Tuesday, 15 August 2017

Banyak Jalan Menuju Kampung Inggris


Foto: Jumardan Muhammad
 “Ada sebuah desa dimana seluruh orang-orang yang ada di dalamnya berbahasa Inggris. Bahkan penjual bakso atau penjaga warung. Jika kamu ingin memesan makanan dan tidak dalam bahasa Inggris, maka kamu tidak akan dilayani. No English, No Service!”

Adagium ini telah mendengung di telinga saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kamu tahu? Hal membanggakan di dunia ini pada masa-masa itu adalah kamu bisa berbahasa Inggris. Pencapaian tertinggi selanjutnya adalah bisa berpidato dalam bahasa Inggris. Mulai dari wali kelas hingga para orang tua menuntut kami untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional tersebut.

Saat duduk di bangku kuliah, sekira akhir semester lima—Mayang, teman sekelas saya mengajak ke kampung Inggris. “Sebelum lulus kuliah kita harus bisa berbahasa Inggris, Ayomi!” katanya. Saya bergeming, tidak tertarik.

Di April 2016 saya akhirnya di wisuda. Seminggu setelahnya saya mengambil kelas TOEFL preparation di Pusat Bahasa Universitas Hasanuddin. Saya menghabiskan sebulan belajar di sana, namun hasilnya mengecewakan. Skor saya hanya berkutat di 450. Akhirnya, saya tiba pada pada kesimpulan, “Saya salah langkah!” Jadi begini, sebelum memasuki kelas persiapan TOEFL ada baiknya kamu mengambil kelas Grammar mulai dari nol, iya, mulai dari nol seperti mas-mas pom bensin bilang. Karena seperti yang saya alami, jika tidak dimulai dari dasar kita akan kebingungan. Ibaratnya, kamu akan kewalahan berlari jika tidak bisa berjalan. Iya nda’ sih?

Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai kursusan bahasa Inggris di Makassar, saya memantapkan jiwa untuk ke Kampung Inggris. Bukannya apa, rata-rata harga kursusan di Makassar mencapai 3 juta dalam 16 kali pertemuan, pertemuan hanya tiga kali seminggu. Atinya tidak intens. Saya sebagai orang yang tidak bisa fokus pada satu hal dan memiliki ketertarikan besar pada hal-hal lain yakin bahwa uang sebanyak itu akan terbuang percuma jika saya tidak fokus dan intens belajar. “Dibandingkan dengan belajar Kampung Inggris, kamu bisa menang banyak,” rayu Ammar, seorang teman yang saat itu sedang belajar di sana. 

Nah, awal Juni 2016, untuk pertama kalinya saya tiba di Kampung Inggris. Menjelang pukul 4 sore saya tiba di Bandara Juanda Surabaya. Saya mendapat nomor telepon mobil jemputan untuk ke Kampung Inggris dari Ammar. Sudah saya pesan sehari sebelum keberangkatan. Namun sialnya si mas sopir itu mengoper saya ke sopir lain yang sedang mangkal di parkiran bandara. Jadilah saya lama menghabiskan waktu di bandara Surabaya. Dibandingkan dengan Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Juanda ini boleh dibilang jauh tidak rapi. Bagaimana mungkin sebagian parkiran bandara dipenuhi oleh mobil penumpang berplat hitam? Jatuh-jatuhnya terlihat seperti terminal gelap. Saya harus menunggu hingga pukul 8 untuk berangkat ke Kampung Inggris karena si sopir harus menunggu mobilnya penuh oleh penumpang. Dan di awal, hanya ada saya berdua dengan mas-mas yang katanya tinggal tidak jauh dari Kampung Inggris.

Oke, cukup curhatnya. 

