Sebuah Usaha Menulis Lepas

menulis-lepas

"Kenapa ya Tuhan menciptakan manusia untuk kemudian meniadakannya kembali?"

Pertanyaan ini menghinggapi saya secara tiba-tiba saat sedang dalam perjalanan menuju masjid untuk salat jumat. Benar-benar menggangu hingga saya mencatatnya di sini.

Dua minggu lalu saya berulang tahun yang kedua puluh sembilan. Tahun depan saya akan berusia tiga puluh tahun. Entah mengapa saya tidak pernah merasa tua, tapi jika melihat angka-angka tersebut rasa-rasanya saya ketakutan.

Selain karena bulan kelahiran saya, Maret juga jadi spesial karena bulan ini menjadi pertanda bahwa saya telah bekerja dari rumah selama satu tahun, tepat di 23 Maret kemarin. Waktu tulisan ini dibuat, dunia sedang dilanda pandemi. Untuk waktu yang sangat lama, baru kali ini manusia kembali dihadapkan pada pandemi yang hingga saat tulisan ini dibuat belum ada obatnya.

Orang-orang menyebutnya Covid-19 atau virus Corona.

Virus ini terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Orang-orang mengurangi mobilitasnya di luar rumah. Jika pun harus, maka orang-orang memakai masker. Di mana-mana tersedia pojokan untuk mencuci tangan. Jika tak ada, maka tidak sulit untuk menemukan hand sanitizer.

Ketika kita bertemu dengan orang lain, kita tidak lagi berjabat tangan dan berpelukan. Kita tidak berbicara berdekat-dekatan. Semua untuk menghindari penularan virus. Saat tulisan ini dibuat, angka kasus positif di negara ini mencapai 1.562.897 dengan kasus aktif 72.863 dan orang yang meninggal dunia karena Covid-19 mencapai 48.799.

Pemerintah tengah sibuk mengurusi vaksin. Mereka berencana memberikan vaksin kepada seluruh rakyatnya. Sialnya, vaksin tersebut masih terus bermasalah. Kami negara berkembang, kualitas vaksin yang diberikan jauh dari yang diterima oleh negara-negara maju.

Pemerintah optimis bisa mengatasi pandemi ini dengan vaksinnya. Saya pesimis; selalu pesimis.

Tak banyak yang saya lihat dari Maret 2020 hingga Maret 2021. Saya lebih banyak berdiam diri di rumah sebagaimana mestinya. Namun, teman-teman dan orang-orang yang saya ikuti di media sosial masih saja berkeliaran ke mana-mana. Saya tidak menyalahkan mereka sebab bisa jadi mereka ke luar rumah untuk kebutuhan yang sangat mendesak atau harus pergi bekerja demi bisa tetap hidup.

Ibarat kata, kita dihadapkan pada dua pilihan: mati karena virus atau mati karena tidak makan.

Saya beruntung sekali bisa bekerja dari rumah. Seluruh pekerjaan yang saya lakukan menggunakan internet. Beberapa waktu lalu saya juga sempat bertanya-tanya. Apa yang akan saya kerjakan jika internet tidak ada? Dari mana saya akan mendapatkan uang untuk bisa belanja kebutuhan sehari-hari?

Rasa-rasanya saya tidak punya keahlian yang tidak memanfaatkan internet.

Tahun lalu saya punya ambisi untuk naik jabatan. Saya akan menyebar lamaran, memenuhi undangan wawancara pemberi kerja, dan memulai hari-hari bekerja dengan jabatan dan tanggung jawab baru.

Sayangnya, pandemi terjadi dan saya, demi keamanan dan kesehatan, harus tetap memilih melakoni pekerjaan yang sekarang di mana saya diperbolehkan bekerja dari Makassar. Saya, entah kenapa tidak berani mengambil risiko: menyebar lamaran, memenuhi undangan wawancara pemberi kerja, dan memulai hari-hari bekerja dengan jabatan dan tanggung jawab baru; di masa pandemi ini.

Saya sempat diskusi dengan seorang kawan. Rasa-rasanya ini pilihan yang tepat karena berbagai bisnis di luar sana harus berhadapan dengan situasi yang tidak jelas. Saya beruntung bekerja di perusahaan yang boleh dibilang tidak terlalu terdampak pandemi.

