Seorang Teman Bertanya Mengenai Green Jobs dan Ini Jawaban Saya

green-jobs-di-indonesia

Untuk setiap pekerjaan yang digantikan oleh mesin, setidaknya satu pekerjaan baru diciptakan.

Hilangnya banyak pekerjaan konvensional dalam segala industri dari pekerja seni hingga perawat kesehatan sebagian akan diimbangi oleh terciptanya pekerjaan-pekerjaan baru bagi manusia. Keadaan ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi, khususnya di bidang Artificial Intelligence (AI).

AI punya kemungkinan untuk membantu menciptakan pekerjaan baru bagi manusia dengan cara lain. Alih-alih bersaing dengan AI, setiap dari kita bisa fokus pada peningkatan fungsi AI itu sendiri, sehingga hidup bakal lebih terbantu dengan keberadaan entitas ini.

Dengan demikian, pada tahun 2050 mendatang kita tidak akan melihat AI dan manusia bersaing, tetapi saling bekerja sama menciptakan tatanan dunia yang lebih baik.

Empat paragraf di atas saya baca di buku 21 Lessons for the 21st Century yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Buku yang terbit pada 2018 ini merupakan buku ketiga Yuval yang dengan sangat lugas membahas masa lalu dan menerka-nerka masa depan.

green-jobs-definition

Definisi Green Jobs

Buku ini saya ingat lagi kala seorang teman di Instagram Storynya beberapa hari lalu membahas pekerjaan-pekerjaan yang akan hilang di masa depan.

Sebagai seorang yang bertanggungjawab mengurusi pembayaran vendor kepada perusahaan tempatnya bekerja, dia merasa bahwa beberapa tahun lagi dia akan kehilangan pekerjaannya dan digantikan oleh sistem komputer.

Dia sadar betul bahwa apa yang dilakukannya dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, dari Senin hingga Jumat, untuk menghidupi keluarganya—sangat bisa digantikan oleh aplikasi. Aplikasi ini bakal dengan sangat tepat menghitung jumlah uang yang masuk, tanpa ada kesalahan sedikit pun.

Berbeda ketika perhitungan ini dikerjakan oleh manusia di mana kerap terjadi Human Error.

"Sudah dengar Green Jobs?" balas saya di Instagram Storynya.

"Belum. Apa lagi itu?"

Mengutip International Labour Organization (ILO), Green Jobs adalah pekerjaan ramah lingkungan yang menjadi simbol dari perekonomian yang berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan, baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi di masa mendatang.

Contoh Green Jobs

Beberapa contoh dari Green Jobs antara lain pengelolaan limbah, daur ulang, energi terbarukan, efisiensi energi pertanian dan kehutanan, pekerjaan yang menghasilkan karbon rendah, serta usaha di bidang transportasi ramah lingkungan.

"Contoh konkretnya @mallsampah, cek Instagramnya deh."

"Wah, ini dari Makassar? Kok bisa? Emang ada duitnya? Bisa hidup dari situ?"

Begitu kira-kira percakapan kami mengenai Green Jobs ini mengalir.

green-jobs-di-indonesia

Sama- sama dari Makassar, kami  berdua sebenarnya kaget. Bagaimana bisa start up yang bergerak di bidang lingkungan ini hadir di Kota Makassar? Biasanya kan hanya didominasi oleh anak-anak muda dari Pulau Jawa saja.

Sependek pengetahuan kami, tak ada perusahaan rintisan yang benar-benar bisa bertahan di ibu kota Sulawesi Selatan.

Faktanya, Mall Sampah yang merupakan layanan pengelolaan sampah online yang memberdayakan para pengepul sudah berjalan selama 5 tahun serta punya 20.000 pengguna yang berada di area Mamminasata yang mencakup kota Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar serta yang terbaru adalah kota Pare-Pare.

Adi, founder Mall Sampah; bahkan mengaku apa yang dimulainya sejak 2015, setahun sebelum ia lulus dari jurusan hukum di Universitas Muslim Indonesia—ini tidak hanya menghasilkan keuntungan berupa materi, tetapi juga punya dampak sosial.

