Melancong ke 4 Negara

“Dan, jadi sudah berapa negara yang kamu datangi? Empat ya?” Syarif suatu waktu di obrolan ngidul.
Akhir 2016 saya harus pulang dari Kediri ke Makassar hanya untuk membuat paspor. Seleksi pertukaran pemuda yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dimulai di mana salah satu syarat utamanya adalah paspor.
Ketika pengumuman keluar, nama saya tidak tertera. Jadilah paspor pertama saya itu harus menganggur selama hampir 2 tahun sebelum digunakan. Saya beruntung karena dua dari empat negara yang saya kunjungi dalam kurun waktu dua tahun ini dibayarkan oleh kantor.
Iya, outing ke kantor membuat saya bisa jalan-jalan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Mari kita lihat negara-negara apa saja yang saya kunjungi.

Bangkok, Thailand

Perjalanan dimulai sesudah saya merayakan hari ulang tahun ke-26 tiga hari sebelumnya. Kami bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Dong Muang pada pagi-pagi sekali. Penerbangan pertama.
Saya tidak percaya untuk perjalanan ini karena seluruhnya ditanggung kantor. Jika kamu bekerja di biro periklanan, beberapa akan memberikanmu kesempatan untuk jalan-jalan setiap tahunnya. Ke luar negeri jika anggarannya mencukupi 😆
Seluruh perjalanan 4 malam 3 hari itu sudah diatur oleh biro perjalanan yang mengurusi kami sehingga kami hanya perlu mengikuti ke mana rombongan berjalan. Bagi saya yang baru pertama kali ke luar negeri, saya mengikut saja.
Bangkok, dalam perjalanan pertama saya menjejakkan kaki, adalah negara yang beda tipis dengan Indonesia. Semuanya masih berantakan, hanya saja tempat-tempat wisata yang kami kunjungi lebih teratur.
Di Bangkok banyak sekali turis Indonesia sampai-sampai di beberapa tempat wisata ada yang memajang harga dalam rupiah.

Hong Kong

Setahun berselang, masih dari kantor yang sama, saya berangkat ke Hong Kong. Saya tidak tahu harus menuliskan Hong Kong sebagai negara apa. Secara administrasi, negara ini termasuk ke dalam negara Republik Rakyat Cina (RRC).
Namun, keberadaan tempat ini dibatasi oleh batas-batas negara sehingga warga RRC yang mau masuk ke Hong Kong tetap memerlukan paspor dan kartu identitas lainnya.
Berbeda dari Bangkok, Hong Kok sangat teratur dan rapi. Tidak ada puntung rokok di jalan dan tidak ada orang yang merokok di sembarang tempat. Kota ini dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit berupa apartemen.
Mereka tidak tumbuh ke samping, tapi ke atas.
Satu hal yang membedakan outing ke Bangkok dengan ke Hong Kong adalah kami diberi satu hari bebas tanpa agenda dari biro perjalanan sehingga setiap karyawan yang berangkat bebas mengeksplor Hong Kong.
Beberapa dari kami ada yang ke Disneyland. Konon, tidak lengkap perjalanan ke Hong Kong jika tidak ke tempat wisata tersohor se antero Bumi ini. Sayangnya, saya tidak tertarik.
Saya memilih keluyuran naik MTR (mereka menyebutnya begitu, berbeda dengan di Jakarta di mana kita menyebutnya MRT) ke kawasan-kawasan apartemen yang tersohor. Hasilnya, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan melihat warga lokal hidup.

Johor Bahru-Kuala Lumpur, Malaysia

Sebelum jadwal libur lebaran dimulai, saya telah meninggalkan kantor terlebih dahulu. Saya mengambil cuti 2 hari sebelum libur. Saya telah mengantongi tiket ke Johor Bahru, Malaysia dua minggu sebelumnya.
Awalnya saya dan Ade berniat untuk pulang kampung ke Makassar, tapi harga tiket pesawat yang tidak masuk akal membuat kami memilih ke luar negeri. Iya, harga tiket pesawat pergi pulang Jakarta – Makassar seharga dengan biaya perjalanan kami selama seminggu di Malaysia.
Di Malaysia kami berkeliling di berbagai kota seperti Johor Bahru, Malaka, dan Kuala Lumpur. Menyenangkan sekali melihat kebudayaan baru dan benar-benar berbeda dengan kita, apalagi Malaysia tumbuh sedemikian pesat sehingga diprediksi mereka akan berganti status menjadi negara maju beberapa tahun lagi.
Oiya, karena perjalanan kali ini berbeda dari perjalanan sebelumnya yang diatur sepenuhnya oleh kantor, maka kami harus mengatur sendiri perjalanan ini—termasuk anggarannya.
Kami lebih banyak mengemper dan menggunakan transportasi termurah daripada bermahal-mahalan. Perjalanan ini dimulai pada 10 ramadan terakhir dan berakhir sehari sebelum lebaran tiba.

Singapura

Di sela-sela perjalanan selama di Malaysia, kami menyempatkan melipir ke Singapura sehari penuh dan berhasil.
Singapura adalah negara maju dan mereka sangat manusiawi dan teratur. Asri sekali karena banyak pepohonan dan menyenangkan sekali karena di setiap bangunan mereka punya tempat untuk nongkrong dan makan-makan.
Persoalan makanan inilah yang menjadi penggerak kami berkeliling di Singapura: dari jalan kaki, naik MRT, hingga menumpang bus-bus kecil. Oiya, kami tidak menginap di negara ini karena anggaran yang tidak mencukupi. Mungkin suatu saat.
Paspor saya akan kadaluarsa pada 2022. Saya berharap masih akan ada banyak negara yang akan saya lihat. Melancong ke negeri orang membuat saya belajar banyak hal; memberikan saya berbagai sudut pandang dan cerita-cerita menarik. Kamu?
***

Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 2)

jalan-jalan-ke-malaysia

“Butuh 15 tahun untuk mengelilingi dunia. Saya butuh satu setengah tahun lagi,” ujar Christianus kepada kami semua.

Di ruang makan dan berkumpul Double K Hostel pagi itu ada 5 lima orang: saya, Ade, seorang perempuan paruh baya turis Jepang, seorang laki-laki gondrong turis Korea, dan Christianus, seorang Belanda yang menikah dengan perempuan asal Bogor.

Kami menghabiskan sarapan sambil ngalor ngidul. Kebanyakan percakapan didominasi oleh Christianus yang berkisah mengenai perjalanannya keliling dunia.
Si turis Jepang baru saja memulai perjalanannya. Malaysia negara pertama yang dia kunjungi, sedangkan si turis Korea sedang dalam perjalanan. Dia akan ke Kalimantan setelah dari Johor Bahru. Sementara Ade dan saya meneruskan rencana untuk ke Singapura.

JB Sentral ke Woodland

Ade dan saya pamit kepada mereka sesaat jarum jam menunjukkan angka 9. Kami akan menyeberang dari JB Sentral ke Woodland dan menghabiskan satu hari di Negeri Singa.

Kamu harus tahu ini!

Kami membeli tiket kereta api di JB Sentral seharga 17 ribu rupiah dan menyeberang ke Singapura. Perjalanan melintas batas negara ini cuma 5 menit, tepat 5 menit. Yang lama justru mengantri di imigrasi Singapura; sejam kurang lebih.

Tujuan pertama kami adalah Bugis Street, tapi sebelumnya kami harus membeli dulu tiket Tourist Pass agar perjalanan naik MRT dan busnya lebih gampang dan murah.

Singapura itu negara yang manuasiawi, menurut saya. Akses ke transportasi umum sangat mudah, kota di tata sedemikian rupa. Negara maju ini meski punya banyak bangunan mewah tapi juga punya banyak taman dan tanah.

Iya, di Jakarta saya kesulitan menemukan taman dan jarang melihat tanah. Seluruhnya ditutupi oleh aspal dan paving block.

Kuliner di Singapura

kuliner-enak-di-singapura

Kami menandaskan Tom Yam dan  Nasi Ayam Mongolia di Bugis Street, berkeliling di kitaran Haji Lane dan Arab Street, lalu singgah di Ramadan Sultan Bazaar di kawasan Masjid Sultan. Kata Ade, “Ini makanan yang paling sesuai di lidah selama jalan.”

