ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Wednesday, 9 December 2015

Toa di Persimpangan Jalan

ilustrasi oleh : Herman Pawellangi

Salam satu hati! Bla bla bla dan.. Hompimpa!

Lampu merah kemudian menghijau bersamaan dengan bunyi klakson kendaraan dan motor berknalpot racing yang digas-gas seolah sedang start di sirkuit MotoGP. Brumm.. Brumm.. Pip..pip.. Piiiip.. Bruummm…

Sejak melabeli dirinya Smart City, kota ini kemudian bertingkah aneh. Mirip dengan mode perempuan terkini yang menyulam alis dan memerahi bibirnya. Celetuk teman saya, tidakkah para perempuan itu sadar bahwa sebenarnya mereka tidak cocok dengan dandanan seperti itu? Dan celakanya, dengan percaya diri swafoto muka bebeknya diunggah di sosial media. Haha.

Tiap berhenti di lampu merah, saya selalu bertanya-tanya, apa iya salah satu penanda sebuah kota dikatakan kota cerdas adalah adanya pengeras suara di lampu merah yang teriak-teriak dengan informasi yang itu-itu saja? Dan, oh, dari musik latarnya adalah produsen motor yang seolah peduli dengan pengguna jalan yang mensponsori pengeras suara tersebut. Padahal katanya, pengadaan pengeras suara —yang selanjutnya akan saya sebut sebagai toa dan kamera pemantau (cctv), kemudian diistilahkan Automatic Traffic Control System (ATCS) atau lampu lalu lintas digital. Pengadaan ini dimaksudkan agar dapat memantau kondisi persimpangan dan mengatasi masalah pengaturan lalu lintas dari jauh. Setidaknya informasi ini yang saya dapat dari koran kota mengenai perangkat pendukung smart city ini. Tapi kok ya, ujung-ujungnya jadi menambah kebisingan kota?

“Polusi suara atau pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan,” Wikipedia.

Jika boleh memetakan suara di jalan raya kota ini, maka ada bebunyian seperti sirine iring-iringan pejabat, ambulans berisi orang sakit yang sedang gawat, ambulans berisi jenazah lengkap dengan pasukan bermotor-berknalpot racing mengibas-ngibaskan bendera putihnya, mobil yang juga berknalpot racing, bentor dengan house musicnya, serta sahutan klakson motor-mobil pribadi, pete-pete, dan truk — yang jika bunyi bersamaan secara berulang-ulang maka akan menghasilkan kebisingan, polusi suara. Itu belum termasuk jika daerah sekitar ada toa masjid yang berbunyi juga mahasiswa yang tengah berteriak-teriak menggunakan toa di perempatan sambil membakar ban. Sialnya, penentu kebijakan tampaknya belum puas dengan suara-suara tadi, ditambahkanlah toa di tiap lampu merah jalan protokol kota ini. Yang berteriak si toa agar menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas untuk Indonesia tertib, bersatu, keselamatan nomor satu. Jika dikerucutkan, penyebab polusi suara kota ini adalah bunyi kendaraan dan bunyi pengeras suara. Memang sih, jika berada dalam mobil pribadi apalagi mobil mewah, kebisingan di sekeliling tidak akan jelas terdengar. Lantas, bagaimana nasib para pria tuna asmara yang mengendarai motor tanpa gandengan?


Makassar adalah tempat yang ramai untuk bertemu. Demikian kata mantan pacar saya ketika saya ajak bertemu saat masih mahasiswa baru. Dan hingga saat mama di kampung tiap hari menelpon menanyakan kapan saya ujian hasil, Makassar masih terus ramai dan nampaknya akan terus ramai —dengan bebunyian, dengan kendaraan, dengan baliho-spanduk yang dipasang secara serampangan.

Dampak buruk polusi suara bagi kesehatan penghuni kota tidak akan saya beberkan. Sebab saya tahu Google punya banyak penjelasan tentang hal ini dan saya tahu anda dapat mengaksesnya setelah membaca tulisan ini. Saya cukup memberi contoh dari apa yang saya perhatikan di jalan raya. Jika terjadi insiden baku senggol, entah mobil dengan mobil, motor dengan mobil, motor dengan motor atau pete-pete dengan semua, maka para pengemudi akan perang urat saraf, tidak akan ada yang mau mengalah. Pernah suatu waktu di Jalan Rappocini Raya saat matahari tengah terik-teriknya dan saat kendaraan mengular, tak jauh dari jejeran penjual smartphone dengan pengeras suara yang mendentum, seorang anak muda pengendara motor yang berboncengan dengan perempuan yang saya tebak adalah pacarnya, mengata-ngatai seorang kakek yang bersepeda tua. Konon cerita si anak muda dalam gerutunya, si kakek tidak mau mengalah, tidak mau memberi jalan dan hampir menabrak si anak muda ini. Seandainya saja tidak dilerai oleh seorang tukang parkir, maka si kakek akan kena bogem mentah si anak muda. Sementara pacarnya teriak-teriak, We..Sudahmi! Sudahmi!

Tensi yang meninggi akibat hiruk pikuk kendaraan dan riuh bebunyian, membuat orang punya amarah yang siap meledak kapan saja. Sebagai kota yang sedang mengalami perkembangan pesat di seluruh sisi, Makassar sebaiknya mulai waspada terhadap polusi suara; penyakit perkotaan yang mulai mewabah. Alih-alih menyelesaikan satu masalah, yang timbul adalah masalah baru yang justru kian pelik. Jika sudah seperti itu, tampaknya kita masih harus berpikir untuk melabeli diri kota cerdas.


