Sunday, 5 November 2017

Jokowi tidak sedang bercanda dalam meningkatkan budaya baca.


Ini serius! Saya telah membuktikannya. Seminggu kemarin saya gatal. Lini masa media sosial beberapa kali memunculkan foto perpustakaan dengan menyebutnya sebagai yang terbesar di Indonesia, sementara di channel Youtube Paguyuban Pamitnya Meeting menyebut kalau Jokowi telah membangun perpustakaan 24 lantai tanpa lift—orang terpaksa harus menggunakan tangga! Karena gatal akan nikmat jika digaruk, maka berangkatlah saya ke perpustakaan tersebut pada hari Sabtu.

Tunggu dulu, jika mengetik Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas), Google akan merujuk ke perpustakaan yang di Salemba. Saya beritahu, perpustakaan yang saya maksudkan bukan yang di situ, tapi yang di Jalan Merdeka Selatan. Selemparan kerikil sebelah selatan dari Monumen Nasional, seberangnya IRTI dengan halte terdekat adalah halte Balaikota. Maklum, patokan saya adalah halte. Jarak dari Pulogadung ke Jakarta Pusat jauh, ongkos ojek online pun kemahalan. 

Maret 2016, dunia literasi Indonesia dikejutkan dengan rilisnya laporan tingkat minat baca masyakaratnya yang berada di urutan 60 dari 61 negara. Adalah Central Connecticut State University yang mengadakan penelitian tentang The World's Most Literate Nations (WMLN) 2016. Penelitian ini sebenarnya mengambil sampel di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipilih 61 negara. Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia yang menduduki 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Sedangkan, 5 negara terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostwana.

Data ini bisa jadi membuat geram banyak orang, termasuk (barangkali) Jokowi.

 



Melintasi gerbang perpusnas, satpam mengarahkan saya masuk ke gedung kecil depan perpusnas. Di sana terpampang rupa-rupa tulisan masyarakat nusantara yang ditulis di daun lontar, bambu, serabut batang pohon, dan lain-lainnya dari tiap-tiap daerah, jauh sebelum berdirinya Indonesia. Tak satupun dari mereka yang bisa saya baca karena huruf yang digunakan adalah aksara daerah. Salah satu yang tersohor adalah Lagaligo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia yang ditulis antara abad 13 hingga 15 sayangnya tak bisa saya baca dan artikan dengan baik. Kemampuan membaca bahasa daerah saya buruk. Oiya, selain itu ada Babad Diponegoro, Kakawin Sutasoma dan Nagarakertagama, Shanghyang Siksakanda Ng Karesian, Pustaha Laklak, Primbon, dan Surek Baweng. Itu hanya sebagian kecil saja, di dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, sependek ingatan saya, masih banyak lagi naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh Indonesia yang tidak dipajang di tempat ini. Di sudut kiri gedung kecil ini ada pula tampilan 11 aksara nusantara yang dipajang dengan grafis minimalis. Di sebelah kanannya ada lini masa peristiwa membaca dari zaman baheula hingga zaman now yang ditampilkan dengan sangat menarikgambar sketsa 2D yang bergerak dengan audio yang bercerita tentang sejarah membaca masyarakat nusantara. Di dunia bagian ini, saya seolah tidak melihat bahwa ini dibuat pemerintah oleh karena gaya grafis yang diterapkan. Kamu tahu kan kalau kebanyakan gaya grafis yang dihadirkan pemerintah lebih sering bikin sakit mata?

Sekeluarnya dari gedung kecil tadi, pertanyaan besar mengganggu saya, "Bagaimana mungkin negara berpenduduk 263.991.379 jiwa, yang notabene peringkat ke empat jumlah penduduk terbanyak di dunia menempati urutan paling bontot dalam hal baca membaca, sementara kebudayaan literasinya telah hidup sebelum negara ini berdiri? Sepertinya ada yang salah dengan laporan WMLN."

Beruntung pertanyaan itu menguap tepat ketika saya berdiri di depan gedung berlantai 24. Memandanginya pelan-pelan dari bawah ke atas menimbulkan pertanyaan baru sekaligus kekaguman, "Ini perpustakaan? Isinya buku semua?" Tak sabar menemukan jawaban, saya bergegas masuk.






Ada pintu otomatis tanpa satpam yang saya lalui sebelum di sambut tujuh potret sketsa hitam putih presiden Indonesia dengan ukuran sangat besar. Tiap-tiap dari potret itu ada buku-buku yang dituliskan mengenai mereka di sampingnya. Saya berjalan ke kanan memerhatikan papan informasi gedung ini, setelahnya saya menaiki tangga berjalan, menyusuri tiap lantai. Di lantai dua saya menjumpai banyak orang menunggu antrian foto. Lantai itu memang dikhususkan sebagai tempat untuk mengurus pembuatan kartu anggota, juga bagi mereka yang mencari informasi tentang buku. Canggihnya, semua terintegrasi oleh komputer. Jadi kamu hanya perlu mengisi biodata yang di sediakan di banyak komputer di ruangan itu, mencetak nomor antrian, kemudian menunggu giliran foto. Di lantai berikutnya, tak ada apa-apa. Padahal dikhususkan sebagai zona promosi gemar membaca. Di salah satu sudutnya ada banner Najwa Shihab yang terpampang sebagai Duta Baca Indonesia. Mungkin karena baru diresmikan maka gedung ini belum sepenuhnya beroperasi. Menaiki tangga berjalan ke lantai empat, hidung saya membau aroma makanan prasmanan. Selamat datang di area kantin dan pameran. Meski perut saya seketika lapar, ternyata rasa penasaran saya akan isi keseluruhan perpusnas ini jauh lebih kuat. Saya yang hendak melanjutkan berjalan di tangga harus terhenti. Tangga berjalan itu hanya sampai di lantai 4. Masih ada 20 lantai lagi yang kita bisa akses menggunakan lift. Nah, selanjutnya silakan kamu datang dan cari tau sendiri!
"Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar," Zen RS.
Yang pasti, di ruang-ruang baca perpustakaan ini tersedia banyak sofa yang bisa diduduki sambil leyeh-leyeh membaca. Jika kamu mau lebih privat, ada ruang-ruang khusus yang disediakan. Bahkan di lantai 24 ada executive lounge. Sofa empuk, pendingin ruangan, senyap ruangan, dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Jika pemerintah sudah menyiapkan segitunya, kenapa kita tidak memanfaatkan semau-maunya untuk membaca lebih banyak buku?






Jam Layanan:

Senin-Kamis: 08.30 - 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 - 13.00 WIB

Jumat: 08.30 - 16.00 WIB
Istirahat: 11.30 - 13.00 WIB

Sabtu: 09.00 - 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 - 13.00 WIB

0 Comments:

Post a Comment