The Deepest Stories of Asean

July 30, 2018

buku perjalanan

"Tujuan tulisan perjalanan bukan semata untuk membuat pembaca ingin pergi ke tempat yang ditulis. Tulisan perjalanan meminjamkan mata kepada pembaca, sehingga pembaca dapat turut serta merasakan apa yang dirasakan penulis."

Saya secara tidak sengaja menemukan kalimat Windy Ariestanty ini di tulisan panjang Teddy & Maesy di arsip pindai.org yang terbit 28 Desember 2015. Saya menahan napas. Kalimat ini kemudian mengingatkan tentang draft ulasan buku perjalanan The DestinASEAN yang bertengger selama beberapa minggu terakhir. 

Pada 2015 Windy telah menyebut kata "riuh" untuk menggambarkan situasi skena penulisan perjalanan kala itu dan hal ini tampaknya masih berlaku. Kalau boleh saya menambahkan satu kata di depan, maka akan menjadi "semakin riuh".

Jangan heran, saat ini tidak hanya tulisan perjalanan, foto, dan video yang kemudian saya sebut sebagai konten perjalanan berkembang sebagai dampak dari teknologi. Di media sosial hari ini, seperti yang dikemukakan oleh Zen Rachmat Sugito dalam esainya "Keluyuran di Tengah Kota"—amat mudah menemukan foto-foto indah dari berbagai tempat dan kebudayaan Indonesia karya para traveler.

Tidak terhitung jumlah fotografer, blogger, serta vlogger dengan minta khusus traveling. Aktivitas ini pun kemudian memengaruhi kehidupan khalayak sehingga menjelma jadi sebuah gaya hidup masyarakat modern.

Bertemu The DestinASEAN

Eh, balik lagi ke buku yang tadi!

Sekira bulan lalu, menjelang tengah hari di Minggu yang tenang, saya menyelesaikan The DestinASEAN, Menjelajah Kisah di 10 Negara. Rasanya campur aduk. Kadang mengantuk, tiba-tiba tercekat, otot wajah mengendur tertawa, dan perasaan datar.

Saya menyempatkan diri dua kali mengelilingi Big Bad Wolf Books, bazar buku 24 jam, di ICE-BSD Tangerang Selatan pada awal tahun kemarin. Di kali kedua, saya berjongkok dan menguruti satu persatu tumpukan buku traveling dan mendapati sebuah buku yang memuat nama Adis Takdos berdampingan dengan Adam & Susan Poskitt.

Harganya murah sekali, Rp 15.000. Tanpa berpikir, saya masukkan saja ke keranjang belanja 😆

Diterbitkan oleh B First sebagai bagian dari Bentang Pustaka pada Juli 2013, buku ini telah berumur 5 tahun. Selain Adis, Adam & Susan, ada juga nama Marischka Prudence, Puti Karina, Eka Situmorang, Ariev Rahman, Dendi Riandi, Roy Saputra, Oryza Irwanto, serta yang Venus yang membagikan kisah-kisah perjalannya. Kenal beberapa dari mereka kan?

Ada 4 pembagian di dalamnya, yakni People-Culture (Mengenal Manusia, Menyelami Budaya), City (Menghirup Atmosfer Kota), History (Menguak Sejarah, Belajar dari Kekalahan), dan Nature (Menyapa Alam).

Melirik bab-babnya saja, saya rasa buku ini tidak hanya sekadar buku dengan pola yang disebut  Windy "lihat betapa indah tempat ini, maka kau harus segera ke sini."

People-Culture

Di bagian ini Roy Saputra dengan "Menemukan Rumah di Makati" bercerita menggunakan alur mundur. Selama 5 hari melancong di Filipina, dia memilih untuk tidak bermewah-mewahan. Terbukti dari hampir seluruh percakapan yang ada, melulu hanya mengenai angka-angka; konversi peso ke rupiah. Juga siasat mendapatkan penginapan dan makanan termurah.

