Monday, 4 September 2017

The Vegetarian Bukan Untuk Vegan

Foto: Jumardan Muhammad
Satu lagi perbedaan kecil antara keadaan di 1931 dengan 2006 adalah orang-orang Papua Nugini di 2006 makin terlihat seperti orang-orang kebanyakan di Amerika dengan tubuh kelebihan berat badan dengan ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya.

Selain itu, statistika kesehatan masyarakat Papua Nugini modern menunjukkan jumlah kasus diabetes yang terkait dengan kelebihan berat badan, ditambah dengan kasus-kasus seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang tidak dikenal satu generasi silam.

Penyakit-penyakit ini dikenal dengan istilah Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular, namun menjangkiti hampir seluruh penduduk dunia hari ini. Di negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang nyaris 90% dari mereka meninggal karena mengidap salah satu NCD. Begitu kira-kira tulisan yang dipaparkan oleh Jared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday yang saya tamatkan 2 tahun silam.

Saya teringat buku tebal Jared Diamond itu setelah menamatkan The Vegetarian karya Han Kang, pemenang Man Booker International Prize 2016. Judul aslinya sebenarnya Ch’aesikjuuija dalam bahasa Korea, namun oleh Deborah Smith diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Terjemahan inilah yang memenangkan penghargaan novel terjemahan terbaik dari seluruh dunia, mengalahkan karya Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan. Yang saya baca adalah versi bahasa IndonesianyaVegetarian.

Adalah Kim Yeong Hye, seorang istri yang mempunyai pekerjaan memasukkan teks ke dalam balon percakapan komik, yang merupakan sentra cerita dari buku dengan tebal 221 halaman. Vegetarian terbagi dalam tiga babak: Vegetarian, Tanda Lahir Kebiruan, dan Pohon Kembang Api. Cerita dibuka oleh suami Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal yang menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya yang berjalan baik-baik saja bahkan membosankan karena minimnya interaksi antara dia dan istrinya. Namun untuk keadaan seperti itu dia berterima kasih, setidaknya dia tidak direcoki oleh telepon-telepon istrinya yang seperti terjadi pada banyak kehidupan rumah tangga teman kerjanya. Hal-hal demikian itu saking seringnya akan berujung pada pertengkaran.

Suatu malam istrinya mendapat mimpi sehingga dia membuang semua daging yang ada di rumah mereka, pun dengan semua makanan berbahan dasar daging. Setelahnya muncul narasi-narasi gelap yang menyinggung tentang luka, darah, dan pembunuhan. Bagian ini diceritakan oleh istrinya sebagai orang yang mengalami mimpi tersebut.

Tak dinyana, berawal dari mimpinya, kehidupan rumah tangga mereka berubah drastis. Suami Yeong Hye pun mengabari mertuanya terkait perubahan sikap Yeong Hye yang berubah menjadi seorang vegetarian. Tubuhnya mengurus tak terurus.

Di pertemuan keluarga, kehidupan vegetarian yang dilakoni Yeong Hye mendapat penolakan oleh adik, kakak, ibu, dan ayahnya.  Tanpa daging seseorang akan kekurangan protein, budaya makan Korea pun tak memberi ruang pada seorang vegan karena seluruh makanan dan bahannya adalah daging. Konflik puncak terjadi setelah tragedi Yeong Hye ditampar oleh ayahnya dan dia mengiris nadinya. Pada bagian dua buku Han Kang ini, sudut pandang berubah ke kakak iparnya yang seorang seniman video. Han Kang dengan sangat detail bercerita tentang kehidupan seniman dan bagaimana mereka mengerjakan karya, tak heran karena dia adalah seorang guru besar dan mengajar di Institut Seni Seoul.

Si kakak ipar sangat tertarik pada Tanda Lahir Kebiruan pada bokong Yeong Hye. Olehnya itu, ia dengat sangat hati-hati mengajak adik iparnya untuk dilukisi bunga-bunga badan telanjangnya sambil direkam melalui kamera videonya. Persetujuan Yeong Hye ini membuatnya berimajinasi lebih liar, dia membayangkan persetubuhan  Yeong Hye dengan seorang laki-laki berbadan tegap tanpa gelambir di perutnya—yang olehnya juga dilukisi bunga-bunga. Seperti di bagian pertama, bagian kedua buku ini juga diselingi cerita-cerita dari sudut pandang lain, kakak Yeong Hye. Di akhir bab, pukulan telak menerpa sang kakak, keterkejutan, ketakutan dan kebencian tiba-tiba menerpanya karena mendapati adiknya digarap oleh suaminya dengan alasan sedang menggarap karya berikutnya. Hal ini menggiring saya melihat nafsu dan seni menjadi kabur. Ditambah dengan percakapan-percakapan dalam diri kakak ipar Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal.

Pada bagian Pohon Kembang Api, cerita pun berpindah dari sudut pandang kakak Yeong Hye yang mengalami perceraian akibat ulah suaminya dan harus mendatangi adiknya di rumah sakit tiap waktu. Dari seluruh rangkaian kejadian yang menerpanya dia pun masih kekeh menjadi vegan, Yeong Hye semakin mengurus. Dia bahkan mulai menolak makan, terlihat seperti anak-anak dan bercita-cita menjadi pohon. Pohon katanya tidak butuh makan, dia hanya butuh matahari untuk berfotosintesis. Dia pun bertingkah bak pohon. Pada bagian ini saya memikirkan hipotesis: orang dewasa terlalu banyak makan, makanya jadi jahat dan memiliki nafsu besar pada banyak hal. Anak kecil malas makan, makanya selalu bahagia.


Kak, aku berdiri dengan tanganku, daun tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku. Aku menancap ke dalam tanah. Tanpa henti, tanpa henti. Uh, bunga ingin merekah dari selangkanganku sehingga aku harus melebarkan kakiku, mengangkang lebar-lebar...

Jika berharap untuk mendapatkan tubuh ideal dari buku ini dengan menjadi vegetarian, maka kita telah melakukan kesalahan. Han Kang kemungkinan besar tidak menulis buku ini untuk menjadi sebuah panduan hidup menjadi vegan karena di buku ini seorang vegan sungguh menderita. Belakangan Yeong Hye mengidap skizofrenia dan anoreksia. Buku ini malah menjadi pengingat bagi saya untuk tidak makan berlebihan. Bukannya apa, Jared Diamond pun lebih dulu telah menjelaskannya melalui paparan data yang dia kerjakan bertahun-tahun dan beberapa orang-orang di sekeliling saya mengidap penyakit NCD hingga meninggal. Singkatnya, makan daging dengan berlebihan dan pola makan tidak teratur itu akan menyiksamu dan perlahan membunuhmu.

0 Comments:

Post a Comment