IWasHere: Destinasi Wisata 2018

Kantorkuu tepat di belakangku.
Dari total 100% kehidupan saya di 2017 ini, 55 persennya dihabiskan di kasur, 35 persennya di warung kopi, dan 10 persennya di jalanan. Meskipun saya mengunjungi banyak tempat, tetapkasur saya berikan porsi lebih besar. Karena selain untuk tidur dan membaca, kasur menjadi tempat terbaik bagi saya untuk mengkhayal dan berpikir untuk mengubah dunia.

I’ll start a revolution from my bed adalah lirik OASIS yang selalu saya pegang teguh.

Tapi minggu lalu, IWasHere yang beberapa bulan belakangan ini selalu saya untit media sosialnya hanya untuk membaca cerita-cerita perjalanan, mengumumkan akan mengadakan kumpul bareng akhir tahun 2017 bersama teman-teman pejalannya. Eh, jika kamu mencari referensi, panduan, dan cerita-cerita tak biasa dari sebuah tempat dimanapun di bumi yang bulat ini, maka kamu sebaiknya mengikuti iwashere.id atau unduh aplikasinya di hapemu.

Alamat Kantorkuu

Nah, kemarin sore, dibanding pulang ke kasur usai ngantor, saya memutuskan ke Kantorkuu. Saya sedang tidak typo untuk penulisan Kantorkku, gaes. Kantorkuu adalah co-working space yang mengusung tagar #bettertogether di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan yang jaraknya dekat dari kantorku.

Dibanding mengisi bucket list destinations 2018 karena memang money bucket saya hingga hari ini masih kosong, maka saya memilih untuk membuat 5 cara menentukan tujuan wisata 2018 sebagai berikut:

1. Kenali Dulu Daerahmu

Ini nasehat teman perjalanan yang tampil sebagai pembicara kelima, Faiz Jazuli. Pemuda berdomisili Semarang yang mendirikan Phinemo.com ini merekomendasikan Semarang sebagai tujuan wisatamu di 2018. Bukannya apa, jika sudah di Semarang, katanya, kamu bisa mengakses kota-kota lainnya di kitaran Semarang.
Sebut saja Yogyakarta dengan Pantai Parangtritisnya yang konon cantik di pagi hari sebelum jam 10 pagi, Lasem sebagai pusat peradaban pertama di Jawa Tengah, atau Ambarawa yang punya kereta uap yang lambat namun bisa naik gunung. Di Semarang, kamu bisa berjalan ke Lawang Sewu, melihat gunung-gunung tinggi Jawa di Candi Gedong Songo, atau menunggu dua jam untuk sebuah kuliner bernama Leker.

Baca juga: Ke Jakarta Creative Hub Kita Berangkat

Serupa dengan Faiz, Guri Ridola, pemilik akun @langkahjauh di media sosial juga merekomendasikan  daerahnya sendiri untuk didatangi, yakni Labuan Bajo. Lokasi wisata populer ini, katanya tidak cukup jika hanya didatangi sekali. Bukan tanpa sebab, Labuan Bajo punya dua musim dengan dua sensasi berbeda: musim kemarau yang kekuning-kuningan dan hijau untuk musim hujan. Faiz kiranya benar, kenali dulu daerahmu karena tanpa mengenali daerah sendiri, Guri barangkali tidak akan membuat kita ngeh bahwa Labuan Bajo yang punya laut dan daratan yang sama indahnya itu harus didatangi berulang kali.
2. Ubah Cara Pandangmu
Jika kamu punya rencana bepergian ke suatu tempat hanya untuk berburu isi feed instagram, sebaiknya batalkan. Ubah cara pandangmu terhadap travelling dengan tidak lagi hanya melihat pada first layer/first stop sebuah tempat. Hal ini disinggung oleh Fransiska Anggriani, editor-in-chief Majalah Panorama, yang jadi pejalan pertama yang bercerita tentang Udon Thani yang sangat cantik dengan bunganya, kamu harus googling lebih lanjut tentang ini! Arsya atau @socialjunkee mengelaborasinya dengan adagium Insightful Travelling. Orang-orang sebaiknya tidak lagi bertanya kemana? Tapi yang lebih penting adalah apa dan bagaimana.

Nah, untuk menjawab apa dan bagaimana tersebut, Arsya yang punya tujuan kemanapun ke UK di 2018, menerangkan bahwa yang kita butuhkan adalah tetap berjalan kemanapun itu, mendengarkan orang-orang di sekitar kita, dan berbincang dengan mereka. Gali lebih dalam dan dapatkan cerita-ceritayang akan memberikan kita sebuah sudut pandang baru dalam melihat sesuatu.
Eh, pada bagian ini, menurut saya agak klise. Hehe

Foto saya hanya ini coba?!
Bukannya apa, cerita-cerita yang dibagikan oleh teman-teman pejalan ini tidak mau saya lewatkan sedikitpun.
Sementara kemampuan saya mengambil gambar sambil menyimak orang bercerita belum bisa diseimbangkan.

3. Ambil dan Berikan

Setelah cara memaknai travelling kita berubah, selanjutnya kita akan digiring pada istilah take and give. Nisa dari noesa.co.id dan Jonathan dari travacello.com ada bukti dari pejalan yang tidak hanya mengambil dari tempat yang didatangi, namun juga memberi sesuatu.
Bermula dari kunjungannya ke Maumere, Nisa yang berlatar belakang pendidikan desain grafis ini jatuhnya cinta dengan tenun ikat di Watublapi. Filosofi tiap pola dan perwarna alam yang digunaka menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilik brand Noesa ini. Dia pun menghabiskan 4 bulan untuk tinggal dan belajar cara membuat kain tenun tersebut untuk dikembangkan menjadi produk-produk yang dapat digunakan oleh anak-anak muda.
Pun dengan Jonathan, yang karena keseringan melancong ke daerah Indonesia Timur kemudian terantuk pada masalah sarana dan prasarana anak-anak di sana dalam pendidikan—sepatu salah satunya. Founder Travacello ini pun menginisiasi #Shoes4Hope dengan rombongan wisatawan yang dibawanya. Jadi, selain mengunjungi spot-spot wisata eksotis, mereka akan disisihkan waktunya sehari dengan berbagi langsung kepada anak-anak di sekolah dasar.

Fix! Sampai di sini, saya terharu dengan tujuan mulia tadi. Barangkali Dayu Hatmanti yang bertindak sebagai host yang kocak malam itu juga terharu. Iya nggak, mbak? :’)
4. Melawat ke Timur
 “Kalau Anda punya waktu dan uang, datanglah ke Timor Barat,” Kelik Sumarahadi.
Kalimat ini berulang kali diulang oleh Kelik dari Spektakel.id. Saya menganga ketika mendengar cerita tentang Suku Boti di yang cinta damai. Orang yang mencuri di sana, anggaplah seekor ayam, jika tidak terbukti mencuri, maka akan diberikan 10 ekor ayam oleh para dewan adat. Listrik adalah fasilitas yang meskipun diberikan oleh pemerintah, tapi mereka menolak untuk menggunakannya.

