3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 2)

September 27, 2018

3 Hari 2 Malam di Bali
Perjalanan 3 Hari 2 Malam di Bali berlanjut, gengs.

"Kamu tidak mau baca WhatsApp? Ada yang nyariin tuh," pesan seorang kawan masuk.

Rencana-rencana untuk berkeliling di daerah Nusa Dua dan Tanjung Benoa ternyata harus tandas karena tenggat kerjaan. "Sialan!" gerutu saya dalam hati.

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali. Ngapain? (Edisi 1)

Sesaat setelah mengantar Ade ke Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC)—lokasi konferensi yang diikutinya—saya kembali ke hotel, menyalakan laptop, dan menekurinya hingga lewat tengah hari. Sembari menyelesaikan satu postingan di blog lengkap dengan grafis-grafisnya, saya juga mengerjakan dua tulisan untuk kerjaan kantor.

Hari Kedua, Nasi Campur Bali di McD

3 Hari 2 Malam di Bali

"Itu maag!" sergah Ade.

Saya diam dan tetap makan. Sesekali saya berhenti, melahapnya lagi, dan benar-benar berhenti sebelum ayam tersebut habis. Saya tidak sanggup menahan sakit perut dan memilih berbaring.

"Sial, sakit perut ini lagi. Saya janji tidak lagi telat makan."

Percakapan ini terjadi di McD yang letaknya tepat di sudut gerbang masuk Universitas Udayana. Saya melahap ayam goreng spicy dan Ade menikmati nasi campur Bali yang saya beli seharga 5000 rupiah.

Waktu itu hari sudah sore saat Ade meminta untuk dijemput. Saya yang tengah menyusuri Jalan Pratama mencari makan siang harus menjadikan nasi campur Bali sebagai pilihan terakhir.

Di pinggir jalan yang sepi, saya berhenti menghampiri sebuah jualan dengan bungkusan-bungkusan daun pisang. Ada 2 orang laki-laki dewasa yang sedang bercerita di bale-bale. Sementara seorang perempuan paruh baya memberesi sesuatu yang tidak saya ketahui. Posisinya membelakang.

Bungkusan daun pisang tersebut ternyata berisi nasi campur. Saya membelinya satu.

3 Hari 2 Malam di Bali

Drama berakhir sakit perut dan nasi campur Bali di McD selesai—perjalanan menuju GWK dilanjutkan. Hari semakin gelap ketika kami memasuki gerbang Universitas Udayana. Motor terus menanjak. Dari kejauhan, sebuah patung raksasa dengan sorot lampu kuning mulai tampak.

Semakin dekat, patung tersebut semakin besar dan menakutkan. Langit yang gelap benar-benar menyempurnakan ketakutan Ade saat kami tiba di gerbang masuk kawasan GWK. Hasilnya, hari kedua untuk perjalanan 3 hari 2 malam di Bali harus kami akhiri. Kami memutar dan pulang ke hotel.

Eh, tapi sebelumnya kami mampir dulu di gala dinner yang diadakan oleh penyelenggara konferensi yang diikuti Ade. Menikmati makan malam sambil menyaksikan pertunjukan tari-tarian dari berbagai daerah di Indonesia.

Hari Ketiga ke Garuda Wisnu Kencana

Balas dendam untuk menyaksikan Patung (GWK) dari dekat terbayarkan di hari ketiga di Bali. Tepat jam 12 siang saya check out dari Hotel Amaris. Membawa sebuah ransel saya ke lokasi konferensi Ade di BNDCC untuk makan siang gratis πŸ˜‚

Ini demi menghemat anggaran belanja rumah tangga selama liburan, gengs.

Tidak tahu mau kemana, saya mencari warung kopi terdekat yang punya WiFi. Pilihan saya pun jatuh ke Sendok Coffee Shop, tak jauh dari gerbang Nusa Dua. Saya memesan Long Black Coffee ditambah Cheesecake. Alasannya? Lagi promo sahaja. Hehe

Baca juga: 2 Warung Kopi di 2 Kota Berbeda


Sesaat sebelum jarum jam menunjuk angka 4, saya kembali ke BNDCC untuk menjemput Ade. Kami menuju GWK dan menghabiskan waktu untuk berkeliling.

Kawasan wisata ini kini telah jauh berubah sejak saya mengunjunginya 10 tahun lalu. Ya iyalah πŸ˜’Patung GWK yang digadang-gadang masuk ke dalam patung tertinggi kedua di dunia mengalahkan Patung Liberty di Amerika Serikat kini telah berdiri gagah.

Oiya, jika ingin melihat dari dekat Patung GWK, ada bus yang siap mengantarmu setiap 20 menit sekali sebab lokasinya berada agak jauh dari taman budaya.



Apabila kamu punya keinginan untuk berfoto dengan latar belakang patung tertinggi di dunia, maka berangkatlah GWK dan tidak usah jauh-jauh ke Negeri Paman Sam sana. Sisa ongkosnya yang lumayan itu bisa kamu gunakan ke tempat-tempat indah lainnya di Indonesia, iya gak?

Saat hari benar-benar gelap, saya memacu motor ke Kuta—mendekat ke bandara. Pesawat kami pukul 10 malam. Tapi sebelum ke bandara, kami menyinggahi tempat makan untuk makan malam.

Tempat itu tidak ramai, letaknya berada di Jalan Raya Pantai Kuta. Ketika tiba, di depan ada dua orang perempuan bule yang tengah menikmati burger dengan kentang goreng. Kami memesan mie goreng dan kentang goreng. Rasanya? Lumayan.


Setelah semuanya tandas, kami pun benar-benar menuju bandara.

***

You Might Also Like

0 komentar

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