil di suatu tempat. Aku masih muda dan kalau gagal, kita selalu dapat berusaha lagi,” tandasnya ke istri pada tahun 1981.

Dia memilih jalan hidup sebagai penulis. Meskipun, penghasilannya sebagai penulis kalah jauh dibanding penghasilannya di bar.

What I Talk About When I Talk About Running

Ketika menjalani kehidupan sebagai penulis profesional, Haruki Murakami kemudian berhadapan dengan masalah baru.

“Pekerjaan mengelola bar membutuhkan kekuatan fisik setiap hari sehingga berat badanku terus stabil di angka ideal. Namun, sejak menjalani kehidupan dari pagi hingga malam hanya duduk menulisi kertas genkoyoshi, energiku perlahan menurun dan berat badanku bertambah.” (hal. 40)

Dia menghabiskan setidaknya enam puluh batang rokok per hari untuk dapat terus berkonsentrasi ketika menulis. Karena akhirnya merasa tidak nyaman, setelah menyelesaikan Hitsuji O Meguru Boken—Murakami pun memilih lari sebagai solusi.

Kenapa Haruki Murakami memilih berlari?

Tidak dibutuhkannya kawan atau lawan membuat lari dapat dilakukan sendiri. Tidak diperlukannya alat khusus membuat Murakami menjadikan ini alasan kedua untuk berlari. Terakhir,  tidak diwajibkannya tempat khusus membuat lari bisa dilakukan di mana saja.

Jadilah dia hanya berfokus pada lari dan menulis setiap harinya. Tak heran kemudian, sembari menelurkan kaya-karya raksasa, dia juga aktif mengikuti ajang lari maraton di Jepang, Hawai, New York, Inggris, serta Yunani yang merupakan ‘rumah’ untuk lari maraton.

what i talk about when i talk about running haruki murakami
Seluruh proses menulis yang dilakukan oleh penulis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di dunia ini sebenarnya juga persis dengan olahraga lari. Selain sebagai penulis, Haruki Murakami memang juga adalah seorang pelari maraton atau bisa jadi malah sebaliknya.
“Sebagian besar pengetahuanku tentang menulis kupelajari melalui berlari setiap hari.” (hal.92)
Otot-ototnya yang lambat memanas ternyata menentukan jenis lari yang lebih cocok dengannya yakni lari maraton. Mengejutkannya, hal ini ternyata juga berhubungan dengan tulisannya yang lambat memanas dan terkesan membosankan. Pun dengan tema tulisan yang dia pilih yakni surealis.

Barangali ini jawaban kenapa saya tertidur tak tertarik membaca halaman awal 1Q84 tadi.

Yay or Nay

Hm.. Karena saya tidak tahu bagaimana mengukur sebuah karya menggunakan angka, misalnya rentan 1 sampai 10 atau 1 sampai 5, maka saya lebih memilih untuk menggunakan istilah Yay or Nay.
Nah, untuk buku ini apakah Yay or Nay? Jawaban saya adalah Yay. Kenapa? Karena apa yang Haruki Murakami tidak ceritakan di buku yang lain, diceritakan di buku ini.

***
Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 198 halaman
Tahun Terbit: April 2016
ISBN: 978-602-291-086-2

The Vegetarian Bukan Untuk Vegan

The Vegetarian - Han Kang

Satu lagi perbedaan kecil antara keadaan di 1931 dengan 2006 adalah orang-orang Papua Nugini di 2006 makin terlihat seperti orang-orang kebanyakan di Amerika dengan tubuh kelebihan berat badan dengan ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya.

Selain itu, statistika kesehatan masyarakat Papua Nugini modern menunjukkan jumlah kasus diabetes yang terkait dengan kelebihan berat badan, ditambah dengan kasus-kasus seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang tidak dikenal satu generasi silam.

Penyakit-penyakit ini dikenal dengan istilah Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular, namun menjangkiti hampir seluruh penduduk dunia hari ini. Di negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang nyaris 90% dari mereka meninggal karena mengidap salah satu NCD. Begitu kira-kira tulisan yang dipaparkan oleh Jared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday yang saya tamatkan 2 tahun silam.

Saya teringat buku tebal Jared Diamond itu setelah menamatkan The Vegetarian karya Han Kang, pemenang Man Booker International Prize 2016. Judul aslinya sebenarnya Ch’aesikjuuija dalam bahasa Korea, namun oleh Deborah Smith diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Terjemahan inilah yang memenangkan penghargaan novel terjemahan terbaik dari seluruh dunia, mengalahkan karya Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan. Yang saya baca adalah versi bahasa IndonesianyaVegetarian.

