Biarkan Mereka Terbang

“Tapi mohon diingat, di tengah-tengah anak yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu belajar Matematika secara tuntas. Ada calon musisi yang nilai Biologinya tidak terlalu akan berarti. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentu ilmunya bisa jadi bukan dari sekolah ini,” Darno Yusuf Mulyono, S.PdI.
Saya secara tidak sengaja menemukan surat ini di Twitter saat usia kehamilan Ade sudah 12 minggu. Pikiran saya pun melayang ke hal-hal menyenangkan tentang membesarkan dan menghidupi seorang anak.
Surat tersebut ditulis oleh seorang kepala sekolah SD Islam Al Bina Masohi di Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku kepada para orang tua peserta didik Kelas 6 yang anaknya telah selesai melaksanakan ujian sekolah.
Lebih lanjut, Pak Darno menulis seperti ini, “Sekiranya anak bapak/ibu lulus menjadi yang terbaik, maka hebatlah dia. Tapi jika tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.”

Mungkin hal terlalu klise, tapi saya hampir saja menitikkan air mata membaca surat ini. Soalnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah selama 9 tahun, saya merasakan betul apa yang dirasakan anak-anak setelah melihat nilai mereka.
Barangkali kamu. Iya kan? 😒
Kurasa kita hidup di negara dengan sistem pendidikan yang tidak baik di mana pintar atau tidaknya seorang anak diukur dari nilai-nilai ujian mereka di sekolah. Ketika seorang anak gagal, orang tua dengan sangat sadar akan memperlakukan mereka dengan tidak semestinya.
Pun dengan masyarakat sekitar. Anggap saja teman orang tua kita yang dengan seenaknya bertanya, “Ardan ranking berapa?”
Oh, saya merasakan ini berkali-kali setiap ujian selesai. Betapa tidak mengenakkannya karena beberapa kali saya tidak masuk 10 besar rangking kelas. Saya selalu kewalahan dengan mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia kalau boleh jujur.
Tapi untuk pelajaran Bahasa Indonesia saya bisa bertepuk dada. Pencapaian tertinggi saya adalah didaulat sebagai perwakilan Kabupaten Wajo untuk lomba mengarang di tingkat Provinsi se-Sulawesi-Selatan sewaktu duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Hal itu juga barangkali yang menjadi alasan kamu bisa membaca blog ini.

Hari ini saya masih selalu bertanya-tanya kepada beberapa teman sekolah saya, “Kamu menggunakan semua pelajaran-pelajaran di sekolah dulu untuk apa di kehidupanmu yang sekarang?”
Kebanyakan menjawab tidak ada. Lihat? Barangkali kita hanya menghabiskan waktu selama 9 tahun untuk berangkat ke sekolah dengan seragam, menghafal pelajaran-pelajaran, dan mempelajari sesuatu yang tidak kita ada artinya.

Betapa waktu tersebut sia-sia. Apalagi di usia-usia sekolah menjadi waktu terbaik bagi orang tua untuk merajutkan anak-anak mereka sebuah sayap dan mengajarkan mereka untuk terbang.

Sistem pendidikan kita hanya mengajarkan semua hal tanpa membuat kita tahu apa yang sebaiknya kita lakukan dan menjadi apa kita di masa depan. Buktinya, seberapa banyak lulusan universitas yang bekerja tidak sesuai bidangnya? Kurasa ini juga yang memicu munculnya Life Quarter Crisis.

Life Quarter Crisis: perasaaan sedih, bingung, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan, tak termotivasi, kebingungan, serta ketakutan terhadap kegagalan.

Sementara jikalau saja kita dipersiapkan untuk menghadapi dunia dengan berbagai kompleksitasnya, maka Life Quarter Crisis tidak akan terjadi. Saya mengingat Rhenald Kasali yang pernah bilang, “Tugas orang tua adalah untuk mengajarkan anak-anaknya untuk hidup.”
Bukan menuntut anak-anak berada di peringkat pertama di kelasnya selama 9 tahun. Toh, semua pelajaran-pelajaran tersebut akan menjadi tidak berarti saat mereka dewasa.
Seteah 9 tahun lulus dari SMA saya juga sering bertanya-tanya ke teman sekolah saya, “Di mana si A sekarang? Dia mengerjakan apa saat ini?”

Sialnya, beberapa kali saya mendapatkan jawaban tidak mengenakkan bahwa hingga saat ini mereka belum lulus dari universitas.

“Lah? Bukannya mereka dulu mereka selalu masuk rangking 3 besar di sekolah? Bukannya mereka selalu menjadi yang terbaik saat pelajaran Matematika?”