Jika sudah begitu, saya rasa, kita bisa rehat dari dunia maya yang begitu bising. Istilah Guri, “Menjadi makhluk sosial tanpa media sosial.”
Dan, oh ya, dari total tujuh orang pejalan yang berbagi cerita, empat orang di antaranya merekomendasikan untuk melawat ke Timur Indonesia. Lanskap darat dan laut yang cantik serta orang-orang yang ramah dengan kebudayaan yang menarik untuk dipelajari adalah salah dua dari alasan kenapa 2018 sebaiknya kita menyisihkan waktu untuk berkunjung ke sana.

5. Jadilah Relawan

Apalah arti diskusi jika tidak ada tanya jawab. Dayu, diakhir diskusi menyilakan teman-teman untuk mengajukan pertanyaan. Sebuah pertanyaan tentang rekomendasi festival mana yang sebaiknya dikunjungi di 2018 oleh tipe orang kelas menengah dan menyukai budaya.
Dari samping seorang laki-laki ditodong untuk maju menjawab pertanyaan tesebut. Dayu yang ayu memperkenalkannya sebagai @kartuposinsta. Dia pun, Ken, memberikan sebuah cerita yang tak pernah saya sangka: jadilah relawan!
Foto dari  IWasHere
Tahun lalu dia menjadi relawan di Toronto International Film Festival dan New York Film Festival karena kecintaannya pada film. Meski tidak dibayar, dengan menjadi volunteer kita akan memiliki akses untuk menonton film-film bagus, bertemu dengan artis-artis dunia, dan punya kesempatan mengeksplor kota yang didatangi. “Sebaiknya, jika ingin merencanakan liburan, ada baiknya mencari kegiatan yang membutuhkan relawan,” tutup Ken yang tahun lalu berswafoto dengan Angelina Jolie di Toronto International Film Festival.
Eh, atau jadi relawan di festival film di luar negeri agak berat ya?

Menurut Kelik, kamu saja kok main ke festival film dalam negeri, Festival Film Purbalingga (FFP) salah satunya. Selama tiga minggu, FFP punya program Layar Tanjleb yang akan berkeliling ke desa-desa (ingat jangan gengsi dengan kata desa, ini bukan tentang kemana loh ya) di 4 kabupaten di Banyumas; Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap. Menariknya, sebelum menonton di tiap desa yang disinggahi, kita akan disajikan ritual desa setempat.

Jadi kemana destinasi wisata 2018-mu?

Windy Ariestanty yang tampil diakhir memberikan satu alternatif; Ipoh di Malaysia yang letaknya berada di antara Kuala Lumpur dan Penang. Sekira 10 menit, saya larut dalam cerita Mbak W, ternyata selain bahasa tulisannya yang bagus, bahasa lisan salah satu penggagas IWasHere ini juga tak kalah menarik. Saya tidak akan melanjutkan cerita tentang Ipoh karena keseluruhan ceritanya telah dituliskan di IWasHere, unduh aja!

Oiya, dari total 100% kehidupan saya di 2018 mendatang, saya terpikir untuk menghabiskan 55 persen di jalanan, 35 persen di warung kopi, dan 10 persennya di kasur. Kamu?

One of the places you could find happiness

The place where I visited a few weeks ago was Bandung. A good friend of mine, Zaldi, came to Jakarta for looking inspiration for his current project—making a park in the central city of Soppeng region. He is an emerging architect at Makassar, I think. For the first, his planning was Kalijodo.
“We used to hear about the significant transformation of Kalijodo but we didn’t ever see it precisely,” said him.
 
“Google provides much information and photos of it,” replied me.
 
“I have to pay attention to its materials and lighting, the crucial things. So, the best way to do it is visiting.”
 

We arrived at Kalijodo with Ade’s companion before sunset and walked through another gate, the north one. Kalijodo was famous because of their controversial issues. In early 17 century, this river was set up as a place for Imlek celebration in which there were women and men cruised through Muara Angke, shortly after it became a prostitution place. A remarkable book of it was released by my favorite author, Remy Silado, Ca Bau Kan, on 1999 then filmed by Nia Dinata three years later. Anyway, it would be better if you read or watch them. Ahok as Jakarta’s governor, in 2016, had changed it from prostitution place to recreation point—it was a momentous decision though.


It was our first trip to Kalijodo. We took a stroll and watched people having fun with their beloved ones. Mitchell J. Landrieu, New Orleans mayor, stated that connecting people to parks is a sure way to build happier, healthier communities and improve daily life. Whilst, a mayor of Bandung, Ridwan Kamil (RK), likely has a similar view of it. A National Geographic’s interview with him published the characteristic of the city that looks happier is in which the residents are more interaction among them. This can be implemented into a park.

 
Spending a long night at Gambir station waiting for morning train, we reached Bandung at 10 AM and met our Grab driver.
 
“What’s your purposes come to Bandung, sir?” asked him after we get in his car.
“We’re going to observe the parks,” Zaldi replied.
 
“He’s a Giman mayor. A mayor which Gila-Taman,” he laughed.
 

“Yeah, that’s why we come.”

Our first park was BBWS Citarum. It is situated at Citarum river and surrounded by a small forest. Staying at Jakarta for three months makes me can breathe deeply. You know, in my early move to that city I always have a weather forest by Google saying haze–how terrible is it. Then, we went to Teras Cihampelas—one of the popular places for tourists to shop. This place was revitalized at 2016 and ready to use in February 2017. RK claims this spot as the first skywalk in Indonesia while in the world, only New York has it. Teras Cihampelas was designed for pedestrians and souvenir sellers. They will meet in the sky, sky-walk. Haha.


Continuing our trip, we took off under a flyover. There were several parks over there such as Taman Film, Taman Pasupati or famous as Taman Jomblo, and Skatepark. I saw some families and group of people at Taman Film enjoying the park without distraction. Oh, it is a pleasure for me seeing them. People are true that not only the mall we could visit at the pastime but public space too and it is a truly low-cost holiday (eh, you just have to pay uang-parkir for IDR 2000). And, surely, the government should absolutely provide us public space like a park as they have an authority of it.


The last two parks we visited were Taman Sejarah and Taman Lansia. Taman Sejarah is located in city center. The most interesting of it was we could watch the history of Bandung through pretty design displaying at the glass. People automatically capture their self with that glass as a background. On the other side, children are having fun in a small pool. Taking off at Taman Lansia, we welcomed by drizzle. The park was full of trees and the middle of it there was a small river. Oh, I, myself felt melancholic at once and spent sometimes to lay off on a bench while listening to nature’s sounds. And you know what happened then? Heavy rain had disturbed me from daydreaming! Grrr.


In early night, we landed at Braga and had scrumptious dinner—mie ayam and teh anget tawar before we walked to alunalun. There was not much we can do since the night had fallen and it was quite dark there. Yet people are still having fun with their families, friends, and mates. It is definitely agreed that public spaces, as John Martin’s quote at BBWS Citarum’s wall—provide us the journey of happiness.

 

***   

Citra dan Pemantapan Jiwa di Jakarta Biennale 2017

Salah satu lokasi Jakarta Biennale 2017, Gudang Sarinah Ekosistem

Hari meremang, halte disesaki para pekerja dari berbagai kelas yang berlari kecil menuju antrian yang mengular dimana bus akan mengantar mereka pulang ke rumah. Derap langkah, bunyi klakson, dan suara mesin kendaraan bermotor bersahut-sahutan. Peluh di dahi diusap dengan punggung tangan. Beberapa dari mereka bermasker, mengenakan earphone, dan tentu saja barang bawaan yang membuat pergerakan mereka menjadi tak mudah.

