Ke Jakarta Creative Hub Kita Berangkat

21:51

Jakarta Creative Hub

Hai!

Sabtu kemarin saya main ke Jakarta Creative Hub. Mengunjungi tempat ini sudah saya rencanakan seminggu sebelumnya. Dari akun instagramnya, saya melihat Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) sedang memamerkan foto dan video dari Kepulauan Seribu, Banten, dan Karimun Jawa.

Dari selebaran yang saya ambil di Jakarta Creative Hub, saya kemudian tahu kalau Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau adalah perkumpulan relawan yang terdiri dari para profesional yang peduli terhadap pendidikan dasar anak-anak di kepulauan Indonesia dan telah bergerak sejak 2014. Pameran KJIP ini memamerkan 62 karya visual dari hasil pelayarannya di 13 pulau dan 21 sekolah dasar. Pameran ini berlangsung dari 20-27 Januari 2018 dengan mengusung tema "Nusantara adalah Kita".

Lokasi Jakarta Creative Hub

Cara ke Jakarta Creative Hub

Eh, balik lagi!

Sesudah kopi saya tandas dan bacaan tuntas, saya mengecek Google Maps untuk tahu arah ke Jakarta Creative Hub. Karena hasil penelusuran menunjukkan hanya 45 menit dengan berjalan kaki, saya memutuskan berangkat jam 10 dari kosan agar tidak kepanasan di jalan.

Tidak jelas apakah langit Jakarta mendung waktu itu atau kabut polusi yang menghalangi matahari menyiram manusia di bawahnya. Yang jelas, langit ingar oleh rentetan kabel. Saya melihat pasar tumpah di Kota Bambu Raya dan mencium banyak aroma tak sedap. Di sepanjang jalan ada banyak warung tegal, toko mainan, toko grosir kebutuhan sehari-hari, toko obat, percetakan, penjual pulsa, serta satu dua Indomaret dan Alfamart.


Selepas Kota Bambu Raya, saya mengambil arah kiri dan kanan setelah taman bunga yang di sudutnya ada anjing menggonggongi saya. Di sisi kiri, saya melintasi sisi kanal belakang pasar Tanah Abang. Ada empat mobil sendok yang parkir di samping kanal, hanya dua yang beroperasi.

Yang menarik perhatian adalah sisi kanan. Berjejer lapak penjual dan tukang jahit sepatu. Di antaranya ada lapak servis alat elektronik. Beberapa dari alat elektronik bekas juga dijual—mungkin hasil servis lupa diambil oleh si empunya.

Aroma tidak sedap kembali menusuk hidung saya tepat ketika melintasi pasar modern dengan banyak sampah di tiap sudutnya. Padahal di dalam dan di empernya, saya perhatikan, ada banyak penjaja nasi dan kudapan. Beberapa orang di sekelilingnya terlihat lahap menyantap makanannya sambil berbincang dengan orang di sampingnya.


Kurang dari 500 meter aroma tak sedap menghilang dan digantikan oleh aroma parfum. Saya memasuki sebuah lorong dengan sisi kanan dan kiri terdapat banyak penjual parfum, juga bibitnya.

Sesudah saya melintasi jalan 'harum' tersebut saya tiba di jalan raya dengan sebuah bangunan tinggi bak raksasa dengan para tukang reparasi sadel, penjual masker dan kaos tangan, serta penjual helm sebagai prajuritnya. Di situ bising sekali oleh suara knalpot motor racing, mesin metro mini dengan asap knalpotnya, dan tentu saja suara klakson.

Keadaan ini membaik ketika saya memasuki jalan Kebon Melati V, lokasi Jakarta Creative Hub. Itu adalah sebuah jalan masuk menuju kompleks ruko dengan palang masuk yang dijaga oleh seseorang berseragam di dalam sebuah kotak besar dengan monitor komputer di depannya.

"Di lantai 1 gedung itu. Tanya dia saja, pak" seorang satpam menunjuki satpam lainnya di seberang jalan ketika saya bertanya lokasi Jakarta Creative Hub. Satpam yang ditunjuki tersebut mengarahkan saya ke lantai 1 dan saya kembali bertemu satpam yang memintai kartu identitas untuk ditukar dengan kartu pengunjung. Saya tiba di Jakarta Creative Hub.

Jakarta Creative Hub

Adalah Ahok, Gubernur DKI Jakarta, yang meresmikan tempat ini pada Maret 2017 lalu. Lokasi Jakarta Creative Hub terletak di lantai 1 Gedung Graha Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dan memasuki tempat ini, pandangan saya tertuju pada panel yang memanjang dengan foto-foto yang terpajang di kedua sisinya.