Begitulah kura-kura. Oh, saya mengingat bagian akhir surat dari sebuah sekolah di Maluku tersebut yang bunyinya begini;

“Lihatlah anak bapak/ibu akan menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai yang rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon berhentilah berpikir bahwa hanya dokter, insinyur, pegawai negeri, atau polisi dan tentara yang bahagia di dunia ini.”

***

Melancong ke 4 Negara

“Dan, jadi sudah berapa negara yang kamu datangi? Empat ya?” Syarif suatu waktu di obrolan ngidul.
Akhir 2016 saya harus pulang dari Kediri ke Makassar hanya untuk membuat paspor. Seleksi pertukaran pemuda yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dimulai di mana salah satu syarat utamanya adalah paspor.
Ketika pengumuman keluar, nama saya tidak tertera. Jadilah paspor pertama saya itu harus menganggur selama hampir 2 tahun sebelum digunakan. Saya beruntung karena dua dari empat negara yang saya kunjungi dalam kurun waktu dua tahun ini dibayarkan oleh kantor.
Iya, outing ke kantor membuat saya bisa jalan-jalan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Mari kita lihat negara-negara apa saja yang saya kunjungi.

Bangkok, Thailand

Perjalanan dimulai sesudah saya merayakan hari ulang tahun ke-26 tiga hari sebelumnya. Kami bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Dong Muang pada pagi-pagi sekali. Penerbangan pertama.
Saya tidak percaya untuk perjalanan ini karena seluruhnya ditanggung kantor. Jika kamu bekerja di biro periklanan, beberapa akan memberikanmu kesempatan untuk jalan-jalan setiap tahunnya. Ke luar negeri jika anggarannya mencukupi 😆
Seluruh perjalanan 4 malam 3 hari itu sudah diatur oleh biro perjalanan yang mengurusi kami sehingga kami hanya perlu mengikuti ke mana rombongan berjalan. Bagi saya yang baru pertama kali ke luar negeri, saya mengikut saja.
Bangkok, dalam perjalanan pertama saya menjejakkan kaki, adalah negara yang beda tipis dengan Indonesia. Semuanya masih berantakan, hanya saja tempat-tempat wisata yang kami kunjungi lebih teratur.
Di Bangkok banyak sekali turis Indonesia sampai-sampai di beberapa tempat wisata ada yang memajang harga dalam rupiah.

Hong Kong

Setahun berselang, masih dari kantor yang sama, saya berangkat ke Hong Kong. Saya tidak tahu harus menuliskan Hong Kong sebagai negara apa. Secara administrasi, negara ini termasuk ke dalam negara Republik Rakyat Cina (RRC).
Namun, keberadaan tempat ini dibatasi oleh batas-batas negara sehingga warga RRC yang mau masuk ke Hong Kong tetap memerlukan paspor dan kartu identitas lainnya.
Berbeda dari Bangkok, Hong Kok sangat teratur dan rapi. Tidak ada puntung rokok di jalan dan tidak ada orang yang merokok di sembarang tempat. Kota ini dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit berupa apartemen.
Mereka tidak tumbuh ke samping, tapi ke atas.
Satu hal yang membedakan outing ke Bangkok dengan ke Hong Kong adalah kami diberi satu hari bebas tanpa agenda dari biro perjalanan sehingga setiap karyawan yang berangkat bebas mengeksplor Hong Kong.
Beberapa dari kami ada yang ke Disneyland. Konon, tidak lengkap perjalanan ke Hong Kong jika tidak ke tempat wisata tersohor se antero Bumi ini. Sayangnya, saya tidak tertarik.
Saya memilih keluyuran naik MTR (mereka menyebutnya begitu, berbeda dengan di Jakarta di mana kita menyebutnya MRT) ke kawasan-kawasan apartemen yang tersohor. Hasilnya, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan melihat warga lokal hidup.

Johor Bahru-Kuala Lumpur, Malaysia

Sebelum jadwal libur lebaran dimulai, saya telah meninggalkan kantor terlebih dahulu. Saya mengambil cuti 2 hari sebelum libur. Saya telah mengantongi tiket ke Johor Bahru, Malaysia dua minggu sebelumnya.
Awalnya saya dan Ade berniat untuk pulang kampung ke Makassar, tapi harga tiket pesawat yang tidak masuk akal membuat kami memilih ke luar negeri. Iya, harga tiket pesawat pergi pulang Jakarta – Makassar seharga dengan biaya perjalanan kami selama seminggu di Malaysia.
Di Malaysia kami berkeliling di berbagai kota seperti Johor Bahru, Malaka, dan Kuala Lumpur. Menyenangkan sekali melihat kebudayaan baru dan benar-benar berbeda dengan kita, apalagi Malaysia tumbuh sedemikian pesat sehingga diprediksi mereka akan berganti status menjadi negara maju beberapa tahun lagi.
Oiya, karena perjalanan kali ini berbeda dari perjalanan sebelumnya yang diatur sepenuhnya oleh kantor, maka kami harus mengatur sendiri perjalanan ini—termasuk anggarannya.
Kami lebih banyak mengemper dan menggunakan transportasi termurah daripada bermahal-mahalan. Perjalanan ini dimulai pada 10 ramadan terakhir dan berakhir sehari sebelum lebaran tiba.

