Bukan 3, tapi 4 Podcast Indonesia ini yang belakangan saya dengarkan

March 09, 2018

podcast Indonesia

Sesaat setelah jam kantor usai Kamis dua minggu kemarin, seorang teman yang hendak pulang melintas di samping saya dan tiba-tiba berhenti lalu menyapa. Kami ngalor ngidul hingga kemudian tiba pada perbincangan podcast Indonesia.

"Hai Ardan, tulisanmu di blog menarik," dia menarik kursi di sebelah kanan saya, meletakkan tasnya di meja dan kami memulai membicarakan pelbagai hal tentang tulis menulis.

Walaupun di awal saya kikuk karena tidak terbiasa mengobrol di kantor, belakangan kemudian cair. Ada seorang teman yang bergabung, kami mengobrol bertiga.

Pembicaraan yang mengalir tiba di Soundcloud dan sesekali ke Youtube. Belakangan, saya memang mengunduh kembali Soundcloud setelah lama terhapus di gawai. Jika diibaratkan sebuah hubungan, saya dan Soundcloud berada di love-hate relationship. Saya mengunduhnya pertama kali di kitaran 2013.

Sesudah di unduh, saya mendengarkan banyak sekali musik. Tidak lama setelahnya saya bosan dan lebih senang mendengar-menonton lagu di Youtube. Pada 2015 Soundcloud kembali saya unduh, namun, lagi—dihapus.

Saya menyukainya karena setiap mencari lagu, selalu ada dan gratis. Itu masa dimana Spotify dan JOOX belum sesemarak sekarang. Sayangnya, tidak semua lagu itu adalah lagu dari penyanyi aslinya. Kebanyakan di cover oleh orang lain dan tidak sedikit yang jelek. Soundcloud memungkinkan semua orang membuat mengunggah file audio.

***

2016, saya belajar melatih pendengaran bahasa Inggris dengan mendengarkan podcast. Inilah kali pertama saya berkenalan dengan program audio yang memuat banyak sekali informasi. Fokus saya saat itu adalah mendengarkan berita yang kebanyakan temanya adalah kejadian global serta percaturan politik luar negeri. Saya mendengarkannya di aplikasi BBC Podcasts.

Sewaktu memasuki 2017 saya mulai bosan dan seketika berhadapan dengan pertanyaan, "Memangnya tidak ada podcast dengan bahasan yang ringan?"

Podcast Awal Minggu

podcast Indonesia

Entah bagaimana saya menemukan saluran Youtube Paguyuban Pamitnya Meeting yang di episode pertamanya menghadirkan seorang stand up comedy-an, Adriano Qalbi.

Pertanyaan saya menemukan jawabannya. Si Adriano ternyata memiliki podcast dengan nama Podcast Awal Minggu (PAM) . Sesuai namanya, media ini dia rilis setiap awal minggu. Ada waktu laki-laki brewok ini mengundang seorang tamu di salurannya untuk dikupas habis-habisan. Di waktu lain, dia mengoceh sendirian.

Pengalaman saya mendengarkan podcast pun berubah total. Jika sebelumnya saya menikmatinya dengan suara musik pengantar di awal dan di akhir dengan suara podcasternya yang lembut, maka PAM mendobrak semua dan semaunya.

Kamu bisa membayangkan, Adriano yang baru saja bangun dan belum mandi pagi memulai podcastnya sendirian dengan suara yang serak sambil sesekali batuk keras. Pembicaraan pun akan ngalor ngidul selama kurang lebih sejam. Di akhir, dia akan menutupnya dengan kalimat, "Dee.. Tali Lu Semua!"


Saya tidak terlalu mendengarkan yang bagian itu. Kesukaan saya adalah Podcast Awal Minggu dengan Tamu. Pelawak tunggal ini mengobrol dengan orang lain, siapa saja. Tidak sedikit dari mereka yang seniman atau pekerja seni.

Ada banyak sekali obrolan menarik tentang proses berkarya, quater-life crisis, penemuan passion, kegelisahan akan diri sendiri dan masyarakat, hingga pencarian keyakinan. Sekali waktu akan ada judul musik, film, atau judul buku bagus yang mereka singgung. Saya yang gatal, sering kali mencari judul-judul tersebut.

Suarane Podcast

podcast Indonesia
Kadung mengunduh Soundcloud, saya beberapa kali melakukan refresh di berandanya dan dua bulan kemarin menemukan Suarane Podcast. Kamu tahu kan di Soundcloud ada bagian Artists You Should Know?

Nah, Suarane Podcast dengan tampilan logonya menggangu saya untuk mengklik dan mendengarkan salah satu episodenya, Kepo Buku - Dari Panama Papers, Logical Fallacies sampai Laut Bercerita. Ketika menunggu Transjakarta arah Grogol di halte Gatot Subroto Jamsostek, saya mulai mendengarkannya dengan anggapan, "Paling di skip lagi, logonya saja begitu."

Tapi tidak. Suarane Podcast yang dibawakan oleh seorang laki-laki sebagai pemandu dengan suara beratnya membuat saya tidak langsung menyetop. Pasalnya, buku-buku dibincangkan dari jarak jauh. Dua kawannya; yang satu di Ambon dan satunya di Singapura. Sementara si empunya sendiri berada di Bangkok, Thailand.

Karena malam itu lalu lintas sedang macet parah, tidak terasa episode ini habis. 52 menit 32 detik dan saya belum juga tiba di halte Harapan Kita. Padahal jika lancar, hanya butuh 20 menit. Jadilah saya mencari tahu siapa di belakang Suarane Podcast.

