Hal-hal ini terjadi di 2016 (2)

     
Masjid Raya Kabupaten Wajo di shalat Idul Fitri 1437 H/2016 M.
Foto: Jumardan Muhammad
       3. Tengah Tahun II (Agustus-Oktober)

Saya beridul fitri di Sengkang. Di malam lebaran saya duduk di teras bersama bapak. Dia semakin fasih menggunakan Facebook, mengomentari postingan orang-orang di berandanya. Lima hari sebelum lebaran saya tiba di Makassar dan Ade menjemput saya di bandara. Kami tidak bertemu setelah hampir 4 bulan. Dia menghabiskan separuh 2016-nya di Jakarta dan kini sudah menetap di sana. Pertemuan kami kemudian diisi dengan percakapan-percakapan panjang tentang banyak hal yang terjadi, tentang orang-orang baru yang kami temui.
Dia memang pacar yang baik sekaligus teman diskusi yang cerdas. Salah satu percakapan yang paling membekas adalah pendapatnya tentang bagaimana kami orang introver harus beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan baru. Sebab jika tidak, tidak akan ada hal yang bisa dilakukan dan kita hanya akan terjebak dengan pikiran-pikiran kita sendiri.
“Saya tahu kalau kamu adalah introver, tapi tolong, kamu harus menyesuaikan pada dunia yang terus berubah. Bukan dunia yang harus menyesuaikan denganmu,” sergahnya pada perbincangan tentang seorang pribadi tertutup lainnya.

Dunia berubah dengan sangat cepat, pun dengan waktu. Tinggal sementara di lingkungan baru memaksa saya sebagai introver untuk harus menyesuaikan dan beradaptasi sesegera mungkin. Bertemu dan berteman dengan orang-orang yang berasal dari daerah yang berbeda membuat saya awalnya kikuk. Awal kedatangan butuh 2 minggu untuk merasa nyaman dengan lingkungan baru. Akhir Agustus saya kembali ke Pare dan saya tidak harus beradaptasi banyak karena sebelumnya saya berada pada tempat sama.

Jalan Anyelir pukul 05.30 pagi.
Kawasan ini adalah kawasan paling ramai di Kampung Inggris
sebab di jalan inilah berdiri kursusan pertama di Pare.

Saya menikmati belajar bahasa. Untuk kelas menulis dan penerjemahan yang saya ambil saya selalu bersemangat. Sebulan belajar, saya salah seorang dari banyak siswa yang selalu datang di awal dan duduk di bangku terdepan. Bertemu dengan pengajar-pengajar cerdas dan anak-anak muda yang kompetitif selalu menjadi hal yang menggairahkan. Ada pertanyaan yang selalu saya ajukan ke orang-orang di Kampung Inggris tentang kenapa mereka datang kesini setelah sarjana?



Seorang pengajar malah menjawabnya, “Karena intensitas belajar bahasa Inggris selama sekolah tidak cukup dan tidak efektif, makanya ke sini.” Hal menarik lainnya adalah banyak anak-anak Makassar di Kampung Inggris. Saya mengingat ketika kelas pertama yang saya ambil memasuki sesi perkenalan dan pengajarnya menanyakan, “Kenapa banyak sekali orang Makassar di sini? Bisa jadi Kampung Inggris ini akan berubah menjadi Kampung Makassar.”

Ini hal menarik. Satu-satunya daerah yang punya perkumpulan dan sekretariat di Kampung Inggris adalah Sulawesi. Dan yang mendominasi adalah orang Sulawesi Selatan. Tiap kelas baru yang saya ikuti selalu ada lebih dari tiga orang yang memperkenalkan dirinya berasal dari Makassar. Beberapa kursusan dan tempat makan pun didirikan oleh orang Makassar. Dan tiap kali saya mendapati pertanyaan kenapa banyak orang Makassar di Kampung Inggris saya selalu menjawabnya bahwa nenek moyang kami adalah perantau dan pebisnis. Pelan-pelan tiap orang Makassar yang saya temui selalu saya sodori pertanyaan, “Kenapa kamu kesini?” Jawabannya beragam. Mulai dari keinginan untuk belajar di tempat yang kondusif dengan suasana yang baru, belajar TOEFL atau IELTS untuk persiapan beasiswa hingga keinginan untuk jalan-jalan saja, mumpung berada di pulau Jawa. Akses untuk kemana-mana memang mudah, ada stasiun kereta api yang dekat dari Pare. Mengitari pulau Jawa bisa menggunakan jalur darat. Beda halnya ketika dari Makassar hendak ke Jawa yang melalui jalur udara, tiket pesawat selalu lebih mahal dibanding tiket kereta api atau bus.

