ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Thursday, 29 June 2017

Wajah-wajah di Rumah Ibadah



Adalah seorang Wahyu yang saat itu mengajari saya mengirim ucapan ke salah satu radio swasta yang terletak di terminal lama Kota Sengkang. Dia teman SMP saya saat masih duduk di kelas VII dan menyambi sebagai penjual kertas ucapan di radio dekat rumahnya. Kertas ini berukuran mungkin 10x6 sentimeter dan dijual seharga Rp. 1500,- per lembar waktu itu. Tiap orang yang membelinya dapat menuliskan ucapan kepada siapapun dan minta untuk diputarkan lagu apapun. Kertas ini akan dibacakan di sore hari keesokan hari setelah ditulisi—kita dapat menyetornya kembali Wahyu atau mengantarkannya langsung ke studio radio tersebut.

Sekira 2005 hingga 2007, kegiatan berkirim ucapan melalui stasiun radio bergelombang modulasi frekuensi (FM) ini marak dilakukan oleh remaja yang saat itu duduk  di bangku sekolah menengah pertama dan atas di Kota Sengkang. Jumlah radio FM yang digawangi dan digemari oleh anak-anak muda tersebut mencapai lima stasiun. Media elektronik ini sekaligus menjadi media sosial pertama yang saya kenal dimana orang-orang dapat memamerkan dirinya, pasangannya, atau lagu favoritnya dan tentu saja saling balas ucapan. Namun seiring waktu, radio-radio swasta ini kemudian berhenti beroperasi—alasannya karena tidak mampu menutupi biaya produksi sementara rata-rata dari penyiarnya harus lanjut kuliah ke Makassar. Wajar saja, tren radio FM ini adalah hasil kreativitas musiman anak muda saat itu.

Hal ini sebenarnya angin segar bagi saya kala itu, sebelum radio-radio anak muda ini menjamur, stasiun radio yang  telah mengudara sebelumnya hanyalah radio Suara As’adiyah yang saban subuh hingga pagi hari saya dengarkan melalui radio National milik ibu yang disetelnya di dapur sambil memasak. Pun saat ramadan, dibanding mendengarkan lagu-lagu kasidah di sore hari menjelang buka puasa, saya kemudian punya pilihan untuk mendengarkan lagu-lagu band yang saat itu populer seperti, Radja, Samsons, Linkin Park atau My Chemical Romance. Maklum saja, saat itu saya selalu merasa jarak antara asar ke magrib terlampau jauh, salah satu cara membunuh kebosanan adalah mendengarkan lagu-lagu di radio. Menjelang adzan magrib, seluruh stasiun radio dan masjid akan menyetel radio Suara As’adiyah sebagai rujukan berbuka puasa. Ini tidak hanya terjadi di masjid-masjid di Kota Sengkang, tapi juga di tiap-tiap masjid desa di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Wajo. Bagian paling melegakan memang pada adzan magrib, namun bagian paling mendongkolkan sebelumnya adalah mendengarkan ucapan selamat berbuka puasa dari para pimpinan partai politik maupun anggota dan ketua DPRD—terakhir dari bupati dan wakilnya.
Saat akan memasuki masjid untuk melaksanakan salat jumat, sehari sebelum ramadan, saya disodori selebaran berupa jadwal imsakiyah Kota Makassar oleh seorang anak yang kemudian saya perhatikan bahwa hampir tiap teman sebayanya membawa dan membagikan selebaran yang sama kepada semua orang yang datang ke masjid hari itu. Selebaran itu saya lipat dan kantongi, di perjalanan pulang saya membuka selebaran tadi—yang bikinan oleh salah seorang anggota DPRD Kota Makassar, nama dengan huruf yang ditebalkan serta dua foto tersenyumnya yang membuat saya tahu hal ini. Dibagikannya selebaran ini ternyata merupakan penanda bahwa ramadan sudah di depan mata, tentu saja saya menyimpan kecurigaan lain akan selebaran ini.

Penanda lainnya adalah sesaknya pagar masjid-masjid, lorong-lorong, perempatan jalan, dan ruas jalan protokol Kota Makassar oleh spanduk dan baliho raksasa bergambar wajah-wajah orang berkopiah/berjilbab dengan berbagai senyum, pose, dan ucapan dalam menyambut bulan ramadan. Memamerkan diri di media promosi luar ruang ini memang adalah usaha termudah mereka untuk lebih dekat kepada masyarakat agar tali silaturahminya tidak putus, barangkali. Tak ayal, para kepala pemerintahan, kepala instansi, anggota dewan hingga mereka yang berniat menjadi kepala pemerintahan pun berlomba menginvasi ruang-ruang publik dengan potret dirinya. Di media lain, radio dan televisi swasta Kota Makassar juga melakukan hal demikian. Di masjid kitaran Rappocini tempat saya tinggal misalnya, memperdengarkan ucapan-ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat berbuka puasa dari para orang-orang yang tidak saya kenali dan tentu saja tidak mengenal saya melalui toa yang membuat  dongkol tiap menjelang adzan magrib. Di masjid berbeda suatu waktu saya mendapati stiker salam di tempeli di depan pintu, bahkan kalender pun pernah terlihat menggantung di salah satu dindingnya—tentu saja potret seorang politisi mengambil bagian porsi lebih di layoutnya. Abraham Maslow, seorang psikolog Amerika, meneorikan hal ini sebagai self-actualization. Adagium ini menempati puncak tertinggi dalam hierarki kebutuhan seorang manusia setelah kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, dan harga diri terpenuhi. Namun, secara terang-terangan para pengucap selamat-selamat ini pun seolah membuat pengakuan bahwa selain aktualisasi diri, merebut perhatian masyarakat untuk ajang pemilihan kepala daerah Sulawesi Selatan dan Makassar adalah tujuan utama mereka. Menurut Walikota Makassar pada wawancara yang tayang di laman Harian Berita Kota Makassar menyebut bahwa fenomena yang terjadi ini hanyalah dinamika politik yang masih dalam batas kewajaran, dan menurutnya, mereka memang wajib memperkenalkan diri.