Karena ambisi saya tidak terpenuhi saya menempuh jalan lain dengan bekerja sampingan. Hampir setiap akhir pekan saya bekerja. Ada waktu di mana malam-malam saya lebih panjang karena harus menyelesaikan pekerjaan sampingan.

Oh, seluruh pekerjaan sampingan ini juga memanfaatkan internet.

Lalu, apakah bekerja dari rumah enak? Tidak juga.

Sejak mahasiswa saya selalu membayangkan untuk bisa bekerja lepas dari mana saja dan memeroleh banyak uang. Sepertinya, hal ini kejadian setahun belakangan. Meski bukan bekerja lepas, setidaknya saya tidak perlu bangun, mandi pagi, siap-siap ngantor, macet-macetan di jalan, pulang saat jam kerja berakhir.

Januari tahun lalu Alinea lahir. Dua bulan setelahnya saya menemaninya di rumah, setiap hari. Sambil bekerja dari rumah. Ade berangkat ke rumah sakit untuk bekerja. Akhir tahun lalu, Ade berhenti bekerja, tapi saya tetap bekerja. Alinea terus bertumbuh.

Beberapa kali saat saya ada rapat, dia menangis atau merengek minta digendong. Alinea sebenarnya bukan anak yang cengeng, dia bisa mandiri. Tapi untuk saat ini, saya belum berani membiarkannya mengeksplor sendiri.

Dia baru saja belajar jalan. Tidak jarang dia terjatuh karena harus menahan berat badannya. Kamu tau? Melihat seorang anak lahir, merangkak, dan berjalan adalah hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Klise? Iya.

Saya selalu takjub melihat perkembangannya. Dia paham apa yang Ade dan saya bicarakan. Pernah satu kali Ade menanyai saya gelas Alinea. Saya mengatakan tidak tau. Tapi waktu itu, Alinea sontak langsung mengambil gelasnya yang bersembunyi di bawah meja.

Meski dia belum bisa berbicara, tapi dia paham pembicaraan orang-orang di sekelilingnya.

Mengasuh dan membesarkan anak sambil bekerja dari rumah bukan pekerjaan yang mudah. Saya sering kali mengalami stres, apalagi saat kerjaan kantor sedang banyak-banyaknya. Dari pagi hingga siang hari Alinea bermain dan saya yang gampang sekali terdistraksi sering kali tidak tahan untuk bermain dengannya.

Saya biasanya baru bisa fokus menyelesaikan kerjaan-kerjaan kantor saat dia tidur siang/sore atau saat malam hari. Sialnya, tenaga saya sudah habis dan ingin sekali rebahan. 

Selama setahun terakhir rambut saya rontok. Saking parahnya, kepala bagian tengah atas saya tampak lebih tipis dibandingkan dengan rambut di bagian samping. Kulit kepala saya hampir kelihatan jelas.

Saya barangkali tidak mau ambil pusing dengan permasalahan rambut ini. Namun, Ade yang tiap hari melihatnya khawatir dan sering merengek agar saya tidak botak. Saya bilang ini ke Ade dan dokter kulit yang menangani rambut saya; bahwa om dari mama saya botak. Kakek saya juga botak.

Mungkin saja ini adalah faktor keturunan melihat gen mama tampaknya mendominasi tubuh saya.

Tapi, belakangan permasalahan rambut ini membaik. Dari hasil konsultasi saya yang pertama  di dokter menunjukkan foto kepala yang agak berbeda. Kalau 3 bulan lalu kulit kepala saya tampak jelas, maka setidaknya saat ini kulit kepala tersebut sudah mulai tertutupi oleh rambut-rambut.

Pertumbuhan rambut ini sebenarnya dibantu oleh deretan sampo, serum, obat semprot, dan obat minum yang saya konsumsi belakangan. Terakhir, saya membiarkan dokter membuat kepala saya berdarah lalu menyuntiknya dengan vitamin. Itu, rasanya sakit sekali. Padahal anastesi sudah dilakukan.

Satu hal yang membekas di ingatan saya saat dokter nyeletuk, "Sudah tidak stres 'kan?"

Permasalahan stres ini bisa jadi yang mempercepat kerontokan rambut yang saya alami. Bagaimana tidak, saat menghadapi satu hal, saya memikirkannya terlalu jauh. Istilah orang-orang di media sosial adalah overthinking.