Menjelang umur seperempat abad saya baru tahu bahwa jawaban
tidak hanya Yes atau No saja, tapi juga ada Not Given. 

Dengan banyaknya anak-anak muda yang belajar di sini, saya penasaran dengan tidak adanya orang dari latar belakang pendidikan yang sama dengan saya. Maklum saja, berdiam di satu tempat dan melakukan aktivitas yang itu-itu saja untuk jangka waktu yang panjang lama kelamaan membuat saya bosan bukan kepalang. Saya mencari teman untuk diajak berbincang tentang DKV dan hingga hari ini, baru satu orang yang saya jumpai itupun tidak ada perbincangan berarti yang saya dapati. Kebanyakan mereka yang datang kesini adalah alumnus jurusan ekonomi, manajemen, sains, teknik, dan pendidikan. Saya paham bahwa desain komunikasi visual adalah dunia yang langsung bersentuhan dengan pekerjaan, kurikulum DKV di Indonesia memang dirancang untuk kebutuhan industri dan ini memang adalah ilmu praktis. Apalagi lulusan DKV di pulau Jawa yang notabene dekat dengan pusat industri. Tidak perlu sekolah lebih tinggi untuk bisa hidup mapan. Namun pertanyaannya, apa iya tidak ada anak DKV yang ingin melanjutkan pendidikannya? Indonesia adalah negara kaya yang bisa menjadi ladang bagi lulusan DKV untuk mencatat dan mengomunikasi-visualkannya dengan beragam medium.

Agustus hingga Oktober saya habiskan di Pare, tidak kemana-mana sebab saya tidak sependapat dengan teman-teman yang sering menggombal—kita harus refreshing ke tempat baru untuk menyegarkan pikiran yang penat setelah lama belajar.

4. Akhir Tahun (November-Desember)

Saya menerima telepon di akhir Oktober tentang Kareba yang menjadi salah satu tim redaksi yang lolos ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan duta damai lanjutan di Jakarta dan bertemu dengan teman-teman redaksi lainnya dari Jakarta, Medan, Yogyakarta. Namun, bagian paling sulitnya adalah dari 12 orang tim redaksi, hanya 6 orang yang diberangkatkan. Sebab kerja tim redaksi ini bukan kerja perorangan namun kerja tim dan keseluruhan teman-teman yang ada di Kareba hingga 6 bulan setelah pelatihan masih aktif menulis dan membuat karya terkait anti propaganda paham radikalisme dan terorisme.

Unggun api di Ciawi, Bogor.

Hal pertama muncul di benak saya ketika berbicara terorisme adalah peristiwa Bom Bali. Hingga hari ini peristiwa pengeboman dan isu terorisme masih menjadi salah satu masalah mendasar di Indonesia. Sama halnya dengan penanggulangan narkotika yang memiliki Badan Nasiona Narkotika, pemerintah pun membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Negara yang mayoritas muslim terbanyak di dunia ini memang jadi sasaran empuk bagi para teroris, untuk melancarkan aksinya dan merekrut anggota baru. Parahnya, orang-orang muda adalah sasarannya. Saya pernah membaca tulisan panjang di Rappler yang menjelaskan bagaimana mereka merekrut anak muda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Turki dan Mesir. Media yang mereka gunakan adalah Facebook. Tidak banyak yang bisa mereka perdaya namun yang tidak banyak ini kemudian mengajak teman-temannya yang lain. Rata-rata yang terekrut adalah alumnus pesantren dan iming-iming yang ditawarkan para teroris adalah mati syahid dan kemudian masuk surga. Mirip bisnis multi-level-marketing.