“Ini sungguh melelahkan!” ujar Citra, perempuan kantoran di kawasan Sarinah.

“Kenapa?” Andi, seorang pekerja lepas keheranan.

“Bayangkan saja, tiap hari berangkat kerja ketika matahari belum terbit dan pulang ketika sudah terbenam. Belum lagi ketika ada kerjaan yang mendesak untuk diselesaikan dan menuntut lembur.”
Mereka, teman lama yang baru bertemu, menghabiskan jam makan siang di sebuah kedai kopi tak jauh dari tempat Citra bekerja.
“Bagaimana kalau weekend ini kita ke Gudang Sarinah?”

“Hah? Gudang? Sarinah? Perasaan di sini gak ada gudang deh?”
“Duh, bukan. Ini Gudang Sarinah, dekat tugu pancoran.”
“Ngapain?”
“Lagi ada pameran seni, Jakarta Biennale 2017. Lumayan buat kamu untuk refreshing. Daripada ke mall terus.”

“Oh, boleh deh.”
Penelitian yang diadakan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) 2012 memang mengungkapkan bahwa setiap pekerja di Jabodetabek membutuhkan sejam untuk tiba di tempat kerja. Sementara dalam perjalanannya, mereka harus menghadapi kondisi yang tidak mendukung seperti berdesakan di transportasi umum. Hal ini tentu saja berdampak pada kinerja mereka sementara stres terhadap pekerjaan akan mengganggu kesehatan biologis dan mental.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika GrabCar menurunkan Citra tepat di gerbang Gudang Sarinah.
“Dimana?”

“Oh, masuk aja. Ntar pintu pertama sebelah kiri ya,” balas Andi yang tengah mengerjakan jahitan tas berbahan dasar baliho bekas pameran.
Citra terperangah melihat penampakan dalam tempat yang disebut gudang tersebut. Dia tidak mengira akan ada ruang yang terlihat seperti window display toko-toko dalam mall. Tokopedia memang berkolaborasi dengan Jakarta Biennale (JB) 2017 dengan menyediakan ruang untuk workshop. Di sana kemudian digelar aktivitas menjahit yang dilakukan oleh para seniman dan kurator. Selain itu, ada pula workshop mewarnai topeng untuk anak-anak.
“Hei! Selamat di Gudang Sarinah,” sambut Andi.

“Oh, ini,” Citra menyapukan pandangannya ke seluruh ruang.

“Iya, jadi ini Jakarta Biennale 2017 yang merupakan biennale ke 17. Diadainnya tiap dua tahun sekali. Pameran seni ini udah ada sejak 1974 loh. Udah lama banget. Di Indonesia, dia yang pertama. Isinya seni macem-macem gitu,” terang Andi.

Infografis sejarah Jakarta Biennale
Jakarta Biennale tahun ini memiliki waktu yang hampir bersamaan dengan Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Mereka memang sepakat untuk menggelarnya dalam waktu yang berdekatan agar, menurut Ricky Josep Persik wakil kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), efektif dalam menarik tamu-tamu internasional untuk datang ke Indonesia.
Tahun ini  JB melalui 5 kurator  mengurasi 51 seniman baik individu maupun kelompok baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menampilkan karya mereka dengan tema JIWA. Perhelatan dua candra ini digelar di tiga tempat berbeda yakni, Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlangsung dari 5 November hingga 10 Desember 2017.
Menyeberang ke gedung sebelah, Citra yang dituntun Andi mendapati karya Chiharu Shiota di sebuah layar LCD yang menyiram tubuhnya dengan lumpur di dalam bak mandi yang sempit. Karya itu merupakan performans yang dibuat di tahun 1999 berjudul Bathroom. Menurut informasi yang terpampang, seniman Jepang yang kini menetap di Jerman ini, ingin menyatu dengan bumi—tempat dimana dia dan kita berpijak. Tak lama setelah menyaksikan penampilan Chiharu, mata Citra langsung terantuk pada foto batang pohon yang panjang yang ditampilkan dengan warna hitam putih. Senada dengan karya sebelumnya, Citra merasa bahwa karya ini masih berkisar tentang alam dan manusia.

Robert Zhao Renhui. The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree (III). 2017
Adalah Robert Zhao Renhui, seniman Singapura, yang memajang foto tersebut—yang ukurannya menyerupai ukuran batang pohon aslinya. Ini merupakan buah kegelisahannya atas pohon-pohon di Singapura yang ditebang untuk kemudian dipotong-potong dan dipindahkan ke tempat lain untuk diolah. Hal ini, menurut Robert, butuh cara-cara lain untuk “mengelola” alam. Lepas menatapi satu per satu potongan batang pohon tersebut ia meneruskan langkah dan kembali terantuk pada dua karya yang cukup mengambil ruang yang lebar yakni tumpukan-tumpukan tanah, debu, dan kerikil bak gunung dengan tampilan video yang diproyeksikan di tembok putih serta rangkaian batu-batu apung yang tampak menyerupai sebuah wajah. Karya pertama adalah karya seorang perempuan pelaku performans yang lahir di Jerman dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Marintan Sirait. Dalam praktiknya berkesenian, Marintan memang  menganggap bahwa tubuh seseorang  merupakan rumah sekaligus tempat berlindung paling rentan dalam interaksi sesama manusia serta yang paling penting adalah tubuh juga memiliki hak atas kebebasan.
Sedangkan untuk karya kedua adalah hasil bermain seorang Bali bernama I Made Djirna dengan benda-benda di alam. Seperti yang diamininya bahwa benda tersebut juga laiknya manusia yang melalui berbagai tahapan seperti, ada, berproses di dalam waktu, hingga akhirnya tiada. Untuk JB sendiri, Made Djirna menghabiskan berbulan-bulan lamanya untuk memunguti, mengamati batu apung yang ditemukannya di Pantai Beraban, Jumpai, dan Purnama, hingga menggambarinya dengan intuisi akan wajah arkais-universal atau antik sebab dia menyakini bahwa kita, manusia, sebenarnya mampu berkomunikasi dengan benda-benda di alam.
I Made Djirna. Unsuang Heroes. 2017


“Makin halus rasa kita, makin luas pula komunikasi kita di alam semesta,” ujar Djirna.

Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Citra dan Andi selama proses berkeliling ke dalam ruang pameran. Citra, yang walaupun tidak memiliki latar belakang seni pun merasa seolah berbincang dengan karya-karya yang tersaji. Hingga akhirnya mereka memasuki ruang lain yang tampaknya berpendingin ruangan.
“Gimana Cit?”

“Menarik. Dari beberapa karya tadi terlihat jelas hubungan manusia dengan alam. Kita emang gak bisa terpisah ya?”

“Iya. Yuk lanjut!”
Melintas, mereka mendapati dua bangku merah panjang dengan layar yang menampilkan seorang pria beraut Chinese berbicara. Tampak seperti TEDx menurut Citra. Di atasnya ada tirai putih membentang dengan boneka yang menyerupai ratu Inggris. Kesemuanya adalah karya Ho Rui An, seniman muda Singapura yang telah berkeliling Berlin, Manila, London, dan Hongkong untuk mempresentasikan karya-karyanya. Meskipun Citra tak memahami karya tersebut dia tetap mengaguminya karena menampilkan banyak hal dalam satu tempat, mulai dari video, film, patung, dan performans.