Kami berdua memang tampaknya sudah kelamaan merantau; inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh anak muda di daerah tempat kami lahir dan besar sudah tak lagi terpantau.

"Iya ya, ini sih ekosistem daur ulang sampah yang dimonetisasi," balas teman saya setelah stalking di Instagram @mallsampah.

"Bagaimana? Mau resign dan pulang kampung nyobain Green Jobs?"

Dia membalas saya dengan emotikon tertawa saja.

peluang-kerja-green-jobs-di-indonesia

Di Indonesia, peluang untuk pekerjaan-pekerjaan ramah lingkungan sebenarnya masih terbuka luas karena masalah lingkungan yang dihadapi hari ini kian kompleks.

Dalam webinar yang saya ikuti bersama Koaksi Indonesia dan Komunitas ISB pada 9 Februari 2021 lalu menyebutkan bahwa Green Jobs punya kontribusi besar pada terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs).

memahami-green-jobs-koaksi-indonesia

SDGs diartikan sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan di mana ada 17 tujuan dengan 169 capaian terukur dan tenggat yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai petunjuk pembangunan negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, demi keselamatan dan keberlanjutan bumi yang kita tinggali.

Singkatnya, apa yang dikerjakan oleh setiap orang hari ini dan kita di masa mendatang sebaiknya berpedoman kepada sustainable economy atau ekonomi yang berkelanjutan.

"Makin ribet. Apa hubungan Green Jobs dengan SDGs?"

Obrolan kami tentang prospek pekerjaan ramah lingkungan ini berlanjut keesokan harinya. Lagi-lagi, saya mengandalkan catatan-catatan kecil dari webinar dan berusaha menjelaskannya seringan mungkin.

Green Jobs dan SDGs

Green Jobs pada dasarnya berkontribusi 5 dari 17 tujuan SDGs:

  • Tujuan 1: Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun
  • Tujuan 2: Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua
  • Tujuan 7: Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua
  • Tujuan 8: Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua
  • Tujuan 12: Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan

Pada Oktober 2020 World Economics Forum merilis 10 pekerjaan yang semakin dibutuhkan dan 10 pekerjaan yang semakin menurun kebutuhannya di seluruh industri selama rentang waktu 2020 hingga 2025.

pekerjaan-green-jobs-di-indonesia

Hadirnya daftar ini sebenarnya bisa menjadi bocoran bagi setiap anak muda untuk mempertimbangkan pekerjaan mana yang bakal mereka geluti.

"Jadi, kita tuh sebenarnya sudah dikasih petunjuk. Bidang pekerjaan mana yang sebaiknya dilalui."

"Nah, benar. Jadi, nggak perlu ragu dengan keuntungan materi dari Green Jobs," saya mengamini kesimpulannya.

Sebagai contoh, Mall Sampah yang saya sebutkan di awal.

Baca Juga: UMKM Jualan Online

Adi, yang masih dalam sesi Instagram Live yang sama, bercerita bahwa sektor informal yang diberdayakannya ternyata punya peluang ekonomi berkelanjutan. Di negara berkembang, katanya, sektor informal menjadi penggerak utama roda perekonomian, sehingga kemungkinan untuk mendulang rupiah masih terus ada.

***

Menutup tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat lagi ke belakang melalui analisis Yuval di buku yang dibahas sebelumnya.

Di awal abad ke-19, ketika revolusi industri mulai terjadi, manusia mengalami ketakutan-ketakutan bahwa otomatisasi akan menciptakan pengangguran besar-besaran.

Nyatanya hingga saat ini, ketakutan tersebut tidak pernah terwujud. Jadi, kamu tidak usah khawatir di tahun 2025 mendatang kamu bakal kehilangan pekerjaan. Masih ada waktu untuk meninjau ulang kebutuhan terhadap Green Jobs.

Pertanyaannya sekarang, "Apakah kamu atau bahkan saya, siap untuk berubah?"

***