Overthinking ini sebenarnya mau tidak mau terjadi. Bekerja dan ngapa-ngapain dari rumah membuat saya tidak mengantongi sesuatu yang bisa membuat saya terdistraksi. Ketika kamu terdistraksi, maka kamu akan dengan mudah melupakan hal yang sedang kamu pikirkan.

Membaca, menonton film, atau bermain dengan Alinea bukan lagi hal yang bisa membuat saya tenang dan bahagia. Jadi, mau tidak mau hingga saat ini saya masih terus mencari hal tersebut.

Dari Maret ke Maret tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan karena memang tidak banyak hal yang saya temui. Setiap hari selama pindah ke Makassar, saya bangun pagi. Kadang salat subuh, paling sering tidak.

Setelah bangun, saya akan menyapu, mengepel rumah, dan mencuci. Di sela-sela aktivitas tersebut, cahaya matahari terbit sering kali menyelinap masuk di lubang-lubang ventilasi dan menemani saya membersihkan rumah. Saya menyukai aktivitas bukan sebagai sebuah kewajiban untuk beberes, tapi dengan begini saya bisa lebih banyak ngobrol dengan sendiri.

Percakapan-percakapan muncul di dalam kepala. Seringnya juga percakapan ini dipicu oleh berbagai podcast yang saya dengarkan. Paling sering Podcast Awal Minggu yang ngoceh sendiri atau mengobrol dengan orang-orang yang nada percakapannya terbilang pesimis.

Saya tidak terlalu suka mendengarkan orang yang berbicara tentang kesuksesan atau keuangan. Rasa-rasanya mereka terlalu optimis bahwa hidup akan baik-baik saja selama kamu berusaha dan bekerja keras.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang diobrolkan mereka adalah salah. Bagi sebagian orang mungkin cocok, tapi bagi saya tidak.

Beberapa minggu lalu saya mengisi SPT Pajak Tahunan setelah 3 tahun tidak mengisi dan setelah orang tua saya kesal karena mereka saban waktu dikirimi pemberitahuan bahwa saya tidak bayar pajak. Di dalam form tersebut saya sempat mendapati pertanyaan yang kira-kira menanyakan apa harta lain yang saya miliki selain gaji per bulan.

Saya tidak tahu harus menjawab apa karena pilihannya adalah berupa hal-hal nyata, seperti motor, mobil, rumah, tanah, bangunan lainnya, dan masih banyak lagi. Saya kesulitan memilih karena hampir semua hal tersebut tidak saya punyai hingga usia saya mencapai 29 tahun. Satu-satunya yang saya miliki adalah sepeda lipat. Harganya 4juta-an waktu itu.

Kamu tentu tahu bahwa di luar sana ada banyak orang yang saat mencapai usia saya sudah punya berbagai pernak-pernik tersebut. Saya tidak tahu, tapi hingga saat ini saya masih menganggap diri saya sebagai seorang anak kecil. Yang nyatanya juga sudah punya anak.

Hingga jelang usia 30 tahun, saya bahkan belum tahu apa yang harus saya lakukan terhadap Alinea. Alinea mungkin satu saat menyalahkan saya yang tidak menunjukkannya jalan yang benar. Yang bisa saya lakukaan sekarang hanyalah membiarkannya tumbuh dan mengeksplor hal-hal yang ada di sekelilingnya sambil mengajaknya berbicara seperti orang dewasa lainnya.

Saya bahkan tidak tahu apakah ini benar atau tidak.

Catatan ini mungkin sudah panjang. Ada banyak hal berisik lainnya di kepala saya. Saya kesulitan menuliskannya mengingat belakangan blog ini sudah tampak seperti katalog jualan. Ada banyak tulisan-tulisan berbayar di blog ini yang saya rajut sehalus mungkin, sehingga kamu tidak akan mencibir saya.

Saya juga, entah mengapa, terbebani oleh ambisi-ambisi untuk membuat tulisan saya tayang di halaman 1 mesin pencari. Mungkin karena setiap hari saya mengerjakan hal tersebut. Saya ingat seorang kawan yang bilang, "Saya tidak mau membuat tulisan saya jadi receh", dan pernyataan tersebut menohok saya.

Sebelum tulisan ini jadi sangat panjang, saya akan mengakhirinya. Semoga saya masih punya kekuatan untuk menuliskan hal-hal personal di hari-hari berikutnya. Semoga kita selalu berbahagia.

***