Sunday, 24 September 2017

Dua Warung Kopi di Dua Kota Berbeda



Lalu lintas terlihat padat dari arah timur saat saya tiba di perempatan Jalan Gading Raya dan Jalan Kopyor Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sementara matahari belum tampak padahal jarum jam telah menunjukkan angka 7. Saya menghabiskan 45 menit jalan kaki dari kosan ke perempatan yang ramai oleh kendaraan pribadi itu. Sebelumnya saya harus berterima kasih ke Google Map yang telah menuntun saya ke tempat ini, Kedai Kopi dan Bakpao Kwang Koan.

Di awal pekan kemarin secara tidak sengaja saya menemukan kedai kopi tradisional ini di youtube. Setelah wara-wiri dan mengukur jarak di perambah, lewat pukul 5 pagi Sabtu kemarin saya menuju tempat ini. Tiba di sana saya tidak lantas mencari tempat duduk karena memang tempatnya terlihat penuh oleh orang-orang yang sedang sarapan. Saya berdiri di sudut dapur selurus kompor yang terus memasak air panas dan memerhatikan peracik yang menuang kopi, teh, dan susu ke cangkir-cangkir yang berjejer rapi di sebelah kanannya dengan sangat cepatnya. Setelah dituang, minuman-minuman itu dijemput oleh para pelayan dengan baki lebar untuk diantarkan ke mereka yang telah memesan. Ada pula beberapa orang yang antri menunggui minuman mereka yang take away. Jadi meskipun ramai, kita tidak perlu menunggu lama untuk minuman yang dipesan.


Peracik itu adalah Johnny Poluan, seorang Cina-Manado yang membuka kedai kopi tepat di Jalan Kopyor Raya Blok Q1 Nomor 1 sekira 2009 lalu. Dia, yang meracik kopi Toraja, adalah juga pemilik tempat ini. Kedai Kopidan Bakpao Kwang Koannya buka mulai pukul 6 pagi hingga sore hari.

Setelah puas melihat om John meracik minuman untuk para pelanggannya, saya menyapukan pandang mencari tempat duduk. Di bangku putih yang memanjang, saya duduk menyudut menantikan kopi susu yang saya pesan. Berkali-kali orang menanyai kursi kosong di depan saya. Warung kopi legendaris ini sungguh ramai. Orang-orang kesulitan mencari tempat duduk. Tidak ada gap strata sosial ekonomi yang terlihat di sini karena dari yang jalan kaki hingga pengendara mercy, dari yang berkaos tipis hingga bergaya perlente cair dan larut dalam suasana ngopi.

Untuk penganan, om John punya banyak rupa-rupa bakpao yang dihargai Rp. 12.000 hingga Rp. 15.000,-. Dari hasil perambahan yang saya lakukan sebelumnya, harga kopi susu yang banyak tertera adalah Rp. 6.000,- sementara kopi susu yang saya sesap akhir pekan kemarin adalah seharga Rp. 12.000,-. Harganya sudah naik. Sementara harga untuk kopi hitamnya adalah Rp. 10.000,-.

Jika kamu tidak ingin makan bakpao, ada banyak pilihan makanan lain karena di sekililing om John, terlihat seperti food court. Para pelayannya akan datang menawarimu daftar menu yang dapat kamu pilih sesuai selera.

Oiya, dibanding ngopi di modern coffee shop, saya memang selalu memilih warung kopi seperti Kedai Kopi dan Bakpao Kwang Koan ini. Pasalnya, saya punya kesempatan bertemu dan mengobrol dengan orang dengan berbagai latar belakang. Kamu tahu kan modern coffee shop hanya dikunjungi oleh kalangan tertentu?




Sehari sebelum ke Jakarta, saya juga menyempatkan ngopi di Warung Kopi Temangnge di tengah kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Tempat yang berlokasi tak jauh dari Pasar Mini Sengkang ini, di salah satu lorong di Jalan Masjid Raya Sengkang,  sudah ada sejak 1954 dan melintasi dua generasi.

Tempat ini terbilang sempit apalagi dengan tungku besar di tengahnya. Mereka memasak air dengan tidak menggunakan kompor gas melainkan kayu bakar, sehingga ada rasa khas yang tidak akan temui di tempat minum kopi lainnya. Kudapan pendamping kopimu di tempat ini adalah bolu faranggi. Kue bolu dengan saus manis di tengahnya. Kopi susunya seharga Rp. 10.000,- sementara bolu faranggi dihargai Rp. 2.500,-.


Yang unik dari warkop ini adalah pengunjungnya yang berubah tergantung jam. Pagi sekali saat baru buka di pukul 5, warkop ini akan dipenuhi oleh jamaah masjid yang baru pulang dari melaksanakan salat subuh. Mereka akan nongkrong di sini hingga sebelum pukul 7 pagi. Setelah itu, mereka akan digantikan oleh para polisi, pegawai pemerintahan, dan orang kantoran yang akan berangkat kerja. Banyak sekali perbincangan yang terjadi di antara mereka—mulai dari hal remeh hingga hal pelik seperti politik. Warkop ini melayani para pelanggannya hingga pukul 6 sore, dari Senin sampai Minggu.

Dari dua warkop di dua kota berbeda yang saya sambangi, barangkali benar bahwa warung kopi yang sederhana dengan bentuk seadanya terlihat seperti jantung sebuah kota, tempat dimana banyak hal diracik sebelum diaduk untuk memulai sebuah hari.



0 Comments:

Post a Comment