Tayang di revi.us 1 Desember 2015 : http://revi.us/toa-di-persimpangan-jalan/

Tuesday, 8 December 2015

Food Photography : CSPOT ICE CREAM






Hai! Dua bulan lalu tempat makan es krim teman saya buka. Ini adalah cabang keduanya setelah enam bulan sebelumnya buka di Palopo, salah satu kotamadya di Sulawesi Selatan, jaraknya sekira 372 kilometer dari Makassar. Butuh sebulan untuk merapikan segala isi tempat makan ini. Termasuk buku menunya. Ada 15 macam menu. 11 menu di antaranya berbahan dasar es krim. 3 di antaranya adalah minuman tanpa es krim. 1 lagi adalah burger, jelas, menu ini tidak berbahan dasar es krim.






Sesekali, mampirlah ke tempat ini. Alamatnya di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 172. Jika kamu dari arah Tamalanrea, letaknya sebelah kiri jembatan layang, setelah Universitas Bosowa. Jika dari arah jalan Pettarani, letaknya sebelah kanan jembatan layang. Tempatnya nyaman, serasa berada di rumah. Oiya, jika takut manis, tenang, menu yang ditawarkan memiliki kadar kemanisan yang rendah. Maksud saya, kamu tidak akan menghentikan makananmu karena kemanisan, tapi kamu akan melahapnya sampai habis dan setelah itu akan (minta tambah) kekenyangan. Percaya saya, sebab saya pun tidak terlalu suka dengan makanan manis. Bukankah yang manis-manis dapat menyebabkan diabetes? Lagian wajah kita sudah cukup manis, kan?

Akun Official :



Saturday, 26 September 2015

Makassar Mencakar Langit

Salah dua jalanan Makassar yang saya lalui ke kampus yang menurut saya tidak cukup memanusiakan manusia adalah Jalan Rappocini Raya dan Jalan Manuruki Raya, selain Jalan Pettarani (karena di ujung menuju Jalan Alauddin bertebaran penjual es kelapa, bikin adem). Penandanya begini :

1. Jalan Rappocini Raya
DI jalan ini terdapat sebuah kampus. Karenanya, kadang saya kasihan kepada sepasang mudamudi yang pergi pulang berjalan kaki dari kampus. Bagaimana mereka harus nyelip-nyelip berjinjit menyebrang di kerumunan kendaraan. Bagaimana mereka tidak kebagian bahu jalan sebab telah dikuasai oleh para pengendara motor dan mobil. Kampus ini punya lahan parkir untuk para mahasiswanya. Hanya saja, jumlah kendaraan bermotor yang parkir tidak sebanding dengan luas parkiran. Maka tentu saja, mobil pun tidak akan kebagian parkiran. Jadi, mobil yang jumlahnya tidak hanya satu ini akan memarkir ban kirinya di bahu jalan dan ban kanannya di jalan raya. Suasana ini kamu akan dapati dari pagi hingga menjelang sore hari. Tak jauh dari kampus ini, berjejeran toko-toko  penjual telepon genggam. Saking padatnya, mereka pun berlomba membuat pengguna jalan untuk singgah. Dan kamu tahu bagaimana bentuk promosi penjualannya? Mereka menggunakan pengeras suara. Bayangkan, ketika, ada dua saja, toko yang menyetel pengeras suara yang diisi oleh rekaman suara manusia dengan suara latar house music. Toa masjid pun dibuat tak berkutik.

2. Jalan Manuruki Raya
Lokasi ini merupakan pemukiman strategis dengan tiga kampus berdekatan, yakni Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dan Universitas Muhammadiyah. Jalan ini pun berubah menjadi jalan ‘dollar’ dengan beragam usaha di dalamnya, seperti; kos-kosan, warung makan, toko campuran, hingga tempat penjualan jilbab dan kaos kaki, minimarket waralaba pun tak mau kalah. Demi menarik perhatian mahasiswa untuk membeli, memakai, memakan, meminum, para pengusaha ini pun menggunakan papan reklame di depan usahanya. Papan reklame yang digunakan pun beragam. Mulai dari neon box, spanduk berbahan vinyl, hingga tripleks yang ditulistangani. Muatan papan reklame ini kemudian berbaur dengan coret-coretan dinding, baik mural, graffiti, atau sekedar coret-coretan non estetis. Dampaknya, kekacauan visual pun tak bisa dielakkan lagi.


Membangun bersama masa depan dengan bangunan bertingkat hanya akan membuat para manusia lanjut usia kota ini tertutupi dari sinar matahari pagi. Sementara, akan kemanakah manusia-manusia penikmat matahari terbenam akan pergi? Naik ke skylounge hotel dan membayar mahal?

Memasuki jalan Manuruki Raya, kita akan disambut oleh gerbang selamat datang yang dibangun oleh sebuah perusahaan semen. Bagi pemerintah kota, ini sangat membantu tagline “Makassar Tidak Rantasa’ dan Makassar Sombere”. Di sampingnya terdapat tembok memanjang yang sebelumnya dihuni oleh sebuah iklan produk operator telekomunikasi seluler. Tembok itu bertuliskan “Together We Build A Better Future” dengan siluet bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Dalam perjalanannya, mural dimulai dari lukisan di dinding goa yang dikerjakan oleh manusia zaman prasejarah. Jauh setelah itu, mural kemudian difungsikan sebagai propaganda politik negara-negara konflik di Eropa, dan berlanjut menjadi media bagi para seniman  untuk berkarya. Namun cerdiknya korporasi, mereka melihat mural sebagai salah satu media untuk mengiklankan dagangannya. Tak ayal, mereka menggunakan jasa para seniman untuk membuat mural.

Melintasi mural ini hampir setiap hari kemudian membuat saya jengah dengan penggunaan kata ‘future’ dan siluet bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Menerjemahkan future ke dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai masa depan, yang akan datang. Di pikiran saya kemudian terngiang film-film fiksi ilmiah dengan gedung-gedung berlomba menggapai langit sebagai lanskapnya.

Future, barangkali, tidak melulu mengenai bangunan yang berlomba mencakar langit.
Future, barangkali, adalah gelaran karpet di ruang-ruang terbuka hijau bagi para keluarga
menghabiskan akhir pekan.