Singapura

Di sela-sela perjalanan selama di Malaysia, kami menyempatkan melipir ke Singapura sehari penuh dan berhasil.
Singapura adalah negara maju dan mereka sangat manusiawi dan teratur. Asri sekali karena banyak pepohonan dan menyenangkan sekali karena di setiap bangunan mereka punya tempat untuk nongkrong dan makan-makan.
Persoalan makanan inilah yang menjadi penggerak kami berkeliling di Singapura: dari jalan kaki, naik MRT, hingga menumpang bus-bus kecil. Oiya, kami tidak menginap di negara ini karena anggaran yang tidak mencukupi. Mungkin suatu saat.
Paspor saya akan kadaluarsa pada 2022. Saya berharap masih akan ada banyak negara yang akan saya lihat. Melancong ke negeri orang membuat saya belajar banyak hal; memberikan saya berbagai sudut pandang dan cerita-cerita menarik. Kamu?
***

5 Toko Buku Indie Jakarta Tempat Cari Inspirasi

toko-buku-indie-jakarta

Di tepi kiri Sungai Seine, Paris, Prancis terdapat sebuah perpustakaan kecil yang juga menjual buku-buku bernama Shakespeare and Co. Jika kamu pernah dengar nama-nama Ernest Hemingway, Jean Paul Sartre, atau Simone de Beauvoir, maka toko buku ini adalah bagian dari sejarah kepenulisan mereka.


Bagaimana ceritanya? 😕

toko-buku-indie-jakarta

Pada 1951 seorang veteran perang Amerika Serikat, George Whitman, pindah dari Negeri Paman Sam ke kota romantis, Paris. Untuk menghabiskan masa tuanya, dia membuat satu toko buku kecil bernama Le Mistral di Rue de la Bucherie.

Toko buku ini juga sebagai penghormatan terhadap Sylvia Beach, seorang Amerika di Paris yang sebelumnya juga memiliki toko buku dan terpaksa harus tutup karena pendudukan Jerman di Prancis yang menyebabkan depresi ekonomi.

toko-buku-indie-jakarta

Rue de la Bucherie berganti nama menjadi Shakespeare and Co pada 1964. George menjadikan toko bukunya juga sebagai tempat tinggal: makan dan tidur di situ. Beberapa orang pun bertamu ke tempat itu, termasuk para pemuda Amerika yang kabur dari wajib militer dan penulis-penulis yang saya sebutkan di atas.

Mereka menulis, membacakan puisi, dan menyanyi-nyanyi di tempat itu. Yang paling membuat anak George kesal adalah orang-orang juga menginap di Shakespeare and Co.

Toko Buku Indie di Jakarta

toko-buku-indie-jakarta

Berjarak 11.578 kilometer dari Paris, di daerah Jakarta Selatan dan Pusat tersebar beberapa toko-toko buku yang serupa. 5 di antaranya pernah saya kunjungi beberapa kali; baik untuk belanja buku, diskusi, nonton film, hingga sekadar mencari informasi.

Oiya, toko buku indie itu adalah yang dijalankan secara independen baik perorangan atau kelompok. Toko buku seperti ini sangat mudah ditemui di daerah Jakarta Selatan. Untuk memudahkan kamu, saya buat daftarnya mulai dari yang dulu terjauh hingga toko buku terdekat dari tempat saya tinggal di Slipi Kemanggisan, Jakarta Barat.

Baca juga: Jakarta Creative Hub

Kios Ojo Keos

toko-buku-indie-jakarta

Menarik ya namanya? Toko buku indie Kios Ojo Keos ini dikelola secara independen oleh keluarga Efek Rumah Kaca. Iya, band indie yang tersohor itu!

Jika dihitung-hitung saya sudah ke tempat ini 4-5 kali, hanya untuk menonton film dan mendengarkan orang main musik. Lokasinya yang berada di selatan Jakarta, tepatnya di daerah Lebak Bulus membuat kamu harus menumpang MRT kalau mau ke sini.

toko-buku-indie-jakarta

Kios Ojo Keos tidak hanya sebagai toko toko buku tapi juga kedai kopi dan toko kaset. Toko buku yang berada di deretan ruko ini mempunyai beberapa agenda kegiatan seru, mulai dari diskusi, nonton film, hingga open mic yang dilakukan setiap minggunya, jadi jika mau update segera follow Instagramnya.

