#TibaTibaSuddenly Bersama Efek Rumah Kaca Tiba-tiba Nostalgia

February 23, 2019

Konser Efek Rumah Kaca

Pukul 1 dini hari. Jalanan benar-benar senyap, lampu jalan mengerjap-ngerjap.

Butuh waktu lama untuk melihat kendaraan melintas, itupun hanya sepeda motor RX King dengan kecepatan tinggi seolah berburu dengan pagi.

Seekor anjing dengan gagah menggonggong. Yang lain bermalas-malasan sesekali menguap.

Saya dan tiga orang teman kebingungan di malam yang mendingin. Kami berempat hanya menggunakan selembar baju kaos dengan bawahan celana pendek.

Konser Efek Rumah Kaca

Kami baru saja pulang dari menonton festival band di terminal. Sebuah kota yang luasnya hanya kurang lebih 38 km2 belum punya infrastruktur memadai untuk menampung pagelaran musik.

Jadilah terminal kota disulap menjadi gelanggang pentas.

Di trotoar tepat di depan sebuah rumah tua kami duduk menunggu teman yang hendak datang menjemput.

Pukul 1 dini hari, di sebuah kota kecil; mustahil untuk menemukan kendaraan umum.

Konser Efek Rumah Kaca

Konser Efek Rumah Kaca

Kejadian tersebut sebenarnya adalah ingatan saat masih berusia sembilan atau sepuluh tahun. Saya lupa persisnya.

Yang jelas, saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Saya tumbuh dan besar di sebuah kota bernama Sengkang. Di lorong kompleks perumahan tempat tinggal saya terdapat salah satu studio musik terbesar di masa itu. Hanya terpisah dua rumah.

Dari studio musik tersebut lahirlah sebuah band beranggotakan lima orang yang aktif mengikuti festival.

Di masa-masa itu festival musik tengah jadi tren. Kota-kota kecil lainnya segera secara bergantian mengadakan festival serupa.

Konser Efek Rumah Kaca

Tidak ketinggalan, perusahaan rokok mengambil celah dengan mengadakan festival musik se-Sulawesi Selatan di mana para terbaik dari berbagai daerah diadu di Makassar; ibu kota provinsi.

Begitulah kira-kira ingatan saya tentang pagelaran musik yang pertama kali saya datangi.

Konser

#TibaTibaSuddenlyRekaman

Delapan belas tahun kemudian, berjarak 1.781 kilometer dari Sengkang saya kembali mengunjungi acara musik tepatnya di Ballroom Kuningan City, Jakarta Selatan.

Dalam rentan delapan belas tahun ini kedatangan saya ke kegiatan serupa boleh dihitung dengan jari. Kenapa?

Saya sebenarnya tidak paham musik. Saya mendengarkan musik hanya ketika dia mempunyai lirik-lirik bagus dan Efek Rumah Kaca (ERK) menawarkan hal ini.

Keadaan inilah yang kemudian memicu saya untuk membeli tiket dan mendatangi ERK bertajuk #TibaTibaSuddenlyRekaman.

Konser Efek Rumah Kaca

Konser Efek Rumah Kaca

ERK yang telah aktif bermusik sejak 2001 ini memang kerap kali manggung. Namun untuk konser tunggal, mereka baru mengadakannya dua kali dengan tema #TibaTibaSuddenlyKonser.

Seperti namanya, konsepnya memang dibuat tiba-tiba. Tiket dijual dalam jumlah dan waktu terbatas. Terakhir kali mereka mengadakan hajatan ini pada pertengahan 2017.

Butuh waktu dua tahun bagi ERK untuk kembali tiba-tiba konser.

Di awal 2019, tepatnya di minggu ketiga Januari, saya menemukan kabar di Instagram tentang konser tunggal ERK berikutnya. Berbeda dari sebelumnya, konser tiba-tiba berikutnya ini adalah #TibaTibaSuddenlyRekaman. Nah loh?

Konser Efek Rumah Kaca

Iya, #TibaTibaSuddenlyRekaman memang mengusung konsep rekaman di mana para penonton yang hadir akan diajak untuk karaokean lalu suara-suara itu kemudian direkam. Dari data yang diumumkan oleh Cholil malam itu bahwa kurang lebih 3500 orang memenuhi ruangan Kuningan City.

Tiket yang dijual di Kios Ojo Keos dan Ruru Shop mungkin tidak seberapa, tapi yang membeli tiket di lokasi konser berkali lipat jumlah. Seorang teman menghabiskan dua jam untuk mengantri, saya sendiri lebih dari sejam.

Penggemar ERK luar biasa banyaknya; perempuan laki-laki, tua muda lebur di Ballroom Kuningan City malam itu.

Orang-orang yang diajak untuk memandu #TibaTibaSuddenlyRekaman pun membuat suasana jadi meluap-luap. Ada lebih dari 15 pemandu; mulai dari Najwa Shihab hingga Fluxcup, dari Kunto Aji ke Mondo Gascaro, serta Vicent dan Desta dengan pembawa acara Adjis Doa Ibu dan Gombloh. 

Konser Efek Rumah Kaca

Kami memasuki ruangan pada pukul 7 malam dan keluar pada pukul 12 dini hari. Lebih dari 5 jam penonton berdiri dan bernyanyi lagu-lagu ERK dari berbagai album.

Ketika para pemandu telah tampil, barulah ERK yang mengambil alih panggung. Penonton meminta duduk, Cholil tampak ragu karena ruangan yang sesak.
"Setelah tadi bernyanyi 13 lagu, izinkan kami yang selanjutnya menghibur teman-teman," Cholil menembang.
Sukses membawakan tiga lagu. Cholil menutup #TibaTibaSuddenlyRekaman.

Di luar hujan baru saja turun. Saya dan tiga orang teman lainnya memilih melewati jalanan samping Kuningan City untuk mencari penjual minum. Di ruangan kami kehausan.

Pukul 1 dini hari, di Kuningan hujan turun. Kami melipir ke warteg menikmati makan malam yang terlambat. Setelahnya, menggunakan angkutan daring, masing-masing dari kami pamit.

Jikalau ada konser yang wajib untuk diingat, maka #TibaTibaSuddenlyRekaman inilah salah satunya.


***

Catatan Najwa di #TibaTibaSuddenlyRekaman

Untuk Indonesiaku hari-hari ini. Betapa perbedaan-perbedaan kita sedang diuji. Merasakan mendahului yang nyata. Agama ditumpah, difitnah, dan pemecah belah. Benarkah sedemikan susut alasan untuk kita merayakan makna keragaman?

Padahal kitorang basudara Kita sudah sama-sama melewati badai sejarah. Sejak kapan agama menjadi alasan mengoyak-ngoyak persatuan dan kemanusiaan? Jangan cerai berai karena berbeda sebab perbedaan justru kekayaan kita.

Kenanglah Chairil Anwar berkata, kami sudah beri kami punya jiwa,  tapi kerja belum usai belum lagi apa-apa. Tulang belulang pejuang berserakan, tak lagi berkata kini kita yang berkata.

Dengarlah Bung Hatta berbicara. Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena satu perbuatan, dan itu perbuatanku.
***

You Might Also Like

0 komentar

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