Biarkan Mereka Terbang

By Ardan - July 13, 2019


"Tapi mohon diingat, di tengah-tengah anak yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu belajar Matematika secara tuntas. Ada calon musisi yang nilai Biologinya tidak terlalu akan berarti. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentu ilmunya bisa jadi bukan dari sekolah ini," Darno Yusuf Mulyono, S.PdI.

Saya secara tidak sengaja menemukan surat ini di Twitter saat usia kehamilan Ade sudah 12 minggu. Pikiran saya pun melayang ke hal-hal menyenangkan tentang membesarkan dan menghidupi seorang anak.

Surat tersebut ditulis oleh seorang kepala sekolah SD Islam Al Bina Masohi di Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku kepada para orang tua peserta didik Kelas 6 yang anaknya telah selesai melaksanakan ujian sekolah.

Lebih lanjut, Pak Darno menulis seperti ini, "Sekiranya anak bapak/ibu lulus menjadi yang terbaik, maka hebatlah dia. Tapi jika tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka."


Mungkin hal terlalu klise, tapi saya hampir saja menitikkan air mata membaca surat ini. Soalnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah selama 9 tahun, saya merasakan betul apa yang dirasakan anak-anak setelah melihat nilai mereka.

Barangkali kamu. Iya kan? 😒

Kurasa kita hidup di negara dengan sistem pendidikan yang tidak baik di mana pintar atau tidaknya seorang anak diukur dari nilai-nilai ujian mereka di sekolah. Ketika seorang anak gagal, orang tua dengan sangat sadar akan memperlakukan mereka dengan tidak semestinya.

Pun dengan masyarakat sekitar. Anggap saja teman orang tua kita yang dengan seenaknya bertanya, "Ardan ranking berapa?"

Oh, saya merasakan ini berkali-kali setiap ujian selesai. Betapa tidak mengenakkannya karena beberapa kali saya tidak masuk 10 besar rangking kelas. Saya selalu kewalahan dengan mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia kalau boleh jujur.

Tapi untuk pelajaran Bahasa Indonesia saya bisa bertepuk dada. Pencapaian tertinggi saya adalah didaulat sebagai perwakilan Kabupaten Wajo untuk lomba mengarang di tingkat Provinsi se-Sulawesi-Selatan sewaktu duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.

Hal itu juga barangkali yang menjadi alasan kamu bisa membaca blog ini.


Hari ini saya masih selalu bertanya-tanya kepada beberapa teman sekolah saya, "Kamu menggunakan semua pelajaran-pelajaran di sekolah dulu untuk apa di kehidupanmu yang sekarang?"

Kebanyakan menjawab tidak ada. Lihat? Barangkali kita hanya menghabiskan waktu selama 9 tahun untuk berangkat ke sekolah dengan seragam, menghafal pelajaran-pelajaran, dan mempelajari sesuatu yang tidak kita ada artinya.

Betapa waktu tersebut sia-sia. Apalagi di usia-usia sekolah menjadi waktu terbaik bagi orang tua untuk merajutkan anak-anak mereka sebuah sayap dan mengajarkan mereka untuk terbang.


Sistem pendidikan kita hanya mengajarkan semua hal tanpa membuat kita tahu apa yang sebaiknya kita lakukan dan menjadi apa kita di masa depan. Buktinya, seberapa banyak lulusan universitas yang bekerja tidak sesuai bidangnya? Kurasa ini juga yang memicu munculnya Life Quarter Crisis.
Life Quarter Crisis: perasaaan sedih, bingung, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan, tak termotivasi, kebingungan, serta ketakutan terhadap kegagalan.
Sementara jikalau saja kita dipersiapkan untuk menghadapi dunia dengan berbagai kompleksitasnya, maka Life Quarter Crisis tidak akan terjadi. Saya mengingat Rhenald Kasali yang pernah bilang, "Tugas orang tua adalah untuk mengajarkan anak-anaknya untuk hidup."

Bukan menuntut anak-anak berada di peringkat pertama di kelasnya selama 9 tahun. Toh, semua pelajaran-pelajaran tersebut akan menjadi tidak berarti saat mereka dewasa.

Seteah 9 tahun lulus dari SMA saya juga sering bertanya-tanya ke teman sekolah saya, "Di mana si A sekarang? Dia mengerjakan apa saat ini?"

Sialnya, beberapa kali saya mendapatkan jawaban tidak mengenakkan bahwa hingga saat ini mereka belum lulus dari universitas.

"Lah? Bukannya mereka dulu mereka selalu masuk rangking 3 besar di sekolah? Bukannya mereka selalu menjadi yang terbaik saat pelajaran Matematika?"


Begitulah kura-kura. Oh, saya mengingat bagian akhir surat dari sebuah sekolah di Maluku tersebut yang bunyinya begini;
"Lihatlah anak bapak/ibu akan menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai yang rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon berhentilah berpikir bahwa hanya dokter, insinyur, pegawai negeri, atau polisi dan tentara yang bahagia di dunia ini."
***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

19 komentar

  1. Tulisannya rapi dan runut. Saya sukaaa. Habis baca ini, jadi pengen anakku kelak HS ajaa wkwk. Biar fokus sama minat dan bakat. Baru habis HS, kuliah. Kayaknya kalo kuliah masih perlu ya untuk membentuk pola pikir anak. Kalo wajib belajar formal 9 tahun itu yang ukurannya pasti dari nilai, sebagian besar kecondongan hati saya adalah tidak setuju :))

    ReplyDelete
  2. Terbang dan jangan dirampas haknya atas bermain ya. Saya suka banget dengan anak anak. Senang juga kalau liat mereka happy pun sebaliknya sedih kalau sesuatu terjadi pada diri mereka.