“Masyarakat kelas atas digiring untuk tinggal menjulang ke atas, menjauhi bumi yang harusnya dipijaki. Mereka tinggal dalam lingkungan yang bersih (steril) dan aman (terisolasi). Seolah dengan menjauhnya mereka dari bumi, mereka akan semakin terhindar dari segala macam persoalan sosial kota seperti, ancaman kemiskinan, penyakit, kotoran, polusi, kejahatan, dan lainnya,” Yuka Dian Narendra.

Benarlah bahwa iklan-iklan di ruang kota dapat bercerita banyak mengenai kota itu sendiri. Iklan-iklan di ruang kota menjelaskan apakah warganya hidup dengan layak atau hidup dalam balutan kapitalisme global. Usahlah terlalu jauh mengaitkan pembangunan Centre Point of Indonesia  dengan mural di gerbang jalan Manuruki Raya karena jaraknya memang jauh. Lihat saja kawasan Panakukang, disana berdiri bangunan menjulang dan terlihat sangat tinggi dibanding bangunan lainnya. Tak jauh dari Mall Panakkukang, sebuah lokasi yang tertutup yang jika kamu mengintip, kamu akan mendapati galian yang sangat dalam. Galiannya yang dalam tidak jadi soal, masalahnya adalah galian ini berada di pusat bisnis kawasan Panakkukang. Menurut kawan saya, itu untuk pondasi sebuah bangunan bertingkat-tingkat.

Dua tahun lalu ketika saya mengunjungi Rammang-Rammang, Daeng Beta yang menjadi pemandu di tempat ini menunjukkan gunung-gunung karst di sebelah timur yang katanya tidak lama lagi akan dibom untuk pembuatan semen. Gunung-gunung itu memang telah menjadi milik korporasi. Kalimat motivasi ‘semakin besar sesuatu yang dituju, maka semakin besar pula pengorbanan yang dibutuhkan’ pun semakin berlaku dan sahih dalam urusan pendirian bangunan. 

Pemerintah kota ini, selain senang memajang foto portrait diri mereka di baliho, mereka juga senang memamerkan tumpukan foto-foto gedung.
Seolah  foto-foto tersebut merupakan indikator keberhasilan mereka dalam memimpin.

Tampaknya kota ini memang serius mewujudkan ‘future’ dari segi pembangunan fisik, sebab jika tidak, pengambil kebijakan tentu tidak akan memberi izin mendirikan bangunan. Mereka tidak akan dengan sering menumpuk foto-foto bangunan tinggi untuk dipasang di baliho-baliho. Dikiranya perekonomian sebuah kota dapat diukur dari seberapa banyaknya bangunan tinggi. Padahal, penilaian indeks kota cerdas Indonesia 2015 tidak memasukkan jumlah bangunan tinggi dalam penilaiannya. Daripada sibuk mengurusi ‘future’ di tembok di jalan Manuruki Raya bagaimana jika kita (aku dan kamu) membicarakan baik-baik ‘future’ secara bersama dan serius? Eh?

*Tulisan ini tayang di revi.us pada 21 September 2015 

Monday, 7 September 2015

Catatan Pertemuan II : Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa Makassar Biennale 2015


Nostalgia tentang kain hitam yang menjuntai di pinggir mulut ember yang diletakkan di atas meja di tengah-tengah lingkaran para siswa kembali hadir, hal ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas dua bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sengkang, Wajo. Dalam seminggu kami mempelajari teknik menggambar selama dua jam pelajaran (2x45menit) pada mata pelajaran Kesenian. Kadang kami harus keluar kelas untuk menggambar objek apa saja. Pada 3 bulan pertama kami akan dijejali dengan teknik arsir menggunakan pensil 2B, setelah ujian tengah semester, kami akan  diwajibkan menggunakan pastel dan cat air.

Menggambar menggunakan pensil 2B sungguh membosankan bagi saya, betapa tidak, berlembar-lembar kertas habis hanya dengan warna hitam putih dan gelap terang, dikerjakan di sekolah, jika tidak selesai boleh dibawa pulang dengan syarat minggu depan sudah harus selesa dan dikumpul. Ingatan-ingatan 9 tahun lalu ini kemudian terputus ketika dua perempuan mondar-mandir dihadapan saya sambil meletakkan piring kecil berisi dua potong kue di atas meja dan segelas air bening dingin yang kutebak sprite.

Suasana pertemuan II workshop penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015. Foto : @jumardanm
 
Adalah Prof. Sofyan Salam yang menghadirkan kenangan ini, bertindak selaku narasumber pertama dalam kelas menulis kritik seni rupa (6/9) yang digelar dalam rangka Makassar Biennale 2015 bekerjasama dengan Tanah Indie. Dipilihnya Pembantu Rektor 1 Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai narasumber pertama dalam kelas tak lain karena dia merupakan satu-satunya pendokumentasi perjalanan seni rupa di Sulawesi Selatan hingga tahun 2000. Semua dicatat dalam bukunya berjudul Seni Rupa Mimesis dan Modern Kontemporer di Sulawesi Selatan yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan.

Hanya ada dua pilihan bagi kami para peserta penulisan kritik seni rupa menurut professor yang angkat jempol terhadap seniman-seniman yang hidup dari karya : pertama, penulis yang bertindak selaku kritikus, memprovokatori hal-hal yang ada dan bertentangan dengan pemikirannya. Kedua,  penulis yang menjadi pengamat, berprilaku sebagai orang biasa namun mendokumentasikan hal-hal yang terjadi. Kepemilikian ideologi pun menjadi syarat mutlak dalam dua golongan penulis ini.

“Tanpa membaca, saya sudah tahu akan lari kemana tulisannya, karena saya sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kritis,” ungkap Prof. Sofyan mengambil contoh Muh. Faisal, dosen Universitas Muhammadiyah. Prof. Sofyan pun menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia termasuk penulis golongan kedua.