Karena merupakan sebuah dinamika, bukan tidak mungkin setelah lebaran hingga hari pencoblosan pemilihan kepala daerah kuantitas wajah-wajah lengkap dengan janji-janji menyejahterakan khalayak yang tersebar di ruang publik akan jauh melebihi batas kewajaran, bersaing dengan iklan komersil yang tak terbendung. Jika memperkenalkan diri saja sudah mengikat, menggantung, memaku spanduk maupun baliho di tiang listrik dan pohon bagaimana dengan kampanye yang dijadwalkan oleh Komisi Pemilihan Umum?

Saya mengingat tulisan Ivan Kralj berjudul Selfie as Declaration of Stupidity tentang dedek-dedek gemes yang memborbardir karya-karya seni rupa di Galeri Nasional bahwa dengan tidak merekam dan memamerkan swafoto di media sosial kita seolah takut untuk tidak mendapat perhatian dan apresiasi dari orang lain. Layaknya media sosial, ruang publik pun adalah media paling murah nan mudah diakses untuk mempromosikan diri dan merebut simpati masyarakat. Momentum ramadan kemudian dimanfaatkan oleh para bakal calon kepala daerah untuk memamerkan potret mereka di depan bahkan hingga ke dalam masjid. Namun bagaimana pun selalu menggelikan melihat tingkah anak kecil kitaran kompleks yang mencoreti atau melubangi wajah-wajah yang terpampang di spanduk pagar masjid sambil berteriak ke teman-temannya, “Woe liatkoe, kayak setang. Lobangki matana, baru panjang gigina.

***

Tulisan ini tayang di laman Makassar Nol Kilometer tanggal 22 Juni 2017.

Friday, 14 April 2017

China’s creativity and its identity as a nation

"Seek knowledge even if you have to go as far as China” hadits moeslem.
The hadist above has been popular since I was in the third grade of elementary school.  My teacher told me, “There is the greatest country in the world where near from Indonesia and we do not have to go to another continent to learn because we are on the same continent, it is China.” At once, I thought that it was true as I had some Chinese classmates and all of them were in the highest rank during elementary school. Additionally, in my neighborhood, we did believe that the excellent and genuine goods were made in China. Thus, I had been growing up with a curiosity that someday I should learn more from the country.

A decade later, I was a freshman in visual communication design. My teacher’s first advice I remembered the most was we must have learned how China could held their culture and tradition as the biggest income of the country. They presented something through a unique design. Automatically, I shocked. Again, China looked just adorable that I had to fight on my semester assignments. It then was ended up with a joke that my friends and I used to banter. Only two things you can trust in this universe: The God and the Chinese.

I then sadly confess that my curiosity has been hidden for years. Thanks to my university life I finally got the answer. I then knew that the Chinese are not easily affected by other cultures. In China’s ancient, there was a concept called Tianxia—all things are fully provided under the sky. It looked like that it attracted China to did not have an interest in other countries. Furthermore, they are careful to keep their culture because they do not want to be absorbed by others. Also if they want to adopt foreign cultures, it must be adjusted to their culture. At once, when Buddhism came to China in Han’s dynasty, there was an Avalokitesvara Bodhisattva, a man, and a powerful god. It was transformed into a woman god who fulls of love called Kwan Im then. This the early strict form how to they set up what they felt best for their nation.

‘Made in China’ as creative industries
Recently, Tianxia is implemented where the government has blocked many websites, such as—Google, Facebook, Twitter, Youtube, and instant messengers. This was happened several years ago in which a good friend of mine arrived in Beijing and tried to text me via Line, our favorite instant messenger, but she cannot. Again, she tried to use WhatsApp even emailed me via Gmail and she cannot get in contact with me. Not a long time, she realized that all of the applications were totally blocked by the government. At that time, they had to install WeChat which is China’s instant messenger. This was a salient example how strict China to empower their resources—I thought. Of course, it did not mean that China cannot maintain contact with others. It was an excellent chance of web developers, computer and software engineers, and all of the people who work on information and communication technology field in China because they had to make their own. The art of China, design and media industries were reflected in their policy, market activity, and grassroots participation. There was no doubt about adjusting the strict regulation because they were fine. Making the new one offered possibilities for their products to be used by other people around the world. Automatically, this was the one way for boosting economy affairs.