Foto: Jumardan Muhammad


Menumpangi mobil yang ada di parkiran Bandara Juanda Surabaya merupakan salah satu cara menuju Kampung Inggris jika kamu tidak menelpon mobil jemputan. Saat keluar dari pintu kedatangan, yang perlu kamu lakukan adalah berjalan ke arah jam sepuluhmu, menuju parkiran sebelah barat. Di sana kamu akan menjumpai mobil yang mangkal. Tanyakan saja kepada orang-orang yang berada di situ, mana mobil yang lewat Pare Kampung Inggris.  Ongkosnya Rp. 90.000,-. Oiya, Pare itu adalah sebuah nama kecamatan di Kabupaten Kediri. Sedangkan Kampung Inggris berada di Kecamatan Pare—tepatnya Desa Tulungrejo. Waktu tempuh dari Bandara Juanda Surabaya ke Kampung Inggris 4-5 jam jika tidak macet.

Di akhir November 2016 saya sempat main ke Jakarta dan kembali ke Kampung Inggris dengan menempuh cara kedua—menelpon mobil jemputan. Eh, mobil jemputan akan terdengar aneh karena orang-orang menyebutnya travel. Saya masih menyimpan nomor travel yang saya gunakan saat itu, ini Doping Travel 081333109300 dan Nassai Travel 082337700079. Saya merekomendasikan dua travel ini karena kamu tidak akan ditelantarkan seperti yang saya alami saat menggunakan travel lain. Ongkosnya Rp. 100.000,-. Jika kamu rempong gara-gara barang bawaan dan tidak mau repot, ada baiknya menggunakan cara ini. Kamu cukup menelpon nomor tersebut dan kemudian akan disuruh mengirim sms berupa nama, asal, dan jam kedatangan kamu. Pastikan kamu mengirimnya sehari sebelum kamu tiba di bandara Juanda agar mereka mereka bisa mengatur penjemputanmu.

Nah, cara ketiga yang pernah saya tempuh adalah memperpanjang perjalanan. Jika sedang tidak buru-buru dan ingin jalan-jalan, kamu bisa menggunakan Patas Rukun Jaya. Caranya, keluar dari pintu kedatangan bandara, berjalanlah ke depan hingga menemukan shuttle bus Damri. Naik dan duduk manislah di Damri hingga busnya singgah di Terminal Bungurasih. Biaya naik Damri adalah Rp. 30.000,- Butuh sekira 20 menitan untuk sampai di terminal tersebut, jika tidak macet. Sampai di sana, yang kamu perlu lakukan adalah berjalan mengikuti orang-orang untuk masuk ke ruang tunggu terminal. Dari situ kamu akan bisa melihat bus Patas Rukun Jaya. Jika kamu bingung, bertanya saja dengan petugas terminal yang berseragam dinas perhubungan. Oiya, saat turun dari Damri berhati-hatilah dan jadilah cuek karena kamu akan menemui banyak mas-mas yang menyambut kedatanganmu bak selebriti yang ditodong oleh para penggemarnya. Abaikan saja mereka karena tujuanmu adalah menemukan Patas Rukun Jaya. Di bus kamu akan didatangi kondektur, bilang saja mau turun di Tulungrejo Kampung Inggris dan kamu akan dimintai bayaran Rp. 15.000,-. Jika sudah sampai kondektur bus akan teriak-teriak Kampung Inggris, kok. Jangan khawatir, kamu akan diturunkan di perempatan yang ada pos polisinya. Di sana akan ada banyak becak motor yang berjejer menunggumu dan siap mengantarmu ke tempat tujuan. Ongkosnya bisa Rp. 10.000,- jika pandai menawar.

Banyak jalan menuju Kampung Inggris dari Bandara Juanda Surabaya,  namun jika dihitung dari segi pengeluaran, tampaknya cara terakhir adaalah cara paling murah. Bonusnya, kamu akan melihat banyak tempat dan bertemu banyak orang. Ada lagi, kamu bisa singgah makan soto ayam di terminal Bungur Asih atau apapun yang kamu mau. Di sana, makanannya murah dan enak. Aduh, membayangkannya saya jadi lapar. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

***

0 Comments:

Post a Comment