Pemerintah Indonesia yang sadar akan bahaya ini kemudian membentuk BNPT RI. Salah satu divisinya adalah Pusat Media Damai (PMD). Divisi ini kemudian dikhususkan untuk menjadi media anti propaganda paham radikalisme dan terorisme di dunia maya. Karena para terorisme mengincar orang-orang muda maka PMD kemudian membentuk kaki tangan yang digerakkan oleh anak-anak muda dari berbagai kota se Indonesia. Sebab cara terbaik melindungi anak-anak muda dari paham radikalisme dan terorisme adalah dengan mengajak anak-anak muda lain sebagai teman yang bisa menjauhkan mereka dari bahaya tersebut. Digunakanlah dunia maya—dengan memaksimalkan semua media sosial untuk saluran penyebarannya. Anak-anak muda yang tersebar di berbagai kota ini menerima tema beragam tiap minggu dari PMD. Tema mingguan yang diberikan adalah hasil analisa terkait pergerakan paham radikalisme dan terorisme. Tema-tema ini diolah oleh tim-tim redaksi bentukan PMD dengan beragam bentuk seperti—karya tulis, karya grafis, animasi, dan video. Melindungi anak muda dengan cara anak muda. Sebab tak ada yang bisa mengerti anak muda selain anak muda itu sendiri. Halah!
Demikianlah. Saya rasa apa yang dilakukan pemerintah dengan melibatkan kaum muda untuk melakukan pergerakan dan menyelesaikan masalah adalah solusi cerdas.

Di seleksi presentasi hasil kerja tim redaksi saya adalah orang yang pesimis.
Betapa tidak, jumlah pengunjung website Kareba hanya 1989 viewers
dalam 6 bulan, sementara angka tersebut hanyalah angka viewers
per minggu dari tim redaksi Jakarta dan Yogyakarta.

Saya dan tim redaksi Kareba mengikuti pelatihan duta damai lanjutan di Jakarta dan Bogor dari Senin hingga Kamis. Saya berangkat dari Surabaya dan teman-teman yang lain berangkat dari Makassar. Ada banyak hal yang saya pelajari dari sana. Salah satunya adalah benang merah dari bincang-bincang Nukman Luthfie pengamat media sosial, Kepala BNPT RI, Ketua Ikatan Dai Indonesia, yang dimoderatori Tina Talisa bahwa apa yang Kareba kabarkan di dunia maya tidak akan berguna jika sepi pengunjung dan tidak ada yang memerhatikan. Pembuatan judul adalah hal penting dari penyajian konten. Copywriter yang handal dibutuhkan dalam hal ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah haruskah kami ‘menjual diri’ dengan judul yang norak? Saya tidak menangkap jawaban Nukman terkait hal ini, terlalu mengambang.


Kareba Duta Damai terpilih sebagai salah satu tim yang mempresentasikan hasil kerjanya selama 6 bulan terakhir di depan para pejabat BNPT RI. Saya memang yakin Kareba menang tampilan sejak dipresentasikan di Makassar untuk pertama kalinya. Dan ternyata, setelah dibandingkan dengan tim redaksi dari kota lainnya kami masih unggul. Walaupun dari segi pengunjung, Kareba miskin. Apa yang saya prediksikan benar, tampilan dan konten merupakan syarat utama untuk sebuah website. Jika Kareba menang di visual maka tim redaksi dari Pojok Duta Damai, Yogyakarta, yang merupakan teman presentasi kami unggul di riset dan analisa yang mereka kerjakan. Tulisan-tulisan yang mereka tampilkan juga jauh lebih berat nan bernaas.
Sekira tujuh atau delapan tahun lalu saya sering menerima wawasan kebangsaan tentang Indonesia. Hingga saat itu saya tak pernah lagi mendapati hal tersebut. Pengalaman tentang ke-Indonesiaan saya dapatkan kemudian dari bacaan dan perbincangan-perbincangan dengan orang-orang, itupun jarang. Tapi di malam terakhir pelatihan duta damai, saya kembali menerima wawasan kebangsaan dari salah seorang pimpinan di BNPT RI. Ini kemudian menjadi semacam amunisi untuk masa-masa mendatang.

Kota Tua Jakarta.

