Fungsi Zat Besi Terhadap Masa Depan Bangsa Ini

fungsi-zat-besi

Secara pelan-pelan dengan menggunakan telunjuk kanannya, Ade membuka kelopak mata bagian bawah Alinea. Dengan raut wajah tegang, ditutupnya lagi secara perlahan sambil menghela napas.

"Kenapa?" saya penasaran.
"Cuma mau memastikan kalau tidak putih."
"Maksudnya?"
Ade mundur dan membiarkan Alinea bangkit dari pembaringannya.
"Jadi, itu tadi salah satu cara memastikan kalau dia tidak kekurangan zat besi," jelasnya singkat.

Punya bayi yang baru menginjak usia 1 tahun membuat kami selalu was-was pada setiap perubahan kecil yang terjadi dengannya. Soalnya, dari literatur yang saya baca kemudian, fungsi zat besi terhadap pertumbuhan anak tidak boleh dianggap sepele.

Kok bisa sih? 😕

Mari ambil air putih dan sedikit camilan karena pembahasannya akan panjang, saudara-saudara.

Bermula Pada Anemia

anemia-kurang-zat-besi

Jika ingin merunut kadar zat besi di dalam tubuh seorang bayi, maka kamu perlu menarik benang panjang ke saat ibunya sedang hamil. Kondisi rendahnya kadar haemoglobin (Hb) dibandingkan dengan kadar normal yang menunjukkan jumlah sel darah merah yang bersirkulasi atau yang akrab disebut sebagai anemia sering terjadi pada ibu hamil.

Ketika seorang ibu hamil, maka kadar Hb normalnya harus berada di angka >11 gr/dl sebab jika tidak, hal ini menandakan bahwa dia mengalami anemia dan berdampak terhadap pertumbuhan janinnya kelak.

Nah, jumlah keseluruhan kasus atau prevalensi anemia kurang zat besi di Indonesia, menurut data Riskedas 2018, untuk ibu hamil adalah sebesar 48,9% di mana data Riskesdas 2013 berada di angka 37,1%.

anemi-kurang-zat-besi

Meneropong masalah gizi di Indonesia dan kaitannya terhadap anemia pada ibu hamil, Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK, dokter spesialis gizi klinik Indonesian Nutrition Association; dalam webinar yang diadakan bersama Danone Indonesia menjabarkan beberapa angka.

Anemia kurang zat besi yang dialami oleh ibu hamil ternyata bisa menyebabkan masalah Stunting. Angka stunting bayi dan balita di Indonesia terbilang tinggi di mana berkisar pada 37,2%.

Siklus stunting ini sendiri dapat ditarik benang merahnya dari kasus anemia kurang zat besi saat hamil. Bayi yang lahir akan melahirkan bayi kurang berat badan, sehingga berisiko mengalami stunting.

Meski demikian, pertumbuhan seorang anak dapat melibatkan banyak hal, mulai dari karbohidrat, protein, mineral, kalsium, vitamin, dan satu hal yang tidak kalah pentingnya, yakni zat besi (Iron).

Penyebab Anemia Kurang Zat Besi

Dari tadi kita mungkin hanya berkutat pada kasus-kasus anemia kurang zat besi pada ibu hamil dan balita, tetapi tidak pernah tahu penyebab anemia kurang zat besi.

Penyebab paling umum sebenarnya ada pada asupan makanan yang dikonsumsi sehari-hari serta infeksi atau penyakit kronis yang diderita.

Khusus pada asupan makanan, pangan nabati sebenarnya masih mendominasi konsumsi kita sehari-hari. Belum lagi asupan energi dan protein yang rendah. Tidak hanya itu, terjadi pula kekurangan energi, protein, serta mikronutrien.

Menariknya, jika ditelaah lebih lanjut, ditemukan pula faktor-faktor asupan pada anemia kurang zat besi. Masih di webinar "Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi" dr. Diana merunut beberapa faktor tersebut, yaikni:
  • Asupan zat besi yang rendah, terutama besi heme
  • Asupan vitamin C yang rendah
  • Konsumsi sumber asam fitat dan tanin yang berlebihan
  • Pola diet yang tidak seimbang
Siapa sangka bahwa anemia kurang zat besi yang terjadi pada anak bisa juga disebabkan oleh beberapa hal?

Mulai dari kecenderungannya yang suka memilih-milih makanan atau picky eater, asupan makanan yang tidak bervariasi, kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan penyerapan dan asupan besi rendah.

Gejala Anemia

Lalu, apa saja sih gejala  atau tanda-tanda seseorang mengalami anemia? 🤔

Khusus bagi ibu hamil yang mengalami gejala anemia, maka akan terlihat pula tanda-tanda berupadi wajah, terutama di kelopak mata dan bibir terlihat pucat. Selain itu, sering kali terjadi hal-hal seperti:
  • Kurang nafsu makan
  • Lesu dan lemas
  • Cepat lelah
  • Sering pusing
  • Mata berkunang-kunang
Adapun dampak anemia pada kehamilan terbilang serius, yakni sebagai berikut:
  • Pre eklamsia atau kejang saat hamil
  • Prematur
  • Infeksi
  • Perdarahan pasca melahirkan
  • Gangguan fungsi jantung
  • Gangguan pertumbuhan janin
Bagaimana dengan anak-anak?

Secara umum, gejala anemia pada anak akan menyebabkan mereka lebih rewel, lemas, pusing, tidak nafsu makan, sulit berkonsentrasi, pertumbuhan terganggung, sering mengantuk, hingga tidak aktif bergerak.