Menurut professor yang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika Serikat ini, untuk menuliskan seni rupa, tampaknya kita hanya perlu melakukan empat hal : 

1. Kumpulkan katalog dan dokumentasi pameran.

Katalog dan foto-foto selama pameran merupakan bukti otentik sebuah pagelaran karya. Hal ini menjadi poin penting pertama bagi kita yang akan menulis tentang seni rupa.

2. Identifikasi sosial media.
Munculnya media daring membuka peluang bagi siapa saja untuk memiliki sosial media, pun dengan seniman. Sosial media kemudian menjadi ruang hadirnya diskusi karya dan gagasan yang tidak bisa dinafikan. 

3. Kehadiran seniman-seniman muda setelah tahun 2000.
Prof. Sofyan menjadi kikuk ketika diminta menjadi narasumber oleh panitia Makassar Biennale 2015, pasalnya sejak menjadi pejabat di UNM, pria berambut putih ini mengaku tak lagi mengikuti perkembangan seni rupa di Makassar selama 15 tahun terakhir. Otomatis dia pun tidak mengikuti kehadiran sosial media yang telah menjadi ruang pamer bagi seniman-seniman muda. Hal inilah yang menurutnya perlu kami perhatikan dengan saksama.

4. Seni Rupa Baru.
“Bahwasanya dunia saat ini telah dijejali oleh visual. Manusia tak lagi terpisahkan oleh visual, mulai bangun hingga mereka tidur kembali. Pendidikan seni di Amerika Serikat dan Australia saat ini sudah mengakui visual culture art education sebagai seni rupa baru,” jelas Prof. Sofyan. Hanya saja, lanjutnya, kekurangan visual culture art education adalah adanya muatan politik di dalamnya yang didominasi oleh para pejuang-pejuang gender, hak asasi manusia, korporasi, dll.
***

Pembicaraan mengenai seni rupa baru ini berlanjut, bahwa perbedaannya dengan seni rupa tradisiona adalah estetika dan ideologi. Seni rupa baru melulu berlandaskan pada ideologi, membicarakan media-media yang digunakan dalam berkarya, namun tidak lagi mempermasalahkan teknik dan estetika. “Ketika orang-orang beralih ke seni rupa baru maka siapa lagi yang akan menggarap teknik dan estetika?” Prof. Sofyan mengakhiri penjelasannya mengenai seni rupa tradisional dan seni rupa baru. Pada bagian inilah memori mengenai mata pelajaran Kesenian di SMP saya menyeruak. Guru saya saat itu tampaknya belum bisa mengidentifikasi dan tidak mau mengintervensi para siswanya apakah ada di antara mereka yang akan menjadi perupa atau tidak, yang jelas dia hanya mengajarkan keterampilan dasar, yang menurut Prof. Sofyan adalah hal yang terpenting dimiliki oleh seorang seniman rupa. “Itulah makanya, seleksi masuk pendidikan seni rupa di Indonesia menyelenggarakan tes keterampilan berupa menggambar bagi para calon mahasiswa baru. Tes bakat untuk kesenimanan, tes akademik untuk kesarjanaan.”

Saya akan merasa berdosa jika mengakhiri tulisan ini tanpa memberitahu suatu hal menarik (menurut saya) mengenai kepelukisan di Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Sofyan, Sulawesi Selatan tidak memiliki kebudayaan melukis. Orang-orang dahulu hanya mengenal mappatta (bugis) diserap dari bahasa Indonesia, yakni menyajikan fakta, dalam aliran lukis dikenal dengan istilah naturalis, mereka hanya menggambar apa yang mereka lihat. Yang ada di Sulawesi Selatan hanya menganyam, mengukir, menenun, dan mematung. Melukis katanya, adalah kebudayaan orang-orang Eropa. Usahlah kita mendalami ajaran-ajaran Vincent Van Gogh, Leonardo da Vinci, Pablo Picasso, dll, fokuslah pada apa yang ada saat ini yakni, kebudayaan visual.

Perbincangan bersama Prof. Sofyan dengan teman-teman peserta kelas menulis, fasilitator dari Tanah Indie, dan panitia Makassar Biennale 2015 berakhir menjelang maghrib, kepala saya memberat, sisa sprite yang tak lagi dingin saya tenguk sampai habis sementara piring di sebelahnya sedari tadi telah kosong. Sampai jumpa di kelas selanjutnya!


Saturday, 15 August 2015

Belajar, Bermain Bersama Benang Baja

“Dang, sini dulu, liat ini!”
“Apa? Mana?”
“Perhatikan hidungnya, berhidung babi, badannya bersayap. Yang ini lagi, tungkai bawah manusia yang tengah berlutut, muncul pucuk daun. Lucu-lucu.”


Yang diperhatikan teman saya adalah 1 dari 114 panel papan kayu berukuran 25cmx17cm milik Adi Gunawan. 114 panel yang diberi judul Dialog Diri ini merupakan  1 dari 9 karya yang dipamerkan. Lelaki yang tengah menempuh pendidikan seni rupa di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menggelar pamerannya mulai tanggal 25 Juli hingga 8 Agustus 2015 lalu di Rumata’ Art Space. Dia terpilih sebagai emerging artist Rumata’ Art Space dalam program Rumata’ Capslock-HIVOS.

Foto : jumardanmuhammad
Dialog Diri merupakan kumpulan gambar-gambar absurd yang dihadirkan dengan cat berwarna hitam. Ia hadir untuk mengolok-olok kita, manusia. Misalnya salah satu gambar karakter yang tengah asyik menggunakan telepon genggam, tepat di atas kepalanya tampak ikon wifi mengarah keluar, di sampingnya ikon wifi mengarah masuk. Keberadaan telepon genggam utamanya smartphone saat ini telah merupakan hal yang sangat substansial. Telepon genggam cerdas yang terhubung dengan internet kini bak oksigen yang kita hirup tiap saat. Arus informasi melalui internet berlangsung dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan bumi lain dapat dengan segera kita ketahui, hanya dengan mengurut telepon yang kita genggam, tentu saja dengan terhubung internet.