Before it happened, there were phases in my childhood where I spent it with toys who made in China. For the first, all of my friends played Beyblade, a brand name for a line of spinning top, for several months. Followed by Crush Gear and Tamiya, kinds of cars toy. Several years later, we moved to other toys such as Yu-Gi-Oh’s card, Digivice, and many fun toys. Although all these toys were inspired by Japan’s cartoon, it was made in China. One further interesting thing that in my little hometown, there are only two toy stores and all of them are Chinese. Then, I found meme on the internet that not only my friends and I enjoyed our childhood with the toys but also all of young Indonesians who were born in early 90’s. Due to the toys we had a pleasant childhood but economically, we apparently improved their income only through these toys.

By the end of 2015, my friend visiting Quanzhou, one of Provinces in China, had been amazed by Live Show Wonderland theme park where many young generations of China conducting business. The place provided them a vast majority of facilities for making something like toys, film, photography, art, design product and all of things concerning creative industries. It was established and financed by the government, run and marketed by youth then. After finishing the products, they will be able to export their products. Once, I thought it was an effective method in an effort to force the economy of the country since everyone had a chance to be an entrepreneur.

Having said that China is going to be a powerful country in the world changing United States (US)—no wonder if it happens. Moreover, based on the data of The International Monetary Fund (IMF) 2016, “China is the second largest economy by Gross World Product (GDP) while the US is the first. In 2030, China will be projected to be the first rank replacing the US rooted in their increase every single year as 1980’s until today.” What is more, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) has Creative City Network (CCN) program. There are seven areas of CCN: crafts and art, design, film, gastronomy, literature, media arts, and music with 116 member cities from 54 countries.They are placing creativity and cultural industries at the core of their development plans at the local level and cooperate with the international level actively. Since 2008 until now, every two years, UNESCO is choosing a different city for all categories. Surprisingly, of all the cities in the world, China had eight cities as the nomination of CCN in three areas. It was Hangzou (2012), Suzhou (2014), Jingdezhen (2014) for crafts and folk art. Shenzen (2008), Shanghai (2010), Beijing (2012) for design. And Chengdu (2010) and Shunde (2014) for gastronomy—almost every single period their cities won.

China is an outstanding example in today’s world that going to the market with a solution and holding on to remain relevant. Besides, it has been affecting the way of people’s life from religion to my mother’s cooking equipment; from toys to television; and from learning tools to school uniforms called chinaware, until my grandfather’s rheumatoid arthritis sandals. In addition, of all these, China seemingly serves it through creative industries—something that is happening lately and having significant economical potential. It remains me of another joke of my old friends, “Which part of your life that does not meet ‘Made in China’?”

*** 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba esai Writing to China 2017 yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia.

Wednesday, 12 April 2017

Bulukumba, at second.



"..so, did you ever try to dive in the beach?"
"No, I didn't."
"Shit! You should try it. That's your hometown. Someday I'll go there and kick your ass."

Percakapan ini terjadi antara saya dan seorang bule Spanyol sekira lima bulan lalu di sebuah hostel di daerah Kota Tua Jakarta. Ketika itu dia memperkenalkan diri sebagai seorang diving coach di negaranya. Dan saya memperkenalkan diri berasal dari daerah yang punya banyak pulau dengan pantai cantik. Saya menceritakan Makassar dan beberapa kabupaten di sekitarnya yang punya banyak pantai yang bagus untuk menyelam namun, semua yang saya paparkan adalah hanya ingatan tentang cerita dan foto-foto berlibur orang di media sosial. Saya yang tinggal di daerah yang punya banyak pariwisata laut tapi, jarang ke sana. Tahun lalu saya cuma sekali mengunjungi lautdan itu cuma karena terpaksa.

Hal ini juga terjadi pada Bulukumba. Sependek ingatan saya, pertama dan terakhir kali saya mengunjunginya sekira dua belas tahun lalu. Saya menghabiskan tujuh tahun di Makassar tapi tidak pernah sekalipun kesana, bahkan ketika sebuah pantai baru lagi tren di instagram dimana semua orang-orang berbondong-bondong kesana. Dari Makassar saya menempuh lima jam perjalanan dengan mobil. Adalah teman saya yang meminta untuk foto prewedding di sana akhir Maret lalu. Dan setelah dua belas tahun berlalu saya akhirnya kembali. Kami tiba pukul sebelas malam di pantai Bira. Apa saya temui adalah jalan menuju lokasi wisata ini penuh sesak oleh penginapan. Kami berkeliling mencari penginapan termurah dan tiba pada sebuah rumah kayu yang kemudian saya ingat sebagai tempat dimana saya menginap dua belas tahun lalu. Rumah itu tepat menghadap ke laut, masih kokoh, dan yang mengejutkannya adalah kamar yang disewakannya sudah punya air conditioner. Saya tidak habis pikir. Kami berhadapan dengan laut, anginnya berhembus siang malam ke dalam kamar, rumah kayu itu pun punya banyak lubang yang memungkinkan angin untuk masuk, lantas kenapa masih harus ada ac? Saya kemudian mengira-ngira bahwa si empunya mungkin sedang bersaing dengan dua resort mewah di kanan kirinya. Tanjung Bira yang saya kunjungi ketika masih di sekolah dasar kini sudah jauh berubah. Jumlah wisatawan yang datang baik domestik maupun mancanegara membuatnya harus menyesuaikan diri, terutama pada wisatawan kelas menengah ke atas.