Oiya, beberapa hari sebelum berangkat kami maraton Street Food di Netflix. Yang menarik perhatian adalah Putu Piring. Jadilah kami melipir ke Haig Road untuk mencari makanan yang kalau di Makassar namanya Putu Cangkir.

kuliner-enak-di-malaysia

Baca juga: Kuliner Bugis Makassar

Rasanya gimana? Tekstur Putu Piring jauh lebih lembut dibanding Putu Cangkir, tapi saya lebih suka Putu Cangkir, barangkali karena saya adalah orang yang kasar? Ga ding, saya cuma suka sesuatu yang bisa dikunyah.

kuliner-enak-di-singapura

Diam-diam Ade menyimpan daftar kuliner lainnya sehingga perburuan kuliner pun berlanjut ke Teh Tarik. Lokasinya agak jauh dari Haigh Road dan sialnya saya lupa nama tempat tersebut. Yang jelas, kami dipermudah dengan bus yang kalau di Jakarta namanya Transjakarta.

Satu hal lagi yang membuat negara ini manusiawi adalah adanya Hawker Centre di setiap apartemen dan kompleks tempat tinggal. Menyenangkan sekali melihat orang-orang berkumpul, makan-makan, dan tertawa lebar-lebar.

kuliner-enak-di-singapura

Di Indonesia, Hawker Centre sering disebut pusat kuliner. Tempat seperti ini memang banyak ditemui di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Urbanisasi yang bermula di awal tahun 1950-an menjadi pemicu munculnya spot-spot seperti ini.

Dari Johor Bahru ke Malaka

malaysia-singapura-lewat-woodland

Supaya tiket Tourist Pass kami bisa direfund, kami harus kembali ke Woodland Central sebelum loket tiket tutup jam 9 malam.

Tepat pukul 11.30 malam kami tiba lagi di JB Sentral, kereta Singapura-Malaysia ini tepat waktu sekali.

Malam itu menjadi malam kedua kami mengemper karena sudah tidak lagi memesan penginapan. Sayang, tiket bus kami akan berangkat pukul 10 pagi dari Larkin Sentral ke Malaka. Drama mengemper dimulai saat petugas JB Sentral mengusir semua orang yang duduk di kursi ruang tunggu.

Di JB Sentral tidak ada tempat untuk mengemper.

cara-ke-larkin

Lewat tengah malam kami berjalan ke sebuah minimarket tak jauh dari JB Sentral. Tujuannya untuk mencari tempat yang aman untuk tidur. Hasilnya nihil karena kami hanya malah menyantap popmie.

Setelah popmie tandas, kami berpindah ke laundry 24 jam yang berada di lantai bawah Double K Hostel. Sayangnya, di tempat tersebut ada tulisan besar-besar dilarang tidur.

Akhirnya, kami memutuskan menyeberang ke terminal Larkin yang memang posisinya tidak jauh. Lewat pukul 3 pagi barulah kami saya bisa tidur nyenyak.

Ade mengigil karena AC ruang tunggu terminal memang dingin sekali dan dia mengganggu saya: mengeluh kedinginan.

Pukul 10 pagi menjadi waktu yang paling kami tunggu. Perjalanan ke Malaka akan dimulai! Sialnya, tiket yang kami terima salah tanggal. Tiket tersebut harusnya berlaku sehari sebelumnya. Setelah komplain sana sini, jadilah kami harus membeli tiket baru.

Dua Hari di Malaka

destinasi-wisata-di-malaka

Jleb! Orang-orang sedang salat jumat ketika kami tiba di Malaka. Saya lupa hari.

Sesudah menyelesaikan urusan check-in, kami langsung tidur dan bangun sebelum maghrib.

Saya jatuh cinta dengan kota ini sesaat menyaksikan langitnya berubah jadi gelap. Kami melintas di jembatan yang dibangun puluhan tahun silam dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Di sekeliling kami bangunan-bangunan tua berdiri kokoh dengan anggunnya.

destinasi-wisata-di-malaka

Kami menuju Jonker Street atas petunjuk resepsionis. Di sana memanjang pasar malam dengan rupa-rupa makanan. Sayup-sayup lagu Mandarin mengalun berebut ruang dengan sorak sorai penjual, tukang becak, dan perbincangan para turis dengan berbagai bahasa berbeda.

Jonker Street ini ternyata punya dua wajah, siang dan malam hari. Di siang hari bangunan-bangunan tua yang ada membuka diri menjual berbagai macam jualan dan malam hari bangunan tersebut akan tutup dan digantikan dengan lapak-lapak di depannya.

Butuh sekira 3 jam untuk menyusuri jalan ini.

destinasi-wisata-di-malaka

Keesokan harinya kami menjelajah bagian lagi dari Malaka. Bangunan-bangunan peninggalan Portugis, Belanda, dan para ‘tamu’ dari negara lain yang sempat tinggal di kota yang masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO.

Sejak kecil saya punya satu ingatan paling membekas tentang Malaka yakni nama seorang pelaut Portugis, Alfonso de Albuquerque.  Ingatan ini masuk melalui pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah.

Malaka selama lebih dari 500 tahun menjadi kota pertukaran budaya dan perdagangan antara orang-orang dari Timur dan Barat. Tempat lain yang punya hubungan erat dengan Malaka adalah Banda Naira di Indonesia.

oleh-oleh-kuala-lumpur

Di satu toko di Jonker Street saya menemukan tumpukan biji kopi, kayu manis, dan berbagai rempah lainnya yang dibungkus kecil-kecil sebagai suvenir. Dahulu barang-barang ini menjadi rebutan berbagai bangsa, sekarang dijajakan sebagai buah tangan.

Baca juga: Makan dan Belanja di Thailand

Di kota kecil ini pula akulturasi budaya terjadi: daya tarik yang membuat saya untuk memutuskan menghabiskan dua hari di Malaka.

Kuala Lumpur ke Jakarta

cara-ke-bandara-dari-kl-sentral

Harga tiket menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pulang ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Kota pertama yang kami singgahi sebelum benar-benar sampai di Kuala Lumpur adalah Putrajaya.

Kota yang berdiri pada 1995 ini membuat saya terkagum-kagum. Bayangkan, di siang hari sewaktu kami menumpang bus dari terminal Putrajaya ke pusat kota, jalanan benar-benar sepi.

ke-putrajaya

Hanya ada satu dua orang berjalan di daerah yang penuh bangunan besar dengan desain artistik, futuristik, sekaligus menawan. Angin berembus pelan dengan daun-daun kering berguguran di tanah.

Seperti menonton film-film Sci-fi.

Malaysia tidak main-main dalam membangun pusat administrasi negaranya.

Sesudah salat ashar di Masjid Putra kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan tiba di Jalan Alor untuk makan malam.

kuliner-di-jalan-alor

Ini kali pertama saya ke Kuala Lumpur, sedangkan Ade menjadikan perjalanan ini sebagai kali kedua kedatangannya. Sambil menikmati makan malam di tengah kerumunan turis dan di bawah gerimis di pusat street food Malaysia, kami kebingungan mencari penginapan.

penginapan-murah-di-kuala-lumpur

Pagi-pagi sesudah check-out di hotel—yang menjadi penginapan terburuk sepanjang perjalanan kami—hujan turun dengan derasnya. Kami menunggu beberapa jenak sebelum Grab yang akan mengantar kami ke KL Sentral datang.

Pengemudinya seorang pria paruh baya dengan perawakan tambun. Dia berbicara dengan semangat sekali, menjawab, dan menjelaskan secara panjang lebar.

Kami diturunkan tepat di depan pintu masuk KL Sentral dan bergegas mencari loket tiket ke Genting—yang sayangnya harus batal karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk ke lokasi wisata tersebut.

The-Zhongshan-Building

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Hasilnya, kami keliling-keliling di dalam kota saja, terutama di The Zhongshan Building dan di kawasan Pasar Seni Kuala Lumpur. Baru pada pukul 10 malam kami menumpang bus Aerobus (alternatif termurah dari Kuala Lumpur ke Bandara KLIA 2).

Kami mengemper lagi di bandara KLIA 2 sebelum menuju Jakarta pukul 8 pagi. Kami tiba di Jakarta pukul 11 siang tanggal 4 Juni 2019. Perjalanan ini pun tepat seminggu.

***

Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 1)


“Ini sudah mau mudik ya?”