Selesai kegiatan, Ade menyarankan saya ke kawasan Kota Tua karena dia belum bisa menemui saya di hari itu. Di sana saya menghabiskan seharian dengan berkeliling. Minum kopi di pagi hari di Kopi Es Tak Kie, kedai kopi yang berdiri sejak 1929 di kitaran Glodok, Jakarta Barat. Kopi Es Tak Kie ini sering wara-wiri di linimasa instagram saya lengkap dengan ulasannya yang bikin ngiler. Saya yang memang gemar berada di warung kopi yang biasa saja merasa seperti menemukan harta karun, apalagi kedai kopi ini berada di tengah-tengah kawasan pecinaan. Saya menghabiskan hampir dua jam di sana, duduk dan mondar-mandir di dalam kedai sambil memerhatikan foto-foto di dinding, memerhatikan si pembuat kopi dan para pengunjung yang di dominasi orang Tionghoa. Matahari kian meninggi, saya menuju ke Kota Tua. Mengunjungi museum-museum yang ada di sana. Di museum Fatahillah yang dibangun pada tahun 1700-an, memerhatikan runut Jakarta di masa lalu dari miniatur, lukisan-lukisan, hingga perabotan rumah tangga membuat saya terkagum-kagum. Jika memang diberikan pilihan saya memang selalu ingin hidup masa lalu, sebelum semua yang ada sekarang datang menginvasi. Museum selanjutnya yang saya datangi adalah museum seni rupa dan keramik Indonesia. Mengunjungi museum di Indonesia memang selalu seperti ziarah kubur. Yang ada adalah sepi dan potongan-potongan sejarah dalam bentuk patung, lukisan, dan berbagai artefak yang fisiknya sudah tidak lagi utuh. Tidak sedikit patung di sana yang dibantu berdiri tegak oleh tali yang membentang.  Tepat di seberang pintu selatan stasiun Kota Tua, di gedung Olveh, ada Sarasvati yang berkantor di sana—majalah seni dan gaya hidup. Di hari itu sedang ada pameran The Trade of Innovations, salah satunya memajang desain paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015.

Kalau mau jujur, dari segi rasa, kopi susu yang saya sesap pagi itu
sebenarnya kalah dengan kopi di warkop daeng sija di jalan pelita Makassar.

Keesokan harinya saya akhirnya bertemu Ade! Dalam 2016 kami mengalami sedikit pertemuan. Hanya tiga kali—di awal, pertengahan, dan di akhir tahun, kesemuanya hanyalah pertemuan singkat. Kami bertemu di salah satu mall di daerah Kalibata, makan siang dan bertukar cerita. Sebelum matahari terbenam, kami menuju Pasar Santa. Dengan tujuan utama Post Santa. Pasar Santa yang hits sejak beberapa tahun lalu itu akhirnya bisa kami kunjungi. Pasar itu sebenarnya pasar tua yang dihidupkan oleh anak-anak muda yang menjajakan barang-barang, seperti clothing, kaset dan cd, vynil lengkap dengan turntablenya, hingga buku-buku bagus yang tidak akan ditemui di Gramedia.

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali.
Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,”
Tan Malaka, Madilog.

Mendekati Post Santa, kami sontak balik kanan dan menjauhi toko buku indie itu. Bukan tanpa sebab, di sana sedang ngobrol Windy Ariestanty dan teman-temannya. Ade yang mengangumi Windy sejak SMA dan saya yang mengenal Windy sejak membaca Life Traveller-nya merasa kikuk harus bertemu langsung dengannya walaupun saya yakin bahwa dia tidak akan mengenal kami. Terakhir melihat bertemu Windy di MIWF 2014, Ade memberinya sesuatu yang oleh Windy kemudian diunggah di instagramnya. Setelah saling menertawai ke-salah-tingkah-an kami, kami akhirnya masuk ke Post Santa—menikmati buku-buku yang dipajang. Menurut si empunya, ada tiga kategori buku di sana : buku berbahasa Indonesia, buku-buku luar, dan buku bekas yang dijual dengan harga murah. Usai membeli tiga buku, kami memutari Pasar Santa dari tingkatan lantai satu ke tingkatan lantai lainnya. Pasar itu sepi pengunjung, hanya beberapa yang buka, mungkin karena sudah malam. Apalagi malam itu adalah malam minggu. Tuntas berkeliling, kami menuju daerah Blok M, menonton Fantastic Beasts and Where to Find Them.

Minggu siang, saya mengunjungi Abad Fotografi di Galeri Nasional. Pameran fotografi yang memajang karya para dedengkot seniman foto Indonesia. Kali ini tidak bersama Ade, kami berpisah di depan Galeri Nasional, dia harus masuk kerja dan saya harus ke Halim Perdana Kusuma sejam setelahnya sebab tiket kepulangan ke Surabaya jam 4 sore. Pertemuan yang singkat itu merupakan pertemuan terakhir kami di 2016.

Ade dan saya.

Tepat tengah malam saya tiba di kosan, di Pare. Melanjutkan aktivitas belajar. Di perjalanan dari Surabaya ke Pare saya disopiri oleh seorang bapak yang baik hati, dia mengantar saya makan malam di sebuah warung murah yang sebenarnya tak jauh dari pintu kedatangan dan bisa saya akses dengan berjalan kaki, namun dia tetap bersikeras untuk mengantar saya. Sambil menunggu penumpang lain katanya. Dia tampaknya sedang bosan menunggu, katanya sudah sejak siang dia di bandara.

