Seperti Apa Kolaborasi Go Green FWD Life & WWF Indonesia?

By Ardan - December 09, 2019


Jika boleh jujur, saya sungguh sangat terganggu dengan keberadaan kertas-kertas tak terpakai di kantor. Soalnya, kertas tersebut sering kali menumpuk dan berakhir entah di mana. Padahal jika mau menelusuri, kertas ini bersumber dari pohon-pohon yang ditebang.

Faktanya, pohon merupakan salah satu sumber oksigen terbesar. Tanpa oksigen kita tak akan bisa bernapas sehingga bisa saja kondisi ini berakhir dengan mati konyol. Amit-amit, deh 😏


"Membeli dan memiliki polis asuransi dalam bentuk fisik dapat menghabiskan banyak kertas yang tentunya memiliki dampak negatif terhadap lingkungan," ujar Ade Bungsu; Director & Chief of Proposition & Sharia Office FWD Life.

Saya sebenarnya dikejutkan oleh pernyataan tersebut. Bagaimana mungkin perusahaan asuransi sedemikian pedulinya terhadap lembar-lembar kertas yang mereka gunakan. "Begitu banyak pohon yang ditebang hanya untuk mencetak polis FWD Life, jadi, bisa dibayangkan jumlah yang dibutuhkan untuk industri asuransi," jelas pria berkacamata ini.

FWD Life kemudian merangkul Yayasan WWF Indonesia untuk mewujudkan kampanye Go Green dengan melestarikan hutan di Indonesia dan mengapresiasi para pegiat konservasi hutan di Kalimantan dan Sumatera.

Bagi kamu yang belum tahu, FWD merupakan perusahaan asuransi jiwa patungan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi bagian dari FWD Group. Hadirnya kampanye Go Green ini sejalan dengan visinya, "Mengubah Cara Pandang Masyarakat tentang Asuransi."

Sementara WWF Indonesia adalah yayasan konservasi independen terdaftar dan menjadi bagian dari jaringan WWF yang bergerak di bidang pelestarian global untuk mewujudkan dunia di mana manusia bisa hidup selaras dengan alam.


"Kampanye Go Green bertujuan untuk merestorasi hutan yang rusak akibat kebakaran serta memberikan sumbangan kepada orang-orang yang memerangi kebakaran ini," tegas Maika Randini, Chief Marketing Office FWD Life.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri memaparkan bahwa jumlah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selama Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.725 hektare.

Jika sisa-sisa hutan yang ada terus kita gunduli untuk menghasilkan kertas, maka bukan tidak mungkin pohon akan menjadi tanaman langka di negeri ini. Hadirnya kampanye Go Green dari FWD Life yang berkolaborasi dengan WWF Indonesia jelas merupakan langkah kecil untuk dampak yang besar.


Wujud nyata dari kampanye ini mengganti polis-polis cetak menjadi e-Policy (polis elektronik). Trus, setiap e-Policy yang terjual akan dikonversi agar bisa mendukung para pegiat konservasi alam yang membantu menanggulangi permasalahan hutan di negeri ini.

Dengan begini, secara tidak langsung kamu telah menyelamatkan pohon, merestorasi lahan, dan mendukung para pegiat konservasi alam sehingga mereka tidak akan merasa sendirian. Siapa sangka bahwa teman-teman pegiat konservasi ini sangat berpotensi mengalami gangguan kesehatan hingga terancam jiwanya karena kondisi di lapangan yang tidak pernah aman?


Hal ini pun disampaikan oleh Apin Aviyan, Direktur Human Capital & Legal WWF Indonesia, "Para pegiat konservasi yang berada di lapangan telah bekerja tanpa lelah untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan melestarikan alam. Kampanye ini tidak hanya berarti bagi mereka, tetapi juga membantu kita untuk menginspirasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan untuk masa depan kita semua."

Dalam konferensi pers yang diadakan di Conclave Wijaya (4/12) lalu bersama Bloggercrony dan teman-teman media, secara langsung FWD Life memberikan asuransi BEBAS AKSI FLASH kepada 36 pegiat konservasi yang membantu memadamkan kebaran di area yang terdampak.

Asuransi ini sendiri merupakan asuransi kecelakaan diri komperehensif selama tiga bulan dengan total kompensasi mencapai Rp1,8 miliar.


Bukan hanya asuransi, kampanye Go Green ini juga akan melakukan penanaman dan perawatan pohon di lokasi yang terkena dampak di Sumatera. Jumlah pohon yang ditanam ini merupakan hasil konversi dari jumlah e-Policy yang dibeli.

Hasilnya, nasabah pun tidak hanya melindungi diri sendiri dan orang-orang yang disayanginya, namun juga lingkungan. "Pada akhirnya memberikan masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya," ungkap Ade.


Jika FWD Life sudah sedemikian sadarnya, kenapa kita tidak? 😒

Saya pun teringat ujaran seorang Eric Weiner, "Ketika pohon terakhir telah ditebang, ketika sungai terakhir telah dikosongkan, ketika ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang."

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