Parade karya seni rupa tunggal yang digelarnya diberi judul So Sial, tema yang diangkat pun adalah seputar kehidupan sosial. Mengaitkan seni rupa dan sosial hingga membawanya ke ruang pameran adalah hal baru di Makassar. Sebab seni rupa yang tersaji di galeri-galeri kota ini adalah melulu tentang keindahan (pemandangan) dan budaya. Padahal gerakan sosial di berbagai tempat selalu menempatkan seni sebagai salah satu seni sebagai bagian dari sebuah perjuangan. Pun dengan seni, ia lahir dan tumbuh di tengah masyarakat. Di halaman Rumata’, Gunawan memanfaatkan tembok-tembok kosong sebagai media mengkritisi hal-hal berbau sosial dengan gambar. Kehadiran gambar-gambar ditembok awalnya identik dengan sesuatu yang melawan. Beberapa kalangan, menyematkan istilah vandalism terhadap kegiatan ini. Padahal jika ditilik dari sejarah, gambar-gambar di tembok seperti sekarang juga pernah muncul pada zaman perang kemerdekaan. Tulisan-tulisan, yang pada saat itu belum dikenal istilah graffity bertema perjuangan seperti ‘Boeng Ajo Boeng’ dan ‘Merdeka ataoe Mati’ pernah bertebaran di kota-kota dan menjadi pemicu semangat perlawanan.

Mural berjudul Over Population yang menampilkan perempuan-perempuan saling tindih dengan mata tertutup seolah berada dalam ruangan yang sesak mengkritisi jumlah kelebihan penduduk. Ini merupakan ultimatum bagi kita, khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang memiliki jumlah penduduk terbesar setelah China, India, Amerika Serikat. Berlebihnya jumlah penduduk tidak boleh dianggap sepele sebab akan menimbulkan masalah-masalah baru yang jauh lebih berbahaya dan pemerintah mungkin saja lupa akan masalah ini. Ingatan saya kemudian melayang ke film-film bergenre sci-fi yang melakukan penghancurkan terhadap manusia sebagai solusi dari over population.

Foto : jumardanmuhammad
Menurut catatan para psikolog, digunakannya dinding memang karena lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depan ketimbang di bawah. Posisi menggambar di dinding pun memberikan posisi yang nyaman karena memungkinkan mengontrol tangan dan mata yang lebih baik. Anak-anak merasa ikut terlibat  di dalam kisah yang mereka gambarkan melalui bidang yang lebih luas. Teknik mural, doodling dan drawing yang dipamer perupa muda ini nampak tak ada yang ‘serius’. Benang Baja (nama samaran Adi Gunawan di dunia maya) seolah mengajak kita belajar (merenung) dengan cara bermain-main, menggambar di tembok dengan menghadirkan karakter-karakter absurd. Secara tidak sadar kita diseret kembali ke masa kanak-kanak yang pada umumnya suka menggambar dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna adalah dinding rumah. Yang dikatakan Pablo Picasso bahwa setiap anak adalah seorang seniman tampaknya dipegang teguh oleh Gunawan, masalahnya adalah bagaimana membuatnya tetap sebagai seniman ketika dia tumbuh besar, pun dijaga dengan konsisten berkarya.

Nur Abi Abdiansyah, kurator pameran So Sial di dalam sambutannya menyatakan bahwa Gunawan memiliki kemampuan berjejaring dan mengorganisir diri dalam menyelenggarakan pameran dan mempublikasikan karya. Gunawan pun menyatakan bahwa apa yang tersedia di ruang pamer Rumata’ adalah berkat kerja teman-temannya. Begitulah yang tampak di kalangan seniman, persahabatan merupakan hal penting, sebagai bentuk dukungan intelektual dan emosional.

Hal menarik lainnya adalah saya mengenal Gunawan di kampus sebagai salah satu mahasiswa seni rupa yang produktif berkarya dan rajin mengikuti pameran. Salah satu bukti aktifnya Gunawan berpameran adalah melalui lukisannya berjudul Butuh Bingung yang dipamerkan di So Sial. Dibuat di kanvas berukuran 154cm x 110cm, karya ini telah lolos akurasi dan mengikuti pameran di Galeri Nasional bersama karya-karya mahasiswa seni rupa se-Indonesia tahun 2013. Gunawan, menurut Riri Riza, Direktur Rumata’ Art Space, memilih jalan “keterlibatan” dalam ekspresinya keseniannya. Gunawan adalah salah satu dari sekian bakat muda yang ingin melibatkan diri dalam percakapan kecil maupun perdebatan besar tentang kondisi kota ini. Dia tak seperti mahasiswa seni rupa kebanyakan yang saya lihat, menggelar pameran tunggal hanya sebagai prasyarat kelulusannya dari perguruan tinggi. Lelaki kelahiran 8 Januari 1994 ini tampaknya sadar, dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya, dia ingin melibatkan kehidupan-kehidupan sosial dalam karyanya. Benarlah apa yang disampaikan WS. Rendra dalam puisinya Sajak Sebatang Lisong : Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.

***

*Tulisan ini dibuat untuk diikutkan dalam seleksi beasiswa workshop penulisan kritik seni rupa yang diadakan oleh Makassar Biennale 2015 dan Tanah Indie.

Wednesday, 29 July 2015

Menjadi Kekinian di Novel Akhir Abad 19


Kenapa banyak judul foto pakai bahasa Inggris?” kekasih saya menceritakan pertanyaan seorang kurator dalam pameran foto yang dia ikuti. Kiranya pertanyaan ini menohok, sebab, apa iya kosakata bahasa Indonesia terbatas?