Alamat: Bona Indah Plaza Blok A2 Nomor B11, Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 11240.

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 12 malam

Post Santa

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku ini bisa disebut sebagai tempat nongkrongnya para penulis. Setiap ada buku yang baru terbit, Post Santa akan mengadakan diskusi terkait buku tersebut dengan mengundang penulisnya.

Baca juga: Tips Menulis Haruki Murakami

Saya sudah tidak bisa lagi menghitung jumlah kunjungan saya ke Post Santa.

toko-buku-indie-jakarta

Soalnya, mereka menggelar toko buku indie ini di lantai 3 Pasar Santa di Jakarta Selatan dan ada banyak tempat yang bisa saya kunjungi di sana.

Semua buku yang dijual di Post Santa adalah buku-buku yang tidak ditemukan di toko buku besar. Pemilik Post Santa—Teddy dan Maesy—mengkurasi dengan baik buku-buku yang dijual sehingga beberapa orang sering mendapatkan rekomendasi buku dari si empunya toko 😊

toko-buku-indie-jakarta

Beberapa majalah, zine, serta buku-buku yang diterbitkan secara independen pun bisa kamu temukan di tempat ini. Oiya, perlu dicatat Post Santa hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 3 sore hingga jam 8 malam, ya!

Baca juga: Bukan Lagi Koran

Alamat: Lantai 3 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat, Sabtu, Minggu Pukul 3 sore – 8 malam

Gueari Galeri

toko-buku-indie-jakarta

Kalau Kios Ojo Keos dan Post Santa menjual buku-buku yang berisi teks, maka Gueari Galeri tampil beda dengan menjual buku-buku foto.

Di Indonesia, jumlah buku foto yang terbit setiap tahunnya sudah mulai banyak sehingga dibutuhkan ruang bagi para fotografer untuk menjual karya mereka agar keberlanjutan dokumentasi berupa buku bisa terus hidup.

toko-buku-indie-jakarta

Gueari Galeri sebagai toko buku indie yang bergerak di bidang visual juga sering menggelar diskusi-diskusi menarik tentang isu-isu yang dibahas di buku fotografer tersebut.

Oh, Gueari Galeri berada di bawah satu lantai dari Post Santa. Jadi bisa sekalian dong ya 😎

Alamat: Lantai 2 Pasar Santa, Jalan Cipaku I Nomor 121, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170

Waktu Buka: Jumat & Sabtu Pukul 6 sore – 10 malam

Aksara Kemang

toko-buku-indie-jakarta

Masih berada di kawasan Jakarta Selatan, ada satu toko buku indie yang tidak boleh kamu lewatkan: Aksara Kemang. Dinamai Aksara Kemang karena letaknya yang memang berada di Kemang, tempat hits di Jaksel itu loh.

Di awal, Aksara sendiri sebenarnya punya banyak toko buku yang tersebar di berbagai tempat di Jakarta, seperti Cilandak Town Square dan Pacific Place. Usai berjuang selama 17 tahun, toko-toko tersebut harus tutup pada April 2018.

Bahkan Aksara Kemang ini sempat terpaksa harus tutup sebelum buka lagi dengan tampilan baru.

toko-buku-indie-jakarta

Saya rasa menjalankan bisnis toko buku di Indonesia memang tidak pernah mudah. Masyarakat Indonesia yang tidak suka membaca membaca menjadi salah satu alasan. Belum lagi perkembangan teknologi dan kecepatan internet membuat buku fisik harus berebut tempat dengan buku digital.

Baca juga: Jokowi Sedang Tidak Bercanda

Aksara Kemang ini tidak hanya berjualan buku seperti dulu, tapi mereka berkolaborasi dengan Post Santa untuk mengkurasi buku-buku apa saja yang baik untuk dijual. Ada juga rak khusus untuk buku-buku anak 👶

Sama dengan Post Santa mereka juga menjual majalah dan zine. Oh, ada juga buku foto!

“Selamat toko buku masih ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” Tan Malaka, Madilog.

toko-buku-indie-jakarta

Toko buku indie di Jaksel ini juga bisa menjadi one stop solution bagi kamu yang ingin baca-baca buku atau kerja atau duduk-duduk cantik sambil ngopi. Menarik kan? Tidak hanya itu, Aksara juga menyediakan ruang untuk komunitas sehingga kamu bisa berkegiatan atau berdiskusi di sana.