Adalah Kim Yeong Hye, seorang istri yang mempunyai pekerjaan memasukkan teks ke dalam balon percakapan komik, yang merupakan sentra cerita dari buku dengan tebal 221 halaman. Vegetarian terbagi dalam tiga babak: Vegetarian, Tanda Lahir Kebiruan, dan Pohon Kembang Api. Cerita dibuka oleh suami Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal yang menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya yang berjalan baik-baik saja bahkan membosankan karena minimnya interaksi antara dia dan istrinya. Namun untuk keadaan seperti itu dia berterima kasih, setidaknya dia tidak direcoki oleh telepon-telepon istrinya yang seperti terjadi pada banyak kehidupan rumah tangga teman kerjanya. Hal-hal demikian itu saking seringnya akan berujung pada pertengkaran.

Suatu malam istrinya mendapat mimpi sehingga dia membuang semua daging yang ada di rumah mereka, pun dengan semua makanan berbahan dasar daging. Setelahnya muncul narasi-narasi gelap yang menyinggung tentang luka, darah, dan pembunuhan. Bagian ini diceritakan oleh istrinya sebagai orang yang mengalami mimpi tersebut.

Tak dinyana, berawal dari mimpinya, kehidupan rumah tangga mereka berubah drastis. Suami Yeong Hye pun mengabari mertuanya terkait perubahan sikap Yeong Hye yang berubah menjadi seorang vegetarian. Tubuhnya mengurus tak terurus.

Di pertemuan keluarga, kehidupan vegetarian yang dilakoni Yeong Hye mendapat penolakan oleh adik, kakak, ibu, dan ayahnya.  Tanpa daging seseorang akan kekurangan protein, budaya makan Korea pun tak memberi ruang pada seorang vegan karena seluruh makanan dan bahannya adalah daging. Konflik puncak terjadi setelah tragedi Yeong Hye ditampar oleh ayahnya dan dia mengiris nadinya. Pada bagian dua buku Han Kang ini, sudut pandang berubah ke kakak iparnya yang seorang seniman video. Han Kang dengan sangat detail bercerita tentang kehidupan seniman dan bagaimana mereka mengerjakan karya, tak heran karena dia adalah seorang guru besar dan mengajar di Institut Seni Seoul.

Si kakak ipar sangat tertarik pada Tanda Lahir Kebiruan pada bokong Yeong Hye. Olehnya itu, ia dengat sangat hati-hati mengajak adik iparnya untuk dilukisi bunga-bunga badan telanjangnya sambil direkam melalui kamera videonya. Persetujuan Yeong Hye ini membuatnya berimajinasi lebih liar, dia membayangkan persetubuhan  Yeong Hye dengan seorang laki-laki berbadan tegap tanpa gelambir di perutnya—yang olehnya juga dilukisi bunga-bunga. Seperti di bagian pertama, bagian kedua buku ini juga diselingi cerita-cerita dari sudut pandang lain, kakak Yeong Hye. Di akhir bab, pukulan telak menerpa sang kakak, keterkejutan, ketakutan dan kebencian tiba-tiba menerpanya karena mendapati adiknya digarap oleh suaminya dengan alasan sedang menggarap karya berikutnya. Hal ini menggiring saya melihat nafsu dan seni menjadi kabur. Ditambah dengan percakapan-percakapan dalam diri kakak ipar Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal.

Pada bagian Pohon Kembang Api, cerita pun berpindah dari sudut pandang kakak Yeong Hye yang mengalami perceraian akibat ulah suaminya dan harus mendatangi adiknya di rumah sakit tiap waktu. Dari seluruh rangkaian kejadian yang menerpanya dia pun masih kekeh menjadi vegan, Yeong Hye semakin mengurus. Dia bahkan mulai menolak makan, terlihat seperti anak-anak dan bercita-cita menjadi pohon. Pohon katanya tidak butuh makan, dia hanya butuh matahari untuk berfotosintesis. Dia pun bertingkah bak pohon. Pada bagian ini saya memikirkan hipotesis: orang dewasa terlalu banyak makan, makanya jadi jahat dan memiliki nafsu besar pada banyak hal. Anak kecil malas makan, makanya selalu bahagia.