Ho Rui An. Solar: A Meltdown 2. 2014

Di ruang pamer ini Citra tidak lagi berjalan melambat memelototi karya. Mungkin karena ketidakmampuan dia untuk mencerna apa yang diterpajang. Namun, satu-satunya yang membuat dia betah adalah di bagian karya Semsar Siahaan. Meskipun telah wafat, tim artistik JB kembali memamerkan karya Semsar dengan tajuk “Menimbang Kembali Sejarah.” Terlihat banyak dari rupa-rupa karyanya yang ditampilkan mulai dari foto keluarga yang dilengkapi dengan deskripsi foto yang ditulistangan sendiri oleh Semsar. Mata Citra juga lama menatap grafis perempuan mengepal lengan dengan tulisan “Marsinah” di bawahnya.
“Siapa Marsinah?” Citra penasaran.

“Baca aja di bawah, tuh berita-berita tentang dia,” timpal Andi.

“Mengerikan ih,” ringis Citra kemudian.

Semsar Siahaan adalah seorang keturunan Batak dan India. Bapaknya merupakan seorang tentara dan memiliki empat saudara. Dalam dunia seni rupa, ia dikenal sebagai seorang seniman aktivisme. Pemberontakan-pemberontakan tampak jelas dalam karyanya. Salah satu kejadian yang paling diingat adalah dia membakar patung dosennya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang baru saja pulang dari pameran patung internasional di Fukuoka, Jepang.
“Saya lapar. Makan yuk!” ujar Citra tiba-tiba.

“Boleh. Di samping ada kantin kok.”
Setelah keluar ruangan, mata Citra disilaukan oleh kumpulan tumbuhan eceng gondok berbunga emas milik Siti Adiyati. Menilik sejarah panjang JB, seniman ini merupakan salah satu dari sedikit mahasiswi yang menolak sistem seleksi karya yang ditampilkan di biennale. Penolakan ini memunculkan sebuah peristiwa bernama Desember Hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru. Eceng gondok berbunga emas ini sebenarnya telah pernah ditampilkan dalam pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1979 namun kembali dihadirkan dengan memperbesar kolamnya dengan ukuran 20m x 8m dengan kedalaman air 30cm. Karya ini merupakan protes terhadap negara yang kian hari melebarkan jarak antara si miskin dan si kaya.
 

Siti Adiyanti. Eceng Gondok Berbunga Emas. 1979

“Keren yah karya-karyanya. Ada aja orang berpikir sejauh itu. Hubungan manusia dengan ini dan itu. Dan juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri,” Citra sambil menyuap mie bakso.
“Iyalah, seniman gitu loh. Eh, masih ada banyak performance art loh beberapa hari ke depan. Mau nonton gak?” timpal Andi.
Pengantar kuratorial Jakarta Biennale 2017


Citra tak menjawab. Ia menguyah sambil menatap jauh bak berbincang dengan jiwanya sendiri. Laiknya diam, jiwa pun tak bisa diterjemahkan.
***

Jokowi tidak sedang bercanda dalam meningkatkan budaya baca

Ini serius! Saya telah membuktikannya. Seminggu kemarin saya gatal. Lini masa media sosial beberapa kali memunculkan foto perpustakaan dengan menyebutnya sebagai yang terbesar di Indonesia, sementara di channel Youtube Paguyuban Pamitnya Meeting menyebut kalau Jokowi telah membangun perpustakaan 24 lantai tanpa lift—orang terpaksa harus menggunakan tangga! Karena gatal akan nikmat jika digaruk, maka berangkatlah saya ke perpustakaan tersebut pada hari Sabtu.

Tunggu dulu, jika mengetik lokasi Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas), Google akan merujuk ke perpustakaan yang di Salemba. Saya beritahu, perpustakaan yang saya maksudkan bukan yang di situ, tapi yang di Jalan Merdeka Selatan. Selemparan kerikil sebelah selatan dari Monumen Nasional, seberangnya IRTI dengan halte terdekat adalah halte Balaikota.

Maret 2016, dunia literasi Indonesia dikejutkan dengan rilisnya laporan tingkat minat baca masyakaratnya yang berada di urutan 60 dari 61 negara. Adalah Central Connecticut State University yang mengadakan penelitian tentang The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016. Penelitian ini sebenarnya mengambil sampel di 200 negara, namun banyaknya data yang tidak relevan maka hanya dipilih 61 negara. Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia yang menduduki 5 peringkat teratas secara berturut-turut. Sedangkan, 5 negara terendahnya adalah Kolombia, Maroko, Thailand, Indonesia, dan Bostwana.

Data ini bisa jadi membuat geram banyak orang, termasuk (barangkali) Jokowi.

 

Melintasi gerbang perpusnas, satpam mengarahkan saya masuk ke gedung kecil depan perpusnas. Di sana terpampang rupa-rupa tulisan masyarakat nusantara yang ditulis di daun lontar, bambu, serabut batang pohon, dan lain-lainnya dari tiap-tiap daerah, jauh sebelum berdirinya Indonesia.

Tak satupun dari mereka yang bisa saya baca karena huruf yang digunakan adalah aksara daerah. Salah satu yang tersohor adalah Lagaligo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia yang ditulis antara abad 13 hingga 15 sayangnya tak bisa saya baca dan artikan dengan baik. Kemampuan membaca bahasa daerah saya buruk. Oiya, selain itu ada Babad Diponegoro, Kakawin Sutasoma dan Nagarakertagama, Shanghyang Siksakanda Ng Karesian, Pustaha Laklak, Primbon, dan Surek Baweng.

Itu hanya sebagian kecil saja, di dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, sependek ingatan saya, masih banyak lagi naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh Indonesia yang tidak dipajang di tempat ini. Di sudut kiri gedung kecil ini ada pula tampilan 11 aksara nusantara yang dipajang dengan grafis minimalis. Di sebelah kanannya ada lini masa peristiwa membaca dari zaman baheula hingga zaman now yang ditampilkan dengan sangat menarikgambar sketsa 2D yang bergerak dengan audio yang bercerita tentang sejarah membaca masyarakat nusantara.

Di dunia bagian ini, saya seolah tidak melihat bahwa ini dibuat pemerintah oleh karena gaya grafis yang diterapkan. Kamu tahu kan kalau kebanyakan gaya grafis yang dihadirkan pemerintah lebih sering bikin sakit mata?

Sekeluarnya dari gedung kecil tadi, pertanyaan besar mengganggu saya, “Bagaimana mungkin negara berpenduduk 263.991.379 jiwa, yang notabene peringkat ke empat jumlah penduduk terbanyak di dunia menempati urutan paling bontot dalam hal baca membaca, sementara kebudayaan literasinya telah hidup sebelum negara ini berdiri? Sepertinya ada yang salah dengan laporan WMLN.”

Beruntung pertanyaan itu menguap tepat ketika saya berdiri di depan gedung berlantai 24. Memandanginya pelan-pelan dari bawah ke atas menimbulkan pertanyaan baru sekaligus kekaguman, “Ini perpustakaan? Isinya buku semua?” Tak sabar menemukan jawaban, saya bergegas masuk.

Ada pintu otomatis tanpa satpam yang saya lalui sebelum di sambut tujuh potret sketsa hitam putih presiden Indonesia dengan ukuran sangat besar. Tiap-tiap dari potret itu ada buku-buku yang dituliskan mengenai mereka di sampingnya. Saya berjalan ke kanan memerhatikan papan informasi gedung ini, setelahnya saya menaiki tangga berjalan, menyusuri tiap lantai.