Belum sempat saya menjawab, pria berlogat Sunda yang mengantarkan saya dan Ade ke terminal 2 Bandara Soekarno Hatta lalu menimpali pertanyaannya, “Wah, enak sekali! Anak online mah belum bisa mudik secepat ini.”
Naik Grab adalah alternatif kedua yang kami pilih setelah mempertimbangkan macet dari Blok M ke bandara. Padahal awalnya kami sudah duduk manis di Damri karena sudah dijanji oleh petugas yang berjaga bahwa busnya akan tepat waktu.

Sayang, busnya baru akan jalan jam 6 sore sementara pesawat kami ke Johro Bahru boarding terakhir jam 7.15 WIB.

“Takutnya tidak kekejar. Macet di pintu tol Semanggi,” ujar sopirnya.

Jadilah kami terpaksa menumpang Grab dengan harga yang kelewat mahal karena memang jam pulang kantor.

Drama selanjutnya yang terjadi sebelum kami boarding adalah Tea Tree The Body Shop berukuran 250ml yang sudah jelas-jelas tidak akan dibiarkan masuk kabin. Kami memutar arah ke loket penyimpanan bagasi.
Sialnya, saya lupa kalau tiket pesawat Air Asia yang saya beli dua minggu sebelumnya ternyata tidak dengan bagasi. Cairan pencuci muka tersebut akhir saya pindahkan setengahnya ke botol plastik untuk Ade simpan di dalam tasnya.
Sampai di sini aman. Perjalanan dari Jakarta ke Johor Bahru menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam pun kami tempuh.

Menginap di Musala Bandara Senai

“Ada mak di sana,” tunjuk resepsionis yang Ade tanyai sesampainya di Bandara Internasional Senai jelang pukul 12 malam. Kami kelaparan dan semua toko yang ada di dalam bandara sudah tutup.

Aroma rumput basah menyeruak di halaman bandara. Terasa embun turun satu per satu. Ada tiga mobil sedan yang mengantre di depan pintu. Kami menyeberang dan menuju lampu merah kuning berbentuk huruf M yang menyala.
Mak yang dimaksud ternyata McDonalds. Logat Melayu campur Inggris ini kemudian membuat kami pusing selama 6 hari 7 malam di Negeri Jiran.
Oiya, malam pertama kami tidur di musala bandara. Orang sana menyebutnya surau. Sayangnya, kami tidak tahu jika musala di Malaysia selalu punya ruangan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Pantas saja semua mata tertuju pada kami saat tidur di musala yang baru pada pagi harinya kami tahu kalau itu musala khusus laki-laki.

Jalan Kaki di Johor Bahru

Baru setelah toko-toko sudah buka, tempat makan melayani para pelanggan, dan jarum jam menunjuk pukul 8 pagi kami menuju ke konter bus untuk membeli tiket menuju kota Johor Bahru. Jarak bandara dan pusat kota tepatnya JB Sentral (ini terminal bus dan kereta api) sekisar 40 menit.

Saya sebenarnya tidak punya itinerari selama di Malaysia. Barulah saat tiba di JB Sentral saya dan Ade menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama di kota ini dan ke mana kita setelahnya.
Toh, tiket pulang juga belum dibeli.

Jadilah saya memanfaatkan Google Maps dalam versi offline untuk mengunjungi rekomendasi places to visit in Johor Bahru. Apa saja? Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Salahuddin Bakery

Dari JB Sentral kami jalan kaki ke Salahuddin Bakery: toko roti yang awalnya saya kira merupakan toko roti tertua di Johor Bahru. Jaraknya sekira 1,5 kilometer.

Selama perjalanan kami menyinggahi beberapa konter hape untuk membandingkan harga sim card. Saya menyerah tidak punya paket data internet.
Oiya, ini tips buat kamu yang akan berkunjung ke Malaysia lewat Johor Bahru. Belilah kartu di bandara dengan logo Digi, letaknya di belakang booth informasi beberapa langkah dari konter bus.
Harganya 20RM untuk 9GB. Kalau beli di kota harganya 10RM untuk 1,5GB. Tidak masuk akal kan? Tapi itulah kenyataannya. Awalnya kami pikir 20RM dengan paket 9GB itu mahal dan harga bandara biasanya memang mahal kan?

Kali ini sebaliknya.

Daerah di sekitar Salahuddin Bakery itu membuat ingatan saya melayang ke berbagai film-film holywood dengan setting 80-90an. Bangunan-bangunan pendek dengan jalanan yang sedikit mendaki. Tempat makan yang riuh oleh orang-orang yang mengobrol.
Salahuddin Bakery berada di sebelah kanan pertigaan Jalan Dhoby, Bandar Johor Bahru. Papan namanya sudah usang dan cat yang mulai pudar sehingga hampir saja kami melewatkannya.
Selain roti-roti handmade yang fresh from the oven membentang di hadapan, di kiri kanan dindingnya juga berjejer foto-foto dan berbagai macam publikasi surat kabar tentang toko roti yang dibangun oleh seorang berperawakan India.

Sama dengan namanya, toko roti ini didirikan oleh Salahuddin yang merantau dari New Delhi ke Malaysia pada tahun 1925. Soal rasa, roti-roti Salahuddin bukan kaleng-kaleng. Iyalah, roti kan beda dengan kaleng. Maksud saya, bahan-bahan yang digunakan tidak membuat kita merasa seolah makan tepung.

Arulmigu Raja Mariamman Devasthanam

Dari Salahuddin Bakery kami kembali menyusuri jalanan yang sama; balik badan menuju Arulmigu Rajamariamman Devasthanam.

Agak ribet menyebut namanya, intinya ini adalah kuil Hindu tertua di Johor. Jika tadi orang-orang di sepanjang jalan Dhoby mayoritas dipenuhi oleh orang-orang Tionghoa, maka orang-orang di sekeliliing kuil tersebut kebanyakan orang India.

Matahari tepat di ubun-ubun saat kami tiba. Bau dupa menyeruak di udara. Sebelah kami, tepatnya depan kuil berjejer penjual bunga dan di seberangnya warung makan dan penjual dupa memenuhi jalan.

“Masuk buka kasut!” seorang satpam menegur kami yang terlihat kebingungan mondar mandir di depan kuil.

Kami melepas sepatu. Saya memakai sarung dan Ade bergegas mencuci kaki. Syarat untuk masuk ke Arulmigu Rajamariamman Devasthanam ini memang mewajibkan pengunjung untuk mencuci kaki.

Oh, tips berkunjung di kuil ini yakni pastikan juga kamu tidak bercelana pendek seperti saya. Kalau iya, ada sarung yang disediakan.

Kuil ini bagus sekali. Sekeliling dindingnya dipenuhi oleh gambar dewa-dewa agama Hindu yang berwarna-warni. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun karena sudah ada sejak 1911. Di salah satu sudut, kuil ini punya sederet nama yang telah berpartisipasi untuk menyumbangkan uang demi kelangsungan kuil ini.

Sewaktu kami berkunjung, kuil ini sedang dalam tahap renovasi. Tepat jam 12 siang sebuah terompet ditiup sebagai pertanda bahwa sebuah acara akan dimulai. Jika tidak salah, mereka sedang sembahyang. Ada 7 pria dewasa yang berperan pada acara tersebut.

Masjid India & Tan Hiok Nee

Dari kuil, kami ke masjid dengan menempuh jalan yang searah dengan Salahuddin Bakery. Barangkali begini rasanya jalan tanpa menentukan destinasi terlebih dahulu. Buolak balik!

JB Sentral dan tempat-tempat yang kami kunjungi ini berada di tengah kota Johor Bahru sehingga masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Setelah jalan sekira 500 meter kami tiba di Masjid India.

Omong-omong, masjid ini sebenarnya bukan tujuan kami karena yang kami tuju adalah istana raja. Rasa penasaran dengan tulisan raksasa “Masjid India” membuat kami singgah. Kok ya namanya Masjid India?

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Banyaknya orang-orang muslim di daerah Johor Bahru membuat masjid ini berdiri pada awal 1950. Lokasinya benar-benar strategis karena berada di kawasan pertokoan, bangunan kerajaan, hotel, bank, hingga kantor pos.

