Belajar Storytelling Dari Dasar

cara-storytelling

Ide untuk mempresentasikan Storytelling di weekly sharing kantor (23/3) kemarin sebenarnya muncul dari berjam-jam meeting persiapan pitch deck yang saya ikuti di kantor. Saya merasa ketika orang-orang dari divisi yang berbeda mengajukan service untuk menyelesaikan permasalahan klien, mereka tidak membuat pitch deck tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh.

Dengan kata lain, tidak ada benang merah yang bisa ditarik untuk dipertontonkan ke klien. Hasilnya, di banyak presentasi orang-orang hanya mengajukan, "Untuk menyelesaikan masalah itu, kita punya ini dan kamu harus beli semuanya."

Saya yang mendengarkan pada dasarnya suka membatin. Cara seperti ini rasa-rasanya tidak masuk akal. Setelah mengingat-ingat lagi, saya menemukan cara lain untuk menarik perhatian klien agar mau membeli semua layanan yang kita punya. Cara tersebut sebenarnya adalah Storytelling.

Di belantara internet ini sebenarnya definisi Storytelling ada banyak. Ada banyak pula pakar yang menyampaikan teori dari sudut pandang mereka dan dari latar belakang yang mereka miliki. Tapi, apa pengertian Storytelling secara umum?

Untuk semua teori yang pernah saya baca dan untuk semua praktik yang pernah saya liat, definisi Storytelling ini sangat sederhana. Storytelling adalah menceritakan narasi melalui sebuah cara agar bisa menarik perhatian orang lain.

Trus, muncul pertanyaan. Mengapa bercerita jadi penting?

Jika kamu membaca buku Yuval Noah Harari berjudul Sapiens, di situ diceritakan bahwa kita, Homo Sapiens, memang pada dasarnya adalah pencerita yang ulung. Meski penampilan fisik kita jauh lebih kecil dibandingkan dengan Homo lainnya yang eksis beratus tahun silam, kita punya volume otak yang lebih besar. Hal ini memungkinkan kita untuk berpikir dan dari sini kita bisa mulai bercerita hingga membual.