Sarapan dan Mainan

By Ardan - September 09, 2019


Sesudah memeriksakan kehamilan Ade di dokter Hadi, kami menuju parkiran rumah sakit. Jarum jam menunjukkan pukul 10.30 dan kami baru akan sarapan.

Sejak merantau dan tidak tinggal lagi bersama dengan mama, saya kerap melewatkan sarapan. Terlebih saat Ade dan saya tinggal seatap. Kami selalu bangun telat, sarapan pun terlewat.

“Makan dulu, tidak boleh keluar rumah sebelum makan!” perintah mama tiap kali saya akan berangkat sekolah.

Perintah ini berulang saban pagi beberapa puluh tahun saat saya masih duduk di bangku SD. Entah kenapa, dulu setiap akan berangkat sekolah saya malas sekali sarapan. Bosan dengan omelan mama setiap pagi, saya pun memilih jalur aman dengan sarapan.

Hasilnya, saya pun tumbuh menjadi anak yang doyan makan.

“Baru kali ini saya lihat orang makan pagi pake nambah,” tegur tante saya di satu pagi. “Tapi tak apa, lanjut saja.”

Ketika berpindah ke bangku SMP, saya pun tidak lagi diperintah untuk makan. Yang ada, saya yang mencari makanan tiap kali akan berangkat. Tak tanggung-tanggung sarapan saya adalah nasi dengan lauk ikan atau telur dan sayur agar tidak seret. Sesekali segelas susu terhidang di meja makan.

Menu-menu makan pagi ini pun tak terlewatkan hingga saya menyelesaikan bangku SMA. Kebiasaan ini kemudian membentuk saya menjadi pribadi yang tidak cepat lapar dan aktif berpikir saat teman-teman saya suka menghabiskan banyak waktunya di kantin.

Hal ini pula yang barangkali menghindarkan saya dari rokok.

Kamu tahu kan kalau kantin sekolah sering kali dijadikan tempat persembunyian untuk merokok? Ada semacam rahasia umum di sekolah antara siswa dan orang-orang yang berjualan di kantin.

Di kantin rumah sakit tempat saya sarapan dengan Ade kami bercerita banyak hal tentang masa kecil, salah satunya scooter.

Ada masa di bangku SD salah seorang teman saya ke sekolah dengan menaiki scooter. Sebagai sebuah kota kecil di selatan Sulawesi, barang tersebut jelas menjadi barang mewah. Teman saya membelinya di Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagai seorang anak yang apa-apa dibatasi, scooter tersebut sontak bikin saya cemburu. Betapa menyenangkannya menjadi anak kecil yang berlimpah dengan mainan.

Setiap kali saya ingin membeli mainan, mama selalu melarang. Dia akan bertanya banyak hal jika saya mengajukan proposal membeli mainan, “Untuk apa?” atau “Harganya berapa?”

Meski saya sudah berpanjang lebar, saya jarang sekali mendapatkan mainan.

Beberapa mainan yang saya ingat antara lain mobil Tamiya dan Beyblade. Sialnya, kedua mainan ini memerlukan uang lagi untuk menyempurnakannya dan hal ini membua saya harus memutar otak untuk mengajukan proposal lainnya.

Satu barang yang saya tidak minta, tapi dibelikan begitu saja oleh mama yaitu sepeda.

Kala itu libur sekolah. Sepupu saya dari Enrekang ke Makassar dan kami bertemu di rumah nenek. Dia mendapatkan sepeda dan mama tampaknya tidak ingin kalah. Saya juga dibelikan sepeda sehingga saya dan sepupu memiliki sepeda yang persis sama. Usia kami memang hanya beda setahun.

Satu-satunya mainan yang mama berikan tanpa saya harus mengajukan proposal adalah buku.

Di suatu siang, saat saya duduk di bangku kelas 5 SD, mama datang dengan seikat buku. Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia senior di SMA, dia dipercayakan untuk memilah buku-buku yang ada di perpustakaan.

Buku-buku yang ada di tempat baca tersebut terdiri dari beberapa copy sehingga satu dari setiap dari buku tersebut diambilnya dan dibawa pulang. Saya ingat betul beberapa judul yang ada di ikatan buku tersebut bersumber dari Penerbit Balai Pustaka.

Di libur sekolah lainnya, mama sempat mendengus sepulang dari Makassar.

“Itu totalnya satu juta,” ujarnya.

Adik saya membeli buku dengan harga sejuta. Ada beragam jenis buku yang dibawanya waktu itu, mulai dari fiksi hingga biografi. Hal ini dipicu oleh seikat buku yang mama bawa. Kami jadi suka buku dengan genre fiksi dan selalu haus dengan buku-buku baru.

Maklum, di Sengkang waktu itu hampir tidak ada buku-buku dengan genre fiksi. Adanya buku bacaan salat dan beberapa buku pelajaran dari beragam penerbit. Oh, satu lagi! LKS.

Sarapan saya dan Ade tandas. Saya sempat menegur saat dia lagi-lagi memesan es alpukat.
“Banyak DHA-nya.”

“Oiya, untuk otak ya!” seru saya sambil berdiri membayar sarapan kami.

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

1 komentar

  1. Keren ya....apa aku harus gitu ya sama si kecik, beliin buku saja ga usah mainan lain ���� biar suka baca dia kelak.

    ReplyDelete

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