Di sampingnya memanjang Jalan Tan Hiok Nee. Kawasan bersejarah di mana peradaban Johor Bahru dimulai. Jalan ini pun tidak sengaja kami temukan saat mengarah ke istana raja. Jika kamu menyukai bangunan-bangunan tua, maka jangan pernah melewatkan jalan ini saat berkunjung ke Johor. Di malam hari dia berubah wajah menjadi pasar malam.

Oiya, sejarah Johor Bahru ini bermula ketika Sultan Johor waktu itu mengundang orang-orang dari Cina untuk berjualan dan bertani lada hitam dan gambir di daerah ini pada 1870-an. Hal ini juga dipicu oleh banjir dahsyat yang terjadi di Cina waktu itu.

Yang wajib kamu tahu, Johor Bahru dulunya bernama Tanjung Puteri dan berganti nama pada 1855. Kerajaan Melayu ini tidak punya apa-apa selain hanya sebagai kampung nelayan dan berada dalam jajahan Inggris untuk waktu yang lama.

Di mesum warisan Tionghoa Johor Bahru yang kami singgahi di Jalan Tan Hiok Nee menceritakan sejarah ini dengan sangat lengkap. Di satu dinding mereka memajang lini masa perjalanan Johor Bahru sebagai sebuah kota.

Di Jalan Tan Hiok Nee berjejer toko-toko tua yang menjual kain, barang-barang sembako, serta yang paling penting makanan. Iya, di jalan ini ada banyak warung makan yang bisa kamu singgahi. Di jalan ini juga ada sebuah toko roti yang lebih tua dari Salahuddin Bakery.

Baca juga: Kopi Kong Djie

Namanya Hiap Joo Bakery. Saya tidak singah di toko roti ini karena alasan malas mengantri. Saya lebih tertarik untuk mencicipi kopi di warung makan yang ada di depannya.

Double K Hostel

“Ada 4 istana raja di Johor Bahru. Yang itu tutup untuk umum,” sopir Grab menjelaskan kemalangan kami yang hanya bisa memandangi istana raja dari pinggir jalan.

Kami menuju Double K Hostel. Panas terik dan jalanan yang sepi membuat kami memutuskan ke penginapan. Double K Hostel ini terletak di daerah Larkin, agak jauh dari JB Sentral. Kalau naik Grab akan menghabiskan 11RM.

Oiya, hostel ini merupakan salah satu penginapan murah di Johor Bahru yang kami pesan beberapa jam sebelum check in. Kalau dirupiahkan, harganya cuma 152 ribu per malam dengan fasilitas Wifi dan sarapan. Untuk kamar mandinya pakai sistem sharing alias kamar mandi luar.

Tapi tenang saja, bersih kok. Yang menarik, kami bertemu dengan 3 orang turis yang berasal dari Belanda, Jepang, dan Korea. Kamu tau apa tujuan mereka? Keliling dunia di usianya yang tidak lagi muda.

(bersambung ke bagian 2)

***

Hengkang ke Hong Kong

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Saya sedang memikirkan diksi yang tepat untuk menjelaskan proses ibu menyusui dengan menggunakan kata yang lebih sederhana ketika menemukan frasa Hengkang ke Hong Kong.

Beberapa hari sebelumnya saya terlibat rapat panitia persiapan jalan-jalan ke Hong Kong. Seorang kawan bertanya ke orang-orang yang hadir, “Kira-kira tema yang tepat apaan ya?”

Dia mengajukan pertanyaan ini sambil menatap saya.

Saya salah tingkah. Saya kewalahan jika harus ditodong seperti ini. Saya butuh waktu untuk berpikir dan jawabannya jelas tidak akan didapati di ruang tersebut.

Sesudah “Hengkang ke Hong Kong” disepakati, desain baju kaos pun dibuat, plakat dirancang, dan agen-agen perjalanan berlomba mengajukan penawaran.

Tepat tanggal 4 April 2019 kami berkumpul di terminal 2D Bandara Soekarno Hatta pukul 06.00 WIB.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Mendarat di Bandara dan ke Ladies Market

Perjalanan ke Hong Kong ditempuh selama kurang lebih 5 jam. Perjalanan ini merupakan penerbangan pertama saya yang terlama.
Beruntung pesawat yang kami tumpangi adalah Chathay Pacific; maskapai penerbangan yang berpusat di Hong Kong.

Di pesawat saya diselamatkan oleh layar kecil di hadapan saya yang mempunyai beragam akses hiburan, mulai dari nonton film dan serial, dengar podcast dan musik, hingga melihat ke depan pesawat melalui akses kamera depan yang ditayangkan.

Baca juga: Bukan 3, tapi 4 Podcast Indonesia Ini yang Belakangan Saya Dengarkan

Oiya, kami juga disuguhi makanan berat, makanan ringan, hingga rupa-rupa minuman.

Sesudah pesawat mendarat, kami menuju tempat makan siang. Lokasinya berada di dalam bandara dan statusnya di dalam mall. Bingung kan?

Iya, bandara ini punya mall. Di sinilah drama-drama Hong Kong terjadi untuk pertama kalinya. Meski ada banyak makanan yang tampak enak tersaji di meja, namun hampir seluruhnya hambar.

Keluar dari bandara saya terperangah dengan apa yang ada di sekeliling bandara internasional ini. Sejauh mata memandang, hanya ada gunung dan apartemen. Pun sepanjang perjalanan menuju Ladies Market.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Keterkejutan saya berlanjut sesampainya di destinasi wisata pertama Hengkang ke Hongkong ini. Ada banyak manusia dengan penampakan yang berbeda berjalan cepat-cepat, tertib menyeberang, serta gedung-gedung berplang bahasa Mandarin dan bahasa Inggris.

Ladies Market ini tampak seperti pasar dadakan terdiri dari lapak-lapak beratap terpal dengan barang jualan yang beragam mulai dari gantungan kunci, kaos, patung, hingga perintilan-perintilan gadget; kecuali makanan.

Nah, untuk makanan sendiri ada banyak street food yang berlokasi di pinggir jalan yang terpisah dari Ladies Market. Kami berkeliling hingga maghrib menjelang di daerah ini sebelum bertolak ke Holiday Inn Express Kowloon East.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Sebelum ke Garden of Stars

Sesampainya di kamar saya membereskan barang, mandi, mengganti pakaian, mengecas baterai kamera, dan merebahkan badan. Sambil mengecek foto di hape, saya kepikiran, “Masa’ iya saya langsung tidur? Padahal masih jam 9.”

Hotel tempat kami menginap terhubung dengan mall dan stasiun MTR (di Jakarta sebutannya MRT). Maka dari itu, saya kepikiran untuk mengeksplornya. Bersama seorang kawan saya mengelilingi mall dan tanpa sengaja berakhir di luarnya.

Kami berjalan sejauh 3 kilometer untuk mencari Starbucks terdekat, namun berhenti di McDonalds. Saya lagi-lagi terperangah dengan suasana malam di kawasan tersebut.

Hanya ada 1 atau 2 mobil yang melintas. Udara terasa dingin. Beberapa berjalan dengan anjingnya, beberapa berjalan menunduk ke smartphone, sisanya terengah-engah sambil berlari. Sementara lampu jalan dengan cahaya kuning berkedip-kedip.

Situasi ini seperti pemandangan di film-film.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Paginya saya terbangun dengan kaki yang berat karena jalan kaki. Kamu tahu? Untuk urusan jalan kaki, orang Hong Kong salah satu yang terkuat.

Kalau kata teman saya, “Badan orang di sini ramping-ramping, betisnya persis talas Bogor.”

Pagi-pagi sekali di restoran hotel tempat kami menginap sudah terdapat berbagai macam makanan dan minuman untuk sarapan.

Sayangnya, banyak teman yang kemudian mengeluh karena, lagi-lagi, makanannya hambar.

Begitulah, orang Hong Kong tampaknya tidak memanfaatkan dengan baik rempah-rempah.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Sebelum melanjutkan perjalanan hari kedua di daerah jajahan Inggris ini, kami mengambil satu ruangan untuk workshop. Setelahnya, barulah kami beranjak ke Garden of Stars.

Jangan mengaku ke Hong Kong kalau belum pernah ke sini!” ujar pemandu kami.