Dari hasil rembuk, kami memutuskan untuk mengambil lokasi foto di daerah Apparalang di pagi hari. Jarak dari penginapan kurang dari lima belas menit, tapi kami menghabiskan sejam berputar-putar karena tidak tahu arah. Papan penunjuk yang ada kecil dan tidak jelas arahnya karena harus melewati rumah dan kebun warga.

"Sedang ada acara ya?"
"Tidak, habis demo."
"Kenapa?"
"Demo ke pemerintah karena tidak diperhatikan."

Pemuda itu membantu saya menggeser bongkahan batu dan bambu yang menutupi jalan. Pasalnya, warga beberapa hari lalu menuntut perhatian pemerintah terhadap perbaikan jalan dengan menutup akses jalan ke Apparalang. Pantai dengan lanskap cantik ini memang masih satu laut dengan pantai Bira, yang membedakan hanya lingkungan di sekitarnya, namun tampaknya akses jalan tidak mendapat perhatian sementara wisatawan yang datang kesana cukup banyak. Jalan yang ditempuh masih belum permanen. Masih seperti jalan yang diterabas untuk memudahkan menuju Apparalang yang lokasinya memang agak terpencilpenemuan lokasi ini saya kira adalah hanya rasa penasaran manusia untuk mengeksplorasi alam sehingga mereka menemukan tempat ini.  

Saya menebak-nebak bahwa keindahan alam yang ada di kitaran Tanjung Bira memang tidak diperuntukkan untuk pariwisata. Atau memang belum siap untuk dipertontonkan?







do not blame me for this narcissistic photo, i am trying to show you how beautiful this beach not how cute i am.

Ketika kebingungan mencari jalan, saya yang singgah bertanya di kantor desa Ara ditunjukkan pantai lain selain Apparalang. Namanya pantai Mandala Ria. Seorang ibu memeringati saya untuk berhati-hati karena jalan menuju kesana berkelok dan curam. Infrastrukturnya lebih parah dibanding Apparalang, namun pantai ini juga tak kalah indahnya dibanding Apparalang dan Bira. Belum terjamah adalah kata yang pas untuk menggambarkan tempat ini. Ketika tiba di pantai ini, kami disambut oleh perahu pinisi yang tersohor itu. Ada enam perahu yang sedang dikerjakan tepat di bibir pantai Mandala Ria ketika tiba siang itu. Menurut seorang teman yang merupakan pegiat sastra dan budaya di Bulukumba, desa Ara memang adalah tempat para pembuat perahu pinisi. Jadi sebenarnya saya menang banyak bulan kemarin, di umur saya yang seperempat abad ini, selain melihat langsung pantai-pantai cantik di Bulukumbasaya juga dapat menyaksikan langsung pembuatan perahu pinisi untuk pertama kalinya. Sayangnya, saya tidak sempat memotret perahu-perahu itu karena terlalu asyik memerhatikan para pekerja sementara kami diburu oleh waktu yang terbatas.

Bira, Apparalang, dan Manda Ria adalah salah tiga dari pantai terbaik di Bulukumba. Jika diurut siapa yang paling dulu dieksplorasi, maka Bira adalah yang pertama, berlanjut Apparalang, dan terakhir Manda Ria. Namun, sebenarnya masih ada beberapa pantai di kitaran sana. Jika kamu berencana ke tempat-tempat ini, tolong, tolong jangan buang sampah sembarangan. Saya tidak sedang berusaha sok bijak, saya hanya takut kalau satu hari, di tahun yang kita tidak tahu, tempat-tempat ini tidak lagi cantik.

***

Friday, 17 March 2017

Visit Tidore – a whole world on a single island.

Membincang Tidore serupa mengenang kenangan perihal mantan. Tentu saja, hal ini berlaku bagi mereka yang punya kesan berbunga-bunga tentangnya. Dan mengenang kemudian menjadi pekerjaan paling menyenangkan. Semua bermula ketika guru saya di sekolah dasar menyebut angka 350 tahun—titimangsa dimana Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa asing. Konon, kedatangan mereka ke Indonesia pada awalnya hanya untuk mendapatkan rempah-rempah dengan harga lebih murah sebab selama ini mereka membelinya melalui perdagangan berantai dari pedagang India, Persia, dan Arab. Usai perang salib yang tersoroh itu, bangsa-bangsa dari Barat seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda memulai penjelajahan samudranya di abad ke-5 ke Timur—Indonesia. Daerah sumber utama penghasil rempah-rempah di Indonesia ada di bagian timur.

Terpetakanlah daerah Maluku sebagai tujuan mereka dimana dua pulau paling tersohor pada masa itu yakni Ternate dan Tidore. Pada mulanya kedatangan mereka hanya untuk berdagang rempah-rempah namun kemudian mereka berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia dengan melakukan praktik monopoli dagang. Bagi saya ini menarik, hanya karena rempah-rempah mereka sehingga terjadi penjajahan terhadap Indonesia. Tapi ah, itu dulu. Saya dan kamu tentu paham betul tentang cerita menarik ini. Bagi beberapa orang mungkin usaha untuk move on akan buyar ketika sesuatu Dan usaha untuk move on memang kadang agak sulit apalagi bila ada pemantik. Misalnya, saya, tagline Visit Tidore ini melayangkan ingatan saya ke Tidore di masa lalu tentang betapa cantik dan memesonanya ia dengan rempah-rempah. Lantas, apa kabar Tidore hari ini?