Seorang Remy Silado dalam novelnya Malaikat Lereng Tidar (lagi-lagi) membuktikan bahwa kosakata bahasa Indonesia tidaklah terbatas. Jika anda kehabisan kata untuk menyebut “sesudah itu, kemudian daripada itu” ada dua padanan kata yang tidak kalah keren dan digunakan dalam novel setebal 544 halaman. Pemilik nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong makin menobatkan dirinya sebagai munsyi di Malaikat Lereng Tidar (selanjutnya disingkat menjadi MLT), ada banyak suku dengan bahasa berbeda dalam novel ini. Selain menobatkan diri sebagai munsyi di MLT, penulis kelahiran Makassar ini juga menunjukkan kualitasnya sebagai mantan wartawan. Novel ini adalah novel fiksi sejarah yang dilengkapi banyak catatan kaki yang rata-rata rujukannya berkisar pada abad 18, 19, dan 20.

Apalah saya jika harus mengulas tentang seorang Remy Sylado.

Selama 10 ramadan saya menghabiskan novel ini. Percayalah ini adalah novel tebal pertama tercepat yang saya habiskan. Latar belakang waktu dalam ceritanya berada pada akhir abad 19 dan awal abad 20 masih terasa kekinian. Ada beberapa hal yang ternyata tidak berubah dalam kurun waktu 100 tahun di Indonesia.
  1. Kisah cinta jarak jauh. Bahwasanya hubungan sepasang muda mudi secara jarak jauh atau yang lebih hits dengan nama LDR sudah ada sejak perang dunia I berlangsung. Bersyukurlah anak muda zaman sekarang. Walaupun terpisah oleh ruang, jarak, dan waktu mereka masih dapat berhubungan, melalui personal message yang kian hari kian canggih kian intim, dengan fasilitasvideo call. Bayangkan dalam Malaikat Lereng Tidar, ada seorang laki-laki berumur 17 tahun, bernama Jez, meninggalkan Manado menuju Magelang karena ingin menjadi marsose, korps khusus ketentaraan Belanda. Berharap pulang untuk memperistrikan kembang desa di kampungnya. Namun apa daya, Jez terjebak oleh pandangan pertama dengan anak perempuan si empunya kedai minum di daerah tempat dia menempuh pendidikan. Sebulan sebelum keberangkatannya berperang di Aceh dia menikahi wanita tersebut, namanya Mirah. Setelah itu, Jez dan Mirah harus merasakan siksanya menjalani kisah cinta jarak jauh, tanpa telepon, apalagi Line, Whatsapp, dan BBM. Jez hanya bisa mengirim surat singkat yang baru tiba dua bulan kemudian. Pulang-pulang, Jez telah punya anak, namun sayang harus meninggal karena konflik yang membuat saya mengumpat setengah mati ketika membaca novel ini. Barangkali ceritanya harus dibikin pelik supaya cinta yang sejati memiliki arti istimewa bagi anak cucunya kelak.
  1. Aparat korup. Di halaman 430, Remy Sylado menulis puisi 4 baris : polisi bisa jadi sahabat barangkali/jika polisi tidak diperhamba uang/tapi polisi menjadi musuh masyarakat/ketika polisi bisa dibeli oleh uang. Usahlah kita membincangkan hal ini. Karena tivi-tivi kita sudah saban hari membincangkannya, walaupun tidak secara langsung, tapi penonton dapat menilai dengan baik, maka usahlah kita bercuap-cuap disini. Pening.
Jika kamu pernah membaca Namaku Mata Hari, novel pendahulu Malaikat Lereng Tidar, maka kamu tidak akan heran dengan pertemuan Jez dan suami Mata hari, Rudolph John McLeod. Sebab Namaku Mata Hari dan Malaikat Lereng Tidar memang berada pada zaman yang sama. Betapa hebatnya Remy Sylado. Tiap bab MLT ada puisi empat baris yang awalan katanya diambil dari akhiran kata tiap bab dan ujung kata baris pertama selalu menggunakan kata ‘barangkali’. Oiya, MLT pun disajikan dengan sangat filmis.

Alhasil, Rp 108.000,-mu tak kan sia-sia ketika membeli MLT. Di dalamnya memuat banyak pengetahuan dan fakta sejarah yang dikemas dalam kisah cinta. Remy Silado benar, sebelum buku ini menjadi wujud, sudah ada biaya yang keluar lumayan ramai, yaitu ketika fiksi mesti dibangun dengan serangkaian riset.


Thursday, 25 June 2015

Branding Bolu Cukke







Hai!
Kemarin (25/6/2015) saya pameran di koridor Fakultas Seni & Desain UNM.
Ini adalah pameran mata kuliah Desain Komunikasi Visual 2 yang telah saya programkan sebanyak 3 kali, selama 3 tahun. Kenapa tidak lulus?

Program 1 : ikut pameran, tapi jarang masuk kelas & tidak pernah asistensi tugas.
Program 2 : rajin masuk kelas, ikut presentasi & asistensi tugas, tapi tidak ikut pameran.
Nah, program 3 kemarin adalah yang paling lengkap. Rajin masuk kelas & asistensi tugas serta ikut pameran. Yes!

Briefing tugasnya :
1. Kue tradisional Sulawesi Selatan yang mampu bertahan lama serta masa kadaluarsanya lama.
2. Perancangan logo.
3. Pembuatan packaging.
4. Pembuatan stationery.
5. Pembuatan merchandise.

Sunday, 24 May 2015

Sehat di Usia Lanjut



“Gila-gila itu, jangan mako bati-bati (tidak usah pedulikan),” seorang lansia sontak menegur Ade, mahasiswi keperawatan, ketika meneriaki Abang.
“Gila-gila kenapai, Nek?” tanya Ade sambil tertawa.
“Meninggal anaknya, anaknya yang satu tinggal di Antang, jarang datang. Berdua mami (saja) istrinya di rumahnya,” jawab lansia lain.

Abang, 70 tahun, adalah manusia lanjut usia (lansia) yang sering mondar-mandir ketika senam lansia. Perawakannya yang tinggi kurus serta humoris kadang membuat lansia lain tertawa lewat gurauannya. Seringkali ia menolak untuk ikut senam lansia, alasannya ia baru saja jogging keliling lorong atau bersepeda. Namun untuk diukur tekanan darahnya, ia selalu bersemangat.