Sayangnya, saya tidak menghabiskan banyak waktu di tempat ini karena mengejar salat Jumat yang kemudian mempertemukan saya dengan banyak orang Indonesia lainnya yang berprofesi sebagai tenaga kerja Indonesia di Hong Kong.

Di depan Kowloon Mosque ada banyak perempuan Indonesia yang berjualan rupa-rupa makanan Indonesia, mulai dari nasi pecel, sate, ayam geprek, hingga bakwan. Hampir semuanya berjilbab dan berbicara dengan medok Jawa.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Waktu Senggang

Di hari ketiga Hengkang ke Hong Kong kami diberikan satu hari waktu senggang. Saya dan seorang kawan membeli one day pass tiket MTR seharga 65 HKD.

Oiya, nilai tukar rupiah waktu itu untuk 1 HKD sama dengan 1830 rupiah.

Seusai sarapan kami menumpang MTR dengan tujuan stasiun Quarry Bay. Dari sana kami berjalan kaki sekira 10 menit untuk sampai di Yik Cheong Building; sebuah apartemen yang tampak monstrous bagi saya.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Posisinya di kelilingi oleh gunung-gunung sehingga untuk mencapai bangunan ini kami harus melalui jalanan yang menanjak.

Suasana di sekeliling terasa hangat.

Para lansia berjalan dengan anjing yang menuntunnya, sekerumun orang mengantri di penjual daging, trem yang melintas, lampu lalu lintas yang berbunyi ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

Oiya, tentang kesukaan warga Hong Kong memelihara anjing ini sebenarnya bukan tanpa sebab. Bagi banyak warga sana, memiliki anak terbilang cukup merepotkan. Soalnya, untuk melahirkan seorang anak dibutuhkan surat izin dari pemerintah.

Surat inilah yang harus diperlihatkan sebelum melahirkan. Tanpa surat izin kamu tidak akan mendapatkan bantuan medis untuk melahirkan. Begitu penjelasan dari pemandu kami.

Di kanan jalan menuju Yik Cheong Building, cericip serangga musim panas terdengar seperti di film Doraemon atau Sinchan. Matahari terik menyiram namun udara tetap sejuk.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki, saya selalu bertanya-tanya.

Bagaimana bisa manusia-manusia ini tinggal di bangunan menjulang seperti ini?

Faktanya, kota ini memang dirancang sebagai kota modern yang berkiblat ke barat, namun dengan tampilan budaya timur. Hal ini bermula dari kerja sama Cina dan Inggris di akhir tahun 1600.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Di zaman dinasti Qing tersebut Inggris menyukai semua hal yang dipunyai oleh Cina mulai dari porselen, sutra, hingga teh herbal. Untuk semua barang-barang tersebut, Inggris siap membayarnya dengan perak.

Seiring waktu perak yang dimiliki Inggris habis dan harus diganti dengan opium. Alat tukar inilah yang memicu perang antara Inggris dan Cina yang berakhir pada penyerahan pulau Hong Kong kepada Inggris pada tahun 1842.

Dengan cepat Inggris kemudian membuat garis batas dengan penduduk lokal Cina sehingga terdapat pembangunan yang berbeda di kedua daerah seperti penggunaan nama-nama jalan, pengoperasian trem, serta penggunaan bus tingkat dua yang mirip dengan bus di London.

Seluruh hal-hal tersebut bisa kamu saksikan di Hong Kong hari ini.

Jalan-jalan-ke-Hong-Kong

Pulang ke Jakarta

Saya mendatangi beberapa tempat wisata di Hong Kong, mencicipi makanan-makanan yang hambar, serta membaur di antara turis-turis dari berbagai belahan dunia.

Di hari Minggu siang kami meninggalkan hotel menuju bandara untuk kemudian pulang ke Jakarta. Hong Kong memberikan pengalaman baru sekaligus memanggil kembali untuk datang.

***

3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 2)

3 Hari 2 Malam di Bali

Perjalanan 3 Hari 2 Malam di Bali berlanjut, gengs.

“Kamu tidak mau baca WhatsApp? Ada yang nyariin tuh,” pesan seorang kawan masuk.

Rencana-rencana untuk berkeliling di daerah Nusa Dua dan Tanjung Benoa ternyata harus tandas karena tenggat kerjaan. “Sialan!” gerutu saya dalam hati.
Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 1)

Sesaat setelah mengantar Ade ke Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC)—lokasi konferensi yang diikutinya—saya kembali ke hotel, menyalakan laptop, dan menekurinya hingga lewat tengah hari. Sembari menyelesaikan satu postingan di blog lengkap dengan grafis-grafisnya, saya juga mengerjakan dua tulisan untuk kerjaan kantor.

Hari Kedua, Nasi Campur Bali di McD

3 Hari 2 Malam di Bali

“Itu maag!” sergah Ade.

Saya diam dan tetap makan. Sesekali saya berhenti, melahapnya lagi, dan benar-benar berhenti sebelum ayam tersebut habis. Saya tidak sanggup menahan sakit perut dan memilih berbaring.
“Sial, sakit perut ini lagi. Saya janji tidak lagi telat makan.”

Percakapan ini terjadi di McD yang letaknya tepat di sudut gerbang masuk Universitas Udayana. Saya melahap ayam goreng spicy dan Ade menikmati nasi campur Bali yang saya beli seharga 5000 rupiah.

Waktu itu hari sudah sore saat Ade meminta untuk dijemput. Saya yang tengah menyusuri Jalan Pratama mencari makan siang harus menjadikan nasi campur Bali sebagai pilihan terakhir.

Di pinggir jalan yang sepi, saya berhenti menghampiri sebuah jualan dengan bungkusan-bungkusan daun pisang. Ada 2 orang laki-laki dewasa yang sedang bercerita di bale-bale. Sementara seorang perempuan paruh baya memberesi sesuatu yang tidak saya ketahui. Posisinya membelakang.

Bungkusan daun pisang tersebut ternyata berisi nasi campur. Saya membelinya satu.

3 Hari 2 Malam di Bali

Drama berakhir sakit perut dan nasi campur Bali di McD selesai—perjalanan menuju GWK dilanjutkan. Hari semakin gelap ketika kami memasuki gerbang Universitas Udayana. Motor terus menanjak. Dari kejauhan, sebuah patung raksasa dengan sorot lampu kuning mulai tampak.

Semakin dekat, patung tersebut semakin besar dan menakutkan. Langit yang gelap benar-benar menyempurnakan ketakutan Ade saat kami tiba di gerbang masuk kawasan GWK. Hasilnya, hari kedua untuk perjalanan 3 hari 2 malam di Bali harus kami akhiri. Kami memutar dan pulang ke hotel.

Eh, tapi sebelumnya kami mampir dulu di gala dinner yang diadakan oleh penyelenggara konferensi yang diikuti Ade. Menikmati makan malam sambil menyaksikan pertunjukan tari-tarian dari berbagai daerah di Indonesia.

Hari Ketiga ke Garuda Wisnu Kencana

Balas dendam untuk menyaksikan Patung (GWK) dari dekat terbayarkan di hari ketiga di Bali. Tepat jam 12 siang saya check out dari Hotel Amaris. Membawa sebuah ransel saya ke lokasi konferensi Ade di BNDCC untuk makan siang gratis 😂

Ini demi menghemat anggaran belanja rumah tangga selama liburan, gengs.

Tidak tahu mau kemana, saya mencari warung kopi terdekat yang punya WiFi. Pilihan saya pun jatuh ke Sendok Coffee Shop, tak jauh dari gerbang Nusa Dua. Saya memesan Long Black Coffee ditambah Cheesecake. Alasannya? Lagi promo sahaja. Hehe

Baca juga: 2 Warung Kopi di 2 Kota Berbeda

Sesaat sebelum jarum jam menunjuk angka 4, saya kembali ke BNDCC untuk menjemput Ade. Kami menuju GWK dan menghabiskan waktu untuk berkeliling.

Kawasan wisata ini kini telah jauh berubah sejak saya mengunjunginya 10 tahun lalu. Ya iyalah 😒Patung GWK yang digadang-gadang masuk ke dalam patung tertinggi kedua di dunia mengalahkan Patung Liberty di Amerika Serikat kini telah berdiri gagah.

Oiya, jika ingin melihat dari dekat Patung GWK, ada bus yang siap mengantarmu setiap 20 menit sekali sebab lokasinya berada agak jauh dari taman budaya.