Alamat: Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Bangka, Jakarta Selatan 12730

Waktu Buka: Setiap Hari Pukul 10 pagi – 9 malam

Toko Buku Jose Rizal Manua

toko-buku-indie-jakarta

Mari move on dari toko-toko buku indie di Jaksel. Yang paling dekat dari tempat tinggal saya adalah Toko Buku Jose Rizal Manua. Nama tokonya persis dengan nama pemiliknya. Doi adalah seorang pengarang dan pemain teater.

Lokasi toko buku indie yang satu ini berada di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Berbeda dengan toko buku yang lain, toko ini punya koleksi buku-buku lama, baik sastra, sejarah, budaya, hingga politik. Beberapa buku bisa kamu tawar.

Oiya, kalau main ke toko buku ini seperti membawa kamu ke masa lalu. Buku-bukunya dibiarkan bertumpuk, beberapa di makan rayap dan tikus sehingga bau buku akan sangat tercium saat masuk.

toko-buku-indie-jakarta

Para pengunjung bebas mencari sendiri toko buku yang diinginkannya. Kalau lagi buru-buru atau kesulitan menemukan buku yang kamu cari, jangan ragu untuk bertanya ke yang jaga. Mereka dengan senang hati akan membantumu 😆

Kalau beruntung, kamu akan dilayani oleh Jose Rizal Manua sendiri dan bisa berbincang dengan dia dan kucing-kucingnya.

Alamat: Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat 10330

Waktu Buka: Setiap Hari 9 pagi – 11 malam

Gimana? Menarik kan? Siapa bilang toko yang menjual buku-buku bagus hanya ada di mall-mall? Sama seperti Shakespeare and Co di Paris, toko-toko buku indie di Jakarta ini juga memungkinkan kita untuk menambah wawasan dan memperluas pertemanan secara gratis.

Kalau kamu punya toko indie andalan yang juga bisa dijadikan tempat cari inspirasi di dekat tempat tinggalmu, boleh dong berkabar di kolom komentar 😀

***

Setahun Lebih Jadi Content Writer

cara-menjadi-content-writer


“But I know you’re getting older, growing, changing. I guess, if I’m being really honest that is what scares me. I don’t want things to change,” Jim Hopper, Stranger Things.


Tepat pukul 00.00 semalam saya menghabiskan episode 8 terakhir Stranger Things 3. Episode tersebut diakhiri dengan pembacaan surat Hopper yang dilakukan oleh El.

Hopper benci perubahan.

Sialnya, hidup berubah dan kamu tidak bisa menghentikannya, termasuk saya.

Baca juga: Stranger Things yang Membangunkan Ingatan

Sesudah 20 Maret 2019 saya menghabiskan banyak waktu untuk merenung tentang hidup. Apa-apa saja yang sudah lewat dan mengira-ngira apa yang bakal terjadi.

Waktu berjalan dengan cepat.

Saya menemukan diri saya menghabiskan 1 tahun 7 bulan bekerja di sebuah agensi. Hal ini memang berapa kali saya bayangkan semasa kuliah; bekerja di industri periklanan.

Oiya, banyak orang yang bilang kalau untuk mendapatkan sesuatu kamu cukup membayangkannya terlebih dahulu? 😉

Belakangan saya menghabiskan 5 hari dalam seminggu untuk menulis, mengedit, serta mengajukan konsep-konsep bahasan di bulan berikutnya.


Jika menulis saja jelas tidak jadi soal. Hanya saja saya perlu menggabungkan kemampuan menulis serta keahlian memunculkan tulisan tersebut di halaman pertama mesin pencari: Google.

Hal inilah yang disebut sebagai Search Engine Optimization (SEO) Content Writing. Ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk melakoni bidang ini. Saya membuat daftarnya dan bisa kamu bookmark, kalau-kalau suatu saat kamu butuh.

cara-mudah-menjadi-content-writer

Menjawab Pertanyaan

Dalam banyak hal menulis sering kali dijadikan cara untuk menjawab pertanyaan, terlebih khusus Content Writing. Panduan membuat konten yang baik hanya dua: menghibur atau informatif.

Mengajukan sebuah pertanyaan di awal lalu menjawab di bagian tengah dan akhir tulisanmu akan menarik pembaca. Jalinan-jalinan informasi yang dibuat ini akan menjadikan kontenmu berkualitas.

Baca juga: Amunisi Kreasi dari Narasi

Mengenal Pembaca

cara-mudah-menjadi-content-writer

Saya tertolong dengan beberapa klien yang memberikan product knowledge serta do’s & dont’s sehingga tidak perlu lagi membayangkan siapa pembaca tulisan saya. Sialnya, tidak semua klien paham betul tentang apa produk yang dijual dan siapa target pasarnya.