Aktivitas senam lansia ini menjadi rutin diadakan di sebuah lorong di Kelurahan Tamua Kecamatan Tallo Kota Makassar sejak mahasiswa keperawatan Universitas Hasanuddin mendirikan posyandu lansia 2008 lalu. Selain senam lansia, tiap bulan juga diadakan pemeriksaan kesehatan bagi lansia. Walaupun posyandu ini menumpang di rumah warga berukuran 4 x 6 meter, setidaknya hal ini membuat mereka merasa tidak terpinggirkan dari keluarga dan masyarakat.




Undang-Undang No. 13 tahun 1998 mendefinisikan manusia lanjut usia sebagai orang yang telah berumur 60 tahun ke atas. Data Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa angka harapan hidupIndonesia adalah 72,4 tahun untuk perempuan dan 68,4 tahun untuk laki-laki. Hal ini menandakan bahwa tiap anak yang lahir diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 70,4 tahun. Selain itu, BPS juga mencatat ada 77.444 jiwa lansia di Makassar dari total 1.408.072 jiwa lansia Indoneisa. Deretan angka ini kiranya membuat kita menaruh perhatian lebih kepada lansi, sebab kedepannya lansia diharapkan tetap bahagia dalam menjalani sisa hari tuanya walaupun mengalami berbagai penurunan fisiologis dan psikologis. Harian Fajar, Januari 2015 lalu memuat berita dengan headline “Ibu SYL Minta Fasilitas Khusus Lansia”. Di dalamnya diberitakan bahwa orang tua Gubernur Sulawesi Selatan ini meminta kepada Walikota Makassar untuk minimal diberi lokasi khusus jalan kaki yang dilengkapi pegangan. Ketua Lansia Sulsel ini mengaku, dunia sudah menganjurkan setiap kota untuk memiliki fasilitas untuk lansia. Menanggapi hal tersebut, Walikota Makassar kemudian menjanjikan fasilitas untuk warga yang telah lanjut usia berupa jalur khusus bagi pengguna kursi roda serta pengguna tongkat. Apalagi kota ini, katanya, punya visi mewujudkan Makassar menjadi kota dunia yang nyaman untuk semua tanpa adanya batasan (antarasulsel.com, 27/01/2015).




Fasilitas memang bukan merupakan satu-satunya penanda apakah sebuah negara ramah bagi lansia. Masih ada keamanan pendapatan, kapabilitas personal, dan apakah manusia bisa hidup di lingkungan itu atau tidak. Penanda ini ditentukan oleh organisasi HelpAge International dan dari data Global AgeWatch Index 2014, Indonesia menduduki peringkat 71 dalam daftar negara paling ramah bagi para manusia lanjut usia (lansia). Sedangkan, peringkat pertama diduduki oleh Swedia. Jadi, untuk menghabiskan masa lanjut usia dengan suasana ramah dan nyaman, kita, warga kota Makassar tidak harus dipindah ke Swedia, ‘kan?

-

Tayang di makassarnolkm.com : link

Saturday, 16 May 2015

Tidur dan Pertanyaan Berulang



Mama sedang dalam perjalanan pulang pagi ini. Menuju kota tempat ia mengajar. Di angka yang melingkar di pergelangan tangan kananku saya melihat angka sepuluh. Kali ini ia tidak sendiri. Ada bapak yang menemaninya. Ini adalah kali kedelapan kedatangannya menemui dua orang anaknya yang sedang kuliah di kota lain selama lima bulan terakhir dan ini adalah rentang waktu paling intensif mama berkunjung.

Bukan tanpa sebab. Mama sedang sakit. "Sakit apa? Kok kelihatannya anda sehat-sehat saja?" tiap orang akan bertanya ketika dijawab oleh mama bahwa ia sedang tidak sehat. Karena bapak bukan tempat curhat yang baik, maka mama ke anak-anaknya. Sambil berobat.

Jika kamu menonton film The Machinist, kamu akan melihat Trevor Reznik tersiksa tidak bisa tidur. Ketidakmampuannya untuk tidur memengaruhi mentalnya, cemas, berhalusinasi dan memandang segala sesuatunya buruk. Tidak. Mama sedang tidak mengalami insomnia kronis. Ia, hanya--sedang tidak bisa tidur ketika malam, pun ketika siang. Tak ada sama sekali rasa kantuk bahkan jika sudah berbaring dengan mata terpejam. Kata psikiater, mama sedang mengalami gangguan jiwa ringan. Hal ini akan dapat diatasi dengan mengonsumsi obat tidak dalam jangka waktu tiga hari atau seminggu, namun berbulan-bulan. Tergantung dari bagaimana mama bisa mengatasi rasa cemasnya dengan selalu berpikiran positif.

Jika ini bukan insomnia, maka kamu bisa berpikiran begini : ketika pikiran sedang kalut, maka kadar asam lambung akan meningkat, Dan bila kadar asam lambung sudah meningkat, maka dapat dipastikan kamu tidak akan bisa tidur.

Mama tidak pernah sreg ketika meminum obat dari dokter. Ia selalu ketakutan terhadap dampak mengonsumsi obat : lever / ginjal, dsb. Maka, untuk mengatasinya, ia mencari orang-orang yang memiliki kesamaan penyakit dengannya, namun telah sembuh. Beberapa orang, menyarankan untuk berobat alternatif. Pengobatan alternatif yang dimaksud adalah mendatangi 'orang pintar'. Untuk pemilihan 'orang pintar' mama selektif. Yakni, menghindari 'orang pintar' yang mengobati tidak menggunakan ayat-ayat Tuhan. Takut musyrik.

'Orang-orang pintar' menyebut ini adalah guna-guna, klenik.

Mochtar Lubis dalam ceramahnya memang menyebut bahwa salah satu ciri manusia Indonesia adalah masih percaya takhayul. Yang diungkapkannya di tahun 1977 itu masih terjadi, 2015. Selain kolusi dan nepotisme, manusia akan menggunakan klenik untuk mendapatkan harta dan tahta.