***

Saya menyelesaikan tulisan ini lima menit sebelum kelas jam 5 pagi di mulai. Tiga hari ke depan hari pertama di 2017 akan tiba.  Saya sudah menyusun rencana-rencana di 2017. Semoga Tuhan juga menghendaki. Kita manusia, hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Kemarin saya juga telah memperpanjang nama domain blog ini. Semoga di 2017 saya lebih rajin mencatat keseharian. Bulan terakhir dalam almanak ini memang sungguh membantu kita untuk melihat dunia dengan cara yang unik : tentang kenangan dan harapantentang bagaimana kehidupan kita di tahun lalu atau akan seperti apa kita di tahun mendatang. Selamat berlibur dan selamat tahun baru!


*Judul tulisan ini meminjam judul lagu FSTVLST, Hal-Hal Ini Terjadi. Ini tulisan bersambung, sebeluumnya bisa dibaca di https://www.jumardanm.com/2016/12/hal-hal-ini-terjadi-di-2016-1.html

Hikayat Jean Calas dan Mereka yang Gagal Jantung

Pernah suatu sore di Kampung Buku, usai menyelesaikan bacaan di rubrik literasi Tempo Makassar saya melempar koran itu ke atas meja sambil menghela napas panjang. Kak Jimpe yang duduk di depan saya bertanya, “Kenapa?”

“Tidakji kak, begituji pale’ literasi. Kumpulan beberapa tulisan, data, yang dikaitkan dengan kejadian sekarang, trus ditutup dengan pendapat pribadi.”

“Begituji memang. Rajin membaca saja.”

Adalah reading IELTS yang kemudian menjadi perangsang hadirnya tulisan di bawah ini. Reading berjudul Optimism and Healthy itu kemudian menggiring saya mengingat bacaan Voltaire tentang toleransi sekira akhir tahun lalu.  Ditambah lagi dengan tagar #BandungIntoleransi yang saya baca di linimasa twitter beberapa hari lalu. Tulisan ini tayang di http://kareba.dutadamai.id/ 10 Desember 2016.
——————
Bahwa ada yang lebih luas dari alam semesta yang kita huni saat ini, yaitu alam pikiran. Pikiran bisa jadi penentu tindak tanduk manusia di alam semesta. Dua hal signifikan dari pikiran yang baik adalah optimisme dan kesehatan. Pikiran adalah segalanya, sehat sakitnya jasmani tergantung dari baik buruknya rohani. Jika ada yang menggadang-gadang slogan sehat berawal dari pikiran, maka pernyataan tersebut tidak mengada-ada.