Jika sudah begini, saya harus melalukan riset kecil-kecilan sendiri terhadap siapa pembaca seperti apa yang akan saya hadapi. Beginilah seharunya content writer bekerja, bukankah menulis adalah cara berkomunikasi? 😒

Mampu dan Mau Meneliti

tips-menjadi-content-writer


Salah seorang guru saya pernah bilang begini, “Jangan pernah menganggap kata ‘meneliti’ sebagai sesuatu yang ribet dan hanya  dilakukan oleh akademisi!”

Meneliti di KBBI diartikan sebagai memeriksa. Untuk sebuah tema tulisan yang akan kamu buat, jangan malas untuk meneliti. Beberapa hal yang perlu kamu ketahui yakni kata kunci apa yang akan digunakan, sudut pandang mana yang akan dipilih, serta seberapa dalam tulisan tersebut akan dihasilkan.

Dan saya rasa—tulisan yang baik tidak hanya yang mampu menjawab pertanyaantapi juga mampu memberikan informasi mendalam bagi pembaca yang tidak ditemukan di tulisan-tulisan lainnya.

Kalau tulisan kita biasa saja, apa yang membedakan kita dari yang lain? 😕

Memainkan Peran

Melakoni pekerjaan sebagai content writer selama 1 tahun 7 bulan ternyata memberikan saya banyak sudut pandang baru. Soalnya, saya telah menghasilkan banyak konten dari berbagai bidang, mulai dari asuransi, kesehatan, FMCG (makanan dan minuman), ibu dan anak, otomotif, properti, alat berat, hingga kecantikan.

Baca juga: Kenapa Saya Lolos Danone Blogger Academy?

Seluruh bidang tersebut mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam bertutur dan menyampaikan sesuatu sehingga setiap kali menuliskan satu bidang tertentu maka setiap itu pula saya wajib berganti peran.

Beruntungnya, semua ini ternyata memperkaya saya sebagai seorang pribadi sehingga tidak lagi menilai sesuatu (apapun itu) hanya dari satu sudut pandang.

Merayu Pembaca

cara-mudah-menjadi-content-writer

Konon, sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggerakkan pembaca. Hal ini pun saya amini sebagai content writer dan juga blogger.

Setiap penulis konten harus mampu merayu dan menggerakkan pembaca untuk melalukan sesuatu, entah itu untuk membeli produk khusus atau mengunjungi sebuah halaman situs tertentu. Hal inilah yang dikenal sebagai Call to Action (CTA).

Semakin jago kamu menggerakkan pembaca, semakin bagus kualitasmu sebagai content writer. Sialnya, tren CTO ini berubah-ubah seiring perkembangan waktu sehingga kamu perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilanmu.

Baca juga: Infografis untuk Blogger

Oiya, dua hal lagi yang perlu kamu kuasai yaitu membuat video dan infografis. Soalnya, para pembaca yang kita hadapi hari ini semakin menyukai hal-hal yang berbau visual sehingga setiap konten tulisan yang dibuat patut memasukkan video dan infografis.

Sebagai seorang pembaca, saya pun akan terkesan dengan hadirnya dua hal ini di dalam tulisan. Kamu gimana? 😏

***

Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 2)

jalan-jalan-ke-malaysia

“Butuh 15 tahun untuk mengelilingi dunia. Saya butuh satu setengah tahun lagi,” ujar Christianus kepada kami semua.

Di ruang makan dan berkumpul Double K Hostel pagi itu ada 5 lima orang: saya, Ade, seorang perempuan paruh baya turis Jepang, seorang laki-laki gondrong turis Korea, dan Christianus, seorang Belanda yang menikah dengan perempuan asal Bogor.

Kami menghabiskan sarapan sambil ngalor ngidul. Kebanyakan percakapan didominasi oleh Christianus yang berkisah mengenai perjalanannya keliling dunia.
Si turis Jepang baru saja memulai perjalanannya. Malaysia negara pertama yang dia kunjungi, sedangkan si turis Korea sedang dalam perjalanan. Dia akan ke Kalimantan setelah dari Johor Bahru. Sementara Ade dan saya meneruskan rencana untuk ke Singapura.

JB Sentral ke Woodland

Ade dan saya pamit kepada mereka sesaat jarum jam menunjukkan angka 9. Kami akan menyeberang dari JB Sentral ke Woodland dan menghabiskan satu hari di Negeri Singa.

Kamu harus tahu ini!

Kami membeli tiket kereta api di JB Sentral seharga 17 ribu rupiah dan menyeberang ke Singapura. Perjalanan melintas batas negara ini cuma 5 menit, tepat 5 menit. Yang lama justru mengantri di imigrasi Singapura; sejam kurang lebih.