"Pernah ada pegawai dinas A disini datang berobat. Penyakitnya, tiap kali telah bersepatu akan ke kantor, kaki kirinya tiba-tiba lumpuh. Hingga akhirnya ia harus izin bekerja selama setengah tahun, Temannya sendiri yang mengirim penyakit itu" jelas salah seorang pintar yang pernah mama datangi.

"Hati-hati dengan beginian, kita akan dibuat menderita seumur hidup. Tidak bisa beraktivitas. Salah-salah kita bisa dibunuhnya," seorang pintar lain memperingatkan.

'Orang-orang pintar' itu mungkin benar-benar pintar. Sebab, sebelum mama sakit, ia pernah memimpikan seorang perempuan yang ia kenal baik. Perempuan itu muncul setelah setan-setan berlarian mengitari mama. Perempuan itu bilang bahwa ia hanya pura-pura baik ke mama. Itu yang mama ceritakan ke saya. Berkali-kali, saya pun didatangi perempuan itu di dalam mimpi.

Beberapa hal kemudian terjadi di rumah. Cicak-cicak yang ditemukan mati berhamburan di lantai. Pernah sekali siang, bapak menemukan kadal besar mati di depan pagar rumah. Padahal di kitaran rumah, tak pernah ada kadal. Konon, binatang-binatang ini memang bisa diisi oleh jin jahat.

Mereka yang menggunakan air dalam pengobatannya menyarankan mama untuk meneteskan tiga kali di tiap mata sebelum mama tidur. Anehnya, tiap kali ditetesi, mata terasa perih, seolah teriris. Padahal hanya air botol mineral yang dibacakan doa.

Suatu sore mama menelpon, ia menyuruh saya membelikannya kunyit putih. Katanya untuk diparut kemudian diminum. Mama meringis tiap kali saya tanya bagaimana rasanya. Pahit sekali. Apa boleh buat. Supaya kembali bisa tidur lelap.

Mama orang yang biasa saja. Ia seorang guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah atas. Sehari-hari ia hanya mengajar dan memasak untuk suaminya. Subuh dan maghrib ia di masjid. Ia seorang muslim yang taat beribadah. Sepertiga malamnya pun dihabiskan untuk ibadah.

Dalam hati, saya sering bilang, "Betapa Tuhan senang sekali bercanda. Saat hamba-Nya sedang khusyuk beribadah, Ia malah memberikan penyakit."

Memasuki bulan kelima, mama belum tidur lelap. Daya dan upaya telah ia kerahkan untuk sembuh. Lelap hanya bisa didapatkan jika mengonsumsi obat yang diperolehnya dari psikiater. Mama tidak bisa mengikhlaskan obat ini memasuki tubuhnya. Ia selalu bertanya, "Apa saya tidak bisa lagi merasakan lelap tanpa obat-obatan? Apa saya tidak bisa lagi tidur secara sehat?"

Mama tidak akan bisa tidur lelap tanpa obat-obatan, dengan pertanyaan-pertanyaan yang berulang.

Friday, 27 February 2015

Jangan Buang Screen Sablonmu!

"Saya adalah tipe manusia yang tidak bisa fokus. Mengerjakan sesuatu suka setengah-setengah; kadang terhenti di tengah jalan (tanpa ada niat melanjutkannya karna menemukan pekerjaan lain yang nampaknya jauh lebih asyik), kadang terhenti beberapa waktu dan lanjut lagi, namun ada juga yang terselesaikan tanpa menunggu waktu yang lama."
Sekira awal tahun lalu, saya dan kekasih iseng memproduksi totebag sendiri. Proyek senang-senang yang mandek. Blognya disini. Haha! Kainnya kami hunting di pasar sentral, kemudian saya sablon, dan dijahit oleh kekasih. Kegiatan ini hanya berlangsung beberapa bulan.

Awal tahun ini, tepat ketika liburan semester dimulai, saya kemudian membersihkan rumah. Berniat membuang semua barang-barang tak terpakai. Namun di sebuah sudut, saya menemukan perlengkapan alat sablon yang tertutupi oleh kertas-kertas, termasuk screen sablon. Jika tinta-tinta sablon yang telah mengeras rela saya buang, lain halnya dengan screen sablon, terlalu sayang jika dibuang.

Mengingat tembok-tembok di dalam rumah kosong melompong, kenapa tidak screen sablon yang menumpuk itu saya jadikan wall decoration? Toh, sudah berbentuk bingkai?



Mengubah screen sablon menjadi bingkai membutuhkan hanya membutuhkan sedikit kesabaran. Sebab, setelah mencabuti kain screen dari baloknya, hal membosankan selanjutnya adalah mencabuti satu per satu anak hekter dari balok. Ini sebenarnya bagian penting, agar tak terlihat seperti jerawat di wajahmu yang putih.



Oiya, akan ada banyak  serabut kayu yang muncul akibat mencabuti anak hekter tadi, tapi tenang, kita hanya butuh dua tiga lembar amplas untuk menghaluskannya. Setelah diamplas, barulah kita bisa mengecatnya dengan warna sesuka hati. 


Cetak foto terbaik yang akan dipajang, bisa juga cetak quote dari film-film inspiratif yang pernah dinonton atau quote dari buku-buku kesukaanmu, terserah. Oiya, untuk tali penggantungnya saya menggunakan benang rajut yang ditempel menggunakan lem lilin. Sementara penjepitnya saya gunakan wooden clip. Alternatif dari penjepit kayu adalah penjepit kertas. Tapi eh, terserah mau dijepit pakai apa.


Sekali lagi, mengubah screen sablon menjadi dekorasi dinding ini hanya butuh kesebaran dan konsistensi. Jika diseriusi, mungkin dapat selesai dalam dua atau tiga hari, namun saya menghabiskan hampir dua puluh delapan hari untuk melihat barang yang hampir dibuang ini menjadi barang yang memanjakan mata.