Apabila kamu punya keinginan untuk berfoto dengan latar belakang patung tertinggi di dunia, maka berangkatlah GWK dan tidak usah jauh-jauh ke Negeri Paman Sam sana. Sisa ongkosnya yang lumayan itu bisa kamu gunakan ke tempat-tempat indah lainnya di Indonesia, iya gak?

Saat hari benar-benar gelap, saya memacu motor ke Kuta—mendekat ke bandara. Pesawat kami pukul 10 malam. Tapi sebelum ke bandara, kami menyinggahi tempat makan untuk makan malam.

Tempat itu tidak ramai, letaknya berada di Jalan Raya Pantai Kuta. Ketika tiba, di depan ada dua orang perempuan bule yang tengah menikmati burger dengan kentang goreng. Kami memesan mie goreng dan kentang goreng. Rasanya? Lumayan.

Setelah semuanya tandas, kami pun benar-benar menuju bandara.

***

3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 1)

3 hari 2 malam di Bali

Hai!

Selama 3 hari 2 malam di Bali, Ade dan saya melakukan beberapa hal.
Rasa-rasanya kami baru saja terlelap hingga kemudian alarm di telepon genggam berbunyi tepat pada pukul 2 dini hari. Saya terbangun, namun tidak langsung membangunkan Ade. Barang belum sepenuhnya dikemas dan saya biarkan saja begitu hingga tepat pukul 3.

Memanaskan air, menyiapkan mangkok dan gelas, menyeduh susu, serta membuat sereal. Pesawat kami akan berangkat pukul 4.30 pagi ke Bali dan kami sebaiknya mengisi perut lebih dahulu. Pukul 3 saya membangunkan Ade dan memastikan bahwa barang-barang telah benar-benar dikemas.

Waktunya benar-benar tepat. 10 tahun kemudian saya kembali mengunjungi Bali. Terakhir kali adalah pada awal tahun 2008 seusai menjadi pasukan pengibar bendera pusaka di Kabupaten Wajo 6 bulan sebelumnya.

Hari Pertama di Bali, Motor Rental yang Menyelamatkan

3 hari 2 malam di Bali

“100 ribu saja untuk sampai ke sana, pak. Di sini ojek online dilarang masuk. Busnya juga tidak tentu kapan datangnya,” seorang pria berkulit sawo matang dengan celana bahan berkemeja batik menawari kami jasanya.

“Ke Sanur kan?” dia melanjutkan.
Kami diam-diam saja. Pasalnya setelah mengecek tarif GoCar, harga yang tertera tanya 52 ribu untuk alamat yang kami tuju. Ade masih bersikeras untuk jalan kaki ke gerbang, sementara saya masih rela menunggui bus Sarbagita datang.

Liburan murah ke Bali gini amat ya? 😅

Oiya, di Bali bus Damri dinamai bus Sarbagita. Tepat seperti ramalan bapak tadi, bus ini benar-benar tidak diketahui waktu kedatangannya. Beberapa petugas bandara yang ditanyai hanya mengatakan, “Tunggu di sana saja,” sambil menunjuk arah-arah yang kemudian diperjelas dengan papan penanda.
Menghabiskan dua roti yang saya makan beruda dengan Ade tampaknya malah membuat kami ingin makan makanan berat. Jarum jam menunjukkan angka 9, tepat sejam kami mondar mandir di bandara Ngurah Rai.
Akhirnya, Ade dan saya memutuskan untuk jalan kaki hingga ke gerbang.
Kami berjalan keluar dengan masing-masing ransel. Ade menggendong tas laptop dan saya memanggul tas pakaian. Langit benar-benar bersahabat, tak ada matahari yang tampak. Di depan tulisan besar I Gusti Ngurah Rai, saya menawarinya untuk berfoto namun ditanggapi dengan muka masam.
Sekira pukul 9.20 kami tiba di gerbang dan saya tiba-tiba teringat video Windy Ariestanty yang menyewa motor di Bali. Tidak butuh waktu lama, saya sudah terhubung dengan Whatsapp si empunya jasa rental motor di Bali.

Baca juga: Where to Rent a Motorbike in Bali? Here is The Answer

Sambil menunggui balasannya, kami memutuskan untuk melalui lorong yang tepat berada di sebelah kiri saya, Jalan Elang namanya.
Rupa-rupa aroma kemenyan Bali menyeruak, ini masih pagi dan orang-orang baru saja selesai berdoa. Sesekali kami berpapasan dengan pengendara motor atau beriringan dengan anak sekolahan dengan langkah-langkah cepat.

3 hari 2 malam di Bali

“Silakan isi dulu format di bawah ini,” lewat setengah sepuluh saya menerima balasan. Seusai mengirimi semua dokumen dan data yang dibutuhkan, saya menerima pesan untuk bersabar menunggu.
“Bilang, kami menunggu di depan TKK Soverdi Tuban, Jalan Kompleks Burung Nomor 46,” kata Ade.
Tepat pukul 10. Dua orang dengan dua motor pun datang. Kami bersalaman, salah satunya memintai KTP mengeluarkan nota pembayaran.

Oh, jasa rental motor di Bali yang satu ini tidak meminta KTP atau apapun itu untuk jaminan. Hanya dimintai pembayaran langsung uang sejumlah Rp. 180.000,- untuk sewa motor 3 hari 2 malam selama di Bali. Bahkan uang segitu sudah termasuk asuransi. Jadi, jika terjadi apa-apa pada motor, kamu tidak usah membayar atau mengganti apapun. Menarik bukan?

“Luar biasa, cuma modal kepercayaan,” Ade terheran-heran.

Pindah Kantor di Rumah Sanur

Seusai mendapatkan motor, kami menyetel Google Maps dan berangkat ke Rumah Sanur.

Perjalanan selama kurang lebih 15 menit itu menyenangkan. Angin berhembus pelan, matahari pun tidak terik hampir mendung. Kami tiba dan memesan nasi goreng bumbu Bali, mie goreng, jus jeruk, serta kopi.

3 hari 2 malam di Bali

3 hari 2 malam di Bali

Cuti di kantor yang saya ambil secara tiba-tiba memang tidak diniatkan untuk liburan. Jadilah saya kembali harus bekerja hingga sore.

Tepat pukul 16.30 kami berpindah ke Pantai Kuta. Tapi di perjalanan, secara tidak sengaja melintas di depan Krisna—toko oleh-oleh Bali yang tersohor itu.

“Beli oleh-oleh saja dulu, mumpung lagi lewat. Ada beberapa titipan teman,” Ade menepuk pundak.

“Oh, begitu. Ya sudah, saya juga mau beli kopi kalau ada.”

Selesai mengurus pembayaran, kembali kami buru-buru ke motor dan saya kembali tancap gas. Kami harus mengejar matahari terbenam di Pantai Kuta.

3 hari 2 malam di Bali

Terkagum-kagum dengan suasana Jalan Raya Pantai Kuta setelah 10 tahun tidak ke sini membuat saya melambatkan motor. Beberapa kali matahari mencoba tampak, cahayanya mengenai wajah lalu hilang terhalang bangunan-bangunan.

“Duduk di sana bagaimana?” tawar Ade sambil menunjuk kursi kososng.

“Yang itu kita harus beli minum di situ. Di sana saja,” balas saya sambil berlalu. Saya merogoh plastik dari Krisna, mengambil selembar sarung Bali pesanan seorang kawan dan menggelarnya di pasir.

Ade tertawa berusaha protes.

“Tidak apa-apa. Pasir tidak akan menempel. Pasirnya bersih. Duduk di sini,” saya kembali merogoh kresek mencari kacang untuk dicamil.

3 hari 2 malam di Bali

3 hari 2 malam di Bali

Matahari sebenarnya telah tertelan cakrawala. Sementara yang tersisa hanya pendar-pendar kuning di luas langit biru. Seperti matahari yang ditelan cakrawala, percakapan-percakapan pun demikian—kami tertelan oleh diam menyaksikan petang yang datang.

Makan Malam dan Nginap Dimana di Kuta?

“Eh, cari makan sebelum ke hotel. Makan di mana ya?” tanya saya.

Ade merogoh hape, memijat layar, “Di sini, tidak jauh.”

“Oke, jalan kaki saja.”