Di lantai dua saya menjumpai banyak orang menunggu antrian foto. Lantai itu memang dikhususkan sebagai tempat untuk mengurus pembuatan kartu anggota, juga bagi mereka yang mencari informasi tentang buku. Canggihnya, semua terintegrasi oleh komputer. Jadi kamu hanya perlu mengisi biodata yang di sediakan di banyak komputer di ruangan itu, mencetak nomor antrian, kemudian menunggu giliran foto.

Di lantai berikutnya, tak ada apa-apa. Padahal dikhususkan sebagai zona promosi gemar membaca. Di salah satu sudutnya ada banner Najwa Shihab yang terpampang sebagai Duta Baca Indonesia. Mungkin karena baru diresmikan maka gedung ini belum sepenuhnya beroperasi. Menaiki tangga berjalan ke lantai empat, hidung saya membau aroma makanan prasmanan. Selamat datang di area kantin dan pameran. Meski perut saya seketika lapar, ternyata rasa penasaran saya akan isi keseluruhan perpusnas ini jauh lebih kuat.

Saya yang hendak melanjutkan berjalan di tangga harus terhenti. Tangga berjalan itu hanya sampai di lantai 4. Masih ada 20 lantai lagi yang kita bisa akses menggunakan lift. Nah, selanjutnya silakan kamu datang dan cari tau sendiri!

“Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar,” Zen RS.

Yang pasti, di ruang-ruang baca perpustakaan ini tersedia banyak sofa yang bisa diduduki sambil leyeh-leyeh membaca. Jika kamu mau lebih privat, ada ruang-ruang khusus yang disediakan. Bahkan di lantai 24 ada executive lounge. Sofa empuk, pendingin ruangan, senyap ruangan, dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Jika pemerintah sudah menyiapkan segitunya, kenapa kita tidak memanfaatkan semau-maunya untuk membaca lebih banyak buku?

Jam Layanan:

Senin-Kamis: 08.30 – 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 – 13.00 WIB

Jumat: 08.30 – 16.00 WIB
Istirahat: 11.30 – 13.00 WIB

Sabtu: 09.00 – 16.00 WIB
Istirahat: 12.00 – 13.00 WIB

Lokasi Perpustakaan Nasional

A Modern Market, Santa

Last week was my second visit with Ade to Santa Modern Market after the end of 2016. We did not have much time at once, so we were straight on the upper floor in which many hippie shops were selling.


Having a bus Transjakarta from RSAB Harapan Kita we stopped at Blok M and ordered a GoCar to Santa Modern Market because there was no bus stop over there and Blok M was the nearest bus stop. Other than that, it was the cheapest way to go to Santa, IDR3500 for bus and IDR8000 for GoCar.
Visiting the market at weekend at afternoon made me able to catch the whole market. At the ground, we can easily notice some grocery shops and everything you need for your household was provided there. The next floor was selling some kind of stuff along with its repair services. After taking a stroll in the market we stopped at a small coffee shop with a nice iced green tea called Namulah.
Our destination, of course, Post Santa, an independent bookshop on the upper floor with many curated books.  At once, they turned 3 years old and conducted a little celebration.
Although Jakarta offers a huge amount of Mall to spend time or look for something, Santa Modern Market comes up for your needs, surely, with a chance to bargain goods you are looking for. Why do not you try them?

Santa Modern Market Location: Jalan Cisanggiri 2, Petogogan, Kebayoran Baru, RT.5/RW.4, Petogogan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 15810.

Toraja Sapan, the taste afterward

Foto: Jumardan Muhammad
Well, I do grateful as I had a chance to drink a real coffee that I made by myself. In some years, I used to enjoy a cup of Kopi Kapal Api in my daily activities (shame on me). A good friend of mine and I went to a small coffee shop two last week ago at Jalan Bali—Double Shot. This place produces many great baristas in Makassar, by the way.

“I need some coffee,”
“How much? We just have Sapan today”
“Hm.. merely 100gr it is okay”
“Do you need to be ground?”
“Yeah”

It did not take too much time and my coffee was ready to pick up. I paid Rp 28.000 for the coffee and thanked her. At once, I bought 100gr Toraja Sapan and smell it at home. The smell was totally fragrant. It was a real coffee I thought.

Before the age of modern coffee, I grew up with a coffee farmer grandmother because she has a coffee garden at Buntu Pema, Enrekang. Unfortunately, I never paid attention to it. You know, several years ago, a modern coffee did not exist. Inhabitants just drunk coffee like usual—boiled water, poured and stirred it, and it was ready to deserve. But in today’s world, there are many ways to drink a cup of coffee, everyone seems like a coffee expert and many coffee shops open then.

Foto: Jumardan Muhammad

Getting two benefits from a cup of black coffee:

Sleepless:
A year ago I had a bad habit to sleep in the morning after taking a bath. It was extremely annoying for me since I will be able to do anything in the morning due to feeling sleepy I passed many activities. As I started having a cup coffee in the early morning, I have lost that feeling until afternoon.

More Concentrated:
Lately, I love to get up at 3 AM, writing, reading, and daydream. Thanks to a cup coffee I have a more concentrated brain. I do not know why it happens but for sure there is a distinction when drinking other watery drinks rather than drinking black coffee. In addition, there is a similar way between getting concentrated and bursting adrenaline after having a cup of coffee. It encourages new ideas well.

Although I spent much money to pay a great cup of coffee at a coffee shop I never made it by myself. After buying Toraja Sapan, I did by myself and found the taste was totally different. In an early morning, I made Toraja Sapan for myself for the first time. Opening its packaging the smell was so tasty and it was continuing after pouring, string, and deserving it. What is more, when drinking it I felt like the taste was bold and it was totally different with Kopi Kapal Api (I look like a coffee expert now). There are two kinds of coffee—arabica and robusta. I won’t explain it as you can easily find a ton of information about it on the internet.  Toraja Sapan which I had was arabica and the place where they were coming was a small village Sapan, North Toraja South Sulawesi.

If you type Toraja Sapan on google you will find that this is the one of the greatest coffee over the world. I do not mind why this coffee which comes from a small village has a prominent name. Oh, my water boiled and I have to make my own coffee now. I’ll catch you on another coffee!

Makanan dan Masa Depan Kita

Gambar: The Daily Dot
Terlepas dari jaring laba-laba di sudut kamar, dia terbang perlahan naik turun membawa tubuhnya yang berat. Bisa dibayangkan betapa besar usaha yang dikerahkan sehingga bisa keluar dari perangkap laba-laba dengan tubuh seberat itu. Sebaliknya, tidak butuh tenaga lebih untuk mematikannya. Plak! 

Sekali tepukan darah segar berceceran di telapak tangan saya. Keadaan susah bergerak ini akan dialami oleh sebagian besar makhluk hidup ketika tubuhnya berat. Salah satu faktor meningkatnya berat tubuh adalah tidak dikonsumsinya makanan sehat serta kurangnya aktivitas fisik.

Dari nyamuk yang saya tepuk semalam itu, saya mengingat orang tua Chihiro di film Spirited Away (2001) saat mencari rute terdekat ke rumah baru mereka namun kesasar di sebuah desa kecil yang penuh dengan restoran. Walaupun restoran tersebut tidak berpenghunimakanan terhidang dengan bebas dan lezatnya.

