Merenungi Lara Tawa Nusantara

By Ardan - October 12, 2019

review-buku-lara-tawa-nusantara

Di panggung mewah Ideafest 2018, Menteri Pariwisata Indonesia dengan berapi-api memaparkan cara menggaet turis di era revolusi industri 4.0.

“New Direction for Indonesia Tourism: bikin produk pariwisata, buat yang Instagramable, dan viralkan!” serunya. 

Berkat petunjuk ini pula saban waktu di media sosial selalu ramai tagar-tagar dengan frasa nama daerah atau acara adat atau perayaan yang diada-adakan di Indonesia. Setelah membaca Lara Tawa Nusantara beberapa minggu lalu, saya jadi kepikiran kalau membuat industri pariwisata, “Tidak semudah itu, Ferguso!”

Lara Tawa Nusantara adalah kumpulan reportase Fatris MF menjelajah beberapa daerah di Indonesia mulai dari Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, dan Sumatera yang merentang dari tahun 2015 hingga 2017.

Perkembangan teknologi dan kecepatan internet membuat banyak tempat di negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini menjadi terkenal. Jika dulu orang-orang yang berjalan dan menuliskan cerita-ceritanya hanya boleh dihitung dengan jari, maka tidak dengan sekarang.

Tulisan bergenre perjalanan bak jamur di musim hujan.

“…website travel (yang jumlahnya kelewat banyak untuk disebutkan) mengabarkannya tiap saat dengan bahasa yang mendayu-dayu, yang menggugah, seakan semua tempat di republik ini adalah tempat yang indah dan mesti dikunjungi,” halaman XIII.

Sayangnya, tulisan perjalanan tanpa menghadirkan manusia sebagai tokoh utama di dalamnya tidak akan membuat tulisan tersebut bernyawa.

Fatris MF mendatangi pelosok, daerah-daerah terpencil dan terlupakan walau di atlas dan Google Map namanya terpampang tapi kita tidak tahu banyak tentangnya, dan bertemu dengan orang-orang tersebut.

Salah satu hal yang menarik bahwa di Indonesia ini ada orang bernama Kakap, Mesin, Arab, hingga Eveready; merek batu baterai.

Kalimantan

review-buku-lara-tawa-nusantara

Kalimantan menjadi pembuka kita dalam menjelajah buku yang dicetak pertama pada Juni 2019 dan melempar saya kepada, barangkali—merupakan berita bohong pertama yang saya temui di layar telepon genggam: Tragedi Sampit.

Masih terngiang betul di benak saya video dengan format .3gp itu mengeluarkan raung-raung dari para keluarga yang mengalami pemenggalan kepala.

Meski di video tersebut tidak tampak korbannya.

“Ada yang berkata peristiwa ini sebagai pemusnahan etnis, ada juga bilang: Orang Dayak selama ini telah cukup sabar,” halaman 3.

Beratus tahun sebelum video itu muncul, tepatnya pada 1881, Carl Block merilis bukunya The Headhunters of Borneo yang bertutur mengenai suku pemenggal kepala yang mendiami Kalimantan.

Hal inilah yang menjadi bagian favorit saya di mana buku terbitan Mojok ini dengan sabar menyodorkan kepada pembacanya referensi buku yang ditulis orang Barat setelah mengelilingi berbagai tempat di Indonesia.

Kalimantan dengan gelarnya sebagai salah satu paru dunia juga terlihat menyedihkan di buku ini.

Pohon-pohon ditebangi, hutan-hutan kian menyempit. Sebagai seorang yang tinggal di Jakarta dua tahun belakangan, saya merasa ditampar oleh beberapa pertanyaan.

“Bukankah kayu-kayu besar telah berganti perkebunan, dan hasilnya disedot ke Jakarta sana? Bukankah di Jakarta orang-orang membutuhkan tisu untuk menyeka air mata dan ingus, bahkan belahan pantat mereka,” halaman 28.

Sulawesi


review-buku-lara-tawa-nusantara

Dari Kalimantan Fatris melarungkan pembaca ke Sulawesi bertemu kapal pelaut Bugis yang tersohor se-antero bumi.

“Apa? Pinisi? Kalau Cuma itu ji alasan kita ke sini, pulang maki saja! Sudah tidak ada lagi namanya pinisi!” halaman 69.

Tampaknya kapal kayu ini memang sudah benar-benar tinggal nama. Tak ada lagi navigator paling ulung di lautan yang hanya dipandu oleh pola ombak dan kotoran burung saat manusia hari ini telah hidup berdampingan dengan mesin dan GPS.

Jika di Sulawesi Selatan ada pinisi yang megah, maka di Sulawesi Barat ada sandek yang sederhana namun disebut-sebut sebagai perahu layar tercepat sejagat raya.

Sayangnya, menurut buku setebal 349 halaman ini; manusia telah tiba di masa mesin telah merobek layar dan solar telah menggeser dayung.

Satu-satunya kejayaan perihal laut yang bisa disaksikan hingga kini di Sulawesi yaitu Orang Bajo. Kelompok masyarakat di tenggara Sulawesi ini menjadikan laut sebagai daratan mereka: menetap dan beranak pinak.

Naik ke daerah pegunungan tepatnya di Toraja, pembaca akan mencium amis darah dalam pesta kematian termahal di dunia.

“Upacara kematianlah yang membuat Toraja pertama kali dikenal dunia. Pada 1972, upacara kematian Raja Puang Sangalla digelar besar-besaran dan diliput National Geographic,” halaman 99.