Adalah Brice Pitt, seorang profesor di bidang psikiatri di Imperial College London yang mengatakan bahwa optimisme adalah satu-satunya hal yang akan menyelamatkan kita dari keterpurukan dan akan menuntun pada kebahagiaan. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Martin Seligman—profesor psikologi yang juga penulis buku Learned Optimism, menemukan bahwa ketika kesulitan datang, orang yang optimis berhasil melaluinya dengan baik dibanding dengan mereka yang pesimis. Para optimistik tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, mengelola stres dengan bijak, dan mendapatkan hasil pekerjaannya dengan sempurna. Sedangkan, orang-orang pesimis berbanding terbalik. Mereka terjebak dalam pikirannya yang tidak-tidak sehingga tidak melakukan apa-apa.
Salah satu muara dari optimisme adalah kesehatan. Sebuah riset yang dilakukan oleh Becca Levy—psikolog di Universitas Yale, mengambil sampel 660 orang relawan telah menunjukkan bahwa mereka yang berpikiran positif dapat memperpanjang umurnya tujuh tahun lebih lama. Seorang peneliti di Harvard Medical School, Rosalind Wright pun menemukan bahwa mereka yang bersifat optimis memeroleh manfaat berupa peningkatan fungsi jantung dan sistem kekebalan tubuh, sehingga mengurangi resiko gagal jantung.
Atas keriuhan yang terjadi di dunia maya dan dunia nyata akhir-akhir ini yang benang merahnya  adalah mendebat perbedaan, ada baiknya kita tidak usah repot-repot mengikuti arus dan berubah pesimis, meskipun hal ini telah terjadi berulangkali dengan isu yang beragam. Orang-orang optimis memiliki hubungan yang baik kepada sesama manusia dibanding mereka yang pesimis. Bukannya apa, begitu tidak menyenangkannya akhir tahun ini jika kemudian hari di media daring, viral berita dengan headline : Menyedihkan, orang ini gagal jantung karena meretwit larangan mengucapkan selamat natal.
Begini, di Indonesia ini, bisakah perbedaan agama dan pendapat ini kita sikapi dengan pikiran terbuka? Tidak dengan menyalahkan bahwa pendapat (agama) ini benar dan yang itu salah, dan yang salah akan masuk neraka. Terkait hal ini saya teringat kisah Jean Calas yang tinggal di Toulouse—sebuah kota di barat daya Prancis. Dia seorang pedagang dan juga ayah yang baik. Keluarga Calas menganut agama Protestan, kecuali Louis Calas salah seorang anaknya yang memilih Katolik. Dia tidak mempersoalkan hal tersebut, malah dia memberikan tunjangan hidup kepada Louis. Dia juga punya pembantu wanita yang merupakan penganut taat agama Katolik yang mengasuh anak-anaknya. Suatu hari, anak sulungnya Marc-Antoine, seorang pesimis yang jiwanya penuh dengan kegelisahan, memilih gantung diri. Tetangganya yang berbeda agama, kepercayaan, dan temperamental berkerumun menyaksikan kejadian itu. Mereka menggangap bahwa keluarga Calas sengaja melakukan pembunuhan : seorang ayah, ibu, dan anaknya mencekik mati seorang anaknya yang lain untuk menyenangkan Tuhan dan hal itu membawa Calas ke meja hijau. Oleh karena itu, Jean Calas yang merupakan kepala keluarga pun dijatuhi hukuman mati pada 1762.
Voltaire yang gerah kemudian menulis esai sebagai bentuk protes atas dakwaan Jean Calas—bagaimana kalian bisa menganggap diri kalian sebagai umat Tuhan, bila hukum agama yang utama “Cintai Tuhan dan tetanggamu” telah kalian nodai dengan pendapat yang tidak masuk akal? Bagaimana bisa kalian mengganggap diri kalian suci sementara kalian menyulut api kebencian, hanya karena sebuah pendapat yang berbeda? Bila memang kalian ingin mengutuk semua orang yang berkeyakinan lain, berbeda budaya, dan berbeda cara hidup, maka aku ajak kalian dengan penuh kesedihan, “Mari kita kunjungi hari itu, dimana semua manusia diadili di hadapan Tuhan.”
Dalam sejarah panjang manusia tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah tragedi kekejian manusia terhadap satu sama lain yang dilandasi oleh perbedaan pendapat dan agama adalah tidak sedikit. Meminjam istilah Voltaire, jika dicatat di kertas dan kemudian ditumpuk, maka tebalnya akan mengalahkan kumpulan halaman kitab suci.
Sikap untuk selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal akan selalu menemui pertentangan-pertentangannya. Terlebih bagi kita yang hidup di Indonesia, dimana tiap hari di media massa, media elektronik, dan media daring tidak pernah alfa memberitakan tentang perbedaan yang tidak mengenakkan hingga menyulut kebencian. Hidup dalam kekhawatiran-kekhawatiran lama kelamaan memang bisa jadi merubah seseorang menjadi pesimis. Namun, seperti pikiran yang luasnya melebihi alam semesta, belajarlah untuk menerima hidup dalam perbedaan yang beragam, sebab dengan begitu hidup akan punya banyak rasa.
***

Hal-hal ini terjadi di 2016 (1)

Exit signage di Teduh Hostel, Jakarta.
Foto: Jumardan Muhammad
Gubrak! Ini sudah Desember dan siap atau tidak siap menghitung hari lagi kita akan keluar dari 2016 dan masuk ke 2017. Betapa waktu berlalu dengan sangat cepat. Selamat memasuki Desember, bulan terakhir di kalender masehi. Tahun ini adalah tahun tercepat dan tahun paling dinamis bagi saya dalam 5 tahun terakhir.
Meskipun tidak banyak hal yang saya lakukan, secara garis besar hanya ada empat fase di tahun ini. Selanjutnya saya akan menuliskannya ke dalam empat bagian hal-hal yang terjadi di 2016. Tak ada maksud untuk narsis dan curhat colongan, ini hanyalah cara untuk memperpanjang ingatan yang kian hari kian memendek dan juga bahan refleksi ke depannya.