Tanpa pikir panjang, orang tua Chihiro langsung menyantap makanan-makanan tersebut. Namun tidak dengan Chihiro, dia menolak makan dan memilih berkeliling karena takut terhadap pemilik restoran akan marah jika langsung menyantap makanan mereka begitu saja. Sepulangnya, Chihiro mendapati ayah dan ibunya melahap semua makanan yang ada di restoran dan berubah menjadi babi raksasa. Makanan-makanan itulah yang menjadi sumber malapetaka bagi Chihiro dan keluarganya.

Budaya Hidup Sehat

Bagian awal animasi fiksi ini menjadi bahan refleksi akan petaka akibat mengonsumsi makanan yang tidak sehat dalam jumlah berlebihan. Tidak sulit mencari referensi mengenai penyakit yang ditimbulkan dari makanan-makanan tersebut. Salah satu penyakit yang paling populer adalah diabetes. Jared Diamond, ilmuwan Amerika Serikat peraih Pulitzer Prize pada 1998, mencatat hasil penelitiannya tentang kesehatan masyarakat modern saat ini di bukunya The World Until Yesterday (2012). Bahwa yang menjadi pembeda antara masyarakat saat ini dengan masyarakat yang hidup di kisaran tahun 1936 adalah tubuh mereka kelebihan berat badan, ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya. Jared mencatat bahwa mayoritas masyarakat hari ini mengidap Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang satu generasi silam tidak dikenal.

Sedangkan di Indonesia sendiri—menurut data WHO pada 2016, dari 1980 ke 2014 jumlah penderita penyakit diabetes terus meningkat dengan pengidap tertinggi adalah wanita dan pada 2030 diprediksikan untuk menduduki posisi lima besar dunia—negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi.

Jika ditilik lebih lanjut, diabetes dibedakan menjadi dua tipe. Tipe 1 atau insulin dependent diabetes dimana hanya sekira 10% orang yang mengidap penyakit ini dan rata-rata menyerang orang-orang berusia muda. Salah satu cirinya adalah tubuh yang mengurus. Sedangkan tipe 2 atau non-insulin dependent diabetes adalah yang diderita oleh 85% orang saat ini. Diabetes tipe 2 ini berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang dan menyerang orang dewasa dan orang tua. Sebagian besar penyakit ini tidak terdeteksi sampai muncul komplikasi dengan penyakit lain seperti kerusakan mata, ginjal, jantung, dan berakhir pada kematian dini.

Sumber: WHO Diabetes Global Report

Bagaimana Cara Menurunkan Berat Badan?

“Kamu terlihat kurus!”

“Eh, kamu kelihatan beda. Hampir saya tidak mengenalimu.”

“Ckck.. Kamu turun berapa kilo?”

“Seperti ini lebih baik, lebih sehat.”

Dengan tidak berada di Makassar selama kurang lebih tujuh bulan, saya ditodong pernyataan-pertanyaan di atas oleh teman-teman yang intinya, “Bagaimana cara menurunkan berat badan?”

Dan tanggapan yang selalu saya ulang, “Iya, turun 15 kilo dalam 6 bulan.” Iya, saya kehilangan berat badan 15 kilo. Awalnya dari 80 kg menjadi 65 kg—hingga saya menuliskan postingan ini jarum timbangan menunjuk angka 63. Pernyataan-pertanyaan dari teman-teman saya itu kemudian akan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain tentang bagaimana menurunkan berat badan.

Hari ini, proses menurunkan berat badan adalah hal yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit diejawantahkan.

Diet Sehat

Saya berulang kali membuat penegasan bahwa saya tidak sedang dalam program diet sehat. Dalam kurun waktu 6 bulan itu saya hanya memperbaiki pola makan. Pencapaian berat badan 80 kg itu sebenarnya diakibatkan oleh pola makan yang tidak teratur serta gaya hidup yang tidak sehat. Bayangkan saja, dulu saya melahap sarapan sepiring nasi kuning di pagi hari, setelahnya menikmati banyak kue yang dijual di kitaran rumah mulai dari lopis, kue lapis, jalangkote, panada, atau roti pawa.

Siangnya saya makan nasi, ikan bakar dan sop saudara, pallumara atau coto makassar. Bakso dan mie pangsit di sore hari atau kalau lagi seret, indomie goreng bertabur potongan cabai jadi alternatif. Malam harinya saya melahap nasi goreng, ayam lalapan atau songkolo. Terima kasih Makassar untuk pilihan makanan yang tiada batas!

Makan di malam hari bisa jadi dua kali karena saya makan di awal malam dan makan di tengah malam. Percayalah, begadang membuat orang lapar. Jika kamu menilai saya sebagai orang kaya, maka kamu salah besar. Saya hanya punya banyak pilihan tempat makan yang murah dengan rasa tidak murahan. Rupa-rupa makanan tersebut dengan sadar saya masukkan ke dalam perut dalam porsi yang berlebihan, kebodohan terbesar yang pernah saya perbuat.

Buah untuk Diet

Hari ini saya mengurangi dan membatasi semuanya. Di pagi hari tidak ada lagi nasi. Yang ada hanya jus tomat, jus wortel, atau pisang rebus yang saya beli di pasar tradisional dengan harga murah. Untuk stok sarapan empat hari, saya hanya butuh Rp 15.000,-.

Agar tidak bosan, saya sering menambahnya dengan bassang, makanan khas Makassar bubur yang terbuat dari jagung pulut, tepung terigu, air, tanpa gula. Di siang harinya saya menikmati makan siang dengan sedikit nasi, sayur hijau, ikan, telur, tahu atau tempe yang kesemuanya saya masak sendiri. Lumayan, bahan makan siang dua-tiga hari hanya sekisar Rp. 15.000 hingga Rp. 25.000,-. Dan untuk pengganti makan malam, saya makan sore. Menunya berupa apa saja—tanpa daging atau nasi.

Foto: Jumardan Muhammad
Selain berhemat, saya merasa jauh lebih sehat. Menariknya, celana dan baju yang sudah saya tidak gunakan sejak tiga tahun lalu karena kesempitan dapat kembali saya kenakan. Hal-hal inilah yang saya ceritakan ke orang-orang ketika menanggapi perubahan bentuk tubuh saya.

Oiya, karena saya senang memotret, maka sejak beberapa bulan lalu, saya pun mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Tempat-tempat yang dapat saya jangkau, saya tempuh dengan jalan kaki atau jika kejauhan saya menggunakan sepeda. Mengecilnya perut buncit dan tersalurkannya hobi fotografi saya adalah salah dua manfaat dari hal-hal ini.

Kebiasaan begadang pun saya hilangkan. Di malam hari saya tidur paling lambat pukul 10 dan bangun pada pukul 4 pagi. Pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan saya kerjakan di awal hari dan membuat perencanaan-perencanaan tentang apa-apa saja hal yang harus saya kerjakan dalam satu hari. Kebiasaan baru ini membuat saya jauh lebih terorganisir.

Cara Alami Menurunkan Berat Badan

Jika kamu tinggal di Jakarta dengan aktivitas padat sehingga tidak sempat melakukan apa yang saya lakukan, Gorry Gourmet di websitenya https://gorrygourmet.com/ dan aplikasi smartphonemu https://goo.gl/vWENMp siap menjadi asisten kesehatan pribadimu dalam melakukan program hidup sehat, baik itu menurunkan berat badan, menangani kasus kebutuhan khusus bagi mereka yang mengidap penyakit tertentu, menaikkan massa otot, bahkan memenuhi cemilan harianmu.