Baca juga: The Vegetarian Bukan untuk Vegan

Satu lagi, yang menarik buat saya di bab ini adalah "Contemplation in a Harsh Land" dari Adam Poskitt. Cerita panjangnya ini bertutur tentang perjalanan di Burma dengan bertemu masyarakat tradisional. Bukannya melihat eksotisme masyarakat tersebut dari kacamata turis bule, yang hadir malah renungan-renungan seorang anak manusia di kolong langit.

"We were merely insignificant guests of something much bigger. This was emblematic of the entire experience in Burma. Who are we in this massive universe and what is our purpose here?" (hal. 49)

City

Jika kebanyakan cerita perjalanan di dalam kota selalu berkisah tentang tempat-tempat populer yang dikunjungi turis dan bagaimana cara mencapai tempat tersebut, maka di bab ini kamu tidak akan menemukannya.

Saya kepincut dengan "Go International dengan Rasa (Tetap) Lokal" yang diceritakan oleh Oryza Irwanto mengenai perjalananya ke Brunei. Di awal, saya tidak ada bayangan mengenai Brunei Darussalam, pun dengan akan seperti apa negara tetangga ini dikisahkan.

Beruntung, si penulis punya cara bercerita dengan baik sehingga tidak terkesan seperti saya-datang-ke-sini-lalu-ke-sana and the readers got nothing. Tulisannya dilengkapi fakta-fakta negara tersebut. Salah satunya keberadaan Masjid Omar Ali Saifuddien sebagai salah satu masjid dengan arsitektur terindah di dunia.

Menariknya, cerita tersebut ditutup dengan percakapannya dengan seorang Indonesia. Di Brunei, juga seperti di Malaysia—ada banyak orang Indonesia yang merantau karena tingginya pendapatan di negara tersebut. Mereka rata-rata bekerja di sektor informal sehingga ketika berada di sana jangan heran ketika kamu ditanya, "Dari Indon, dek?"

Lain lagi dengan kisah Ariev Rahman tentang Mamacation-nya. Saya baru tahu atau mungkin baru baca kalau cerita traveling dengan seorang mama juga bisa dituliskan. Traveling ternyata juga tidak harus selalu bersama sahabat atau pasangan. Bayangkan saja, seorang pria dengan mamanya melancong dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, bagian selatan Thailand melalui perjalanan darat.

Di perjalanan, kamu bisa saja akan mendapatkan beragam nasihat bijak sehingga jiwa petualangmu yang menggebu-gebu itu bisa sejenak dijeda. Seperti Ariev yang motornya mogok dan handphonenya kehabisan baterai.

"Kenapa handphonenya, nak? Mama memperhatikan saya yang kelihatan kesal. "Udah, minum ini dulu." Beliau menyodorkan segelas iced cappucino yang baru saja dibelinya. (hal.71)

buku perjalanan

History

Jika menarik benang merah dari 6 tulisan yang ada, maka peperangan akan menjadi latar cerita bab ini. Puty membukanya dengan gaya bercerita yang tidak biasa mengenai perjalanannya di Ayutthaya Bangkok. Tulisan tersebut secara penampakan dibuat menyerupai puisi, perjalanannya dengan seorang kawan barunya mengeliling sisa-sisa kerajaan bangsa Siam.

Di Cu Chi Tunnels, Vietnam ada Venus yang sengaja "Merinding Sebadan-Badan" akibat menyaksikan kisah gelap dan pedih yang terjadi semasa perang Vietnam. Ketika tiba di Ho Chi Minh City, maka dosa terbesar yang bisa terjadi adalah dengan tidak mengunjungi Cu Chi Tunnels, katanya.

Saya menghela napas panjang membayangkan peperangan yang keji itu usai membaca catatan perjalanan Venus.

Belum lagi kisah Susan Poskitt tentang "Menguak Sejarah Laos" yang juga berlatarbelakang perang. "Kadang saya suka malu sendiri kalau membicarakan sejarah karena saya miskin pengetahuan sejarah. Rupanya, pengetahuan sejarah berpengaruh terhadap makna sebuah perjalanan."