Perjalanan kami tak mulus, tempat makan yang dituju menyediakan makanan tidak halal dan kami ragu. Malam semakin beranjak, beberapa kali berhenti di tempat makan lokal, kami malah menjatuhkan pilihan di Yoshinoya 😀

“Kamu kan belum pernah coba. Jadi, makan ini saja.”

“Ya sudah, pilihkan saja menunya,” saya menyerah, kecapean.

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 2)

Jika tidak salah ingat, duh ingatan saya lemah. Sialnya, tidak ada catatan. Sekira pukul 10 malam kami meninggalkan Kuta. Kami tidak menginap di daerah sana, melainkan di Nusa Dua. Sejam berkendara dari Kuta.

Tepat pukul 11 malam kami tiba di Hotel Amaris. Selama di Bali, kami akan menghabiskan 3 hari 2 malam di sini. Ada dua alasan memilih Amaris; sarapan pagi yang tersedia serta jarak yang dekat dari lokasi kegiatan Ade.

Seusai mengurus check-in, kami langsung menuju kamar. Lelah dan kantuk mendera. Sayup-sayup sebelum saya benar-benar lelap, Ade mencak-mencak, “Ardan.. Kamu tidak sikat gigi dulu?!”

***

Where To Rent a Motorbike in Kuta? Here is The Answer

Kuta Bali Bike Rental

Are you looking for a Kuta Bali bike rental? Well, we are on the same boat.

It was 8 am when we landed at Ngurah Rai International Airport, Bali. Ade and I were looking around and the spot we went directly was a toilet. We had an early flight from Jakarta to Bali and I thought you knew what happens in a human digestive system in the morning?

Landed at Ngurah Rai International we directly asked an officer where the shuttle bus was located. Having a Damri to the city center was the idea that came up before we went to. You know this the cheapest transportation in Kuta, aite? 😀

The fact is public transportation is not Damri as like as at Jakarta but Sarbagita dan there is no on-time-bus at the airport. So, if you are looking for public transportation at Ngurah Rai then you should not.

Kuta Bali Bike Rental
We spent an hour at the bus stop but they do not come. We had some conversations to some rent drivers and got offers to pay them 100.000 IDR to Sanur. It was so expensive compared to fees GrabCar. Hence, Ade asked me to walk to the airport’s gate and did it.

Renting a Motorbike in Bali

Kuta Bali Bike Rental
I found ads from my colleague’s feed on Instagram about renting a motorbike in Bali. It is called By Tripphoria located in Jalan Kubu Anyar, Badung, Bali. Find it on Instagram and I will share it why I recommend them. Or should I share first?
Arrived at the gate of Ngurah Rai International Airport, I directly sent a message to By Tripphoria of how to order their motorbike. They sent me T&C, I replied by sending them my personal data, hotel reservation, return flight ticket—and boom!
I waited just for 30 minutes, the motorbike came, paid the rent cost for 3 days, and we had already on the road of Bali. Easy peasy, aite?
Kuta Bali Bike Rental
Kuta Bali Bike Rental
You know that I paid just 180.000 IDR for 3 days and visited some places around Kuta, Sanur, Tanjung Benoa, and Nusa Dua. Compared to fees taxi or online car it would be more expensive. That was why we rent a motorbike. Most importantly, you will be able to go everywhere.
This is actually not a sponsored post, it is just the way I share you my unexpected experience found the By Tripphoria.

Of what I shock the most is how to return the motorbike. I sent a message of where I have to return the motorbike and got replied to put parking ticket along with motorbike lock in the baggage and parked it on the parking lot. So, I can go back to Jakarta 😆

It happened and there was no problem. If you need the contact of By Tripphoria just drop them message DM. Here is their Instagram account https://www.instagram.com/bytripphoria/ 

***

Makan & Belanja di Bangkok. Kemana Saja? (Bag.2)

jalan-jalan di bangkok

“Di Bangkok, pengendara motor dan mobil jauh lebih sabar. Anda tidak akan mendengarkan suara klakson di sini,” tutur Om Som ketika kami melintasi kemacetan.

Tepat saja, meskipun kendaraan memanjang dan melambat, tak sekalipun saya mendengar suara klakson—apalagi telolet. Hal ini jelas berbeda dengan Jakarta yang suara klakson kendaraannya bersahut-sahutan.
Suatu kali, saya mencobanya.
Tanpa tedeng aling-aling saya menyebrang jalan tidak di zebra cross. Hasilnya? Tak satu pun pengemudi yang menglaksoni saya 😁
“Wah mantap nih,” batin saya.

Mereka hanya berhenti dan membiarkan saya lewat—tanpa diklaksoni. Catat!

Eh, ini cerita bersambung, ya.

Kamu sudah baca cerita sebelumnya? Yuk, di sini: Makan & Belanja di Bangkok (Bag.1)

Belanja di Thailand? Belanja di Asiatque The Riverfront

Asiatque The Riverfront Bangkok

Asiatque The Riverfront Bangkok

Oiya, lanjut lagi!

Selesai makan malam di Bung Terrace, liburan ke Bangkok diteruskan ke Asiatque The Riverfront. Lokasinya di Charoen Krung Road, Krung Thep Maha Nakhon, Bangkok. Saya sebenarnya juga tak tahu ini di mana 😛
Yang jelas, ada permainan aneh yang dimainkan oleh rombongan sebelum setiap orang diizinkan menjelajah tempat ini.
Nah, jika Chatuchak terlihat seperti pasar tradisional, maka Asiatque tampak menyerupai pasar modern. Jualan di Chatuchak dan Asiatque pun sama. Harganya? Asal kuat nawar saja, bosque.

Places to Visit in Bangkok: Platinum Fashion Mall & Makkasan

liburan di bangkok

Di hari ketiga sekaligus hari terakhir, bangun tidur kuterus mandi. Sudah! Jangan dilanjutkan.
Niatnya sederhana saja, pagi-pagi saya harus berkeliling di kitaran hotel.
Sebelum jarum jam menunjuk angka 7, saya sudah keluar. Tidak ada apa-apa. Hanya jalan layang yang dilintasi mobil sesekali. Maklum, ini hari Minggu.
Saya mengambil arah kanan dan memasuki gang-gang. Bertemu dengan kucing-kucing yang beberapa kali menatap saya keheranan. Beberapa di antaranya sambil menjilati tubuhnya.
I wish I could feed them Wishkas.
belanja di bangkok

belanja di bangkok

Platinum Fashion Mall Bangkok
Kamu bisa baca tulisan di foto di atas ini kan?
Iya, ini Platinum Fashion Mall, Thailand’s Largest Wholesale and Retail Shopping Destination. Kalau di Makassar, ini Pasar Butung. Kalau di Jakarta, ini bisa jadi Tanah Abang.
Saya mengelilingi mall ini, naik turun dari lantai ke lantai. Sekadar menanyakan harga barang, menawar, dan tidak membeli 😁
Thai Tea

Liburan di Bangkok

Lelah dengan semua ini, saya melipir ke luar Platinum Fashion Mall. Tak jauh dari mall tersebut, saya memasuki jalan yang dipenuhi oleh penjual makanan. Saya yang kebingungan harus membeli makanan apa hanya membeli Thai Tea seharga 25 baht, kalau dirupiahkan 10ribuan.
Sumpah! Thai Teanya enak sekali. Iyalah, setengah dari gelas adalah air gula dan susu carnation.
Oiya, saya juga membeli Mango Sticky Rice. Rasanya? Kalah enak dengan yang saya beli di Chatuchak Market.
Liburan di Bangkok

Liburan di Bangkok
Makan siang di daerah Makkasan, tepatnya di Makkasan Coffe Shop, Bangkok Palace Hotel menjadi makan siang terakhir di Thailand sebelum bertolak ke Jakarta sore harinya.
Jika kamu merasa kata Makkasan mirip dengan kata Makassar, maka kamu benar.
Menurut cerita om Som, orang-orang yang pertama kali menduduki daerah ini adalah orang-orang dari Makassar yang berpindah karena tidak mau dijajah oleh Belanda. Saya mengitari daerah ini bersama seorang teman.
Baca cerita lengkapnya di sini: Visiting the Memories at Makkasan Bangkok.
mata uang bangkok
Baht terakhir yang saya belanjakan di bandara Don Mueang sembari menunggu pesawat ke Jakarta. Totalnya 105 baht dan cukup untuk segelas Americano yang kemudian kami minum berlima.
Saya tiba di kosan menjelang pukul 2 dini hari dan waktu itu sudah hari Senin, 26 Maret 2018. Sebelum benar-benar lelap, saya dihinggapi pertanyaan,”Bagaimana lagi cara jalan-jalan gratis ke luar negeri ya?”
***

Makan & Belanja di Bangkok. Kemana Saja? (Bag.1)

Liburan ke Thailand

“Eh, laptop kamu bagaimana? Balik lagi gak?”