1. Awal Tahun (Januari-April)

Masih dengan membawa tugas akhir (TA) yang belum kelar saya memasuki 2016. Menghabiskan waktu dengan merampungkan TA di Daun Coffee, warung kopi paling hits yang letaknya tak jauh dari kampus Parangtambung, berdiskusi dengan dosen dan teman-teman sesama pekerja TA. Hingga disela-sela kerja tersebut, teman sekelas saya yang belum sampai pada tahap penyelesaian kuliah mengalihkan isu TA ini ke ‘bikin karya sama-sama sebagai perpisahan’, maka tercetuslah ‘Almanak’ pameran kalender 2016 hasil karya berupa fotografi dan desain grafis oleh dua belas orang teman sekelas saya. Kelar di Almanak, saya kemudian kembali menghabiskan waktu dengan “Buku Foto Lipa Sa’be”, tugas akhir yang saya angkat, di percetakan sepanjang jalan Sungai Saddang dan distributor kertas di jalan Gunung Bawakaraeng. Di akhir Februari, saya berserta 9 orang pekerja TA mengadakan “Artefak”, pameran tugas akhir sebagai prasyarat untuk ujian akhir. Barulah kemudian di minggu pertama Maret pengerjaan tugas akhir ini benar-benar berakhir. Sebagai tanda telah menyelesaikannya disematilah kami gelar Sarjana Desain! Hasil kuliah selama 4,5 tahun. Betapa Maret tahun ini sangat berharga sebab hari yudisium saya, hari Jumat, bertepatan dengan hari lahir saya.

Saya yang kadung banyak main selama masa kuliah lupa ternyata lupa memikirkan masa depan! Usai yudisium, di dalam kepala saya, tiba-tiba didatangi suara laki-laki, berat, dan ngebas. Dia mengajukan pertanyaan yang berulang-ulang, “Setelah ini apa? Setelah ini apa?”

Display karya di pameran Artefak, Hotel Lamacca Makassar.

Menyusur kembali masa kuliah yang indah : saya menghabiskannya dengan bergaul dengan  banyak orang yang secara tidak langsung bersentuhan bidang yang saya kuliahi, mengikuti dan mengelola kegiatan kreatif serta pameran, belajar merumuskan masalah dan menemukan solusi, dan mengulang mata kuliah yang proses pembelajarannya sangat saya nikmati. Satu-satunya cara untuk kembali mengulang masa ini adalah dengan kembali kuliah! Melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan mendapatkan beasiswa. Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah mendapatkan score TOEFL. Jadilah saya kemudian mengambil kelas persiapan TOEFL di Pusat Bahasa UNHAS, sebulan berjalan hasilnya ternyata nihil. Bahasa Inggris saya ternyata jika diukur pada kisaran 1-5, hanya berada pada angka 0,5. Mondar-mandir di beberapa kursusan di Makassar membuat saya geleng-geleng kepala. Mahal. Dan waktu belajarnya juga tidak intensif. Saya yang saat itu sedang mengendarai motor mendapat telepon berupa tawaran mengerjakan buku tahunan. Dari perhitungan saat itu saya mendapati bahwa uang yang diperoleh dari pengerjaan buku ini bisa saya gunakan untuk berangkat ke Pare kursus bahasa Inggris, yang biayanya jauh lebih murah dibanding kursus di Makassar. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuhan memang Maha Baik.


2. Tengah Tahun I (Mei-Juli)

Buku tahunan itu saya kerjakan selama satu setengah bulan, mulai dari pemotretan, grafis, layout buku, cetak-mencetak, hingga finishing. Tak lama setelah client merampungkan urusan keuangan, mereka puas, kami putus dan saya berangkat ke kampung Inggris. Tempat yang sedari saya di sekolah dasar selalu didengung-dengungkan sebagai tempat “No English, No Service” yang katanya bahkan para penjual pentol pun takkan melayani kamu jika tidak menggunakan bahasa Inggris. Percayalah, itu hanya mitos! Saya telah membuktikannya.