Kiri : Ilustrasi kedatangan Portugis di Ternate. Sumber : Indonesia Heritage Jilid 3.
Kanan : Lanskap Pulau Matiara dan Pulau Tidore. Sumber : panoramio.com
Mengemas Rempah

Tidore hari ini adalah bak putri tidur yang lelap dengan sejuta pesonanya. Tidak banyak referensi di internet mengenai Tidore hari ini, kebanyakan hanya diriwayatkan sebagai pusat rempah-rempah di masa lalu dan juga potretnya di uang kertas Rp 1.000,-. Saya kemudian membayangkan sebuah usaha membangunkan sang putri dengan kembali mengangkat rempah-rempahnya. Jika dahulu para penjajah hanya mengambilnya mentah-mentah, saya membayangkan mereka menggunakan karung goni untuk mengangkut, bagaimana jika kita mengemas rempah yang berupa cengkeh, pala, kayu manis, dan lain-lain itu untuk kemudian di jual ke mereka?

Dalam dunia pemasaraan hari ini, faktor tampilan sebuah produk adalah hal yang paling utama, saya rasa. Kita sadar betul bahwa tidak sedikit orang yang menilai sesuatu hanya dari tampilan luar. Mengemas rempah-rempah sedemikian rupa bukan untuk menutupi isi dalamnya yang buruk sebab tidak diragukan lagi rempah-rempah Indonesia berkualitas tinggi. Pengemasan dilakukan hanya untuk memeroleh harga berkali lipat. Selain itu, ia akan dengan percaya diri terpajang di rak-rak toko di seluruh dunia. Dan semua berawal dari Tidore, satu dari ribuan pulau yang ada di Indonesia.

Kemudian mengemas rempah bisa menjadi bisnis utama bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di negeri ini.

Bayangan saya tentang rempah-rempah yang dikemas secara modern dan dikerjakan oleh UMKM
akan meningkatkan nilai jualnya. Sumber : savingeveryday.net & es.steepwalls.com
Menikmati Alam dan Menyantap Kuliner

Walaupun pesona utama Tidore adalah rempah-rempah, namun alam dan kulinernya tidak bisa diabaikan. Walaupun pulau ini pulau kecil, namun tiap jengkalnya adalah tempat untuk berwisata, dari puncak gunung hingga kedalaman laut. Sebut saja  ketinggian Gurabunga, Kalaodi, Pulau Failonga, air terjun Ake Cleng, air panas Ake Sahu, dan masih banyak lagi wisata alam. Jika masih tidak percaya betapa Tidore adalah sejarah besar bagi Indonesia, kamu bisa mendatangi Benteng Tore dan Benteng Tahula yang merupakan saksi bisu pergulatan Portugis dan Spanyol di tanah para sultan.

Usai mendatangi tempat-tempat tersebut hal yang tidak bisa dilewatkan adalah makanan khas Tidore. Ebbie Vebri Adrian, fotografer buku Indonesia a World Treasures, mengatakan bahwa jika makanan tradisional Indonesia disajikan dalam satu meja, maka akan membutuhkan sekira 2 kilometer panjang meja untuk menampung semua makanan tersebut. Dan saya rasa, Tidore mengambil banyak bagian di dalamnya. Sebab dari hasil peramban saya ada banyak makanan khas Tidore seperti : papeda, uge aku, sagu tore, nasi jaha, dengan lauk berupa ikan cakalang yang diolah ke dalam berbagai macam rupa. Sementara kuenya : kue lapis, kue bilolo, kue asidah, apang coe, dan saya yakin masih banyak lagi.

Keseluruhan makanan tradisional tersebut tentu dengan mudah dapat ditemui di pasar tradisional. Salah satu pasar tradisional Tidore adalah Pasar Goto.


Tiap jengkal Tidore adalah pariwisata—dari puncak pegunungan hingga ke kedalaman laut.
Sumber foto :  indonesia-tourism.com

Rupa-rupa kuliner khas Tidore. Sumber foto : sejarahkotatidore.blogspot.co.id & awaluddintahir.wordpress.com
Merayakan Kebudayaan

Jika kamu menonton video perayaan Hari Musik Nasional di Istana Kepresiden Republik Indonesia 9 Maret lalu, Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, 2/3 adalah air, laut, dan samudra, 516 kabupaten dan kota, penduduknya 225 juta jiwa, terdiri dari 34 propinsi, 714 suku, serta 1.100-an bahasa lokal. Tiap-tiap dari mereka memiliki kebudayaan masing-masing. Pun dengan Tidore yang memiliki luas 13.862,86 km2 yang terdiri dari luas lautan 4.746 km2 dan luas daratan 9.116,36 km2. Pada tiap-tiap kesempatan Tidore akan menampilkan tarian khas daerahnya berupa Tari Soya-Soya yang ditarikan oleh para pria dan Tari Barakati oleh para wanita. Selain itu masih ada Tari Salai Jin, atraksi budaya yaitu Ratib Taji Besi, Paji Nyili-Nyili, dan yang paling tersohor adalah Baramasuwen atau Bambu Gila.