Tujuan pertama kami adalah Bugis Street, tapi sebelumnya kami harus membeli dulu tiket Tourist Pass agar perjalanan naik MRT dan busnya lebih gampang dan murah.

Singapura itu negara yang manuasiawi, menurut saya. Akses ke transportasi umum sangat mudah, kota di tata sedemikian rupa. Negara maju ini meski punya banyak bangunan mewah tapi juga punya banyak taman dan tanah.

Iya, di Jakarta saya kesulitan menemukan taman dan jarang melihat tanah. Seluruhnya ditutupi oleh aspal dan paving block.

Kuliner di Singapura

kuliner-enak-di-singapura

Kami menandaskan Tom Yam dan  Nasi Ayam Mongolia di Bugis Street, berkeliling di kitaran Haji Lane dan Arab Street, lalu singgah di Ramadan Sultan Bazaar di kawasan Masjid Sultan. Kata Ade, “Ini makanan yang paling sesuai di lidah selama jalan.”

Oiya, beberapa hari sebelum berangkat kami maraton Street Food di Netflix. Yang menarik perhatian adalah Putu Piring. Jadilah kami melipir ke Haig Road untuk mencari makanan yang kalau di Makassar namanya Putu Cangkir.

kuliner-enak-di-malaysia

Baca juga: Kuliner Bugis Makassar

Rasanya gimana? Tekstur Putu Piring jauh lebih lembut dibanding Putu Cangkir, tapi saya lebih suka Putu Cangkir, barangkali karena saya adalah orang yang kasar? Ga ding, saya cuma suka sesuatu yang bisa dikunyah.

kuliner-enak-di-singapura

Diam-diam Ade menyimpan daftar kuliner lainnya sehingga perburuan kuliner pun berlanjut ke Teh Tarik. Lokasinya agak jauh dari Haigh Road dan sialnya saya lupa nama tempat tersebut. Yang jelas, kami dipermudah dengan bus yang kalau di Jakarta namanya Transjakarta.

Satu hal lagi yang membuat negara ini manusiawi adalah adanya Hawker Centre di setiap apartemen dan kompleks tempat tinggal. Menyenangkan sekali melihat orang-orang berkumpul, makan-makan, dan tertawa lebar-lebar.

kuliner-enak-di-singapura

Di Indonesia, Hawker Centre sering disebut pusat kuliner. Tempat seperti ini memang banyak ditemui di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Urbanisasi yang bermula di awal tahun 1950-an menjadi pemicu munculnya spot-spot seperti ini.

Dari Johor Bahru ke Malaka

malaysia-singapura-lewat-woodland

Supaya tiket Tourist Pass kami bisa direfund, kami harus kembali ke Woodland Central sebelum loket tiket tutup jam 9 malam.

Tepat pukul 11.30 malam kami tiba lagi di JB Sentral, kereta Singapura-Malaysia ini tepat waktu sekali.

Malam itu menjadi malam kedua kami mengemper karena sudah tidak lagi memesan penginapan. Sayang, tiket bus kami akan berangkat pukul 10 pagi dari Larkin Sentral ke Malaka. Drama mengemper dimulai saat petugas JB Sentral mengusir semua orang yang duduk di kursi ruang tunggu.

Di JB Sentral tidak ada tempat untuk mengemper.

cara-ke-larkin

Lewat tengah malam kami berjalan ke sebuah minimarket tak jauh dari JB Sentral. Tujuannya untuk mencari tempat yang aman untuk tidur. Hasilnya nihil karena kami hanya malah menyantap popmie.

Setelah popmie tandas, kami berpindah ke laundry 24 jam yang berada di lantai bawah Double K Hostel. Sayangnya, di tempat tersebut ada tulisan besar-besar dilarang tidur.

Akhirnya, kami memutuskan menyeberang ke terminal Larkin yang memang posisinya tidak jauh. Lewat pukul 3 pagi barulah kami saya bisa tidur nyenyak.

Ade mengigil karena AC ruang tunggu terminal memang dingin sekali dan dia mengganggu saya: mengeluh kedinginan.

Pukul 10 pagi menjadi waktu yang paling kami tunggu. Perjalanan ke Malaka akan dimulai! Sialnya, tiket yang kami terima salah tanggal. Tiket tersebut harusnya berlaku sehari sebelumnya. Setelah komplain sana sini, jadilah kami harus membeli tiket baru.

Dua Hari di Malaka

destinasi-wisata-di-malaka

Jleb! Orang-orang sedang salat jumat ketika kami tiba di Malaka. Saya lupa hari.

Sesudah menyelesaikan urusan check-in, kami langsung tidur dan bangun sebelum maghrib.