Sebelah kanan pintu masuk ada tempat makan dengan meja dan kursi yang tertata rapi dengan grafiti 'See Things Differently' dan etalase berisi rupa-rupa kue. Di atas etalase, beragam penganan pun dijajakan. Selintas, dalam hati, saya mempertanyakan kehadiran 3 cup Thai Tea beda warna di sudut atas etalase tersebut tapi kemudian pertanyaan ini teralihkan oleh seorang perempuan yang menyapa dan meminta saya mengisi buku tamu.

Pelan-pelan saya memerhatikan satu per satu foto di panel yang disinari lampu kuning. Ada banyak ekspresi wajah manusia yang disorot kamera—terutama anak-anak berseragam merah putih. Saya teringat foto-foto Kelas Inspirasi Makassar yang pernah saya buat 4 tahun lalu. Nyaris tak ada beda.


Jakarta Creative Hub

Dari catatan kurator pameran ini, Didi Mugitriman dengan Dita Alangkara, mencatat bahwa ada 2304 foto yang dikurasi hingga terpilih 60 foto yang siap bercerita. Lokasi KIJP 2017 yang mengambil tiga pulau sebenarnya menarik untuk dieksplorasi karena tujuan KIJP adalah anak-anak di kepulauan. Artinya para profesional ini datang dari daratan dan menuju pulau dan hal inilah yang menjadi pembeda antara komunitas sejenis di dataran.

Sayangnya, seperti yang dituliskan Didi, sedikit gambar yang menjelaskan kedatangan itu. Hampir seluruh foto menjelaskan apa yang terjadi setelah kapal bersandar. Eh, foto-foto ini tak jadi soal! Pandangan saya kemudian mengedar di ruangan di sisi kiri panel karena terganggu visual yang bergerak di sebuah layar komputer.

"Hanya untuk member sih, kalau mau, lapor di bagian registrasi, nanti ditemani masuk supaya dapat penjelesan," seorang bapak bermasker putih menanggapi saya minta izin untuk ikut masuk dengannya.

Saya malas untuk melapor di meja registrasi untuk ditemani masuk. Hasilnya, dari luar saya memelototi satu-satu karya beragam rupa. Semuanya berwarna putih, barangkali hasil printer 3 dimensi. Ada juga tote bag dan pelbagai kerajinan.

Ketika menghadap ke ruangan, di kanan saya ada gerbang yang di dalamnya terdapat mini hall dengan mural Lala Bohang di dindingnya. Lebih ke dalam, ada rak buku dengan sorotan lampu berwarna kuning. Tepat di seberangnya ada enam sekat meja yang diisi oleh seorang perempuan berbaju putih yang tengah mengetik di laptop.

Jakarta Creative Hub

Saya membacai satu-satu sampul buku yang disponsori oleh Kinokuniya dan Gramedia. Ada tulisan 'Tanda Cinta Persembahan Gramedia'. Manis sekali. Oh, beberapa saya kenali: Ada Tidak Ada New York Hari ini,  Dari Timur: Tulisan Pilihan Makassar International Festival, dan beberapa buku Malcolm Gladwell versi bahasa Inggris. Saya memilih Cinta yang Marah karya M.Aan Mansyur. Buku yang sejak lama ingin saya beli tapi selalu batal—entah kenapa.

Lagi-lagi kekesalan saya kepada Aan bertambah setelah membaca buku puisi itu. Sialan! Kok bisa dia merangkai diksi seperti itu? Hanya rangkaian huruf, namun membawa imajinasi dan emosi saya kemana-mana hingga kemudian membenturkan saya pada pertanyaan-pertanyaan.

Emte pun hadir dengan kirana tata visual dari potongan koran Kompas tentang peristiwa-peristiwa terkait reformasi 98 yang diseleksi oleh Irfan Ramli dan Bhagavad Sambadha.

Jakarta Creative Hub

Sesudah mendaras bukunya Aan, saya ke toilet sebelum mengikuti bincang-bincang soal foto perjalanan yang digelar KIJP 2017 dengan Cristian Rahadiansyah, Editor in Chief DestinAsian Magazine. Cerita yang dibagikan Cristian akan saya bagikan lagi ke kamu kapan-kapan. Sekarang hari Minggu jam 12 siang dan saya mau main. 

Sampai jumpa!

You Might Also Like

0 comments

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊

Don't want to miss a post? Drop your email to subscribe. It's okay, we hate spam too 😏

Total Pageviews

Lisensi Creative Commons
This blog is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional License For commercial purposes, Let us know 😊

We are part of