Namun, dua minggu sebelum berangkat  saya iseng mengikuti pelatihan tiga hari dua malam di Hotel Arya Duta Makassar! Ada tiga hal menarik bagi saya untuk ikut. Pertama, ini bagai oase di padang pasir bagi saya yang jobless—menginap di hotel berbintang. Iya, saya kampungan. Hah! Kedua, kegiatan ini semata saya ikuti karena ada bidang desain komunikasi visual yang turut diundang di dalamnya. Ketiga, nama pelatihannya membuat saya penasaran—Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2016. Di malam pembukaan saya tertidur saat panitia menjelaskan seperti apa kegiatan akan berlangsung, saya kebingungan ketika telah berkumpul dengan sebelas orang, dua diantaranya merupakan teman kampus. Secara cepat, saya kemudian ditawari menjadi ketua. Tanpa tedeng aling-aling langsung saya terima karena saya bosan melihat orang-orang saling tunjuk untuk menjadi ketua. Namun, beberapa saat kemudian hal mencengangkan terjadi. Istilah ketua ini berganti nama menjadi pimpinan redaksi. Oh, ternyata pelatihan ini mengharuskan kita untuk menjalankan sebuah situs online berkolaborasi dengan anak teknologi informasi, dkv, dan blogger. Hal yang baru saya sadari ketika hari kedua. Di hari yang sama situs http://kareba.dutadamai.id/pun resmi bergabung di dunia maya, menjelang malam beberapa postingan dicantumkan. Di hari ketiga, saya yang datang terlambat, tau-taunya ditunjuk pertama untuk mempresentasikan website yang telah kami buat. Di Kota Makassar ada lima websiteyang dibuat sebagai media antipropaganda paham radikalisme dan terorisme di dunia maya, istilah yang saya belum paham—hingga postingan ini dibuat. Sesaat setelah pelatihan resmi ditutup para pimpinan-pimpinan redaksi dikumpulkan untuk kemudian ditugasi melanjutkan keberlangsungan situs online yang telah kami presentasikan. Hal yang diluar dugaan saya. Berawal dari keisengan mengikuti kegiatan ini saya kemudian mendapat tugas untuk menghidupkan Kareba—hingga postingan ini dibuat.

Satu hal yang saya syukuri dari pelatihan ini adalah beberapa mata kuliah di desain komunikasi visual saya berguna!

Mentoring Kareba oleh kak Abe di Peeple co-Working Space, Makassar.

Dua minggu kemudian saya telah berada di kampung Inggris. Menghabiskan waktu selama bulan Ramadhan di tempat ini membuat saya belajar banyak hal. Itulah mengapa hingga saya menempuh jalan yang lebih panjang dibanding teman-teman saya yang datang bersamaan di Pare. Teman-teman yang dulu kedatangannya bersamaan dengan saya kini sudah tidak lagi di Pare, beberapa telah kerja, sekolah, dan kembali ke daerah asalnya. Saya terlena oleh desa kecil ini. Menonton orang-orang. Di luar kampung Inggris, Pare, banyak yang menyamakan antara Pare dan Kediri. Padahal jarak antara Pare dan Kediri sekira 30 menit berkendara. Kediri adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur, ibukotanya Kota Kediri. Sedangkan Pare adalah salah satu kecamatan dan kampung Inggris berada di desa Tulungrejo. Saya selalu tidak habis pikir ketika tiap bulan selalu saja ada warung kopi masyarakat urban kota (selanjutnya ditulis coffee shop) yang melakukan grand openingdi desa ini. Anak-anak muda yang datang dari seluruh penjuru Indonesia pun tidak sedikit yang menghabiskan malam-malam mereka dengan nongkrong di tempat ini. Apakah coffee shop di daerah asal kalian tidak cukup memanjakan? Belum lagi jika malam minggu, beberapa coffee shop malah telah dipesan jauh hari oleh para anak muda yang kursus di desa ini. Untung baik jika mereka berbincang menggunakan bahasa Inggris yang telah mereka pelajari dari Senin hingga Jumat—tapi eh, tidak semua dari mereka mengambil kelas speaking. Yang terjadi malah tongsis dijulur dan mereka berkerumun di bawahnya. Aduh, kok nyinyir?


Lima hari sebelum lebaran Idul Fitri saya masih di kampung Inggris. Apa yang saya dapati kemudian adalah jalanan lengang, hanya satu dua sepeda yang melintas sesekali, rumah-rumah makan tutup, dan tempat-tempat kursusan yang jumlahnya mungkin ratusan pun sepi. Inilah wajah desa Tulungrejo sesungguhnya, yang selama puluhan tahun berkedok kampung Inggris. Apa yang membuat roda ekonomi berputar di tempat ini adalah para anak muda dari Sabang sampai Merauke, dari Pontianak hingga Manggarai. Pada dasarnya masyarakat di desa ini bermata pencaharian sebagai petani. Apa yang mengelilingi kampung Inggris adalah perkebunan sayur mayur dan sawah. Jadi jika di pagi hari, bukan hanya anak kursusan yang melintas bersepeda di jalan-jalan desa ini, tetapi juga para petani.

Selfie di Candi Surowono, Kecamatan Pare, Kediri.


Eh, sudah kepanjangan! Selanjutnya akan saya sambung di postingan berikutnya. Sampai jumpa!