Saya jatuh cinta dengan kota ini sesaat menyaksikan langitnya berubah jadi gelap. Kami melintas di jembatan yang dibangun puluhan tahun silam dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Di sekeliling kami bangunan-bangunan tua berdiri kokoh dengan anggunnya.

destinasi-wisata-di-malaka

Kami menuju Jonker Street atas petunjuk resepsionis. Di sana memanjang pasar malam dengan rupa-rupa makanan. Sayup-sayup lagu Mandarin mengalun berebut ruang dengan sorak sorai penjual, tukang becak, dan perbincangan para turis dengan berbagai bahasa berbeda.

Jonker Street ini ternyata punya dua wajah, siang dan malam hari. Di siang hari bangunan-bangunan tua yang ada membuka diri menjual berbagai macam jualan dan malam hari bangunan tersebut akan tutup dan digantikan dengan lapak-lapak di depannya.

Butuh sekira 3 jam untuk menyusuri jalan ini.

destinasi-wisata-di-malaka

Keesokan harinya kami menjelajah bagian lagi dari Malaka. Bangunan-bangunan peninggalan Portugis, Belanda, dan para ‘tamu’ dari negara lain yang sempat tinggal di kota yang masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO.

Sejak kecil saya punya satu ingatan paling membekas tentang Malaka yakni nama seorang pelaut Portugis, Alfonso de Albuquerque.  Ingatan ini masuk melalui pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah.

Malaka selama lebih dari 500 tahun menjadi kota pertukaran budaya dan perdagangan antara orang-orang dari Timur dan Barat. Tempat lain yang punya hubungan erat dengan Malaka adalah Banda Naira di Indonesia.

oleh-oleh-kuala-lumpur

Di satu toko di Jonker Street saya menemukan tumpukan biji kopi, kayu manis, dan berbagai rempah lainnya yang dibungkus kecil-kecil sebagai suvenir. Dahulu barang-barang ini menjadi rebutan berbagai bangsa, sekarang dijajakan sebagai buah tangan.

Baca juga: Makan dan Belanja di Thailand

Di kota kecil ini pula akulturasi budaya terjadi: daya tarik yang membuat saya untuk memutuskan menghabiskan dua hari di Malaka.

Kuala Lumpur ke Jakarta

cara-ke-bandara-dari-kl-sentral

Harga tiket menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pulang ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Kota pertama yang kami singgahi sebelum benar-benar sampai di Kuala Lumpur adalah Putrajaya.

Kota yang berdiri pada 1995 ini membuat saya terkagum-kagum. Bayangkan, di siang hari sewaktu kami menumpang bus dari terminal Putrajaya ke pusat kota, jalanan benar-benar sepi.

ke-putrajaya

Hanya ada satu dua orang berjalan di daerah yang penuh bangunan besar dengan desain artistik, futuristik, sekaligus menawan. Angin berembus pelan dengan daun-daun kering berguguran di tanah.

Seperti menonton film-film Sci-fi.

Malaysia tidak main-main dalam membangun pusat administrasi negaranya.

Sesudah salat ashar di Masjid Putra kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan tiba di Jalan Alor untuk makan malam.

kuliner-di-jalan-alor

Ini kali pertama saya ke Kuala Lumpur, sedangkan Ade menjadikan perjalanan ini sebagai kali kedua kedatangannya. Sambil menikmati makan malam di tengah kerumunan turis dan di bawah gerimis di pusat street food Malaysia, kami kebingungan mencari penginapan.

penginapan-murah-di-kuala-lumpur

Pagi-pagi sesudah check-out di hotel—yang menjadi penginapan terburuk sepanjang perjalanan kami—hujan turun dengan derasnya. Kami menunggu beberapa jenak sebelum Grab yang akan mengantar kami ke KL Sentral datang.

Pengemudinya seorang pria paruh baya dengan perawakan tambun. Dia berbicara dengan semangat sekali, menjawab, dan menjelaskan secara panjang lebar.

Kami diturunkan tepat di depan pintu masuk KL Sentral dan bergegas mencari loket tiket ke Genting—yang sayangnya harus batal karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk ke lokasi wisata tersebut.

The-Zhongshan-Building

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Hasilnya, kami keliling-keliling di dalam kota saja, terutama di The Zhongshan Building dan di kawasan Pasar Seni Kuala Lumpur. Baru pada pukul 10 malam kami menumpang bus Aerobus (alternatif termurah dari Kuala Lumpur ke Bandara KLIA 2).

Kami mengemper lagi di bandara KLIA 2 sebelum menuju Jakarta pukul 8 pagi. Kami tiba di Jakarta pukul 11 siang tanggal 4 Juni 2019. Perjalanan ini pun tepat seminggu.

***