Kak, aku berdiri dengan tanganku, daun tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku. Aku menancap ke dalam tanah. Tanpa henti, tanpa henti. Uh, bunga ingin merekah dari selangkanganku sehingga aku harus melebarkan kakiku, mengangkang lebar-lebar…


Jika berharap untuk mendapatkan tubuh ideal dari buku ini dengan menjadi vegetarian, maka kita telah melakukan kesalahan. Han Kang kemungkinan besar tidak menulis buku ini untuk menjadi sebuah panduan hidup menjadi vegan karena di buku ini seorang vegan sungguh menderita. Belakangan Yeong Hye mengidap skizofrenia dan anoreksia. Buku ini malah menjadi pengingat bagi saya untuk tidak makan berlebihan. Bukannya apa, Jared Diamond pun lebih dulu telah menjelaskannya melalui paparan data yang dia kerjakan bertahun-tahun dan beberapa orang-orang di sekeliling saya mengidap penyakit NCD hingga meninggal. Singkatnya, makan daging dengan berlebihan dan pola makan tidak teratur itu akan menyiksamu dan perlahan membunuhmu.

Menjelajah Di Tanah Lada

Menjelajah di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Foto: Jumardan Muhammad

Apakah kamu pernah melihat kedua orang tuamu bertengkar? Atau kalian pernah menonton adegan pertengkaran antara ayah dan ibu di sinetron yang ditayangkan televisi? Pertengkaran berupa saling mengata-ngatai, kemudian berlanjut —ayah menampar ibu dan ibu kemudian menangis tersedu. Lalu kamu sebagai anak tidak tahu harus berbuat apa. Takut kepada ayah dan kasihan melihat ibu.

Itulah yang dialami Ava, anak perempuan 6 tahun. Nama lengkapnya Salva, mamanya yang menamai. Tapi ayahnya berkeras menamainya Saliva yang artinya liur karena katanya dia tidak berguna. Tokoh Ava hadir dalam sebuah novel karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie (semoga saya tidak salah menuliskan namanya) berjudul Di Tanah Lada. Ava punya kamus, pemberian kakeknya, Kakek Kia. Dia selalu membawanya ke mana-mana. Sebagai anak kecil yang belum paham banyak kata-kata, kamus bahasa Indonesia tersebut adalah penyelamatnya. Kakek Kia meninggal di awal novel dan ini merupakan pengantar untuk memasuki cerita. Ava, ayah, dan ibunya harus pindah rumah ke Rusun Nero. Ayahnya yang memaksa, agar bisa bermain judi dengan leluasa. Di sana Ava berkenalan dengan P, anak laki-laki yang ia cap sebagai anak pengamen karena selalu membawa gitar dengan pakaiannya yang lusuh, padahal P bukan anak pengamen, dia hanya selalu membawa gitar dan berjalan berkeliling sebab dia tidak boleh pulang sebelum jam 7 malam. P berumur 10 tahun, tinggal bersama ayahnya.
Buku dengan ilustrasi anak kecil di sampul depannya yang digambar sendiri oleh penulisnya adalah pemenang kedua sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Buku ini dipinjam teman kostan saya dari katakerja. Karena di a sedang keluar kota dan novel ini ditinggal di kamarnya, maka jadilah saya membacanya. Saya yang telah membaca Puya ke Puya penasaran saja kenapa bisa Di Tanah Lada keluar sebagai pemenang kedua.
Selama saya hidup, Di Tanah Lada adalah buku keempat yang habis saya baca dalam sekali duduk. Saya adalah tipe pembaca yang malas. Buku-buku tipis kadang saya baca hingga dua minggu. Sementara yang tebal-tebal bisa sampai dua bulanan. Apa yang membuat saya mampu ‘menjelajah’ Di Tanah Lada dalam separuh malam adalah karena dia bercerita dari sudut pandang anak kecil, perempuan pula. Menggunakan sudut pandang anak perempuan dalam bertutur memang selalu menarik. Imajinasinya liar, percakapan-percakapannya lucu, menggemaskan, tak jarang menohok, penarikan kesimpulannya membuat logika orang dewasa kadang terputarbalikkan. Seperti kesimpulan Ava tentang kopi, bahwa dia tidak pernah minum kopi, tapi takut dengan minuman itu. “Soalnya, warnanya hitam. Kalau warna hitam, biasanya jahat,” katanya. Ava membeberkan isi kepalanya secara rinci, termasuk pembacaannya terhadap kata-kata yang ia temukan di kamus. Ava dan P si anak pengamen yang bukan anak pengamen di pertengahan cerita mencoba melakukan perjalanan menuju rumah Nenek Isma. Rencana disusun rapi sekali, tidak ada ketakutan. Padahal perjalanannya yang akan ditempuh cukup jauh. Tanah lada adalah hasil imajinasi Ava tentang sebuah tempat dimana dia akan tumbuh bersama kebahagiaan.
Kalau aku membuat kamus, aku akan memasukkan ini di dalamnya :

