Setelah menyeruput kopi susu, mulailah diskusi itu

Diana Mini, #ttymkdsc, #pelukan, Mata Badik Mata Puisi

Semalam saya mengikuti bincang-baca buku @hurufkecil di kafe ininnawa (11/06/12). Dari awal hingga akhir diskusi saya hanya tertarik dengan konsep ruang dan waktu di bugis dan makassar yang mereka paparkan.

“Selalu berpikir tentang masa lalu, seolah-olah yang ideal itu hanyalah masa lalu. Bagaimana dengan masa depan? Apakah kita tidak pernah berpikir tentang masa depan?” Setidaknya begitu sebuah pertanyaan yang tak terjawab (bagi saya) yang muncul malam itu.
Sementara kemarin malam di Graha Pena (10/06/12), Nunding Ram ditestimoninya dalam rangka memperingati 10 tahun yayasan esensi dan launching buku Mata Badik Mata Puisi milik Kiai D. Zawawi Imron mengemukakan bahwa sudah sebuta itukah mata kita akan budaya bugis makasssar? Sehingga tidak bangga akan budaya dan masa lalu kita?

Nenek moyang kita telah melahirkan sebuah karya luar biasa dan terpanjang di dunia, Sureq Lagaligo, bahkan mengalahkan kisah Ramayana dan Mahabrata. Selain itu, jauh sebelum ditemukannya teori demokrasi, orang bugis sudah jauh lebih dulu menerapkannya.
Hingga akhirnya, nampak jelas perbedaan dua generasi yang saling mempertentangkan interpretasi tentang masa lalu dan masa depan. Setidaknya kebanggaan akan masa lalu dapat dijadikan pelejit untuk masa depan yang akan lebih jauh membanggakan, itu saya. Lantas, bagaimana dengan anda?
Selamat datang, Juni!
Saya hanya ingin menuliskan beberapa kalimat dari pekerjaan mendengarkan saya belakangan ini (agar dapat menjadi penyemangat).
Dari pentas Festival Kala Monolog IV 28-30 Mei 2012 di Gedung Societeit De Harmonie :
“Kita bahkan lupa cara menangis yang baik!” Pidato-Putu Fajar Arcana.
Dari pendokumentasian kegiatan Vierra selama di Makassar tanggal 1 Juni 2012, saya sempat menguping kesimpulan percakapan event organizernya tentang cara berhenti merokok, m-e-r-o-k-o-k.
“Gue udah enam bulan berhenti merokok bro, insyaf deh gue!. Caranya gampang, pertama,  ubah mindset lo tentang rokok. Bahwa betapa rokok itu emang beracun, mematikan. Kedua, pelan-pelan aja berhenti, kurangin-kurangin, lama-lama akan berhenti sendiri kok. Kalo berhenti langsung sih, emang gak bakalan bisa tapi kalo pelan-pelan dan emang sudah niat, bakalan bisa kok.”
Dari KELASPAGI HASBULLAH MATHAR tanggal 3 Juni 2012.
“Selamat datang di kelas pagi. Kelas yang tak punya kelas, kelas yang tak punya tempat. Dimana semua tempat adalah kelas.” -BANG IBUL-
“Kesendirian dalam jendela bidik memang, tapi mampu merekam keramaian.” -BANG IBUL-
Dari kegiatan HEALTHY WITH GREEN CAMPUS oleh KompasKampus dan Tupperware tanggal 4-5 Juni 2012 di UIN ALAUDDIN MAKASSAR.
“Jangan takut setan! Bersahabatlah dengan setan tapi jangan tiru kelakuannya.” -DIK DOANK-
“Dinding auditorium ini sangat bersih, mana karya mahasiswanya?!” (menggelitik bagi saya) -DIK DOANK-
“Muda, kita yang jaga kesehatan. Tua, kesehatan yang jaga kita.” -SHAHNAZ HAQUE-
Terima kasih, selamat malam! Project final DKV saya menumpuk. Deadline? Minggu depan mungkin. Ya Rahman!

-Sesuatu Tentang Kertasnya-

Untitled

Duduk menikmati senja dengan sisa jalan yang basah, nikmat bukan?
Sambil menikmati aroma tanah yang tersiram hujan.
Menyeruput moca sambil bicara mimpi.
Kita yang dipertuan mimpi,
Kita berbuat,
dan Tuhan melihat!

Setelah mimpi ini tuntas,
Kita lanjut ke mimpi selanjutnya!

Circle K Losari, 23 April 2012.

Senin

Senin minggu lalu harus kecewa, persiapan sudah matang tapi rencana gagal. Senin ini, rencana juga sudah matang tapi lagi-lagi, harus gagal. Nampaknya, saya tidak berjodoh dengan senin! Oh, maaf. Saya tidak boleh men-judge begitu saja (ada hikmah dibalik gagalnya rencana-rencana senin).
Saat tulisan ini saya ketik, hari masih sore tapi udara panas bikin berkeringat. Kurasa, saya tidak akan menemukan apa-apa hari ini, tapi duduk sambil minum kopi susu kesukaanku membuat saya menemukan tulisan ini dan penulisnya, hebat! Lagi-lagi saya kalah dalam menuliskan sesuatu yang benar.

