Setelah 31 Jam

By Ardan - January 19, 2020


Butuh 31 jam penantian hingga mendengar tangisnya pecah untuk pertama kali. Pukul setengah tujuh pagi Ade terbangun dan menuju kamar mandi untuk pipis. Tepat di depan kamar mandi dia merasakan air mengalir di selakangannya.

Ketuban pecah.

Sejak pertemuan pertama dengan dokter pada 13 Juni 2019, saya telah mendapatkan tanggal hari perkiraan lahir yakni 7 Januari 2020. HPL orang-orang menyebutnya. Kata Ade, istilah ini berbeda dengan yang orang-orang medis gunakan di Makassar.

Mama yang memang pada dasarnya panikan menyuruh kami untuk bergegas ke rumah sakit. Takut kalau tiba-tiba bayinya keluar.

Pengalaman pertama dalam hidup ini pun membuat Ade, ibu, dan saya tergesa-gesa mandi, sarapan, dan bersiap-siap. Pakaian dan perintilan yang dibutuhkan untuk lahiran sudah dikemas dua bulan sebelum hari ini tiba.

Jadilah saya cuma menyambar tas sambil mengurut handphone memesan Grab.

Beberapa menit sebelum pukul 8 pagi mobil yang kami tumpangi tiba di depan ruang IGD RSAB Harapan Kita. Sambil menolak punggungnya Ade menuju tempat pendaftaran, duduk, dan menyerahkan surat pengantarnya.

Saya dan ibu mengekor.

Setelah seluruh proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan dilakukan kami bertiga diantar seorang perawat langsung menuju ruang bersalin. Seorang bidan yang menerima kami menginstruksikan Ade untuk ganti baju.


Tidak butuh waktu lama, Ade pun sudah berbaring dan sebuah mesin dengan kabel yang diulur ditempel di perutnya. Setelahnya, dokter Hadi datang, memeriksa, dan memastikan bahwa kondisi tubuh Ade normal; pun janinnya.

Sampai di sini semua berjalan lancar. Sakingnya lancar kami tidak mendapati apa-apa hingga malam. Posisi janin belum bergerak sejak ketuban pecah pagi hari. Orang-orang menyebutnya pembukaan 1. Padahal di banyak prediksi, jarak pembukaan 1 ke pembukaan berikutnya harusnya berlangsung cepat.

Malamnya dokter datang lagi. Sudah lebih dari 12 jam kami baru tiba di pembukaan 2. Dia menyarankan untuk menunggu lagi malam ini. Jika tidak ada perubahan, maka operasi sesar bakal digelar keesokan paginya.

Saya menerima WhatsApp dari ibu pukul 2 pagi agar mendoakan Ade. Intensitas kontraksinya ternyata lebih kuat dan membuat dia meraung-raung. Saya tiba di ruangan bersalin pukul 5 pagi dan dia lebih garang.

Kondisi ini berlangsung jelang siang dan semakin menjadi-jadi.

Kami barangkali beruntung karena Ade tidak harus melalui proses stimulasi untuk merangsang kontraksi rahim. Oleh dokter Hadi kami hanya disuruh menunggu hingga pembukaan 10. Petunjuk ini didasarkan pada hasil pemeriksaan yang menunjukkan kondisi normal baik dari ibu maupun janin.

Jelang pukul 2 siang Ade seolah tidak sanggup. Beberapa bidan secara bergantian melakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa posisi janin. Pemeriksaan kontraksi melalui alat yang berada tepat di samping kanan Ade juga dilakukan.

Tiba di pembukaan 7 seorang bidan mendorong meja berisikan peralatan-peralatan bersalin, menata lampu, serta menyiapkan kotak bayi di sudut ruangan dengan kain dan selang terlipat rapi.

Muka Ade memerah, genggaman tangan kanannya semakin kuat. Tampak jelas bahwa dia sedang menahan sakit yang teramat sangat. Hal ini diperjelas oleh racauan-racauannya yang tak jarang berteriak.

Kontraksi yang awalnya hanya berselang 5 menit, kini bisa 2-3 menit sekali.


Kekuatan Ade tampak sedang diuji di sini. Jika dia menyerah, maka operasi sesar bisa segera dilakukan. Sebaliknya, janin bisa keluar dengan normal jika dia bertahan hingga pembukaan 10.

Baik normal atau sesar pada dasarnya tidak yang salah. Semua kembali pada adagium: tidak apa-apa yang penting selamat.

"Dokternya masih di jalan. Tunggu bentar dulu ya," ujar seorang bidan.

Melihat kontraksi Ade yang semakin menjadi-jadi, beberapa bidan berkumpul. Seluruhnya menggunakan baju panjang warna kuning dengan masker di wajah.

Seorang berada di kaki kirinya, seorang di sisi kanan dan kirinya, dan satunya lagi mengitari ruangan memastikan semua perlengkapan telah siap. Tak lama, seorang dokter berkacamata dengan tampilan yang sama dengan para bidan mendekati Ade di bagian kaki kanannya.

Dokter yang datang bukan dokter yang ditunggu, tapi dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis. Seorang laki-laki muda yang kutaksir umur kami tidak beda jauh.

Dia menyapa, memperkenalkan diri, lalu memberikan petunjuk mengenai cara mengeden yang benar.

Saya pun berpindah ke sisi kiri Ade dan menggenggam tangannya. Tangan kanan saya menahan kepalanya setiap kali terangkat. Ade beberapa kali mengulangi petunjuk dokter. Entah di napas yang keberapa sepotong kepala dengan rambut basah mulai tampak.

Ade mengulangi lagi petunjuk dokter dibantu dengan bidan-bidan yang ada di sekelilingnya.

Tak berapa lama saya dikejutkan oleh sebuah tubuh mungil terlilit tali pusar yang menangis kencang. Saya sempat bengong. Menoleh ke belakang menatap ibu sambil kembali melihat Ade.

"Pak, jam berapa di jam bapak?" seorang bidan mengejutkan saya.

Mulut saya bergetar, dari dalam mata terasa ada yang mendesak keluar. Saya menarik napas sebelum menyebut angka 14.16.

Alinea Hafizah Cendekiani lahir dengan berat 2.750 gram dan panjang 50 cm. Butuh waktu 31 jam setelah ketuban pecah hingga dia benar-benar bisa bernapas di luar rahim.

Tanggal lahirnya 8 Januari 2020 sama dengan tanggal pernikahan saya dan Ade yakni 8 Juli 2018. Sementara hari kelahirannya hari Rabu sama dengan hari kelahiran Ade dan ibunya.

Saya tahu ini hanya kebetulan saja.

Selesai dibersihkan, Alinea dibungkus selimut putih gading. Bidan dengan sigap mengerjakan semuanya sebelum meletakkannya di dada Ade. Dokter dan seorang bidan lainnya belum beranjak dari tempatnya. Mereka masih mengeluarkan plasenta dan menjahit bagian yang sempat digunting.

Bagian ini membuat saya meringis.

Setelah semuanya beres, ruangan mulai dirapikan. Saya meminta Alinea untuk diadzani sebelum dipindahkan ke ruangan lain. Dari sini, kehidupannya pun bermula.

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