Tanah [kb.] : (1) permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali (2) keadaan bumi di suatu tempat; (3) permukaan bumi yang diberi batas; (4) daratan; (5) permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara.

–Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

Dalam perjalanan menuju  rumah Nenek Isma, P yang sebelumnya diberi nama Pepper oleh Ava —karena Pepper berarti lada dan lada katanya menghangatkan, seperti Ava yang merasa hangat ketika bersama P berencana untuk ganti nama lagi, mereka mencari nama dan menemukan Patibrata Praharsa yang berarti sehidup semati dalam keadaan bahagia. Dan dalam perjalanan inilah si penulis dengan tega membunuh tokoh utama. Ava dan P menceburkan diri ke laut, dengan harapan menuju bintang di mana di sana katanya ada kebahagiaan dan kedamaian. Sebab laut kata Ava adalah akhir dari perjalanan semua bintang yang selama ini mendengarkan harapan P. Jika mereka telah berada di bintang, mereka juga berharap bereinkarnasi menjadi macam-macam, yang jelas berpasangan. Entah itu menjadi sepasang penguin, ayam betina dan ayam jantan, hingga lada dan garam.
*
Yang membuat Ava dan P akrab adalah permasalahan yang dihadapi Ava dan P memang pada dasarnya sama, mereka merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Kedekatan mereka terjalin dengan sangat alami, ala anak-anak. Penulis yang merupakan dara kelahiran Bandar Lampung 1993 mengangkat isu penting yang saya rasa akan laku sepanjang masa. Ava bosan melihat pertengkaran papa dan mamanya. Dia sering dipukul sisir oleh papanya, belum lagi lontaran kata-kata kasar.
“Itu anak didikanmu! Dari kecil sudah jadi jalang!” bentak papa Ava ke mamanya ketika melihat Ava dan P dalam kamar.
P pun mengalami kekerasan oleh papanya yang ternyata bukan papanya, berupa penyetrikaan di tangan kanannya. Dia juga tidak tahu mamanya siapa dan ada di mana. Jadilah mereka pesimistik dalam menjalani hidup di usia belia. Ada tekanan psikologis yang sangat berat menerpa mereka. Saya kemudian dibuat marah oleh papa dan mama Ava, juga orang tua P yang menjadikan keduanya korban. 

Menjelajah di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jika kamu membaca ulasan-ulasan tentang buku ini di goodreads, banyak hal yang orang pertanyakan di sana, sampai kenapa Ava bisa sejenius itu, kenapa pemikirannya sampai segitu, hal-hal apa yang membuatnya seperti itu. Namun untuk kontra-kontra semacam itu, saya rasa Ziggy sudah punya jawaban di halaman 197.

“Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. —Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.”

Buku ini memang merupakan buku pinjaman. Sebentar lagi dikembalikan. Tapi setelah saya membuat tulisan ini saya akan ke toko buku untuk membelinya. Di Tanah Lada harus ada di rak buku saya, setidaknya kelak dapat menjadi pengingat bagi saya agar tidak menjadi papa yang jahat. Ala!


***

Menjelajah di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie


Judul : Di Tanah Lada  | Penulis : Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit : Agustus 2015 
Jumlah Halaman : 244 | ISBN : 978-602-03-1896-7


*** Tayang di revius 22 Januari 2016 http://revi.us/menjelajah-di-tanah-lada/


Menjadi Kekinian di Novel Akhir Abad 19

Remy Sylado

Kenapa banyak judul foto pakai bahasa Inggris?” kekasih saya menceritakan pertanyaan seorang kurator dalam pameran foto yang dia ikuti. Kiranya pertanyaan ini menohok, sebab, apa iya kosakata bahasa Indonesia terbatas?