Catering Makanan

Dengan membuka website atau aplikasinya, kamu dengan akan dengan sangat mudah menemukan berbagai varian paket sesuai kebutuhanmu. Saya tidak akan menjelaskan di sini karena mereka punya semuanya di sana.

Tentu saja, makanan sehat di Gorry Gourmet semuanya ditangani oleh para profesional, baik chef, ahli gizi hingga kurir yang mengantarkan makananmu, sehingga semua yang kamu makan sudah terukur gizinya. Selain itu, masalah harga kamu tidak usah khawatir karena ada banyak promosi yang mereka sediakan untukmu. Kesemua promosi itu malah disampaikan melalui layanan chat di websitenya.

Oiya, kedepannya tentu saja kita berharap Gorry Gourmet tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga di seluruh kota di Indonesia agar prediksi WHO tentang jumlah penderita diabetes di Indonesia di masa mendatang dapat meleset.

Sumber: https://gorrygourmet.com/

Badan Ideal

Percayalah, melakoni hidup sehat sungguh sangat menyenangkan, hanya dengan berat badan ideal. Umur memang masih 25 tahun, tapi sejak dini saya berusaha untuk menghindari penyakit-penyakit yang diidap oleh kebanyakan orang tua hanya gara-gara hidup tidak sehat dengan pola makan tidak teratur di masa mudanya.

Pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang mengancam sungguh sangat tidak murah, sedangkan untuk  hidup sehat itu murah. Karena kita tentu tidak mau seperti nyamuk yang tadi saya tepuk, barangkali kita harus bersepakat dengan adagium; makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan karena kita adalah apa yang kita makan.

***
Referensi:
1. The World Until Yesterday – Jared Diamond: https://www.goodreads.com/book/show/15766601-the-world-until-yesterday 
2. Voa Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/kasus-diabetes-di-dunia-capai-rekor-tertinggi-tahun-ini/1789917.html
3. WHO: http://www.who.int/diabetes/global-report/en/

*Tulisan ini diikutkan dalam Wellness Blog Competition GorryGourmet yang berlangsung dari 10 Agustus hingga 30 September 2017, klik di sini jika ingin berpartisipasi https://goo.gl/1gZfm3

The Vegetarian Bukan Untuk Vegan

The Vegetarian - Han Kang

Satu lagi perbedaan kecil antara keadaan di 1931 dengan 2006 adalah orang-orang Papua Nugini di 2006 makin terlihat seperti orang-orang kebanyakan di Amerika dengan tubuh kelebihan berat badan dengan ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya.

Selain itu, statistika kesehatan masyarakat Papua Nugini modern menunjukkan jumlah kasus diabetes yang terkait dengan kelebihan berat badan, ditambah dengan kasus-kasus seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang tidak dikenal satu generasi silam.

Penyakit-penyakit ini dikenal dengan istilah Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular, namun menjangkiti hampir seluruh penduduk dunia hari ini. Di negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang nyaris 90% dari mereka meninggal karena mengidap salah satu NCD. Begitu kira-kira tulisan yang dipaparkan oleh Jared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday yang saya tamatkan 2 tahun silam.

Saya teringat buku tebal Jared Diamond itu setelah menamatkan The Vegetarian karya Han Kang, pemenang Man Booker International Prize 2016. Judul aslinya sebenarnya Ch’aesikjuuija dalam bahasa Korea, namun oleh Deborah Smith diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Terjemahan inilah yang memenangkan penghargaan novel terjemahan terbaik dari seluruh dunia, mengalahkan karya Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan. Yang saya baca adalah versi bahasa IndonesianyaVegetarian.

Adalah Kim Yeong Hye, seorang istri yang mempunyai pekerjaan memasukkan teks ke dalam balon percakapan komik, yang merupakan sentra cerita dari buku dengan tebal 221 halaman. Vegetarian terbagi dalam tiga babak: Vegetarian, Tanda Lahir Kebiruan, dan Pohon Kembang Api. Cerita dibuka oleh suami Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal yang menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya yang berjalan baik-baik saja bahkan membosankan karena minimnya interaksi antara dia dan istrinya. Namun untuk keadaan seperti itu dia berterima kasih, setidaknya dia tidak direcoki oleh telepon-telepon istrinya yang seperti terjadi pada banyak kehidupan rumah tangga teman kerjanya. Hal-hal demikian itu saking seringnya akan berujung pada pertengkaran.

Suatu malam istrinya mendapat mimpi sehingga dia membuang semua daging yang ada di rumah mereka, pun dengan semua makanan berbahan dasar daging. Setelahnya muncul narasi-narasi gelap yang menyinggung tentang luka, darah, dan pembunuhan. Bagian ini diceritakan oleh istrinya sebagai orang yang mengalami mimpi tersebut.

Tak dinyana, berawal dari mimpinya, kehidupan rumah tangga mereka berubah drastis. Suami Yeong Hye pun mengabari mertuanya terkait perubahan sikap Yeong Hye yang berubah menjadi seorang vegetarian. Tubuhnya mengurus tak terurus.

Di pertemuan keluarga, kehidupan vegetarian yang dilakoni Yeong Hye mendapat penolakan oleh adik, kakak, ibu, dan ayahnya.  Tanpa daging seseorang akan kekurangan protein, budaya makan Korea pun tak memberi ruang pada seorang vegan karena seluruh makanan dan bahannya adalah daging. Konflik puncak terjadi setelah tragedi Yeong Hye ditampar oleh ayahnya dan dia mengiris nadinya. Pada bagian dua buku Han Kang ini, sudut pandang berubah ke kakak iparnya yang seorang seniman video. Han Kang dengan sangat detail bercerita tentang kehidupan seniman dan bagaimana mereka mengerjakan karya, tak heran karena dia adalah seorang guru besar dan mengajar di Institut Seni Seoul.

Si kakak ipar sangat tertarik pada Tanda Lahir Kebiruan pada bokong Yeong Hye. Olehnya itu, ia dengat sangat hati-hati mengajak adik iparnya untuk dilukisi bunga-bunga badan telanjangnya sambil direkam melalui kamera videonya. Persetujuan Yeong Hye ini membuatnya berimajinasi lebih liar, dia membayangkan persetubuhan  Yeong Hye dengan seorang laki-laki berbadan tegap tanpa gelambir di perutnya—yang olehnya juga dilukisi bunga-bunga. Seperti di bagian pertama, bagian kedua buku ini juga diselingi cerita-cerita dari sudut pandang lain, kakak Yeong Hye. Di akhir bab, pukulan telak menerpa sang kakak, keterkejutan, ketakutan dan kebencian tiba-tiba menerpanya karena mendapati adiknya digarap oleh suaminya dengan alasan sedang menggarap karya berikutnya. Hal ini menggiring saya melihat nafsu dan seni menjadi kabur. Ditambah dengan percakapan-percakapan dalam diri kakak ipar Yeong Hye sebagai orang pertama tunggal.