Dan ada pula Ritual Lufu Kei, yang menurut National Geographic Indonesia, adalah prosesi adat berupa perjalanan laut oleh sultan, perangkat kesultanan, perangkat adat, serta masyarakat untuk menziarahi makam-makam yang dianggap keramat di sekeliling Pulau Tidore. Ritual ini juga untuk mengenang armada perang yang sukses mengusir VOC dari Tidore yang dicetuskan oleh Sultan Tidore Yang Maha Mulia Sri Paduka Tuan Sultan Syaifuddin "Jou Kota".

Tidore dan pelbagai kebudayaannya. Sumber foto : Yudi KudaLiar & indonesiakaya.com
Let us show you to the world, once again!

Sejarah panjang Tidore adalah sejarah Indonesia. Jika dahulu kita adalah jajahan bangsa-bangsa asing, maka bukan tidak mungkin hari ini kita balik menguasai mereka dengan rempah-rempah yang telah dikemas menarik, pameran dan atraksi kebudayaan, serta melimpahnya situs pariwisata negeri ini. Sebab selain tambang dan migas, hal lain yang bisa kita gunakan untuk mendulang pundi-pundi rupiah adalah pariwisata, penyumbang terbesar devisa negara. Dan semua akan dimulai dari Tidoredunia di sebuah pulau.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Tidore Untuk Indonesia. Kamu pun bisa mengikuti lomba ini disini. Siapa sangka kelak kita akan bersama mengunjungi, mencatat, dan mengabarkan kepada dunia (sekali lagi) tentang Tidore yang indah di hari jadinya yang ke-909 pada April 2017 mendatang.   

  

Referensi :
1.http://annienugraha.com/
2.https://tidorekota.go.id/
3.https://nationalgeographic.co.id/foto-lepas/2012/04/prosesi-lufu-kie
4.http://travel.kompas.com/read/2013/04/18/17241983/Hari.Jadi.Kota.Tidore.Haru.dan.Sarat.Makna
5.https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-salai-jin-yang-mistis-dan-keberadaannya-kini

Thursday, 9 March 2017

Avontur



Hai!

Euforia perjalanan Pare, Surabaya, Jakarta, dan Makassar belum berakhir dan saya kembali berjalan. Saya menghabiskan seminggu di Sengkang menunggui mama dan bapak pulang umrah, saya tidak bertemu mereka selama kurang lebih tujuh bulan. Menunggui mereka, saya menghabiskan waktu untuk tidur, membersihkan rumah, eh, saya menemukan dua buku harian mama dengan titimangsa 1986 hingga akhir 1989. Isinya bermula saat dia berangkat kuliah kerja nyata di Wonomulyo, Sulawesi Barat, hingga dia menikah. Ada juga beberapa resep kue dan masakan di dalamnya, tampaknya dia sedang berusaha jadi istri yang pintar masak. Selain itu, saya juga sering duduk di warung kopi seharianmenonton orang-orang kantoran nongkrong, serta makan makanan Bugis : nasu bale ulaweng, tello' bale, tunu bale, gamming ladang, kaju dau'-daung, kambu paria, dan rupa-rupa kue. Kau tahu? Berada di Pulau Jawa membuat berat badan saya turun hingga 15 kilogram, lidah saya rasis, makanan yang bisa memanjakannya hanya makanan Bugis. Oke, ini tidak penting.

Ketika di Jogja.
Kemarin siang saya tiba di Makassar dan seperti biasa, adik saya Nunu, menyambut saya dengan rumah yang berdebu dan piring-piring yang tidak dicuci. Satu-satunya yang membuat saya senang adalah isi kulkas yang menyerupai isi Indomaret, penuh cemilan manis. Saya berkeliaran di Jogja dan Jakarta selama seminggu. Adalah BNPT RI yang memberangkatkan saya ke Jogja mewakili Kareba Damai untuk sarasehan bersama para penggiat dunia maya se-Indonesia, ada 200 orang yang hadir di kegiatan tersebut. Saya tidak bisa bercerita banyak tentang hal ini sebab selama acara saya menderita demam tinggi dan batuk hebat sehingga tidak bisa berkonsentrasi, rekan saya sudah berjanji akan melaporkannya dalam bentuk tulisan di laman Kareba.

Lepas kegiatan saya menuju Libstudtoko, studio, dan kafenya Farid Stevy Asta. Beberapa hari sebelumnya, postingan dagangannya yang baru mondar mandir di beranda instagram. Saya yang memang pengagum karya-karyanya dari jauh hari berniat ke sana untuk membeli beberapa barang. Dari daerah Sleman saya menuju jalan Malioboro, hendak mengubah rute penerbangan di kantor Garuda yang awalnya dari Jogja-Makassar menjadi Jakarta-Makassar. Namun batal karena total biaya yang harus saya keluarkan hampir mencapai satu tiket penerbangan Jakarta-Makassar. Tiket yang dikirimkan oleh panitia kegiatan memang Makassar-Jogja dan Jogja-Makassar, usai kegiatan saya memang hendak ke Jakarta, jadi agar tidak pulang balik maka saya berencana mengubah rute penerbangan. Tapi apa dayakemahalan. Saya makan siang nasi kucing, telur puyuh, dan gorengan di Malioboro sambil menunggu Barak, teman lama yang akan menjemput untuk tidur siang di asrama putra mahasiswa Wajo. Kereta saya ke Jakarta akan berangkat maghrib dan tubuh saya tidak sanggup untuk berkeliling Jogja menghabiskan waktu, sebab demam dan batuk belum ada tanda-tanda akan berhenti.