Seorang Remy Silado dalam novelnya Malaikat Lereng Tidar (lagi-lagi) membuktikan bahwa kosakata bahasa Indonesia tidaklah terbatas. Jika anda kehabisan kata untuk menyebut “sesudah itu, kemudian daripada itu” ada dua padanan kata yang tidak kalah keren dan digunakan dalam novel setebal 544 halaman. Pemilik nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong makin menobatkan dirinya sebagai munsyi di Malaikat Lereng Tidar (selanjutnya disingkat menjadi MLT), ada banyak suku dengan bahasa berbeda dalam novel ini. Selain menobatkan diri sebagai munsyi di MLT, penulis kelahiran Makassar ini juga menunjukkan kualitasnya sebagai mantan wartawan. Novel ini adalah novel fiksi sejarah yang dilengkapi banyak catatan kaki yang rata-rata rujukannya berkisar pada abad 18, 19, dan 20.

Apalah saya jika harus mengulas tentang seorang Remy Sylado.

Selama 10 ramadan saya menghabiskan novel ini. Percayalah ini adalah novel tebal pertama tercepat yang saya habiskan. Latar belakang waktu dalam ceritanya berada pada akhir abad 19 dan awal abad 20 masih terasa kekinian. Ada beberapa hal yang ternyata tidak berubah dalam kurun waktu 100 tahun di Indonesia.
  1. Kisah cinta jarak jauh. Bahwasanya hubungan sepasang muda mudi secara jarak jauh atau yang lebih hits dengan nama LDR sudah ada sejak perang dunia I berlangsung. Bersyukurlah anak muda zaman sekarang. Walaupun terpisah oleh ruang, jarak, dan waktu mereka masih dapat berhubungan, melalui personal message yang kian hari kian canggih kian intim, dengan fasilitasvideo call. Bayangkan dalam Malaikat Lereng Tidar, ada seorang laki-laki berumur 17 tahun, bernama Jez, meninggalkan Manado menuju Magelang karena ingin menjadi marsose, korps khusus ketentaraan Belanda. Berharap pulang untuk memperistrikan kembang desa di kampungnya. Namun apa daya, Jez terjebak oleh pandangan pertama dengan anak perempuan si empunya kedai minum di daerah tempat dia menempuh pendidikan. Sebulan sebelum keberangkatannya berperang di Aceh dia menikahi wanita tersebut, namanya Mirah. Setelah itu, Jez dan Mirah harus merasakan siksanya menjalani kisah cinta jarak jauh, tanpa telepon, apalagi Line, Whatsapp, dan BBM. Jez hanya bisa mengirim surat singkat yang baru tiba dua bulan kemudian. Pulang-pulang, Jez telah punya anak, namun sayang harus meninggal karena konflik yang membuat saya mengumpat setengah mati ketika membaca novel ini. Barangkali ceritanya harus dibikin pelik supaya cinta yang sejati memiliki arti istimewa bagi anak cucunya kelak.
  1. Aparat korup. Di halaman 430, Remy Sylado menulis puisi 4 baris : polisi bisa jadi sahabat barangkali/jika polisi tidak diperhamba uang/tapi polisi menjadi musuh masyarakat/ketika polisi bisa dibeli oleh uang. Usahlah kita membincangkan hal ini. Karena tivi-tivi kita sudah saban hari membincangkannya, walaupun tidak secara langsung, tapi penonton dapat menilai dengan baik, maka usahlah kita bercuap-cuap disini. Pening.
Jika kamu pernah membaca Namaku Mata Hari, novel pendahulu Malaikat Lereng Tidar, maka kamu tidak akan heran dengan pertemuan Jez dan suami Mata hari, Rudolph John McLeod. Sebab Namaku Mata Hari dan Malaikat Lereng Tidar memang berada pada zaman yang sama. Betapa hebatnya Remy Sylado. Tiap bab MLT ada puisi empat baris yang awalan katanya diambil dari akhiran kata tiap bab dan ujung kata baris pertama selalu menggunakan kata ‘barangkali’. Oiya, MLT pun disajikan dengan sangat filmis.

Alhasil, Rp 108.000,-mu tak kan sia-sia ketika membeli MLT. Di dalamnya memuat banyak pengetahuan dan fakta sejarah yang dikemas dalam kisah cinta. Remy Sylado benar, sebelum buku ini menjadi wujud, sudah ada biaya yang keluar lumayan ramai, yaitu ketika fiksi mesti dibangun dengan serangkaian riset.