Tahu mengenai partai komunis yang berkembang di negara-negara Asia Tenggara? Juga keterlibatan Amerika Serikat? Melalui catatan perjalanannya yang panjang ini, Susan begitu mengesankan saya akan bab ini.

Yang juga tak kalah menariknya adalah gaya bertutur Adis Takdos di "Shutter Love". Sebagai penulis termuda di The DestinASEAN, Adis menggunakan sudut pandang kamera Canon G12-nya untuk bercerita mengenai jalan-jalannya di Ho Chi Minh City. Hmm..

Nature

Adalah Marischka Prudence yang tampil beda dengan berkisah tentang perjalanannya di timur Indonesia. Pada bab History, Marischka membuat "Morotai, History in The Deep" berupa misi penyelamannya untuk melihat secara langsung sisa-sisa Perang Dunia II.

"Jumlah bangkai peninggalan Perang Dunia II di dasar Laut Morotai sudah kurang dari 10 persennya, kebanyakan diambil untuk dijual sebagai besi tua." (hal. 186)

Meski membuat miris, cerita-ceritanya membuat saya paham bahwa semasa Perang Dunia II, daerah timur khususnya Maluku, Ternate, dan Tidore menjadi lokasi strategis bagi bangsa-bangsa dari barat untuk menjadikan Indonesia sebagai gudang persenjataan.

Selain posisinya yang strategis, kawasan timur Indonesia juga menyimpan kekayaan sumber daya alam dengan bentang pemandangan yang tidak ada duanya. Jailolo salah satunya. Marischka menyebutnya sebagai "Hidden Gems in the East".

Sebagai penggambaran "Jika Anda tahu Ternate, Jailolo hanya sekitar satu jam menyeberang dengan perahu dari Ternate." Lebih lanjut, "Maluku yang kaya rempah-rempah merupakan alasan utama kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia, termasuk Jailolo yang memiliki alam kombinasi perbukitan, laut, dan sumber rempah-rempah sehingga sering dijuluki sebagai The Spice Island."
***
buku perjalanan

Yay or Nay?

Menurut saya, terdapat dua macam buku perjalanan. Pertama, ketika selesai dibaca maka timbul keinginan untuk resign dari pekerjaan kantoranmu, mengepak ransel, dan memulai perjalanan ke antah berantah. Kedua, buku yang ketika selesai dibaca, pengetahuanmu bertambah dan pandanganmu terhadap hidup jauh lebih bijak. Tentu saja, kamu tidak harus resign.

The DestinASEAN, saya rasa, masuk ke buku jenis kedua.

Ya, walaupun beberapa tulisan perjalanannya membuat saya mengantuk karena terkesan menye-menye, namun niat untuk menuliskan cerita-cerita tersebut patut diapresiasi. Tulisan-tulisan tersebut, bagaimanapun, dibuat jauh sebelum dunia perjalanan seriuh ini.

"Saya rasa kita tak perlu terjebak dalam kasta-kasta. Mana tulisan yang serius, mana yang kacangan. Semua disambut saja," menurut Farid Gaban, seorang wartawan Tempo—di tulisan Teddy dan Maesy.

"Nanti bersama bertambah bertambahnya pengalaman bepergian, tambah bacaan dan pengetahuan, seharusnya tulisannya berkembang."

Jadi bisa dibayangkan, rentang waktu cerita-cerita perjalanan di The DestinaASEAN ini dibuat berkisar pada 2010 hingga 2013 dan sekarang sudah 2018.
***

You Might Also Like

5 komentar

  1. Oooowwwww great books on a great story you write 😍😍😍😍

    Meluncur ke toko buku kalau begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya bakal susah nemu deh, mbak. Soalnya sudah lama sekali

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Lo udah berhasil bikin gue bener2 baca tulisan lo sampai abis-bis-bis. Berarti keinginan lo bt bikin tulisan yang gak ngebosenin pembaca udah tercapai. Selamat! :)

    ReplyDelete

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