 





Ketika di Jakarta.
Berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 18.10 dan tiba pukul 03.00 subuh di Stasiun Pasar Senen, saya disambut gerimis dan gerombolan tukang ojek dan taksi yang menawari siap untuk mengantar kemana saja. Merasakan hal ini, saya seolah seperti selebritas yang disambut di pintu kedatangan. Dua minggu sebelumnya saya juga tiba tempat ini dari Stasiun Surabaya Gubeng. Kereta malam kelas ekonomi adalah cara terbaik untuk menekan biaya perjalanan. Seratus ribu rupiah saya sudah bisa berpindah ke tempat yang jauh. Berbeda dengan sebelumnya dimana saya harus tidur di serambi toko di stasiun sampai pagi, kali ini saya langsung memesan gojek untuk diantar ke kosan Marsul, seorang teman lama lainnya. Bukannya apa, demam dan batuk masih menghantui sementara perjalanan saya masih lama. Dan ini untuk pertama kalinya saya berjalan di Jakarta tanpa kena macet, hanya ada dua-tiga kendaraan yang melintas beberapa jam menjelang salat subuh.

Saya bangun kesiangan dan kebingungan akan ke Jakarta bagian mana hari itu. Di Jakarta, saya memang tidak punya rencana apa-apa. Setelah menghabiskan setengah jam di instagram, saya dan Marsul akhirnya memutuskan untuk ke Kwitang14. Eh bukan, Marsul tidak memutuskan, saya yang mengajaknya. Dia tidak tertarik, nyatanya dia keluar dan minum kopi di kafe depan ruang baca yang baru saja beberapa hari buka dengan fokus buku pada film dan budaya visual itusaya memang penggemar dua hal tersebut. Saya harus berterimakasih kepada mereka yang menitipkan buku-buku bergizinya di Kwitang14 untuk dibaca oleh siapa saja. Oh iya, saya juga menyukai kalimat terakhir di laman perpustakaan kecil ini :

Percayalah, kemalasan bukan satu-satunya penyebab kemiskinan. Kapitalisme adalah musuh kita bersama. Setelah asyik-masyuk di ruang baca ini, jangan abai pada perjuangan kelas. Ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Ancaman terbesar umat manusia, selain kebodohan, adalah orang-orang pintar yang gemar masturbasi intelektual. Tolong. Jangan jadi salah satu dari mereka. Di KWITANG14, kita harus bisa pintar bersama.

Hampir seluruh buku-buku di tempat ini berbahasa inggris, apalagi seni dan desain. Saya selalu bersyukur sudah bisa membaca buku dan menonton video dalam bahasa inggris dan sampai di sini saya hendak mengatakan bahwa cara berpikir orang barat memang sangat mendalam : banyak hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita yang kemudian mereka bahas mati-matian. Hal ini kemudian menjadi pemicu menderasnya ide-ide di kepala saya yang belum terealisasikan. Maklum, perhatian saya muda teralihkan oleh hal-hal menyenangkan lainnya. Tapi tenang saja, saya juga sedang berusaha menjadi pencatat yang handal.


 

 









 

Saya ke Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta setelah lebih dari tiga jam di Kwitang14. Ini sebenarnya perjalanan tidak terencana, hanya memerhatikan faktor jarak. Apa yang bagus dan dekat. Dan di sana ternyata masih berlangsung pameran foto Kilas Balik 2016 oleh para pewarta foto Antara, dan juga sedang berlangsung diskusi tentang hoax. Ini masalah serius yang sedang terjadi di Indonesia, dan ternyata menurut data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia ini adalah fenomena global yang juga dialami oleh Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan yang paling parah adalah Suriah. Omong-omong, nama perkumpulannya lucu.

