Sunday, 17 September 2017

Toraja Sapan, the taste afterward

Foto: Jumardan Muhammad
Well, I do grateful as I had a chance to drink a real coffee that I made by myself. In some years, I used to enjoy a cup of Kopi Kapal Api in my daily activities (shame on me). A good friend of mine and I went to a small coffee shop two last week ago at Jalan Bali—Double Shot. This place produces many great baristas in Makassar, by the way.

Sunday, 10 September 2017

Makanan dan Masa Depan Kita

Gambar: The Daily Dot
Terlepas dari jaring laba-laba di sudut kamar, dia terbang perlahan naik turun membawa tubuhnya yang berat. Bisa dibayangkan betapa besar usaha yang dikerahkan sehingga bisa keluar dari perangkap laba-laba dengan tubuh seberat itu. Sebaliknya, tidak butuh tenaga lebih untuk mematikannya. Plak! 

Monday, 4 September 2017

The Vegetarian Bukan Untuk Vegan

Foto: Jumardan Muhammad
Satu lagi perbedaan kecil antara keadaan di 1931 dengan 2006 adalah orang-orang Papua Nugini di 2006 makin terlihat seperti orang-orang kebanyakan di Amerika dengan tubuh kelebihan berat badan dengan ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya.

Thursday, 17 August 2017

Ada CFD di Pare!

Foto: Jumardan Muhammad
Sayup-sayup musik berdentum tak jauh dari Stadion Canda Bhirawa. Memasuki perempatan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa dari Jalan Anggrek, saya mendapati tiga orang polisi lalu lintas sedang berdiri di depan plang pemalang jalan. 

Tuesday, 15 August 2017

Banyak Jalan Menuju Kampung Inggris


Foto: Jumardan Muhammad
 “Ada sebuah desa dimana seluruh orang-orang yang ada di dalamnya berbahasa Inggris. Bahkan penjual bakso atau penjaga warung. Jika kamu ingin memesan makanan dan tidak dalam bahasa Inggris, maka kamu tidak akan dilayani. No English, No Service!”

Thursday, 29 June 2017

Wajah-wajah di Rumah Ibadah


Foto: Jumardan Muhammad
Adalah seorang Wahyu yang saat itu mengajari saya mengirim ucapan ke salah satu radio swasta yang terletak di terminal lama Kota Sengkang. Dia teman SMP saya saat masih duduk di kelas VII dan menyambi sebagai penjual kertas ucapan di radio dekat rumahnya. Kertas ini berukuran mungkin 10x6 sentimeter dan dijual seharga Rp. 1500,- per lembar waktu itu. Tiap orang yang membelinya dapat menuliskan ucapan kepada siapapun dan minta untuk diputarkan lagu apapun. Kertas ini akan dibacakan di sore hari keesokan hari setelah ditulisi—kita dapat menyetornya kembali Wahyu atau mengantarkannya langsung ke studio radio tersebut.

Friday, 14 April 2017

China’s creativity and its identity as a nation

Illustration by: Yi Mi Xiaoxin
"Seek knowledge even if you have to go as far as China” hadits moeslem.
The hadist above has been popular since I was in the third grade of elementary school.  My teacher told me, “There is the greatest country in the world where near from Indonesia and we do not have to go to another continent to learn because we are on the same continent, it is China.”

Wednesday, 12 April 2017

Bulukumba, at second

Foto: Jumardan Muhammad


"..so, did you ever try to dive in the beach?"
"No, I didn't."
"Shit! You should try it. That's your hometown. Someday I'll go there and kick your ass."

Friday, 17 March 2017

Visit Tidore – a whole world on a single island.

Membincang Tidore serupa mengenang kenangan perihal mantan. Tentu saja, hal ini berlaku bagi mereka yang punya kesan berbunga-bunga tentangnya. Dan mengenang kemudian menjadi pekerjaan paling menyenangkan. Semua bermula ketika guru saya di sekolah dasar menyebut angka 350 tahun—titimangsa dimana Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa asing. Konon, kedatangan mereka ke Indonesia pada awalnya hanya untuk mendapatkan rempah-rempah dengan harga lebih murah sebab selama ini mereka membelinya melalui perdagangan berantai dari pedagang India, Persia, dan Arab. Usai perang salib yang tersoroh itu, bangsa-bangsa dari Barat seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda memulai penjelajahan samudranya di abad ke-5 ke Timur—Indonesia. Daerah sumber utama penghasil rempah-rempah di Indonesia ada di bagian timur.

Thursday, 9 March 2017

Avontur



Hai!
Euforia perjalanan Pare, Surabaya, Jakarta, dan Makassar belum berakhir dan saya kembali berjalan. Saya menghabiskan seminggu di Sengkang menunggui mama dan bapak pulang umrah, saya tidak bertemu mereka selama kurang lebih tujuh bulan. Menunggui mereka, saya menghabiskan waktu untuk tidur, membersihkan rumah, eh, saya menemukan dua buku harian mama dengan titimangsa 1986 hingga akhir 1989.

Monday, 20 February 2017

Embracing Thankfulness


A couple of days ago I arrived home when my parents were performing hajj pilgrimage. My mom asked me to stay at home until they return. I finished studying English at Kampung Inggris, Pare, East Java for about seven months. At the end of studying, I took IELTS test in British Council Surabaya which is located three hours from Pare.