Chat dari teman kantor tersebut saya hapus di penerbangan Jakarta – Bangkok. Kebiasaan menghapusi percakapan di aplikasi Private Messenger memang saya pelihara. Pasalnya sederhana saja, saya tidak suka melihat banyak pesan yang menumpuk.
Hari itu Kamis 22 Maret 2018. Saya meninggalkan kantor dua jam sebelum jam kerja berakhir. Tujuan saya mencari makan sekaligus menukar segepok rupiah ke baht. Besoknya, tepat Jumat pagi—kantor membawa semua karyawannya terbang ke Thailand.

Places to Visit in Bangkok: Show DC, Art in Paradise, Chocolate Ville

Show DC Bangkok
Beberapa teman kecewa melihat rak buku di Show DC ini. Kamu tahu sebabnya? Semuanya palsu.
Rupa-rupanya hanya dekorasi.
Art in Paradise Bangkok
Art in Paradise yang terletak di lantai empat Esplanade Shopping Mall, Bangkok ini mengukuhkan pendapat bahwa tujuan seseorang menciptakan sebuah karya seni itu beragam, untuk hiburannya salah satunya. Seluruh lukisan dengan detail yang tinggi di tempat ini sangat interaktif dan diperuntukkan bagi pengunjung yang senang berfoto.

Art in Paradise Bangkok

Sesaat setelah duduk di kursi pesawat, memasang sabuk pengaman, dan mengorek-ngorek tempat majalah—saya tidur. Adegan pesawat lepas landas harus terlewatkan oleh kantuk yang tak tertahankan.

Kamu harus tahu, semalaman saya tidak tidur. Niat hati balik ke kantor sebelum jam kerja usai, apa daya terjebak macet di belantara Kuningan. Jadilah saya pulang ke kosan dan tiba menjelang pukul 10 malam. Menyelesaikan beragam urusan, berkemas, dan tepat pukul 1 dini hari saya ke kantor.

Pukul 2-nya, bersama beberapa teman, saya ke bandara Soekarno Hatta.

Chocolate Ville

Chocolate Ville

Pengumuman berbahasa Thailand dengan pelantang suara di dalam pesawat membangunkan saya. Sesaat lagi pesawat mendarat di bandara Dong Mueang. Perjalanan udara ini menghabiskan waktu sekira 4 jam.

Saya meraih handphone, mengecek jam. Sesaat lagi jam 11 siang. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Setelah beragam urusan di bandara selesai, kami menuju Show DC untuk makan siang. Dan mall ini menjadi mall perdana yang menjadi lokasi kunjungan pertama.

Dari Show DC perjalanan berlanjut ke Art in Paradise di Esplanade Shopping Mall. Kamu tidak usah heran, perjalanan kali ini berpindah dari mall ke mall. Kata om Som, pemandu kami, Bangkok memang merupakan destinasi wisata belanja favorit orang Indonesia.

Sorenya, Chocolate Ville menjadi tujuan berikut. Tempatnya berada di luar kota Bangkok.

Chocolate Ville

Chocolate Ville

Kamu pasti berpikiran bahwa ini adalah kampung coklat dimana orang-orang bisa makan coklat sepuasnya. Oh, tidak ya?

Oke, itu pikiran saya ketika mendengar nama tempat ini.

Areanya tidak terlalu luas tapi dikonsep sedemikian rupa untuk memanjakan orang-orang. Chocolate Ville buka dari jam 4 sore hingga tengah malam. Di sini, kamu bisa menikmati outdoor dinner ala-ala. Ada beberapa angsa yang berenang di kolam-kolam. Setiap sudutnya manis sekali.

Kamu tahu apa yang paling saya sukai dari tempat ini? Yap, toiletnya 😅

Karena keburu pipis, saya mencari toilet. Sesampainya di sana, saya harus keluar masuk untuk memastikan bahwa tempat yang saya masuki adalah toilet. Pasalnya, toilet Chocolate Ville ini serasa kamar hotel berbintang lima.

Menenangkan sekali dengan pengharum ruangan yang membuat saya lupa bahwa kandung kemih saya sudah menggembung.

Makan Malam di Royal Dragon Resto Bangkok

Royal Dragon Resto Bangkok

Royal Dragon Resto Bangkok

Kami tiba di Royal Dragon Resto Bangkok untuk makan malam. Kamu harus tahu, tempat ini meraih Guiness Book of Records sebagai World’s Largest with A Seating Capacity of 5000 and A Staff of 1200 in An Area of 8.35 Acres. Sampai-sampai, para waitress menggunakan sepatu roda untuk mengantarkan makanan.

Saya deg-degan melihat mereka mengantarkan semangkuk sup dengan bersepatu roda.

Saya juga kepikiran, apa iya jika ingin bekerja di sini kita harus mahir bersepatu roda?

Hotel in Bangkok, The Patra Rama 9

Gedung-gedung menjulang dengan jalan layang di sekelilingnya menjadi lanskap yang saya lihat ketika bangun di The Patra Rama 9 Hotel Bangkok.

Tak ada lagi pemandangan dua gunung dengan matahari di atasnya, sawah yang menghijau di sebelah kanannya, serta rumah pak tani di kirinya. Halah!

Places to Visit in Bangkok; Wat Arun & Chatuchak

Sesudah sarapan dan berfoto rombongan, perjalanan ditujukan ke Chao Phraya River.

Tempat ini mengingatkan saya kepada Danau Tempe di Sengkang. Jalur sungai yang ditempuh menggunakan perahu sama saja.

Yang membedakan Chao Phraya dengan Danau Tempe adalah pemandangan di sekelilingnya. Chao Phraya dikelilingi oleh bangunan-bangunan menjulang, sementara Danau Tempe dijejeri rumah panggung.

Baca juga: Menyusur Jalur Sutra Sengkang dan Danau Tempe

Wat Arun

Jika di Magelang ada Candi Borobudur, maka di Bangkok ada Wat Arun, sebuah kawasan candi Buddha. Detail-detail tempelan keramik di bangunan ini cantik sekali.

Karena kami berada di lokasi wisata ini tepat siang hari, saya melihat Wat Arun seperti raksasa yang memicingkan mata mengawasi para wisatawan di bawahnya.

Makan siang di Bangkok hari kedua diadakan di Nouvo City Hotel. Seperti makanan-makanan sebelumnya, lidah saya menjawab tidak tiap kali ditanya, “Bagaimana makanannya? Enak tidak?”

places to visit in bangkok

places to visit in bangkok
“Asyik, dapat snack lagi nih,” ujar saya dalam hati ketika menaiki perahu. Pasalnya, di bagian belakang perahu ada jejeran roti-roti segar. Namun, dugaan saya salah! Roti tersebut dijual seharga 20 baht untuk dikasih makan ke ikan-ikan di sungai. Berharap rejeki selalu lancar.

places to visit in bangkok

places to visit in bangkok

Sekira pukul 3 sore, bus menurunkan kami di Chatuchak. Siapa yang tidak tahu tempat ini?

Awalnya, Chatuchak hanya buka hari Sabtu Minggu. Persis namanya, Chatuchak Weekend Market. Namun kini, pasar dengan area yang sangat luas dengan barang dagangan yang beragam juga buka pada hari Jumat.

Istilah nyasar di pasar tak terelakkan bagi saya yang pertama kali ke tempat ini. Sesaat sebelum meninggalkan Chatuchak saya meniatkan untuk kembali lagi ke tempat ini suatu hari, agar bisa berlama-lama. Amin gak? Amin 💆

mango sticky rice

Chatuchak Weekend Market

Chatuchak Weekend Market

Eh, habis?

Gak! Ceritanya bersambung, gaes! 😃

Yuk, baca lanjutannya di sini: Makan dan Belanja di Bangkok (Bag.2)