Tidak hanya sampai pada dampak jangka pendek tersebut di  atas. Anemia kurang zat besi ternyata punya dampak panjang, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Apa saja?
  • Daya tahan tubuh menurun
  • Risiko infeksi meningkat
  • Tubuh tidak bugar
  • Prestasi dan produktivitas rendah

Mengatasi Anemia Kurang Zat Besi

Dari semua penjelasan di atas, muncul pertanyaan. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan bahkan mencegah anemia kurang zat besi ini? 😑

Jawabannya sederhanaya saja, yaitu melalui konsumsi gizi seimbang, lengkap, serta kaya akan zat besi dan mampu mengoptimalkan penyerapan zat.

Nah, di atas kamu tentu sudah paham bahwa penyebab anemia kurang zat besi bisa disebabkan oleh makanan. Maka dari itu, untuk menghindari masalah ini ada baiknya jika kita mengenali dulu bahan makanan sumber zat besi.

Makanan jenis ini terbagi dua, yaitu heme iron dan non-heme iron.

Heme iron pada dasarnya merupakan zat besi yang bersumber dari protein hewani dan bisa diserap oleh tubuh dengan mudah. Contohnya antara lain, daging ayam, daging sapi, hati ayam, hati sapi, dan ikan salmon.

Sementara Non-heme Iron lebih sedikit penyerapannya dibandingkan dengan zat besi Heme karena harus melalui proses terlebh dahulu. Biasanya ditemukan pada bayam, wortel, kangkung, tempe, tahu, brokoli, dan daun singkong.

Selain mengonsumsi zat besi, tubuh juga butuh vitamin C yang bisa didapatkan dari brokoli, jambu biji, kiwi, kelengkeng, mangga, tomat, dan jeruk.

Bukan hanya melalui makanan, anemia kurang zat besi juga bisa ditangani melalui cara-cara berikut dan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukannya:
  • Ibu hamil: suplementasi besi folat
  • Ibu menyusui: promosi asi ekslusif dan konseling menyusui
  • Bayi dan balita: suplemen vitamin A, pemantauan tumbuh kembang, pemberian garam beryodium, dan fortifikasi besi serta kegiatan suplementasi
Namun intinya, setiap orang perlu memastikan dirinya mendapatkan asupan bergizi seimbang, saat mengonsumsi sumber besi non-heme pastikan mengonsumsinya bersama dengan unsur yang mampu meningkatkan penyerapan zat besi.

Fortifikasi makanan berupa tepung terigu atau beras, biskuit, serta susu juga perlu dilakukan. Bagi yang sedang mengonsumsi tablet penambah darah, pastikan mematuhi aturannya.

Slide penutup dr. Diana menarik perhatian saya. Di situ tertera tulisan, "Siapapun berisiko terkena anemia." Dan harusnya, siapapun punya peran untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan yang  satu ini, termasuk pemerintah dan pihak swasta.

Peran Danone Mengatasi Anemia Kurang Zat Besi

cara-mengatasi-anemia-kurang-zat-besi


Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, melalui webinar bersama dr. Dina memaparkan beragam hal yang telah dilakukan Danone Indonesia dari sisi bisnis dan sosial.

Danone percaya bahwa kesehatan manusia dan planet yang kita tinggali ini saling berhubungan. Maka dari itu, brand yang telah ada sejak 1954 ini ingin memeliharan dan melindungi keduanya.

Kontribusi yang dilakukan melalui Tujuan Danone 2030 ini seleras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang dicanangkan oleh PBB.

Strategi dan komitmennya untuk menjaga kesehatan planet diimplementasikan melalui 4 pilar, yaitu:
  • Iklim: perangi perubahan iklan dengan menjadi perusahaan karbon netral secara penuh pada 2050
  • Air: melestarikan, mengoptimalkan, dan berbagi dengan mengintegrasikan pengelolaan sumber daya air.
  • Ekonomi Sirkular: pulihkan lebih banyak plastik daripada yang Danone gunakan pada tahun 2025 serta pimpin kampanye nasional tentang daur ulang dan menggunakan produk daur ulang 100%
  • Agrikultural: Mendorong praktik pertanian regeneratif yang melindungi tanah, meningkatkan kesejahteraan hewan, dan memberdayakan generasi baru petani
Nah, berkolaborasi dengan pemerintah dan organisasi terkemuka, Danone Indonesia mengampanyekan Bersama Cegah Stunting untuk dengan mengintegrasikan program unggulannya demi mendukung intervensi nutrisi yang spesifik dalam mengurangi kasus stunting di Indonesia.

Tidak hanya itu, ada 7 program nyata yang telah dijalankan dan berkolaborasi dengan beragam pihak.
  • Isi Piringku: Promosi konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orang tua.
  • Amir (Ayo Minum Air): Program kolaboratif yang bertujuan meningkatkan kebiasaan minum 7-8 gelas air per hari bagi anak sekolah.
  • Warung Anak Sehat: Kantin sehat di sekolah yang menyediakan makanan ringan dan minuman sehat bagi siswa.
  • Aksi Cegah Stunting: Perbaikan sistem rujukan bagi anak-anak gizi buruk dan penguatan peran fasilitas kesehatan yang berkolaborasi dengan FKUI dan Kementerian Desa.
  • GESID (Generasi Sehat Indonesia): Membangun pemahaman dan kesedaran remaja tentang kesehatan dan gizi remaja serta pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, dan pembentukan karakter.
  • Taman Pintar: Fasilitas pendidikan yang fokus pada kesehatan dan gizi di Taman Pindar, Yogyakarta.
  • Duta 1000 Pelangi: Bantuan kepada karyawan dan masyarakat sekitar tentang masalah gizi dan kesehatan 1000 hari pertama kehidupan.
Anak adalah generasi penerus bangsa, pemimpin masa depan, dan pelopor perubahan. Jadi, tidak muluk-muluk dong kalau zat besi punya fungsi penting terhadap masa depan bangsa ini. Iya 'kan?

***