Menjelang maghrib saya di Taman Ismail Marzuki : berkeliling, membaca dan membaui buku tua di tempatnya Jose Rizal Manua. Serta, menonton anak-anak kecil latihan dance, ini salah satu yang menyenangkan untuk dipotret, sayangnya, telepon genggam saya mati total dan saya tidak bisa memotret. Sebenarnya saya membawa kamera dlsr dengan baterai penuh, tapi sayangnya lagi, gairah saya memotret menggunakan kamera ini sudah menurun. Saya merasa jauh lebih praktis memotret menggunakan telepon genggam. Eh, makan malam tiba, perut saya sedari siang belum diisi, teman saya mengusulkan makan coto di Senen dan saya langsung mengiyakan soalnya saya sudah tahu tempat ini, cuma belum pernah kesana, dan sekaranglah waktunya. Coto Makassar di daerah Senen ini diasuh oleh Samsul Daeng Awing, dia sudah berjualan di sana sejak 2013. Sebelumnya, dia berjualan di daerah Kalijodo. Jika dibandingkan rasanya dengan tempat makan coto lainnya, Coto Makassar Senen ini hampir sama dengan Coto Nusantara di Makassar. Di tempatnya, Daeng Awing juga menjual jalangkote dan barongko. Jika kamu di Jakarta dan sedang sakau makanan Makassar ke sanalah, letaknya di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Sisa hari di Jakarta, saya menghabiskan waktu dengan Ade. Nongkrong dan bercerita panjang lebar di Jalan Jaksa, menonton Split, eh, sampai sekarang saya masih bingung dengan film ini, serta makan ayam goreng pedasnya Richeese Factory. Percayalah, makan ayam ini adalah bagian paling enak. Ini pertama kalinya saya makan ayam goreng pedas dicocol keju dan minum sari air kelapa bercampur susu.  

Pulang.
Malam tanggal 7 Maret saya naik kereta dari Jakarta untuk kembali ke Jogja, gerimis kembali mengantar. Iya, kata tiket pesawat saya, check-in terakhir pukul 08.45 dan kata tiket kereta api saya, tiba di Jogja pukul 05.45. Pukul 06.30 di Jogja, mama menelpon bertanya keberadaan saya dan dia mengomel karena saya masih leyeh-leyeh di Malioboro. Mama khawatir saya akan ketinggalan pesawat jika tidak ke bandara sesegara mungkin. Iya, orang tua memang selalu seperti itu, penuh kekhawatiran tehadap anak-anaknya.

Di rumah, di Makassar, saya bangun tanggal 9 Maret pukul 09.00 setelah hampir 20 jam tidur. Bagaimana tidak, saya harus berkereta selama 8 jam dari Jakarta ke Jogja, kemudian terbang dari Jogja ke Makassar hampir 2 jam, dan itu tanpa mandi. Padahal saya adalah orang yang rajin mandi pagi-sore. Saya tidak menemukan kamar mandi di stasiun dan di bandara, jadilah saya harus memendam perasaan mandi selama sehari semalam. Saat bangun, saya dihantui pertanyaan :
Apa selanjutnya? Apa kabar masa depan?

Iya, setahun lalu saya diwisuda dan kata orang-orang saya tidak melakukan apa-apa, tidak bekerja dan tidak menikah seperti yang teman-teman seangkatan saya lakukan. Padahal saya menghabiskan waktu dengan belajar inggris, membaca, mencatat, memotret, menonton film, mengkhayal, dan jalan-jalan. Eh, tapi, memangnya hal-hal tersebut bukan apa-apa?

*** 

Monday, 20 February 2017

Embracing Thankfulness


A couple of days ago I arrived home when my parents were performing hajj pilgrimage. My mom asked me to stay at home until they return. I finished studying English at Kampung Inggris, Pare, East Java for about seven months. At the end of studying, I took IELTS test in British Council Surabaya which is located three hours from Pare. Talking about studying in Pare, I will write in another part as I am still curating photos of it. This post will serve you my previous journey after finishing the test. It is an indisputable fact that I got gloominess and excitement when I made a plan for leaving Java : to leave a place where you left for a long time and to get much life experience are arduous and to be out of daily routine is pleasant.







I had two days for the test. After making days of it, I took a stroll in Grand City Surabaya—place where the test held—and moved to Ciputra World for watching movie. This mall impressed me well since this was the first time in my entire life I saw the highest escalator passing two floors. Afterward, I went to C2OLibrary and spent along day there. This place was full of quality books and looked like heaven. Many creative activities or discussions were conducted in this space. It seemed like Kampung Buku in Makassar.






Last day in hostel, I stayed in My Studio Hotel with the lowest price, I had chitchat with a 62 years old lady. She was from Bangkok, Thailand and did travel from her hometown to Jakarta and Surabaya—by herself. I was interested in her because she was alone, she had an iPad but did not know how to access the internet from her own, she just used it for taking pictures. To walk she used her notebook and tourism guidance book. She asked me many tourism places in Surabaya whether near from the hostel or not and how to go there. At once, her cab arrived and picked her to go to her first destination. I offered her to go to Makassar and she asked me to write my contact and how to go to Makassar from Bangkok. As a respond, she offered me a room in her home if I go there. I told Ade, a lovely partner of mine, concerning this and she said that the woman was about trying to improve her quality of life. Undoubtedly, most of elderly people in Indonesia spend their life by staying at home with many kinds of mind, doing nothing until they get illness. Can you imagine an elderly go to faraway places that he/she has never visited and met strangers with totally different languages?














Using train, I went to Jakarta from Surabaya and spent 14 hours on it. I watched people in every station in which train stopped and came into my mind talking with myself in many things. When I stayed in Pare, I chose to not too close with someone as I loved to talk to myself—made reflection for life. Fortunately, I met Ade. We had long conversations about what she and I found; many random things. Ade and I celebrated life by visiting inspirational places, observing people, watching movies, and admiring Jakarta—its high buildings. Eventually, in the beginning of this year, for all of this wonderful life, I am endlessly grateful to who made this happened.

***