    ReplyDelete
  3. Saya juga baca surat/tulisannya Pa Darno. Jleeeb banget dan memang itu lah yang seharusnya terjadi. Tapi apadaya sistem pendidikan kita dan juga masih banyak orang tua yang menjadikan nilai2 sekolah terutama matematika dan sejenisnya sebagai benchmark kepintaran seseorang.

    Semoga sekarang udah berubah ya.




    ReplyDelete
  4. Kalau saya masih kepake sedikit dari hasil belajar 9 tahun. Kebetulan saya minat banget sama bahasa Inggris. Jadi, sampe kuliah ambil jurusan itu. Tapi bahasa Inggris bukan soal jadi guru saja, tapi bisa komunikasi dengan orang asing dengan bahasa yang sesuai. Jadi nyambung deh ngomongnya.

    ReplyDelete
  5. Hak anak adalah bermain
    Dalam bermain sesungguhnya dia juga sedang belajar
    Duuuh... saya masih harus banyak belajar juga agar bisa memberikan hak anak sebagaimana mestinya

    ReplyDelete
  6. Saya butuh waktu lebih lama utk bersekolah, 12 tahun.

    ReplyDelete
  7. Terlepas dari segala kekurangan yang masih harus diperbaiki dalam dunia pendidikan, saya pribadi berusaha menghindari anggapan bahwa selama sekian tahun belajar itu sia-sia. Karena bisa saja apa yang saya lakukan selama sekian tahun belajar, termasuk yang ikut membentuk pola pikir dan karakter saya.

    Belajar dari pengalaman, saya semakin berhati-hati memilih sekolah untuk anak. Tentunya tanpa menghilangkan hak mereka untuk bermain

    ReplyDelete
  8. Bener banget mas, dunia pendidikan di negeri ini begitu kejamnya

    ReplyDelete
  9. Setiap anak punya kecerdasan sendiri, jd kita orangtua tidak elok, menuntut anak bagus di semua mata pelajaran.

    ReplyDelete
  10. "Sekiranya anak bapak/ibu lulus menjadi yang terbaik, maka hebatlah dia. Tapi jika tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka."
    Quote ini memang bener banget... Berasa banget saat saya mendidik anak semata wayang sy... Alhamdulilah skrg dia sdh mandiri sekolah di negeri orang.

    www.penceritadunia.com

    ReplyDelete
  11. Menjadi yg terbaik masa sekolah bukan berarti masa depannya cerah ya.. kewajiban orang tua adalah menyiapkan anak untuk siap menghadapi segala kondisi

    ReplyDelete
  12. aku setuju banget sama quotes terakhirnya. Selamat Hari Anak Nasional :)

    ReplyDelete
  13. ahhh adem baca artikelnya.... SAelamat Hari Anak Nasional semuanyaaa !

    ReplyDelete
  14. Paragraf pertama jleb banget, di lingkungan saya, kadang anak dikatakan pinter kalau matematika dsb bagus. Padahal anak punya potensi bakatnya sendiri.

    ReplyDelete
  15. suka banget sama tulisan si bapak kepala sekolah, benar-benar mencontohkan yang baik kepada orang tua, agar tidak lagi terlalu fokus pada pencapaian anak disekolah tapi ada juga anak yang memang bakatnya lebih menonjol dan juga harus di support sepenuh hati, thanks for sharing mas, jadi reminder aq yang baru belajar jadi orang tua untuk bisa menerima kekurangan anak dan selalu mendukung apa yang menjadi kelebihannya

    ReplyDelete
  16. Tulisan di surat Bapak Kepala Sekolah itu warbyasa banget. Nggak bisa memang menyamakan anak yang satu dengan yang lain karena masing-masing punya karakter dan keunikan. Pas jadi orangtua aku juga jadi belajar, terutama gimana untuk ikhlas saat beda pendapat sama anak.. :)

    ReplyDelete
  17. menjadi orangtua yang selalu melimpahkan kasih sayang, waktu, dan memberikan fasilitas untuk anak-anak bisa ekplor banyak hal adalah salah satu visi dan misi aku buat anakku

    ReplyDelete
  18. Saya sendiri sekarang fokus pada mengajarkan life skill dan how to solve problem ke anak-anak. Teori penting tapi bukan hal yang fokus harus mahir disitu. Thanks mas, tulisannya paling tidak menyadarkan saya bahwa keputusan yang saya ambil tepat.

    ReplyDelete
  19. Benar, setiap anak dan setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, tidak bisa dibabat rata. Jadi kalau punya kelebihan di suatu bidang ya jangan menjatuhkan kepercayaan dirinya di bidang yang tidak dia kuasai.

    tapi jadi orang tua memang berat sih. Ku yg masih single belum paham lah perjuangan kalian para orang tua yang hebat. tapi tetap semangat terus ya.. Demi anak-anak kita di masa depan.

    ReplyDelete

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