UMKM Jualan Online

cara-jualan-online

Pada 2018 sumbangan 64.194.057 unit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto mencapai 61,07%. Sementara data dari Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa 64,5% atau 37 juta UMKM  pada 2018 dikelola oleh perempuan.

Dua data tersebut baru saya dapatkan dari Kementerian Koperasi dan UKM di Webinar kolaborasi Danone Indonesia dan Google Indonesia dalam hal ini Women Will bertema “Perempuan Pelaku UMKM: Berkembang dengan Memanfaatkan Teknologi Digital” Jumat, 18 Desember 2020 kemarin.

Meski telah berkembang sedemikian rupa sejak beberapa tahun belakangan, lebih dari separuh perempuan yang menjalankan UMKM ini tidak punya akses ke dunia online dan teknologi digital. Greget ga sih?

Peluang Jualan Online

Jika kamu membuka GoFood atau GrabFood di sana dapat dengan mudah kita temukan UMKM yang Go Online. Namun, itu hanya separuhnya saja dan GoFood atau GrabFood hanya salah satu pemanfaatan dari sekian banyak teknologi digital.

Lantas, apa iya jika semua UMKM menjajakan jualannya di dunia maya bakal laku?

Sejak awal tahun 2020 hingga saat saya menuliskan postingan ini, hampir seluruh negara di dunia dihantam pandemi Covid-19. Aktivitas ekonomi merosot tajam dan orang-orang dipaksa untuk tidak keluar rumah.

Dampaknya? Kita bakal sangat senang saat ada orang yang teriak di depan rumah, "Paket!"

Iya, aktivitas ekonomi berjalan dengan cara berbeda. Para penjual berpindah ke dunia maya dan orang-orang bertransaksi di sana.

Selama pandemi Covid-19, aktivitas belanja online meningkat hingga 400%, sedangkan berbelanja secara fisik menurun hingga 50%.

Laporan digital dari We Are Social Indonesia 2020 menyebutkan bahwa setidaknya ada 272,1 juta penduduk Indonesia. 175,4 juta atau 64% menggunakan internet dengan durasi rata-rata 7 jam 59 menit.

160 juta atau 59% menggunakan media sosial dengan durasai rata-rata 3 jam 26 menit. Digital Marketing kemudian menjadi penting karena jangkauannya yang tak terbatas. Artinya, pasar internasional pun dapat tetap dijangkau.

Cara Jualan Online

Sampai di sini kamu mungkin masih bertanya-tanya, "Digital itu seperti apa sih?"

Ibarat rumah, situs web menjadi lokasi paling tepat untuk memasarkan produk di dunia maya. Dari situ, kita bakal bertemu Marketplace, sebut saja Tokopedia, Bukalapak, Shopee, GoFood, dan GrabFood.

Untuk mendatangkan orang ke rumah atau Marketplace yang kita punya dibutuhkan mesin pencari, iklan digital, serta media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, serta yang tengah naik daun; TikTok.

Kok Bisa Begitu?

Merujuk data dan fakta yang saya paparkan di awal, selama berdiam diri di rumah orang-orang berbelanja dengan sistem online. Jualan online yang kamu jajakan di internet bakal mendapatkan perhatian saat seseorang datang ke mesin pencari untuk mencari barang yang dibutuhkan.

Hasil mesin pencari bakal mengarahkan orang-orang ke situs web yang kamu punya. Bisa juga ke Marketplace. Setelah menemukan barang kebutuhannya, mereka akan langsung membayar, dan barangmu pun laku.

Yang dibutuhkan hanyalah respons cepatmu dalam menjawab atau menanggapi pertanyaan mereka sebab jika tidak mereka dengan mudahnya dapat mencari barang sejenis di toko lain.

***

Dua contoh terbaik untuk melihat bagaimana sistem jualan online ini bekerja adalah Warung Anak Sehat dari Sarihusada dan Aqua Home Service. Keduanya mendukung dan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga untuk bergerak di UMKM.

Tujuannya tak lain untuk menyediakan akses hidrasi dan gizi yang sehat terhadap masyarakat Indonesia.

Hingga saat ini Warung Anak Sehat telah menjangkau lebih dari 6000 ibu dan 27.000 aak di Indonesia. Semetara Aqua Home Service telah memberdayakan 7.5000 wanita Aqua di seluruh Indonesia.

Menarik 'kan?

Di kolom chat webinar ini saya menemukan salah satu chat dari peserta yang bilang begini, "Daripada kuota habis buat yg sia-sia ya, mending dipakai berjualan."

***