Pada bagian Pohon Kembang Api, cerita pun berpindah dari sudut pandang kakak Yeong Hye yang mengalami perceraian akibat ulah suaminya dan harus mendatangi adiknya di rumah sakit tiap waktu. Dari seluruh rangkaian kejadian yang menerpanya dia pun masih kekeh menjadi vegan, Yeong Hye semakin mengurus. Dia bahkan mulai menolak makan, terlihat seperti anak-anak dan bercita-cita menjadi pohon. Pohon katanya tidak butuh makan, dia hanya butuh matahari untuk berfotosintesis. Dia pun bertingkah bak pohon. Pada bagian ini saya memikirkan hipotesis: orang dewasa terlalu banyak makan, makanya jadi jahat dan memiliki nafsu besar pada banyak hal. Anak kecil malas makan, makanya selalu bahagia.

Kak, aku berdiri dengan tanganku, daun tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku. Aku menancap ke dalam tanah. Tanpa henti, tanpa henti. Uh, bunga ingin merekah dari selangkanganku sehingga aku harus melebarkan kakiku, mengangkang lebar-lebar…


Jika berharap untuk mendapatkan tubuh ideal dari buku ini dengan menjadi vegetarian, maka kita telah melakukan kesalahan. Han Kang kemungkinan besar tidak menulis buku ini untuk menjadi sebuah panduan hidup menjadi vegan karena di buku ini seorang vegan sungguh menderita. Belakangan Yeong Hye mengidap skizofrenia dan anoreksia. Buku ini malah menjadi pengingat bagi saya untuk tidak makan berlebihan. Bukannya apa, Jared Diamond pun lebih dulu telah menjelaskannya melalui paparan data yang dia kerjakan bertahun-tahun dan beberapa orang-orang di sekeliling saya mengidap penyakit NCD hingga meninggal. Singkatnya, makan daging dengan berlebihan dan pola makan tidak teratur itu akan menyiksamu dan perlahan membunuhmu.

Ada Car Free Day di Kampung Inggris

alamat kampung inggris



















Sayup-sayup musik berdentum tak jauh dari Stadion Canda Bhirawa. Memasuki perempatan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa dari Jalan Anggrek, saya mendapati tiga orang polisi lalu lintas sedang berdiri di depan plang pemalang jalan. 
Di sekeliling mereka ada sales girls Oppo yang membagikan brosur ditemani maskot raksasanya yang bergoyang-goyang menyapa orang-orang. Karena penasaran, saya yang mengayuh sepeda mendekati kerumunan ini. Jalanan tidak seperti hari-hari Minggu biasanya.

Tak terhitung jumlah orang berpakaian olahraga yang berjalan santai. Selamat datang di Car Free Day (CFD) Pare!


Tepat tanggal 7 Agustus 2016 Wakil Bupati Kediri bersama unsur muspida meresmikan hari bebas kendaraan bermotor di Kecamatan Pare tepatnya sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Saya merasa agak aneh sekaligus senang, kota kecil ini punya CFD.

Sejarah Car Free Day

Awalnya, kegiatan seperti ini hanya ada di Eropa. Adalah Belanda yang pertama kali menggelarnya pada 1956. Selanjutnya di Prancis pada 1995 diadakan kegiatan “En ville sans ma voiture”. Di Inggris, 1997, melalui British Environmental Transport Association (ETA) digelar pula National Car Free Days.

Selang setahun, tepatnya 21 Juni 1998, Jerman mengadakan Car Free Mobility Day diikuti oleh Italia dan Belgia. Dan pada Oktober 2000 di Chengdu, Cina pun digelar Car Free Day.


Menariknya adalah tidak lama setelah Cina, pada 2001 di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat kegiatan hari bebas kendaraan bermotor ini pun digelar untuk pertama kalinya. Menyusul kemudian kota-kota di seluruh Indonesia.

CFD sebenarnya merupakan kampanye untuk mengurangi tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di seluruh dunia yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Sejarah panjang perjalanan CFD membawanya tiba di Pare, sebuah kota kecil berjarak kurang lebih 103 kilometer dari kota Surabayakota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.

Car Free Day di Kampung Inggris

Kehadiran CFD di Pare kemudian menawarkan hiburan baru dari aktivitas belajar di Kampung Inggris. Saya dan kamu tentu paham betul bagaimana rasanya menikmati hiburan setelah seminggu belajar.

Pun dengan masyarakat Pare yang memiliki latar pekerjaan yang berbeda-beda. Tiap Minggu pagi dari pukul 6 hingga 10 pagi Jalan Jendral Sudirman akan hiruk pikuk oleh aktivitas hari bebas kendaraan bermotor.


Hampir di depan tiap-tiap toko besar di sepanjang jalan tersebut akan digelar senam yang bisa diikuti oleh siapapun. Ini adalah hal pertama yang bisa kamu lakukan jika sedang di CFD Pare—senam. Menghambur dan berbaur mengikuti gerakan pemandu.

Sayangnya, saya tidak suka senam. Saya memilih berjalan dan menyinggahi apapun yang menarik bagi saya, terlebih makanan. Akan ada banyak makanan yang dijajakan CFD Pare dengan harga murah dan enak.

Olehnya itu, berburu kuliner adalah alternatif lain selain senam. Teman saya  pernah berseru, “Gagal diet lagi!” Sedangkan seorang lagi pernah menceritakan dengan bangganya bahwa dia telah menyicipi makanan-makanan di sana. Oke, ini lucu. Saya tidak bisa membayangkan dia memakan semua makanan yang ada di jalan sepanjang lebih dari dua kilometer itu.

Selesai makan, kamu juga tidak akan kesulitan menemukan rupa-rupa minuman, cocktail yang populer itu salah satunya. Selain itu, ada juga kakak-kakak gemes dan ibu-ibu muda berjualan jilbab, busana muslimah, bahkan daster. Sambil menunggui ibunya berjualan atau berbelanja, anak-anak juga punya hiburannya sendiri berupa odong-odong dan aneka permainan.

Baca juga: Banyak Cara Menuju Kampung Inggris

Foto: Jumardan Muhammad

Jika kamu tidak ingin mencoba senam atau mencoba makanan yang dijual, CFD Pare menawarkan kamu pilihan untuk bermain dan berswafoto dengan musang, sugar glider, atau ular. Mereka milik komunitas reptil Pare yang nongkrong saban Minggu pagi.

Sebenarnya masih banyak hewan aneh yang tidak saya tahu namanya, saya pun malas untuk bertanya, mungkin kamu mau kesana dan memberi tahu saya nama-nama mereka? Berkabar ya.

CFD Menguras Biaya Kampung Inggris

Eh tapi, omong-omong, satu-satunya yang menguras biaya hidup saya di CFD Pare adalah seorang ibu yang melapak buku bekas—asli, dan langka. Konon, dia dan suaminya memang pembaca buku garis keras sekaligus kolektor buku-buku tua.

Saya sempat membeli Macbeth-nya Shakespeare dan Scene of London Life-nya Charles Dickens bersampul beludru. Saya rasa kita sepakat bahwa buku langka memang kadang tidak murah.


Sampai di sini, saya merasa bahwa CFD di Pare tidak hanya menjadi kampanye untuk mengurangi polusi udara tapi juga menjadi pemicu perputaran roda ekonomi serta ruang rekreasi bagi semua orang. Enam bulan sejak meninggalkan Pare, saya masih bisa membayangkan senyum dan tawa bahagia orang-orang di tiap Minggu pagi yang berjalan kaki dengan teman atau keluarga mereka tanpa harus diklasoni motor atau mobil.

***