Adalah Rane Hafied, seorang karyawan di perusahaan global yang menetap di Bangkok (bang, folbek aku di Linkedin!), yang merupakan pembesut Suarane. Dia menyingkat namanya untuk nama podcastnya: Suara Rane (Suarane). Eh, iya gak sih, bang?


Episode yang paling menarik bagi saya adalah Susu, Telur, dan Bubur Kacang Hijau Sang Jendral. Sebab mengisahkan tentang seorang Jendral Jusuf dengan beberapa kali menirukan cara bicara jendral asal Sulawesi Selatan ini dengan logat yang terasa sangat Sulawesi Selatan. Apa iya kamu orang Makassar, bang? Tapi, di Linkedinmu menyebut Jawa Barat.

Suarane punya banyak segmen, mulai dari mengoceh sendiri, obrolan tentang buku, wawancara dengan orang lain, hingga obrolan Mput, anaknya. Dari saluran ini pula saya mengenal beragam podcast Indonesia lainnya.

Oiya, berbeda dengan PAM, Suarane punya plot yang jelas. Terang saja, Rane adalah seorang pencerita, pembicara, dan penghibur yang ulung. Belakangan saya tahu dia pernah bekerja sebagai seorang penyiar, telah lama di dunia kepenulisan, dan kini menyebut dirinya storyteller.

Inspigo

podcast Indonesia

Jika kamu adalah orang yang optimis dengan perasaan yang selalu positif, maka podcast ini cocok untuk kamu. Saya mengetahui saluran ini dari seorang teman kuliah yang memostingnya di insta story.

Di awal, salah satu podcast Indonesia ini hanya beredar di Soundcloud hingga kemudian meluncurkan aplikasi sendiri sehingga saya, kamu juga bisa mengunduhnya di Google Playstore. Ada beberapa sesi yang bisa dipelajari untuk mengembangkan diri. Semisal, skill to succeed, personal development, profil dan cerita inspiratif, healthy living, hingga life hacks.

Secara bergantian seorang laki-laki dan perempuan yang menjadi host akan mewawancarai orang dengan pelbagai latar belakang bidang. Pemandu-pemandu ini tidak pernah mampu saya hafalkan namanya, meski selalu disebutkan di awal. Yang menempel hanyalah slogan dengan latar belakang musik, "Inspigo, Inspirasi on The Go!"

Meskipun tiap waktu muncul di notifikasi tentang salah satu episodenya, saya tidak langsung mendengarkan. Diakses hanya ketika dua podcast sebelumnya tidak merilis episode terbarunya. Itupun saya pilih-pilih, seperti episode-episode tentang desain dan branding atau cerita Stephany Josephine mengenai blognya The Freaky Teppy.

Menariknya, Inspigo tidak sedikit mewawancara orang-orang yang sering nampang di televisi dan menanyai mereka pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan di televisi. Untuk membuktikannya, kamu harus mendengarkan sendiri.

Travel Tales From The Road

podcast Indonesia

Lembah Bada yang letaknya tak jauh dari Makassar adalah tempat yang sejak 2013 ingin saya kunjungi tapi tak pernah kesampaian. Saya penasaran dengan patung besar yang terpancang di dataran hijau.

Terlebih ketika di salah satu edisi majalah National Geographic menjelaskan tentang Pulau Paskah di selatan Samudra Pasifik. Iya, patung di Lembah Bada memiliki kemiripan dengan patung di Pulau Paskah.

Beruntung, Windy Ariestanty yang saya gemari tulisan-tulisan perjalanannya telah tiba di sana dan membuat podcast tentang ini pada awal Januari lalu. Cerita tentang Lembah Bada pun menjadi episode pertama Travel Tales From The Road (TTFTR) yang diasuh Windy.

Meskipun baru dua episode, entah telah berapa kali saya mengulang episode-episode TTFTR. Kemampuan dan cara Windy bercerita adalah hal yang saya kagumi. Ini sejalan dengan karirnya sebagai salah satu penulis perjalanan di Indonesia.

Ade yang pertama kali menunjukkan saya perempuan ini. Saat itu Mbak W, sapaan akrabnya, mengisi workshop menulis cerita perjalanan di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014. Dan tulisannya tentang Kota Biru Chefchaouen di sebuah majalah adalah cerita perjalanan pertamanya yang saya baca. Menyusul kemudian Life Traveler dan seluruh isi blognya.

Pada akhir 2017 kemarin, saya menyempatkan waktu untuk melihat Windy mengisi salah satu diskusi yang digelar oleh I Was Here. Dia tampil sebagai teman perjalanan terakhir (begitu I Was Here menyebut pembicaranya) yang membagikan rujukan destinasi wisata 2018.

Baca juga: IWasHere: Destinasi Wisata 2018 

Dan seperti saat mendengarkan Mbak W bercerita di MIWF 2014, saya juga terhipnotis dengan cara berceritanya di I Was Here pun di podcastnya. Mendengarkan perempuan ini bercerita seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur—jelas, runut, dan indah sekali.
***

Keempat podcast tadi menemani saya di beraktivitas sehari-hari, belakangan saya juga mendengarkan Podcast Postinor besutan Amel dan Vinsen serta podcast dari Ario Pratomo. Eh, jika kamu punya podcast Indonesia kesukaan, beritahu saya di kolom komentar!

Terima kasih 😁

You Might Also Like

2 komentar

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