Bocor Halus Bikin Kempis Generasi Milenial dan Z

By Ardan - November 26, 2019


“Yaelah, dua ribu doang pelit amat!”


Tanggapan ini saya terima saat menolak permintaan teman untuk mengirimkan uang ke dompet digital saya sendiri. Saya hanya akan mengisi dompet tersebut jika benar-benar butuh atau jika isinya tidak cukup lagi untuk membayar sesuatu yang mendesak.

Saya membuat komitmen terhadap diri sendiri kalau jadwal pengisian dompet digital hanya seminggu sekali. Jika habis dan ada tawaran cashback yang lebih besar, saya cenderung melewatkan tawaran tersebut.

Soalnya, biaya dua ribu tersebut jika dikumpulkan selama sebulan bisa untuk membayar seporsi nasi, sayur sop, ikan tongkol, tahu orek, dan dua mendoan di warteg terdekat. Oiya, ditambah es teh manis!

Padahal yang diminta oleh teman saya ini hanya Rp18 ribu untuk membayar es kopi susu kekinian yang lagi promo gajian via dompet digital. Setelah perdebatan yang cukup pelik, dia pun mengalah dan membayar es kopi susu tersebut dengan uang tunai.

Keadaan ini mungkin tidak hanya terjadi kepada saya, tapi kamu juga.


“Itu Latte Factor. Pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak penting setiap bulannya,” tegas Dipa Andika, Business Owner Hahaha Corp. yang juga seorang Financial Planner.

Jika diartikan oleh akamsi, Latte Factor ini adalah bocor halus.

Istilah ini baru saya ketahui saat ikut di obrolan Show Me The Money: Smart Financial Moves to Achieve Your Goals bersama Dipa Andika dan Riana Bismarak sebagai pembicara dengan moderator Ucita Pohan.


Acara yang digelar di Dhonika Eatery, Cilandak, Jakarta Selatan (23/11) ini diprakarsai oleh Home Credit dan dihadiri oleh banyak komunitas dari berbagai latar belakang, mulai dari Blogger, Komunitas Motor, hingga Komunitas Parkour.

Intinya, mereka semua memiliki benang merah yang sama yakni sama-sama Generasi Milenial dan Gen Z. Eh, beberapa kolonial deng 😅

Masalah Keuangan Milenial dan Gen Z




Selain biaya transfer dompet digital tadi, bocor halus keuangan generasi sekarang juga biasanya terletak pada online shopping setiap ada promo, beli camilan, ongkos transportasi online, sampai es kopi susu kekinian yang jumlah bejibun dan kian hari bertambah.

Seluruh pengeluaran ini jika dijumlahkan, maka hasilnya tak kan terkira. Sebagai contoh, es kopi susu kekinian harganya Rp18 ribu dikalikan dengan jumlah hari kerja rata-rata orang kantoran yakni 20 hari, hasilnya pun Rp360 ribu.

Berapa jumlah total uang yang harus dikeluarkan selama setahun untuk segelas kopi? 😐

Itu baru kopi. Belum lagi ongkos transportasi online. Jikalau tidak sedang buru-buru, tidak ada salahnya menggunakan alternatif transportasi lainnya yang lebih murah, Transjakarta misalnya.



Tidak bisa dimungkiri, keduanya merupakan masalah utama saya. Di pagi hari sebelum masuk kantor, saya tidak jarang membeli kopi terlebih dahulu. Alasannya sih simpel saja, “Biar bisa fokus.”

Memang sih bisa lebih fokus dan tampak lebih keren menenteng segelas kopi menuju kantor, tapi kalau setiap hari dan tidak ada penanggulangan, bisa-bisa saya tidak punya tabungan masa depan.


Agar Dompet Tidak Kempis


“Kalau saya sih, beli mesin kopi. Jadi setiap hari bisa minum kopi yang rasanya bisa disesuaikan dengan keinginan,” terang Riana Bismarak, Founder Belowcepek.com, di sesi yang berlangsung hingga pukul 13.00 WIB ini.

Perempuan yang juga aktif di berbagai bidang ini mengaku awalnya sering mengalami bocor halus. Namun, pelan-pelan diubahnya agar bisa punya tabungan dan mewujudkan Financial Goalsnya.

Oiya, #FUNancial Goals ini sendiri merupakan rencana keuangan untuk apa yang diinginkan nantinya, intinya  #YangKamuMau deh 😉

Sebagai contoh, tidak ada salahnya mempunyai Financial Goals untuk beli rumah, beli mobil, menikah tahun depan, atau belajar ke luar negeri.



Semuanya sah-sah saja yang jelas kamu menyiapkan semuanya. Mengutip Dipa, “Yang paling penting adalah nanti gimana bukan gimana nanti.”

Begitulah, persoalan keuangan ini sebenarnya bukan merupakan hal yang mudah. Sekali kamu menyentuhnya, maka ada beragam hal yang akan kamu pelajari selanjutnya.

Hal ini dikarenakan permasalahan keuangan bukan hanya persoalan berhemat untuk masa depan cerah, tapi juga bagaimana agar penghematan tersebut membuahkan hasil lebih. Kondisi inilah yang menutut kamu dan saya tahu aturan penting perencanaan keuangan.

Kamu harus memisahkan gaji yang kamu dapatkan setiap bulannya ke dalam dua pos: belanjaan bulanan dan  tabungan. Tabungan ini sendiri pun terbagi ke dalam tiga pos: pribadi, keluarga, dan pekerjaan.

Dari semua hal tersebut, kamu pun wajib menyiapkan dana darurat. Aturannya pun sederhana saja.

Bagi kamu yang masih single, dana darurat tersebut harus 3 kali lipat pengeluaran bulananmu. Bagi mereka yang telah menikah, maka angkanya harus 6 kali lipat. Sementara jika kamu sudah menikah dan punya anak, dana darurat yang ada harus sejumlah 9-12 kal pengeluaran.

Nah, bagaimana? 😏

Langkah pertama yang dapat kamu tempuh untuk mulai menghindari bocor halus ini adalah dengan mengamalkan kalimat seorang Will Smith, seorang aktor dari Negeri Paman Sam, “Too many people spend money they haven’t earned, to buy things they don’t want, to impress people they don’t like.”

Sepakat? 😎

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