“Belajarlah pada sudut-sudut pasar tradisional, pada lengangnya tengah malam, pada teduhnya cahaya rembulan atau pada goyangan dedaunan ketika ditiup angin. Bukalah hatimu, kau akan banyak belajar dari itu semua. Orang-orang sukses banyak menemukan kesuksesannya dari sejumput hal-hal kecil yang mampu ia rangkaikan menjadi hal-hal besar.”
(saya menyukai angle ini)

Ma’, saya mencintai Ade

Bulan Desember di akhir tahun 2011. Aku menemukannya kembali Ma’. Bahagia yang tak mampu kutuliskan sebab aku kehilangannya selama tiga tahun. Bukan tanpa sebab, karena itu adalah kesalahanku sendiri, kesalahan terbesar yang kulakukan. Menduakannya dengan perempuan lain. Wajar saja, perempuan mana yang mau dimadu?

Aku menemukannya kembali Ma’. Aku menemukannya saat sedang bersama perempuan yang kusebut kekasih.

Sesaat setelah menghabiskan senja, aku mengantarnya pulang. Diakhir pertemuan itu, aku mengatakan bahwa aku masih sayang dia. Hal yang membuatku terkejut adalah saat dia menjawab bahwa selesaikan dulu apa yang harus saya selesaikan! Beberapa hari setelahnya, kuselesaikanlah apa yang harus kuselesaikan. Memutuskan semua kekasih-kekasihku sebelumnya. Sebab, apa yang kucari, telah aku temukan.

Dia perempuan dengan senyum dan mata yang teduh. Hal yang membuatku selalu nyaman saat bersamanya Ma’. Perempuan dengan semangat yang tak pernah surut saat mencita-citakan sesuatu. Kami selalu saling mendukung satu sama lain. Kadang, dia selalu saja memberikan sesuatu yang bermanfaat pada tiap ketertarikanku. Dia adalah penasihat, pendengar, pengingat, serta penyemangat setelahmu Ma’. Dia perempuan hebat, mampu menjaga dirinya saat saya sedang tidak bersamanya Ma’. Dia senang menulis, membaca, menonton film, mendengar musik, dia juga anak dan cucu yang berbakti Ma’. Dan satu lagi, dia perempuan apa adanya Ma’.

Saya mahasiswa desain dan dia mahasiswi keperawatan. Agak tidak nyambung kedengarannya Ma’. Tapi, kami senang, kami senang berbagi. Dia telah mengajarkan banyak hal tentang hidup Ma’. Olehnya itu, saya selalu merasa kagum dengannya.

Beberapa hari lalu dia “dingin”. Mungkin setelah keseringan membaca blog dari mantan kekasihku. Saya menyebutnya, dia sedang merasa bersalah, menganggap dirinya telah merebut kekasih orang. Ah, percayalah itu memang hanyalah bagian dari alur sebuah kisah cinta. Jalani saja!

Ma’, umurku sudah 20 tahun dan dia yang mendampingiku memasuki 20 tahun itu. Saya sudah harus berpikir dewasa. Menjalani hubungan juga dengan sikap dewasa. Satu hal yang juga Heldi titip ke saya waktu pulang Sengkang. Berhenti bermain perempuan dan jalani hubunganmu dengan serius, jadikan dia yang terakhir! Itu juga doaku saat menutup 20 Maret Ma’ dan setelah kubaca, kau merestuinya. Insya Allah!

Akhir 2011

Akhir 2011 saya tutup di Surabaya dengan hujan.

Apa? Siapa? Dimana? Kenapa? Kapan? Bagaimana? Pertanyaan klasik untuk kalimat di atas.

Bertolak dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tepat di sebuah senja 27 Desember 2011 bersama teman-teman 19 orang Rumah Foto Makassar. Yak, Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia Ke IV. Ajak kumpul bagi mahasiswa Indonesia penggemar fotografi. Pelaksanaannya tiap tahun dan tahun 2012 dilaksanakan di Lombok (Hasil kongres di malam tahun baru). And u know? Pada kongres itu, Lombok harus bersaing ketat dengan Makassar pada voting pemilihan tuan rumah jambore tahun 2012 pemirsa! Kami (Makassar) siap, tapi hasil perhitungan suara masih belum berpihak ke kami. Dan Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia Ke V dilaksanakan di Lombok.

Rundown acaranya, seminar oleh para pakar foto Jawa Timur di gendrenya masing-masing. Dan saya baru tahu bahwa ada genre foto dokumenter. Foto dokumenter itu adalah foto yang ada setelah foto-foto straight news (read: foto jurnalistik). Selain seminar, ada juga hunting foto kota Surabaya, lokasinya berada tepat di Jembatan Merah.

Acara berakhir tepat di sebuah pagi bernama minggu 1 Januari 2012. Dan perjalanan keliling Jawa Timur dilanjutkan ke Malang, Batu dan berakhir di hunting Gunung Bromo bersama teman-teman UKM Panorama Universitas Islam Malang.

Hari-hari yang indah di Jawa Timur dihabiskan di hari selasa. Dan bandara Juanda adalah saksi kepulangan kami Rumah Foto Makassar. Pesan dari perjalanan akhir tahun ini adalah motretlah dengan menggunakan mode P pada kamera. Dan itu yang membuat kami, masih selalu bertanya-tanya tentang fungsi dari kamera DSLR.

FOTO BERSAMA RUMAH FOTO MAKASSAR DENGAN ERIC IRENG
FOTO BERSAMA RUMAH FOTO MAKASSAR DENGAN PANITIA JMFI Ke IV