Tak lama berselang, pada 1980, Toraja pun menjadi destinasi wisata kedua setelah Bali. Hal ini mengingatkan saya dengan seorang mantan gubernur Sulawesi Selatan yang acap kali memperingatkan, “Jangan mati sebelum ke Toraja!”

review-buku-lara-tawa-nusantara

Oh, bicara tentang agama.

Orang-orang terpecil jauh dari Jakarta ini tidak kalah bijak dari orang-orang di lini masa. Sebutlah seorang nenek penganut ajaran Aluk Tomatua di Mamasa, Sulawesi Barat, “Saya itu susah memercayai agama, sebab penganutnya kebanyakan pendusta dan pencuri. Untuk apa saya mengubah cara saya menyembah Tuhan, to, saya tidak mencuri dan menyakiti orang lain,” halaman 152.

Jika dia ngetwit, saya yakin pastilah twitnya akan ramai.

Di Indonesia, jauh sebelum 5 agama yang diakui negara masuk mencari pemeluk, masyakarat kita memang telah punya keyakinannya masing-masing. Keberadaan agama-agama tua ini pun didokumentasikan dengan baik oleh orang-orang Barat.

Salah satunya Kees Bujis dalam Power of Blessing from The Wilderness and From Heaven: Transformations in The Religion of the Toraja in Mamasa Area of South Sulawesi, Leiden: KITLV Press, 2006.

Sumatera

review-buku-lara-tawa-nusantara

Selesai dengan beragam ritual di Toraja dan Mamasa, Fatris FM menyeberangkan pembacanya ke Sumatera dan Aceh, daerah yang kata profesor antropologi, Suwarto Adi, “paling susah ditaklukkan Belanda.”

Dari bacaan ini pula saya perlahan paham dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahwa masyarakat Aceh memang hampir tidak pernah dijajah: kecuali oleh negaranya sendiri.

Pada satu hari di 1873, Kohler—ahli strategi perang Belanda, berniat menaklukkan Aceh yang justru berakhir dengan kematiannya. Masih di tahun yang sama, Belanda tampaknya belum jera. Dikirimlah pasukan beribu-ribu orang yang lagi-lagi diakhiri dengan kekalahan kompeni.

Aceh baru benar-benar ‘takluk’ saat tsunami menghantamnya pada 2004 dan Perjanjian Helsinki diteken pada 2005. Di Negeri Serambi Mekah ini pula, Fatris FM, kembali mengolok-olok Jakarta melalui secangkir kopi.

“Kopi Aceh tak seperti di kota-kota lain. Arabika dengan seduhan “V60” yang tak karuan, harganya 27.000 rupiah di Kemang, Jakarta. Di sini bisa saya dapatkan hanya 8 ribu rupiah,” halaman 203.

Sumatera menghadirkan banyak kisah-kisah menarik untuk ditilik. Hal ini tidak meluruhkan lara di dada saya jika harus mengingat petunjuk pariwisata di era revolusi industri 4.0.

Perjalanan kian intens kala Fatris FM bertemu dengan Pasha. Teuku Paisal Saputra, S.Pdi nama aslinya dengan cita-cita ingin menjadi artis yang kini berakhir sebagai seorang make up artist.

“Tapi, orang tua menentang. Laki-laki kok suka make up! Pekerjaan perempuan!” halaman 216, “Alhamdulillah, saya bisa membiayai orang tua saya umroh. Orang tua sudah paham aku. Aku mencintai apa yang aku jalani.”

Bukan hanya hutan dan kepercayaan yang hilang di negara berslogan pariwisata Wonderful Indonesia ini; tapi juga sebuah kota kecil yang tersohor di masa silam bernama Barus.

Kota yang telah eksis di dunia perdagangan internasional sejak abad ke 8 ini boleh dibilang memegang peranan penting dalam sejarah rempah-rempah dunia.

“Barus, kata Sitor Situmorang, dalam Toba Na Sae, Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX, sejak abad ke-5 telah disinggahi perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan kamper,” halaman 257.

Bali

review-buku-lara-tawa-nusantara

Dari kota yang hilang pembaca digiring ke kota yang tidak bakal pernah hilang: Bali.

Di awal, pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini menyerang kita pertanyaan yang jawabannya sudah jelas, “Orang-orang dari berbagai penjuru bumi tetap saja bermimpi untuk ke sini: Legian, Kuta, Seminyak, Sanur, Tanah Lot, Jimbaran, Ubud. Apa yang mereka, masyarakat “dunia industri” itu cari ke Bali?” halaman 285.

Mumet dengan pertanyaan-pertanyaan, Fatris FM menyuapi pembaca dengan kisah makanan-makanan Padang yang ada di hampir setiap daerah di Indonesia.

Yeay or Neay?

review-buku-lara-tawa-nusantara

Bagi kamu yang suka dengan cerita-cerita perjalanan, maka buku Lara Tawa Nusantara wajib dibaca. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk melahap cerita-ceritanya karena setiap kisah punya tokoh dengan latar menarik.

Saya hanya kelamaan merenung tiap kali menyelesaikan satu bab.

Belum lagi hadirnya foto-foto dokumenter menjadikan saya selalu penasaran tiap kali melepas buku ini.

Terakhir, buku ini tampaknya berhasil memenuhi ekspektasinya untuk bertemu dengan pembacanya yakni saya atau mungkin juga kamu.

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